cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Naditira Widya
ISSN : 14100932     EISSN : 25484125     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 545 Documents
APPENDIX NADITIRA WIDYA VOLUME 8 NOMOR 2 OKTOBER 2014 Widya, Naditira
Naditira Widya Vol 8, No 2 (2014): Oktober 2014
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v8i2.270

Abstract

Hunian Berulang Dolina Kidang, Blora Kala Holosen Nurani, Indah Asikin
Naditira Widya Vol 10, No 2 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 2 Oktober 2016
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v10i2.116

Abstract

HUNIAN BERULANG DI DOLINA KIDANG, BLORAKALA HOLOSENDWELLING RECURRING IN DOLINA KIDANG, BLORAHOLOCENE PERIODIndah Asikin NuraniBalai Arkeologi Daerah Istimewaan Yogyakarta, Jalan Gedong Kuning No 174, Kotagede, YogyakartaEmail: anikardani@gmail.comAbstrakDolina Kidang adalah suatu lobang besar yang di dalamnya terdapat sebuah gua dan sebuah ceruk. Dolina ini merupakan tempat hunian manusia prasejarah kala Holosen yang sangat intensif dihuni. Bukti-bukti arkeologis memberikan gambaran bagaimana pola hunian yang berlangsung di dalam dolina ini. Temuan hasil ekskavasi meliputi artefak, ekofak, fitur, dan rangka manusia. Kajian geoarkeologis menunjukkan adanya proses pengendapan sedimentasi dan material budaya yang signifikan. Kajian antropologi ragawi memberikan kontribusi tentang sistem kubur yang dianut manusia penghuni Dolina Kidang. Pengembangan teknologi dalam mempertahankan hidup juga memberikan informasi tersendiri dalam pola hidup manusia penghuni Dolina Kidang. Tulisan ini akan memberikan gambaran menyeluruh pola hunian beserta jejak okupasi yang berlangsung di dolina ini. Metode yang digunakan adalah deskriptif analitis, dengan penalaran induktif. Hasil penelitian memberikan informasi tentang pola pemanfaatan lahan gua secara berulang yaitu ditemukan gua berupa konglomerat alas.Kata kunci: Dolina Kidang, stratigrafi, kubur, teknologi, hunian.Abstract. Dolina Kidang is a big hole in which there is a cave and a niche. This Dolina a prehistoric human settlements Holocene period very intensive inhabited. Archaeological evidence gives an overview of how settlement patterns that took place in this dolina. Findings from excavations among others artifacts, ecofacts, features, and skeleton. Geo-archaeological studies showed the deposition process of sedimentation and culturally of significant material. Contributing studies paleoanthropology has information about the system of burial in Dolina Kidang. Studies of technology in maintaining the life had new information in sustaining life in Dolina Kidang. This paper will provide a thorough overview of the occupancy patterns along with traces of occupation that took place in this dolina. The method used is descriptive analytical, with inductive reasoning. The results of study provide information on land use patterns recurring cave that is found in the form of conglomerates pedestal as gab occupation.Keywords: Dolina Kidang, stratigraphy, burial, technology, occupancy.
APPENDIX NADITIRA WIDYA VOLUME 12 NOMOR 1 APRIL 2018 Widya, Naditira
Naditira Widya Vol 12, No 1 (2018): NADITIRA WIDYA VOLUME 12 NOMOR 1 TAHUN 2018
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v12i1.299

Abstract

PENGGAMBARAN ARSITEKTUR BERKONSTRUKSI KAYU ABAD KE-910 MASEHI PADA RELIEF KARMAWIBHANGGA CANDI BOROBUDUR Setyawan, Hari
Naditira Widya Vol 5, No 1 (2011): April 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v5i1.63

