cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. grobogan,
Jawa tengah
INDONESIA
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
ISSN : 26147203     EISSN : 25799932     DOI : -
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan pelayanan Kristiani, dengan nomor ISSN: 2579-9932 (online), ISSN: 2614-7203 (print), diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2: November 2020" : 13 Documents clear
Peran Orang tua dalam Pembentukan Iman Anak berdasarkan 2 Timotius 3:14-17 Welmina Takanyuai; Nelly Nelly
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 4, No 2: November 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v4i2.192

Abstract

The role of parents in fostering children's faith is very important because children are the next generation of families, churches, and nations. However, in nurturing children to grow in faith, it is not easy, because in this phase they experience many challenges so that children need to be directed in a positive direction so that they are in accordance with God's will. This study uses a qualitative approach with a descriptive analysis method. Data collection techniques were carried out through literature and interviews. The conclusion obtained based on the study of text 2 Timothy 3: 14-17 is, the role of parents is to be ready to face the challenges of future education, focus on educational goals, become role models, and teach and hold on to the truth, remembering the teachings of true leaders.AbstrakPeranan orang tua dalam pembinaan iman anak sangatlah penting karena anak-anak adalah generasi penerus keluarga, gereja dan bangsa. Akan tetapi dalam membina anak bertumbuh dalam iman tidaklah mudah, karena pada fase ini mereka mengalami banyak tantangan sehingga anak  perlu diarahkan kearah yang positif agar sesuai dengan kehendak Tuhan. Penelitian ini meng-gunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analisis. Teknik pe-ngumpulan data dilakukan melalui literatur dan wawancara. Kesimpulan yang diperoleh berdasarkan kajian teks 2 Timotius 3:14-17 adalah, peran orang tua adalah siap menghadapi tantangan pendidikan masa depan, fokus pada tujuan pendidikan, menjadi teladan serta mengajar dan berpegang pada kebenaran, mengingat ajaran pemimpin yang benar.
Hubungan Karakter Kepemimpinan dan Kepemimpinan Visioner Gembala dengan Pertumbuhan Gereja Rivo Manansang; Jefit Sumampouw
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 4, No 2: November 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v4i2.208

Abstract

Church growth is associated with many factors, but the most essential factor affecting church growth is the influence of church leaders. GPdI in Jayapura often experience leadership fluctuations related to the character of the leader and the vision of the leader, which of course ultimately has an impact on the slow development of local churches and certain areas in Jayapura. The purpose of this study was to determine how the influence of the visionary leadership and lead character of pastors on the growth of the Pentecostal Church in Indonesia in Jayapura. The research method used in this research is quantitative using multiple linear regression analysis techniques through hypothesis development tests, namely the F test and the t-test. The results showed that the lead character and visionary leadership of the shepherds proved to have a significant effect on the growth of the GPdI church in Jayapura.AbstrakPertumbuhan gereja dikaitkan dengan banyak faktor, namun faktor yang paling esensial mempengaruhi pertumbuhan gereja adalah dari pengaruh pemimpin gereja. GPdI di kota Jayapura sering mengalami gejolak kepemimpinan yang berkaitan dengan karakter pemimpin dan visi pemimpin, yang tentu saja akhirnya berdampak pada lambannya gereja-gereja lokal berkembang dan daerah-daerah tertentu di Jayapura. Adapun tujuan peneliti-an ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh kepemimpinan visioner dan karakter kepemimpinan para gembala terhadap pertumbuhan Gereja Pantekosta di Indonesia di kota Jayapura. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan teknik analisis regresi linier berganda melalui uji pengembangan hipotesis yakni uji F dan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter kepemimpinan dan kepe-mimpinan visioner para gembala secara bersama-sama terbukti berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan gereja GPdI di kota Jayapura.
Dari Church Planting ke Hospitalitas: Rekonstruksi Misi Gereja dalam Konteks Keberagaman Rut Debora Butarbutar
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 4, No 2: November 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v4i2.191

