cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Naditira Widya
ISSN : 14100932     EISSN : 25484125     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 545 Documents
PENGARUH ISLAM TERHADAP IDENTITAS TIDUNG MENURUT BUKTI ARKEOLOGI Nugroho Nur Susanto
Naditira Widya Vol 7 No 2 (2013): Oktober 2013
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (899.437 KB) | DOI: 10.24832/nw.v7i2.96

Abstract

Suku Tidung banyak menempati wilayah timur Kalimantan bagian utara. Tidung adalah suku asli Kalimantan atau bagian dariDayak, selain itu, nama Tidung juga menunjuk kepada sebuah kerajaan yang kental dengan nuansa Ke-Islaman. Penelitian inibertujuan mengungkap siapa Tidung, mengapa Tidung memiliki identitas demikian dan bagaimana institusi yang dimilikinya. Darianalisis peninggalan arkeologi dan persebarannya pertanyaan ini dapat terjawab. Melalui analisis bukti makam, dan situs lainnya,memberi gambaran bahwa mereka adalah penduduk asli, karena bermukim di tempat yang strategis dan mendapat pengaruh yangintens dari budaya luar, maka identitas mereka berbeda dengan saudara-saudaranya.
PERANAN PATUNG BUAYA, NILAI UPACARA ANSAL, DAN PERGESERAN NILAI DALAM MASYARAKAT DAYAK TAHOL DI KABUPATEN NUNUKAN, KALIMANTAN UTARA Wasita Wasita
Naditira Widya Vol 7 No 2 (2013): Oktober 2013
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (564.778 KB) | DOI: 10.24832/nw.v7i2.97

Abstract

Patung buaya adalah perlengkapan upacara Ansal, sekaligus sebagai cara untuk menunjukkan bahwa yang bersangkutanadalah orang berani. Namun ketika pengayaun dilarang, pelaksanaan upacara mengalami pergeseran makna, yaitu untuk meraihstatus sosial yang tinggi. Kajian patung buaya dalam upacara Ansal ditujukan untuk dapat mendeskripsikan latar belakang pergeseranmakna upacara dan nilai-nilai positifnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Dengan metode ini, upaya mendeskripsikanperan patung buaya, artefak, dan situs purbakala, ditempatkan dalam konteks sosial dan peristiwa yang diungkap melalui interpretasiatas penggalian data memori kolektif masyarakat Dayak Tahol. Sementara itu, dalam kaitannya dengan pergeseran makna danpemahaman nilai-nilai positif di dalamnya, dilakukan dengan menempatkan artefak dan situs dalam proses interaksi, yang akan terusdiproduksi oleh manusia dan masyarakat melalui eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Hasil penelitiannya adalah patung buayamemiliki peran dalam upacara Ansal (pasca mengayau) untuk menunjukkan keberanian seseorang dan untuk meraih strata sosial yangtinggi (pasca pengayauan dilarang). Ternyata pergeseran makna tersebut juga disertai adanya nilai-nilai positif di dalamnya, yaituadanya pelajaran untuk kerja keras dan upaya mempertahankan kehormatan keluarga.
EKSPLOITASI SUMBERDAYA LINGKUNGAN DAN KELESTARIAN SITUS ARKEOLOGI: KASUS GUA PAYUNG YANG TERABAIKAN DAN HILANG Nia Marniati Etie Fajari
Naditira Widya Vol 7 No 2 (2013): Oktober 2013
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2284.345 KB) | DOI: 10.24832/nw.v7i2.98

Abstract

Gua Payung adalah salah satu dari sekian banyak gua hunian prasejarah di kawasan karst Mantewe yang telah dilaporkanoleh Balai Arkeologi Banjarmasin. Penelitian pada 2006 dan 2012 telah menghasilkan sejumlah data arkeologi yang menunjukkanperiode hunian dari sekitar 2970±130 BP dan 3070±130 BP. Namun, keberadaan Gua Payung yang memiliki nilai penting bagiperkembangan masa prasejarah di Kalimantan, tidak sejalan dengan kelestariannya sebagai situs cagar budaya. Gua Payung saat iniberada dalam kondisi yang rusak akibat penggalian tanah endapan gua dan kotoran kelelawar oleh masyarakat setempat untukkeperluan perkebunan sawit. Penelitian ini membahas faktor-faktor yang melatarbelakangi kerusakan masif di Gua Payung denganmenguraikan rangkaian sebab-akibat yang terjadi karena beberapa aspek. Alur yang telah disusun kemudian menjadi dasar untukmenyusun sebuah tawaran solusi dalam mengurangi laju kerusakan gua-gua hunian prasejarah lainnya di kawasan karst Mantewe.
KEHADIRAN BELANDA DAN TATA KOTA BALIKPAPAN Nugroho Nur Susanto
Naditira Widya Vol 5 No 1 (2011): April 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v5i1.99

