Articles
545 Documents
SITUS-SITUS PEMUKIMAN TEPIAN SUNGAI DI KALIMANTAN SELATAN
Sunarningsih Sunarningsih
Naditira Widya Vol 5 No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24832/nw.v5i2.76
Abstrak. Kalimantan dan sungainya tidak bisa dipisahkan. Sungai besar dan kecil mengalir saling-silang dari arahhulu ke hilir. Salah satu sungai besar yang membelah kota-kota di Kalimantan Selatan adalah Sungai Barito. SungaiBarito memiliki banyak anak sungai yang mengalir di seluruh penjuru propinsi yang paling kecil di Pulau Kalimantan.Dari aliran Sungai Barito inilah muncul peradaban manusia. Keberadaan sungai tidak hanya menjadi sumberkehidupan masyarakat, tetapi lewat sungai jugalah kebudayaan di wilayah ini menyebar. Oleh karena itu, tidaklahmengherankan apabila sisa-sisa peradaban manusia dari setiap periode kehidupan masa lalu banyak dijumpai disepanjang tepian sungai. Sejumlah penelitian sisa pemukiman kuna di tepian sungai telah dilakukan oleh BalaiArkeologi Banjarmasin sejak 1994 hingga saat ini. Hasil penelitiannya memberikan informasi bahwa sejak masaprasejarah sampai masa kini, masyarakat di Kalimantan Selatan ini tetap memanfaatkan tepian sungai sebagaitempat tinggal dan tempat beraktivitas sehari-hari. Tulisan ini mengkaji kembali hasil penelitian yang diperolehselama ini agar dapat memahami permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam melakukan penelitianpemukiman. Hasil pengkajian kembali tersebut ditujukan untuk membangun strategi penelitian yang lebih baik, agarhasil penelitian pemukiman di masa mendatang lebih berbobot dalam upaya merekonstruksi sejarah kebudayaanhunian manusia masa lampau, terutama di wilayah Kalimantan Selatan.
INTENSIFIKASI SOSIALISASI DAN KOORDINASI PENGELOLAAN SUMBER DAYA ARKEOLOGI: STUDI KASUS DI KALIMANTAN
Bambang Sugiyanto
Naditira Widya Vol 5 No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24832/nw.v5i2.77
Abstrak. Penelitian arkeologi di wilayah operasional Pulau Kalimantan memang menjadi tugas dan wewenang dariBalai Arkeologi Banjarmasin. Selain melaksanakan penelitian arkeologi, Balai Arkeologi Banjarmasin juga mempunyaitanggung jawab bersama-sama Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Samarinda untuk melaksanakan secarakontinu sosialisasi pentingnya sumber daya arkeologi dan pengelolaan cagar budaya yang ada di masing-masingdaerah dan pengelolaan cagar budaya. Sementara itu, dengan efektifnya pelaksanaan Undang-Undang nomor32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, operasional kewenangan kebudayaan dalam tata laksanapemerintahan daerah mengalami perubahan. Perubahan tersebut berkenaan dengan kebijakan pengelolaanbidang kebudayaan, baik material maupun non-material. Namun sayangnya, dalam pengimplementasian kebijakantersebut terdapat kendala yaitu, instansi daerah belum memiliki sumber daya manusia yang kompeten untukmelaksanakan penelitian arkeologi dan konservasi cagar budaya. Tampaknya kebudayaan masih dipandangsama dengan kesenian, jadi banyak instansi daerah yang mempunyai kepala seksi kesenian atau pariwisatadaripada kepala seksi kebudayaan. Tulisan ini membahas gejala perbedaan visi pengelolaan sumber daya arkeologiantara pemerintah pusat dan daerah, serta strategi koordinasi menyamakan visi tersebut dalam upaya peningkatankesejahteraan hidup masyarakat berbasis pelestarian cagar budaya sesuai Undang- Undang Republik Indonesianomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
MEMPOSISIKAN PENGELOLA WARISAN BUDAYA DALAM PELESTARIAN DAN PEMANFAATAN SITUS BENTENG TABANIO DI KALIMANTAN SELATAN
Ida Bagus Putu Prajna Yogi
Naditira Widya Vol 5 No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24832/nw.v5i2.78
Abstrak. Benteng Tabanio telah diteliti secara intensif selama 1994 sampai dengan 1999 oleh Balai ArkeologiBanjarmasin. Namun, sampai dengan saat ini pengelolaan situs ini tidak jelas. Sebenarnya pengelolaan yang tidakjelas ini tidak hanya terjadi pada Situs Benteng Tabanio. Selama 10 tahun belakangan ini ketidakjelasan pelestariandan pemanfaatan sebuah situs arkeologi di Indonesia hingga saat ini memang menjadi suatu polemik yang tidak adahabis-habisnya. Tulisan ini membahas tentang permasalahan pengelolaan yang muncul dilandasi oleh perbedaankepentingan antara pemerintah daerah, masyarakat, dan pengelola warisan budaya, upaya mengelola konflik, danlangkah-langkah pemanfaatan warisan budaya yang memberikan manfaat kepada masyarakat. Pada akhirnya,diharapkan adanya perubahan dinamika sikap pengelola warisan budaya dalam mengantisipasi perkembanganorientasi kepentingan masyarakat.
