cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Invensi (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni)
ISSN : 24600830     EISSN : 26152940     DOI : -
INVENSI adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dengan frekuensi terbit dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember. Jurnal INVENSI memuat semua tulisan yang berobjek materi seni, baik seni pertunjukan, seni rupa, maupun seni media rekam dan bersifat multidimensional. INVENSI bermaksud untuk memberikan ruang mewadahi berbagai macam ide, gagasan, atau kritik yang merupakan hasil penelitian empiris kuantitatif dan kualitatif terkait dengan seni pertunjukan, seni rupa, dan seni media rekam yang belum pernah diterbitkan dalam bentuk apapun.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2020): Desember 2020" : 6 Documents clear
Representasi Kesadaran Budaya Lokal Perupa dalam Penciptaan Karya Seni Rupa dan Desain Era Kontemporer Ernawati Ernawati; Renny Nirwana Sari
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 5, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v5i2.4371

Abstract

Era kontemporer sudah tidak terikat kekakuan dan penjara peraturan, tetapi lebih kepada berkarya dengan berangkat dari akar yang bersifat tradisional, namun di sisi lain merindukan kreasi dan inovasi dalam kebaruan. Fenomena kontemporer dalam seni rupa dan desain bukan ekplorasi estetis semata, tetapi selain dari pengalaman pribadi perupa dipengaruhi situasi sosial budaya yang membangun konteks dengan representasi visual yang diselaminya. Representasi dapat berupa praktik kebudayaan, dapat berupa artefak, maupun konsep. Tujuan dari penelitian ini difokuskan untuk dapat mengetahui sejauhmana representasi nilai budaya lokal dalam berkarya, ideologi yang memengaruhi perupa untuk memilih jalan berkarya dengan tumbuh bersama budaya lokal di era kontemporer, serta bentuk dan makna pada karya perupa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif-naturalistik dengan menggali data dari setting alamiah lapangan dengan pendekatan tekstual-kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perupa memilih kesadaran akan budaya sebagai cara pandang, pilihan, dan kelahiran karya-karya perupa dengan penegasan memosisikan diri sebagai jembatan di antara keberagaman guna membangun sebuah dialog dirinya dengan cita-rasa kehidupan di sekelilingnya, yaitu budaya kosmologi. Representasi dapat dibentuk oleh tradisi dan terpengaruhi budaya lain, namun memiliki watak ‘setempat’, sehingga memiliki akar. Representasi kesadran lokal dalam karya dapat disajikan melalui Re-aktualisasi Tradisi: Re-Imajinasi, Perekaman Tradisi, Pemaknaan Simbolik bahkan Kontra-Tradisi.Representation of Artist Local Cultural Awareness in the Creation of Art and Design Works Contemporary EraABSTRACTThe contemporary era has not bound yet by rigidity and prison regulations, but the works are rather started from traditional roots. On the other hand, they miss the creation and innovation of novelty. The contemporary phenomenon in art and design is not merely aesthetic exploration. However, it is a part of the artists' personal experience influenced by social and cultural situations that build the context with the visual representations they delve into. A representation can be in the form of cultural practices, artifacts, or concepts. This research aims to focus on knowing to what extent the representation of local cultural values in work, the ideology that influences artists to choose their work manner by growing with local culture in the contemporary era, and the forms and meanings of the artists' works. This study used a qualitative naturalistic research method by collecting data from natural settings with a textual, contextual approach. The results showed that the artists chose cultural awareness as the perspective, choice, and birth of artists' works by asserting their positions as a bridge between diversities to build a dialogue with the tastes of life around them, namely cosmological culture. Representations can be formed by traditions and influenced by other cultures; however, they have a "local" character, so they have roots. Representations of local awareness in works can be presented through the Reactualization of Traditions: Re-Imagination, Recording of Traditions, Symbolic Meanings, and Counter-Traditions.
Pengaruh Teknik Pukul pada Tatah Timbul Kulit Yonata Buyung Mahendra
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 5, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v5i2.3864

