cover
Contact Name
Hendra
Contact Email
-
Phone
+6281375150018
Journal Mail Official
amj_fk@umsu.ac.id
Editorial Address
Gedung Kampus 1 Lantai II Laboratorium Anatomi Fakultas Kedokteran (FK) UMSU Jl. Gedung Arca No. 53 Medan-Sumatera Utara , Kode Pos 20217
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Anatomica (Anatomica Medical Journal)
ISSN : -     EISSN : 26145219     DOI : https://doi.org/10.30596/anatomica
Core Subject : Health, Science,
Anatomica Medical Journal (AMJ) ini merupakan jenis jurnal ilmiah berskala nasional dan dipublikasi via online, memiliki e-issn yang terdaftar di PDII-LIPI. Anatomica Medical Journal ini juga terdaftar dalam jurnal Online Journal System (OJS) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Ruang Lingkup jurnal ini fokus pada bidang Ilmu Kedokteran dan Ilmu Kesehatan secara umum. AMJ menerima naskah/manuscript artikel dalam meliputi/scope artikel original (original article) dalam bentuk artikel penelitian (research article), tinjauan artikel (article review), laporan kasus (case report) dan tinjauan pustaka (literature review) yang relevan dengan bidang Ilmu Kedokteran dan Ilmu Kesehatan lainnya.
Arjuna Subject : Kedokteran - Anatomi
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2024)" : 6 Documents clear
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Kepatuhan Menghentikan Kebiasaan Merokok Pada Pasien Penyakit Jantung Koroner Mayfa, Rara Khairania; Handayani, Ahmad; Batubara, Heppy Jelita Sari; Putri, Sheila Dhiene
ANATOMICA MEDICAL JOURNAL | AMJ Vol 7, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/amj.v7i2.14744

Abstract

Abstrak: Merokok merupakan salah satu penyebab penyakit jantung koroner (PJK). Keluarga, lingkungan, pengetahuan, dan persepsi dapat mempengaruhi kebiasaan merokok pasien PJK. Metode: Analisa observasional dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel memakai cara consecutive sampling dan non-probability sampling. Data yang dipakai adalah data primer yang dikumpulkan menggunakan kuisioner kepatuhan responden untuk berhenti merokok, ada atau tidaknya dorongan keluarga dan lingkungan sekitar, serta pengetahuan dan persepsi terhadap rokok, dengan total responden 100 orang pasien PJK. Analisa data memakai uji Chi Square. Hasil: diperoleh  kepatuhan berhenti merokok sejumlah 85 (85%) responden. Dorongan keluarga sejumlah 89 (89%) responden. Dorongan lingkungan sejumlah 69 (69%) responden. Pasien secara pengetahuan yang memadai sejumlah 90 (90%) responden. Pasien secara persepsi yang positif sejumlah 79 (79%) responden. Perolehan analisa bivariat lingkungan, hubungan keluarga, persepsi dan pengetahuan pada kepatuhan berhenti merokok ialah p = 0,05. Kesimpulan: lingkungan, keluarga, persepsi dan pengetahuan bisa menaikan kepatuhan untuk tidak lagi merokok bagi pasien PJK.Kata kunci: Faktor-faktor berhenti merokok, penyakit jantung koroner, tingkat kepatuhan berhenti merokok
Menyibak Fuchs' Endothelial Corneal Dystrophy sebagai Penyebab Edema Kornea Iskandar, Raden Fitri Fatimah; Idrus, Elfa Ali; Fajriansyah, Angga
ANATOMICA MEDICAL JOURNAL | AMJ Vol 7, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/amj.v7i2.17752

