cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 1 (2019): June" : 5 Documents clear
EFEKTIFITAS MAHSRABIYA SEBAGAI PEMBATAS VISUAL (HIJAB)GENDER: SEBUAH EKSPERIMEN MODEL 3D Mahathir, Said
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 6, No 1 (2019): June
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3125.717 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v6i1.32724

Abstract

Dalam studi yang dilakukan sebelumnya, Mashrabiya (kisi-kisi kayu) dianggap mampu memisahkan zona gender (santriwan-santriwati) pada sebuah perpustakaan pesantren di Kota Langsa, Aceh.Karena penelitian tersebut terbatas pada ekperimen skalatis (1:10) maka hasil yang didapatkan berpotensi bias jika diaplikasikan pada skala sebenarnya (1:1).Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk meminimalisir bias dan membuktikan keefektifan Mashrabiya sebagai panel segregasi pada skala manusia. Penggunaan metode eksperimen yang sama seperti pada penelitiansebelumnya terhadap objek skala 1:1 ini akan membutuhkan banyak biaya dan tenaga dalam membangun ruang uji dan pola Mashrabiya-nya. Maka dari itu, penggunakan model 3D merupakan preliminary eksperimen dan analisis yang bertujuan untuk mendapatkan data serta memperkecil jumlah variabel bebas seperti, jumlah lubang, ukuran lubang, luasan baluster, dan, ketebalan panel Mashrabiyassebagai data teknis utama untuk melubangi panel secara manual (handmade) pada penelitian berikutnya.Untuk mempermudah kontrol variabel dan mendapatkan data kuantitif yang presisi dari setiap transformasi modelnya maka eksperimen ini menggunakan perangkat lunak Rhinoceros dengan plug-in Grasshopper untuk membuat algoritma panel Mashrabiya.Hasilnya, dari 20 model 3D Mashrabiyayang disimulasikan hanya empat panel memenuhi syarat (Perforation Ratio) PR, (hole area) HA dan (baluster area) BA sehingga efektif bekerja sebagai pemabatas visual zona gender dan juga sangat adaptif terhadap akses keluar masuk cahaya dan udara. Dari sisi konstruksi pun panel–panel mahsrabiya yang terpilih ini masih sangat mungkin diproduksi secara manual (handmade).EFFCTIVENESS OF MASHRABIYA AS A VISUAL INTERFERENCE (HIJAB) BETWEEN GENDERS: A 3D MODEL EKSPERIMENTIn previous research, Mashrabiya (wooden lattice) have been concluded for being able to separate gender zone (male and female student) in a library of an Islamic boarding school (Pesantren) in Kota Langsa, Aceh. Since the experiment was limited on a scale model (1:10), the obtained result potentially lead to some biases if it is applied on a human scale model (1:1). Therefore, further research to minimize the biases and prove the effectiveness of Mashrabiya as gender segregator panel is needed. Applying the same experimental method as in the previous research on human scale model will cost a significant amount of experiment materials and labors in order to build a sample room and the patterns of Mashrabiya. Therefore, 3 dimensional (3D) model eksperimental method and analysis is a solution aimed at obtaining data, separating and  minimizing the number of independent variable such as, number of holes, size of holes, width of baluster area, and thickness of the panel; those technical data will be used in hollowing out the panel (manually) in the next research. To ease the control of variables and to obtain a precise quantitative data in every transformed 3D model, then this experiment utilizes Rhinoceros software with Grasshopper plug-in to produce the algorithm of Mashrabiya panels.The result conclude that from 20 of 3D models of Mashrabiya panels only four panels that qualified in term of (Perforation Ratio) PR, (hole area) HA and (baluster area) BA so then will work effectively as a visual interference panel between gender zones as well as very adaptive on natural lighting and air flow accessibility. In term of the Mashrabiya production, these chosen panels are still can be produced manually (handmade).
APLIKASI KONSEP ARSITEKTUR ORGANIK PADA BANGUNAN PENDIDIKAN Setyoningrum, Ayu; Anisa, Anisa
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 6, No 1 (2019): June
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1087.036 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v6i1.32905