Abstract

Pada abad ke-19 Masehi, tepian Teluk Balikpapan yang awalnya dipandang tidak penting, menjadidaerah yang fenomenal dan strategis. Kawasan Balikpapan menjadi terkenal sebagai daeraheksplorasi tambang minyak pertama di Kalimantan oleh Belanda, yang akhirnya menjadi sumberdaya perekonomian utama dalam industri pengolahan perminyakan dan gas bumi. Peran industriperminyakan dan pengolahannya menjadikan Balikpapan daerah yang kaya dan sering dipandanglebih penting, bahkan menggeser keberadaan Tenggarong sebagai pusat kesultanan danSamarinda sebagai pusat kota adminitrasi. Tulisan ini membahas alasan pemilihan Balikpapansebagai tambang minyak pertama Belanda di Kalimantan dan perkembangannya menjadi daerahpenting di Nusantara. Dengan demikian, kita dapat mengetahui tingkat kemampuan manusiadalam memanipulasi alam dan menjadikannya sebuah lingkungan yang layak huni.
KUBUR TAJAU SANGA SANGA DAN VARIASI TRADISI BUDAYA AUSTRONESIA DI ASIA TENGGARA Hartatik Hartatik
Naditira Widya Vol 5 No 1 (2011): April 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v5i1.100

Abstract

Kubur tajau merupakan bentuk penguburan yang menggunakan wadah berupa tajaubahan batuan atau guci keramik sebagai wadah kubur. Lima puluh dua kubur tajau telah ditemukanpada ekskavasi 2010 di Sanga Sanga. Ada beberapa aspek yang dapat diungkapkan daripengkajian kubur tajau tersebut, yaitu aspek religi, sejarah pendukung budaya kubur tajau, danaspek sosial ekonomi. Sampai saat ini, Balai Arkeologi Banjarmasin telah dapat mengungkapkankarakter Situs Sanga Sanga sebagai situs tunggal dengan pertanggalan situs awal abad ke-18Masehi. Tulisan ini mengulas beberapa hal yang belum dikaji dalam penelitian tahun 2010, yaitumengapa bekal kubur tidak ditemukan dalam himpunan kubur tajau ini? Dan, apakah hubungannyadengan tradisi kubur Austronesia? Kajian ini akan dilakukan dengan menggunakan perbandingandata penguburan di wilayah lain di Kalimantan dan analogi etnografis. Jawaban pertanyaan tersebutmemberikan pemahaman tentang sejarah kebudayaan Sanga Sanga, terutama tentang masyarakatpendukung budaya kubur tajau dan konsep kepercayaannya.
PRELIMINARY STUDY ON BURIAL CHARACTERISTICS OF HARINGEN Vida Pervaya Rusianti Kusmartono
Naditira Widya Vol 5 No 1 (2011): April 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v5i1.101

Abstract

The archaeological remains discovered in a site reflect past human behavior attemptingto adjust oneself with one’s surrounding environment. Thus, there should have been a closerelationship between choosing a prospective activity location and human’s strategy to fulfill one’sbasic needs. Among the sites in the central region of Kalimantan, which indicate the potency todepict the occurrence of a persisting religious-based-tradition of past civilization, is Haringen. Untilnow, one of the traditions which still show the continuity of old culture is burial. In regard to thisresearch, the effort to identify the characteristics of Haringen burial was carried out by using ethnoarchaeologicalapproach. Based on analogical analysis on ethnographic data of the Maanyancommunities who reside in Haringen today, the discussion was foussed on past human behavior inHaringen concerning death management, both involving tangible and intangible features. Therefore,I assume the Haringen burial characteristic is an implementation of the concept of Kaharinganbelief, which is principally, founded from religious concepts occurred in prehistoric period; a periodwhen the concept of ancestor worship was initially developed and elaborated with the concept of‘axis mundi’, which is materialized in form of terraced structures.
E-MUSEUM: KOMODIFIKASI INFORMASI KOLEKSI MUSEUM Ulce Oktrivia
Naditira Widya Vol 8 No 1 (2014): April 2014
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v8i1.102

