cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
Jurnal Media Pertanian
ISSN : 25031279     EISSN : 25811606     DOI : -
urnal Media Pertanian dipublikasikan dalam Bahasa Indonesia dan diterbitkan dua kali dalam setahun. Jurnal ini mempublikasikan artikel hasil penelitian dan artikel review bidang ilmu Agronomi secara luas.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2018): April" : 6 Documents clear
PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN PINANG DAN KELAPA SISTEM TUMPANG SARI Nasamsir Nasamsir; Irman Irman
Jurnal Media Pertanian Vol 3, No 1 (2018): April
Publisher : Universitas Batanghari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.091 KB) | DOI: 10.33087/jagro.v3i1.55

Abstract

Multiple cropping merupakan sistem budidaya tanaman yang dapat meningkatkan produktivitas lahan. Peningkatan ini dapat diukur dengan besaran Nisbah Kesetaraan Lahan (NKL) atau LER (land Equivalent Ratio). Penelitian ini bertujuan untuk mengamati pertumbuhan dan produksi tanaman tumpang sari Pinang dengan Kelapa Dalam, menentukan nilai nisbah kesetaraan lahan (NKL) serta menentukan model tanam tumpang sari Pinang dengan Kelapa Dalam yang baik. Penelitian ini dilakukan di kelurahan Sabak Ulu serta di desa Siao Dalam kecamatan Muara Sabak Timur kabupaten Tanjung Jabung Timur dengan kondisi lahan gambut. Penelitian ini menggunakan metode survey pada lahan-lahan petani yang ditanami Pinang monokultur dan Pinang tumpang sari dengan Kelapa Dalam. Parameter yang diamati meliputi jarak tanam (m), tinggi tanaman (m), lingkar batang (cm), umur mulai produksi (th), produktivitas buah Pinang dan Kelapa secara tumpang sari (ton per ha), produktivitas buah Pinang dan Kelapa tunggal (ton per ha), dan produktivitas lahan (NKL). Untuk menjawab hipotesis yang diajukan, data dianalisis secara deskriptif dalam bentuk tabulasi. Hasil penelitian menunjukkan produksi tanaman Pinang dan Kelapa Dalam sistem tunggal lebih besar dari sistem tumpang sari. Namun berdasarkan perhitungan nilai nisbah kesetaraan lahan (NKL) menunjukan nilai lebih dari 1, menggambarkan bahwa sistem tumpang sari lebih menguntungkan dibandingkan sistem tunggal. Kata kunci ; produksi tanaman, nisbah kesetaraan lahan, tumpang sari
KERAGAMAN JENIS SERANGGA HAMA KELAPA SAWIT SISTEM PENANAMAN SISIPAN DAN TUMBANG TOTAL DI DESA PANCA MULIA KECAMATAN SUNGAI BAHAR TENGAH KABUPATEN MUARO JAMBI Hayata Hayata; Yulistiati Nengsih; Holil Aswan Harahap
Jurnal Media Pertanian Vol 3, No 1 (2018): April
Publisher : Universitas Batanghari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.225 KB) | DOI: 10.33087/jagro.v3i1.47

