cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JURNAL TATA KELOLA SENI
ISSN : 24429589     EISSN : 26147009     DOI : -
Jurnal Tata Kelola Seni adalah jurnal yang dikelola oleh Program Studi Tata Kelola Seni, Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Jurnal ini memuat hasil penelitian dan tinjauan buku dalam bidang tata kelola, terkhusus di wilayah seni.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2016): Desember 2016" : 8 Documents clear
Seniman sebagai Pemilik Galeri Studi Komparasi antara Tiga Manajemen Galeri Swasta di Yogyakarta Heri Wijayanto
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 2, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Program Pascasarjana ISI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3107.744 KB) | DOI: 10.24821/jtks.v2i2.1854

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan manajemen galeri swasta di Yogyakarta dan peran pemilik galeri yang berprofesi sebagai seniman, masing-masing galeri memiliki ciri khas yang membedakan dengan galeri lainnya. Manfaat penelitan ini menjelaskan tentang manajemen dalam galeri swasta, antara lain: “Museum Dan Tanah Liat”, “Kersan Art Studio” dan “Sangkring Art Space”. Seniman yang ingin berpameran setidaknya mengerti akan pentingnya jaringan pertemanan dan lebih memahami akan karakter galeri yang menjadi tujuan pameran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan menggunakan data primer sebagaimana peneliti lakukan melalui wawancara kepada pemilik galeri dan manajemen galeri, sedangkan data sekunder digunakan untuk mendukung penelitian dengan mengumpulkan dokumen seperti katalog, poster dan media promosi yang digunakan dalam internet. Membandingkan hasil peneltian yang didapat dengan mencari perbedaan pada peran pemilik dan manajemen dalam galeri. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa setiap pemilik galeri memiliki peran masing-masing terhadap manajemen. Kurator dalam sebuah manajemen memiliki peran yang sangat penting untuk menafsirkan karya seni rupa dan mematangkan sebuah konsep kegiatan pameran. Jaringan pertemanan menjadi paling penting dalam sebuah galeri, karena setiap galeri yang memamerkan karya seni tidak jauh dari pertemanan tersebut. Direktur atau General Manager sebagai pengendali utama dalam manajemen, galeri rata-rata tidak memiliki latar belakang pendidikan manajemen, meski demikian, manajemen galeri menerapkan teori fungsi manajemen mengenai; 1) Perencanaan dan penyusunan strategi, 2) Pengorganisasian, 3) Pengendalian, 4) Memimpin dan mengembangkan karyawan. This study aims to determine the differences between private gallery management in Yogyakarta and the role of gallery owners who work as artists. Each gallery has distinctive characteristics that differentiate it from others. The benefit of this research explains about the management of private galleries: "Museum dan Tanah Liat", "Kersan Art Studio" and "Sangkring Art Space". Artists who want to exhibit their artworks should at least understand the importance of friendship networking and better understand the character of the gallery in which the exhibition is held. The method used in this study is descriptive qualitative in which primary data was obtained by interviewing gallery owners and gallery management, while secondary data was used to support research by collecting documents such as catalogs, posters and promotional media in the internet. Then, the data was processed by coding the indicator that became the result of the interview and analysis. The result of the analysis is to compare the three galleries with the differences in each of the galleries. There is a difference in the role of gallery owners to the management, program activities and criteria of the artworks exhibited in each gallery. The results of this study indicate that each gallery owner has their own respective roles toward management. The curator in a management has a very important role to interpret the artworks and finalize a concept of exhibition activity. Friendships are the most important in a gallery because every gallery exhibit artworks which are not far from that friendship. Evenly, directors or general managers as the main controller in management does not have management education background, however, the gallery management implements the management function theory regarding; 1) strategic planning and preparation, 2) organizing, 3) controlling, 4) leading and developing employees.
Hubungan Motivasi dan Kepuasan Relawan pada Organisasi Seni Jangkung Putra Pangestu
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 2, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Program Pascasarjana ISI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3067.538 KB) | DOI: 10.24821/jtks.v2i2.1821