Abstract

Arsitektur organik merupakan sebuah konsep arsitektur yang awal mulanya dicetuskan oleh Frank Lloyd Wright.Sejak zaman kecil, Frank Lloyd Wright sering mengamati hubungan yang terjadi antara manusia dengan lingkungannya.Hal tersebut yang menjadi dasar pemikirannya tentang arsitektur organik.Arsitektur organik ini pada dasarnya masih diperdebatkan mengenai panduan maupun batasan untuk desainnya.Namun beberapa peneliti sebelumnya telah mencoba mengamati dan merangkum konsep dari Arsitektur Organik. Arsitektur organik lebih mengacu pada keselarasan dengan alam sekitarnya, menciptakan satu kesatuan yang harmonis, dapat bertahan sepanjang waktu dengan bentuknya yang dinamis dengan alam, serta fungsional terhadap fungsi bangunannya.Fungsi bangunan pendidikan yakni sebagai fasilitas dalam pembelajaran untuk menambah ilmu pada penggunanya. Proses pembelajaran tersebut akan terasa lebih nyaman apabila ruang maupun kegiatanya menjadi satu kesatuan terhadap lingkungannya. Penerapan arsitektur organik pada bangunan pendidikan memungkinkan terciptanya suasana yang segar dalam kegiatan pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai penerapan arsitektur organik pada bangunan pendidikan. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif yang menganalisis bangunan pendidikan berdasarkan konsep arsitektur organik. APPLICATION CONCEPT OF ORGANIC ARCHITECTURE IN EDUCATIONAL BUILDINGS Organic architecture is an architectural concept which was originally coined by Frank Lloyd Wright. Since childhood, Frank Lloyd Wright has often observed the relationships that occur between humans and their environment. This is the basis of his thinking about organic architecture. This organic architecture is still debated about the guidelines and limits for the design. But some researchers have previously tried to observe and summarize the concepts of Organic Architecture. Organic architecture refers more to harmony with the surrounding environment, creates a harmonious whole, can survive all the time with its dynamic form with nature, and functional to the function of the building. The function of educational buildings is as a facility in learning to add knowledge to its users. The learning process will feel more comfortable if space and activities become a unity to the environment. The application of organic architecture to educational buildings enables the creation of a fresh atmosphere in educational activities. This study aims to get an overview of the application of organic architecture to educational buildings. The method used is a descriptive qualitative analysis of educational buildings based on the concept of organic architecture
PENGARUH TATA RUANG PADA PENGHAWAAN ALAMI RUMAH VERNAKULAR MELAYU PONTIANAK Caesariadi, Tri Wibowo
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 6, No 1 (2019): June
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1575.591 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v6i1.33160

