cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics)
ISSN : 23033045     EISSN : 2503183X     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) abbreviated IJND (p-ISSN 2303-3045 and e-ISSN 2503-183X) is a peer-reviewed scientific journal publishing updated research and non-research articles in the area of nutrition and dietetics. This journal is published three times annually (January, May, and September) by Alma Ata University Press in collaboration with Indonesian Nutrition Association (Persatuan Ahli Gizi Indonesia).
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "VOLUME 13 ISSUE 5, 2025" : 8 Documents clear
Determinants of stunting among children aged 6–59 months in Banten Province: A cross-sectional analysis of the 2021 Indonesian Nutrition Status Survey (INSS) Arifianti, Dian Isnaini; Sudiarti, Trini; Triyanti, Triyanti; Setiarini, Asih; Djokosujono, Kusharisupeni
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 5, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(5).365-377

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Stunting adalah kondisi gagal tumbuh karena kekurangan zat gizi kronik dan infeksi berulang yang berdampak jangka panjang. Data SSGI 2021 menunjukkan stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Provinsi Banten karena prevalensinya masih tinggi (24,5%).Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan stunting balita 6-59 bulan di Provinsi Banten.Metode: Desain penelitian cross sectional dengan jumlah sampel 1.643 balita 6-59 bulan menggunakan data SSGI 2021. Variabel independen adalah faktor anak (umur, jenis kelamin, berat lahir, panjang lahir, keragaman pangan); faktor ibu (pendidikan ibu, pekerjaan ibu); faktor kerawanan pangan; faktor kesehatan lingkungan (kepemilikan jamban), faktor penyakit infeksi (riwayat ISPA, diare, pneumonia, TBC); faktor pelayanan kesehatan (pemberian vitamin A pengobatan balita sakit di fasilitas kesehatan). Analisis menggunakan univariat, bivariat (chi-square), dan multivariat (regresi logistik ganda).Hasil: Proporsi stunting sebesar 22,7%. Determinan stunting balita 6-59 bulan adalah jenis kelamin (AOR 1,351; CI 95% 1,047 – 1,744); pendidikan ibu (AOR 1,484; CI 95% 1,103 – 1,998); panjang lahir (AOR 2,094; CI 95% 1,512 – 2,899); kerawanan pangan (AOR 1,629; CI 95% 1,131 – 2,347).Kesimpulan: Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat di Provinsi Banten dengan faktor dominan yaitu panjang lahir pendek (AOR 2.09). Keluarga bayi dengan panjang lahir pendek, khususnya ibu perlu mendapatkan pendampingan (termasuk program gizi dan kesehatan) dan informasi pencegahan stunting sebagai upaya mengejar ketertinggalan agar bayi panjang lahir pendek dapat tumbuh dan memiliki panjang badan normal pada tahun-tahun berikutnya. Pemantauan kesehatan secara rutin bayi PBL pendek juga dianjurkan.KATA KUNCI: balita; determinan; panjang lahir; stuntingABSTRACTBackground:  Stunting is a growth failure due to chronic malnutrition and recurrent infections long-term impacts. In Banten Province, the prevalence remains high at 24.5%Objectives:  To identify determinants of stunting among toddlers aged 6-59 months in Banten.Methods :  The cross-sectional study analyzed 1.643 toddlers aged 6-59 months using INSS 2021 data. Independent variables included child factors (age, sex, birth weight, birth length, dietary diversity); maternal factors (education, occupation); food insecurity; environmental health factors (latrine ownership), infectious disease (ARI, diarrhea, pneumonia, tuberculosis); health services (vitamin A, treatment in health facilities). Data were analyzed using univariate, chi-square, and multiple logistic regression.Results: Stunting prevalence was 22.7%. Significant determinants were male gender (AOR 1.351; 95% CI 1.047 – 1.744); low maternal education (AOR 1.484; 95% CI 1.103 – 1.998); short birth length (AOR 2.094; 95% CI 1.512 – 2.899); and food insecurity (AOR 1.629; 95% CI 1.131 – 2.347).Conclusions:  Stunting remains a public health issue in Banten. The most dominant determinant is short birth length (AOR 2.09). Families of infants with Short Birth Length should receive targeted assistance through nutrition and health programs, education on stunting prevention, and monthly growth monitoring to support catch up growth.KEYWORD: birth length; determinant; stunting; toddler
