cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Aqlam: Journal of Islam and Plurality
ISSN : 25280333     EISSN : 25280341     DOI : -
Core Subject : Social,
AQLAM: Journal of Islam and Plurality (P-ISSN 2528-0333; E-ISSN: 2528-0341) is a journal published by the Ushuluddin, Adab and Dakwah Faculty, State Islamic Institute of Manado, Indonesia. AQLAM published twice a year and focused on the Islamic studies especially the basic sciences of Islam, including the study of the Qur’an, Hadith, Islamic Philosophy, Islamic History and Culture, Theology, Mysticism, and Local Wisdom in Indonesia. It is intended to communicate original research and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. Every article submitted and will be published by AQLAM will review by two peer review through a double-blind review process | Address: Jl. Dr. S.H. Sarundajang Kompleks Ring Road I, Kota Manado, Sulawesi Utara, 95128 | E-Mail; aqlam@iain-manado.ac.id | Phone: +62431860616 | AQLAM has become a CrossRef Member since the year 2018. Therefore, all articles published by AQLAM will have unique DOI number.
Arjuna Subject : -
Articles 151 Documents
SEMIOTIKA SIGNIFIKANSI: ANALISIS STRUKTUR DAN PENERAPANNYA DALAM ALQURAN Zainuddin Soga; Hadirman Hadirman
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.873 KB) | DOI: 10.30984/ajip.v3i1.632

Abstract

Abstract. This study aimed to discuss the Semiotics in the Quran, foccused in: 1) the concept of semiotic significance in the study of the Quran; 2) the history of the application of semiotics on scripture; 3) the characteristics of the Qurani’s semiotics.  This research is a literature research (library research), that is the research conducted research of various literature related to the problem under study. The results of this study indicate that: 1) Semiotic approach in the Quran contains a meaning that is an attempt to study and interpret the Quran with the workings and functions of signs in the text of the Quran as the orientation of the study; 2) Saint Augustinus is the first founder of the sign system in the study of the Bible; 3) the characteristics of semiotics in the Quran contains the concept of ma'rifah and nakirah, the addition of letters has implications for the change of meaning; one word has many meanings. The implication of this research is that a Muslim, especially Muslim academic, is always eager to learn the Quran. Because the success of a Muslim in expressing semiotics in the Quran have a positive impact for success in the world and in the afterlife. Keywords: Semiotic of significance, structure analysis, dan Quran Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk membahas tentang semiotika dalam Alquran, yang difokuskan pada  1) konsep semiotik signifikansi dalam studi Alquran; 2) sejarah penerapan semiotika pada kitab suci; 3) dan karakteristik semiotika  Alquran. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan (library research), yaitu penelitian yang dilakukan melalui riset berbagai literatur yang berkaitan dengan  masalah yang  diteliti. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Pendekatan semiotika dalam Alquran mengandung arti sebagai upaya mengkaji dan menafsirkan Alquran dengan cara kerja dan fungsi tanda-tanda dalam teks Alquran sebagai orientasi kajiannya; 2) Saint Augustinus adalah peletak pertama dasar sistem tanda dalam mengkaji al-Kitab; 3) karakteristik semiotika  dalam Alquran di antaranya; memiliki konsep ma’rifah dan nakirah, penambahan huruf berimplikasi pada perubahan makna; satu kata memiliki banyak makna. Implikasi dari penelitian ini,  yaitu hendaknya seorang muslim terutama akademisi muslim senantiasa bersemangat untuk mempelajari Alquran. Karena keberhasilan seorang muslim dalam mengungkapkan semiotika dalam Alquran, bisa berdampak positif untuk keberhasilan di dunia maupun di akhirat. Kata kunci: Semotika signifikasi, Analisis Stukktur, dan Alquran
METODE DAN PENGAPLIKASIAN DAKWAH ISLAM DI LEMBAGA STUDI ISLAM ASSALAAM MANADO (SIAM) PROVINSI SULAWESI UTARA Salma Salma
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1376.157 KB) | DOI: 10.30984/ajip.v2i2.520

