cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Buletin Sumber Daya Geologi
ISSN : 19075367     EISSN : 25801023     DOI : -
uletin Sumber Daya Geologi merupakan Makalah berkala ilmiah terakreditasi LIPI bidang mineral, energi fosil, dan panas bumi. Makalah ini terbit tiga nomor dalam satu tahun pada bulan Mei, Agustus dan November. Pada Tahun 2010, Buletin Sumber Daya Geologi mendapat Akreditasi B sebagai majalah Berkala Ilmiah, kemudian akreditasi ulang Tahun 2012, dan akreditasi terbaru di Tahun 2015 untuk tiga tahun kedepan dengan nomor ISSN (print) : 1907-5367. Tahun 2017 Buletin Sumber Daya Geologi mendapatkan nomor eISSN : 2580 - 1023 untuk versi onlinenya.
Arjuna Subject : -
Articles 751 Documents
PENENTUAN TIPE FLUIDA, GEOTERMOMETER RESERVOIR DAN HILANG PANAS ALAMIAH BERDASARKAN ANALISIS DATA GEOKIMIA PANAS BUMI DI KABUPATEN BANJARNEGARA, JAWA TENGAH Ansori, Chusni; Wardhani, Fitria Amalia
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 10, No 3 (2015): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1039.846 KB)

Abstract

Kabupaten Banjarnegara memiliki beberapa daerah potensi panas bumi. Manifestasi fluida panas bumi teramati pada sembilan lokasi di Kecamatan Batur, Kecamatan Wanayasa, Kecamatan Kalibening dan Kecamatan Susukan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakter fluida panas bumi, temperatur reservoir dengan melakukan analisis geokimia fluida panas dan analisis kandungan anion-kation. Analisistipe dan asal fluida ditentukan berdasarkan plotting pada ternary diagram ClHCO 3 -SO 4 dan Cl-Li-B. Temperatur reservoir ditentukan berdasarkan perhitungan geotermometer NaK-Ca,K-Na-Mg dan Na-K, Berdasarkan hasil analisis, fluida panas bumi bertipe bikarbonat, klorida dan sulfat. fluida panas bumi bersumber langsung dari reservoir ataupun telah berinteraksi dengan batuan sedimen di sekitarnya. Terdapat empat reservoir panas bumi di daerah penelitian. Reservoir-1 terdapat pada bagian selatan Kabupaten Banjarnegara di Desa Gumelem Susukan, suhu reservoir 81°C, potensi hilang panasalamiah 95,5 KW. Reservoir-2 berada di sekitar Kecamatan Wanayasa dan Kalibening dengan suhu reservoir berkisar 222°C- 264°C, potensi hilang panas alamiahnya 4,691 MW. Reservoir -3 berada di Dieng bagian Utara, Kecamatan Batur dengan suhu reservoir sekitar 137°C, potensi hilang panas alamiahnya 246,4 KW. Reservoir-4 berada di Dieng bagian Selatan Kecamatan Batur dengan suhu reservoir berkisar 334 °C – 374°C, potensi hilang panas alamiahnya 26,58 MW. 
PEMBUATAN BAHAN ACUAN BAKU UNTUK ANALISIS CONTO SEDIMEN SUNGAI AKTIF Dinarsih, Dedeh; Eddy, Herry Rodiana
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 12, No 3 (2017): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1764.992 KB)