The effects of consuming coconut milk on SGOT and SGPT levels of rats serum (Rattus norvegicus strain Wistar) fed with High Fat Diet (HFD) Sari, Yuhanita Tyara; Wahyudi, Septa Surya; Febianti, Zahra; Riyanti, Rini; Prasetyo, Aris
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 5, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(5).324-334

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Pola makan tinggi lemak merupakan pemicu utama terjadinya obesitas dan penyakit kardiometabolik. Akumulasi lemak yang berlebihan menyebabkan peningkatan Reactive Oxygen Species (ROS) melalui hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH), yang bermanifestasi dalam peningkatan kadar Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) dan Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT). Santan mengandung kandungan polifenol yang dapat menghambat mekanisme ROS. Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa pemberian MCFA dan polifenol pada tikus Wistar yang diinduksi hiperkalori tidak memberikan efek hepatoprotektif dan mengindikasikan adanya peningkatan kadar SGOT dan SGPTTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh pemberian santan terhadap kadar SGOT dan SGPT pada tikus yang diinduksi diet tinggi lemak (HFD).Metode: Penelitian ini merupakan penelitian true eksperimental dengan rancangan posttest control group design. Sampel terdiri dari 25 ekor tikus wistar (Rattus norvegicus) jantan dibagi menjadi 5 kelompok secara acak. Pengukuran SGOT dan SGPT dilakukan sesuai standarisasi IFCC (International Federation of Clinical and Chemistry and Medical Laboratory) dengan mengumpulkan sampel serum yang dilanjutkan dengan pemeriksaan menggunakan Spektrofotometer Biolyzer 100 untuk menganalisis kadar SGOT dan SGPT setelah 45 hari perlakuan. Analisis data menggunakan uji ANOVA.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa, peningkatan dosis santan makin menurunkan kadar baik SGOT/SGPT. Hasil uji Anova menunjukkan hasil yang signifikan secara statistik. Perbandingan LSD Post-hoc antara kelompok K dan P3 menunjukkan signifikansi terhadap SGPT (0,276) dan SGOT (0,707). Pemberian santan dosis 10 mL/kg berat badan/ hari pada tikus yang diinduksi HFD secara statistik, dapat menghambat peningkatan SGOT dan SGPT.Kesimpulan : Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan bahwa pemberian santan mampu mencegah peningkatan kadar SGOT dan SGPT.KATA KUNCI: diet tinggi lemak;santan kelapa;SGOT;SGPT ABSTRACTBackground: High-fat diets contribute to obesity and cardiometabolic diseases by increasing Reactive Oxygen Species (ROS)levels. Coconut milk's polyphenols may counteract ROS effects which manifests in increasing levels of Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) and Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT). Coconut milk contains polyphenols which can inhibit the ROS mechanism. Previous research stated that administration of MCFA and polyphenols to Wistar rats induced by hypercalories did not provide a hepatoprotective effect and indicated an increase in SGOT and SGPT levels.Objectives: This study aimed to prove the influence of coconut milk administration on the levels of SGOT and SGPT in rats induced by High Fat Diet (HFD).Methods: The study was a true experimental research employing a posttest control group design. It involved 25 male Wistar rats (Rattus norvegicus) split into 5 randomly assigned groups. SGOT and SGPT measurements were carried out according to IFCC standards by collecting serum samples followed by examination using the photometric method to analyze SGOT and SGPT levels after 45 days of treatment. Data analysis used the ANOVA test using SPSS Statistics V21.0Results: The results of research on both SGOT and SGPT levels showed that increasing the dose further reduces both SGOT and SGPT levels. The Anova test results show statistically significant results. Post-hoc LSD comparison between groups K and P3 showed significance for SGPT (0.276) and SGOT (0.707).Conclusions: Based on these results, it can be concluded that high-dose coconut milk administration was able to prevent the increase in SGOT and SGPT levels KEYWORDS: coconut milk; high fat diet; SGOT; SGPT
Effect of “Growol” on glucose levels and lipid profile of metabolic syndrome rats Maharini, Fransisca Shinta; Lubijarsih, Maria Amrijati; Noviati, Bernadetta Eka; Setyaning, Ruth Surya Wahyu
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 5, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(5).378-386

