cover
Contact Name
Ahadiyat Yugi R., SP., MSi., D.Tech.Sc.
Contact Email
psi.faperta@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
ahadiyat_yugi@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Agrin : Jurnal Penelitian Pertanian
ISSN : 14100029     EISSN : 25496786     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Agrin provides facilities for publishing articles or quality papers in the form of research results in various aspects of agriculture and agricultural commodities widely including ; agronomy, agroecology, plant breeding, horticulture, soil science, plant protection, agribusiness, agroforestry, food science and technology , agricultural techniques, agricultural innovations, agricultural models and agricultural biotechnology. This journal is published twice a year, ie the April and October. The Agrin Journal invites researchers, academics and intellectuals to contribute critical writing and contribute to the development of agricultural science.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 2 (2012): Agrin" : 7 Documents clear
FOSFAT ALAM SEBAGAI SUMBER PUPUK FOSFAT TANAMAN CABAI MERAH PADA JENIS TANAH PODSOLIK JASINGA Subhan, Subhan; Sutrisno, Nono
Agrin Vol 16, No 2 (2012): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2012.16.2.137

Abstract

Percobaan untuk mengetahui pengaruh pupuk fosfat alam Ciamis dan pupuk fosfat alam Sukabumisebagai sumber pupuk fosfat pada tanaman cabai merah, telah dilaksanakan di lahan petani di desa Bagoang,Kecamatan Jasinga (200. m dpl), Kabupaten Bogor, dari bulan April sampai dengan Nopember 2010. Rancanganpercobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dan setiap perlakuan diulang 3 (tiga) kali.Perlakuan terdiri dari : (1) 0 kg P2O5 /ha (Kontrol), (2) 50 kg P2O5 pupuk alam Ciamis (FAC)/ha, (3) 100 kg P2O5FAC/ha, (4) 150 kg P2O5 FAC/ha (5) 200 kg P2O5 FAC/ha, (6) 250 kg P2O5 FAC/ha, (7) 50 kg P2O5, pupukfosfat alam Sukabumi (FAS)/ha, (8) 100 kg P2O5 FAS/ha, (9) 150 kg P2O5 FAS/ha, (10) 200 kg P2O5 FAS/ha,dan (11) 250 kg P2O5 FAS/ha. Hasil penelitian menunjukan bahwa pupuk FAC dengan dosis 250 kg P2O5FAC/ha, dapat meningkatkan beberapa peubah pertumbuhan tanaman dan komponen hasil tanaman cabai merah,tapi penggunaan pupuk FAC pada percobaan ini belum dapat menandingi pupuk FAC yang biasa digunakan olehpetani. Penggunaan pupuk FAC pada penelitian ini hanya berpengaruh positif pada jumlah bunga tetapi tidakterhadap persentase buah baik. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk pemilihan sumberpupuk fosfat alam dalam penanaman cabai merah.Kata Kunci : Capsicum annuum. L, Pupuk Fosfat Alam; Pertumbuhan; Hasil;ABSTRACTThe experiment to determine the effect nature phosphate Ciamis and nature phosphate Sukabumi as asource phosphate fertilizer plant chili on podzolic soil Jasinga was conducted at a farmer’s field in BagoangVillage, Jasinga subdistric (200 m asl). Bogor Distrik, West Java from April to November 2010. Randomizedcompletely block design with 3 replications was used in the experiment. The treatment consisted of combinationof rate and source of nature phosphate (nature phosphate Ciamis /FAC and nature phosphate Sukabumi /FAS) ie(1) 0 kg P2O5 /ha (control) (2) 50 kg P2O5. FAC/ha, (3) 100 kg P2O5 FAC/ha, (4) 150 kg P2O5 FAC/ha (5) 200kg P2O5 FAC/ha, (6) 250 kg P2O5 FAC/ha, (7) 50 kg P2O5. FAS/ha, (8) 100 kg P2O5 FAS/ha, (9) 150 kg P2O5FAS/ha, (10) 200 kg P2O5 FAS/ha, and (11) 250 kg P2O5 FAS/ha. The results indicated that although the use ofnature phosphate Sukabumi (FAS) in chili with a rate of 250 kg P2O5 FAC/ha increase some growth parameterand yield component of chili, which is commonly used by the farmers. The use of nature phosphate Ciamis effectpositively on sum of flower, on percentage of good fruits and percentage of sum damage fruits. The result couldbe used as a recommendation to select the source of phosphate in chili production.Key word : Capsicum annuum. L; Nature fertilizer; Growth; yield;
PERKEMBANGAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO AGRIBISNIS (LKM A) DAN ADOPSI TEKNOLOGI KENTANG PADA PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PEDESAAN (PUAP) (Studi Kasus di Kabupaten Solok, Sumatera Barat) Supriatna, Ade
Agrin Vol 16, No 2 (2012): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2012.16.2.132