Abstract

Relawan merupakan asset penting pada organisasi seni. Memahami motivasi dan kepuasan sangat diperlukan dalam merekrut maupun mengelola relawan. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan motivasi dan kepuasan relawan selama mengikuti kegiatan sukarela di tiga organisasi seni yaitu Komunitas Gayam 16, Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) dan Yayasan Biennale Yogyakarta. Metode yang digunakan adalah metode survey dengan kuesioner Volunteer Functions Inventory (VFI) yang disusun oleh Clary, dkk (1998). Data diperoleh dari 179 responden dengan cara menyebarkan kuesioner cetak dan kuesioner elektronik (GoogleForm). Data yang terkumpul, dianalisis menggunakan metode analisis deskriptif, korelasi product moment Kruskall-Wallis dan Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari enam dimensi motivasi yang diajukan, fungsi pemahaman, fungsi karir dan fungsi peningkatan, mempunyai peran penting dalam memotivasi seseorang menjadi relawan, serta mempunyai hubungan yang kuat dan signifikan dengan kepuasan. Motivasi relawan juga dapat dipengaruhi oleh jenis organisasi dan faktor demografi. Temuan ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi para pengelola untuk mendapatkan relawan yang sesuai dengan organisasi. Pengelola dapat menyusun sistem pengelolaan relawan yang efektif meskipun hasil dari penelitian ini tidak bisa digeneralisir. Penelitian ini diharapkan menjadi titik awal bagi penelitian berikutnya mengenai kesukarelawanan pada organisasi seni. Volunteers are the most important assets of an arts organization. Understanding motivation and satisfaction is needed in recruiting and managing the volunteer. The m ain purpose of this research is to find out the correlation between volunteer motivation and satisfaction in three arts organizations, Komunitas Gayam 16, Jogja-NETPAC Asian Film Festival and Yayasan Biennale Jogja. The method used is survey method using Vo lunteer Function Inventory (VFI) developed by Clary et al. (1998). Data from 179 respond ents were collected through an hard copy and online questionnaires managed through GoogleForm. The collected data were analyzed using discriptive statistics, produc t moment correlation, Kruskall-Wallis dan Mann-Whitney. The result indicated that among six motivation functions, the understanding, career and enhancement are the most popu lar reasons for volunteering and significanly related to volunteer satisfaction level. Vo lunteer motivation can also be influenced by organization type and demographic factors. Th is findings have implication for arts manager to get the type of volunteer for their p articular type of organization. The arts manager can develop effectively volunteer m anagement system. This study serves as a starting point for more research on volunteerism in ar ts organizations.
Pengaruh Live Performance, Kualitas Pelayanan, dan Persepsi Harga terhadap Kepuasan Penonton Sendratari Ramayana Prambanan Elvira Elvira
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 2, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Program Pascasarjana ISI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4585.879 KB) | DOI: 10.24821/jtks.v2i2.1822

