cover
Contact Name
Yushak Soesilo
Contact Email
yushak@sttintheos.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.dunamis@sttintheos.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
ISSN : 25413937     EISSN : 25413945     DOI : -
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani dengan nomor ISSN 2541-3937 (print), ISSN 2541-3945 (online) diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta. Tujuan dari penerbitan jurnal ini adalah untuk mempublikasikan hasil kajian ilmiah dan penelitian dalam bidang ilmu Teologi Kristen, terutama yang bercirikan Injili-Pentakosta, dan bidang Pendidikan Kristiani.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2018): April 2018" : 6 Documents clear
Analisis Pertanyaan Retorika dalam Ayub 40:1-28 Kalis Stevanus
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 2 (2018): April 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v2i2.163

Abstract

Abstract. The purpose of the analysis of the rhetorical question in Job 40: 1-28 is to look at theological and practical implications. Theologically: 1) Everything under God's control. Including Job with all the agonizing suffering he experienced remained under God's control; 2) Keep believing in God even if you do not feel His physical presence; 3) Behind the suffering of the righteous man is the divine will of God. God never allows anything to happen to believers, without God's purpose in it. In suffering there is God's gracious will, in God's will, there is His grace. So believers can reach His great purpose and plan. Practically: 1) God is big, strong and we are small, weak. Let believers  keep giving thanks to God even in suffering, then pray (ask) to God for strengthening us when we face the tests of faith; 2) Live honestly and humbly. Do not despise or judge a person for not having the spiritual experience that Ayub once experienced. For the Lord opposes the proud and the pity of the humble; 3) Rely completely on God. In both temptation and suffering, there is nothing better that believers can do than always depend entirely on God.Abstrak. Tujuan analisis pertanyaan retorika dalam Ayub 40:1-28 ini adalah untuk melihat implikasi teologis dan praktis. Secara teologis: 1) Segala sesuatu di bawah penguasaan dan kendali Tuhan. Termasuk juga Ayub dengan segala penderitaan berat yang dialaminya tetap berada di bawah penguasaan dan kendali Tuhan; 2) Tetaplah percaya pada Tuhan walau tidak merasakan kehadiran-Nya secara fisik ; 3) Di balik penderitaan orang saleh terkandung kehendak Allah yang rahmani. Tuhan tidak pernah mengizinkan sesuatu menimpa orang percaya, tanpa maksud Tuhan di dalamnya. Di  dalam penderitaan ada kehendak Tuhan yang rahmani, di dalam kehendak Tuhan ada anugerah-Nya, sehingga orang percaya bisa mencapai maksud dan rencana-Nya yang agung. Secara praktis: 1) Tuhan itu besar, kuat dan manusia kecil, lemah. Hendaklah orang percaya tetap bersyukur kepada Tuhan sekalipun dalam penderitaan dan berdoalah (mintalah) kepada Tuhan agar Ia menguatkan saat-saat menghadapi ujian-ujian iman; 2) Hiduplah jujur dan rendah hati. Janganlah memandang rendah atau menghakimi seseorang karena tidak memiliki pengalaman rohani seperti yang dialaminya. Sebab Tuhan menentang orang sombong dan mengasihani orang yang rendah hati; 3) Bergantunglah sepenuhnya kepada Allah. Dalam pencobaan maupun penderitaan, tidak ada yang lebih baik yang dapat dilakukan orang percaya selain bergantung sepenuhnya kepada Allah.
Pentakostalisme dan Aksi Sosial: Analisis Struktural Kisah Para Rasul 2:41-47 Yushak Soesilo
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 2 (2018): April 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v2i2.172