Abstract

Upaya percepatan pengembangan perkebunan sawit rakyat salah satunya adalah peremajaan pada tanaman yang sudah tua, yang dilakukan melalui dua sistem  yaitu sistem penanaman sisipan dan sistem penanaman tumbang total. Pola pertanaman ini membentuk ekosistem yang berbeda dan akan mempengaruhi keberadaan serangga hama. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan bulan Agustus 2017  di areal penanaman sisipan dan tumbang total kelapa sawit masing-masing seluas 1 ha, di Desa Panca Mulya Kecamatan Sungai Bahar Tengah Kabupaten Muaro Jambi Provinsi Jambi. Metode penelitian menggunakan pendekatan observasi dengan pengamatan secara langsung di lapangan. Lokasi pengambilan sampel ditentukan menggunakan metode sampling acak terpilih. Jumlah dan keragaman jenis serangga yang tertangkap pada sistem penanaman tumbang total ditemukan 11 Spesies dengan jumlah 128 ekor, yang paling banyak kupu kupu coklat 56 ekor, dan yang paling sedikit laba laba 3 ekor. Pada Penanaman sisipan ditemukan 8 spesies dengan jumlah 24 ekor, yang paling banyak jangkrik 14 ekor, paling sedikit lipas 1 ekor. Serangga yang berada pada kebun sawit yang diremajakan melalui sistem  tumbang total lebih beragam dibandingkan dengan kebun sawit yang diremajakan melalui sistem sisipan.Kata kunci : Keragaman serangga, tumbang total, sisipan
RESPON BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq) ASAL MULTI EMBRIO TERHADAP FREKUENSI WAKTU PEMBERIAN PUPUK NPK (16:16:16) DI PEMBIBITAN UTAMA Hayata Hayata; Yuza Defitri; Wahyu Renaldi
Jurnal Media Pertanian Vol 3, No 1 (2018): April
Publisher : Universitas Batanghari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.411 KB) | DOI: 10.33087/jagro.v3i1.57

Abstract

Abstract            This research was conducted at Jl. Lintas Jambi - Muaro Bulian Kel. Pijoan Kec. Jaluko Kab. Muaro Jambi, which lasted for 3 months. This study aims to determine the response of oil palm seedlings (Elaeis guineensis Jacq) of multi embryo origin in the main breeding.             Oil palm seedlings used type Multi Embrio that has been 4.5 months. The medium used is black soil, fertilizer npk brand Lao Ying (16:16:16) and polybag size 5 kg. The design used in this study was Completely Randomized Design (RAL) with the treatment of npk laoying time with 4 treatment levels F1 5 days 2.5 g, F2 10 days 5.0 g, F3 15 days 7.5 g, F4 20 day 10 g. Each treatment was repeated 4 times, so there were 16 units of experimental unit, each plot consisting of 3 oil palm seedlings, bringing the total of 48 polybags. Each plot was taken 2 plants used as sample. The parameters observed were seed height (cm), stem diameter (mm), dry weight of crown (g), root dry weight (g), and quality index (IK).             Based on the research objectives, the results and discussion, it can be concluded that the NPK (16:16:16) with the frequency of different feeding time on oil palm seed planting medium gives no significant effect on plant height and stem diameter but significantly different to the weight dried canopy, root dry weight and seed quality index of multi-embryo palm oil. The F1 treatment also gives the highest index value of quality (IK) indicating that the seedlings are most ready to be transported. Abstrak            Penelitian ini dilaksanakan di Jl. Lintas Jambi – Muaro Bulian Kel. Pijoan Kec. Jaluko Kab. Muaro Jambi, yang berlangsung selama 3 bulan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon bibit kelapa sawit ( Elaeis guineensis Jacq ) asal multi embrio di pembibitan utama.             Bibit kelapa sawit yang digunakan jenis Multi Embrio yang telah berumur 4,5 bulan. Media yang digunakan adalah tanah hitam, pupuk npk merk Lao Ying (16:16:16) dan polybag ukuran 5 kg. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan frekuensi waktu pemberian npk lao ying dengan 4 taraf perlakuan F1 5 hari 2,5 g, F2 10 hari 5,0 g, F3 15 hari 7,5 g, F4 20 hari 10 g. Setiap perlakuan diulang 4 kali, sehingga terdapat 16 unit satuan percobaan, yang masing-masing petak terdiri dari 3 bibit kelapa sawit, sehingga jumlah 48 polybag. Setiap petak diambil 2 tanaman yang digunakan sebagai sampel. Parameter yang         diamati adalah tinggi bibit (cm), diameter batang (mm), berat kering tajuk (g), berat kering akar (g), dan indeks kualitas (IK).            Berdasarkan tujuan penelitian, hasil dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa pemberian NPK (16:16:16) dengan frekuensi waktu pemberian yang berbeda pada media tanam bibit kelapa sawit memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap tinggi tanaman dan diameter batang, tapi berbeda nyata terhadap berat kering tajuk, berat kering akar dan indeks kualitas bibit kelapa sawit asal multi embrio. Perlakuan F1 juga memberikan nilai indeks kualitas (IK) tertinggi yang mengindikasikan bibit tersebut paling siap dipindahkan kelapangan. 
PENGENDALIAN KUTU DAUN PADA TANAMAN CABAI YANG DIAPLIKASI BIOCHAR DAN TRICHOKOMPOS BERDASARKAN AMBANG KENDALI Araz Meilin
Jurnal Media Pertanian Vol 3, No 1 (2018): April
Publisher : Universitas Batanghari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.424 KB) | DOI: 10.33087/jagro.v3i1.54