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh live performance, kualitas layanan, danpersepsi harga terhadap kepuasan khalayak Sendratari Ramayana Prambanan. Penelitian dilakukan di Teater dan Pertunjukan Panggung Sendratari Ramayana Prambanan, kawasanwisata Candi Prambanan, Kota Yogyakarta dengan sampel mengumpulkan sebanyak 100responden di panggung tertutup Gedung Tri Murti dan panggung terbuka RamayanaPrambanan. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode survei menggunakankuesioner dengan teknik accidental sampling. Metode analisis menggunakan analisis regresiberganda dan bertahap pada Uji Sampel Uji Independen T-Test. Hasil penelitian regresi padapanggung tertutup secara statistik menunjukkan nilai F0 sebanyak 23.136 dan panggungterbuka menunjukkan F0 sebanyak 14.400 dengan Fsig = 0,000 <0,05. Analisis regresi padavariabel X1, X2 snf X3 berpengaruh secara signifikan. Uji T Uji Sampel Independenmenunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan terhadap panggung tertutup dengannilai rerata 25.700 dan 23.9500 pada tahap terbuka dengan tingkat signifikansi 0,025 kurangdari 5% (0,025 <0,050) yang menunjukkan ada perbedaan antara kepuasan penonton padatahap yang dekat dan terbuka. This study aims to determine the effect of live performance, service quality, and price perceptions of the audience satisfaction Ramayana Prambanan Ballet. The study wasconducted at the Theater and Performances of Ramayana Prambanan, Prambanan Temple,Yogyakarta with a sample of 100 respondents on the closed stage of Tri Murti Building andRamayana Prambanan open stage. The sampling technique was conducted by survey methodusing questionnaires with accidental sampling technique. The analytical method usedmultiple regression analysis and stepwise on the Independent Test Sample Test T-Test. Theresult of regression research on closed stage statistically shows F0 value as much as 23.136and open stage shows F0 14,400 with Fsig = 0,000 <0,05. Regression analysis on variablesX1, X2 snf X3 have significant effect. The Independent Sample T-Test shows that there is a significant effect on the closed stage with a mean value of 25,700 and 23,9500 in the open stage with a 0.025 significance level of less than 5% (0.025 <0.050) which indicates there is a difference between audience satisfaction in the near and open stage.
Pengelolaan Usaha Kerajinan Berbasis Pemberdayaan Sampah di Dusun Sukunan, Desa Banyuraden, Kabupaten Sleman Lutfi Tri Atmaji
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 2, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Program Pascasarjana ISI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1285.398 KB) | DOI: 10.24821/jtks.v2i2.1818

Abstract

Sampah merupakan permasalahan yang kerap dijumpai dalam kehidupan masyarakat di perkotaan dan daerah padat penduduk seperti perkampungan dan perumahan. Pengelolaan sampah yang kurang efektif dapat berakibat pada penumpukan sampah dan jika dibiarkan tentu akan mengganggu bagi lingkungan sekitar hingga menimbulkan penyakit. Namun di masyarakat di Dusun Sukunan memiliki sistem pengolahan sampah mandiri. Untuk mengatasi permasalahan karena penumpukan sampah warga Dusun Sukunan memberdayakan limbah sampah rumah tangga diolah menjadi kerajinan yang memiliki nilai ekonomis dan berdaya guna sehingga selain dapat mengatasi permasalahan sampah juga dapat membatu pemasukan ekonomi bagi warga sekitar. Proses memberdayakan pengolahan limbah rumah tangga kepada warga di Dusun Sukunan tidaklah mudah namun pelan tapi pasti banyak warga yang justru tertarik menjadi pengrajin olahan sampah. Penelitian ini akan mengkaji bagaimana cara kelompok usaha kerajinan di dusun Sukunan menjaga keberlangsungan usahanya yang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti produk, produksi, harga, SDM, finansial dan edukasi. Hasil dalam penelitian ini adalah faktor edukasi dan faktor kepercayaan merupakan elemen yang memegang peranan penting dalam keberlangsungan pengelolaan kerajinan berbasis sampah di dusun Sukunan. Waste is a problem that is often encountered in public life in urban and densely populated areas such as settlement and housing. The lack of effectiveness of garbage management may result in the accumulation of garbage and if left unchecked it will damaging the surrounding environment and causing illness. But people in the Sukunan Village have independent waste management system. To overcome the problems due to the accumulation of garbage, people in Sukunan Village recycle their household waste into a handicraft that has economic and useful value so that in addition to addressing the waste problem it can also contribute to economic income for local residents. Recycling process of household waste in the Sukunan Village is not a simple matter however, slowly but sure many people are actually interested in being a recycled garbage craftsman. This study will examine how the handicraft business group in Sukunan Village maintain continuity of their business that are affected by several factors such as product, production, pricing, human resources, financial and education. This research used descriptive qualitative method with interviewing 7 informants as a research instrument. The result in this research are education and trust factor which became the essential element in waste management industry in Dusun Sukunan.
Strategi Pengelolaan Pusat Musik Liturgi Yogyakarta Rolfi Junyanto Is Natonis
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 2, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Program Pascasarjana ISI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3668.779 KB) | DOI: 10.24821/jtks.v2i2.1852