Abstract

Teknik pukul merupakan teknik yang dilakukan dengan cara memukulkan/mengetukkan alat pukul ke permukaan benda dengan bantuan tangan dan otot sebagai poros kekuatan. Tatah timbul kulit merupakan teknik dalam kerajinan yang terbuat dari kulit tersamak sebagai media eksplorasi untuk memberikan efek timbul dari permukaan karya yang dibuat. Penelitian ini untuk mengetahui cara seniman mendayagunakan tubuhnya, perlakuan khusus yang diberikan, dan pelacakan mengenai teknik pukul yang digunakan oleh seniman. Peneliti menggunakan pengalaman kualitatif sebanyak lima kali untuk mendapatkan proses pengerjaan secara utuh, mulai dari perancangan hingga proses penatahan selesai. Hasilnya, keputusan seniman bergantung pada proses pengerjaan dan pengalaman seniman dalam berkarya. Perbedaan perlakuan pada pembasahan dan proses perancangan, pengenalan bahan, dan pemolaan adalah bentuk keputusan seniman dalam berkarya. Kegagalan dan keberhasilan tatah timbul kulit bergantung pada sudut pukul dan kelembaban kulit. Kekuatan pukul yang cukup besar akan memengaruhi kerusakan dan melesetnya pukulan yang dilakukan.The Impact of Hit Technique in Leather Carving ABSTRACT The hit technique is a technique carried out by striking/tapping the instrument against the object's surface with hands and muscles as the axis of strength. Leather carving is a craft technique made from tanned leather as an exploration medium to give an embossed effect on the surface of the work being made. This research is to find out how artists utilize their bodies, special treatment given, and tracking of the technique used by artists. Researchers use the qualitative experience as much as five times to get the whole work process from design to the carving process. As a result, artists' decisions depend on the process of work and artists' experience in their work. Differences in treatment in the wetting and design process, the introduction of materials, and patterning are forms of artists' decision to work. Failure and success of the skin's appearance depend on the skin's angle of hit and moisture. The strength of a large enough hit will affect the damage and miss the blow made.
The One Smart Piano Classroom: Integrasi Teknologi dalam Sekuen Belajar Piano Zelika Alin Kuncoro
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 5, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v5i2.3944

Abstract

Sebagai salah satu cara alternatif yang berperan membentuk keterampilan bermain piano, konsep kelas pintar The One Smart Piano Classroom dinilai mempunyai keuntungan kompetitif yang mempunyai fungsi triggering, accelerating, dan sharpening. Triggering karena penggunaan teknologi membuat lompatan masuk ke dunia musik dari titik manapun seseorang belajar. Accelerating mempercepat pengembangan musikalitas murid, dan sharpening karena mampu mempertajam pedagogi musik konvensional sehingga lebih berorientasi dengan dunia nyata. Tulisan ini bertujuan untuk mengevaluasi integrasi The One dalam sekuen belajar piano dan kemudian berimplikasi pada skill pianistik yang terbentuk. Ditandai dengan adanya substitusi skor piano cetak dengan skor piano digital, teknologi diintegrasikan dalam setiap tahap dalam sekuen. Dengan kata lain, seluruh sekuen tidak lepas dari keberadaan jaringan berkabel dan nirkabel dalam teknologi The One. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus, analisis dilakukan dengan mengoperasionalkan kerangka pemikiran Ruben Puentedura tentang teori integrasi teknologi pendidikan SAMR. Hasil menunjukkan adanya integrasi The One berimplikasi pada beberapa hal di antaranya peralatan, perlengkapan, infrastruktur, hingga skill pianistik meliputi pemahaman dan pengaplikasian konten tonal, konten ritme, aural, asosiasi verbal. Diketahui pula jika ditinjau dari prosesnya menuju target hasil belajar, integrasi dalam The One Smart Piano Classroom berlangsung hingga tahap redefinisi dengan beberapa catatan pergeseran makna. The One Smart Piano Classroom: Integration of Technology in Piano Learning ABSTRACT As an alternative way that plays a role in shaping pianistic skills, the concept of The One Smart Piano Classroom is considered to have a competitive advantage that has the functions of triggering, accelerating, and sharpening. Triggering because of the use of technology makes the leap into the world of music from any point someone learns. Accelerating, accelerating the development of student musicality, and sharpening because it is able to sharpen conventional music pedagogy so that it is more oriented to the real world. This paper aims to evaluate The One's integration in piano learning sequences and then have implications for the formed pianistic skills. Characterized by the substitution of printed piano scores with digital piano scores, technology is integrated at each stage in the sequence. In other words, the whole sequence is inseparable from the existence of wired and wireless networks in The One technology. Using a case study approach, the analysis was carried out by operationalizing Ruben Puentedura's framework of the theory of integration of SAMR education technology. The results show the integration of The One has implications for several things including equipment, equipment, infrastructure, to pianistic skills including understanding and applying tonal content, rhythmic content, aural, verbal associations. It is also known that when viewed from the process towards the target of learning outcomes, integration in The One Smart Piano Classroom goes to the redefinition stage with some notes of shifting meaning.
Perancangan Aplikasi Pariwisata Relawan Berdasarkan Pilar-Pilar Makna Hidup Dian Puspasari
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 5, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v5i2.4631