Abstract

Dalam kondisi modal lemah, proses adopsi teknologi oleh petani akan berjalan kurang optimal dan terjadibeberapa komponen teknologi yang terbuang percuma (idle). Menyadari masalah tersebut, Kementrian pertanianmulai tahun 2008 telah melaksanakan program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) di 33Provinsi di Indonesia. Pemerintah memberikan bantuan modal usaha berupa Bantuan Langsung Mandiri (BLM)sebanyak Rp.100 juta yang diberikan dan dikelola melalui Gapoktan selain itu juga dilakukan pembinaanpeningkatan adopsi inovasi teknologi dan kelembagaan. Pada tahun pertama dana dikelola oleh Gapoktanmelalui Usaha Simpan Pinjam (USP) dan selanjutnya diharapakan dikelola melalui Lembaga Keuangan MikroAgribisnis (LKM A) dengan syarat dananya dapat berkembang sebanyak 15 persen. Kegiatan ini dilaksanakantahun 2010 dan berlokasi di Propinsi Sumatera Barat. Tujuan kajian: (a) mengetahui perkembangan jumlahLKM-A, (b) mengetahui cara pengelolaan bantuan modal BLM PUAP di tingkat Gapoktan, dan (c) mengetahuikeragaan adopsi teknologi. Hasil menunjukan, bahwa Program PUAP di Provinsi Sumatera Barat sudahmencapai 429 Gapoktan yang tersebar ke 15 kabupaten. Dari total 429 Gapoktan, sudah terbentuk 103 LKM-Aatau 24 persen dari total Gapoktan. Pengelolaan modal oleh Gapoktan sudah sesuai petunjuk dan diputuskanberdasarkan hasil musyawarah antara pengurus dan anggota Gapoktan. Selama ini, adopsi inovasi teknologibelum menunjukan kemajuan sementara adopsi inovasi kelembagaan sudah cukup berhasil, terutama dalammengelola modal. Untuk meningkatkan keberhasilan, program PUAP masih memerlukan beberapa perbaikan,terutama perbaikan Sumber Daya Manusia dan inovasi teknologi spesifik lokasi. Untuk itu, memerlukandukungan dari berbagai Dinas/Instansi teknis terkait dan dukungan kebijakan pemerintah baik pusat maupundaerah.Kata kunci: LKM-A, adopsi innovasi, Sumatra Barat.ABSTRACTIn the low capital condition, the process of technology adoption by farmers will run less than optimaland there are some innovations that are wasted (idle). In 2008, Ministry of agriculture has been implementingthe program of Rural Agribusiness Development (RAD) in Rural Area.Through the program RAD, the FarmersGroups Association (FGA) was given the capital grand as much as 100 million per FGA. This studi wasconducted in 2010 and located in West Sumatera. Research objectives are (a) to know the development of theMicro Credit Institution for Agribussiness (MCI-A), (b) to know the management of capital grand in the FGD,and (c) to know the performance of technologi adoption. Result showed, that the program of Rural AgribusinessDevelopment (RAD) in in West Sumatera have reached 429 of Farmers Groups Association, distributed in 15Districts, and resulted 103 of Micro Credit Institution for Agribussiness or 24 percents of total.The managementof Capital by FGA was appropriate and decided by the results of discussions between officials and members ofFGA. During this time, the adoption of potatos technology has not shown progress while the adoption ofinstitutional innovation has been quite successfully, especially in managing capital. The RAD program stillneeds some improvement, particularly improvement of human resources and site-specific technologicalinnovations. For that, need support from various technical offices/agencies and policy support both central andlocal government.Key words: LKM-A, innovation adoption, West Sumatra
TEKNIK BUDIDAYA SINGKONG OLEH PETANI DI KOTA BENGKULU Supanjani, Supanjani
Agrin Vol 16, No 2 (2012): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2012.16.2.138