Abstract

Lembaga-lembaga Islam memerlukan metode untuk melaksanakan perannya dalam pembinaan umat. Dakwah yang dilakukan baik melalui perbuatan  maupun melalui lisan harus didukung oleh gerakan dakwah sesuai dengan konsep Islam, terencana, dan selaras dengan perubahan zaman. Pola metode dakwah seperti inilah yang diaplikasikan oleh Lembaga Studi Islam Assalam Manado (SIAM) dalam pembinaan umat. Salah satu kegiatan dakwah yang dilakukannya adalah pembinaan majelis taklim. Lembaga ini, sejak awal berdirinya pada tanggal 9 April 1994 hingga saat ini, masih terus bergerak secara inovatif dan dinamis dalam mengembangkan majelis-majelis taklim binaannya. Perjalanan panjang telah dilaluinya dalam mengembangkan majelis-majelis taklim binaannya, yang bermula dibentuknya 4 majelis taklim. Kini majelis taklim binaannya sudah berkembang pesat, dan telah berjumlam 39 majelis taklim yang dibagi dalam 7 rayon. Strategi kegiatan dakwah dalam pembinaan majelis taklim di lembaga ini, terdiri atas (1) Penguatan tenaga pengajar Lembaga SIAM, dan (2) dinamisasi teknis kegiatan pembinaan majelis taklim Lembaga SIAM yang dilakukan dengan tiga model, yakni: (a) pengajian mingguan, (b) pengajian bulanan, dan (c) dan pengajian tahunan.Kata Kunci: Dakwah Islam, Metode dan Aplikasi, Lembaga Studi Islam Assalaam Manado (SIAM), Provinsi Sulawesi UtaraAbstract.  An Islamic institution needs a method to perform their role in coaching the ummah (Islamic da’wah). A da’wah through deeds and speaking should be supported by an Islamic concept of da’wah, well-planned, and aligned with the changing era. This method of da’wah is applied by the Assalaam Islamic Studies institution of Manado (SIAM). One of the programs is majlis taklim. Since it was established on 9 April 1994, this institution has been continuously innovative and dinamic in developing majlis taklim under its supervision. Its long journey has started out with four majlis taklim. Today, its majlis taklim has rapidly grown in numbers. There are 39 majlis which are devided into 7 districts. The strategies of majlis coaching are 1) empowerment of teachers in the institution and 2) the dinamic of majlis activities which are conducted in three models. They are a) weekly recitation, b) monthly one, and c) yearly one.Key Words: Islamic Da’wah, Methods and Application, the Assalaam Islamic Studies of Manado (SIAM) North Sulawesi
KULTUR MASYARAKAT BOLAANG MONGONDOW DENGAN TINGKAT PERSAINGAN YANG TINGGI Musdalifah Dachrud
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1039.647 KB) | DOI: 10.30984/ajip.v1i2.503