Abstract

Perkembangan tren pariwisata relawan bersama dengan motivasi perjalanan kaum muda saat ini mengindikasi adanya tuntutan baru dalam industri pariwisata. Keberadaan turis relawan kini menuntut cara baru dalam berkontribusi dengan kegiatan yang lebih beragam, durasi lebih pendek, dan konsep hemat anggaran sebagai upaya untuk meningkatkan mentalitas dan kapabilitas diri. Seiring dengan jumlah ketertarikan yang meningkat, kebutuhan akan informasi dan kemudahan dalam pengajuan kontribusi masih menjadi kendala bagi para peminat kegiatan. “Vacation” hadir sebagai solusi untuk menghubungkan turis, aktivitas relawan, dan mitra akomodasi potensial dalam satu platform aplikasi secara lebih praktis, bernilai, dan inovatif. Aplikasi ini didesain melalui empat tahapan perancangan hasil filtrasi metode desain milik Brown, Kumar, Garrett, dan Natoli meliputi tahapan menemukan, menentukan, mengembangkan, dan mengirim. Tiap tahapan memperoleh informasi yang didapat melalui pendekatan kuantitatif pada survei daring, dan kualitatif pada pengamatan etnografi, wawancara, literatur, dan diskusi kelompok. Dari tahapan ini, perancangan menghasilkan aplikasi pariwisata relawan “vacation” sebagai media penghubung yang menyediakan daftar kegiatan sukarelawan dengan lebih terkategori, pengajuan permintaan kontribusi yang lebih praktis, kesempatan mendapatkan akomodasi, dan penerimaan laporan kegiatan perjalanan berdasarkan prinsip empat pilar makna hidup untuk mendukung konsep hemat anggaran, peningkatan mentalitas, dan kapabilitas diri. Perancangan aplikasi telah melalui proses pengujian dan disimpulkan bahwa selain dapat memenuhi kebutuhan praktis pengguna, perancangan aplikasi vacation juga telah membuka ruang personal bagi para pengguna dalam proses pengembangan diri. Designing A Volunteer Tourism App Based On Pillars of Meaningful Life ABSTRACTThe consolidation of voluntary tourism trends along with the motivation of young people's travel now indicates new demands in the tourism industry. The existence of volunteer tourists is now demanding new ways to contribute, with more diverse activities, shorter duration, and the concept of the low budget as an effort to improve mentality and capability. With an increasing amount of interest, the need for information and ease in submitting contributions is still an obstacle for enthusiasts of activity. "Vacation" designed as a solution to connect tourists, volunteer activities, and potential accommodation partners in one single application in a more practical, valuable, and innovative way. The four stages of designing based on Brown, Kumar, Garrett, and Natoli's design method consisting of discovering, determining, developing, and delivering. Each stage obtains information through a quantitative approach to online surveys, and qualitatively on ethnographic observations, interviews, literature, and group discussions. Through this process, the design produced a volunteer tourism application called “vacation” as a liaison media that provides a more categorized list of volunteer activities, submits requests for more practical contributions, opportunities for accommodation, and receives reports on travel activities based on the four pillars of the meaningful life to support the low budget concept, increased mentality, and self capability. The design of the application has been tested and concluded that in addition to meet the user's practical needs, the design of the vacation application has also opened a personal space for the users in the process of self-development.
Teknik Ukir Ornamen Pendhok di Yogyakarta Noor Rachman Maulana
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 5, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v5i2.3861

