cover
Contact Name
Muchamad Suradji
Contact Email
jurnaldarelilmi@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaldarelilmi@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. lamongan,
Jawa timur
INDONESIA
DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora
ISSN : 23033487     EISSN : 25500953     DOI : -
Core Subject : Education,
DAR EL-ILMI: Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan, dan Humaniora diterbitkan oleh Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul Ulum Lamongan. Terbit pada bulan April dan Oktober setiap tahun. DAR EL-ILMI: Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan, dan Humaniora memuat kajian-kajian ilmiah tentang pemikiran dalam bidang Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora dalam bentuk: 1) Hasil penelitian, 2) Gagasan konseptual, 3) Kajian kepustakaan, dan pengalaman praktis.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 2 (2016): Oktober" : 10 Documents clear
FILSAFAT PERENIAL NURCHOLIS MADJID Mahbub Junaidi
Dar el-Ilmi : jurnal studi keagamaan, pendidikan dan humaniora Vol 3 No 2 (2016): Oktober
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seluruh pemikiran Nurcholis Madjid mengenai neo-sufisme atau neo-modernisme berpusat terutama pada al-Quran. Dalam konteks ini, Nurcholis Madjid dapat disebut sebagai seorang teolog atau ahli ilmu kalam. Gerakan intelektual yang digagas Madjid dikenal dengan “Gerakan Pembaharuan Pemikiran Keagaman”. Makna penting dari gerakan ini terletak pada upayanya untuk mereformulasikan postulat doktrin Islam yang paling pokok berkaitan dengan masalah ketuhanan, kemanusiaan, dan dunia. Secara umum pendekatan Madjid dapat dikatakan didasarkan pada pemikirannya tentang pluralisme agama, toleransi, saling menghormati, antara sesama umat beragama, dan relativisme politik. Dia menegaskan bahwa yang lebih penting adalah bagaimana mempertahankan Islam yang substansial dari pada yang sekedar formalistik, yang hanya mementingkan simbol-simbol luar. Atas pembacaannya terhadap al-Qur’an, Nurcholis Madjid, secara teoritis memperkenalkan konsep al-Qur’an tentang kalimatun sawa atau titik temu agama-agama secara ekplisit. Jika dibandingkan dengan cendikiawan muslim lainnya, maka ia tampak lebih tegas dan jelas. Perspektif ke-Islaman Nurcholis tersebut bahkan telah menghasilkan suatu cara pandang Islam yang bersifat inklusif. Apabila landasan filosofis “teologi kesatuan agama-agama” yang digagas oleh Nurcholis di atas disebut sebagai filsafat perenial, sebagaimana yang dikatakan Frithjof Schuon, maka corak filsafat perenialnya Nurcholis jelas bersifat Islam. Atau dalam bahasa lain, apabila dilihat dari sudut epistemologi agama, belum bersifat universal yang mewadahi agama-agama dari berbagai belahan peradaban. Yang demikian disebabkan masih bersifat mono-agama. Sehingga untuk menjadi “teologi inklusif universal”, harus mampu menunjukkan adanya ide-ide yang sama dalam idiom-idiom agama-agama atau tradisi-tradisi religius lain yang pernah ada dan tumbuh di berbagai peradaban.
ISLAM NUSANTARA DAN BUDAYA JAWA Sulhatul Habibah
Dar el-Ilmi : jurnal studi keagamaan, pendidikan dan humaniora Vol 3 No 2 (2016): Oktober
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini menyuguhkan tesis akar Islam Nusantara yang dikaitkan dengan budaya Jawa. Kajian tulisan ini menjawab apa yang dimaksud dengan istilah Nusantara dengan memberi batasan wilayah yang tepat, dan menjawab bagaimana hubungan falsafah hidup Nusantara dengan ajaran Islam sehingga fusi Islam dan Nusantara melahirkan corak keberagamaan yang toleran yang membedakan dari praktek Islam di negara-negara Arab dan di Timur-tengah.
INTERNALISASI SOFT SKILL MELALUI HIDDEN CURRICULUM DAN PROGRAM ADIWIYATA DI MI MA’ARIF BEGO SLEMAN Ahmad Yusron
Dar el-Ilmi : jurnal studi keagamaan, pendidikan dan humaniora Vol 3 No 2 (2016): Oktober
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan soft skill dalam konteks pendidikan terwujud dalan pendidikan karakter. Visi MI Ma’arif menyiratkan adanya internalisasi soft skill terhadap peserta didiknya, yang direalisasikan dalam bentuk hidden curriculum. Kegiatan Pengembangan Diri yang merupakan bagian hidden curriculum menjadi sarana madrasah untuk menerapkan metode pendidikan karakter, yakni pembiasaan dan keteladanan. Program madrasah dalam bidang Pendidikan Lingkungan Hidup turut andil dalam pendidikan karakter, khususnya dalam internalisasi nilai karakter Peduli Lingkungan.