Abstract

Kemajuan suatu daerah sangat ditentukan sumber daya dan kualitas manusianya, di samping sumber daya alam. Kedua sumber daya itu merupakan dua sisi mata uang yang sama pentingnya untuk pembangunan suatu daerah. Sementara sumber daya dan kualitas manusia sangat ditentukan maju mundurnya pendidikan di tiap daerah. Sekarang ini sumber manusia di Bolaang Mongondow tidak lagi jauh tertinggal dengan daerah-daerah tetangga. Sarjana-sarjana dari berbagai disiplin ilmu sudah banyak dan dari tahun ketahun terus bertambah, bahkan sudah menjadi masalah karena setelah menjadi sarjana tidak tahu kemana mereka bekerja dan terpaksa menganggur. Hal ini disebabkan karena bertambah terus lulusan perguruan tinggi belum diimbangi dengan penyiapan lapangan kerja serta penguasaan teknologi. Paper ini akan menguraikan tentang bagaimana masyarakat Bolaang Mongondow melalui pendekatan kultur seperti istilah: Mototompiaan, Mototabian Bo, Mototanoban mampu mendorong kemajuan di daerah. Melalui penelusuran etnografis, hasil paper ini juga menjelaskan banyak hal tentang budaya masyarakat Bolaang Mongondow.Kata Kunci: Bolaang Mongondow, Kultur, Pendidikan, Mototompiaan, Mototabian Bo Mototanoban. The development of a region is determined mainly by the quality of its human resources besides its natural ones. Both resources are the two sides of a coin, thus are equally important for the development. The human resource in Bolaang Mongondow is no longer far behind its neighboring regions. Scholars with various expertise are growing in number. The growing number of college graduates even creates new problem; unemployment, for it is not anticipated with jobs availability and technology mastering. This paper will expose how people of Bolaang Mongondow enhance their development through their cultural approaches such as Mototompiaan, Mototabian Bo, Mototonoban. Through an ethnographic investigation, this paper  also explains many aspects of the culture of Bolaang Mongondow people. Keyword: Bolaang Mongondow, Culture, Education, Mototompiaan, Mototabian Bo Mototanoban.  
GERAKAN ORGANISASI BERBASIS KEAGAMAAN MELAWAN HIV/AIDS DI INDONESIA: PENILAIAN PADA WILAYAH JAWA TENGAH DAN BALI Anna Marie Wattie; Nono S. A. Sumampouw
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.974 KB) | DOI: 10.30984/ajip.v3i1.637

Abstract

Abstract. This article aims to understand the approach used by Faith Based Organization (FBO) in the tackling and handling program of HIV and AIDS, in relation to the  prevention, infection, as well as the treatment in social-cultural perspective. The data collecting is done through profound interview and observation in two research areas: North-Beach Areas (Pantai Utara), Central Java and Denpasar, Bali. Both locus were chosen and compared based on the differences in socio-cultural formation, particularly in the religious background majority which in control of the social life. It is found that the involvement of both the institution and religious leaders in the countermeasures of HIV and AIDS has a strategical value either directly or indirectly. The involvement of religious organizations in these two areas, even though differ in effectiveness, scale of implementation, problems encountered, value approach, intervention and organizational attachment, and the social-cultural construction of the society has adduced changes in discourse and practices related to the HIV and AIDS issues, either in the circle of the religious leaders and the community in general. The North-Beach area in Central Java which only for the past five years go through with the countermeasures program of HIV and AIDS formally, structurally, direct, and organizational by FBO in this case Nahdlatul Ulama (NU), has the effectivity and acceptance for different people and slower that what has happened in Bali, where the FBO tends to be involved through non-organizational network.Keywords: HIV, AIDS, ODHA, Religion, Moslem, Hindu-Bali, FBO, NU, BanjarAbstrak. Artikel ini bertujuan memahami pendekatan yang dilakukan Lembaga Berbasis Keagamaan atau Faith Based Organization (FBO) dalam program penanggulangan dan penanganan HIV dan AIDS, baik terkait dengan pencegahan, penularan maupun perawatan dalam perspektif sosial-budaya. Pengumpulan data dilakukan lewat wawancara mendalam dan observasi di dua wilayah penelitian, yaitu: daerah Pantai Utara, Jawa Tengah dan Denpasar, Bali. Kedua lokus dipilih dan dibandingkan dengan alasan memiliki formasi sosio-kultural berbeda terutama dalam latar belakang agama mayoritas penduduk yang mengatur kehidupan bermasyarakat. Ditemukan bahwa pelibatan lembaga dan tokoh keagamaan dalam penanggulangan HIV dan AIDS punya nilai strategis, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pelibatan organisasi keagamaan di dua daerah ini, sekalipun berbeda dalam hal efektifitas, skala pelaksanaan, masalah yang dihadapi, pendekatan nilai, intervensi dan keterikatan organisasional serta konstruksi sosial-budaya masyarakat telah menunjukkan adanya perubahan wacana dan praktek terkait dengan isu HIV dan AIDS, baik di kalangan pemuka agama dan masyarakat luas. Daerah Pantai Utara Jawa Tengah yang kurang-lebih baru saja lima tahun melaksanakan program penanganan HIV dan AIDS secara formal, struktural, langsung dan organisasional oleh FBO dalam hal ini Nahdlatul Ulama (NU), memiliki efektifitas dan penerimaan di kalangan masyarakat yang berbeda serta lebih lambat daripada yang terjadi di Bali, dimana FBO cenderung dilibatkan lewat jejarang non-organisasional.Kata Kunci: HIV, AIDS, ODHA, Agama, Islam, Hindu-Bali, FBO, NU, Banjar
ISLAMISME: KEMUNCULAN DAN PERKEMBANGANNYA DI INDONESIA Siti Mahmudah
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.401 KB) | DOI: 10.30984/ajip.v3i1.628