Abstract

Ornamen pendhok dibuat dengan cara manual menggunakan alat yang masih tradisional. Berbagai macam ornamen diukir pada media pendhok dengan rapi. Media pendhok yang sangat kecil namun bisa diterapkan ukiran yang rumit dan indah. Tujuan kajian ini untuk mengetahui teknik ukir ornamen pendhok dan mengetahui berbagai macam alat yang digunakan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pencarian data melalui observasi dan wawancara. Hasil dari penelitian ini ditemukan berbagai macam alat ukir yang digunakan, masing-masing alat ukir memiliki fungsinya sendiri-sendiri. Teknik ukir pendhok mempunyai tiga tahapan, tahap menggambar motif, tahap mengukir, dan mendetailkan motif. Hasil akhir ukiran dipengaruhi keahlian yang dipelajari oleh kriyawan, kecermatan, ketekunan, dan ketelitian, serta kesabaran. Selain itu, penggunaan alat ukir dan tekanan pukulan memengaruhi tinggi rendahnya volume ornamen yang berbentuk relief. Pendhok Ornament Carving Technique in Yogyakarta ABSTRACT Pendhok ornaments are made manually using traditional tools. Various kinds of ornaments are carved neatly on the media. Very small pendhok media but can be applied to intricate and beautiful carvings. This study aims to learn the techniques of carving ornament pendhok and knowing various kinds of tools used. This study uses qualitative methods by finding data through observation and interviews. This study found a variety of carving tools used; each carving tool has its function. Pendhok carving technique has three stages, lottery motifs, lottery motifs, and detailed motives. The result is the carving of skills learned by the craftsman, carefulness, perseverance, accuracy, and patience. In addition, use a carving tool and punch pressure that increases the low volume of ornamentation that forms a relief.
Lahirnya Kembali Neoklasikisme melalui Bangunan di Yogyakarta Jalung Wirangga Jakti
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 5, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v5i2.3859

Abstract

Neoklasik adalah gerakan utama selama pertengahan abad ke-18 hingga akhir abad ke19 dalam seni dan arsitektur Eropa. Karya dengan gaya ini berfokus pada bentuk seni klasik barat Yunani Kuno dan Roma. Penelitian ini bertujuan untuk memahami Seni Neoklasik dalam arsitektur di Kota Yogyakarta. Penelitian ini menjadi menarik karena belum ada yang mengkaji bangunan neoklasik yang hadir di tengah keramaian Yogyakarta. Seni neoklasik dapat menjadi sarana hidupnya kembali zaman pencerahan Eropa dalam bentuk bangunan. Kita bisa melihat bentuk ideal dari arsitektur neoklasik dengan kekhasan kolom yang digunakan untuk menahan beban berat dari struktur bangunan. Dan atap yang biasanya memiliki bentuk pokok datar dengan bentuk minor yang lain. Gaya arsitektur neoklasik tidak memiliki kubah atau menara. Eksterior tersebut dibangun sedemikian rupa untuk menciptakan gaya klasik yang sempurna, seperti pada pintu dan jendela. Pada bagian eksterior penggunaan dekorasi sangat minimalis namun dengan penekanan geometris. Penelitian ini menghasilkan sebuah konklusi yaitu pembangunan berbagai lokasi dengan gaya neoklasik di Yogyakarta, membawa kembali semangat neoklasik sebagai pendorong kelahiran kembali gaya seni dengan kemurnian. Selain itu peraturan daerah dan kecenderungan komunitas membuat gaya ini semakin diminati.The Revival of Neoclassicism through Building in Yogyakarta ABSTRACT Neoclassicism was a major movement during the mid-18th century and continued into the early 19th century in European art and architecture. The creation of this style focuses on classical western art from Ancient Greece and Rome. This research aims to understand neoclassical art in Yogyakarta architecture. This research is interesting because there is no study yet of neoclassical buildings in Yogyakarta. Neoclassical art can be a way to relive the European Enlightenment in the form of buildings. We can see the ideal form of neoclassical architecture with unique columns that can withstand the heavy loads of standard building and roof structures with the main flat and other minor shapes. Neoclassical architectural styles have no domes or towers - the exterior is built to create the perfect classic style, especially for doors and windows. On the exterior, the use of decoration is very minimalist with geometric emphasis. These results suggest that the neoclassical style construction in several locations in Yogyakarta has revived the spirit of neoclassicism as the driving force for the revival of the pure art style. Moreover, local regulations and community tendencies make this style even more desirable.

Page 1 of 1 | Total Record : 6