Abstract

Arsitektur vernakular adalah arsitektur yang memiliki respon yang baik terhadap iklim setempat. Hal ini juga berpengaruh terhadap kenyamanan termal dalam bangunan. Sebagai kota yang memiliki iklim tropis lembab, kenyamanan termal bangunan di Kota Pontianak banyak ditentukan oleh pergerakan angin yang terjadi di dalam bangunan. Adaptasi terhadap iklim pada rumah vernakular melayu Pontianak tidak hanya pada penggunaan elemen bangunan seperti bukaan dan bahan bangunan, juga pada tata ruang yang khas, di antaranya terdapat teras, ruang tengah serta pelataran belakang yang memisahkan rumah induk dengan rumah anak. Tujuan penelitian adalah melihat apakah tata ruang ini berpengaruh terhadap penghawaan alami di ruang dalam. Penelitian dilakukan dengan pengukuran di lapangan terhadap variabel kenyamanan termal, terutama temperatur dan kelajuan angin. Kemudian hasil pengukuran dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan dilihat hubungan antara variabel dengan tata ruang, yaitu bagaimana temperatur dan kelajuan angin yang berbeda terjadi di setiap ruang, sehingga dapat ditarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata ruang di rumah vernakular melayu Pontianak, yaitu hadirnya teras dan pelataran belakang turut berperan dalam penghawaan alami yang terjadi di ruang dalam. Teras berperan dalam menurunkan temperatur luar yang masuk ke dalam bangunan (30,74 °C di ruang luar, lalu 29,84 °C di teras depan, dan 29,09 °C di ruang dalam). Pelataran belakang serta tata ruang dalam memberikan pergerakan angin yang lebih baik, ditunjukkan dengan selisih yang kecil antara kelajuan angin di ruang dalam dengan ruang luar pada rumah dengan pelataran belakang (0,51 m/s) dibandingkan dengan rumah tanpa pelataran belakang (0,77 m/s).EFFECT OF SPACE LAYOUT TO NATURAL VENTILATION IN MELAYU PONTIANAK VERNACULAR HOUSEVernacular architecture is architecture that has good response to local climate. This also affects the thermal comfort in the building. As a city that has a humid tropical climate, the thermal comfort of buildings in Kota Pontianak is largely determined by the movement of the wind that occurs inside the building. Adaptation to climate in Pontianak's melayu vernacular house is not only on the use of building elements such as openings and building materials, but also on the typical spatial layout, including a terrace, a central room and a back veranda that separates the main house from the secondary house. The aim of the study was to see whether this spatial arrangement has an effect on natural ventilation in the indoor space. The study was conducted with measurements of thermal comfort variables, especially temperature and wind speed. Then the measurement results were analyzed descriptively quantitatively and viewed the relationship between variables and spatial arrangement – i.e. how the temperatures and wind speed differ in each rooms – so that conclusions could be drawn. The results showed that the layout in Pontianak's melayu vernacular house, namely the presence of terraces and back veranda, played a role in the natural ventilation that occurred in the indoor space. The terrace plays a role in reducing the outside temperature that enters the building (30.74 °C in the outdoor, then 29.84 °C on the front terrace, and 29.09 °C in the indoor). Back veranda and spatial layout provide better wind movement, indicated by small difference between the speed of wind in the indoor and the outdoor space of the house with back veranda (0.51 m/s) compared to the house without back veranda (0.77 m/s).
ARSITEKTUR MELAYU: IDENTIFIKASI RUMAH MELAYU LONTIAK SUKU MAJO KAMPAR Faisal, Gun
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 6, No 1 (2019): June
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1559.244 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v6i1.31007

Abstract

Arsitektur melayu memiliki tipologi yang sangat banyak, diantaranya rumah melayu Limas, rumah Lontiak, rumah Begonjong, rumah beratap Layar dan Bersayap, rumah Melayu Peranakan (campuran etnis China), serta beberapa tipikal rumah melayu lainnya. Selain memiliki 4 (empat) ruangan yaitu selasar, rumah induk, telo dan penanggah, rumah melayu juga memiliki ornamen yang terdapat pada atap lisplank dan dinding serta tiang rumah. Salah satu rumah tradisional yang ada di kabupaten Kampar yaitu Rumah Lontiok (Lentik) Melayu Majo. Tulisan ini mengidentifikasi dan mendokumentasikan rumah ini sebagai salah satu bangunan melayu yang perlu dijaga dan dilestarikan. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus digunakan dalam penelitian ini dikarenakan objek penelitian yang sudah hilang dimakan usia. Teori tentang arsitektur Melayu dan ornamen bangunan Melayu sebagai background knowledge dengan didukung informasi yang diperoleh dari literatur dan data dilapangan serta pelaku kegiatan dalam lingkup penelitian. Pengolahan dan analisis data dilanjutkan dengan mengevaluasi dan membuat sketsa dan penggambaran ulang, kemudian diakhiri dengan penyusunan hasil temuan lapangan. Secara umum rumah ini dibagi kedalam 2 (dua) masa bangunan, bagian pertama yaitu rumah induk, dan yang kedua yaitu dapur, terdapat penghubung antara rumah induk dan dapur. Rumah melayu Majo merupakan bangunan bertipologi panggung dengan ciri khas atap Lontiak. Ornamen yang pertama kali terlihat pada rumah ini adalah Selembayung atau Tanduk Buang, terdapat pula ornamen seperti tombak terhunus yang disebut tombak-tombak begitu juga dengan sayap layang-layang yang terletak pada keempat sudut atap. Bermacam jenis ukiran juga terdapat pada setiap sudut bangunan ini.MALAY ARCHITECTURE: IDENTIFICATION MALAY LONTIAK HOUSE OF KAMPAR MAJO TRIBEMalay architecture has a lot of typologies in roof forms, such as Limas, Lontiak, Begonjong, Layar and Sayap, Peranakan (a mixture of ethnic Chinese), and several other typical Malay houses. One of the traditional houses in Kampar regency is the Lontiok (Lentik) Melayu Majo house which was built involving the wider community and traditional ceremonies. This paper identifies and documents this house as one of the Malay buildings that need to be preserved. The research method used is a qualitative research method with a case study approach. The theory of Malay architecture and ornaments as background knowledge is supported by information obtained from the literature, field data, and activity actors within the scope of research. Processing and analysis data is continued by evaluating, sketching, and re-drawing, then ending with the preparation of field findings. In general, this house is divided into 2 (two) building part, the first line is the main house, and the second building mass is the kitchen, there is a connection between the main house and the kitchen. Majo Melayu House is a stage building with the characteristic of Lontiak roof. The ornaments that were first seen in this house is Selembayung or Tanduk Buang; there were also ornaments such as unsheathed spears called Tombak-tombak and Sayap Layang-layang on the four corners of the roof. Various types of carvings are found in every segment of this building.
PENERAPAN GAYA ARSITEKTUR RUMAH TRADISIONAL BALI DALAM RANCANGAN RUMAH ETNIS JAWA-MANADO DI SURABAYA Rosilawati, Hana
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 6, No 1 (2019): June
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (784.232 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v6i1.33138