Abstract

Singkong dapat menjadi sumber pangan alternatif dan sumber bioenergi yang paling efisien dibandingkandengan tebu dan jagung, yang menjadi sumber utama bioetanol dunia. Penelitian ini bertujuan untukmengumpulkan informasi teknologi budidaya singkong, dari sisi klon, pengolahan lahan, penanaman danpemupukan, yang diterapkan oleh petani di Kota Bengkulu beserta produktivitasnya. Survey dilakukan denganmengidentifikasi pertanaman singkong yang sudah tumbuh dan cukup umur untuk dipanen, mendiskusikandengan petani teknik budidaya yang diterapkan, membeli, mengukur pertumbuhan dan memanen tanamansampel singkong untuk menduga produktivitasnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik budidaya yangditerapkan oleh petani beragam sehingga produktivitasnya beragam dengan rentang 19 – 75 ton ha-1. Petanimemilih klon-klon yang telah terbukti berproduksi tinggi di daerahnya maupun di daerah lain. Produktivitasingkong yang tinggi disebabkan oleh penggunaan bibit unggul produksi tinggi, pengolahan lahan sempurna danpemupukan kandang yang dicampur pada saat pengolahan lahan. Fleksibilitas pemanenan ubi dapatdimanfaatkan oleh petani untuk mengatasi deteriorasi fisiologis pasca panen. Penelitian lebih lanjut perludifokuskan tentang keseuaian klon dan teknik budidaya yang meliputi pemupukan anorganik dan hayati denganmikroba pemacu pertumbuhan tanaman, serta kualitas singkong untuk bahan pangan dan bioethanol.Kata kunci: singkong, petani, produktivitas, teknik budidayaABSTRACTCassava can be the most efficient crop for food and altervative energy as compared with sugarcane andcorn, currently main feeding sources of world bioethanol. A survey was conducted to gather informationregarding cultural techniques used for growing cassava, with regard to clone/genetic selection, soil tillage,planting pattern and fertilization applied by farmers in Bengkulu City, and their related root productivity. Plotsof cassava crops reaching their maturity were identified. Discussions were accomplished farmers regarding withcultural techniques in growing cassava, follwed by measuring plant growth and taking samples for assessingroot growth and yield. The results demonstrated that farmers varied in applying cultural techniques for growingcassava hence their cassava yields varied greatly from 19 to 75 ton ha-1. Farmers selected cassava propagulesbased on information, both from their own vicinity or from other places, that they are high yielding. High rootproductivity was related to the use of high-yielding varieties, full tillage combined with manure fertilization. Theadvantage of flexibility in harvesting root were employed by farmers with daily harvesting to aleviate postharvestphysiological deterioration in selling fresh root. Based on this informastion, further researches shouldbe focused on the suitability of cassava clones with specific environment, cultural techniques, includinganorganic fertilization, the use of plant growth promoting rhizobacteri and their related root qualities for foodand bioethanol.Key words: cassava, farmers, cultural techniques, yield
EVALUASI ENAM VARIETAS KENTANG DI DATARAN TINGGI KARO – SUMATERA UTARA Fatiani Manik; Setyorini Widyayanti; Jesron Saragih
Agrin Vol 16, No 2 (2012): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2012.16.2.133