Abstract

The mission is the identity of the church. On the other hand, the reality of diversity requires every religion to practice its dogma by not harming diversity. For this reason, this article aims to propose a new understanding of the mission to renew the traditional mission of the church, that is from church planting to the hospitality of the Triune God. By comparing the church plan-ting model through the church documents research, specifically HKI and the hospitality model specifically from the view of Velli-Matti Kärkkäinen, as well as an explanation of both models, the authors demonstrate the advantages of the hospitality model and its relevance in answering the mission amidst the reality of diversity. The research shows that the hospitality model emphasizes the mission is not merely exploiting diversity for Christianization or church planting but rather giving acceptance to others as the implication of the church's participation in God's universal salvation work.AbstrakMisi dan keragaman merupakan dua hal besar yang menjadi perhatian utama gereja. Misi adalah identitas gereja sedangkan keberagaman adalah realitas yang dihadapi gereja. Persoalan muncul ketika gereja menjalankan misi, na-mun menciderai keberagaman. Gereja menjadikan keberagaman sebagai ob-yek misinya, seperti kristenisasi di tengah dengan tujuan church planting. Artikel ini bertujuan menyajikan sebuah pemahaman misi yang baru sebagai upaya membaharui misi tradisional gereja, yaitu dari church planting kepada hospitalitas Allah Trinitas. Dengan melakukan komparasi antara model church planting melalui penelitian dokumen dan model hospitalitas Allah Trinitas dalam perspektif Velli-Matti Kärkkäinen, serta penjelasan atas kedua model, penulis memperlihatkan keunggulan model hospitalitas Trinitas dan relevansinya bagi misi dalam konteks keberagaman. Penelitian ini menunjuk-kan bahwa, misi tidak semata-mata untuk melakukan church planting di tengah keberagaman, namun pewartaan sekaligus penerimaan akan yang lain.
Analisis Dasar Teologi terhadap Pelaksanaan Ibadah Online Pascapandemi Covid-19 Fernando Tambunan
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 4, No 2: November 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v4i2.210

Abstract

The development of digital technology has made the world change, forcing the church to also change the pattern of its ministry, coupled with the Covid-19 pandemic conditions, the church has changed services that require physical meetings to become online services. This raises pros and cons because it does not yet have an adequate theological foundation, so this research is conducted to analyze and explore the principles of Worship theology, in particular, to answer what is the theological basis of the implementation of online worship. The method used is the literature review method in order to get theological writing. Based on this research, it was found that online worship has a theological basis and can still be carried out after the Covid-19 pandemic ends. This is important so that the church is not left behind and left behind by the progress of the times.AbstrakPerkembangan teknologi digital telah membuat dunia berubah  sehingga memaksa gereja juga harus ikut mengubah pola pelayanannya, ditambah dengan kondisi Pandemi Covid-19 membuat gereja mengubah pelayanan yang mengharuskan pertemuan fisik menjadi pelayanan secara online. Hal ini menimbulkan pro dan kontra karena belum memiliki landasan teologis yang memadai, sehingga penelitian ini dilakukan untuk menganalisa dan menggali prinsip teologi Ibadah khususnya menjawab apa dasar teologis dari pelaksanaan Ibadah online. Metode yang digunakan adalah  metode tinjauan literatur guna mendapatkan tulisan yang bersifat teologis. Berdasarkan penelitian ini ditemukan bahwa ibadah online memiliki dasar teologis dan tetap boleh dilaksanakan setelah pandemi Covid-19 berakhir. Hal ini penting supaya gereja   tidak ketingalan dan ditinggal oleh kemajuan zaman.
Tinjauan Sosio Kultur tentang Posisi Anak dalam Keluarga Israel Kuno Noh Ibrahim Boiliu; Aeron F. Sihombing; Fibry J. Nugroho; Daud A. Pandie
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 4, No 2: November 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v4i2.195

Abstract

The strong ties of kinship that are built provide clues to the social processes that occur in early Israeli society. This includes education as a social process. The Israelites want children, especially boys, this is intended to perpetuate family lines and wealth, and to preserve ancestral heritage. Since the name defines or indicates the existence or essence means expressing the character and purpose carried. The name expresses hope. Boys are growing up to adulthood, so they are entrusted to their father. One of the most sacred duties of a father is to teach his children about the teachings of true religion.AbstrakKuatnya ikatan kekerabatan yang dibangun memberikan petunjuk pada proses sosial yang terjadi dalam masyarakat Israel. Termasuk di dalamnya pendidikan sebagai salah satu proses sosial. Bangsa Israel menginginkan anak terutama anak laki-laki, ini dimaksudkan untuk mengabadikan garis ke-luarga, dan untuk melestarikan warisan leluhur. Nama mendefinisikan atau menunjukkan keberadaan atau esensinya; nama mengungkapkan karakter dan tujuan yang diusung; nama mengekspresikan harapan. Anak laki-laki da-lam masa pertumbuhan untuk dewasa, dipercayakan kepada ayahnya. Salah satu tugas yang paling sakral dari seorang ayah adalah mengajar anaknya ten-tang ajaran agama yang benar
Pentingnya Pemahaman Eskatologi Menurut Matius 24 bagi Jemaat GPdI Pisga Dolfinus B. Watopa; Zulkisar Pardede
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 4, No 2: November 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v4i2.213