PERENCANAAN SDM DAN PERSONALIA MENUJU PENDIDIKAN BERKUALITAS Arif Mustafa
Dar el-Ilmi : jurnal studi keagamaan, pendidikan dan humaniora Vol 3 No 2 (2016): Oktober
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan merupakan usaha memanusiakan manusia. Untuk itu lembaga pendidikan harus sigap dalam melakukan perubahan sesuai dengan tuntutan pengguna pendidikan. Pendidik dan tenaga pendidikan merupakan pihak yang paling menentukan perubahan tersebut. Untuk itu pendidik dan tenaga pendidikan harus ada penataan pendidik dan tenaga pendidikan agar tidak terjadi jurang pemisah antar berbagai daerah disamping penataan diperlukan pelatihan berkala yang disesuaikan dengan kebutuhan pendidik dan tenaga pendidikan secara berkala. Pemerintah dalam hal ini perlu memberikan dukungan yang dibutuhkan oleh pendidik dan tenaga pendidikan untuk mengembangkan kualitas diridemi terwujudkan lembaga pendidikan yang unggul
PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN BAHASA ARAB Khotimah Suryani
Dar el-Ilmi : jurnal studi keagamaan, pendidikan dan humaniora Vol 3 No 2 (2016): Oktober
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bahasa adalah alat komunikasi manusia yang utama, sehingga kesalahan dalam pengungkapan sebuah bahasa akan menyebabkan salah dalam pemahaman juga. Bagi orang Indonesia, Bahasa arab adalah bahasa asing yang di dalamnya memiliki kultur yang berbeda dengan bahasa Indonesia, resiko kesenjangan makna simbol sangat dekat. sehingga dalam pengajaran Bahasa Arab terdapat beberapa problematika. Bahasa arab merupakan bahasa yang unik dibanding dengan bahasa lainnya. Terdapat problem linguistik, seperti fonetik, morfologi, dan struktur, dan problem non-linguistik, antara lain, motivasi belajar, sarana belajar, metode pengajaran, waktu belajar, dan lingkungan pembelajaran Persoalan pembelajaran bahasa sangat bervariasi sesuai dengan usia pelajar dan lingkungan tempat belajar Sebagai alternatif untuk mengatasi kesulitan tersebut, maka dalam pengajaran Bahasa Arab diperlukan adanya metode yang baik dan pendekatan yang tepat dari seseorang guru dan juga didukung dengan kemauan siswa, agar tujuan mempelajari Bahasa tersebut dapat tercapai.
TAFSIR HAMDALAH Lailatul Maskhuroh
Dar el-Ilmi : jurnal studi keagamaan, pendidikan dan humaniora Vol 3 No 2 (2016): Oktober
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lafaz} “hamdalah” merupakan lafaz} yang sangat sederhana, tetapi memiliki makna yang luar biasa dan mendasar. Lafaz} itu diucapkan oleh Alla>h sebagai awal dari pembuka kalam-Nya yaitu al-Qur’a>n. lafaz} itu memiliki makna yang luar biasa secara substansial. Di dalam lafaz} itu terkandung nilai-nilai edukatif filosofis untuk kita ketahui, sehingga melafaz}kan kalimat tersebut bukanlah hal yang sepele, tetapi memiliki pengaruh yang signifikan dalam kehidupan kita secara vertikal maupun horizontal. Pujian kepada Alla>h berupa kata-kata “الحمد لله رب العالمين” merupakan kata-kata pujian yang lebih universal ketimbang term-term pujian yang lain sebab keindahan sifat dan perbuatannya. Syeikh| Da>ud al- Qais}ari mengatakan bahwa pujian kepada Alla>h memiliki tiga bentuk: Bersifat Perkataan (qauli), perbuatan (fi’li), Bersifat hiasan (ha>li).
PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Siti Lathifatus Sun’iyah
Dar el-Ilmi : jurnal studi keagamaan, pendidikan dan humaniora Vol 3 No 2 (2016): Oktober
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mendidik anak pada usia ini ibarat membentuk ukiran di batu yang tidak akan mudah hilang, bahkan akan membekas selamanya. Artinya, pendidikan pada anak usia dini akan sangat membekas hingga anak dewasa. Pendidikan pada usia ini adalah peletak dasar bagi pendidikan anak selanjutnya. Keberhasilan pendidikan usia dini ini sangat berperan besar bagi keberhasilan anak di masa-masa selanjutnya. Upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat dalam meningkatkan akses pelayanan pendidikan anak usia dini terus dilakukan, namun data membuktikan dari 28 juta anak usia 0-6 tahun, sebanyak 73 persen atau sekitar 20,4 juta anak belum mendapatkan layanan pendidikan, baik secara formal maupun non-formal. Khusus anak usia prasekolah, akses layanan pendidikan anak usia dini masih rendah (sekitar 20.0%). Artinya sebanyak 80.0% lainnya belum terlayani di pusat-pusat pendidikan anak usia dini. Pemikiran tentang pendirian lembaga pendidikan untuk anak usia dini sebagai salah satu alternatif langkah melakukan pemberdayaan anak-anak bangsa demi masa depan yang lebih prospektif, kreatif, bertanggung jawab dan bermoral sehingga tetap eksis sepanjang masa dan sepanjang hayatnya.
