cover
Contact Name
Ahadiyat Yugi R., SP., MSi., D.Tech.Sc.
Contact Email
psi.faperta@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
ahadiyat_yugi@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Agrin : Jurnal Penelitian Pertanian
ISSN : 14100029     EISSN : 25496786     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Agrin provides facilities for publishing articles or quality papers in the form of research results in various aspects of agriculture and agricultural commodities widely including ; agronomy, agroecology, plant breeding, horticulture, soil science, plant protection, agribusiness, agroforestry, food science and technology , agricultural techniques, agricultural innovations, agricultural models and agricultural biotechnology. This journal is published twice a year, ie the April and October. The Agrin Journal invites researchers, academics and intellectuals to contribute critical writing and contribute to the development of agricultural science.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 1 (2012): Agrin" : 8 Documents clear
PERTUMBUHAN, KOMPONEN HASIL DAN HASIL PADI SAWAH VARIETAS INPARI 1 YANG DIBERI AGRISIMBA Permadi, Karsidi; Putra, Sunjaya; Aryantha, I.N.P.
Agrin Vol 16, No 1 (2012): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2012.16.1.127

Abstract

Pupuk anorganik yang terus menerus diberikan pada setiap musim tanam padi dapat mencemarilingkungan selain produktivitas lahan menurun dan berpengaruh juga terhadap produktivitas padi menjadirendah. Oleh karena itu, dalam upaya meningkatkan produktivitas padi selain memberikan pupuk anorganikdiperlukan penambahan mikroba probiotik lokal seperti Agri Simba yang mampu memperbaiki kesuburan tanahsehingga penggunaan pupuk kimia berkurang. Pengkajian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaanAgri Simba terhadap pertumbuhan, komponen hasil dan hasil padi sawah varietas Inpari 1. Pengkajianmenggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat ulangan. Perlakuan Agri Simba disusunberdasarkan tingkat pemberian takaran 5; 10; 15; dan 20 l/ha. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pemberianAgri Simba berpengaruh baik pada pertumbuhan tinggi tanaman. Hasil gabah kering tertinggi dicapai padatingkat pemberian 10 l/ha Agri Simba sebanyak 11,20 t/ha GKG, dan terendah diperoleh pada takaran 5 l/ha AgriSimba sekitar 10,05 t/ha GKG. Hasil gabah kering giling maksimum dicapai pada tingkat pemberian 12,81 l/haAgri Simba. Komponen hasil yang mendukung terhadap hasil gabah adalah jumlah gabah per malai yangberkorelasi nyata.Kata kunci : Inpari 1, Agri SimbaABSTRACTIn organic fertilizers are continuously given to each rice-planting season can pollute the environmentother than declining land productivity and decrease the productivity of rice. Therefore, in an effort to increaserice productivity in addition to inorganic fertilizer required with local probiotic microbes such as Agri Simba iscapable of improving soil fertility, so the use of chemical fertilizers is reduced. The aim of this experiment wasthe effect of the use of Agri Simba on growth, yield components and yield rice varieties Inpari 1. The experimentare using a randomized block design (RAK) with four replications. Agri Simba treatment based on the level ofdose 5; 10; 15; and 20 l / ha. The results of the experiment indicates that administration of Agri Simba goodeffect on plant height growth. The highest dry grain yield achieved at the level of 10 l / ha Agri Simba as muchas 11.20 t / ha paddy, and obtained at the lowest dose of 5 l / ha Agri Simba about 10.05 t / ha paddy. Maximumdry milled grain yield achieved at the level of 12.81 l / ha Agri Simba. Components that support the results ofgrain yield is the amount of grain per panicle were correlated realKeywords : Inpari 1, Agri Simba
MENINGKATKAN INDEKS PERTANAMAN PADI SAWAH MENUJU IP PADI 400 Supriatna, Ade
Agrin Vol 16, No 1 (2012): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2012.16.1.123

