cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan
ISSN : 2502647X     EISSN : 25031902     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan (P-ISSN 2502-647X dan E-ISSN 2503-1902) adalah jurnal ilmu kefarmasian dan kesehatan Akademi Farmasi ISFI Banjarmasin yang dipublikasikan 2 kali dalam setahun (Maret dan Oktober) dalam bentuk cetak dan versi online. JIIS menerima artikel atau review yang meliputi bidang Farmasi dan Kesehatan. Artikel yang akan dimuat harus belum pernah dipublikasikan, original, dan tidak sedang dalam tahap review untuk kemungkinan dipublikasikan di jurnal lain. Artikel yang masuk akan direview oleh tim editor JIIS yang berasal dari dalam dan dari luar Akademi Farmasi ISFI Banjarmasin.
Arjuna Subject : -
Articles 92 Documents
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI EKSTRAK JANTUNG PISANG KEPOK (Musa Paradisiaca L.) PONTIANAK Ferdinan, Ade; Prasetya, Abdi Bakti
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Akademi Farmasi ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8.262 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian dengan judul Uji Aktivitas Antioksidan dari Ekstrak Etanol Jantung Pisang Kepok (Musa paradisiaca L.) Pontianak dengan metode Spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak etanol jantung pisang kepok dengan metode DPPH secara kualitatif maupun kuantitatif, dengan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 517 nm. Ekstrak jantung pisang kepok dibuat dalam konsentrasi 4 ppm, 8 ppm, 12 ppm, 16 ppm, dan 20 ppm. Sebagai pembanding digunakan vitamin C. Hasil pengujian menunjukan nilai IC50 ekstrak etanol jantung pisang kepok sebesar 13,11 ppm sedangkan vitamin C sebesar 1,11 ppm. Diketahui jika nilai IC50 lebih kecil dari 200 ppm, maka dapat digunakan sebagai antioksidan.
TINGKAT PENGETAHUAN IBU TERHADAP PENYAKIT ISPA (INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT) PADA BALITA DI PUSKESMAS PARUGA KOTA BIMA TAHUN 2016 Qiyaam, Nurul; Furqani, Nur; Febriyanti, Ayu
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Akademi Farmasi ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8.258 KB)

Abstract

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyakit yang sering menyerang balita. Sejak 2008 ISPA merupakan penyakit terbanyak di wilayah kerja Puskesmas Paruga Kota Bima, khususnya di Kelurahan Dara. Salah satu faktor terjadinya penyakit ISPA pada balita adalah pengetahuan ibu. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan ibu tentang penyakit ISPA berdasarkan karakteristik pendidikan, pekerjaan dan usia ibu. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Observasional Deksriptif dan desain studi cross sectional selama periode Maret - April 2016. Subyek yang memenuhi kriteria inklusi sejumlah  88 ibu yang memiliki balita. Data diperoleh dari pengisian kuesioner disertai dengan wawancara terhadap responden. Hasil penelitian didapatkan ibu yang memiliki pengetahuan baik sebesar (20,4%), cukup sebesar (53,4%) dan kurang sebesar (26,13%). Sehingga dapat disimpulkan tingkat pengetahuan ibu yang mendominasi pada kategori cukup.     
UJI EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN SAMBILOTO (Andrographis paniculata Nees) TERHADAP BAKTERI Staphylococus aureus Yanti, Yuska Novi; Mitika, Sucia
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Akademi Farmasi ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8.258 KB)