Abstract

Abstrak. Masyarakat Jawa Kuna pada abad ke-9-10 Masehi adalah masyarakat kerajaan denganpengaruh Hindhu-Buddha pada kehidupan sehari-harinya. Hampir seluruh aspek kehidupanmasyarakat terpengaruh oleh budaya Hindhu-Buddha dari India. Hal ini dapat terlihat jelas padakarya arsitekturnya yang monumental, di antaranya berupa percandian. Dalam kaitannya denganilmu arkeologi, candi atau kompleks percandian adalah hasil karya arsitektural yang memilikiperan penting dalam merekonstruksi kehidupan manusia pada masa lalu. Relief yang dipahatkanpada dinding atau bidang candi menyimpan banyak informasi. Informasi tersebut merepresentasikankehidupan pada saat candi tersebut difungsikan oleh masyarakat pendukungnya. Hal ini dapatdiketahui pada pahatan relief di Candi Borobudur, khususnya pada relief Karmawibhangga. Dilihatdari tema ceritanya, relief Karmawibhangga pada kaki Candi Borobudur banyak memberiketerangan mengenai kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa Kuna abad ke-9-10 Masehi. Tulisanini membahas beberapa relief yang menggambarkan arsitektur bangunan berkonstruksi kayu,baik sakral maupun profan. Jadi, berdasarkan data relief Candi Borobudur, kita dapat mengetahuitipe bangunan konstruksi kayu yang didirikan pada abad ke-9-10 Masehi di Jawa Tengah.
PREFACE NADITIRA WIDYA VOLUME 9 NOMOR 2 OKTOBER 2015 Widya, Naditira
Naditira Widya Vol 9, No 2 (2015): OKtober 2015
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v9i2.261

Abstract

GEORADAR DALAM PENELITIAN ARKEOLOGI DI INDONESIA Intan, M. Fadlan S.
Naditira Widya Vol 10, No 1 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 1 Tahun 2016
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v10i1.175

Abstract

Disadari bahwa kegiatan ekskavasi yang dilakukan terhadap situs arkeologi cenderung bersifat merusak, strukturlapisan tanah tidak bisa dikembalikan ke kondisi semula, ditambah dengan sifat data arkeologi yang terbatas, baik dari segikualitas maupun kuantitas. Oleh karena itu, perlu digunakan metode yang lebih maju sehingga dengan mudah bisa menemukandata arkeologi tanpa harus membuka banyak kotak ekskavasi yang kosong. Penelitian ini bertujuan untuk memperkenalkanmetode georadar yang memberikan rekomendasi terhadap lokasi anomali di bawah permukaan tanah sehingga akanmempermudah dalam proses penelitian arkeologi. Metode yang digunakan bersifat deskriptif dengan penalaran induktif. Datadikumpulkan melalui studi pustaka, baik dari sumber primer maupun sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaanmetode modern sudah mulai dilakukan pada beberapa penelitian arkeologi di Indonesia, meskipun dalam jumlah yangterbatas. Oleh karena itu, diharapkan penggunaan metode georadar dapat lebih ditingkatkan bagi institusi yang berkecimpungdalam penelitian arkeologi
DIKOTOMI BUDAYA SUNGAI PADA AWAL MASA PERKEMBANGAN BUDAYA ISLAM DI DAS BARITO Hindarto, Imam
Naditira Widya Vol 3, No 2 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.2
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v3i2.147

Abstract

Ecology an area will have an effect on to cultural character of society occupying it. Related to assumption, emerge a problems concerning difference of cultural character of society inhabiting DAS Barito start from upstream go downstream. Distribution analysis or archaeology remain distribution expected will assist in depiction of archaeology data distributions pattern in linear area. Pursuant to result of the analysis hence seeing that to be are cultural character dichotomy from among society upriver and downstream of DAS Barito of difference of ecology.
E-MUSEUM: KOMODIFIKASI INFORMASI KOLEKSI MUSEUM Oktrivia, Ulce
Naditira Widya Vol 8, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v8i1.102