Abstract

Abstract. The Pentecostal Movement is a Christian movement that puts the power and work of the Holy Spirit at the first place. This movement sought to bring back the biblical Christianity as experienced by the early church. As the early church experienced a rapid growth of new souls, so it is with today's Pentecostal churches. The problem that arises is often in the effort to win the soul there is a dichotomy between power ministry, as emphasized by the Pentecostal movement, with social action. Some churches emphasize only one aspect of the ministry. Through a structural analysis approach to Acts 2: 41-47 the researcher seeks to find the ideal formulation in an attempt to win souls as in the experience of the early church. Through this approach the result is that the power ministry and social action must be carried out by the church at the same time and in balance that ultimately make the effort to win souls effectively.Abstrak. Gerakan Pentakostalisme adalah gerakan orang Kristen yang mengutamakan kuasa dan karya Roh Kudus. Gerakan ini berusaha untuk mengembalikan kekristenan yang Alkibiah sebagaimana yang dialami oleh gereja mula-mula. Sebagaimana gereja mula-mula yang mengalami pertumbuhan jiwa baru yang pesat, demikian halnya dengan gereja-gereja Pentakosta masa kini yang juga mengalaminya. Permasalahan yang muncul adalah seringkali dalam usaha untuk memenangkan jiwa ada dikotomi antara pelayanan dengan kuasa, sebagaimana yang ditekankan oleh gerakan Pentakostalisme, dengan aksi sosial. Beberapa gereja menekankan hanya pada satu segi dari pelayanan tersebut. Melalui pendekatan analisis struktural terhadap Kisah Para Rasul 2:41-47 peneliti hendak mencari formulasi yang ideal dalam usaha untuk memenangkan jiwa sebagaimana pengalaman gereja mula-mula. Melalui pendekatan tersebut diperoleh hasil bahwa pelayanan kuasa dan aksi sosial harus dijalankan oleh gereja secara bersamaan dan seimbang yang pada akhirnya membuat usaha untuk memenangkan jiwa berlangsung secara efektif.
Studi Tokoh Debora dalam Kitab Hakim-Hakim 4-5: Menjawab Isu Kontemporer Kepemimpinan Wanita Dalam Organisasi Kristen Elkana Chrisna Wijaya
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 2 (2018): April 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v2i2.162

Abstract

Abstract. The most dominant issue in contemporary leadership is gender issues. The position of men is considered more special than women. This view has led to the emergence of discriminatory practices against women, not least in the world of Christianity. The views of conservative theologians in relation to the realm of leadership are not so different from the above. The stereotype is often a strong reason for restricting or forbidding women to become leaders. Through this study, the author analyzes some important sections of the text from Judge 4-5 through the character analysis method, to answer the polemic and to the understanding that the effectiveness of a leader is not based on gender. Through this analysis the result is that there is no partiality to one gender in the election of a leader in the midst of God's people.Abstrak. Isu yang paling dominan dalam kepemimpinan kontemporer adalah isu gender. Kedudukan laki-laki dipandang lebih istimewa dibandingkan perempuan. Pandangan tersebut menyebabkan munculnya praktik diskriminasi terhadap kaum perempuan, tidak terkecuali dalam dunia Kekristenan. Pandangan para teolog konservatif sehubungan dengan ranah kepemimpinan, tidak berbeda jauh dengan pandangan tersebut di atas. Stereotype tersebut seringkali menjadi alasan yang kuat untuk membatasi atau melarang wanita untuk menjadi pemimpin. Melalui penelitian ini, penulis menganalisis beberapa bagian teks yang penting dari Kitab Hakim-hakim 4-5 melalui metode analisis tokoh, untuk menjawab polemik tersebut dan pemahaman bahwa keefektifan seorang pemimpin, tidak berdasarkan pada gender. Melalui analisis tersebut diperoleh hasil bahwa tidak ada keberpihakan terhadap satu gender dalam terpilihnya seorang pemimpin di tengah-tengah umat Allah.
Sebuah Analisis Terhadap Problematika Ajaran Restorasi Berkaitan Dengan Konsep Bumi Baru Yudi Jatmiko
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 2 (2018): April 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v2i2.161

Abstract

Abstraks. The second coming of Christ is an event inalienable to mankind. In addition to declaring punishment for unbelievers, His second coming also fulfils the presence of a new heaven and earth in which the righteous will reign with Christ forever. Of this, the Bible records that "the heavens shall vanish with a great rumbling, and the elements of the world shall burn in the flames, and the earth and all that is therein shall pass away." But on the other hand, the view of restoration clearly teaches that the old heavens and the earth will not be totally destroyed, but renewed. Thus the problem arises: how could both of these things - the biblical concept of the new earth and the doctrine of restoration - be a harmonious truth? This paper seeks to explain and discuss the problematic teaching of the restoration in relation to the concept of the new earth. Through this paper the author hopes to elaborate the problematic of this topic clearly, especially regarding the alleged contradictions that exist. In addition, critical analysis is conducted to produce responsible solutions that contribute significantly to the study of eschatology, in which the authors believe that the teaching of restoration and the concept of the new earth is a harmonious and biblical truth.Abstrak. Kedatangan Kristus kedua kali merupakan peristiwa yang tidak dapat dielakkan oleh umat manusia.  Selain untuk menyatakan penghukuman bagi orang yang tidak percaya, kedatangan-Nya yang kedua juga menggenapi hadirnya langit dan bumi yang baru di mana orang benar akan memerintah bersama dengan Kristus selama-lamanya.  Mengenai hal ini, Alkitab mencatat bahwa “langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap.”  Namun di sisi yang lain, pandangan restorasi dengan jelas mengajarkan bahwa langit dan bumi yang lama tidak akan dihancurkan secara total, melainkan diperbaharui.  Dengan demikian timbul masalah: bagaimana mungkin kedua hal ini – konsep Alkitab tentang bumi yang baru dan ajaran restorasi – merupakan kebenaran yang harmonis?    Tulisan ini berusaha memaparkan dan mendiskusikan problematika ajaran restorasi berkaitan dengan konsep bumi yang baru.  Melalui tulisan ini penulis berharap dapat menguraikan problematika topik ini dengan jelas, khususnya mengenai dugaan kontradiksi yang ada.  Selain itu, analisis kritis yang dilakukan diharapkan menghasilkan solusi yang bertanggungjawab sehingga memberikan kontribusi yang signifikan bagi studi eskatologi, dimana penulis meyakini bahwa ajaran restorasi dan konsep bumi baru merupakan kebenaran yang harmonis dan alkitabiah.
Analisis Historis terhadap Teologi Gerakan Pentakostalisme Daniel Sutoyo
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 2 (2018): April 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v2i2.171