Abstract

The control of aphids pests in chilli plantation often uses scheduled chemical control. This study aims to determine the development of aphid populations in the vegetative phase of chili plants treated with biochar from agricultural waste and trichokompos, and its control based on the threshold of control. The experiment was conducted on Chili Varietas Kencana of vegetative phase in Sangir Tengah Village, Kayu Aro Subdistrict, Kerinci Regency in 2016. The planting of chili was carried out with five treatments: 1) Trichokompos 10 ton/ha and 2 ton/ha of bagasse biochar; 2) Trichokompos 10 ton/ha and 2 ton/ha  of corncob biochar; 3) Trichokompos 10 ton/ha and 2 ton/ha of rice husk biochar; 4) Trichokompos 10 ton/ha; and 5) Control (farmer technology). Each treatment was repeated 4 times. The environmental design used is Group Random Design (RAK). Data collection through observation of population number of aphids done every week. Control measures with the use of pesticides are carried out after the population passes the economic threshold. The results showed that the use of agricultural waste biochar (rice husk, corncob, bagasse) and trichokompos did not significantly affect the number/population of aphids. Chemical control of aphids on chili plants in the vegetative phase based on the control threshold can reduce the frequency of insecticide application up to 50%.Keywords: control threshold, insecticide, chili pest AbstrakPengendalian hama kutu daun pada tanaman cabai sering menggunakan pengendalian kimia yang terjadwal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan populasi kutu daun pada fase vegetatif tanaman cabai yang diberi perlakuan biochar asal limbah pertanian dan trichokompos dan pengendaliannya berdasarkan ambang kendali. Penelitian dilaksanakan pada pertanaman cabai varietas Kencana fase vegetatif di Desa Sangir Tengah, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci pada tahun 2016. Penanaman cabai dilaksanakan dengan lima perlakuan yaitu : 1) Trichokompos 10 ton/ha dan biochar ampas tebu 2 ton/ha; 2) Trichokompos 10 ton/ha dan biochar tongkol jagung 2 ton/ha; 3) Trichokompos 10 ton/ha dan biochart sekam padi 2 ton/ha; 4) Trichokompos 10 ton/ha; dan 5)  Kontrol (teknologi petani).  Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali.  Rancangan lingkungan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK). Pengumpulan data melalui pengamatan jumlah populasi kutu daun yang dilakukan setiap minggu. Tindakan pengendalian dengan penggunaan insektisida dilakukan setelah populasi melewati ambang ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan biochar limbah pertanian (sekam padi, tongkol jagung, ampas tebu) dan trichokompos tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah/populasi kutu daun.  Pengendalian kimia kutu daun pada tanaman cabai varietas Kencana pada fase vegetatif yang dilakukan  berdasarkan ambang kendali, dapat menurunkan frekuensi aplikasi insektisida sampai 50%.Kata kunci : ambang kendali, insektisida, hama cabai
INVENTARISASI PENYAKIT YANG DISEBABKAN JAMUR PADA TANAMAN KELAPA DALAM (Cocos nucifera L.) DI DESA SUNGAI JERENG KECAMATAN PENGABUAN KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT Yuza Defitri; Sulaiman Sulaiman
Jurnal Media Pertanian Vol 3, No 1 (2018): April
Publisher : Universitas Batanghari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.811 KB) | DOI: 10.33087/jagro.v3i1.53