Abstract

Rumah tradisional Bali memiliki penataan massa yang berbeda dengan rumah tradisional lainnya. Ketika merancang penataan massa rumah tradisional Bali, diperlukan proses yang erat kaitannya dengan budaya Bali yang merupakan wujud pengaturan tingkah laku agama Hindu dalam mengharmonisasikan alam semesta dan segala isinya/ makrokosmos (Bhuana Agung) dengan mikrokosmos (Bhuana Alit). Penataan massa tersebut dibedakan menjadi utama, madya, dan nista, dimana dalam penataannya dapat mengalami perkembangan dan perubahan yang dapat dipengaruhi dari latar belakang, kepercayaan, dan etnis, serta kebutuhan dan keinginan pemilik rumah. Seperti halnya pada Rumah milik pensiunan angkatan laut yang beretnis Jawa-Manado di Jalan Semolowaru, Surabaya, yang menjadi studi kasus penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan penerapan tatanan massa rumah tradisional Bali pada obyek studi yang pemiliknya beretnis Jawa-Manado. Prinsip-prinsip tata aturan penataan massa rumah tradisional Bali tidak sepenuhnya diikuti pada obyek studi. Pengadopsian tatanan massa dilakukan pada beberapa massa bangunan tanpa memikirkan makna sesungguhnya pada rumah tradisional Bali.APPLICATION OF TRADITIONAL BALINESE HOUSES MASS ORDER ON DESIGNING OF JAVANESE-MANADO ETHNIC HOUSES IN SURABAYA Traditional Balinese houses have a different mass arrangement from other traditional houses. When designing the mass arrangement of traditional Balinese houses, a process that is closely related to Balinese culture is a form of regulation of Hindu behavior in harmonizing the universe and all its contents/ macrocosm (Bhuana Agung) with microcosm (Bhuana Alit). The structuring of the masses can be divided into main (utama, intermediate (Madya), and contemptible (nista), whare in its arrangement can experience developments and changes that can be influenced from background, beliefs, and ethnicity, as well as the needs and desires of the homeowner. As is the case with the Javanese-Manado ethnic retired house on Semolowaru street, Surabaya, which is a research case study. This study aims to describe the application of the mass order of traditional Balinese houses to the study objects whose owners are Javanese-Manado ethnic. The Principles of the regulation of the mass of traditional Balinese houses are not fully followed in the object of study. Adoption of mass order is carried out on several building masses without thinking about the real meaning of traditional Balinese houses.

Page 1 of 1 | Total Record : 5