ARTEFAK NEOLITIK DI PULAU WEH: BUKTI KEBERADAAN AUSTRONESIA PRASEJARAH DI INDONESIA BAGIAN BARAT
Ketut Wiradnyana
Naditira Widya Vol 6 No 1 (2012): April 2012
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (430.363 KB)
|
DOI: 10.24832/nw.v6i1.79
Abstrak. Hinga kini peninggalan artefak masa neolitik di Indonesia bagian barat sangat sulit ditemukan, sehinggasejumlah ahli arkeologi meragukan adanya aktivitas pendukung budaya Austronesia di kawasan ini. Namun, kapakbatu yang ditemukan di situs Loyang Mendale dan Loyang Ujung Karang menunjukkan karakteristik morfologis danteknologi alat batu neolitik. Berdasarkan jenisnya yang berupa kapak lonjong, kapak persegi dan belincungmenunjukkan aktivitas kebudayaan prasejarah Austronesia pernah berlangsung di Pulau Weh. Fakta tersebutmenguatkan asumsi adanya migrasi masyarakat pendukung budaya Austronesia ke Pulau Weh. Oleh karenamasih terbatasnya data pembabakan kronologis prasejarah di Pulau Weh, maka penelitian ini dilakukan denganmembandingkan karakteristik kapak batu yang ditemukan di kawasan Indonesia bagian barat lainnya. Hasil kajianini menunjukkan bahwa Pulau Weh memiliki posisi geografis strategis yang potential sebagai daerah kunjungan danlingkungan yang menguntungkan untuk lokasi pemukiman. Di lain pihak, kapak batu Pulau Weh menunjukkankarakteristik yang khas berupa perkawinan morfologi dan teknologi antara kapak lonjong dan kapak persegi.
TRADISI DAYAK LEBO DAN BUDAYA ROCK-ART DI KALIMANTAN TIMUR
Bambang Sugiyanto
Naditira Widya Vol 6 No 1 (2012): April 2012
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (523.596 KB)
|
DOI: 10.24832/nw.v6i1.80
Abstrak. Di kawasan karst Sangkulirang telah ditemukan sejumlah gua yang menyimpan gambar cadas. Penemuantersebut menunjukkan bahwa budaya gambar cadas tidak hanya berkembang di kawasan Indonesia bagian timur.Saat ini, di sekitar kawasan karst Sangkulirang berdiam masyarakat Lebo yang memiliki budaya penguburan didalam gua. Berdasarkan data lingkungan, tradisi, dan etnohistori masyarakat Lebo, tulisan ini membahas identitasmasyarakat Lebo dan hubungan tradisinya dengan budaya gambar cadas di kawasan karst Sangkulirang. Hasilkajian menunjukkan bahwa lokas hunian dan tradisi masyarakat Lebo yang masih memiliki anasir prasejarahmengarahkan dugaan adanya ‘pewarisan budaya’ dan proses budaya yang berlanjut di kawasan Sangkulirang.
SITUS YOMOKHO DI DISTRIK SENTANI TIMUR, KABUPATEN JAYAPURA
Hari Suroto
Naditira Widya Vol 6 No 1 (2012): April 2012
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (374.886 KB)
|
DOI: 10.24832/nw.v6i1.81
Abstrak. Penelitian situs Yomokho ditujukan untuk mengungkapkan bentuk kehidupan manusia melalui materibudaya yang terkandung di dalam tanah. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, survei, danekskavasi. Data yang terjaring dari survei adalah konsentrasi himpunan cangkang moluska pada sejumlah bagianbukit, tonggak hunian, dan struktur jajaran batu. Data ekskavasi berupa fragmen gerabah, manik-manik, cangkangmoluska, arang, tulang binatang dan manusia, serta lapisan budaya yang tebal. Hasil analisis artefaktual memberigambaran perilaku dan pemanfaatan situs oleh masyarakat masa perundagian, sedangkan analisis kontekstualmemperkuat dugaan bahwa situs tersebut merupakan bekas pemukiman.