Abstract

Pembuatan bahan acuan baku untuk analisis conto sedimen sungai aktif (standard reference material for stream sediment) merupakan bahan acuan sekunder dalam analisis laboratorium pengujian yang dapat menunjang akurasi serta presisi hasil analisis conto sedimen sungai sesuai SNI ISO/IEC 17025 : 2008 Komite Akreditasi Nasional.Pemercontoan bahan acuan baku ini dilakukan di wilayah Nagari Surian, Kecamatan Pantai Cermin, serta di wilayah Nagari Air Dingin dan Nagari Kotabaru, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat dengan metode pengambilan secara acak. Parameter yang dianalisis terdiri dari total seluruh unsur yang dianalisis meliputi tembaga (Cu), timbal (Pb), seng (Zn) dan perak (Ag). Hasil analisis internal dan eksternal/uji banding dengan parameter analisis Cu, Pb, Zn dan Ag, kemudian dilakukan pengolahan data dan ditentukan uji homogenitas, nilai presisi, akurasi, relatif standar deviasi, limit deteksi, uji histogram, uji Dixon, Nilai Z- Score/ (Out-In Lier).Pembuatan bahan acuan baku ini menghasilkan enam jenis conto standar dengan tiga kriteria yaitu nilai kadar rendah, sedang dan tinggi (low, middle and high level) dengan kehalusan 80 mesh dan 150 mesh sampai dengan 200 mesh.Bahan acuan baku yang mempunyai kehalusan 80 mesh terdiri dari tiga kriteria yaitu kode conto SS.SLK-L1 termasuk kriteria kadar rendah dengan kandungan Cu 25,50 ppm, Pb 13,21 ppm, Zn 44,96 ppm dan Ag 1,26 ppm, kode conto SS.SLK-M1 merupakan bahan acuanbaku kriteria kadar sedang dengan kandungan Cu 38,80 ppm, Pb 16,60 ppm, Zn 70,05 ppm dan Ag 1,70 ppm, sedangkan kode conto SS.SLK-H1 termasuk kriteria kadar tinggi dengan kandungan Cu 82,20 ppm, Pb 39,80 ppm, Zn 95,10 ppm dan Ag 2,08 ppm.Bahan acuan bakudengan kehalusan 150 mesh sampai dengan 200 mesh terdiri dari tiga macam yaitu kode conto SS.SLK-L2 yang termasuk kriteria kadar rendah dengan kandungan Cu 32,70 ppm, Pb 25,90 ppm, Zn 89,90 ppm dan Ag 1,31 ppm, kode conto SS.SLK-M2 merupakan bahan acuan bakukriteria sedang dengan kandungan Cu 44,40 ppm, Pb 35,20 ppm, Zn 14,00 ppm dan Ag 1,70 ppm sedangkan kode conto SS.SLK-H2 termasuk kriteria kadar tinggi dengan kandungan Cu 90,90 ppm, Pb 56,30 ppm, Zn 160,00 ppm dan Ag 2,52 ppm.
TINJAUAN KONSERVASI SUMBER DAYA ASPAL BUTON Widhiyatna, Denni; Hutamadi, Rahardjo; Sutrisno, Sutrisno
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 2, No 3 (2007): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9140.479 KB)

Abstract

Aspal Buton merupakan satu-satunya cebakan aspal alam di Indonesia. Aspal Buton telah ditambang oleh PT. Sarana Karya, namun dalam perkembangannya bahan galian ini menghadapi kendala pemasaran, antara lain akibat adanya produk aspal residu dari pengolahan minyak bum. Jenis ini lebih mudah diperoleh dan murah sehingga memiliki keunggulan dalam pengunaannya.Cadangan aspal buton yang masih tertinggal tercatat sebanyak 179,1 juta ton dengan sumber daya hipotetik minyak dalam aspal sebesar 10.577.646.000 liter. Upaya memodifikasi produk telah dilakukan oleh pihak terkait seperti membuat BGA (Buton Granule Agregat) dalam beberapa ukuran tertentu, namun belum belum berhasil meningkatkan daya saing aspal buton di pasaran.Batugamping sebagai batuan induk dari endapan aspal buton merupakan bahan galian lain yang perlu dikaji lebih jauh kuantitas dan kualitasnya selama kegiatan penambangan aspal. Upaya penanganan batugamping perlu Direncanakan dengan baik dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan seluruh potensi cebakan yang ada.
KARAKTERISTIK SUNGAI BERAU SEBAGAI ALUR TRANSPORTASI BATUBARA DI KALIMANTAN TIMUR Setyanto, Setyanto; Aryawan, Aryawan; Purwanto, Purwanto
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 2, No 1 (2007): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (570.726 KB)

