cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Naditira Widya
ISSN : 14100932     EISSN : 25484125     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 545 Documents
LAMPUNG CIKONENG, POTRET PEMUKIMAN ORANG MELAYU DI TANAH BANTEN Sutrisna, Deni
Naditira Widya Vol 8, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v8i1.103

Abstract

Banten dalam beragam aspeknya merupakan sebuah kawasan yang cocok untuk analisis sejarah Nusantara. Pandanganumum tentang Kesultanan Banten tampak dengan ciri-ciri yang sama dengan kesultanan di Sumatera, tetapi Banten menampilkan suatukekhasan dengan posisinya yang berada di perbatasan antara dua tradisi utama Nusantara, yaitu tradisi kerajaan Jawa dan tempatperdagangan Melayu. Khusus tradisi tempat perdagangan Melayu, masih menyisakan suatu daerah budaya Melayu yang hingga kinibertahan di tanah Banten, yaitu komunitas Melayu Lampung di Kampung Cikoneng. Keberadaannya menjadi bagian yang takterpisahkan dari pasang surut dinamika hubungan Lampung sebagai daerah taklukan maupun sebagai sumber komoditi (penghasil)lada yang membuat mahsyur Banten di mata dunia. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah dengan menelusuri data lewatlaporan penelitian, buku, dan internet. Dari uraian paparan tulisan diketahui bahwa keberadaan Melayu Lampung di tanah Bantendisebabkan hubungan erat yang telah terjalin lama antara penguasa Banten dengan orang Lampung melalui kegiatan perdagangan.
SARKOFAGUS DAN RITUAL SEDEKA ORONG DI SITUS AI RENUNG, SUMBAWA Handini, Retno
Naditira Widya Vol 11, No 2 (2017): Naditira Widya Volome 11 Nomor 2 Oktober 2017
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v11i2.230

Abstract

Situs Ai Renung merupakan situs kompleks megalitik di Desa Batu Tering, Kec. Moyo Hulu, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat yang terbagi menjadi 5 situs yakni Ai Renung 1, 2 3, 4 dan 5 dengan temuan utama berupa sarkofagus. Penelitian bertujuan untuk mengetahui bentuk dan ornamen sarkofagus di Situs Ai Renung serta ritual yang dilakukan masyarakat Batu Tering yang memanfaatkan keberadaan sarkofagus tersebut. Metode yang dilakukan adalah observasi atau pengamatan langsung serta wawancara mendalam dengan informan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Situs Ai Renung merupakan wilayah yang dianggap sakral, terutama di Situs Ai Renung 2 yang merupakan lokasi ritual sedeka orong.Sarkofagus Ai Renung memiliki kekhasan dari segi bentuk dan teknologi pahatan, berupa manusia kangkang dan buaya yang dipahatkan hampir di seluruh permukaan batuan.
SEKILAS SEJARAH KEDATANGAN DAN BUDAYA KERAMIK ORANG CINA DI SINGKAWANG Yogi, Ida Bagus Putu Prajna
Naditira Widya Vol 2, No 1 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.1
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v2i1.167

Abstract

Ceramic-making technology.Singkawang is a city in the Province of West Kalimantan, which inhabited mostly by the Chinese. The natural potency of Kalimantans western region and its strategic location on the Chinese trade route was probably one of aspects, which lead the Chinese to travel and inhabit in that specific area then. Up until now, the number of Chinese in West Kalimantan, especially in Singkawang, have been increasing and even outnumbered indigenous people of Kalimantan. Such increase in population has simultaneously encouraged the Chinese ancestral culture to flourish in Singkawang, which for instance reflected by the similary of city-form between Singkawang and those of China mainlands. Ethnoarchaeologically, the Tungku Naga or Dragon Klin stands out as the most striking phenomenon of the old Chinese tradition with its traditional ceramic production in Singkawang, which may well be rare attribute and yet scarcely found in China nowadays. This article discuss the arrival of Chinese in the Indonesian Archipelago and their
PENGARUH PEMBANGUNAN PERMUKIMAN MASYARAKAT DAYAK BAWO TERHADAP PERUBAHAN KEBUDAYAANNNYA Hartatik, Hartatik
Naditira Widya Vol 4, No 1 (2010): April 2010
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v4i1.133

Abstract

The Bawo people reside in the northern part of Meratus Mountain and survive by living a continuous nomadic life roaming from one hill to other until today. The Bawo people preferred to live solitary life instead and practically have no contact with the outside world. Material data on the existence of the Bawo people comprise of keriring and raung found stored in rock shelters. Through a long process, the Social Departement of the Republic of Indonesia with its population resettlement program had succeeded to provide ideal kampong for them to live in named PMT Malungai. This article discusses how the Bawo people respond to such program and the impact on the Bawo culture in respect with its survival.
PREFACE NADITIRA WIDYA VOLUME 6 NOMOR 2 OKTOBER 2012 Widya, Naditira
Naditira Widya Vol 6, No 2 (2012): Oktober 2012
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v6i2.285