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Growol merupakan makanan tradisional khas Kulon Progo, Yogyakarta yang terbuat dari singkong melalui proses fermentasi. Proses fermentasi ini melibatkan Bakteri Asam Laktat (BAL), khususnya Lactobacillus casei subsp. rhamnosus TGR2. Sifat sinbiotik pada growol menjadikannya pangan fungsional yang berpotensi memperbaiki profil lipid dan glukosa darah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian growol terhadap kadar glukosa darah dan profil lipid pada hewan model sindrom metabolik.Metode: Penelitian ini dilakukan di laboratorium pada 36 ekor tikus Wistar yang dibagi menjadi enam kelompok: dua kelompok kontrol dan empat kelompok perlakuan. Kelompok kontrol terdiri atas kontrol negatif yang diberi diet standar, dan kontrol positif yang diberi diet diet tinggi lemak dan fruktosa (DTLF). Kelompok perlakuan diberi DTLF selama 4 minggu, kemudian 4 minggu berikutnya diberikan intervensi pakan Growol dengan komposisi 25% (P1), 50% (P2), 75% (P3), dan 100% (P4).Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat penurunan kadar kolesterol total, LDL, trigliserida, glukosa serta peningkatan HDL secara signifikan pada kelompok perlakuan yang diberi growol (P1-P4) (p<0,05). Sedangkan kelompok kontrol negatif maupun positif mengalami peningkatan glukosa, kolesterol total, LDL, trigliserida, serta penurunan HDL secara signifikan (p<0.05). Kesimpulan: Diet berbasis growol secara signifikan memperbaiki profil lipid dan kadar glukosa pada model tikus sindrom metabolik. Temuan ini menyoroti potensi growol sebagai makanan fungsional dengan sifat sinbiotik untuk mengelola sindrom metabolik.KATA KUNCI: growol; kadar glukosa; profil lipid; sindrom metabolik; tikus ABSTRACTBackground: Growol is a traditional food from Kulon Progo, Yogyakarta, made from cassava through fermentation. This fermentation process utilizes Lactic Acid Bacteria (LAB), particularly Lactobacillus casei subsp. rhamnosus TGR 2. The synbiotic properties of “growol” make it a functional food with the potential to improve lipid profile and blood glucose levels.Objectives: This study aims to assess the impact of “growol” administration on blood glucose levels and lipid profiles in an animal model of metabolic syndrome.Methods: The study was conducted in a laboratory with 36 Wistar rats, which were divided into six groups: two control groups and four treatment groups. The control groups included a negative control group fed a standard diet and a positive control group given a high-fat and fructose diet (DTLF). The treatment groups received the DTLF for 4 weeks, followed by 4 weeks of intervention with Growol diets containing 25% growol (P1), 50% growol (P2), 75% growol (P3), and 100% growol (P4).Results: The findings indicated a significant decrease in total cholesterol, LDL, triglycerides, and glucose levels, along with an increase in HDL, in the treatment groups receiving growol (P1-P4) (p<0.05). In contrast, the negative and positive control groups exhibited significant increases in glucose, total cholesterol, LDL, and triglycerides, along with a decrease in HDL (p<0.05).Conclusions: A growol-based diet significantly improves lipid profiles and glucose levels in a rat model of metabolic syndrome. These results highlight the potential of growol as a functional food with synbiotic properties that may aid in managing metabolic syndrome.KEYWORD: glucose levels; growol; lipid profile; metabolic syndrome; rats
A qualitative exploration of factors affecting dietary quality with obesity among workers Nailufar, Farida; Ginting, Riska Mayang Saputri
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 5, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(5).335-342

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Diperkirakan sebanyak 1 miliar penduduk dewasa atau 12% populasi dunia mengalami obesitas pada tahun 2025. Obesitas di Indonesia juga mengalami peningkatan yang pesat khususnya pada kelompok dewasa dan pekerja. Penyebab utama obesitas pada pekerja salah satunya karena kualitas diet yang rendah dan asupan energi berlebih sehingga menyebabkan ketidakseimbangan energi. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas diet dengan timbulnya obesitas pada pekerja perusahaan di Kalimantan Timur.Metode: Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan responden yaitu pekerja obesitas. Secara keseluruhan, 25 orang responden yang dibagi menjadi 5 kelompok focus group discussion (FGD) untuk dilakukan wawancara semi terstruktur. Penetapan responden dilakukan secara purposive berdasarkan unit kerja. Pengumpulan data menggunakan perekam audio dan pencatatan. Data demografi dikumpulkan menggunakan kuesioner, FGD menggunakan instrumen berupa panduan yang berisi daftar pertanyaan mencakup pengetahuan tentang pola makan sehat dan obesitas, kualitas diet, kontrol diri dalam pemilihan makanan dan pengaruh lingkungan di tempat kerja. Data dianalisis menggunakan metode analisis isi, sintesis tematik dan triangulasi untuk validasi.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 4 faktor utama yang mempengaruhi kualitas diet dan obesitas pada pekerja, yaitu : kurangnya pengetahuan tentang pola makan sehat, kualitas diet yang rendah, kurangnya kontrol diri dalam pemilihan makanan, dan pengaruh lingkungan makan serta media sosial di tempat kerja.Kesimpulan: Studi ini menyediakan informasi faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas diet dengan terjadinya obesitas pada pekerja. Diperlukan dukungan dari perusahaan tempat kerja untuk meningkatkan kualitas diet dan kesehatan pekerjaKATA KUNCI: kualitas diet; obesitas; pekerja ABSTRACTBackground: It is estimated that as many as 1 billion adults will be obese by 2025. Obesity in Indonesia is also increasing rapidly, especially among adults and workers. One of the main causes of obesity in workers is low dietary quality and excessive energy intake.Objectives: The aim of this research is to explore the factors affecting diet quality and obesity in company workers in East Kalimantan.Methods: This study uses a qualitative design conducted in an industrial company in East Kalimantan. The respondents are workers with obesity. Overall, 5 semi-structured focus groups discussion (FGD) were conducted with a total of 25 respondents who were determined purposively according to work units. Respondents' demographic data were collected through a short questionnaire. Data collection using an audio recorder and notes. The instrument to be used is a FGD guide that contains questions related to knowledge about healthy eating patterns and obesity, dietary quality, self-control in food choices and influence of workplace food environment. Qualitative data is processed and analyzed using analytical methods content, thematic synthesis and triangulation for validation.Results: The result of this study shows that there are four main themes affecting dietary quality and obesity among workers. These factors are: lack of knowledge about healthy eating patterns, low dietary quality, lack of self-control and influence of workplace food environment.Conclusions: This study provides information on factors affecting diet quality and obesity in workers. Support from workplace is needed to improve the quality of workers' diets and healthKEYWORD: diet quality; obesity; workers
The influence of nutritional literacy through pocket books on mothers knowledge and attitudes in giving vitamin a to toddlers in the work area of the community health center Simbolon, Demsa; Santika, Olivia Dinda; Nathan, Okdi; Ponterik, Anna Veronica
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 5, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(5).387-396

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Vitamin A sangat penting untuk pertumbuhan dan ketahanan tubuh terhadap penyakit. Kekurangannya dapat menyebabkan kebutaan yang dapat dicegah dan meningkatkan tingkat morbiditas dan kematian, terutama pada balita. Di Indonesia, cakupan suplementasi vitamin A masih relatif rendah (76,68%). Di Provinsi Bengkulu, prevalensi kekurangan vitamin A terendah ditemukan di Kota Bengkulu. Sekitar 10-15% anak Indonesia di bawah usia lima tahun menderita kekurangan vitamin A. Metode: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas literasi gizi menggunakan buku saku tentang pengetahuan dan sikap ibu terkait suplementasi vitamin A untuk balita. Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan pendekatan pretest-posttest satu kelompok. Sampel terdiri dari 60 ibu (30 pada kelompok intervensi dan 30 pada kelompok kontrol), dipilih secara sengaja dari 772 orang tua yang hadir di Posyandu (posko pelayanan kesehatan terpadu) di kawasan Puskesmas Sawah Lebar pada Mei 2024. Data dikumpulkan melalui kuesioner pre-test dan post-test intervensi, kemudian dianalisis menggunakan uji chi-kuadrat dan regresi logistik multivariat. Hasil: Temuan penelitian menunjukkan peningkatan pengetahuan dan sikap yang signifikan pada kedua kelompok setelah intervensi (p-value<0,001), meskipun perbedaan antar kelompok tidak signifikan secara statistik. Kelompok intervensi yang menggunakan pocketbook menunjukkan peningkatan rata-rata yang sedikit lebih tinggi dalam pengetahuan dan sikap. Kesimpulan: Literasi gizi melalui penggunaan dompet efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu terhadap suplementasi vitamin A dan berpotensi mendukung keberhasilan program vitamin A di masyarakat.KATA KUNCI: balita, literasi gizi, vitamin AABSTRACTIntroduction:  Vitamin A is essential for growth and the body’s resistance to disease. Its deficiency can lead to preventable blindness and increase morbidity and mortality rates, especially among toddlers. In Indonesia, the coverage of vitamin A supplementation remains relatively low (76.68%), and in Bengkulu Province, the lowest prevalence of vitamin A deficiency is found in the city. Approximately 10–15% of Indonesian children under the age of five suffer from vitamin A deficiency. Methods: This study aims to evaluate the effectiveness of nutritional literacy using a pocketbook on mothers' knowledge and attitudes regarding vitamin A supplementation for toddlers. The research used a quasi-experimental design with a one-group pretest-posttest approach. The sample consisted of 60 mothers (30 in the intervention group and 30 in the control group), selected purposively from 772 parents attending the Posyandu (integrated health service post) in the Sawah Lebar Community Health Center area in May 2024. Data was collected via pre- and post-intervention questionnaires, then analyzed using chi-square and multivariate logistic regression tests.Results:  The results showed a significant improvement in knowledge and attitudes in both groups after the intervention (p = 0.000), although the difference between the groups was not statistically significant. The intervention group that used the pocketbook demonstrated a slightly higher average increase in knowledge and attitudes.Conclusion:  Nutritional literacy through the use of pocketbooks is effective in improving maternal knowledge and attitudes toward vitamin A supplementation and has the potential to support the success of vitamin A programs in the community.KEYWORDS:  nutritional literacy, toddlers, vitamin A
The role of dietary inflammatory index and fruit–vegetable variety in body fat accumulation among adolescents Lourena, Crysty; Tamtomo, Didik Gunawan; Wiboworini, Budiyanti
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 5, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(5).343-351

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Pada tahun 2023, sebanyak 8,8% remaja Indonesia mengalami overweight dan 2,9% mengalami obesitas. Hal itu dapat terjadi karena pola makan tidak sehat, terutama makanan yang memiliki potensi inflamasi tinggi sehingga mempengaruhi lemak tubuh. Dietary Inflammatory Index (DII) merupakan cara untuk mengetahui tingkat potensi inflamasi makanan. Besarnya nilai potensi inflamasi makanan serta bervariasinya konsumsi buah dan sayur dapat mempengaruhi komposisi lemak tubuh remaja.Tujuan: Mengetahui hubungan skor inflamasi makanan dan variasi konsumsi buah sayur terhadap lemak tubuh pada remaja.Metode: Penelitian menggunakan observasional analitik dengan desain cross-sectional. Sampel dipilih menggunakan metode multistage random sampling dan terpilih 150 remaja berusia 15-18 tahun. Pengambilan data lemak tubuh menggunakan Bio Impedance Analysis (BIA) dan data asupan makan menggunakan Semi Quantitative Questionnaire (SQ FFQ). Penelitian dilakukan di Surakarta pada bulan Mei-Juni 2024. Hasil: Variasi buah sayur pada remaja memiliki rentang skor 0-18 dan skor Dietary Inflammatory Index DII -1,91 hingga 2,39. Hasil uji Spearman menunjukkan hubungan yang signifikan antara skor inflamasi makanan dengan persen lemak tubuh tubuh (r = 0,18, p=0,026), namun tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara konsumsi variasi buah sayur dengan persen lemak tubuh (r= 0,006, p=0,941).Kesimpulan: Tingginya potensi inflamasi makanan berhubungan dengan peningkatan lemak tubuh remaja, namun sayur buah tidak berhubungan dengan lemak tubuh remaja.KATA KUNCI: asupan sayur buah; asupan sayur buah; dietary inflammatory