cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
E-Structural
ISSN : 26218844     EISSN : 26219395     DOI : -
E-Structural is a scientific journal that is managed and published by the English Department of Universitas Dian Nuswantoro, Semarang, Indonesia. It is committed to publishing studies in the areas of English linguistics, literature, translation, and culture. E-Structural is published twice a year, in June and December. The articles published in E-Structural undergo a peer-review process by local and international reviewers
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 02 (2020): December 2020" : 6 Documents clear
Strategies in Teaching Speaking used by Teachers of Young, Junior High School, Senior High School, and University Students Heidy Wulandari
E-Structural (English Studies on Translation, Culture, Literature, and Linguistics) Vol 3, No 02 (2020): December 2020
Publisher : Universitas Dian Nuswantoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/es.v3i02.4225

Abstract

Abstract. This study aims at describing strategies in teaching speaking adopted by teachers of different student levels. The method used was descriptive qualitative method with 32 participants. The instrument was interview in the form of focused group discussion. The data were analyzed using open coding and categorization. The result shows that teachers of all levels tend to consider students’ needs, the components of teaching speaking, and the media. For young learners, the teachers use discussion, story-telling, speech, guessing game, problem solving, and simulation. Games, modeling, electronic media, and instruction are suggested by the teachers as additional strategies. Meanwhile the strategies used for teaching speaking to junior high school students are discussion, story-telling, guessing game, and role play. Direct speaking is suggested as additional strategy. Moreover for teaching speaking to senior high school students, the teachers choose strategies such as discussion, story-telling, speech, guessing game, role play, problem solving, simulation, information gap, and jigsaw. Additional strategies suggested by the teachers are building sentences from root, talking stick, team game tournament, think pair and share, snowball throwing game, think, discuss and share, talking English directly, give and take model, time token model, repeat pronouncing words, and media and teacher as model. Then for teaching speaking to university students, the strategies chosen are role play, discussion, story-telling, problem solving, speech and simulation, guessing game, and information gaps. The additional strategies suggested by the teachers are hot seat and presentation. Finally, it is recommended that the further research will take time limitation, and the strategies strengths and weaknesses into account. Keywords: speaking, strategies, teaching Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang strategi mengajar berbicara bahasa Inggris yang dipakai guru dalam mengajar siswa dengan level berbeda. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan 32 partisipan. Instrumen yang digunakan adalah wawancara dalam bentuk fokus grup diskusi. Analisis data dilakukan dengan koding dan kategorisasi. Hasil analisa menunjukkan bahwa guru cenderung mempertimbangkan kebutuhan siswa, komponen dalam mengajar speaking, dan media. Untuk mengajar anak-anak guru menggunakan strategi diskusi, bercerita, berpidato, tebak-tebakan, penyelesaian masalah, dan simulasi. Permainan, model, media elektronik dan instruksi disarankan oleh para guru sebagai strategi tambahan. Sementara itu untuk mengajar berbicara bahasa Inggris pada siswa SMP, strategi yang digunakan adalah diskusi, bercerita, tebak-tebakan, dan bermain peran. Berbicara langsung disarankan sebagai strategi tambahan. Selain itu, untuk mengajar berbicara bahasa Inggris pada siswa SMA, guru memilih strategi seperti diskusi, bercerita, pidato, tebak-tebakan, bermain peran, penyelesaian masalah, simulasi, gap informasi ,dan jigsaw. Strategi tambahan yang disarankan oleh para guru adalah membuat kalimat dari akar kata, tongkat berbicara, turnamen tim, berpikir, berpasangan, dan berbagi, lempar bola salju, berpikir, berdiskusi, dan berbagi, berbicara langsung bahasa Inggris, memberi dan menerima, model token waktu, dan mengucapkan kata berulang. Kemudian untuk mengajar mahasiswa, strategi yang dipilih adalah bermain peran, diskusi, bercerita, penyelesaian masalah, berpidato dan simulasi, tebak-tebakan, dan gap informasi. Strategi tambahan yang disarankan oleh para guru adalah kursi panas dan presentasi. Penelitian ini tidak mempertimbangkan kekurangan dan kelebihan dari setiap strategi. Oleh karena itu aspek kekurangan dan kelebihan dari strategi mengajar speaking di level berbeda sangat direkomendasikan bagi penelitian selanjutnya. Kata kunci: berbicara bahasa Inggris, mengajar, strategi
The Use of the Six English Tenses in Students’ Daily Conversation Maulana Yusuf Aditya; Chairuddin Chairuddin
E-Structural (English Studies on Translation, Culture, Literature, and Linguistics) Vol 3, No 02 (2020): December 2020
Publisher : Universitas Dian Nuswantoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/es.v3i02.4229