Abstract

Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Langkah yang digunakanyaitu melakukan analisis data dan analisis SWOT. Hasil penelitian pertama, berdasarkan matrik IE dalam strategi PML Yogyakarta yang digunakan pada pengelolaan musik liturgiberada pada posisi V yaitu hold and maintaind, (pertahankan dan pelihara). Strategi umumyang dipakai adalah menjaga dan mempertahankan posisi internal yaitu memiliki jaringankerja sama dengan komponis-komponis gereja lokal dalam menjalankan lokakarya mengenai musik liturgi yang selama ini sudah diraih. Kedua berdasarkan kuadran analisis SWOTpengelolaan PML Yogyakarta menunjukkan posisinya berada pada kuadran III. Stability,yaitu suatu lembaga menghadapi peluang pasar yang sangat besar, tetapi dilain pihakmenghadapi beberapa kendala dalam internal seperti regenerasi yang belum memadaisehingga masih bergantung pada figur pendiri, keterbatasan tenaga pengelola baik dari segikuantitas maupun kualitas, dan kegiatan lokakarya belum menjangkau semua budaya yang ada di nusantara. Ketiga berdasarkan analisis SWOT strategi umum yang diperoleh yaituadalah penetrasi pasar dan pengembangan produk. Posisi tersebut mengarah pada menambah karya musik atau nyanyian nusantara dalam musik liturgi dan memberikan penataran dalamsetiap tahun di gereja-gereja Katolik yang belum memahami tentang musik liturgi dalaminkulturasi dan memberikan pengetahuan dan penerjemah kepada pengelola sehingga cukup memadai. In this research using qualitative descriptive method, The step used is doing data analysis and SWOT analysis. The first result of the research, based on the matrix of IE in PML Yogyakarta strategy used in the management of liturgical music is in position V that is hold and maintaind. General strategy used is to maintain and maintain internal position that has a network of cooperation with composers the local church in running a workshop on liturgical music that has been achieved. The second is based on quadrant of SWOT analysis of PML Yogyakarta management showing its position is in quadrant III Stability, that is an institution facing huge market opportunity, but on the other hand facing some internal constraints such as regeneration that is not enough so that still depends on founder figure, both in terms of quantity and quality, and workshop activities have not yet reached all the cultures in the archipelago. Third based on the SWOT analysis the general strategies obtained are market penetration and product development. The position leads to; adding musical works or chants of the archipelago to liturgical music and giving up in every year catholic churches that have not understood the liturgical music in inculturation and providing knowledge and translators to the manager so that it is sufficient.
Pengembangan Strategi Pelestarian Budaya di Sanggar Tari Bali Saraswati Yogyakarta Putu Merina Rahayu
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 2, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Program Pascasarjana ISI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5121.764 KB) | DOI: 10.24821/jtks.v2i2.1853

