cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Naditira Widya
ISSN : 14100932     EISSN : 25484125     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 545 Documents
PASANG SURUT PERAN MASYARAKAT BUGIS PADA MASA KESULTANAN KUTAI KARTANEGARA: DALAM NASKAH KUNA DARI KOTABANGUN Mujib, Mujib
Naditira Widya Vol 3, No 2 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.2
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v3i2.180

Abstract

An old Latin manuscript in Malay language, in the possession Awang Sabirin, was documented during the archaeological research in Kotabangun in 2007. The manuscript was a copy a typed-text from an older manuscript written during the Dutch occupation. It is assumed that the text is another version of Salasilah Kutai Kartanegara written in the 17th century. This manuscript describes related events between the Kutai Kartanegara Kingdom and the role of the Buginese within the kingdoms sovereignty. I assume the Buginese had played an important role then and it is essential to carry out an intensive multidisciplinary study on such subject based on archaeology, philology, history, and sociology. This article discusses the content of the manuscript and the role Buginese in Kutai Karatnegara.
SUMBER DAYA ARKEOLOGI KUTAI KARTANEGARA: Keragaman Budaya sebagai Identitas Budaya dan Daya Tarik Wisata (ARCHAEOLOGICAL RESOURCES OF KUTAI KARTANEGARA: Cultural Diversity as Cultural Identity and a Tourist Attraction) Astiti, Ni Komang Ayu
Naditira Widya Vol 12, No 1 (2018): NADITIRA WIDYA VOLUME 12 NOMOR 1 TAHUN 2018
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v12i1.254

Abstract

Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki warisan budaya dan keragaman budaya yang masih ada relevansinya sekarang. Bagaimana menjadikan keragaman budaya yang dimiliki masyarakat dapat dikemas sebagai identitas sekaligussebagai daya tarik wisata? Penelitian ini membahas pengemasan keragaman sumberdaya arkeologi Kutai Kartanegara untuk dapat digunakan oleh komunitas yang lebih luas sehingga dapat menjadi identitas budaya dan daya tarik wisata. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah  pendekatan kualitatif-deskriftif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber daya arkeologi di Kutai Kartanegara mengandung nilai simbolis dan estetika yang masih relevan dengan populasi saat ini.  Peningkatan pemahaman publik tentang nilai keanekaragaman budaya yang ditemukan dalam sumber arkeologi adalah masalah penting dalam identitas budaya. Dengan demikian, mensinergikan sumber daya dan komponen pariwisata lainnya yang melekat pada sumber daya arkeologi Kutai Kartanegara adalah tujuan yang penting.Kutai Kartanegara Regency has a cultural heritage and cultural diversity that still have relevance today. How can we relate this heritage and diversity to the needs of modern tourism? This study discusses the diversity of archaeological resources in Kutai Kartanegara so that they can be used by the wider community for purposes of cultural identity and tourist attraction. The method used in this research is qualitative-descriptive approach. Research results suggest the archaeological resources in Kutai Kartanegara carry symbolic and aesthetic values that are still relevant to the current population. Increased public understanding of the value of cultural diversity found in archaeological resources is an important issue incultural identity. Thus, synergizing the resources and other tourism components inherent in the archaeological resources of Kutai Kartanegara is an important goal.
PENELUSURAN TOPONIM SITUS BEKAS KERAJAAN LAMATTI, TONDONG, DAN BULO-BULO DI SINJAI, SULAWESI SELATAN Hasanuddin, Hasanuddin
Naditira Widya Vol 4, No 2 (2010): Oktober 2010
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v4i2.37

Abstract

Abstrak. Penelitian di Sinjai dilakukan pada area dengan toponimi bekas Kerajaan Lamatti, Tondong, dan Bulo-Bulo, yang tergabung dalam aliansi yang disebut Tellu Limpoe pada abad ke-16 Masehi. Penelitian ini dilakukanmelalui pendekatan induktif-analitik dengan pengumpulan data melalui teknik survei dan lubang uji. Sebagian besarjenis temuan adalah gerabah dan fragmen keramik dari berbagai dinasti. Temuan lain adalah batu dakon danlesung batu. Tulisan ini membahas penentuan kronologi relatif dalam konteks sejarah budaya berdasarkan hasilinterpretasi dari ketiga situs. Hasil kajian ini memberikan pemahaman bahwa ketiga situs tersebut menunjukkandinamika hidup yang bervariasi antara kegiatan rumah tangga, agama, subsistensi, dan perdagangan. Selain itu,diketahui pula bahwa pemukiman yang terbentuk di Sinjai dilandasi faktor geografis yang terdiri atas perbukitan danpegunungan.
PREFACE NADITIRA WIDYA VOL. 10 NO. 1 APRIL 2016 Widya, Naditira
Naditira Widya Vol 10, No 1 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 1 Tahun 2016
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v10i1.257

Abstract

USULAN MODEL PENGELOLAAN SUMBERDAYA BUDAYA: PEMIKIRAN BERDASARKAN KASUS-KASUS DI KALIMANTAN Wasita, Wasita
Naditira Widya Vol 6, No 2 (2012): Oktober 2012
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v6i2.171