Abstract

Abstract. For English learners, there are important aspects to consider such as vocabulary, pronunciation and grammar to master their speaking skills. Speaking is used to express people’s ideas and feelings in daily life or to communicate with others both personal talks and transactional conversation.  The objective of the study is to figure out how the students of SMKN 2 Bangkalan can use the six English tenses in daily conversation. The research was done within two weeks starting from 22th April to 06th May 2019. Observation and interview were performed to collect the data. Observation was made to see what was going on in the class, focusing on the students’ conversation. On the other hand, Interview was carried out to know the students’ problems in using the correct tenses in conversation, and to find out how the students solve the problems. The observation shows that in using the six English tenses, the students likely found it hard to apply the correct tenses in the conversation with their friends and the teacher. The students tended to use one tense in all situations and the tense mostly used was the simple present one. From the interview, it is found that the students do not really understand what tenses are, either the meaning or the uses.Keywords: daily conversation, tenses, observation, interview, contexts of situationAbstrak. Bagi pembelajar Bahasa Ingggris, terdapat aspek penting seperti kosakata, pengucapan dan tatabahasa yang harus diperhatikan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggrisnya. Kemampuan berbicara khususnya digunakan untuk menyampaikann semua yang ada dalam benak kita seperti misalnya ide dan perasaan dalam kehidupan sehari-hari, baik itu berupa perkataan pribadi atau pun percakapan transaksional. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana murid dapat menggunakan enam kala (tenses) dalam percakapan sehari-hari sesuai dengan kontek situasi, di SMKN 2 Bangkalan. Penelitian dilakukan selama 2 minggu dimulai tanggal 22 April s/d 06 Mei 2019. Penelitian dilakukan dengan 2 langkah seperti observasi dan wawancara. Observasi dilakukan untuk mengetahui yang terjadi dalam selama proses pembelajaran dan fokus pada cara murid bercakap. Wawancara dilakukan oleh peneliti untuk mengetahui permasalahan pada murid dalam menggunakan tenses yang benar dan bagaimana murid mengatasi masalah penggunaan kala yang benar tersebut. Dari hasil observasi dapat diketahui bahwa penggunaan enam kala dalam percakapan sehari-hari dari murid adalah buruk, mereka tidak bisa mengaplikasikan kala yang sesuai dalam percakapan, baik dengan teman dan guru. Mereka cenderung menggunakan satu kala dalam  percakapan dalam konteks situasi yang berbeda dan tense yang digunakan adalah Simple Present Tense.Kata kunci: percakapan, kala, observasi, wawancara, konteks situasi
The Correlation between Students’ Performance in Integrated Exercises and Their Academic Achievements in English Course for Non-English Department Qorinta Shinta
E-Structural (English Studies on Translation, Culture, Literature, and Linguistics) Vol 3, No 02 (2020): December 2020
Publisher : Universitas Dian Nuswantoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/es.v3i02.4171