Abstract

Salah satu program Badan Litbang Pertanian dalam peningkatan produksi beras nasional adalah programIP Padi 400. Program IP.padi 400 ditempuh dengan dua strategi yaitu rekayasa teknologi dan rekayasa sosialuntuk optimalisasi ruang dan waktu sehingga indeks pertanaman dapat dimaksimalkan. Masalahnya bagaimanaimplementasi peningkatan indeks pertanaman tersebut di tingkat lapangan. Kajian ini dilaksanakan tahun 2009 diProvinsi Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah, keduanya merupakan lokasi sasaran pengembangan IP Padi 400.Tujuan pengkajian, yaitu; (a) menginformasikan pengertian IP Padi 400, (b) upaya rekayasa teknologi, (c) upayarekayasa sosial, dan (d) mengsintesis syarat keharusan dalam pengembangan IP Padi 400. Hasil menunjukanbahwa dalam pengembangan Indeks pertanaman empat kali padi setahun, layak dilakukan dengan beberapasyarat keharusan: (a) aspek teknis meliputi penggunaan varietas padi sangat genjah (VUSG), teknik persemaian”culikan”, penggunaan alsintan, introduksi alat dekomposer dan monitoring hama penyakit; (b) aspek ekonomismeliputi efisiensi biaya produksi, tingkat produksi dan pendapatan lebih tinggi dari eksisting, mengoptimalkankelompok panen dan kelompok tanam serta upaya stabilitas harga gabah; dan (c) aspek kelembagaan meliputimengoptimalkan kelompok tani, dukungan lembaga keuangan mikro, penyediaan teknologi yang dibutuhkan dandukungan kebijakan pemerintah. Sepanjang kondisi ideal belum bisa terrealisasi, maka IP Padi 300 lebih layakuntuk dikembangkan daripada IP Padi 400. Program ini dapat dijadikan alternative terobosan kebijakanmendorong peningkatan produksi beras nasional.Kata kunci: Padi sawah, indeks pertanaman ,rekayasa teknologi dan sosial.ABSTRACTOne of AARD pogram in increasing rice production was a program of rice cropping index of 400. Thisprogram will be implemented through two strategies that is technological and social assessments to shorten timeand space so that a cropping index can be maximized. This paper is a review of strategy for improving thecropping index of lowland rice to reach cropping index of 400. The objectives of study; (a) to inform theunderstanding of rice cropping indek 400, (b) to describe the effort of technological assessment, (c) describe theeffort of social assessment, and (d) to synthesis the necessary condition in developing the rice cropping index of400. The results showed that the rice cropping index of 400 can be conducted with several necessary conditionsnamely: (a) technical aspects including the uses of superior varieties, seedling technique “culikan”, agriculturalmechanization, introduction of decomposer and monitoring of pest and disease; (b) the economic aspectincluding the efficiency of production cost, higher production and revenue than existing, optimalization ofharvest and planting groups and stability of the rice price; and (c) institutional aspect including optimalizationof farmer groups, micro financial institution, provision of technology required by farmers, and governmentspolicies. As long as the ideal condition has been not created for developing the cropping index of 400, thecropping index of 300 is more feasible to be developed either by technical, social, economical and theenvironment aspects. This program can be used as an alternative policy for supporting the national riceproduction.Keywords: Lowland rice, cropping index, technology and social assessments
PERTUMBUHAN POPULASI PEMULIAAN SALAK DI KABUPATEN KAMPAR Sri Hadiati; Agus Susiloadi; Tri Budiyanti
Agrin Vol 16, No 1 (2012): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2012.16.1.128