Abstract

Sungai Berau merupakan salah satu sungai yang dimanfaatkan sebagai saranatransportasi batubara mulai dari tempat penimbunan hingga ke kapal pengangkut. Informasi kedalaman, pasang surut, dan arus serta karakteristik tepian sungai mutlak diketahui. Morfologi dasar Sungai Berau umumnya landai dengan kedalaman hingga 30 m, hanya beberapa daerah cukup curam. Kecepatan arus rata-rata di permukaan sebesar 0,8 m/detik lebih besar dibandingkan bawah permukaan sebesar 0,6 m/detik. Perbedaan pasang tertinggi dan surut terendah di daerah Gunung Tabur (2,2 m) dengan muara sungai (3,35 m) adalah sekitar 2,5 jam. Tepian sungai umumnya berupa dataran dan hanya di beberapa tempat merupakan perbukitan.
Hydrothermal Alteration And Vein Types Of The Randu Kuning Porphyry Cu-Au Deposit At Selogiri Area, Wonogiri Sutarto, Sutarto; Idrus, Arifudin; Putranto, Sapto; Harjoko, Agung; Setijadji, Lucas D; Meyer, Franz M; Danny, Rama
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 9, No 1 (2014): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8991.048 KB)

Abstract

Many Tertiary hydrothermal altered dioritic composition intrusive rocks were found at the Randu Kuning  area and its vicinity, Selogiri, including hornblende microdiorite, hornblende-pyroxene diorite and quartz diorite. The hydrothermal fluids which responsible for the alteration and mineralization at the area is associated with the occurence of the horblende microdiorite intrusion.The alteration zone at the Randu Kuning area and its vicinity can be divided into several hydrothermal alteration zones, such as potassic (magnetite-biotite-K feldspar), prophyllitic (chlorite-magnetite-epidote-carbonate), phyllic (quartz-sericite-chlorite) and argillic (clay mineral-sericite). The alteration pattern in the Randu Kuning porphyry Cu-Au deposit is tipically a diorite  model characterising by the domination of  potassic alteration and prophyllitic zone. Phyllic and argillic alteration types are  restrictive found within the fault zones.A lot of porphyry vein types were found and observed at the Randu Kuning area, and classified into at least seven  vein types.  The paragenetic sequence of those veins from the earliest to the latest respectively are 1). Magnetite-chalcopyrite±quartz-biotite veinlets, 2). Quartz±magnetite (A type) veins, 3). Banded/Laminated quartz-magnetite (M type) veins, 4). Quartz±K feldspar (B type)veins, 5). Quartz  with thin centre line sulphide (AB type) veins, 6). Pyrite±chalcopyrite (C type) veinlets, and 7). Pyrite-quartz+chalcopyrire+carbonate (Dtype) veins. Gold and copper mineralisation  of the Randu Kuning Porphyry Cu-Au deposit, mostly related to the presence of quartz veins/veinlets containing sulfide i.e. Quartz  with thin centre line sulphide veins, Pyrite±chalcopyrite veinlets, and Pyrite-quartz+chalcopyrire+ carbonate veins.
STUDI ALTERASI DAN MINERALISASI DISEKITAR GUNUNG AGUNG, KABUPATEN KULONPROGO – PURWOREJO Ansori, Chusni; Hastria, Defry
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 8, No 2 (2013): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3809.238 KB)