index; lemak tubuh; remajaABSTRACTBackground: In 2023, 8.8% of Indonesian teenagers were overweight, while 2.9% were obese. Many teens are overweight or obese because they eat unhealthy, inflammation-causing foods that increase body fat. The Dietary Inflammatory Index (DII) is a method used to determine the level of inflammatory potential in food. The level of the inflammatory potential value in food and the variation in fruit and vegetable consumption can affect the body fat composition of adolescents.Objective: To determine the relationship between the inflammatory score of food and the variation in fruit and vegetable consumption on adolescent body fat.Method: This study used an analytical observational method with a cross-sectional design. The sample of 150 adolescents aged 15-18 was selected using multistage random sampling. Adolescents’ body fat was measured using Bio-Impedance Analysis (BIA) and their dietary intake was assessed using the Semi-Quantitative Questionnaire (SQ-FFQ). The research was conducted in Surakarta from May to June 2024. Results: The variation of fruits and vegetables in adolescents has a score range of 0-18 and a DII score of -1.91 to 2.39. Spearman correlation showed that the DII score positively correlates with body fat percentage (r = 0.18, p = 0.026). However, no significant effect was found between fruit and vegetable variety consumption on body fat percentage (r =0.006 p=0.941). Conclusion: Foods with high inflammatory potential may increase body fat in adolescents, while fruit and vegetable variety does not. The health department should offer guidelines to help the community, especially adolescents, choose non-inflammatory foods and avoid high-inflammatory ones.KEYWORDS: dietary inflammatory index; fruit and vegetable intake; body fat; adolescents
The impact of e-booklets on knowledge and attitudes toward anemia awareness among adolescent girls Ainun Najmi, Ismi Izaz; Rialihanto, Muhammad Primiaji; Setiyobroto, Idi; Wijanarka, Agus; Attawet, Jutharat; Laksono, Agung Dwi; kasjono, Heru Subaris; Waluyo, Waluyo; Siswati, Tri
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 5, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(5).352-364

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Menurut Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, sebanyak 15,5% remaja putri menderita anemia, sehingga anemia sebagai suatu masalah kesehatan yang signifikan. Salah satu faktor yang berkaitan dengan anemia remaja adalah rendahnya pengetahuan dan kepatuhan konsumsi Fe.Tujuan: Mengevaluasi efektivitas edukasi gizi menggunakan e-booklet dibandingkan dengan media slide dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap terkait anemia.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimental dengan desain pretest-posttest control group. Penelitian dilakukan pada bulan Maret-April 2024, melibatkan 85 siswi SMP di Yogyakarta, yang dibagi ke dalam kelompok intervensi (e-booklet dan media slide) dan kelompok kontrol (media slide). Data tentang pengetahuan dan sikap dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur pada tiga tahap: pretest, posttest-1, dan posttest-2. Analisis statistik yang digunakan adalah paired t-test, uji wilcoxon, independent t-test, dan uji mann-whitney.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam skor pengetahuan pada kedua kelompok, dengan kelompok intervensi mencapai skor post-test yang lebih tinggi (89,1 vs 78,8; p<0,05). Meskipun kedua kelompok menunjukkan sedikit peningkatan dalam hal sikap, perubahan yang diamati tidak mencapai signifikansi secara statistik. Temuan ini menyoroti efektivitas e-booklet sebagai alat pembelajaran digital, yang menawarkan fleksibilitas dan konten mendalam yang mendukung pembelajaran mandiri.Kesimpulan: Penelitian ini menggarisbawahi potensi e-booklet untuk mengatasi kesenjangan pengetahuan tentang anemia di kalangan remaja. Pembuat kebijakan sebaiknya mengintegrasikan e-booklet ke dalam program pendidikan kesehatan nasional dan menggabungkannya dengan metode offline yang interaktif untuk meningkatkan perubahan pengetahuan remaja.KATA KUNCI: anemia; e-booklet; pengetahuan; remaja putri; sikap ABSTRACTBackground: Based on Indonesia Health Survey 2023, 15,5% female adolescents suffer from anemia, as a significant health problem. This is due to lack of knowledge and low compliance of Fe consumption. Objectives: To evaluate the effectiveness