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi pertumbuhan beberapa populasi pemuliaan salak di KabupatenKampar. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Januari – Desember 2008 di Desa Tanjung Rambutan KabupatenKampar – Riau. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan 13 aksesi salakdan diulang dua kali. Setiap unit perlakuan terdiri dari 20 tanaman dan yang diamati sebanyak 10 tanaman.Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksesi yang berasal dari salak Sidempuan atau salah satu tetuanya berasaldari salak Sidempuan mempunyai ukuran tanaman yang lebih besar ( tinggi tanaman, panjang tangkai, panjangdan lebar thothok, panjang dan lebar lamina), tetapi mempunyai jumlah daun yang relatif sedikit dibandingkandengan aksesi-aksesi lainnya. Pada umur 36 bulan setelah tanam semua aksesi yang diuji telah berbunga,dengan persentase jumlah tanaman berbunga bervariasi antar aksesi. Tanaman salak yang telah berbungamempunyai jumlah daun yang lebih banyak dibandingkan aksesi yang belum berbunga. Terdapat korelasi yangpositif antara jumlah daun dan persentase tanaman berbunga (r = 0,92*). Aksesi yang sudah berbunga lebih dari50% adalah PH-MWR, SJG, dan PH-MJ, sebaliknya yang berbunga kurang dari 10% adalah SDS-SJG, SDMSJG,SDP, dan SDS. PH-MWR mempunyai persentase tanaman jantan terbanyak (46,67 %) dan PH-MJmempunyai persentase tanaman betina terbanyak (32,37%).Kata kunci : Salak (Salacca spp.), pertumbuhan, populasi pemuliaanABSTRACT.The objectives of the research was to evaluate the growth of few breeding populations of snake fruit inKampar district. The experiment was conducted from January to December 2008 at Tanjung Rambutan village,Kampar district . The Experimental design used was Randomized Complete Block, consist of 13 snake fruitacessions as the treatment, and two replications. The result showed that the snake fruit accessions, which werefrom Sidempuan or one out of parent stocks used, had more bigger plant size (i.e. plant height, peduncle length,thothok length and width, lamina length and width), but they had leaf number relatively a little more than theother accessions. All of accessions had been flowered at 36 months old and percentage of flowered plant numberwere variation. Snake fruit plants which flowered had more leaves number than the accession had not beenflowered yet. There was positive correlation between leaves number and percentage of flowered plant (r =0.92*). PH-MWR, SJG, PH-MJ accessions had been flowerd more than 50%, but SDS-SJG, SDM-SJG, SDP,and SDS accessions less than 10%. PH-MW accession had the most percentage of male plant (46.67%), and PHMJhad the most percentage of female plant (32.37%).Key words: Snake fruit (Salacca spp.), growth, breeding population
TINGKAT EFISIENSI FAKTOR PRODUKSI PADA USAHATANI KENTANG DI KECAMATAN KARANGREJA KABUPATEN PURBALINGGA JAWA TENGAH Anny Hartati; Kabul Setyadji
Agrin Vol 16, No 1 (2012): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2012.16.1.124

Abstract

Tujuan dari penelitian adalah menghitung biaya dan pendapatan, mengetahui hubungan antara faktorproduksi dengan produksi, dan menghitung tingkat efisiensi penggunaan faktor produksi pada usahatani kentang.Metode penelitian yang digunakan adalah survey dengan metode pengambilan sampel secara simple randomsampling dengan jumlah sampel sebanyak 39 orang petani. Analisis data meliputi analisis biaya pendapatan,analisis fungsi produksi, dan analisis efisiensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi per ha adalah16.015 kg dengan harga Rp 4.525/kg, biaya total Rp 35.650.715,- /ha, penerimaan Rp 72.467.875,- / ha, dankeuntungan Rp 36.817.160,- / ha. Analisis efisiensi menunjukkan bahwa perbandingan antara nilai produkmarjinal (NPM) dan biaya korbanan marjinal (BKM) baik lahan, pupuk organik, maupun pestisida lebih darisatu. Hal ini berarti penggunaan faktor produksi tersebut belum efisien. Keuntungan usahatani kentang cukupbesar melalui penambahan lahan, pupuk organik, dan pestisida. Faktor produksi lahan, pupuk organik, danpestisida masih dapat ditingkatkan sampai batas perbandingan nilai produk marjinal dan biaya korbanan marjinalfaktor produksi tersebut sama dengan satu.Kata kunci : efisiensi, faktor produksi, usahatani, kentang.ABSTRACTObjectives of this study were to count earnings and expense, know relation between factor of productionwith production, and count level of efisiensi of production factor. Research method was used by surveythrough simple random sampling to 39 respondent. Data of earnings cost analysis, production function analysis, andefficiency analysis were analyzed. Result of research indicate that the amount of products per ha was 16.015kg/ha at the price of Rp. 4.525 /kg, total expense of Rp 35.650.7157 ha, acceptance of Rp 72.467.875 / haand net earning of Rp 36.817.160 / ha. Analysis of effeciency showed that comparation of product value ofmarjinal expense and marjinal factor of farm, fertilize and organic of pestisida more than one. This means thatthe production factor was not efficient yet. High net earning with addition of farm, fertilizer, pesticide and organicmatter increased production of potato. farm factor, fertilizer organic, and pesticide could improved undercomparison of product value of marjinal expense and marjinal factor produce to be equal to one.Key word : eficiency, production factor, farm, potato.
PERTUMBUHAN DAN HASIL BEBERAPA GENOTIP KEDELAI BERBIJI BESAR PADA CEKAMAN KEKERINGAN DI BERBAGAI STADIA PERTUMBUHAN Widiatmoko, Teguh; Agustono, Tridjoko; Imania, Milla
Agrin Vol 16, No 1 (2012): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2012.16.1.129