Abstract

Eschatology is generally understood as the teaching of the Bible about the last days or the time before Jesus' return. The assurance of Christ's second coming, accompanied by the events of the resurrection and the final judgment, is one of the doctrinal points that many theologians agree on. This is also one of the important doctrines in the GPdI. This article aims to show the importance of this doctrine being taught and understood in the church, especially in the GPdI Pisga Waropen Timur environment. The method used in this research is the interpretive descriptive analysis method of the Bible text in Matthew 24. In conclusion, the GPdI Pisga Waropen Timur congregation has a good understanding of the concept and a good understanding of Matthew 24's eschatology.AbstrakEskatologi umumnya dipahami sebagai pengajaran Alkitab mengenai hari-hari terakhir atau masa menjelang Yesus datang kembali. Kepastian keda-tangan Kristus kedua kalinya  yang disertai  dengan peristiwa  kebangkitan dan penghakiman terakhir, merupakan salah satu pokok doktrinal yang disetujui oleh banyak ahli teologi. Hal ini juga menjadi salah satu doktrin penting dalam GPdI. Artikel ini bertujuan untuk memperlihatkan pentingnya doktrin ini diajarkan dan dipahami di gereja, terutama di lingkungan GPdI Pisga Waropen Timur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif interpretatif terhadap teks Alkitab pada Matius 24. Kesimpulannya, jemaat GPdI Pisga Waropen Timur memiliki pemahaman yang baik tentang konsep dan pemahaman yang baik tentang eskatologi Matius 24.
Membangun Makna Teologis Gotong Royong dalam Memperkuat Kebhinekaan Deasy Elisabeth Wattimena-Kalalo
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 4, No 2: November 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v4i2.197

Abstract

This article discusses the form of dialogue based on social relations as an effort to approach radical Islamic groups to maintain diversity in Indonesia country. It is a manifestation of the spirit of postmodern plurality in the context of the theology of religions. The aim of the problem of this research is how to maintain diversity with radical groups in the context of postmodern plurality and how connected this spirit is to the ecumenical procession. The author uses a literature study to analyze it. The spirit of postmodern plurality promotes the principle of mutual cooperation which mediates Christian groups for dialogue based on social relations with radical groups. This encouragement to build relationships with groups that keep their distance from Christianity requires an inherent cultural approach between the two and a spirit that unites as a nation. That way, dialogue with radical groups is not a necessity but a possibility to maintain diversity.        AbstrakArtikel ini membahas tentang bentuk dialog berbasis relasi sosial sebagai upaya mendekati kelompok Islam Radikal untuk menjaga kebhinekaan sebagai perwujudan semangat pluralitas postmodern dalam konteks berteologi agama-agama. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana menjaga kebhinekaan bersama kelompok radikal dalam konteks pluralitas postmodern dan seberapa terhubung semangat ini dengan arak-arakan ekumenikal. Penulis menggunakan studi pustaka untuk menganalisisnya. Semangat pluralitas postmodern mempromosikan kembali prinsip gotong royong yang mengantarai kelompok Kristen untuk dialog berbasis relasi sosial dengan kelompok radikal. Untuk membangun hubungan dengan kelompok yang menjaga jarak dengan Kekristenan dibutuhkan pendekatan budaya yang melekat di antara keduanya dan spirit yang mempersatukan sebagai bangsa. Dengan begitu, dialog dengan kelompok radikal bukanlah sebuah keniscayaan melainkan kemungkinan untuk menjaga kebhinekaan.
Ontologi Kristus dan Hubungannya dengan Soteriologi Yohanes Verdianto
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 4, No 2: November 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v4i2.200

Abstract

Controversies regarding Christology have occurred for centuries from the post-apostolic era to the present day, in which the main controversy lies in the nature of Christ, and not in the function of Christ. This article aims to find out the nature of Christ related to soteriology so that we can be sure that Jesus is the Savior that is fitting for human beings. This is a qualitative approached article using a descriptive historical and documentary research method. By considering a Bible reading on Hosea 13:4 explained that there is no Savior besides God, thus only a divinely perfect being could be a perfect offering to redeem human beings. Both divinity and humanity are needed for Christ to be an effective Savior because the Bible presents for Christ to be a substitutionary sacrifice, to unite with humanity, and for him to be humanities’ representative as the second Adam, to be their example and finally to be their mediator and priest.AbstrakKontroversi mengenai Kristologi telah terjadi selama berabad-abad dari era pasca-apostolik hingga saat ini, di mana isu utama adalah pada sifat Kristus, bukan pada fungsi Kristus. Kontroversi tentang kodrat Kristus selama inkarnasi-Nya selalu terkait dengan fungsi-Nya sebagai Juruselamat. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui sifat Kristus yang berkaitan dengan soteriologi, sehingga dapat dipastikan bahwa Yesus adalah Juruselamat yang cocok untuk manusia. Artikel ini merupakan pendekatan kualitatif yang menggunakan metode deskriptif historis serta penelitian dokumenter. Dengan mempertimbangkan pembacaan pada Hosea 13:4 yang menjelaskan bahwa tidak ada Juruselamat selain Tuhan, maka hanya sosok ilahi yang sempurna yang bisa menjadi persembahan sempurna untuk menebus manusia. Baik keilahian dan kemanusiaan diperlukan bagi Kristus untuk menjadi Juruselamat yang efektif karena Alkitab menyajikan bagi Kristus sebagai korban pengganti, untuk bersatu dengan umat manusia, dan baginya untuk menjadi perwakilan umat manusia sebagai Adam kedua, untuk menjadi teladan mereka dan akhirnya menjadi mediator dan imam mereka.
Berteologi Global dan Bermisi dalam Konteks: Sebuah Usulan Kontekstualisasi Kekristenan Masa Kini Tony Salurante
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 4, No 2: November 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v4i2.201