Abstract

Abstract. The English Course in Public Health Faculty of Diponegoro University is expected to develop the reading skills of the students through various exercises. However, its main goal is to help students identify simple, complex and compound sentences and how to organize them into good paragraphs. As in the Faculty of Public Health, the English Course is only given once in the first Semester, the exercises in each of the lesson is very compact which consists of Reading Text, Comprehension Questions, Word Study, Grammar and Usage, and Writing, in short these are called integrated exercised. Some students did very well on the exercises while others did not. The purpose of the study is to examine the relationship between the students’ performance in integrated exercises and their academic achievements of Diponegoro University Students majoring in Public Health who took English Course. The academic achievements in this study refer to their Mid-Term test Scores. Method of the Study: in the study of Diponegoro University Freshmen majoring in Public Health, a descriptive qualitative method was used to determine whether or not there is a correlation between reading and writing exercises and their academic achievements. The instruments used are the scores of 3 taken from exercises in unit 1, 2 and 3 and 1 Mid-Term test. The population of this research is 73 Public Health students of Diponegoro University taking English 1 Course. The data analysis result shows that Sig score is 0,000 < 0,05 therefore Ho is declined and Ha is accepted, which means there is a correlation between reading and writing practices scores and mid test scores 0.403 which is positive. Therefore, it can be concluded that the higher their writing scores are, the higher mid test scores will be.Key words: correlation, English course, integrated exercises, mid-term testAbstrak.  Mata kuliah Bahasa Inggris di Fakultas Kesehatan Masyarakat diharapkan mampu mengembangkan ketrampilan membaca mahasiswa memalui berbagai Latihan soal-soal. Namun, tujuan utama dari mata kuliah ini adalah membantu para mahasiswa menindentifikasi kalimat – kalimat sederhana, kompleks dan majemuk serta bagaimana membentuk kalimat – kalimat tersebut dalam bentuk paragraph. Karena mata kuliah Bahasa Inggris hanya disajikan satu kali, maka latihan-latihan soal pada setiap unit dibuat sangat padat yang terdiri dari Teks Bacaan, Pertanyaan tentang bacaan, Kosakata, Grammar dan fungsinya, serta Latihan writing. Ada mahasiswa yang bisa mengerjakan Latihan soal dengan sangat baik tetapi ada juga yang kesulitan. Tujuan dari peneltian ini adalah untuk melihat korelasi antara Nilai dari Latihan soal reading dan writing serta prestasi akademik dari Mahasiwa baru Universitas Diponegoro jurusan Kesehatan Masyarakat. Prestasi akademik dalam hal ini adalah nilai Mid-term test mereka. Dalam penelitian pada mahasiswa baru Universitas Diponegoro jurusan Kesehatan Masyarakat, digunakan metode deskriptif kualitatif untuk menetukan apakah ada atau tidak ada korelasi antara Latihan soal reading dan writing dengan prestasi akademik mereka. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini  adalah 3 nilai yang diambil dari 3 latihan soal Unit 1, 2 dan 3. Jumlah populasi adalah 73 Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro yang mengambil mata kuliah Bahasa Inggris 1. Hasil dari data analisis menunjukkan bahwa nilai Sig  0,000 < 0,05  sehingga Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti ada korelasi antara nilai Latihan writing dengan nilai ujian tengah semester 0.403 positif. Sehingga bisa disimpulkan bahwa semakin tinggi nilai mereka pada Latihan writing akan semakin tinggi juga nilai mereka dalam Ujian Tengah Semester.Kata kunci: korelasi, mata kuliah bahasa Inggris, nilai latihan soal terpadu, nilai Ujian Tengah Semester
Frequent Errors in Consonant Sound Production of Elementary Education Teachers at Visayas State University Precious C Domingo
E-Structural (English Studies on Translation, Culture, Literature, and Linguistics) Vol 3, No 02 (2020): December 2020
Publisher : Universitas Dian Nuswantoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/es.v3i02.4221