TANTANGAN PONDOK PESANTREN DALAM ERA GLOBALISASI Moh. Irmawan Jauhari
Dar el-Ilmi : jurnal studi keagamaan, pendidikan dan humaniora Vol 3 No 2 (2016): Oktober
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pondok pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan yang dimiliki oleh Islam di Indonesia. Perkembangannya dari masa ke masa ibarat gelombang yang memiliki dinamika tersendiri. Dalam era globalisasi, pondok pesantren dituntut untuk tetap mampu menunjukkan eksistensinya. Mengingat pondok pesantren hingga kini tetap dikenal sebagai avant garde keilmuan islam. Globalisasi dengan segala pengaruh baik dan buruk memang tidak bisa dihindari lagi. Dorongan-dorongan menuju globalisasi telah dimulai dengan beberapa tanda. Seperti cepat berkembangnya era komunikasi di negara-negara berkembang. Globalisasi dengan demikian tinggal menunggu momentum untuk benar-benar menjamah wajah budaya masyarakat paling bawah sekalipun. Tantangan globalisasi terhadap pondok pesantren dimulai ketika terjadi benturan budaya kali pertama dengan dipopulerkannya media elektronik. Permasalahan yang harus diselesaikan adalah, apakah pondok pesantren akan tetap mampu berdiri tegar menghadang arus zaman, atau ia kemudian sedikit demi sedikit mulai berdialektika dengan globalisasi, atau bahkan tergerus dan hilang. Tulisan ini mencoba memotret beberapa jenis pondok pesantren beserta bagaimana cara untuk tetap survive bagi pondok pesantren tanpa harus kehilangan identitas mereka di lingkaran globalisasi.
SYI’IR ARAB DALAM PRESPEKTIF SEJARAH Ida Latifatul Umroh
Dar el-Ilmi : jurnal studi keagamaan, pendidikan dan humaniora Vol 3 No 2 (2016): Oktober
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejarah mencacat, bahwa bersyi’ir sudah menjadi kebiasaan masyarakat Arab jahily, bagi mereka syi’ir adalah tanda keluhuran. Seseorang dikatakan terhormat, berpendidikan, dan bijaksana jika ia pandai menggubah syi’ir. Kebiasaan bersyi’ir tidak berhenti pada masa itu saja, tetapi terus berlanjut sampai Islam datang. Islam datang dengan al-Qur’an yang bahasanya tidak terkalahkan oleh karya sastra manapun, sehingga masyarakan Arab merasa tersaingi dan mereka tertantang untuk membuat karya yang lebih indah dari al-Qur’an. Sekeras apapun usaha yang mereka lakukan untuk menyaingi al-Qur’an, tidak akan bisa hal itu terjadi, karna al-Qur’an bukan hasil karya manusia tapi wahyu dari Allah. Dan pada masa selanjutnya perhatian masyarakat terhadap syi’ir mulai berkurang, hal tersebut disebabkan umat Islam lebih memperhatikan penyebaran agama Islam dan ilmu pengetahuan, sehingga tidak banyak masyarakat Arab menggubah syi’ir seperti yang dilakukan pada masa jahily. Sedangkan syi’ir pada masa modern bentuk dan isinya terpengaruh dari Barat. Tidak itu saja, ia juga mulai tersaingi dengan karya sastra lain yang berasal dari Barat.
PEMBELAJARAN ISTIMA’ BAHASA ARAB DENGAN METODE STORYTELLING Khoirotun Ni’mah
Dar el-Ilmi : jurnal studi keagamaan, pendidikan dan humaniora Vol 3 No 2 (2016): Oktober
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Didalam mempelajari bahasa arab ada empat faktor yang harus kita kuasai yaitu, istima’, kalam, qiraah, dan kitabah. Kegiatan pembelajaran keterampilan menyimak masih sering diabaikan karena banyak orang yang menganggap bahwa menyimak merupakan kemampuan yang sudah dimiliki manusia sejak lahir. Bahkan dalam kenyataan kehidupan sehari-hari, tidak semua orang mampu menyimak dengan baik. Hal itu mengindikasikan bahwa selama ini keterampilan menyimak kurang mendapatkan perhatian. Mengingat peranan menyimak dalam proses belajar berbahasa sangat besar, maka diperlukan suatu teknik yang efektif dalam pembelajaran keterampilan menyimak. Salah satu teknik yang dapat diterapkan dalam pembelajaran keterampilan menyimak adalah teknik storytelling atau menceritakan cerita. Teknik storytelling atau menceritakan cerita merupakan salah satu teknik pembelajaran dalam pendekatan cooperative teaching learning.

Page 1 of 1 | Total Record : 10