cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Ergonomi dan K3
ISSN : 26157732     EISSN : 26157732     DOI : -
Core Subject : Health, Engineering,
Jurnal Ergonomi dan K3 diterbikan 2 kali setahun, bulan Maret dan September. Topik makalah untuk jurnal Ergonomi dan K3 meliputi namun tidak terbatas pada: antropometri, biomekanika, fisiologi, lingkungan kerja, ergonomi kognitif, ergonomi budaya, keselamatan dan kesehatan kerja.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2017): September 2017" : 5 Documents clear
Prevalensi Bahaya Potensial Kesehatan dan Keselamatan Kerja pada Pengrajin Emping dan Keripik di Kota Cilegon Banten Yosephin Sri Sutanti; Yusuf Handoko
Jurnal Ergonomi dan K3 Vol 2, No 2 (2017): September 2017
Publisher : Perhimpunan Ergonomi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.89 KB) | DOI: 10.5614/j.ergo.2017.2.2.5

Abstract

Sektor informal di Indonesia belum banyak diteliti, padahal sebagian besar pekerja di Indonesia (kurang lebih 70%) adalah pekerja di sektor informal yang banyak terpajan bahaya potensial selama bekerja. Penelitian pada sektor informal ini mengambil populasi pengrajin emping dan keripik di Kota Cilegon, karena kota ini merupakan kota percontohan bidang Kesehatan Kerja di Indonesia. Adapun tujuan penelitian ini adalah mendapatkan data prevalensi pajanan bahaya potensial pada pengrajin emping dan keripik di Kota Cilegon. Subyek penelitian adalah pengrajin emping dan keripik di Kota Cilegon. Metode yang digunakan adalah observasi, wawancara dan kuesioner serta pengukuran terhadap lingkungan kerja. Pengumpulan data pajanan fisik menggunakan soundlevel meter, luxmeter dan alat pengukur suhu serta pajanan ergonomik menggunakan Nordic bodymap discomfort, sedangkan pajanan psikologis menggunakan kuesiner stress kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh pengrajin mengalami masalah musculoskeletal berupa nyeri mulai dari skala agak nyeri sampai nyeri sekali. Pengukuran pajanan fisik sudah di luar dalam batas normal tetapi relatif menimbulkan gangguan hanya pada sebagian pengrajin, sehingga membutuhkan penelitian lanjutan (suhu berkisar 26-31 derajat Celcius, penerangan 100-200 lux, kebisingan rata-rata 61 dB). Adanya stress yang berhubungan dengan pekerjaan didapatkan pada sebagian kecil pengrajin saja.
Mengkaji Kelengkapan Human Factors Analysis And Classification System (HFACS) dari Sisi Budaya berdasarkan Dimensi Budaya dari Trompenaars Iftikar Z Sutalaksana; Edwina Dwi Sadika
Jurnal Ergonomi dan K3 Vol 2, No 2 (2017): September 2017
Publisher : Perhimpunan Ergonomi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.683 KB) | DOI: 10.5614/j.ergo.2017.2.2.2

Abstract

Human Factor Analysis and Classification System (HFACS) merupakan alat untuk mengidentifikasi faktor manusia. HFACS diduga memerlukan aspek budaya sesuai dengan budaya yang berlaku di negara HFACS tersebut akan diterapkan. Penambahan aspek budaya tersebut akan membuat HFACS mampu mengidentifikasi aspek budaya yang mempengaruhi kecelakaan. Faktor penyebab kecelakaan penerbangan diklasifikasikan dengan HFACS dan aspek budaya yang memengaruhinya diidentifikasi dengan dimensi budaya dari Trompenaars. Dengan dukungan hasil wawancara dan pengolahan data, dapat diidentifikasi hubungan lapisan HFACS dengan aspek budaya. Analisis mengenai kebutuhan aspek budaya pada setiap lapisan HFACS pun dilakukan untuk mengevaluasi kandungan aspek budaya dalam HFACS dan menentukan apakah HFACS perlu ditambahkan aspek budaya. Persentase lapisan HFACS yang terlibat dalam kecelakaan penerbangan yang diteliti adalah Precondition for Unsafe Acts (34%), Unsafe Acts (32 %), Organizational Influences (19%), dan Unsafe Supervision (15%). Sedangkan sub lapisan HFACS yang paling dominan menjadi penyebab kecelakaan adalah Skill Based Errors (15,57%). Dimensi Universalism vs Particularism adalah dimensi budaya yang paling sering ditemukan sebagai budaya yang mempengaruhi penyebab kecelakaan. Pada HFACS awal, beberapa aspek budaya telah termasuk pada lapisan tertentu seperti Precondition for Unsafe Acts. Sementara lapisan yang perlu dipertimbangkan untuk dilengkapi dengan aspek budaya adalah Unsafe Acts– Decision Error, Unsafe Supervision, dan Organizational Influences – Organizational Process.
Hubungan Penanganan Beban Manual dengan Nyeri Punggung Bawah Erna Ariyani Abdillah
Jurnal Ergonomi dan K3 Vol 2, No 2 (2017): September 2017
Publisher : Perhimpunan Ergonomi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (806.087 KB) | DOI: 10.5614/j.ergo.2017.2.2.3