SURAT-SURAT MELAYU BERILUMINASI DI ABAD KE-18 DAN KE-19 DI SUMATRA: INSPIRASI SENI MOTIF DAN RAGAM HIAS PERSURATAN PENTING DI MASA KINI
Deni Sutrisna
Naditira Widya Vol 6 No 1 (2012): April 2012
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1001.018 KB)
|
DOI: 10.24832/nw.v6i1.82
Abstrak. Iluminasi merupakan istilah khusus dalam ilmu pernaskahan untuk menyebut gambar dalam naskah ataugambar dalam persuratan. Kajian dengan metode pendekatan penelitian kualitatif dan penalaran induktif inimenghasilkan informasi bahwa pada dasarnya iluminasi persuratan Melayu di Sumatera pada abad ke-18 dan ke-19 Masehi memiliki persamaan. Aspek yang sama adalah adanya unsur yang berulang-ulang yang memperlihatkankekhasan struktur surat. Iluminasi sebagai penghias surat diletakkan di bagian sisi-sisi surat, sedangkan teks suratsebagai inti pesan diletakkan pada bagian tengah halaman muka. Iluminasi memiliki dua bingkai, yaitu bingkaipembatas bidang dalam dan bingkai teks. Bingkai dibuat dengan dua garis ganda yang di dalamnya dihias denganberbagai motif. Selain makna estetika, persuratan Melayu mengandung nilai-nilai spiritual pengaruh agama Islam.Motif dan ragam hiasan persuratan Melayu yang sarat kreasi itu juga telah menginspirasi bentuk-bentuk iluminasipersuratan penting masa kini.
SITUS-SITUS KEAGAMAAN DI KALIMANTAN
Bambang Sakti Wiku Atmojo
Naditira Widya Vol 6 No 1 (2012): April 2012
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (4208.849 KB)
|
DOI: 10.24832/nw.v6i1.83
Abstrak.Situs-situs keagamaan di Kalimantan merupakan bukti bahwa wujud budaya bendawinya senafas denganagama-agama yang berkembang di kawasan tersebut. Pada umumnya, warisan budayan religius tersebut berupatempat peribadatan dan makam. Kajian ini dilakuan dengan pengamatan langsung di lapangan. Hasilnyamenunjukkan bahwa empat agama besar telah berkembang di keempat provinsi di Kalimantan dan memperlihatkanelemen-elemen akulturasi dengan kebudayaan setempat. Selain itu, terdapat persamaan yang menarik pada situssituskeagamaan tersebut, yaitu keletakannya yang relatif dekat aliran sungai, yang merefleksikan kesinambunganbudaya dari masa sebelumnya dalam pemilihan lokasi sakral.
RAGAM HIAS NON-CERITA PADA RELIEF CANDI UNTUK PERKEMBANGAN MOTIF BATIK KONTEMPORER
T M Rita Istari
Naditira Widya Vol 6 No 1 (2012): April 2012
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (662.707 KB)
|
DOI: 10.24832/nw.v6i1.84
Abstrak. Ragam hiasan merupakan sarana komunikasi untuk menyampaikan suatu pesan kepada masyarakatluas. Proses penciptaannya tidak lepas dari pengaruh lingkungan dan berperan sebagai media untuk memperindahsuatu karya seni manusia. Kemunculan ragam hiasan di Indonesia dimulai sejak masa prasejarah. Kemudian,ragam hiasan mengalami perkembangan dari masa ke masa sampai dengan masuknya kebudayaan Hindu-Buddha ke Indonesia. Tulisan ini membahas sejumlah ragam hias relief candi yang mempunyai makna magisreligiusdan diaplikasikan sebagai motif pada kain batik. Dengan demikian, metode yang dipakai untuk kajian iniadalah deskriptif-eksplanatif dengan penalaran induktif, sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan studipustaka dan pengamatan langsung di lapangan. Hasil kajian menunjukkan masyarakat di Nusantara memiliki localgenius dalam menciptakan identitas baru yang sesuai dengan kebudayaannya dari hasil perkawinan budaya lokaldan Hindu-Buddha. Gagasan semacam ini diharapkan dapat meningkatkan inspirasi dan mendorong inovasikreasi-kreasi baru, tetapi tetap memperlihatkan karakteristik khas warisan budayanya.
TINGGALAN ARKEOLOGI ISLAM SEBAGAI BAGIAN PERKEMBANGAN SEJARAH BUDAYA DI KALIMANTAN
Bambang Sakti Wiku Atmojo
Naditira Widya Vol 6 No 2 (2012): Oktober 2012
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2994.2 KB)
|
DOI: 10.24832/nw.v6i2.85
Abstrak. Tulisan ini mendeskripsikan beragam penelitian arkeologi dari masa pengaruh kebudayaan Islam yangtelah dilakukan oleh Balai Arkeologi Banjarmasin di empat provinsi di Pulau Kalimantan sejak 1993. Penelitianpenelitiantersebut dilakukan dengan teknik survei berdasarkan tema kajian seperti arsitektur kuna, tata kota kuna,dan sejarah kebudayaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peninggalan arkeologi masa Islam bervariasi, yaitupeninggalan bendawi dan non-bendawi. Peninggalan arkeologi bendawi terdiri atas peninggalan bersifat bangunan,struktur, situs, kawasan, dan artefaktual. Rentang periodisasi peninggalan arkeologi tersebut berasal dari abad ke-15 sampai dengan ke-19 Masehi; peninggalan tertua berupa makam-makam abad ke-15 yang berada di KabupatenKetapang. Berdasarkan lokasi geografisnya, peninggalan-peninggalan monumental ataupun situs ditemukan padakawasan pantai, daerah aliran sungai, dan perbukitan.