Abstract

Tulisan ini membahas sejumlah kasus pengelolaan sumber daya budaya di Kalimantan yang tidak sesuaidengan Undang-Undang Cagar Budaya dan menyusun gagasan tentang sebuah model pelestarian cagar budayaberbasis pemanfaatan. Upaya tersebut dilakukan dengan mengidentifkasi dan mengevaluasi implemantasi peraturandan kegiatan pelestarian yang telah dilakukan oleh para pemangku kepentingan kebudayaan di Kalimantan. Hasilevaluasi menunjukkan adanya standar ganda penerapan peraturan pelestarian cagar budaya di Kalimantan.Selain itu, persepsi subyektif-afektif dan kepentingan stakholders ternyata juga mempengaruhi tujuan dan aktivitaspengelolaan cagar budaya. Dengan demikian, model pelestarian yang diajukan adalah menginduksikan perspektifpemanfaatan cagar budaya dalam konteks sistem, yang melibatkan masyarakat secara aktif dalam aktivitaspelestariannya, serta memposisikan instansi arkeologi sebagai fasilitator, mediator, dan pengawas pelestariancagar budaya.
MENGUNJUNGI MUSEUM SENI PURBA DI KALIMANTAN Sugiyanto, Bambang
Naditira Widya Vol 4, No 1 (2010): April 2010
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v4i1.137

Abstract

Kalimantan is wellknown for its karst environment, which bear rock shelters and caves. Apparently, the karst environment in East Kalimantan provides important information on prehistoric human occupation, especially humans appreciation toward narure in the form of art. The art in Marang is illustrated on cave walls as rock paintings of hand imprints and other images. Such presentation may be comparable to a museum display, however, it present in situ data with more invaluable cultural and historical information. This article discusses the uniquensess of materializing humans sense of art on cave wall and their role as museum for the benefit of future generation.
UNSUR SIMBOLIS DAN ESTETIS DALAM SENI PAHAT SUKU DAYAK BENUAQ DAN TUJUNG DI KALIMANTAN TIMUR Hartatik, Hartatik
Naditira Widya Vol 2, No 1 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.1
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v2i1.162

Abstract

The Benuaq and Tunjung inhabit the high hinterland of Kutai Barat in the Province of East Kalimantan. Both communities have the sustainable potency to uphold their skill in wood carving; the existence of balontang, tugu ngugu tautn, templaq, klerekng and ornaments on old lamin, which abundantly found in their village signify their centuries-old competence in wood carving. Nevertheless, there are some style and type differences on carved wooden object between the Benuaq-Tunjung and that of the Ngaju, Lawangan and Maanyan. For instance, physically, the Ngaju, Lawangan and Maanyan tends to carve plain and massive wooden figures, whereas those of the Benuaq-Tunjung are more dynamic and enriched with attractive scrolls. This article discusses the aesthetic and symbolic representation of balontang, tugu ngugu tautn, templaq, klerekng, ornaments on old lamin.
MODEL STRATEGI PENGELOLAAN RUMAH ADAT BANJAR DI TELUK SELONG ULU Hartatik, Hartatik
Naditira Widya Vol 9, No 2 (2015): OKtober 2015
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v9i2.126

Abstract

Rumah adat Banjar tipe Bubungan Tinggi dan Gajah Baliku di Teluk Selong Ulu, Kalimantan Selatan mempunyaibentuk dan bahan yang masih asli serta nilai penting bagi sejarah dan ilmu pengetahuan. Untuk kepentingan pariwisata,pemerintah membuat taman dan halaman parkir konblok beton dengan mengurung lahan rawa di depan dan sampingrumah adat. Tulisan ini bertujuan untuk mengidentifikasi dampak pengelolaan dan membuat model pengelolaan kawasanrumah adat di Teluk Selong Ulu. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif.Teknik pengumpulan datadilakukan dengan pengamatan langsung dan wawancara mendalam.Untuk membuat model pengelolaan dilakukan denganteknik Participatory Rural Apprasial (PRA), kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis SWOT.Hasil penelitianmenunjukkan, bahwa pengembangan kawasan rumah adat telah menimbulkan dampak sosial yang meresahkan.Modelpengelolaan dibuat dengan memperhatikan zonasi cagar budaya, melibatkan multi stakeholder baik pemerintah maupunmasyarakat yang terkoordinir dan dilakukan secara berkelanjutan.Disimpulkan bahwa dengan strategi pengelolaan yangdidasarkan pada prinsip pengelolaan sumber daya arkeologi dan kearifan lokal, maka kawasan rumah adat Banjar dapatdikembangkan dan dimanfaatkan optimal sebagai ikon dan kebanggaan budaya lokal.
CULTURAL DEVELOPMENT: THE ARCHAEOLOGY OF KALIMANTAN TENGAH AND KALIMANTAN SELATAN Kusmartono, Vida Pervaya Rusianti
Naditira Widya Vol 6, No 2 (2012): Oktober 2012
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v6i2.89