Abstract

Budidaya kedelai kebanyakan dilakukan setelah musim tanam padi, sehingga tanaman kedelai seringkalimengalami cekaman kekeringan pada beberapa stadia kritis, seperti fase pembungaan dan pengisian polong.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui potensi hasil dari galur harapan kedelai yangmemiliki karakter berbiji besar yang ditanam dengan cekaman kekeringan, mengetahui perbedaan responpertumbuhan dan hasil antar galur dan varietas tersebut terhadap cekaman kekeringan, dan saat pemberianperlakuan cekaman kekeringan yang masih dapat mendukung tanaman kedelai tumbuh dan berproduksi denganbaik.Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Maret hingga Juni 2011 di rumah plastik Fakultas Pertanian,Universitas Jenderal Soedirman, untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil genotip kedelai berbiji besar yaitugalur L/S:B6-G1, L/S:B6-G3, varietas Grobogan, Burangrang, dan varietas Agromulyo pada cekaman sebesar50% kapasitas lapang, yaitu: kontrol (100%), sejak 25 hari setelah tanam/sebelum berbunga/R1, dan sejak 50hari setelah tanam/sebelum pengisian polong/R5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Galur L/S:B6-G1merupakan genotip yang memiliki produksi paling baik dalam kondisi cekaman kekeringan 50% kapasitaslapang sejak 50 hst, yaitu 10,83 g biji per tanaman. Terdapat perbedaan respon antar genotip kedelai terhadapsaat terjadinya cekaman kekeringan, Galur L/S:B6-G1 dan Varietas Argomulyo merupakan genotip memilikiproduksi paling baik pada kadar air tanah 50% kapasitas lapang sejak 50 hst. Kedelai masih mampu berproduksibaik pada kadar air tanah 50% kapasitas lapang sejak 50 hst (fase pengisian polong/R5).Kata kunci: stadia pertumbuhan, kekeringan, kapasitas lapang, genotip, hasilABSTRACTMost of soybean cultivation was held after rice cultivating season, so that soybean crop often sufferingdrought stress on several critical stages of plant growth, such as at flowering and pod filling phase. Thisresearch aims to know the potential yield of big grains soybean line on drought stress, the growth and yield ofbig grains soybean line and varieties on drought stress, when the drought stress still able to support the soybeancrop to growth and produce well. Research was conducted in March until June 2011 at plastic house ofAgriculture Faculty, Jenderal Soedirman University to determine soybean genotypes growth and production i.e.L/S:B6-G1, L/S:B6-G3 line, Grobogan, Burangrang, and Agromulyo varieties under 50% of field capacity thatwere control (100%), since 25 days after planting/before flowering/R1, and 50 days after planting/before podfilling stage/R5. The results of the research showed that L/S:B6-G1 line has the best yield on 50% field capacitysince 50 days after planting, that was 10,83 g of seed per plant. There were different responses between soybeangenotypes and critical time of drought stress, L/S:B6-G1 line and Argomulyo were the best genotypes onproducing by 50% field capacity of soil moisture. Soybean crop was still able to produce well in soil watercontent that stressed 50% of field capacity since 50 days after planting (pod filling stage/R5).Key words: growth stages, drought, field capacity,genotype,yield
PEMBUATAN TEPUNG KOMPOSIT PISANG LOKAL SUMATERA UTARAJAGUNG DAN PRODUK OLAHANNYA UNTUK SUBSTITUSI TEPUNG TERIGU Agriawati, Deliana P; Napitupulu, Besman; Parhusip, Dorkas
Agrin Vol 16, No 1 (2012): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2012.16.1.125