Abstract

Kentang merupakan salah satu komoditas hortikultura yang mempunyai nilai ekonomis cukup tinggi.Dalam tahun 2011, nilai produktivitas kentang di propinsi Sumatera Utara mencapai.7,49 ton/ha. Salah satufaktor dominan yang berperan dalam meningkatkan produksi kentang adalah varietas. Balai Penelitian TanamanSayuran dan Hortikultura telah merilis berbagai jenis varietas kentang bernilai produksi tinggi. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui varietas yang diintroduksikan di dataran tinggi Karo. Penelitian dilakukan di KebunPercobaan Berastagi jalan Dolat Rayat, Kecamatan Dolat Rayat; Berastagi pada ketinggian tempat 1.340 m dplpada bulan September – Desember 2011. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompokdengan varietas kentang sebagai perlakuan yaitu Cipanas, Ping, Merbabu, Margahayu, GM 05 dan GM 08.Masing-masing perlakuan diulang 3 kali dan dilakukan pada total lahan seluas 1000 m2. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa produksi tertinggi adalah varietas Merbabu dengan peningkatan produksi 30,9 % (25,357ton/ha) dari varietas GM 08 dan diikuti varietas Ping dan Cipanas dengan tingkat produktivitas 23,887 ton/hadan 20,195 ton/ha.Kata kunci : evaluasi, varietas, produksi, kentang .ABSTRACTPotato is one of the horticulture commodities which have a high economic value. In 2011, potatoproductivity value in North Sumatra reach 7.49 ton / ha lower. The dominant case which could increase potatoproductivity is variety. Indonesian Vegetables Research Institute has released various types of potato variety ofhigh productivity value. The purpose of this research was to evaluate potato variety which introduces in theKaro highlands. The experiment was carried out in Berastagi experimental unit in Dolat Rayat, Berastagi at1.340 m above sea level from September-December 2011. The experiment was arranged in a randomized blockdesign with varieties as treatments: Cipanas, Ping, Merbabu, Margahayu, GM 05 and GM 08. Each treatmenthad three replicates and conducted in the total area of 1,000 m2. The results showed that Merbabu varietieshad the highest productivity which could increased 30.9% (25.357 tons / ha) from GM 08 varieties and than,followed by Ping (23.887 tons / ha) and Cipanas (20.195 ton / ha).Key words: evaluation, varieties, yield, potato
TEKNOLOGI PENGOLAHAN TEPUNG DARI BERBAGAI JENIS PISANG MENGGUNAKAN CARA PENGERINGAN MATAHARI DAN MESIN PENGERING D, Histifarina; Rachman, Adetiya; Rahadian, Didit; Sukmaya, Sukmaya
Agrin Vol 16, No 2 (2012): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2012.16.2.134

Abstract

Pisang merupakan buah yang mudah rusak, karena termasuk buah klimakterik, sehingga perlupengawetan lebih lanjut. Salah satunya diolah menjadi tepung pisang. Pengolahan pisang menjadi tepung agarmempunyai masa simpan lebih lama, lebih mudah dalam pengemasan dan pengangkutan, lebih praktis untukdiversifikasi produk olahan, mampu memberikan nilai tambah buah pisang, dan mampu menciptakan peluangusaha pengembangan agroindustri pedesaan. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan jenis pisang yangtepat yang dapat menghasilkan tepung pisang dengan menggunakan pengering konvensional dan nonkonvensional. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pascapanen BPTP Jawa Barat dari bulan Mei hinggaSeptember 2010. Metodologi pendekatan yang dilakukan yaitu metode eksperimen menggunakan RancanganAcak Lengkap Faktorial dengan 2 perlakuan (2 cara pengeringan dan 4 jenis pisang) dan diulang 2 kali. Datayang diamati meliputi sifat fisik (rendemen dan derajat putih), sifat kimia tepung pisang (kadar air, kadar abu,kada gula reduksi, kadar karbohidrat, kadar lemak dan kadar vitamin C). dan uji organoleptik (aroma dan warna)serta analisis finansial. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa jenis pisang nangka dapat menghasilkan rendementertinggi yaitu sebesar 27,48% dengan karakteristik kimia 9,2%- 11,05%; kadar KH = 50,25-51,23%; kandungangula total 1,3-1,46% dan vit C 80,85-97,35 mg/100 gram.Kata kunci : pisang, tepung, sifat kimia, sifat organoleptik, kelayakan finansialABSTRACTBananas were easily damaged because it was included on climacteric fruit, so it needs furtherpreservation. One of the preservation was processed into banana flour. Processing bananas into flour gave alonger shelf life, easier in the packaging and transportation, more practical for the diversification of processedproducts, provide added value and to create opportunities for rural agro-industry development efforts. Theobjectives of this research were to get the right type of banana that can produce banana flour using conventionaldrying and non conventional Research conducted at the Laboratory of Postharvest West Java BPTP from May toSeptember 2010. Methodology approach taken was based on experiment using completely randomized factorialdesign with 2 treatments (2 types of drying and 4 types of bananas) and 2 repeated samples. The observed dataincluded the physical properties (yield and whiteness), the chemical properties of banana flour (moisturecontent, ash content, reducing sugar, carbohydrate content, fat content and levels of vitamin C), organoleptictest (smell and color) and financial analysis. The research indicated that the type of nangka banana couldproduced the highest yield of 27.48% with the chemical characteristics of 9.2% - 11.05%; levels of KH = 50.25to 51.23%, total sugar content from 1.3 to 1.46% and 80.85 to 97.35 mg/100 g of vitamin C.Key words : banana, flour, chemical properties, organoleptic properties, financial feasibility
EVALUASI NENAS HIBRIDA HASIL PERSILANGAN ANTARA CAYENNE, QUEEN, A. BRACTEATUS, DAN MERAH Hadiati, Sri; Yuliati, Sri
Agrin Vol 16, No 2 (2012): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2012.16.2.136