Abstract

Abstract. This study examines the origin,  existence, and development of Islamism group in Indonesia since pre-independence until now. Islamism is a group of Muslims who are obedient to the teachings of Islam, but they are very extreme, literal,  static and rigid in understanding the teachings of Islam (Alquran), and reject to the other Muslims who disagree with Islamic ideology that they have embraced. The group of Islamism existed and emerged in Indonesia, it was not apart from the influence of the spread of Islamic teachings from al-Ikhwan al-Muslimun that was founded by Hasan al-Banna in Egypt in 1928. The group of Islamism was the first Muslim group before the other Muslim groups in Indonesia; such as the Pos-Islamism group, the Liberal Islam Group, the Moderate Islamic Group, the Progressive Islam Group. The group of Islamism in Indonesia—as al-Ikhwan al-Muslimun in Egypt who aspires to spread the ideology of Islam for all of the world—seeks  to spread  their ideology with the movement of "creeping up" for all of the area in Indonesian, since before independence until now. Islamist groups succeeded in spreading Islam and Sharia through mosques, schools, ta'lim majlis. The existence and development of Islamist groups in Indonesia today are flattered. They have very much support from the political elite. However, they are not aware that their hands are being borrowed or exploited by political elites to seize or get the  power in irrational ways. Keywords: Islamism, Emergence, Existence, Development, Indonesia. Abstrak. Studi ini membahas tentang asal usul, eksistensi dan perkembangan kelompok Islamisme di Indonesia sejak pra-kemerdekaan sampai sekarang. Kelompok Islamisme adalah kumpulan Muslim yang patuh terhadap ajaran Islam, namun mereka sangat ekstrem, literal, statis dan kaku dalam memahami ajaran Islam (Alquran), serta menolak golongan Muslim lain yang berbeda dengan faham Islam yang sudah mereka anut. Kelompok Islamisme ada dan muncul di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh penyebaran ajaran Islam ala  al-Ikhwan al-Muslimun yang didirikan oleh Hasan al-Banna di Mesir pada tahun 1928. Kelompok Islamisme merupakan kelompok Muslim yang pertama ada sebelum adanya kelompok-kelompok Muslim lain di Indonesia; seperti kelompok Pos-Islamisme, Kelompok Islam Liberal, Kelompok Islam Moderat, Kelompok Islam Progresif. Kelompok Islamisme di Indonesia –sebagaimana al-Ikhwan al-Muslimun di Mesir yang bercita-cita menyebarkan faham berislam ke seluruh dunia—berupaya menyebarkan paham Islamisme dengan gerakan “merayap” ke seluruh bumi Indonesia sejak sebelum Indonesia merdeka sampai sekarang. Kelompok Islamisme berhasil menyebarkan faham Islam dan Syariah melalui, antara lain:  masjid-masjid, sekolah-sekolah, majelis-majelis taklim. Eksistensi dan perkembangan kelompok-kelompok Islamisme di Indonesia zaman ini sedang merasa tersanjung, karena banyak mendapat dukungan dari para elit politik. Namun sebaliknya, mereka tidak sadar bahwa tangan-tangan mereka sedang dipinjam atau pun dimanfaatkan oleh para elit politik untuk merebut atau pun mendapatkan sebuah kekuasaan dengan cara-cara yang tidak rasional. Kata Kunci: Islamisme, Eksistensi, Kemunculan,  Perkembangan, Indonesia.
SEJARAH TRANSFORMASI UANG DALAM ISLAM Ressi Susanti
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1382.898 KB) | DOI: 10.30984/ajip.v2i1.509