Abstract

Dewasa ini informasi dapat menyebar dalam hitungan detik tanpa terbatas pada ruang dan waktu. Setiap orang di penjurudunia dapat mengakses informasi dari seluruh dunia dengan hanya duduk di dalam rumah. Museum sebagai lembaga yang bertugasuntuk kepentingan studi, pendidikan, dan kesenangan juga dituntut untuk menyebarkan informasi dengan cepat dan akurat. Salah satucara agar informasi yang dimiliki oleh museum dapat diakses dengan cepat dan akurat adalah dengan e-museum. Permasalahan yangmuncul adalah bagaimanakah bentuk e-museum, apakah yang menjadi prioritas isi dari e-museum, dan bagaimanakah museummengatasi dampak yang timbul sebagai akibat dari e-museum. Makalah ini bersifat deskriptif komparatif. Segala data tentang e-museumakan dibandingkan. Data yang digunakan adalah data pustaka baik dari buku maupun internet. Hasil dari desk research ini adalah duabuah bentuk e-museum yaitu e-museum berbentuk web site yang sudah banyak digunakan dan e-museum berbasis sistem informasigeografis. Isi dari e-museum akan lebih baik jika difokuskan pada data mengenai seluruh koleksi museum beserta kesejarahannya.Hadirnya museum mungkin saja membuat orang tidak perlu datang ke museum, namun cukup dengan mengakses internet. Oleh sebabitu, museum dituntut untuk lebih interaktif dengan memberikan workshop singkat kepada pengunjung museum.
LAMPUNG CIKONENG, POTRET PEMUKIMAN ORANG MELAYU DI TANAH BANTEN Deni Sutrisna
Naditira Widya Vol 8 No 1 (2014): April 2014
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v8i1.103

Abstract

Banten dalam beragam aspeknya merupakan sebuah kawasan yang cocok untuk analisis sejarah Nusantara. Pandanganumum tentang Kesultanan Banten tampak dengan ciri-ciri yang sama dengan kesultanan di Sumatera, tetapi Banten menampilkan suatukekhasan dengan posisinya yang berada di perbatasan antara dua tradisi utama Nusantara, yaitu tradisi kerajaan Jawa dan tempatperdagangan Melayu. Khusus tradisi tempat perdagangan Melayu, masih menyisakan suatu daerah budaya Melayu yang hingga kinibertahan di tanah Banten, yaitu komunitas Melayu Lampung di Kampung Cikoneng. Keberadaannya menjadi bagian yang takterpisahkan dari pasang surut dinamika hubungan Lampung sebagai daerah taklukan maupun sebagai sumber komoditi (penghasil)lada yang membuat mahsyur Banten di mata dunia. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah dengan menelusuri data lewatlaporan penelitian, buku, dan internet. Dari uraian paparan tulisan diketahui bahwa keberadaan Melayu Lampung di tanah Bantendisebabkan hubungan erat yang telah terjalin lama antara penguasa Banten dengan orang Lampung melalui kegiatan perdagangan.
PERBANDINGAN BAHASA DAN DATA ARKEOLOGI PADA SUKU TIDUNG DAN DAYAK DI WILAYAH NUNUKAN: DATA BANTU UNTUK REKONSTRUKSI SEJARAH DAN PERUBAHAN BUDAYA Hartatik Hartatik
Naditira Widya Vol 8 No 1 (2014): April 2014
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v8i1.104

Abstract

Suku Tidung merupakan salah satu suku asli Nunukan yang beragama Islam dan mengakui bahwa dirinya merupakan orangDayak. Hal tersebut berbeda dengan suku lainnya yang telah memeluk Islam, biasanya tidak menganggap dirinya sebagai orangDayak. Masalah dalam artikel ini adalah adakah hubungan antara suku Tidung dengan suku Dayak di wilayah Nunukan (Tahol,Tenggalan, dan Agabag)? Bagaimana perbandingan bahasa, data arkeologi, dan tradisi dapat menjadi data bantu untuk merekonstruksisejarah dan perubahan budaya suku Tidung kaitannya dengan suku Dayak lainnya di Nunukan? Tujuan penelitian ini adalah untukmengetahui ada tidaknya hubungan antara suku Tidung dengan Dayak Tahol, Agabag, dan Tenggalan melalui perbandingan bahasa,data arkeologi dan tradisi, serta peluangnya sebagai data bantu untuk merekonstruksi sejarah dan perubahan budayanya. Darianalisis perbandingan bahasa, tradisi, dan data arkeologi diketahui bahwa suku Tidung mempunyai persamaan yang signifikandengan suku Dayak Tahol, Tenggalan, dan Agabag. Dari hasil perbandingan itu disimpulkan bahwa suku Tidung mempunyai hubungandengan ketiga suku Dayak tersebut karena berasal dari rumpun yang sama. Suku Tidung mempunyai pergerakan yang lebih dinamisdari pada suku Dayak lainnya sehingga mereka menyebar jauh dari pedalaman dan melakukan kontak dengan pendatang muslim,sehingga kini suku Tidung pun identik dengan muslim.
TRADISI PENGUBURAN DI DAERAH ALIRAN SUNGAI SEMBAKUNG, KABUPATEN NUNUKAN, KALIMANTAN UTARA Bambang Sugiyanto
Naditira Widya Vol 8 No 1 (2014): April 2014
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v8i1.105