Abstract

Penangan Beban Manual (PBM) merupakan salah satu faktor risiko terjadinya keluhan Nyeri Punggung Bawah (NPB). NPB adalah salah satu Gangguan Otot Tulang Rangka (GOTRAK) pada daerah punggung. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan lingkungan kerja ergonomis (postur janggal dan pengerahan kekuatan otot dalam PBM) serta kapasitas kerja (kebiasaan merokok, masa kerja dan usia) dengan keluhan NPB pada karyawan PT.Perdagangan dan Perindustrian Bangkinang. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif analitik observasional dengan menggunakan desain studi penampang analitik (analitic crosssectional study). Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2016 hingga September 2016, jumlah sampel sebanyak 150 orang. Pengambilan data melalui observasi langsung, wawancara dan pengukuran dengan menggunakan metode analisis sikap kerja REBA. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil penelitian diperoleh proporsi keluhan NPB pada karyawan PT.Perdagangan dan Perindustrian Bangkinang adalah 61,3% dari sampel. Estimasi proporsi pada populasi dengan derajat kepercayaan 95% (61,222-61,378%). Variabel yang berhubungan dengan keluhan NPB adalah postur janggal dalam PBM (OR: 6,254; 95% CI: 2,155-18,150) dan usia (OR: 4,766; 95% CI: 4,151 – 21, 153). Disarankan kepada manajemen perusahaan untuk mengurangi kegiatan PBM dengan mengganti penanganan secara mekanis, melakukan pelatihan tentang teknik PBM yang aman dan benar bagi karyawan, melakukan rotasi penempatan unit kerja secara berkala.
Analisis Pengaruh Polusi Udara, Kebisingan, dan Getaran di Pintu Tol Lingkar Luar Jakarta terhadap Kenyamanan serta Performa Kognitif Operator Erlinda Muslim; Danu Hadi Syaifullah; Viky Muruatut Toyyibah
Jurnal Ergonomi dan K3 Vol 2, No 2 (2017): September 2017
Publisher : Perhimpunan Ergonomi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (704.772 KB) | DOI: 10.5614/j.ergo.2017.2.2.4

Abstract

Kondisi lingkungan di pintu tol yang buruk membuat operator berpotensi merasa tidak nyaman sehingga mempengaruhi performa kerja. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh polusi udara, kebisingan, dan getaran yang dianggap sebagai faktor lingkungan paling mengganggu, dengan menggunakan peralatan Haz dust IV, Noise Dosimeter, HVM 100, time study, dan kuisioner. Dengan menggunakan metode statistik regresi linear berganda, diperoleh ketiga faktor lingkungan berbanding lurus dengan waktu transaksi operator (time study), dimana polusi udara merupakan faktor yang paling signifikan secara statistik diikuti oleh getaran dan kebisingan.
Functional Evaluation Of Shoulder by Constant Score On Bandung Baseball Team Leonardo Lubis
Jurnal Ergonomi dan K3 Vol 2, No 2 (2017): September 2017
Publisher : Perhimpunan Ergonomi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.832 KB) | DOI: 10.5614/j.ergo.2017.2.2.1

Abstract

Throwing is a repeatedly movement in Baseball. This activity will make Baseball athlete susceptible to suffer shoulder joint injury. Injuries to the shoulder joint will decrease the function of the shoulder joint. Therefore, it is necessary to do early detection to prevent further injury. Constant score is one method that used to assess the shoulder joint’s function. An analytic study performed on eighteen professional Bandung baseball athletes. Constant score form, which was consisted of subjective and objective questionnaires, filled out by the athletes. Scores were obtained from each question and grouped into five, as follow: Poor=

Page 1 of 1 | Total Record : 5