Abstract

Abstrak. PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN: ARKEOLOGI KALIMANTAN TENGAH DAN KALIMANTANSELATAN. Selama 1993-2010, lebih dari tujuh puluh lima situs arkeologi di Provinsi Kalimantan Tengah danProvinsi Kalimantan Selatan telah diteliti. Bukti-bukti arkeologi memberikan informasi penting tentang okupasiprasejarah, diaspora Austronesia dan tradisi penguburan, perkembangan kebudayaan India dan Cina, daerahaliran sungai dan pemukiman rawa, arsitektur Islam dan kolonial, perencanaan kota dan pemakaman, sistembenteng kolonial, perdagangan keramik, tradisi pembuatan tembikar dan logam, serta arkeologi bawah air. Namundemikian, karakteristik arkeologis masing-masing daerah tersebut menunjukkan kekhasan; Arkeologi KalimantanTengah menyajikan informasi tentang kontinuitas tradisi pemakaman prasejarah, sedangkan Arkeologi KalimantanSelatan berkaitan dengan perkembangan kebudayaan Islam di bawah hegemoni Kesultanan Banjar dan okupasiBelanda.
COVER DEPAN NADITIRA WIDYA VOLUME 7 NOMOR 1 APRIL 2013 Widya, Naditira
Naditira Widya Vol 7, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v7i1.280

Abstract


Filter by Year

2006 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 17 No 1 (2023): Naditira Widya Volume 17 Nomor 1 Tahun 2023 Vol 16 No 2 (2022): Naditira Widya Volume 16 Nomor 2 Tahun 2022 Vol 16 No 1 (2022): Naditira Widya Volume 16 Nomor 1 Tahun 2022 Vol 15 No 2 (2021): NADITIRA WIDYA VOLUME 15 NOMOR 2 OKTOBER 2021 Vol 15 No 1 (2021): NADITIRA WIDYA VOLUME 15 NOMOR 1 APRIL 2021 Vol 14 No 2 (2020): NADITIRA WIDYA VOLUME 14 NOMOR 2 OKTOBER 2020 Vol 14 No 1 (2020): NADITIRA WIDYA VOLUME 14 NOMOR 1 APRIL 2020 Vol 13 No 2 (2019): NADITIRA WIDYA Vol 13, No 1 (2019): NADITIRA WIDYA Vol 13 No 1 (2019): NADITIRA WIDYA Vol 12, No 2 (2018): Naditira Widya Volume 12 Nomor 2 Oktober Tahun 2018 Vol 12 No 2 (2018): Naditira Widya Volume 12 Nomor 2 Oktober Tahun 2018 Vol 12, No 1 (2018): NADITIRA WIDYA VOLUME 12 NOMOR 1 TAHUN 2018 Vol 12 No 1 (2018): NADITIRA WIDYA VOLUME 12 NOMOR 1 TAHUN 2018 Vol 11 No 2 (2017): Naditira Widya Volome 11 Nomor 2 Oktober 2017 Vol 11, No 2 (2017): Naditira Widya Volome 11 Nomor 2 Oktober 2017 Vol 11, No 1 (2017): Naditira Widya Vol. 11 No. 1 April 2017 Vol 11 No 1 (2017): Naditira Widya Vol. 11 No. 1 April 2017 Vol 10 No 2 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 2 Oktober 2016 Vol 10, No 2 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 2 Oktober 2016 Vol 10, No 1 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 1 Tahun 2016 Vol 10 No 1 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 1 Tahun 2016 Vol 9, No 2 (2015): OKtober 2015 Vol 9 No 2 (2015): OKtober 2015 Vol 9 No 1 (2015): April 2015 Vol 9, No 1 (2015): April 2015 Vol 8, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 8 No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 8 No 1 (2014): April 2014 Vol 8, No 1 (2014): April 2014 Vol 7 No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 7, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 7, No 1 (2013): April 2013 Vol 7 No 1 (2013): April 2013 Vol 6 No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 6, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 6, No 1 (2012): April 2012 Vol 6 No 1 (2012): April 2012 Vol 5, No 2 (2011): Oktober 2011 Vol 5 No 2 (2011): Oktober 2011 Vol 5 No 1 (2011): April 2011 Vol 5, No 1 (2011): April 2011 Vol 4 No 2 (2010): Oktober 2010 Vol 4, No 2 (2010): Oktober 2010 Vol 4 No 1 (2010): April 2010 Vol 4, No 1 (2010): April 2010 Vol 3 No 2 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.2 Vol 3, No 2 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.2 Vol 3, No 1 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.1 Vol 3 No 1 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.1 Vol 2 No 2 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.2 Vol 2, No 2 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.2 Vol 2, No 1 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.1 Vol 2 No 1 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.1 Vol 1, No 2 (2007): Naditira Widya Volume 1 Nomor 2 Tahun 2007 Vol 1 No 2 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.2 Vol 1, No 1 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.1 Vol 1 No 1 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.1 No 16 (2006): Naditira Widya Nomor 16 Oktober 2006 No 16 (2006): Naditira Widya Nomor 16 Oktober 2006 More Issue