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi karakter-karakter penting pada nenas hibrida hasil persilanganantara Cayenne, Queen, A. bracteatus dan Merah. Penelitian dilakukan di Balai Penelitian Tanaman BuahTropika Solok mulai bulan Juni 2004 sampai Desember 2006. Materi genetik yang digunakan adalah nenashibrida hasil persilangan antara Cayenne x Queen (58 tanaman), Cayenne X A. bracteatus (24 tanaman) danCayenne x Merah (26 tanaman). Semua tanaman ditanam dalam polibag ukuran 40x50 cm. Pengamatandilakukan per individu tanaman terhadap karakter kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwadistribusi duri dan bentuk mata dipengaruhi oleh tetua betina. Persilangan Cayenne x Queen menghasilkanhibrida dengan persentase terbanyak pada ukuran mahkota kecil (≤ 100 g), dan rasa sangat manis (TSS > 20°brix ) berturut-turut 48.27% dan 8.62%. Persilangan Cayenne x A. bracteatus menghasilkan hibrida denganpersentase diameter hati kecil (≤ 1.5 cm) terbanyak, yaitu 50% . Persilangan Cayenne x Merah menghasilkanpersentase bobot buah > 1500 g terbanyak (23.07 %) dan persentase buah dengan tebal daging > 4 cmterbanyak (76.32%). Hibrida yang mempunyai karakter daun tidak berduri / duri hanya di ujung daun, rasasangat manis (TSS ≥ 20 °Brix ), dan bentuk mata lebar, adalah CQ-20, CB-1. Sedangkan hibrida dengan karaktertidak berduri / duri hanya di ujung daun, rasa sangat manis (TSS ≥ 20 °Brix ), dan bentuk mata menonjol adalahCQ-16, CQ-41. Informasi ini dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk pemilihan tetua jantan dan betinadalam program perakitan varietas unggul nenas.Kata kunci: A. comosus, A. bracteatus, evaluasi, komponen hasil, mutu buah.ABSTRACT.The aim of the research was to evaluate the important characters of pineapple hybrids from crossingbetween Cayenne, Queen, A. bracteatus, and Merah parents. This research was conducted at the ResearchInstitute for Tropical Fruit in Solok, from June 2004 to December 2006 . Genetic materials used were 58 hybridplants from Cayenne x Queen crossing, 24 hybrid plants from Cayenne x A. bracteatus crossing, and 26 hybridplants from Cayenne x Merah crossing. All of the plants were planted on polybag with size 40x50 cm.Observation was done per plant on qualitative and quantitative characters. The results showed that thedistribution of spines on the leaves and the shape of eyes were affected by female parents. Cayenne x Queencrossing produced the most percentage of hybrids with small crown weight (≤ 100 g), and very sweet taste (TSS> 20° brix), i.e. 48.27% and 8.62% respectively. Cayenne x A. bracteatus crossing produced the mostpercentage of hybrids with small core diameter (≤ 1.5 cm) was 50% . Cayenne x Merah crossing produced themost percentage of hybrids with big fruit weight (> 1500 g) and flesh thickness > 4 cm. i.e. 23.07% and 76.32%respectively. The hybrid plants possessing the combined characters of spineless or spiny at the leaf tip, verysweet taste (TSS ≥ 20°Brix), and broad eyes were CQ-20 and CB-1. Meanwhile, hybrids with characters ofspineless or spiny at the leaf tip, very sweet taste (TSS ≥ 20°Brix), and projected eyes were CQ-16 and CQ-41.These results can potentially provide valuable information on the choice of female and male parents for theprograms of pineapple variety improvement.Key words: A.comosus, A. bracteatus, evaluation, yield component, fruit quality
PEMANFAATAN JAMUR PARASIT DAN EKSTRAK GULMA UNTUK MENGENDALIKAN NEMATODA SISTA KUNING Globodera rostochiensis PADA TANAMAN KENTANG Manan, Abdul; Munadjat, Achmad
Agrin Vol 16, No 2 (2012): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.058 KB) | DOI: 10.20884/1.agrin.2012.16.2.131