Abstract

Artikel ini ditulis untuk memberikan gambaran tentang sejarah uang dalam Islam. Guna memperoleh data yang dimaksud, penulis melakukan kajian kepustakaan. Sistem Ekonomi Islam berbeda dengan sistem ekonomi kapitalisme, sosialisme, ekonomi campuran, komunisme dan sistem ekonomi tradisional. Salah satu perbedaannya adalah pandangan tentang fisik uang. Fisik uang dalam sejarah Islam bertransformasi sesuai keinginan para pemimpin Islam yang bekuasa, dari mulai emas, perak, hingga uang kertas. Penjabaran tentang uang pada dimensi sejarah menjadi sangat penting karena munculnya geliat komunitas uang dirham saat ini, di mana kuasa uang kertas sudah sangat menggurita di seluruh dunia.Kata Kunci: Sejarah Uang, Islam
PEMIKIRAN ETIKA IBNU MISKAWAIH Nizar Nizar
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.426 KB) | DOI: 10.30984/ajip.v1i1.498

Abstract

Pada dasarnya etika memiliki pandangan universal dan dapat diterapkan oleh semua orang pada berbagai tempat dan waktu. Akan tetapi, etika sulit disadari karena pertimbangan tentang baik dan buruk sangatlah relatif. Hal ini bertolak belakang dengan ajaran Islam dan etika Islam sebagai mana tertera jelas dalam di dalam Al-Quran dan hadis. Oleh karena itu, etika, moral dan perilaku sangat penting dalam kehidupan manusia. Dalam sejarah filsafat Islam, berbagai pemikir Islam telah berusaha menyusun konsep etika. Salah seorang di antaranya adalah IbnuMiskawayh yang merupakan tokoh filosofi Muslim yang berhasil menyusun dasar-dasar etika sebagai mana termuat dalam bukunya yang berjudul Al-Akhlaqwa Tauheed Thahir al-Araq (pendidikan perilaku dan moral mulia). Diantara daftar etika tersebut adalah nafs (jiwa), al-iffah (menjaga kesucian diri), assyajaah (keberanian), al-wisdom (kebijaksanaan), al-adalah (keadilan), dan lain-lain. Berdasarkan deskripsi tersebut, penulis tertarik meninjau kembali pemikiran etika Ibn Miskawayh.Basically, ethics has a vision of universal and applicable to all men in every place and time. However, there is difficulty to realize because of the size of the good and bad supposed to be extremely relative.In contrast, to the teachings of Islam and Islamic ethics that the criteria have been specified explicitly in the Qur'an and Hadith.Therefore, ethics, morals and behaviorare very important in human life. In the history of Islamic philosophy, various thinkers have attempted to formulate the concept of ethics,like, one of the characters of the famous Muslim philosopher, Ibn Miskawayh is dubbed as the father of Islamic ethics. In the thought of his ethics, he has succeeded in formulating the foundations of ethics as listed in his book al-Akhlaq wa Tahdheeb Thathir al A'raq (Education ofbehavior and good Morals). For example,an nafs (soul), al iffah (maintaining of self sanctity), assyaja'ah (courage), al wisdom (wisdom), al is the (justice) and so on. Based on these descriptions, writeris interested in reviewing the ethical thought of Ibn Miskawayh.Key Words: Ethics, Morals, Behaviors.
HADITS PEREMPUAN MELAKUKAN PERJALANAN TANPA MAH̱RAM PERSPEKTIF HERMENEUTIKA PAUL RICOEUR Ahmad Rajafi; Ummi Hasanah
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.362 KB) | DOI: 10.30984/ajip.v3i1.633