Abstract

Dewasa ini informasi dapat menyebar dalam hitungan detik tanpa terbatas pada ruang dan waktu. Setiap orang di penjurudunia dapat mengakses informasi dari seluruh dunia dengan hanya duduk di dalam rumah. Museum sebagai lembaga yang bertugasuntuk kepentingan studi, pendidikan, dan kesenangan juga dituntut untuk menyebarkan informasi dengan cepat dan akurat. Salah satucara agar informasi yang dimiliki oleh museum dapat diakses dengan cepat dan akurat adalah dengan e-museum. Permasalahan yangmuncul adalah bagaimanakah bentuk e-museum, apakah yang menjadi prioritas isi dari e-museum, dan bagaimanakah museummengatasi dampak yang timbul sebagai akibat dari e-museum. Makalah ini bersifat deskriptif komparatif. Segala data tentang e-museumakan dibandingkan. Data yang digunakan adalah data pustaka baik dari buku maupun internet. Hasil dari desk research ini adalah duabuah bentuk e-museum yaitu e-museum berbentuk web site yang sudah banyak digunakan dan e-museum berbasis sistem informasigeografis. Isi dari e-museum akan lebih baik jika difokuskan pada data mengenai seluruh koleksi museum beserta kesejarahannya.Hadirnya museum mungkin saja membuat orang tidak perlu datang ke museum, namun cukup dengan mengakses internet. Oleh sebabitu, museum dituntut untuk lebih interaktif dengan memberikan workshop singkat kepada pengunjung museum.
CANDI PLANGGATAN: BANGUNAN SUCI MILIK KAUM RSI Purwanto, Heri; Titasari, Coleta Palupi
Naditira Widya Vol 11, No 2 (2017): Naditira Widya Volome 11 Nomor 2 Oktober 2017
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v11i2.227

Abstract

Penelitian terhadap Candi Planggatan belum banyak dilakukan oleh para ahli, maka dari itu dengan hadirnya tulisan ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih mengenai sejarah maupun aktivitas manusia masa lalu di Candi Planggatan. Secara administratif Candi Planggatan terletak di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Candi ini tersusun atas tiga teras menghadap ke arah barat. Studi ini ingin mengungkap unsur apa saja yang menjadi sebuah penanda bahwa Candi Planggatan merupakan bangunan suci milik kaum rsi. Guna menyelesaikan permasalahan tersebut metode yang digunakan dalam penelitian ini melalui dua tahap yaitu metode pengumpulan dan analisis data. Pengumpulan data meliputi observasi dan kajian pustaka. Analisis yang digunakan ialah kualitatif dengan menggunakan teori simbol. Hasil dari penelitian ini dapat dinyatakan bahwa Candi Planggatan merupakan tempat suci bagi kaum rsi atau pertapa (karsyan) berbentuk mandala kedewaguruan. Rsi yang sangat mungkin sebagai tokoh agama di mandala Planggatan adalah Rama Balanggadawang dan Hyang Pununduh. Lebih lanjut kaum rsi dan pertapa yang tinggal di mandala Planggatan rupanya melakukan pemujaan terhadap Siwa dan Ganesa.
PENGELOLAAN KAWASAN KARST DI KALIMANTAN SELATAN Sugiyanto, Bambang
Naditira Widya Vol 2, No 1 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.1
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v2i1.166

Abstract

The karst environment is a unique natural phenomenon, which provides abundant resources for human survival, such as minerals, birds nest, guano, and forest products. Beside natural resources, the karst environment also store cultural resources essensial to archaeological i.e. caves or rock shelters, which once occupied by prehistoric human. Therefore, it is important to be able to preserve the karst environment, either natural or cultural, for the benefit to the next generation. In order to carry out an appropriate karst environment management, especially in South Kalimantan, coordination and collaboration should be established between the Centre for Archaeology, Banjarmasin, the Local office for Culture and Tourism, the Conservation Centre for Natural Resources, the Lambung Mangkurat University, the non government organization on culture and the South Kalimantan community and produce a policy as a legal instruction to protect and preserve the South Kalimantan natural resources. This article discusses the strategy pf preservation-based karst environment management in South Kalimantan.