Abstract

This article shows that globalization has had a direct impact on Christiani-ty. Changes in the current context should encourage the church to see and think, realize and act according to its theological context. By being wisely aware of the current context of the church, this article invites the Church not to give up the values passed on by previous generations. Change in context remains biblical in theology. Nowadays theologies from different areas are able to form local theologies that have an openness to complement each other. By acknowledging that theology is an attempt at contextualization that has occurred since its inception. The thesis of this article is that globalization changes the way the church thinks about a contextual mission, which is to think glocally. Now is a potential momentum for the church to re-formulate its theologies by looking at the global context and biblical principles. The mission of the church will be effective and steadfast by studying faithfully the thoughts of every age while still adhering to biblical teachings..AbstrakArtikel ini menunjukkan bahwa globalisasi memiliki dampak langsung ter-hadap kekristenan. Perubahan konteks saat ini sepantasnya mendorong gereja untuk melihat dan memikiran, menyadari dan bertindak sesuai konteks ber-teologinya. Dengan menyadari konteks gereja saat ini dengan bijaksana, arti-kel ini mengajak Gereja untuk tidak melepaskan nilai-nilai yang diwariskan oleh generasi sebelumnya. Berubah dalam konteks tetap biblikal dalam ber-teologi. Saat ini teologi dari berbagai wilayah yang berbeda namun mampu membentuk teologi lokal yang memiliki keterbukaan untuk saling melengka-pi, dengan mengakui bahwa berteologi adalah usaha kontekstualisasi yang telah terjadi sejak awalnya. Tesis dari artikel ini adalah globalisasi merubah cara berpikir gereja tentang misi yang kontekstual, yaitu berpikir secara glo-bal. Saat ini menjadi sebuah momentum yang potensial bagi gereja untuk merumuskan kembali teologinya dengan melihat kepada konteks global dan prinsip biblikal. Misi gereja akan efektif dan teguh dengan mempelajari setia pemikiran setiap zaman namun tetap memegang teguh aja-ran alkitabiah.
Makna Proselitisasi di Masa Intertestamental bagi Misi Gereja Masa Kini Paulus Purwoto
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 4, No 2: November 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v4i2.163

Abstract

This study aims to examine how proselytization means in an intertestamental state for contemporary mission activities. At that time the proselytization carried out by Palestinian Jews and diaspora Jews continued, resulting in a wave of religious conversions in Judaism called real proselytes (ger tsedeq) as well as people who fear Allah (passive proselytes). This study uses a qualitative approach with descriptive methods, in which the researcher tries to answer the research problem by looking for literary sources that correlate with the research problem. From this research, it can be concluded that proselytizing in the intertestamental era opened up opportunities for church missions in the New Testament era, as documented in the Acts of the Apostles where the apostles carried out missions with the main target of delivering the gospel to all nations, starting with carrying out missions for proselytes, so many of them believed.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk meneliti bagaimana makna proselitisasi di ma-sa intertestamental bagi kegiatan misi masa kini. Pada masa itu proselitisasi yang dilakukan oleh orang Yahudi Palestina maupun Yahudi diaspora terus berjalan sehingga menghasilkan gelombang konversi religius pada agama Yudaisme yang disebut proselit sungguhan (ger tsedeq) maupun orang-orang yang takut akan Allah (proselit pasif). Penelitian ini menggunakan pendeka-tan kualitatif dengan metode deskriptif, di mana  peneliti  berusaha menja-wab permasalahan penelitian dengan mencari sumber-sumber literatur yang berkorelasi dengan masalah penelitian. Dari penelitian ini dapat disimpulkan proselititasi di masa intertestamental membuka peluang bagi misi gereja di era Perjanjian Baru, seperti terdokumentasi dalam Kisah Para Rasul di mana para rasul melakukan misi dengan target utama menyampaikan Injil bagi semua bangsa, bermula dengan melakukan misi bagi orang hasil proselit, sehingga banyak dari mereka yang menjadi percaya.

Page 1 of 2 | Total Record : 13