Abstract

Penelitian mengenai Pengembangan Strategi Pelestarian Budaya di Sanggar Tari Bali Saraswati Yogyakarta bertujuan untuk mengidentifikasi strategi yang digunakan selama ini pada Sanggar Tari Bali Saraswati. Selain itu juga untuk menganalisis faktor internal dan eksternal serta memformulasikan pengembangan strategi yang dilakukan Sanggar Tari Bali Saraswati di Yogyakarta. Metode penelitian mengenai Pengembangan Strategi Pelestarian Budaya di Sanggar Tari Bali Saraswati Yogyakarta dilakukan dalam empat langkah, yaitu menentukan lingkup penelitian yang terdiri dari l okasi penelitian, objek penelitian dan subjek penelitian. Langkah kedua, melakukan teknik pengumpulan data yang terdiri dari dua poin yaitu pengumpulan data primer dan pengumpulan data sekunder. Ketiga, menentukan variabel yang dilakukan melalui dua faktor, yaitu faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor ekstenal (peluang dan ancaman). Langkah terakhir yaitu melakukan analisis data dengan metode kualitatif dengan analisis SWOT. Hasil penelitian pertama, berdasarkan matrik IE Sanggar Tari Bali Saraswati berada pada posisi IV yaitu Stability Strategy. Tidak menambahnya program dan kurikulum pembelajaran yang telah diterapkan sanggar namun, diperjelas lagi dari materi pembelajaran, kurikulum yang ada dan standar kelulusan siswa. Kedua, berdasarkan kuadran analisis SWOT Sanggar Tari Bali Saraswati berada pada kua dran IV, yaitu retrenchment strategy, melepaskan diri dari KPB Purantara atau menentukan sekretariat yang tepat untuk dijadikan secretariat sanggar adalah strategi yang tepat dilakukan. Ketiga, berdasarkan analisis matrik SWOT strategi umum yang diperoleh yaitu menyelenggarakan kegiatan lomba tari Bali setiap semester untuk anak-anak tingkat SD, SMP dan SMA se-Yogyakarta. Bekerja sama dengan panitia upacara keagamaan Hindu (pangempon Pura) yang ada di Yogyakarta. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan pengabdian (ngayah) dan event yang mengatasnamakan Sanggar Tari Bali Saraswati. Perlu meningkatkan kesadaran dan rasa memiliki dari pengelola Sanggar Tari Bali Saraswati, anggota KPB (Keluarga Putra Bali) Purantara dan Asrama Bali. Research on Cultural Conservation Development Strategy at Bali Saraswati Dance Studio Yogyakarta aims to identify the strategy used at Bali Saraswati Dance Studio. In addition, to analyze the internal and external factors and formulate the development of strategies conducted by Bali Saraswati Dance Studio in Yogyakarta. The research method on Cultural Conservation Development Strategy at Bali Saraswati Dance Studio is done in four steps, those are determining the scope of research consisting of research location, research object and research subject. The second step, perform data collection techniques consisting of two points: primary data collection and secondary data collection. Third, determine the variables made through two factors, namely internal factors (strengths and weaknesses) and extensions (opportunities and threats). The last step is to perform data analysis with qualitative method with SWOT analysis. The results of the first study, based on the matrix IE Bali Saraswati Dance Studio is in the fourth position of Stability Strategy. Not adding to the program and learning curriculum that has been implemented by the studio but made clear from the learning materials, the existing curriculum and the students' graduation standard. Second, based on quadrant of SWOT analysis Bali Saraswati Dance Studio is in quadrant IV, that is retrenchment strategy, breaking away from KPB Purantara or determining the right secretariat to be used as studio secretariat is the right strategy to do. Third, based on SWOT matrix analysis, the general strategy obtained is to hold Balinese dance activity every semester for elementary, junior and senior high school students in Yogyakarta. In cooperation with the committee of Hindu religious ceremonies (Pangempon Pura) in Yogyakarta. Provide opportunities for students to participate in the activities of devotion (ngayah) and the event on behalf of Bali Saraswati Dance Studio. Need to increase awareness and sense of ownership of Bali Saraswati Dance Studio, member of KPB (Family of Putra Bali) Purantara and Bali Dormitory.
Strategi Pengembangan Kawasan Wisata Pasar Terapung Berbasis Kearifan Lokal di Kota Banjarmasin Desy Sugianti
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 2, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Program Pascasarjana ISI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3848.57 KB) | DOI: 10.24821/jtks.v2i2.1820