Abstract

Abstract. The purpose of this paper is to explain the historical developments, doctrines and behaviors that appear in every Pentecostal movement, so that we can distinguish between the First Wave movement, the Classical Pentecost, the Second Wave Movement, the Charismatic Movement, the Third Wave Movement, the Sign Movement and the Miracles, and Fourth Wave Movement, New Apostolic Reformation Movement (NAR). The method in this study is the study of historical analysis on the history of the development of each wave movement Pentecostalism. Through the analysis it is concluded that every wave of the Pentecostal movement is a movement that comes from God, through the work of His Holy Spirit. Although in practice there is a distorted phenomenon, but can not be generalized and then assume everything is heretical.Abstrak. Tujuan penulisan ini adalah menjelaskan sejarah perkembangan, doktrin dan perilaku yang muncul setiap gerakan Pentakostalisme, sehingga kita dapat membedakan antara gerakan Gelombang Pertama, Pentakosta Klasik, Gerkan Gelombang Kedua, Gerakan Kharismatik, Gerakan Gelombang Ketiga, Gerakan Tanda-tanda dan Mujizat-mujizat, dan Gerakan Gelombang Keempat, Gerakan New Apostolic Reformation (NAR). Metode dalam penelitian ini adalah penelitian analisis historis terhadap sejarah perkembangan setiap gerakan gelombang Pentakostalisme. Melalui analisis tersebut disimpulkan bahwa setiap gelombang gerakan Pentakostalisme adalah sebuah gerakan yang berasal dari Tuhan, melalui karya Roh Kudus-Nya. Meskipun dalam praktiknya ditemukan fenomena yang menyimpang, namun tidak dapat digeneralisasikan dan kemudian menganggap semuanya sesat.
“Menjadi Sesama Manusia” Persahabatan sebagai Tema Teologis dan Implikasinya Bagi Kehidupan Bergereja Yohanes Krismantyo Susanta
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 2 (2018): April 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v2i2.169

Abstract

Abstract. This article shows that conceptually friendship is not something new. It has been around since someone was born, knowing himself and others. The concept of friendship has been known in the ancient world as well as many philosophers such as Aristotle, Derrida and Levinas has discussed about. The concept of friendship can also be found in the texts of Scripture. In fact, the church often fails to build encounters with other religions / faiths, resulting in tension between the church and other faiths. Therefore, this paper will show that friendship is not just a concept or important theological theme, but rather related to praxis, which is the action of someone in the encounter with others. In this context the Church is called to be a community that treats everyone as a friend, as a fellow human being created by God.Abstrak. Artikel ini memperlihatkan bahwa secara konseptual, persahabatan bukanlah sesuatu yang baru. Ia telah ada sejak manusia lahir, mengenal diri dan orang lain. Konsep persahabatan telah dikenal dalam dunia kuno serta banyak disinggung oleh para filsuf seperti Aristoteles, Derrida, dan Levinas. Konsep dan contoh persahabatan juga dapat ditemukan dalam teks-teks Alkitab. Pada praktiknya, gereja seringkali gagal dalam membangun perjumpaan dengan agama/ iman lainnya sehingga berakibat munculnya ketegangan hubungan antara gereja dengan penganut agama lainnya. Oleh karena itu, tulisan ini akan memperlihatkan bahwa persahabatan bukan sekadar konsep atau tema teologis yang penting, melainkan berkaitan dengan praksis, yaitu tindakan seseorang dalam perjumpaan dengan orang lain. Dalam konteks inilah gereja dipanggil untuk menjadi komunitas yang memperlakukan setiap orang sebagai sahabat, sebagai sesama manusia ciptaan Allah.

Page 1 of 1 | Total Record : 6