Abstract

Abstract. Pronunciation is essential in language learning; thus, English learners as a second language should strive for articulateness in sound patterns in English. This study aimed to determine the commonly mispronounced consonant sound of the Bachelor of Elementary Education students of the Visayas State University according to the manner and place of articulation. The instrument used in the study is the Golden-Fristoe Test of Articulation, which is composed of 44 words containing the different consonant sounds in English. The study results revealed that most consonant sounds misarticulated by the respondents were fricatives /z/, the nasal consonant sound /m/, the fricative sound /ð/, the affricate /dz/. With respect to the place of articulation, most consonant sounds misarticulated by the respondents concerning the place of articulation were alveolar /z/, the velar consonant sound /m/, the interdental sound /ð/, the post-alveolar /dz/. With these results, it is expected for the Filipino English language teachers to focus on teaching the alveolar and labiodental fricatives in teaching the consonant sounds because most students failed to articulate these sounds correctly.Keywords: English language, consonant sounds, pronunciationAbstrak.  Pelafalan sangat penting dalam pembelajaran bahasa. Oleh karena itu, pelajar bahasa Inggris sebagai bahasa kedua harus berusaha keras untuk mengartikulasikan pola bunyi dalam bahasa Inggris. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bunyi konsonan yang sering salah diucapkan pada mahasiswa S1 Pendidikan Dasar Universitas Negeri Visayas menurut cara dan tempat artikulasi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Golden-Fristoe Test of Articulation, yang terdiri atas 44 kata yang berisi bunyi konsonan yang berbeda dalam bahasa Inggris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bunyi konsonan yang paling banyak salah artikulasi oleh responden adalah bunyi konsonan / z /, bunyi konsonan nasal / m /, bunyi frikatif / ð /, afrikat / dz /. Sehubungan dengan tempat artikulasi, sebagian besar bunyi konsonan yang salah diartikulasikan oleh responden mengenai tempat artikulasi adalah alveolar / z /, bunyi konsonan velar / m /, bunyi interdental / ð /, post-alveolar / dz /. Dengan hasil tersebut diharapkan para pengajar bahasa Inggris Filipina dapat fokus dalam mengajarkan frikatif alveolar dan labiodental dalam mengajarkan bunyi konsonan karena sebagian besar siswa gagal mengucapkan bunyi tersebut dengan benar. Kata kunci: bahasa Inggris, bunyi konsonan, pelafalan
Cinderella Syndrome of Working Women in Cyber Literature Eva Fatimah; Imas Istiani
E-Structural (English Studies on Translation, Culture, Literature, and Linguistics) Vol 3, No 02 (2020): December 2020
Publisher : Universitas Dian Nuswantoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/es.v3i02.4338

Abstract

Abstract. Cyber literature has been academically recognized in literary studies through multiple research studies. Cyber literature is manifested in various cyberspace, both maintained individually and professionally. Writing platforms on the internet, such as Wattpad, have been widely used. They provide space for writers and engage readers to create online writing communities. One of the most popular genres found in cyber literature is romance chick-lit, in which most main characters are working women. Although most protagonists are working women who are financially independent, they still search for men who have higher positions, social levels, and financial stability. They wish that such men will find and save them, referred to by Colette Dowling as Cinderella complex. The study investigates the Cinderella complex's indications on female protagonists in two Wattpad chick lit works: 1) Furious Boss & Naughty Secretary, and 2) Ex-lovers but Married. The indications of Cinderella Complex were shown through 1) the wish to be saved, 2) the girl-child lives on, 3) the achievement gap, 4) the intimations of helplessness, and 5) the blind devotion.Keywords: Cinderella complex; cyber literature, WattpadAbstrak. Sastra cyber sudah diperhitungkan sebagai bagian dari studi sastra secara akademik melalui berbagai penelitian yang sudah dilakukan. Sastra cyber terwujud di dalam berbagai ruang cyber, baik itu dijalankan secara individual maupun profesional. Platform menulis pada internet seperti Wattpad sudah marak digunakan sebagai tempat berkarya bagi penulis serta menarik perhatian pembaca untuk menciptkana suatu komunitas menulis secara online. Salah satu genre populer pada sastra cyber adalah chicklit romantis yang mana karakter utamanya adalah wanita pekerja.  Meskipun protagonis wanita merupakan wanita pekerja yang independen secara finansial, mereka masih mengharapkan pasangan yang berada di posisi, tingkat sosial dan kestabilan finansial yang lebih besar dari mereka. Studi ini bertujuan untuk mencari indikasi adanya Cinderella complex pada karakter protagonis perempuan melalui dua karya chicklit di Wattpad, yaitu: 1) Furious Boss & Naughty Secretary, dan 2) Mantan Tapi Menikah. Indikasi Cinderella complex yang ditemukan adalah 1) keinginan untuk diselamatkan, 2) gadis-kecil yang hidup di dalam diri, 3) kesenjangan prestasi, 4) tanda ketidakmampuan, dan 5) kepatuhan yang buta.Kata kunci: Cinderella complex; sastra cyber, Wattpad
Blended Learning in Pronunciation Classroom for Higher Education: Students’ Perception Al-Fisyar Tiara; Sukma Nur Ardini; Dyah Nugrahani
E-Structural (English Studies on Translation, Culture, Literature, and Linguistics) Vol 3, No 02 (2020): December 2020
Publisher : Universitas Dian Nuswantoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/es.v3i02.4414