Abstract

Abstract: Hadits about Mahram which related to women traveling is one of argueable social phenomenon in Islam. There are those who do textual approach and contextual approach in seeing this. Therefore, a new alternate of seeing this as responsive as in the contextual concept in discussing the hadits is required with the outline topic; how Paul Ricoeur hermeunetics sees the hadits about women traveling without mahram? The result is that the mahram role in the hadits is a concrete form of prevention to women in order to protect them from any kind of violences and harassments. The practice of prevention is done by the instruments provided by the country out of the women family member called mahram, this approach result is summarized the contextual meaning without neglecting the textual meaning of mahram. Keywords: Hadits, Mahram, Hermeunetics Paul Ricoeur Abstrak. Hadits tentang maẖram bagi perjalanan seorang perempuan merupakan salah satu fenomena sosial yang diperdebatkan di dalam Islam. Ada yang membacanya melalui pendekatan tekstual dan ada pula yang membacanya dalam kerangka kontekstual. Untuk itu, dibutuhkan alternatif bacaan baru yang dirasa responsif dalam ranah kontekstual ketika membahas hadits tersebut, dengan inti pembahasan yakni; bagaimana hermeneutika Paul Ricoeur membaca tentang hadits perempuan melakukan perjalanan tanpa maẖram? Hasilnya adalah, bahwa peran maẖram dalam hadits tesebut merupakan bentuk pencegahan secara konkrit bagi perempuan atas segala kekerasan yang akan menimpanya. Pencegahan tesebut tidak hanya dilakukan oleh keluarga dekat perempuan tapi juga oleh instrumen-instrumen yang diciptakan oleh negara dan dapat disebut pula sebagai maẖram, sehingga pendekatan ini merangkum pemaknaannya secara kontekstual namun tidak melepaskan ati maẖram  secara tekstual. Kata Kunci: Hadits, Maẖram, Hermeneutika Paul Ricoeur
DAKWAH JAMAAH TABLIG DALAM MEMBENTUK KELUARGA SAKINAH Fristia Berdia Tamza; Ahmad Rajafi
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1376.346 KB) | DOI: 10.30984/ajip.v2i2.521

Abstract

Abstrak. Dakwah bi al-hal biasa dilakukan oleh jamaah tablig di dunia, mereka keluar dari rumah-rumah mereka dan kemudian mendakwahkan Islam dengan konsep al-khuruj. Konsep pencariaan jati diri melalui khuruj tersebut ternyata digunakan pula dalam membentuk keluarga sakinah. Khuruj mampu menempa mental dan spiritual bahkan jasmani dari setiap anggota jamaah tablig. Dengan khuruj, ketulusan suami-istri dalam membangun keluarga hanya semata-mata karena Allah Swt., sehingganya ketika terjadi masalah dalam rumah tangga, cukup dikembalikan kepada Allah semata, dengan jalan zikir dan dan doa. Tidak dapat dipungkiri kalau mereka masih sering menggunakan hadis-hadis yang berbau misoginis. Hal ini terjadi karena mereka berusaha untuk selalu konsisten menerapkan cara hidup yang hanya didasarkan dengan al-Quran dan al-hadis dan tidak begitu memperhitungkan kondisi sosial masyarakat yang ada sekarang ini.Kata Kunci: Dakwah, Jamaah Tablig, Keluarga Sakinah Abstrack: The bi al-hal da’wah is commonly conducted by the Tablig pilgrims. They leave their homes to teach Islam using the concept of al khuruj. The concept of personal identity search through khuruj is in fact, also applied in establishing a sakinah family. Khuruj can forge every member’s mentality, spirituality and phisical. Through khuruj, husband-wife sincerity in their family is solely for Allah Swt. Thus, whenever a problem occur in their household, they will simply turn it to Allah through dzikir and du’a. It cannot be ignore the fact that they often used misogynous hadis. This is due to their persistence to adopt a way of life which is strictly based on a Qur’an and al hadis while at the same time, neglecting the current society social conditions. Key Words: Da’wah, Tablig pilgrims, Sakinah family
KONSEP TOLERANSI (AL-SAMAHAH) ANTAR UMAT BERAGAMA PERSPEKTIF ISLAM Salma Mursyid
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1039.457 KB) | DOI: 10.30984/ajip.v1i2.504