Abstract

Pisang (Musa paradisiaca) merupakan salah satu komoditi yang menjadi prioritas untuk dikembangkansesuai dengan Renstra Badan Litbang Pertanian 2010-2014. Banyak varietas atau jenis pisang yang terdapat dilahan petani, tetapi tidak semuanya pisang tersebut memberikan nilai tambah bila dijual dalam bentuk segar.Pisang layak digunakan sebagai bahan baku pembuatan tepung. Demikian pula jagung yang dalam bentuktepung memiliki serat yang tinggi. Kegiatan penelitian pembuatan tepung komposit untuk substitusi tepungterigu di Sumatera Utara dilaksanakan sejak bulan Mei hingga Desember 2009 di Kabupaten Karo dan Medan.Tujuan kegiatan ini adalah mendapatkan jenis pisang lokal khas yang dapat digunakan sebagai bahan bakutepung komposit berbasis pisang serta komposisi proksimatnya, dan untuk mendapatkan formulasi tepungkomposit berbasis pisang yang sesuai untuk pembuatan kue lidah kucing dan mie kering. Penelitian terdiri daridua tahap yaitu pembuatan tepung pisang, tepung jagung beserta analisis proksimatnya kemudian pembuatan kuelidah kucing dan mie kering menggunakan tepung komposit pisang jagung. Hasil penelitian menunjukkan bahwajenis pisang lokal khas yang dapat dijadikan tepung komposit dengan tepung jagung yaitu pisang johor, pisanglilin dan pisang siberas. Berdasarkan hasil uji organoleptik, tepung komposit (campuran tepung pisang dantepung jagung) sebanyak 25-50% dapat digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan kue lidah kucingsedangkan tepung komposit khususnya dari pisang siberas dan jagung dapat mensubstitusi tepung terigu dalampembuatan mie kering sebanyak 20%. Pisang lokal Sumatera Utara khususnya pisang siberas dan johor dalambentuk tepung memiliki peluang dikembangkan sebagai bahan baku kue kering seperti kue lidah kucing dan miekering.Kata kunci: pisang, tepung komposit, kue lidah kucing, mie keringABSTRACTBanana (Musa paradisiaca) was one of the commodity included as a priority to be developed proposed inthe Strategic Planning of Agency for Agricultural Research and Development year period of 2010 thru 2014.There were a lot of varieties found at the farmer field, but not all of that varietes resulted in profit if sold as afresh product. Some of the banana varieties would be acceptable to be processed as a flour product. Corn flourhas high dietary fiber. The research of Flour Composite Processing for wheat flour substitution in NorthSumatera carried out on Mei up to December 2009 at Karo district and Medan city. The objectives of thisassessment was to find out the existing of local specific of banana being acceptable as composite flour based onthe source from banana and the proximate composition, and also to find out the formulation of composite flourbased on banana for cookies and noodles processed. This assessment was done in two step. The first was toprocess banana and corn flour. The next step was to make cookies and noodles used composite flour as rawmaterial. The result of the assessment showed that the suitable source as the raw material for flour compositeobtained from the combination of johor banana flour, lilin banana flour and siberas banana flour with cornflour. Based on the organoleptic test that the composite flour (the mixture of banana with corn flour) was able tosubstitute wheat flour 25-50% in processing of cookies product (“lidah kucing” cookies) while in processing ofdried noodles, 20% composite flours was able to use as raw material especially siberas banana flour.Key words: banana, composite flour, cookies, dried noodle
PENAMPILAN GALUR HARAPAN KEDELAI TOLERAN KEKERINGAN DI KABUPATEN GARUT JAWA BARAT Haryati, Yati; Rahadian, Didit
Agrin Vol 16, No 1 (2012): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2012.16.1.130