Abstract

COVER BELAKANG NADITIRA WIDYA VOLUME 5 NOMOR 2 OKTOBER 2011 Widya, Naditira
Naditira Widya Vol 5, No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v5i2.295

Abstract

HUBUNGAN GENEALOGIS MASYARAKAT DAYAK BAWO DENGAN LAWANGAN DAN BENUAQ BERDASARKAN KONSEP RELIGI DAN BAHASA Hartatik, Hartatik
Naditira Widya Vol 4, No 2 (2010): Oktober 2010
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v4i2.33

Abstract

Abstrak. Masing-masing komunitas Dayak yang berdiam di pedalaman Kalimantan merasa berdiri sebagai komunitaseksklusif. Namun, ada beberapa komunitas yang mengaku bahwa dia merupakan keturunan atau bagian darikomunitas yang lain, misalnya Dayak Bawo dan Benuaq yang mengakui bahwa dirinya merupakan keturunan dariDayak Lawangan yang tinggal di Tiwei. Tulisan ini membahas kemungkinan adanya hubungan genealogis antarakomunitas Bawo, Benuaq, dan Lawangan. Kajian ini dilakukan berdasarkan pendekatan deskriptif-komparatif ataskonsep religi dalam bentuk artefak penguburan dan bahasa. Berdasarkan pembahasan tersebut diharapkanadanya pemahaman tentang hubungan genealogis antarkomunitas yang ada di pedalaman Kalimantan. Hasil dariperbandingan tersebut ternyata menunjukkan bahwa ketiga komunitas tersebut memang mempunyai hubungangenealogis.
RATU KEMALA SARI DAN PERDAGANGAN GELAP DI KALIMANTAN SELATAN PADA ABAD XIX MASEHI Nuralang, Andi
Naditira Widya Vol 2, No 1 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.1
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v2i1.158

Abstract

Ratu Kemala Sari is as well-known salt entrepreneur in the southeast region of Kalimantan. She is the spouse of Sultan Adam. In the 19th Century smuggling was one of the most troubling social phenomenon concerned by the sultanate and the people as well. Salt being the most important commodity at that time was also subject to smuggling. Why was salt considered valuable to be smuggled? How was the condition of trade monopoly in the southeastern part of Kalimantan? This article will discuss the position of Ratu Kemala Sari as famous salt enterprenuer and her role as a leading figure for business, economic and politic in the southeastern part of Kalimantan, especially during the reign of Sultan Adam.
LIANG ULIN 2: INFORMASI BARU PRASEJARAH KALIMANTAN SELATAN Fajari, Nia Marniati Etie; Oktrivia, Ulce
Naditira Widya Vol 9, No 2 (2015): OKtober 2015
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v9i2.122

Abstract

Kawasan karst Mantewe yang menjadi bagian jalur Pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan memiliki dataarkeologi yang penting untuk memberikan gambaran kehidupan prasejarah Kalimantan. Liang Ulin 2 yang berada digugusan Bukit Ulin di Desa Sukadamai, Kecamatan Mantewe merupakan ceruk yang memiliki bukti hunian manusia padamasa prasejarah. Morfologi Liang Ulin 2 memiliki karakteristik yang unik, yaitu terdiri atas tiga tingkat teras gua yang beradadi tebing kapur Bukit Ulin. Teras gua dengan temuan arkeologi terdapat pada tingkat yang paling atas, yang kemudiandisebut Liang Ulin 2A. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab permasalahan terkait dengan apa bentuk data arkeologiyang terdapat di Liang Ulin 2. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan survei arkeologi dan ekskavasi dilantai ceruk Liang Ulin 2A. Data yang diperoleh dianalisis dengan pilihan metode analisis yang sesuai dengan rumusanpermasalahan. Penjelasan bentuk data arkeologi yang terdapat di Liang Ulin 2 memberikan gambaran mengenai kehidupanmanusia pada masa prasejarah terkait dengan pemenuhan kebutuhan dasar manusia.
TINGGALAN ARKEOLOGI ISLAM SEBAGAI BAGIAN PERKEMBANGAN SEJARAH BUDAYA DI KALIMANTAN Atmojo, Bambang Sakti Wiku
Naditira Widya Vol 6, No 2 (2012): Oktober 2012
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v6i2.85