Abstract

Daerah Gunung Agung secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan  Kokap, Kabupaten Kulonprogo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kecamatan Bagelen,Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Secara regional termasuk dalam Pegunungan Kulonprogo yang di daerah ini dijumpai  indikasi alterasi dan mineralisasi logam.  Pengamatan lapangan dan pemercontohan diikuti dengan analisis petrografi, X-RD, kimia mineral dan inklusi fluida. Studi dilakukan untuk mengetahui proses dan posisi mineralisasi.Mineralisasi yang berkembang umumnya berupa urat dan stock work silika-kuarsa yang diikuti pembentukan mineral ubahan lempung argilik disekitarnya, dengan intensitas lemah-sedang. Urat silika-kuarsa mempunyai  ketebalan 10-30 cm, dengan kadar Au berkisar  50-2.608 ppb. Hasil analisis XRD dan petrografi dijumpai adanya asosiasi mineral kuarsa, pirit, barit,  muskovit dan serisit. Hasil pengamatan dengan metoda inklusi fluida pada urat kuarsa menunjukan fasa tunggal dan ganda, umumnya mengalami necking dengan kandungan NaCl: 2,5 - 3,9 % berat, suhu homogenisasi antara 157 C hingga 225 C.Proses alterasi terjadi dalam dua tahap, tahap pertama terjadi alterasi mesotermal pada suhu antara 280-340 C,  sehingga mengubah mineral feldspar menjadi serisit dan asosiasi mineral sulfida. Tahap kedua, terjadi proses alterasi epitermal pada crustiform-colloform hingga kalsedonik superzone, suhu 175-230 C, yang menghasilkan asosiasi mineral barit, sulfida dan logam mulia.
EVALUATION OF COPPER DEPOSITS PROSPECT IN WAI WAJO AREA OF SIKKA REGENCY, EAST NUSA TENGGARA PROVINCE Pardiarto, Bambang
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 9, No 2 (2014): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lowo Deba prospect in Sikka Regency, East Nusa Tenggara Province shows significant evidences for copper deposit. The prospect is discovered by joint cooperation activity between Directorate of Mineral Resources Inventory (DMRI) and Korea Resources Corporation (KORES) in the systematic exploration program. The evaluation based on the quantitative analysis of rock and mineral characteristics as well as geologic mapping, petrography, mineragraphy, fluid inclusion, spectra analysis (PIMA), geochemical and geophysical data. The geology of the prospect area consists of Miocene volcanics of Kiro Formation and Tanahau Formation, intrusion of granodiorite and Quaternary volcanics. The volcanic rock shows the characteristic of tholeiitic magma. The predominant system of lineaments in the prospect area tends to be NE-SW trend. This fault structure appears to have closely relationship with the mineralization in Lowo Deba prospect. The mineralization and alteration outcrops appear to be structural controlled to form epithermal deposit type. Most of the mineralizations are hosted by phyllic – argillic altered andesitic to dacitic tuff which is intruded by granodiorite. Rock samples indicate the mineralization type is quartz vein containing chalcopyrite, galena, sphalerite, covellite and pyrite. The best grade revealed from these altered rocks of 6,980 ppm Cu and 50 ppb Au, and from quartz vein of 4,868 ppm Cu and 57 ppb Au. Mineralization stages evolved from initial higher temperatures (> 320° C) to later lower temperatures (near 170° C).  Soil geochemical analysis identify two zones of combined anomaly i.e. Au-Cu-Mo and AgPb-Zn. Those anomalies are concentrated in the phyllic and argillic altered andesitic tuff. These soil anomaly coincide with IP anomalies which are found in electrode separation index of n=5 and n=7 in line WA7 with chargeability value up to 405.7 Msec and resistivity value of 37.7 Ohm-m. In general high chargeability and low resistivity anomalies are developed in the direction of southwest to northeast and still open to the northeast. The high chargeability value allows to predict the occurrence of copper deposits potential. Some bore holes are proposed for the next survey to confirm the presence of new copper deposits in the prospect area.
ORE MINERALS FROM KUROKO TYPE DEPOSIT OF TOYA-TAKARADA MINE, HOKKAIDO, JAPAN Yuningsih, ST., MT., Ph.D, Euis Tintin
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 11, No 2 (2016): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13810.946 KB)