Abstract

Potensi lahan untuk pengembangan kedelai cukup luas namun menghadapi kendala terutama pada musimkemarau dalam penyediaan kebutuhan air untuk pertumbuhan tanaman, sehingga menyebabkan kekeringan yangberakibat pada rendahnya produksi kedelai. Untuk menanggulangi hal tersebut perlu dikembangkan varietaskedelai yang tahan terhadap cekaman kekeringan (toleran kekeringan). Oleh karena itu kombinasi perakitanvarietas unggul baru yang toleran kekeringan dan efisiensi pengelolaan air merupakan upaya/pendekatan yangpotensial untuk menekan penurunan hasil biji kedelai. Pengkajian dilakukan di Desa Cinunuk Tengah,Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut dengan menanam galur-galur harapan kedelai hasil rakitan Balitkabidengan menanam 10 galur harapan kedelai termasuk 2 varietas pembanding (GHK 1, GHK 2, GHK 3, GHK 4,GHK 5, GHK 6, GHK 7, GHK 8, GHK 9, GHK 10, Varietas Wilis dan Tidar). Pengkajian dirancangmenggunakan rancangan acak kelompok, galur harapan yang akan diuji sebanyak 10 galur harapan sebagaiperlakuan (galur hasil rakitan Balitkabi) dan 2 varietas sebagai pembanding dan diulang tiga kali dengan ukuranpetak 4 x 5 m. Pemberian pupuk organik (dosis 2 t/ha) dan pupuk an organik (Urea 50 kg/ha, SP-36 100 kg/hadan KCl 75 kg/ha) diberikan pada saat tanam. Pupuk organik diberikan satu genggam per lubang untuk menutuplubang tanam. Parameter yang diamati meliputi keragaan tanaman kedelai, hasil dan komponen hasil. Datadianalisis dengan menggunakan Uji Duncan pada taraf 0.05. Hasil pengkajian menunjukan bahwa galur harapanGHK-4, 9 dan 10 mempunyai potensi hasil tinggi (2,5 t/ha) biji kering.Kata Kunci : Galur, kedelai, toleran kekeringanABSTRACTPotential land for soybean development is quite extensive but face obstacles especially in the dry seasonin the provision of water requirements for plant growth, thus causing drought which resulted in lower soybeanproduction. To overcome this needs to be developed soybean varieties that are resistant to drought stress(drought tolerant). Therefore, the combination assembly new varieties that are tolerant of drought and watermanagement efficiency is the effort / potential approach to suppress the reduction in seed yield of soybean.Assessments conducted in the Middle Cinunuk Village, District Wanaradja, Garut by planting soybean strainsexpectations Balitkabi assembly results with 10 strains of hope planted soybean varieties including twocomparators (GHK 1, GHK 2, GHK 3, GHK 4, GHK 5, GHK 6 , GHK 7, GHK 8, GHK 9, GHK 10, Variety Wilisand Tidar). The assessment was designed using a randomized block design, and threads of hope that will betested as many as 10 strains of hope as a treatment (strain results Balitkabi assemblies) and 2 varieties forcomparison and repeated three times with a plot size of 4 x 5 m. Organic fertilizers (dose of 2 t / ha) and anorganic fertilizer (Urea 50 kg / ha, SP-36 100 kg / ha and KCl 75 kg / ha) was given at the time of planting.Organic fertilizers are given a handful per planting hole to seal the hole. The parameters observed includekeragaan soybean crop, yield and yield components. Data were analyzed using Duncan's test at level 0.05. Theresults of the assessment showed that the strain of hope GHK-4, 9 and 10 have the potential for high yield (2.5 t /ha) of dry beans.Keywords: Strain, soybean, drought tolerant
KAJIAN DAYA RACUN CUKA (ASAM ASETAT) TERHADAP PERTUMBUHAN GULMA PADA PERSIAPAN LAHAN Pujisiswanto, Hidayat
Agrin Vol 16, No 1 (2012): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2012.16.1.126

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi cuka (asam asetat) terhadap pertumbuhangulma pada persiapan lahan. Penelitian dilakukan di Politeknik Lampung, Lampung dari bulan Juli sampaidengan September 2011. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkapsatu faktor, yaitu : konsentrasi cuka dengan empat taraf : 0%, 5%, 10% dan 20% dengan empat ulangan. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa (1) konsentrasi cuka 10% - 20% mampu mengendalikan pertumbuhan gulmasampai dengan 4 MSA, terlihat dari tertekannya bobot kering dan persentase penutupan gulma total. (2)konsentrasi cuka 10% - 20 % mampu mengendalikan pertumbuhan gulma daun lebar Asystasia gangética,sedangkan gulma daun lebar lain yaitu kacangan (LCC) dan Mikania micrantha mampu dikendalikan dengankonsentrasi 20% sampai dengan 4 MSA. (3) Gulma golongan rumput yaitu Digitaria longiflora tidak mampudikendalikan oleh cuka sampai 8 MSA.Kata kunci : Cuka (asam asetat), Konsentrasi, gulmaABSTRACTThe objective of this research was to think the effect concentrations of vinegar (acetic acid) on growth ofweeds at land preparation. The experiments conducted in Politeknik Lampung, Lampung from July toSeptember 2011. The research design was used Completely Randomized Design (CRD) with one factor, i.e :concentration of vinegar with four levels : 0, 5%, 10%, and 20% with four replications. The results showed that:(1) vinegar concentration of 10% - 20% are able to control weed growth to 4 MSA, seen from the suppression ofthe dry weight and percentage of total weeds. (2) vinegar concentration of 10% - 20% are able to control thegrowth of broad leaf weeds Asystasia gangética, while the other broad leaf weeds are nuts (LCC) and Mikaniamicrantha able to be controlled by the concentration of 20% up to 4 MSA. (3) Type of grass weed i.e Digitarialongiflora is not able to be controlled of vinegar to 8 MSA.Key words : Vinegar (Acetic acid), concentration, weeds

Page 1 of 1 | Total Record : 8