Filter by Year

2006 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 17 No 1 (2023): Naditira Widya Volume 17 Nomor 1 Tahun 2023 Vol 16 No 2 (2022): Naditira Widya Volume 16 Nomor 2 Tahun 2022 Vol 16 No 1 (2022): Naditira Widya Volume 16 Nomor 1 Tahun 2022 Vol 15 No 2 (2021): NADITIRA WIDYA VOLUME 15 NOMOR 2 OKTOBER 2021 Vol 15 No 1 (2021): NADITIRA WIDYA VOLUME 15 NOMOR 1 APRIL 2021 Vol 14 No 2 (2020): NADITIRA WIDYA VOLUME 14 NOMOR 2 OKTOBER 2020 Vol 14 No 1 (2020): NADITIRA WIDYA VOLUME 14 NOMOR 1 APRIL 2020 Vol 13 No 2 (2019): NADITIRA WIDYA Vol 13, No 1 (2019): NADITIRA WIDYA Vol 13 No 1 (2019): NADITIRA WIDYA Vol 12, No 2 (2018): Naditira Widya Volume 12 Nomor 2 Oktober Tahun 2018 Vol 12 No 2 (2018): Naditira Widya Volume 12 Nomor 2 Oktober Tahun 2018 Vol 12, No 1 (2018): NADITIRA WIDYA VOLUME 12 NOMOR 1 TAHUN 2018 Vol 12 No 1 (2018): NADITIRA WIDYA VOLUME 12 NOMOR 1 TAHUN 2018 Vol 11 No 2 (2017): Naditira Widya Volome 11 Nomor 2 Oktober 2017 Vol 11, No 2 (2017): Naditira Widya Volome 11 Nomor 2 Oktober 2017 Vol 11, No 1 (2017): Naditira Widya Vol. 11 No. 1 April 2017 Vol 11 No 1 (2017): Naditira Widya Vol. 11 No. 1 April 2017 Vol 10 No 2 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 2 Oktober 2016 Vol 10, No 2 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 2 Oktober 2016 Vol 10 No 1 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 1 Tahun 2016 Vol 10, No 1 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 1 Tahun 2016 Vol 9, No 2 (2015): OKtober 2015 Vol 9 No 2 (2015): OKtober 2015 Vol 9 No 1 (2015): April 2015 Vol 9, No 1 (2015): April 2015 Vol 8, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 8 No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 8 No 1 (2014): April 2014 Vol 8, No 1 (2014): April 2014 Vol 7 No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 7, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 7, No 1 (2013): April 2013 Vol 7 No 1 (2013): April 2013 Vol 6 No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 6, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 6, No 1 (2012): April 2012 Vol 6 No 1 (2012): April 2012 Vol 5, No 2 (2011): Oktober 2011 Vol 5 No 2 (2011): Oktober 2011 Vol 5 No 1 (2011): April 2011 Vol 5, No 1 (2011): April 2011 Vol 4 No 2 (2010): Oktober 2010 Vol 4, No 2 (2010): Oktober 2010 Vol 4 No 1 (2010): April 2010 Vol 4, No 1 (2010): April 2010 Vol 3 No 2 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.2 Vol 3, No 2 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.2 Vol 3, No 1 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.1 Vol 3 No 1 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.1 Vol 2 No 2 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.2 Vol 2, No 2 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.2 Vol 2, No 1 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.1 Vol 2 No 1 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.1 Vol 1, No 2 (2007): Naditira Widya Volume 1 Nomor 2 Tahun 2007 Vol 1 No 2 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.2 Vol 1, No 1 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.1 Vol 1 No 1 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.1 No 16 (2006): Naditira Widya Nomor 16 Oktober 2006 No 16 (2006): Naditira Widya Nomor 16 Oktober 2006 More Issue