Abstract

Tumbuhan memiliki zat kimia aktif yang memiliki potensi besar salah satunya adalah membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri. Salah satu tanaman yang digunakan sebagai obat tradisional adalah tanaman sambiloto (Andrographis paniculata Nees) yang mempunyai berbagai macam manfaat bagi kesehatan manusia,berbagai aktivitas farmakologi dari sambiloto adalah antiinflamasi,antibakteri,antipiretik dan antioksidan.Sampel dalam penelitan ini adalah koloni Staphylococcus aureus dan ekstrak kental tanaman sambiloto (Andrographis paniculata Nees) . Ekstraksi dengan metode maserasi Salanjutnya di rotary dengan menggunakan Rotary evaporator dan dilakukan uji susut pengeringan. Kemudian ekstrak dibagi menjadi lima perlakuan yaitu 10 µg/ml, 50 µg/ml, 100 µg/ml, 500 µg/ml, 1000 µg/ml dibuat kontrol posistif dan negatif lalu dilakukan pembuatan media NA dan NB. Selanjutnya dibuat peremajaan bakteri dan pembuatan larutan uji lalu dilalukan pengujian daya hambat dengan metode cakram lalu diikubasi dan diukur diameter zona hambat.Dari hasil pengujian menunjukan bahwa semua konsentrasi ekstrak sambiloto memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Daya hambat ekstrak sambiloto ditunjukkan dengan adanya zona bening disekitar cakram. Diketahui bahwa pada dosis 100 µg/mL, 1000 µg/mL memiliki daya hambat lemah dan dilanjutkan dengan analisa SPSS diperoleh hasil yang tidak berbeda secara signifikan.
STANDARDISASI BUAH CABE RAWIT HIYUNG (Capsicum frutescens L.) ASAL TAPIN KALIMANTAN SELATAN Sutomo, Sutomo; Rahmawati, Aulea; Rizki, Muhammad Ikhwan
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Akademi Farmasi ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8.26 KB)

Abstract

Cabe rawit hiyung (Capsicum frutescens L.) merupakan cabe rawit lokal khas Tapin, Kalimantan Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai parameter standardisasi simplisia dan ekstrak buah cabe rawit hiyung. Standardisasi dilakukan dengan menetapkan nilai parameter spesifik dan non spesifik simplisia dan ekstrak dari tiga tempat tumbuh yang berbeda yang meliputi uji organoleptik simplisia, uji mikroskopik, kadar sari larut etanol, kadar sari larut air, susut pengeringan, kadar abu total simplisia, kadar abu tidak larut asam simplisia, cemaran logam berat, pemerian ekstrak, rendemen, skrining fitokimia, pola kromatografi, penentuan kadar flavonoid total, kadar air, kadar abu total ekstrak, dan kadar abu tidak larut asam ekstrak. Hasil uji  standardisasi simplisia dari ketiga desa diperoleh rata-rata berupa serbuk, berwarna kemerahan, rasa sangat pedas, berbau khas, terdapat sel epidermis, hipodermis dan parenkrim mesokarp, kadar sari larut etanol 19,55 ± 1,07%, kadar sari larut dalam air 32,33 ± 2,03%, susut pengeringan 2,22 ± 0,51%, kadar abu total 4,11 ± 0,44%, kadar abu tidak larut asam 0,14 ± 0,01%, cemaran logam berat Pb 2,00 mg/kg dan Cd 4,00 mg/kg. Hasil uji standardisasi ekstrak dari ketiga desa diperoleh rata-rata berupa ekstrak kental, berwarna coklat, rasa sangat pedas, berbau khas, dengan rendemen sebesar 19,19 ± 1,03%, kandungan kimia yang terkandung adalah alkaloid, flavonoid, fenolik, saponin, pola kromatogram dengan nilai Rf 0,18; 0,60; 0,98, kadar flavonoid total yang paling besar yaitu desa Sungai Rutas 0,339%, kadar air 11 ± 0,67%, kadar abu total 7,96 ± 0,80%, dan kadar abu tidak larut asam 0,61 ± 0,05%.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI FRAKSI ETIL ASETAT DAUN TANAMAN BANDOTAN (Ageratum conyzoides L) Sugara, Taufan H; Irawadi, Tun Tedja; Suprapto, Irma Herawati; Hanafi, Muhammad
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Akademi Farmasi ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8.258 KB)