Abstract

Abstrak: Kornea melindungi permukaan okular terhadap paparan eksternal dan patogen. Struktur kornea memiliki regulasi sehingga kejernihan dan fungsinya tetap terjaga. Jumlah sel endotel yang memadai menyebabkan fungsi optimal dari epitel dan stroma, berfungsi bersama dalam homeostasis dan kejernihan. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk menyajikan kasus pasien dengan distrofi kornea Fuchs dan membahas terkait beberapa etiologi edema kornea. Laporan kasus: Pasien laki-laki 79 tahun dirujuk dengan keluhan utama buram dan nyeri pada mata kiri. Pasien sebelumnya telah diobati dengan terapi anti-virus karena sebelumnya diagnosis dengan keratitis Herpes Simpleks Virus. Pemeriksaan oftalmologi menunjukkan adanya guttae pada lapisan endotel kornea mata kanan serta edema pada mata kiri. Pasien menjalani pemeriksaan dengan specular microscope dan Optical Coherence Tomography segmen anterior untuk melihat detil anatomi kornea. Pasien didiagnosis dengan Fuchs’ endothelial corneal dystrophy; pasien mendapat terapi obat tetes mata hypertonic agent dan bandage contact lens. Pada waktu kontrol satu minggu berikutnya terjadi peningkatan tajam penglihatan. Diskusi: Kornea yang edema dapat disebabkan oleh beberapa sebab. Gambaran klinis masing-masing etiologi dapat tumpang tindih. Kesimpulan: Fuchs’ Endothelial Corneal Dystrophy ditandai dengan adanya kehilangan sel endotel yang progresif, pada dekade ke 5 kehidupan. Gambaran khas berupa guttata pada endotel dan penebalan membran Descemet’s, sehingga terjadi edema, nyeri dan penurunan tajam penglihatan. Terapi diberikan sesuai derajat keparahan.Kata Kunci: kornea, edema kornea, distrofi, Fuchs’s
Dua Kasus Langka Anatomi Appendix yang di Diagnosis Menggunakan Computerized Tomography Uinarni, Herlina -
ANATOMICA MEDICAL JOURNAL | AMJ Vol 7, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/amj.v7i2.19334

Abstract

Abstrak: Posisi appendix adalah fitur anatomi yang dapat bervariasi dan dapat ditemukan di berbagai lokasi yang tidak biasa. Computerized Tomography  (CT)-scan adalah alat diagnostik yang berharga untuk mengidentifikasi berbagai struktur anatomi dan kelainan, termasuk lokasi anatomi appendix yang jarang terjadi. CT scan dapat memberikan gambaran rinci tentang organ-organ internal dan struktur-struktur di abdomen dan pelvis, memungkinkan visualisasi yang akurat tentang morfologi appendix dan lokasinya.  Dalam laporan ini, dilaporkan dua kasus langka yang melibatkan variasi letak anatomi appendix yang tidak biasa. Kasus pertama appendix lokasi retrohepatica, sementara kasus kedua appendix letak dalam canalis inguinalis. Diagnosis pada kedua kasus ini ditegakkan menggunakan CT sebagai modalitas utama.Kata kunci: CT-scan, kasus langka-appendix, lokasi anatomi appendix
Perbedaan Pengaruh Terapi Bekam Terhadap Kadar Gula Darah Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Basuki, Rochman; Yazid, Noor; Sulfika, Sheryl Ula Esfandiany
ANATOMICA MEDICAL JOURNAL | AMJ Vol 7, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/amj.v7i2.16328