Abstract

Penelitian ini betujuan mengetahui jenis dan dosis jamur parasit yang potensial mengendalikanGlobodera rostochiensis, dan jenis serta konsentrasi ekstrak gulma yang potensial mengendalikan G.rostochiensis. Penelitian ini terdiri dari 2 sub penelitian dengan menggunakan Rancangan faktorial: 1). Ujipotensi jamur parasit untuk mengendalikan G. rostochiensis, faktor pertama yang dicoba adalah jenis jamurparasit yaitu : Paelomyces lilacinus, Verticilium sp., Trichoderma sp., Glyocladium sp., Sedangkan faktor keduayang dicoba adalah dosis yaitu: 10g /pot, 15g/pot, 20g/pot, 2). Uji potensi ekstrak gulma untuk mengendalikanG. rostochiensis, faktor pertama yang dicoba adalah jenis ekstrak gulma yaitu: Ageratum, Eupatorium, Cyperus.Sedangkan faktor yang kedua adalah konsentrasi ekstrak yaitu 10 %, 20 %, 30%. Hasil penelitian menunjukkanbahwa : Semua perlakuan jamur parasit yang dicoba berpotensi mengendalikan G. rosthochiensis, Paelomyceslilacinus mampu menekan 64,89% populasi sista dalam tanah, Verticilium sp 60,85%, Trichoderma sp 49,63%,dan Glyocladium sp 67,1%,2), belum didapatkan dosis jamur parasit yang efektif mengendalikan G.roshochiensis, Eupatorium dan Cyperus berpotensi mengendalikan G. rosthochiensis, eupatorium mampumenekan 39,6% populasi sista dalam tanah, sedangkan Cyperus 52,37%, belum didapatkan konsentrasi ekstrakgulma yang efektif mengendalikan G. roshochiensis.Kata kunci: Globodera rostochiensis, jamur parasit, pestisida nabatiABSTRACTThis research aimed at knowing kinds and dosage of parasitic fungi for controlling the nematodepotentially, kinds and concentration of weed exctract for controlling the nematode potentially. This researchwas consisted of two sub-experiment by using Factorial Design , 1). Test of parasitc fungi potency forcontrolling nematode, the first factor tested was kinds of enemies i.e.: Paelomyces lilacinus, Verticilium sp.,Trichoderma sp., Glyocladium sp., and the second one was dosage of the parasitic fungi i.e; 10g /pot, 15g/pot,20g/pot, 2). Test of weed exctract potency for controlling nematode, the first factor was kinds of weed extracti.e.: Ageratum weed, Eupatorium weed, nut grass, and the second one was concentration of weed extract i.e; 10%, 20%, 30 %. The result of research showed that 1). All treatment tested were potentially parasitic fungi forcontrolling nematode, P. lillacinus reduced 64.89% of nematode cyst in the soil, Verticilium sp. 60.85%, ,Trichoderma sp. 49.63%,and Glyocladium sp. 67.1%, the effective dosage of parasitic fungi for controllingnematode unknown yet, eupatorium weed and cyperus were potentially weed extract for controlling nematode,eupatorium weed reduced 39,6% of nematode cyst in the soil, and cyperus 52,37%, the effective concentration ofweed exctract for controlling nematode unknown yet.Key words: Globodera rostochiensis, parasitic fungi, botanical pesticides

Page 1 of 1 | Total Record : 7