Abstract

Pemanfaatan tanaman bandotan (Ageratum conyzoides L.) untuk penyembuhan luka dan gangguan pencernaan seringkali dikaitkan dengan aktivitas antibakteri yang dimiliki. Namun demikian, informasi tentang aktivitas antibakteri tanaman ini masih sebatas pada fraksi polar dan non polar saja. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri fraksi semi polar daun tanaman bandotan terhadap bakteri Staphylococcus aureus and Eschirichia coli. Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat daun tanaman bandotan mengandung senyawa flavonoid, steroid, p-hidrokuinon dan terpenoid. Fraksinasi ekstrak etil asetat dengan eluen kloroform : metanol (9:1) menghasilkan 8 fraksi dengan jumlah rendemen berturut-turut sebanyak 15,14g; 22,21g; 21,19g; 20,44g; 5,79g; 4,50g; 1,40g; 1,43g; dan 0,93g. Ekstrak etil asetat dan seluruh fraksi yang terkandung di dalamnya menunjukkan aktivitas antibakteri berspektrum luas dengan daya hambat yang tergolong dalam kategori kuat.  Rata-rata daya hambat ekstrak etil asetat dan fraksi 1-8 terhadap S. aureus berturut-turut sebesar 14mm; 12mm; 12,5mm; 15,5mm; 16mm; 12mm; 11,5mm; 10mm; 9,5mm. Sedangkan rata-rata daya hambat ekstrak etil asetat dan fraksi 1-8 terhadap E. coli berturut-turut sebesar 11mm; 11,5mm; 11mm; 11,5mm; 13mm; 14mm; 10,5mm; 10mm; 9,5mm.Kata kunci: Daun tanaman bandotan, ekstrak etil asetat, antibakteri.
KONSENTRASI HAMBAT MINIMUM (KHM) EKSTRAK ETANOL BUAH SAWO (Achras zapota L.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Escherichia coli Arsyad, M; Annisa, Ayu Rizki
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Akademi Farmasi ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8.258 KB)

Abstract

Buah sawo (Achras zapota L.) diketahui mengandung tanin dan flavonoid. Tanin dan flavanoid  diketahui dapat menghambat pertumbuhan Bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa konsentrasi hambat minimum ekstrak etanol buah sawo muda yang dapat menghambat total pertumbuhan Escherichia coli. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dilusi. Konsentrasi ekstrak etanol buah sawo yang diuji adalah 0%, 2,5%, 5%, 7,5%, 10%, 12,5%, 15%, 17,5%, 20%, 22,5%, dan 25%. Hasil penelitian menunjukkan Konsentrasi hambat minimal ekstrak buah sawo muda yang dapat menghambat total pertumbuhan Escherichia coli adalah 22,5%.
GAMBARAN BIAYA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN TERAPI ANTIDIABETIK ORAL DI RSUD ULIN BANJARMASIN Hartanto, Dedi; Tuty Mulyani, Tuty
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Akademi Farmasi ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8.258 KB)

Abstract

Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit yang membutuhkan terapi yang lama, bahkan dilakukan sepanjang hidup pasien dan membutuhkan biaya yang cukup besar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran biaya pada pasien diabetes melitus tipe 2 dengan terapi antidiabetik oral di RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian ini dilakukan dengan cara deskriptif pada pasien diabetes melitus tipe 2 dengan terapi antidiabetik oral yang berkunjung ke bagian rawat jalan RSUD Ulin Banjarmasin pada bulan Maret 2016. Sampel dalam penelitian ini adalah 45 pasien. Pengambilan data dilakukan dengan melihat ke bagian instalasi farmasi bagian rekam medik dan kebagian keuangan RSUD Ulin Banjarmasin. Dari 45 pasien yang di analisis, 66,67 %  perempuan dan 33,33%  laki-laki. Pasien dengan rentan umur 55-64 adalah persentase tertinggi 37,78%. Biaya total terapi rata-rata Rp 500,743 per bulan. Biaya tertinggi adalah biaya obat (53,27%), di ikuti biaya untuk laboratorium (36,90%), dan biaya terendah adalah biaya pemeriksaan dokter (9,83%).  
DAYA HAMBAT EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH PISANG KEPOK MENTAH (Musa paradisiaca forma typica) TERHADAP PERTUMBUHAN Escherichia coli SECARA IN VITRO¬ Ariani, Novia; Norjannah, Norjannah
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Akademi Farmasi ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8.262 KB)