Abstract

Abstrak. Tulisan ini mendeskripsikan beragam penelitian arkeologi dari masa pengaruh kebudayaan Islam yangtelah dilakukan oleh Balai Arkeologi Banjarmasin di empat provinsi di Pulau Kalimantan sejak 1993. Penelitianpenelitiantersebut dilakukan dengan teknik survei berdasarkan tema kajian seperti arsitektur kuna, tata kota kuna,dan sejarah kebudayaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peninggalan arkeologi masa Islam bervariasi, yaitupeninggalan bendawi dan non-bendawi. Peninggalan arkeologi bendawi terdiri atas peninggalan bersifat bangunan,struktur, situs, kawasan, dan artefaktual. Rentang periodisasi peninggalan arkeologi tersebut berasal dari abad ke-15 sampai dengan ke-19 Masehi; peninggalan tertua berupa makam-makam abad ke-15 yang berada di KabupatenKetapang. Berdasarkan lokasi geografisnya, peninggalan-peninggalan monumental ataupun situs ditemukan padakawasan pantai, daerah aliran sungai, dan perbukitan.

Filter by Year

2006 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 17 No 1 (2023): Naditira Widya Volume 17 Nomor 1 Tahun 2023 Vol 16 No 2 (2022): Naditira Widya Volume 16 Nomor 2 Tahun 2022 Vol 16 No 1 (2022): Naditira Widya Volume 16 Nomor 1 Tahun 2022 Vol 15 No 2 (2021): NADITIRA WIDYA VOLUME 15 NOMOR 2 OKTOBER 2021 Vol 15 No 1 (2021): NADITIRA WIDYA VOLUME 15 NOMOR 1 APRIL 2021 Vol 14 No 2 (2020): NADITIRA WIDYA VOLUME 14 NOMOR 2 OKTOBER 2020 Vol 14 No 1 (2020): NADITIRA WIDYA VOLUME 14 NOMOR 1 APRIL 2020 Vol 13 No 2 (2019): NADITIRA WIDYA Vol 13 No 1 (2019): NADITIRA WIDYA Vol 13, No 1 (2019): NADITIRA WIDYA Vol 12, No 2 (2018): Naditira Widya Volume 12 Nomor 2 Oktober Tahun 2018 Vol 12 No 2 (2018): Naditira Widya Volume 12 Nomor 2 Oktober Tahun 2018 Vol 12, No 1 (2018): NADITIRA WIDYA VOLUME 12 NOMOR 1 TAHUN 2018 Vol 12 No 1 (2018): NADITIRA WIDYA VOLUME 12 NOMOR 1 TAHUN 2018 Vol 11 No 2 (2017): Naditira Widya Volome 11 Nomor 2 Oktober 2017 Vol 11, No 2 (2017): Naditira Widya Volome 11 Nomor 2 Oktober 2017 Vol 11 No 1 (2017): Naditira Widya Vol. 11 No. 1 April 2017 Vol 11, No 1 (2017): Naditira Widya Vol. 11 No. 1 April 2017 Vol 10 No 2 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 2 Oktober 2016 Vol 10, No 2 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 2 Oktober 2016 Vol 10, No 1 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 1 Tahun 2016 Vol 10 No 1 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 1 Tahun 2016 Vol 9 No 2 (2015): OKtober 2015 Vol 9, No 2 (2015): OKtober 2015 Vol 9, No 1 (2015): April 2015 Vol 9 No 1 (2015): April 2015 Vol 8, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 8 No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 8 No 1 (2014): April 2014 Vol 8, No 1 (2014): April 2014 Vol 7, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 7 No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 7, No 1 (2013): April 2013 Vol 7 No 1 (2013): April 2013 Vol 6 No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 6, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 6, No 1 (2012): April 2012 Vol 6 No 1 (2012): April 2012 Vol 5 No 2 (2011): Oktober 2011 Vol 5, No 2 (2011): Oktober 2011 Vol 5, No 1 (2011): April 2011 Vol 5 No 1 (2011): April 2011 Vol 4 No 2 (2010): Oktober 2010 Vol 4, No 2 (2010): Oktober 2010 Vol 4, No 1 (2010): April 2010 Vol 4 No 1 (2010): April 2010 Vol 3 No 2 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.2 Vol 3, No 2 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.2 Vol 3 No 1 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.1 Vol 3, No 1 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.1 Vol 2 No 2 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.2 Vol 2, No 2 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.2 Vol 2, No 1 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.1 Vol 2 No 1 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.1 Vol 1, No 2 (2007): Naditira Widya Volume 1 Nomor 2 Tahun 2007 Vol 1 No 2 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.2 Vol 1 No 1 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.1 Vol 1, No 1 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.1 No 16 (2006): Naditira Widya Nomor 16 Oktober 2006 No 16 (2006): Naditira Widya Nomor 16 Oktober 2006 More Issue