Abstract

Abstract. With skyrocketing development of online learning due to the Covid-19 outbreak, pronunciation classroom is one of the evidences that was quite affected by this pandemic situation. The controversial mindset, that this lesson needs literally face-to-face practices since they relate to organ speech's output, leads the authors into this investigation. This paper was aimed at finding out students' response toward the implementation of blended learning in pronunciation classrooms. The research design was descriptive quantitative with the population of 176 fourth semester students of English Education Department of Universitas PGRI Semarang in the academic year of 2019/2020, and 28 students coming from 4A to 4D were taken as the sample. The data were collected online through Google Form using a perception questionnaire and confirmed by phone call interview preceded by classroom observation. The data from the questionnaire were then analyzed quantitatively to determine the level of students' perception supported by descriptive data from the interviews. The results indicated that students' perception toward blended learning in the Pronunciation classroom was in the level of intermediate. Additionally, the interview revealed that the students were satisfied with blended learning implementation in Pronunciation classroom. They preferred online classes which were balanced in terms of assignment-giving and learning material. Too many assignments with fewer materials only burden the students. Therefore, the lecturers were suggested to consider their ability in handling the class, which also interests students in engaging the online classes more.Keywords: blended learning; pronunciation, higher education, students' perceptionAbstrak. Pesatnya perkembangan pembelajaran online akibat dari wabah Covid, kelas pronunciation sebagai salah satu bukti yang cukup terpengaruh oleh situasi pandemi ini. Pola pikir kontroversi, bahwa pelajaran pronunciation benar-benar membutuhkan praktik tatap muka karena berkaitan dengan luaran speech organs, sehingga mengarahkan peneliti ke permasalahan ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons mahasiswa terhadap penerapan blended learning di kelas pronunciation. Desain penelitian adalah deskriptif kuantitatif dengan populasi 176 mahasiswa semester IV Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas PGRI Semarang tahun ajaran 2019/2020 dan diambil sampel 28 mahasiswa dari 4A sampai 4D. Pengumpulan data dilakukan secara online melalui google form menggunakan kuesioner persepsi dan dikonfirmasi dengan wawancara melalui telepon yang didahului dengan observasi kelas. Data dari kuesioner dianalisis secara kuantitatf didukung oleh data interview yang dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi mahasiswa terhadap blended learning di kelas pronunciation berada pada level intermediate. Selain itu, hasil wawancara menunjukkan bahwa mahasiswa merasa puas dengan penerapan blended learning di kelas pronunciation. Mereka lebih menyukai kelas online yang seimbang dalam hal pemberian tugas dan materi pembelajaran. Terlalu banyak tugas dengan materi yang lebih sedikit hanya akan membebani mahasiswa. Oleh karena itu, para dosen disarankan untuk mempertimbangkan kemampuannya dalam menangani perkuliahan yang juga menarik minat mahasiswa untuk lebih banyak terlibat dalam kelas online.   Kata kunci: blended learning; pronunciation, pendidikan tinggi, persepsi mahasiswa

Page 1 of 1 | Total Record : 6