of nutrition education using e-booklets compared to slide media in improving anemia-related knowledge and attitudes.Methods: This was a quasi-experimental design with a pretest-posttest control group, conducted in March–April 2024, involving 85 junior high school girls in Yogyakarta, divided into intervention (e-booklet and slide media) and control (slide media) groups. Data on knowledge and attitudes were collected using structured questionnaires at three points: pretest, posttest-1, and posttest-2. Statistical analyses included paired t-tests, Wilcoxon, independent t-tests, and Mann-Whitney tests.Results: The results showed a significant improvement in knowledge scores in both groups, with the intervention group achieving higher post-test scores (89.1 vs. 78.8; p<0.05). Although both groups demonstrated a slight improvement in attitudes, the observed changes did not reach statistical significance. The findings highlight the effectiveness of e-booklets as a digital learning tool, offering flexibility and in-depth content that supports independent learningConclusions: This study underscores the potential of e-booklets to address knowledge gaps about anemia among adolescents. Policymakers should integrate e-booklets into national health education programs while combining them with interactive offline methods to enhance attitude changes.KEYWORDS: anemia; attitude; adolescent girls; e-booklet; knowledge
Relationship between vitamin D, vitamin C and blood glucose in patients with type 2 diabetes mellitus Maharany, Amelia Putri; Kusdalinah, Kusdalinah; Witradharma, Tetes Wahyu
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 5, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(5).315-323

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Diabetes Melitus merupakan penyakit kronis yang terjadi ketika pankreas tidak lagi cukup dalam memproduksi insulin. Diabetes Melitus  sebagai salah satu dari lima  penyakit tidak menular yang menyebabkan kematian tertinggi sehingga diprioritaskan untuk pencegahan dan pengendaliannya. Beberapa penelitian vitamin D dan vitamin C menunjukkan kecendrungan variasi pro dan kontra dalam peningkatan sensitivitas insulin penderita Diabetes Melitus.Tujuan: mengetahui hubungan konsumsi vitamin D dan vitamin C dengan kadar glukosa darah pada pasien rawat jalan Diabetes Melitus tipe 2 Rumah Sakit Umum Daerah Harapan dan Doa Kota Bengkulu.Metode: Desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah pasien diabetes melitus tipe 2. Sampel sebanyak 57 pasien dengan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan uji Korelasi.Hasil: Uji korelasi vitamin D dengan glukosa darah menunjukkan nilai p = 0,238, sedangkan vitamin C dengan kadar glukosa darah adalah nilai p = 0,000.Kesimpulan: Tidak ada hubungan konsumsi vitamin D dengan kadar glukosa darah, namun ada hubungan konsumsi vitamin C dengan kadar glukosa darah pada pasien rawat jalan Diabetes Melitus tipe 2. KATA KUNCI: Vitamin D; Vitamin C; glukosa darah; Diabetes melitus tipe 2  ABSTRACTBackground: Diabetes mellitus is a chronic disease that occurs when the pancreas no longer produces enough insulin. Diabetes mellitus is one of the five non-communicable diseases with the highest mortality rate, therefore, its prevention and control are prioritized. Several studies on vitamin D and vitamin C have shown varying trends in improving insulin sensitivity in people with diabetes mellitus.Objectives: To determine the relationship between vitamin D and vitamin C consumption and blood glucose levels in outpatients with type 2 diabetes mellitus at Harapan dan Doa Regional General Hospital, Bengkulu City.Methods: The study design was an observational analytical study with a cross-sectional approach. The study population was patients with type 2 diabetes mellitus. A sample of 57 patients was selected using a purposive sampling technique. Data analysis used a correlation test.Results: The correlation test for vitamin D and blood glucose showed a p-value of 0.238, while the correlation between vitamin C and blood glucose levels showed a p-value of 0.000.Conclusions: There is no relationship between vitamin D consumption and blood glucose levels, but there is a relationship between vitamin C consumption and blood glucose levels in outpatients with type 2 diabetes mellitus. KEYWORDS: Vitamin D; Vitamin C; blood glucose; type 2 diabetes mellitus

Page 1 of 1 | Total Record : 8