Abstract

Banjarmasin dalam dunia kepariwisataan di Indonesia terkenal dengan kota seribu sungai. Sebagai salah satu daerah di Indonesia yang memiliki aliran sungai terbanyak membuat Banjarmasin juga dikenal sebagai kota dengan daya tarik pasar terapungnya. Di Kota Banjarmasin, pasar terapung yang dikenal luas oleh masyarakat dan sempat menjadi tema dari jargon salah satu televisi swasta di Indonesia adalah keberadaan Pasar Terapung Kuin. Seiring perkembangan zaman, kondisi Pasar Terapung Kuin saat ini mengalami kemunduran perkembangan. Banyak media baik online maupun surat kabar terbitan memberitakan tentang sepinya pembeli dan menurunnya jumlah pedagang yang berjualan di Pasar Terapung Kuin. Hal tersebut dikonfirmasi pula oleh beberapa pedagang yang tetap berjualan di Kuin. Melihat dari permasalahan tersebut kemudian pemerintah setempat melakukan tindakan guna menghidupkan kembali budaya sungai yang melekat erat sebagai image Kota Banjarmasin dengan membangun pasar terapung yang berada tepat berseberangan dengan titik 0 (nol) kilometer Kota Banjarmasin serta beberapa atraksi wisata lain di sekitar pasar terapung tersebut. Namun, sejak kehadiran Pasar Terapung Siring, jumlah kunjungan yang didata oleh pengelola menunjukkan adanya kesenjangan angka. Dimana Pasar Terapung Siring mampu mendatangkan tamu dengan angka mencapai sekitar 56.000-an (lima puluh enaman ribu), sementara kawasan Pasar Terapung Kuin hanya mampu menempati angka tertinggi dalam 1 tahun sebesar 3.000-an (tiga ribuan) pengunjung. Maka berdasarkan paparan tersebut dalam penelitian ini dilakukan pendekatan dengan metode penelitian triangulasi, menggunakan analisis kualitatif deskriptif dan analisis SWOT yang bertujuan untuk mengidentifikasi pengelolaan kawasan Pasar Terapung Kuin dan Siring untuk kemudian memformulasi strategi pengembangan kawasan pasar terapung di Banjarmasin. Dalam temuan penelitian berdasarkan hasil analisis kualitatif yang dilakukan, ditemukan bahwa; sistem pengelolaan terhadap Pasar Terapung Kuin dan Siring memiliki perbedaan yaitu; infrastruktur yang dikembangkan lebih banyak dilakukan di Siring, peran serta masyarakat yang terlibat dalam mengelola kepariwisataan pasar terapung juga lebih terorganisir di Siring. Sementara untuk kawasan Kuin belum adanya organisasi atau asosiasi resmi yang dibentuk oleh warga sekitar guna menjalankan program pengelolaan dan pengembangan kawasan dalam usaha untuk menghidupkan kembali budaya sungai di Banjarmasin. Arahan strategi berdasarkan analisis SWOT adalah kawasan wisata pasar terapung di Banjarmasin idelanya memiliki strategi dalam hal penambahan produk, pasar dan fungsi-fungsi kawasan serta melakukan pemanfaatan kekuatan dan peluang yang dimiliki. Strategi pengembangan terhadap kawasan pasar terapung di Banjarmasin mampu dikembangkan dan dapat menjalankan strategi yang bersifat ofensif. Banjarmasin in the world of tourism in Indonesia known as the city of a thousand rivers. Banjarmasin is one of the areas in Indonesia that has the most river flow so that makes Banjarmasin also known as a city who has Floating Market. In the city of Banjarmasin, Floating Market (Kuin Floting market) widely known by the public after appeared in one of television in Indonesia as their theme of television slogan. Currently, Kuin floating market condition is on a decline in development. Many media such as online and newspaper published preach about the less of buyers and the declining number of traders who sell in Kuin Floating Market. It is also confirmed by some traders who keep selling in Kuin. Based on that case then the local government taken the action to revive the culture of the embedded river as the image of Banjarmasin City by builded a floating market that is near to the center of the city and became a part of tourist attractions in Banjarmasin. However the number of visitors that recorded by the manager shown a gap between Kuin and Siring. Where Siring floating market can bring guests with numbers reaching 56.000 visitors but Kuin floating market area is only able to occupy the highest lift in 1 year of 3.000 visitors. So based on that case, this research approached with trianggulation research method, using descriptive qualitative analysis and SWOT analysis which aims to identify the management of Kuin and Siring floating market area and then make a formulation of the development strategy of Floating Market area in Banjarmasin. This research found that; the management system of Kuin and Siring floating market has the difference action; Many Infrastructure developed has done in Siring, the participation of communities involved in managing tourism of the floating market and makes Siring also more organized. However, Kuin area hasn’t official organization or association formed by local people to run the program of management and development of the area in an effort to revive the river culture in Banjarmasin. Strategy directives based on SWOT analysis are; Floating market tourism area in Banjarmasin ideally has a strategy in terms of addition of products, markets and functions of the region by using their strengths and opportunities. Development strategy for floating market area in Banjarmasin could be able to develop and run the offensive strategy.
Strategi Pemasaran Pertunjukan Jakarta Simfonia Orchestra Ganang Dwi Asmoro
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 2, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Program Pascasarjana ISI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3810.652 KB) | DOI: 10.24821/jtks.v2i2.1819