Abstract

Tanaman pisang merupakan tanaman yang paling banyak dihasilkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia. Tanaman pisang memiliki berbagai macam jenis salah satunya pisang kepok. Kulit buah pisang kepok sudah banyak digunakan untuk pemanfaatan olahan pangan, namun untuk pemanfaatan sebagai obat masih terbatas padahal dalam kulit pisang mengandung metabolit sekunder flavonoid, alkaloid, saponin dan tanin yang memiliki aktivitas antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui daya hambat ekstrak etanol kulit buah pisang kepok mentah (Musa paradisiaca forma typical) terhadap pertumbuhan Escherichia coli secara in vitro­.Jenis penelitian ini adalah non eksperimental dengan metode sumuran yang dilakukan di laboratorium Mikrobiologi Akademi Farmasi ISFI Banjarmasin. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria tertentu. Penentuan daya hambat dengan melihat zona bening disekitar sumuran.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah pisang kepok mentah memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan Eschericia coli secara in vitro.
FORMULASI PASTA GIGI INFUSA DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajavaLinn.) DENGAN VARIASI KONSENTRASI Na. CMC SEBAGAI BAHAN PENGIKAT Daud, Nur Saadah; Desi, Sulasni Atma; Ifaya, Mus
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Akademi Farmasi ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8.258 KB)

Abstract

Daun jambu biji (Psidium guajava Linn.) telah terbukti berkhasiat sebagai antibakteri terhadap Streptococcus mutans dan Staphylococcus aureus, bakteri penyebab karies gigi. Formulasi menjadi sediaan pasta gigi memudahkan penggunaan infusa daun jambu biji dalam mengatasi karies gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat sediaan pasta gigi infusa daun jambu biji dengan variasi konsentrasi Natrium Carboxymethylcellulosa (Na.CMC) sebagai bahan pengikat untuk memperoleh formula pasta gigi infusa daun jambu biji yang terbaik. Konsentrasi infusa daun jambu biji yang digunakan adalah 5% dankonsentrasi Na.CMC adalah 4%, 6% dan 8%. Bahan tambahan lain yang juga digunakan adalah kalsium karbonat, gliserin, natrium lauril sulfat, α-tokoferol, propil paraben, metil paraben, Oleum Menthae Piperatae (OMP) dan akuades.Hasil penelitian menunjukkan ketiga sediaan pasta gigi infusa daun jambu biji untuk uji organoleptik berwarna putih, beraroma mint dan bertekstur lembut, dengan nilai pH memenuhi syarat 6,9-8,3, dan tinggi busa 3,5-5,5 cm.Uji viskositas menunjukkan semakin tinggi konsentrasi Na. CMC semakin tinggi nilai viskositas pasta gigi. Sedangkan hasil uji kesukaan menunjukkan bahwa formula pasta gigi C adalah yang paling disukai.Kata kunci : Pasta gigi, infusa daun jambu biji, Na. CMC
UJI AKTIVITAS ANTIINFLAMASI KUERSETIN KULIT BAWANG MERAH (Allium cepa L.) PADA MENCIT PUTIH JANTAN (Mus musculus) Soemarie, Yulistia Budianti
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Akademi Farmasi ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8.258 KB)

Abstract

Inflamasi merupakan reaksi lokal jaringan terhadap infeksi atau cedera dan melibatkan lebih banyak mediator. Pemanfaatan obat tradisional perlu digunakan untuk meminimalisir efek samping obat golongan antiinflamasi non steroid, seperti penggunaan kulit bawang merah (Allium cepa L.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antiinflamasi kuersetin dari ekstrak kulit bawang merah yang diperoleh dengan metode maserasi.Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kontrol positif (Kalium Diklofenak 6,5mg/kgBB), kontrol negatif (Na-CMC), kuersetin kulit bawang merah dosis I (50mg/kgBB), dosis II (100mg/kgBB) dan dosis III (200mg/kgBB). Pemberian senyawa uji dilakukan secara peroral, setelah 30 menit kaki mencit sebelah kanan diinduksi dengan karagenin 1%. Dianalisis volume radang kaki mencit dengan area under curve (AUC).Hasil penelitian menunjukan bahwa kuersetin kulit bawang merah memiliki aktivitas antiinflamasi. Dari hasil perhitungan nilai AUC tiap perlakuan didapatkan hasil nilai daya antiinflamasi untuk dosis I sebesar 57,13%, dosis II sebesar 59,08%, dan dosis III sebesar 73,75% dan dilakukan uji statistik ANOVA dengan nilai p-value 0,005 (< 0,05) yang berarti terdapat perbedaan bermakna antara kontrol positif, dosis I, dan dosis II berbeda dengan dosis III, sehingga dosis optimal yang didapat yaitu dosis III (200 mg/kgBB).

Page 2 of 10 | Total Record : 92