Abstract

Islam as a comprehensive and wholesome system of living and a wisdom foundation is a religion that directs human beings toward a complete life, since the beginning of its introduction (forteen centuries) Islam does not only teach a one dimensional life but also teach a multidimensional one including theology, Worship, muamalah, moral, philosophy, law and many others.Islam is a complete wholly and perfect teachings that directs a Muslim both in worshipping and in social interaction. All teachings are encapsulated in Alquran and hadits both in a form of general and technical concept. During an interaction, a Muslim and a Non-Muslim have restrictions that are arranged and assigned values and concepts of tolerance (al-samahah) in Islam are resourced from Alquran and hadits. Rules on tolerance in islam is restricted to alBaqarah (2): 256.One frequently occured problem on the interreligion tolerance is a friction between tolerance and aqidah norms. Some people think that it is not a problem to wish someone Merry Chrismas or even to participate in the celebration believing that it is part of the interreligion tolerance. As a matter of fact in Islam, the concept of tolerance is cleraly stated that aqidah and ibadah are not to be compromised. Thus no matter of how small it is, a friction should be avoided.Keywords: Tolerance, (al-samahah), IslamIslam adalah agama yang mengatur kehidupan manusia menuju kehidupan yang paripurna. Sebab Islam merupakan suatu sistem kehidupan yang komprehensif dan tuntas serta mengatur pondasi yang bijak hingga pada hal-hal yang terkecil. Jadi, Islam sejak awal kedatangannya (empat belas abad) yang lalu pada hakekatnya telah membawa ajaran yang bukan hanya membahas satu dimensi kehidupan saja, akan tetapi Islam membawa ajaran yang multi dimensi dari kehidupan manusia yaitu dimensi teologi, ibadah, muamalah, moral, filsafat, hukum dan sebagainya.Islam adalah ajaran yang lengkap, menyeluruh dan sempurna yang mengatur tata cara kehidupan seorang muslim baik ketika beribadah maupun berinteraksi dengan lingkungannya. Semua ajaran itu terangkum dalam al-Qur’an dan al-Hadis yang berbentuk konsep-konsep baik yang global maupun yang bersifat teknis.Dalam berinteraksi, antara seorang muslim maupun non muslim mempunyai batasan-batasan tertentu yang telah diatur dan ditetapkan. Telah menjadi suatu ketetapan yang harus diikuti dan menjadi dasar pijakan dalam kehidupan antar umat beragama. Nilai-nilai dan konsep toleransi (al-samahah) dalam Islam bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadis. Kaidah toleransi dalam Islam merujuk pada Q.S. al-Baqarah/2: 256.Masalah yang sering terjadi mengenai penerapan toleransi antar umat beragama ialah ketika toleransi dalam bidang muamalah berhadapan/bersenggolan dengan masalah aqidah dan ibadah. Sebagian orang beranggapan bahwa tidak ada masalah jika mengucapkan selamat natal atau bahkan menghadiri undangan prosesi perayaan hari raya orang non-muslim dengan anggapan bahwa dasar toleransi atau saling menghargai antar pemeluk agama yang berbeda. Padahal dalam Islam, konsep toleransi sungguh sangat jelas bahwa dalam segi aqidah atau ibadah tidak ada toleransi, karena aqidah adalah sesuatu yang mutlak dan tidak dapat dikompromi. Oleh karena itu, sekecil apapun perkara yang dapat merusak dan mencederai aqidah keislaman, maka wajib dijauhi dan dihindari.Kata Kunci: Toleransi (al-Samahah), Islam 

Page 3 of 16 | Total Record : 151