Abstract

Keberadaan sebuah kelompok orkestra simfoni membutuhkan beberapa faktor, selain sumber daya manusia yang bagus juga diperlukan strategi pemasaran yang tepat. Posisi pemasaran dalam hal ini bisa disebut sebagai perantara antara kelompok orkestra simfoni dengan penonton dalam melakukan transaksi untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan penonton. Karena itu, setiap manajemen orkestra dituntut untuk berpikir kreatif dan strategis untuk menjaga keberlanjutan kelompoknya. Peneliti an ini bertujuan menganalisa pemasaran yang dilakukan oleh Jakarta Simfonia Orchestra dengan teknik SWOT dari faktor lingkungan internal dan eksternal yang dihadapi oleh pengelola JSO selama ini. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif melalui teknik wawancara mendalam terhadap 6 narasumber dan observasi serta didukung dengan data kuantitatif dari survei 100 penonton JSO yang diambil dalam dua pertunjukan. Secara spesifik sebagai studi awal analisis di dalam penelitian ini mendeskripsikan produk, tempat, harga, dan promosi. Hasil dari penelitian ini adalah rekomendasi untuk membuat pertunjukan terjadwal dalam satu tahun, pengelola an penonton yang berkelanjutan dengan membuat wadah keanggotaan penonton tetap, dan memberikan perhatian lebih kepada penonton dari anggota jemaat, serta membuat program yang menarik dengan sering mendatangkan musisi internasional. The existence of a symphony orchestra groups requires several factor. In addition to good human resources, appropriate marketing strategies are also required. Marketing position in this case can be called as an intermediary between symphony orchestra group and the audience in the transaction to satisfy the need and desires of the audience. Therefore, ev ery orchestra management is required to think creatively and strategically in maintaining the sustainability of its group. This study aims to analisys the marketing conducted by Jakarta Simfonia Orchestra with SWOT technique from internal and external environment factors faced by JSO manager so far. The method used is descriptive qualitative method trhough indepth interview technique to 6 resource person and observation. This study is also suported by quantitatif data from survey 100 JSO audiences taken from two perfomances. As an initial study, the analisys in this study specifically d escribes the product, place, price, and promotion. The results of this studsy shows that a schedule one-year performance, an ongoing permanent audience membership management, special attention given to the audience of the congregation members, and managing interisting program by involving internasional musicians are recommended as the marketing strategy of the Jakarta Simfonia Orchestra groups.

Page 1 of 1 | Total Record : 8