Abstract

Toya-Takarada mine is Au- and Ag-rich Kuroko-type deposit located in Takarada, Toya-mura, southwest Hokkaido, Japan. The deposits were hosted in rhyolitic tuff and mudstone of Middle Miocene age. Ore samples of fine-grained black ore, vuggy black-yellow ore, granular vuggy black ore, quartz-sulfide ore and massive quartz-barite ore were studied to identify the ore minerals association in the Toya-Takarada mine. The ore minerals are dominated by sphalerite, galena, chalcopyrite and pyrite with fewer amounts of electrum, tetrahedrite-tennantite, and other sulfosalt minerals with secondary mineral of covellite.The quantitative chemical analysis of ore minerals by EPMA indicated that FeS contents in sphalerite is low (0.3-1.2 mol.%) in all kinds of ore samples. Small grains of electrum as inclusions in pyrite are identified in vuggy black-yellow ore with Ag content around 32-33 atm %.In general, the silver minerals in Kuroko-type deposits occurred mainly in the black and yellow ores zone dominantly composed of sphalerite, galena, pyrite, chalcopyrite and barite as a form of electrum and/or argentian tetrahedrite-tennantite series. Thus, the massive quartz-barite ore sample of Toya-Takarada mine are also contain some rare silver sulfosalt minerals such as proustite, Cu-rich pearceite, geocronite-jordanite and fizelyite. Those minerals were found together in association with sphalerite. It seems that sphalerite was crystallized first followed by proustite and Cu-rich pearceite, then geocronite-jordanite and fizelyite are crystallized later.Sphalerites from quartz-sulfide ore of Toya-Takarada contain some fluid inclusions and measured homogenization temperatures are in the range of 164-247°C (av. 208°C) with salinity ranging from 1.9 to 4.7 wt.% NaClequiv. (av. 3.9 wt.% NaClequiv.). The mineral assemblage, iron content in sphalerite and silver content in electrum were indicated that sulfur fugacity was slightly higher during ore mineralization in Toya-Takarada mine.   
TINJAUAN RENCANA PEMBANGUNAN INDUSTRI BESI BAJA DI KALIMANTAN SELATAN Pardiarto, Bambang
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 4, No 2 (2009): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (944.21 KB)

Abstract

Kebutuhan bahan baku bijih besi untuk membuat baja di Indonesia terutama oleh industri strategis nasional PT. Krakatau Steel (KS) , hampir seluruhnya masih diimpor dari negara lain berupa pelet dalam jumlah yang cukup besar. Indonesia dengan kepulauannya memiliki sumber daya alam yang kaya. Salah satunya adalah potensi bijih besi yang keprospekannya terinventarisasi di Kalimantan Selatan. Total sumberdaya diperkirakan sekitar 500 juta ton. Mutu bijih besi didaerah ini cukup untuk diproses lebih lanjut dalam iron making dengan keluaran untuk pasokan steel making plant. Bijih besi lokal yangselama ini belum dimanfaatkan bagi industri nasional dapat digunakan oleh PT. KS setelah melalui tahapan proses pengolahan diantaranya pemecahan & pengayakan, benefisiasi dan pelletizing/sintering. Proses pengolahan bijih besi lokal mulai dari penambangan, benefisiasi hingga pelletizing akan memberikan cost saving yang akan berkontribusi terhadap penurunan biaya bahan baku. Hal-hal tersebut menjadi pertimbangan terhadap rencana pembangunan industri besi-baja di Kalimantan Selatan yang merupakan upaya menuju kemandirian industri strategis nasional berbasis bahan baku lokal.
KANDUNGAN GAS METANA BATUBARA DAERAH NIBUNG, KABUPATEN MUSI RAWAS, PROVINSI SUMATERA SELATAN Wibisono, Sigit Arso
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 6, No 1 (2011): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (962.38 KB)