Abstract

The purpose of this study was to find out the Inventory of disease caused by fungus in the Coconut Plants. This research was conducted in community owned garden located in Sungai Jereng Village, Pengabuan District of Tanjung Jabung Barat Regency.The material used in this study is the  coconut plant samples in which the disease is present in the community plantation land with the method of  simple random sampling and the observed object is a fungus that causes diseases in microscopic in the Laboratory of Agricultural Quarantine Class 1 Jambi.Field observation results and laboratory observations showed that two pathogens that Pestalotiopsis and Fusarium attacked the coconut plant in Sungai Jereng Village Pengabuan District of Tanjung Jabung Barat District. Keywords: disease, fungus, coconut plant AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk melakukan inventarisasi penyakit yang disebabkan jamur pada tanaman kelapa dalam. Penelitian ini dilaksanakan di kebun milik rakyat yang berada di Desa Sungai Jereng Kecamatan Pengabuan Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel tanaman kelapa dalam yang terserang penyakit dengan metode pengambilan sampel simple random sampling dan objek yang diamati adalah jamur yang mengakibatkan penyakit pada tanaman kelapa dalam secara mikroskopik di laboratorium Karantina Pertanian Kelas 1 Jambi. Hasil pengamatan lapangan dan pengamatan laboratorium menunjukkan bahwa ditemukan dua patogen yaitu Pestalotiopsis sp dan Fusarium sp yang menyerang tanaman kelapa dalam di Desa Sungai Jereng Kecamatan Pengabuan Kabupaten Tanjung Jabung Barat.Kata Kunci:  Penyakit, Jamur, kelapa dalam
RESPON BIBIT KELAPA SAWIT ( Elaeis guineensis Jacg. ) TERHADAP PEMBERIAN ZEOLIT DI PEMBIBIT UTAMA Ida Nursanti; Qamaruddin Qamaruddin
Jurnal Media Pertanian Vol 3, No 1 (2018): April
Publisher : Universitas Batanghari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.87 KB) | DOI: 10.33087/jagro.v3i1.59

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kuap, Kecamatan Pemayung, Kabupaten Batanghari Jambi selama 3 bulan mulai bulan Nopember 2015 sampai Januari 2016 yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian zeolit pada bibit kelapa sawit ( Elaeis guineensis Jacq. ) di pembibitan utama. Bibit kelapa sawit yang digunakan adalah jenis Dura yang telah berumur 3 bulan. Media tanam yang digunakan adalah tanah ultisol yang dicampur zeolit dan pupuk NPK dalam polybag ukuran 5 kg. Penelitian dirancang menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan pemberian zeolit sebanyak 5 taraf; yaitu z0 (tanpa pemberian zeolit), z1 (50 g zeolit), z2 (100 g zeolit), z3 (150 g zeolit), dan z4 (200 g zeolit) setiap polybag. Masing-masing perlakuan diulang 3 kali (15 unit satuan percobaan). Setiap petak terdapat 3 bibit, sehingga jumlah bibit sebanyak 45 polybag, 2 tanaman digunakan untuk tanaman sampel. Peubah yang diamati adalah tinggi bibit (cm), diameter batang (mm), berat kering tanaman (g), dan berat kering akar tanaman (g). Hasil penelitian menunjukkan pemberian zeolit dengan dosis yang berbeda pada media tanam memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tinggi bibit, diameter batang, berat kering tanaman, dan berat kering akar bibit kelapa sawit. Dosis zeolit 200 g per polybag merupakan dosis terbaik untuk pertumbuhan bibit kelapa sawit di pembibitan utama.Kata Kunci : Zeolit, Respon Bibit Kelapa Sawit

Page 1 of 1 | Total Record : 6