Abstract

Sungai Sembakung mengalir di wilayah Kabupaten Nunukan, melintasi tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Lumbis Ogong di hulu,Kecamatan Lumbis Induk, dan Kecamatan Sembakung. Di bagian hulu Sungai Sembakung merupakan pemukiman kelompok etnisDayak Agabag (Tengalan) dan Dayak Tahol. Kedua subetnis ini mempunyai tradisi penguburan yang unik, yang menarik untukdiungkapkan. Permasalaha`n dalam tulisan ini adalah bagaimana bentuk tradisi penguburan yang ada di DAS Sembakung? Tulisan inibertujuan untuk mengetahui tradisi penguburan yang ada di masyarakat Dayak Agabag (Tengalan) dan Tahol, terkait sejarah, konsep,dan lokasi DAS Sembakung. Metode pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan langsung di situs-situs kubur dan wawancaradengan tokoh terpilih yang mengetahui tradisi penguburan yang dimaksud. Hasil yang diharapkan adalah informasi yang jelas tentangbentuk tradisi penguburan di DAS Sembakung, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Filter by Year

2006 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 17 No 1 (2023): Naditira Widya Volume 17 Nomor 1 Tahun 2023 Vol 16 No 2 (2022): Naditira Widya Volume 16 Nomor 2 Tahun 2022 Vol 16 No 1 (2022): Naditira Widya Volume 16 Nomor 1 Tahun 2022 Vol 15 No 2 (2021): NADITIRA WIDYA VOLUME 15 NOMOR 2 OKTOBER 2021 Vol 15 No 1 (2021): NADITIRA WIDYA VOLUME 15 NOMOR 1 APRIL 2021 Vol 14 No 2 (2020): NADITIRA WIDYA VOLUME 14 NOMOR 2 OKTOBER 2020 Vol 14 No 1 (2020): NADITIRA WIDYA VOLUME 14 NOMOR 1 APRIL 2020 Vol 13 No 2 (2019): NADITIRA WIDYA Vol 13 No 1 (2019): NADITIRA WIDYA Vol 13, No 1 (2019): NADITIRA WIDYA Vol 12 No 2 (2018): Naditira Widya Volume 12 Nomor 2 Oktober Tahun 2018 Vol 12, No 2 (2018): Naditira Widya Volume 12 Nomor 2 Oktober Tahun 2018 Vol 12, No 1 (2018): NADITIRA WIDYA VOLUME 12 NOMOR 1 TAHUN 2018 Vol 12 No 1 (2018): NADITIRA WIDYA VOLUME 12 NOMOR 1 TAHUN 2018 Vol 11, No 2 (2017): Naditira Widya Volome 11 Nomor 2 Oktober 2017 Vol 11 No 2 (2017): Naditira Widya Volome 11 Nomor 2 Oktober 2017 Vol 11 No 1 (2017): Naditira Widya Vol. 11 No. 1 April 2017 Vol 11, No 1 (2017): Naditira Widya Vol. 11 No. 1 April 2017 Vol 10 No 2 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 2 Oktober 2016 Vol 10, No 2 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 2 Oktober 2016 Vol 10, No 1 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 1 Tahun 2016 Vol 10 No 1 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 1 Tahun 2016 Vol 9 No 2 (2015): OKtober 2015 Vol 9, No 2 (2015): OKtober 2015 Vol 9, No 1 (2015): April 2015 Vol 9 No 1 (2015): April 2015 Vol 8, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 8 No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 8 No 1 (2014): April 2014 Vol 8, No 1 (2014): April 2014 Vol 7, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 7 No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 7, No 1 (2013): April 2013 Vol 7 No 1 (2013): April 2013 Vol 6 No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 6, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 6 No 1 (2012): April 2012 Vol 6, No 1 (2012): April 2012 Vol 5, No 2 (2011): Oktober 2011 Vol 5 No 2 (2011): Oktober 2011 Vol 5, No 1 (2011): April 2011 Vol 5 No 1 (2011): April 2011 Vol 4 No 2 (2010): Oktober 2010 Vol 4, No 2 (2010): Oktober 2010 Vol 4 No 1 (2010): April 2010 Vol 4, No 1 (2010): April 2010 Vol 3 No 2 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.2 Vol 3, No 2 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.2 Vol 3 No 1 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.1 Vol 3, No 1 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.1 Vol 2, No 2 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.2 Vol 2 No 2 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.2 Vol 2, No 1 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.1 Vol 2 No 1 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.1 Vol 1, No 2 (2007): Naditira Widya Volume 1 Nomor 2 Tahun 2007 Vol 1 No 2 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.2 Vol 1 No 1 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.1 Vol 1, No 1 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.1 No 16 (2006): Naditira Widya Nomor 16 Oktober 2006 No 16 (2006): Naditira Widya Nomor 16 Oktober 2006 More Issue