Abstract

Abstrak. Diabetes melitus (DM) merupakan penyebab kematian terbanyak urutan ketujuh di dunia. Negara Indonesia menduduki negara kelima dengan kasus DM terbanyak di dunia. DM Tipe 2 merupakan tipe yang paling banyak dialami oleh masyarakat dibandingkan dengan DM tipe lainnya. Pengendalian gula darah yang tinggi dalam tubuh merupakan cara terbaik untuk mencegah terjadinya komplikasi DM. Penggunaan obat antidiabetes merupakan upaya utama pengendalian gula darah. Pilihan pengendalian gula darah adalah dengan terapi alternatif yaitu terapi bekam. Metode: Penelitian eksperimen dengan metode pre-eksperimental (one group pretest-posttest). Sampel penelitian sebanyak 32 responden dengan 16 responden pada tiap-tiap kelompok (minum obat dan tidak minum obat). Setiap kelompok diberikan terapi bekam selama 3 bulan sebanyak 6 kali dengan frekuensi 1 kali bekam setiap 2 minggu. Analisis data menggunakan uji t berpasangan. Hasil: Berdasarkan uji hipotesis t berpasangan pada kelompok minum obat didapatkan nilai t hitung t tabel (6,312 1,753), sedangkan pada kelompok tidak minum obat didapatkan nilai t hitung t tabel (7,174 1,740) Berdasarkan uji hipotesis t berpasangan pada kelompok terapi bekam dengan minum obat dan tidak minum obat didapatkan nilai p-value 0,000. Kesimpulan: Terdapat pengaruh terapi bekam terhadap kadar gula darah pada penderita DM tipe 2 pada kelompok minum obat maupun kelompok tidak minum obat dengan penurunan kadar gula darah yang lebih rendah pada kelompok minum obat dengan terapi bekam.Kata kunci:  diabetes melitus, terapi bekam, kadar gula darah
Otitis Media Supuratif Kronis Tanpa Kolesteatoma Fayyaza, Nesya Alya; Nasution, Muhammad Edy Syahputra
ANATOMICA MEDICAL JOURNAL | AMJ Vol 7, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/amj.v7i2.19113

Abstract

Abstrak: Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) adalah peradangan kronis mukosa telinga tengah dan mastoid, yang disertai perforasi membran timpani. OMSK dapat dikelompokkan menjadi dua tipe, yaitu OMSK tipe benigna (tanpa kolesteatoma) dan OMSK tipe maligna (dengan kolesteatoma). OMSK tipe benigna adalah berkurangnya fungsi pendengaran. Penyebab OMSK tipe benigna adalah bakteri seperti Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus. Pengobatan awal OMSK tipe benigna adalah pembersihan liang telinga dan pemberian antibiotik. Jika terapi awal tidak berhasil, maka penatalaksaan selanjutnya adalah pembedahan.Kata kunci: otitis media, perforasi membrane timpani,tipe benigna
Hubungan Postur Kerja dengan Kejadian Nyeri Bahu Pada Pekerja Konveksi Shalihah, Farah; Munawaroh, Siti
ANATOMICA MEDICAL JOURNAL | AMJ Vol 7, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/amj.v7i2.16821

Abstract

Abstrak: Nyeri bahu menempati posisi ketiga dalam keluhan muskuloskeletal yang membawa pasien datang ke dokter atau fisioterapi. Salah satu penyebab nyeri bahu adalah postur kerja yang salah. Nyeri bahu berhubungan dengan kegiatan kerja yang bersifat monoton atau dikerjakan dengan berulang-ulang dengan gerakan yang sama. Kegiatan kerja tersebut biasanya dilakukan oleh pekerja konveksi. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi ada tidaknya hubungan antara postur kerja dengan kejadian nyeri bahu pada pekerja konveksi. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling dengan jumlah sampel penelitian adalah 26 divisi sewing dan 12 divisi finishing. Pengukuran postur kerja dilakukan dengan Rapid Upper Limb Assessment (RULA), sedangkan pengukuran tingkat nyeri bahu dilakukan dengan kuesioner Shoulder Pain and Disability Index (SPADI). Analisis bivariat kedua variabel  menggunakan uji korelasi Kendall’s tau. Hasil: Dari hasil penelitian ditemukan postur kerja dengan risiko sedang dan risiko tinggi sama-sama berjumlah 19 responden. Pada data nyeri bahu diperoleh 37 responden dengan minimal keluhan dan hanya 1 responden yang memiliki keluhan  ringan. Hasil uji analisis bivariat diperoleh nilai signifikansi p=0,445 (p0,05) yang menunjukkan bahwa hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat tidak bermakna (H1 ditolak). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara postur kerja dengan keluhan nyeri bahu pada pekerja konveksi. 

Page 1 of 1 | Total Record : 6