Abstract

Gas metana (CH4) merupakan salah satu gas yang terdapat dalam batubara yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Berdasarkan perhitungan rata-rata dengan metode desorption test, gas metana (CH4) di dalam conto batubara Formasi Muaraenim adalah 0,48m /ton (Lapisan Mangus), 0,46 m3/ton (Lapisan Suban) dan 0,20 m3/ton (Lapisan Petai). Sedangkan untuk analisis adsorption isotherm diketahui bahwa kandungan abu Lapisan Mangus dan Suban adalah sebesar 2,07% dan 59,63%.Kandungan gas metana Lapisan Mangus lebih besar dikarenakan kandungan abu Lapisan Mangus lebih sedikit dibandingkan dua lapisan lainnya.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20 No 3 (2025): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 20 No 2 (2025): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 20 No 1 (2025): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 19 No 3 (2024): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 19 No 2 (2024): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 19 No 1 (2024): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 18 No 3 (2023): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 18 No. 3 (2023): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 18 No. 2 (2023): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 18 No 2 (2023): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 18 No. 1 (2023): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 17 No. 3 (2022): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 17 No. 2 (2022): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 17 No. 1 (2022): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 16 No. 3 (2021): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 16 No. 2 (2021): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 16 No. 1 (2021): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 15 No. 3 (2020): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 15 No. 2 (2020): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 15 No. 1 (2020): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 15 No 1 (2020): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 14 No. 3 (2019): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 14, No 3 (2019): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 14 No. 2 (2019): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 14, No 2 (2019): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 14, No 1 (2019): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 14 No. 1 (2019): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 13 No. 3 (2018): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 13 No 3 (2018): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 13, No 3 (2018): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 13, No 2 (2018): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 13 No. 2 (2018): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 13 No 2 (2018): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 13 No. 1 (2018): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 13 No 1 (2018): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 13, No 1 (2018): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 12, No 3 (2017): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 12 No. 3 (2017): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 12 No 3 (2017): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 12, No 2 (2017): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 12 No. 2 (2017): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 12 No 2 (2017): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 12, No 1 (2017): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 12 No. 1 (2017): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 12 No 1 (2017): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 11, No 3 (2016): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 11 No. 3 (2016): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 11 No 3 (2016): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 11 No. 2 (2016): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 11 No 2 (2016): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 11, No 2 (2016): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 11, No 1 (2016): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 11 No. 1 (2016): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 11 No 1 (2016): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 10 No 3 (2015): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 10 No. 3 (2015): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 10, No 3 (2015): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 10 No 2 (2015): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 10 No. 2 (2015): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 10, No 2 (2015): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 10, No 1 (2015): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 10, No 1 (2015): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 10 No 1 (2015): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 10 No. 1 (2015): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 9 No 3 (2014): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 9 No. 3 (2014): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 9, No 3 (2014): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 9, No 2 (2014): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 9 No. 2 (2014): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 9 No 2 (2014): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 9 No. 1 (2014): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 9 No 1 (2014): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 9, No 1 (2014): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 8 No. 3 (2013): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 8 No 3 (2013): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 8, No 3 (2013): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 8, No 2 (2013): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 8 No. 2 (2013): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 8 No 2 (2013): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 8, No 1 (2013): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 8 No. 1 (2013): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 8 No 1 (2013): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 7, No 3 (2012): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 7 No. 3 (2012): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 7 No 3 (2012): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 7 No. 2 (2012): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 7 No 2 (2012): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 7, No 2 (2012): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 7, No 1 (2012): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 7 No. 1 (2012): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 7 No 1 (2012): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 6, No 3 (2011): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 6 No. 3 (2011): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 6 No 3 (2011): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 6, No 2 (2011): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 6 No. 2 (2011): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 6 No 2 (2011): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 6, No 1 (2011): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 6 No. 1 (2011): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 6 No 1 (2011): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 5 No. 3 (2010): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 5 No 3 (2010): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 5, No 3 (2010): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 5, No 2 (2010): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 5 No. 2 (2010): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 5 No 2 (2010): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 5 No 1 (2010): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 5, No 1 (2010): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 5 No. 1 (2010): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 4, No 3 (2009): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 4 No 3 (2009): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 4 No. 3 (2009): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 4 No 2 (2009): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 4 No. 2 (2009): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 4, No 2 (2009): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 4 No 1 (2009): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 4, No 1 (2009): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 4 No. 1 (2009): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 3 No 3 (2008): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 3 No. 3 (2008): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 3, No 3 (2008): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 3 No 2 (2008): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 3, No 2 (2008): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 3 No. 2 (2008): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 3, No 1 (2008): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 3 No 1 (2008): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 3 No. 1 (2008): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 2, No 3 (2007): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 2 No 3 (2007): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 2 No. 3 (2007): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 2 No 2 (2007): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 2, No 2 (2007): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 2 No. 2 (2007): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 2 No 1 (2007): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 2 No. 1 (2007): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 2, No 1 (2007): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 1, No 1 (2006): Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 1 No. 1 (2006): Buletin Sumber Daya Geologi Vol 1 No 1 (2006): Buletin Sumber Daya Geologi More Issue