cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Reproduksi
ISSN : 2302836X     EISSN : 2621461X     DOI : -
Core Subject : Health,
urnal Kesehatan Reproduksi is a scientific journal published by Association of Women and Children Reproductive Health Enthusiasts and Experts/Ikatan Pemerhati Anak dan Kesehatan Reproduksi/IPAKESPRO) who works closely with the Department of Obstetrics and Gynaecology, Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, Universitas Gadjah Mada. Jurnal Kesehatan Reproduksi first printed version was published in 2014 with ISSN 2302-836X. In 2016, we also have an online journal version with ISSN 2621-461X. Currently, we already use the Online Journal System, requiring all authors to submit their papers online. Afterwards, authors, editors and reviewers will be able to monitor the manuscript processing. This journal is published annually every April, August and December.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 3 (2021)" : 7 Documents clear
Aplikasi SI DITA Berbasis Android terhadap Peningkatan Motivasi Orangtua Melakukan Stimulasi Deteksi Dini Tumbuh Kembang Rizka Adela Fatsena; Djauhar Ismail; Ekawaty Lutfia Haksari; Dewi Rokhanawati
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 8, No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.56746

Abstract

Background: Every parent needs to have the skills to carry out monitoring and stimulate the development of infants and children. Technology-based Early Detection and Growth Stimulation is an innovative pathway to providing health informationObjective: To determine the effect of the Android-based Si DITA application to increase parental motivation to stimulate early detection of growth and development in Az-Zahra Early Childhood Education at Sleman RegencyMethod: Quasi Experiment with pretest-post test control group design design patterns. The sample uses the Lemeshow formula with purposive sampling of 15 respondents in each groupResults and Discussion: Obtained p value = 0.001, states that the Android-based Si DITA application to increase parental motivation to stimulate early detection of growth has a meaningful or influential value. The confounding variables that influence are only prior information, while education and income variables have no effectConclusion: Android-based applications can increase parental motivation to stimulate and detect early growth and development
PENGARUH PERAWATAN KEHAMILAN DAN PERSALINAN DENGAN KEJADIAN KEMATIAN NEONATAL. Magdalena Lena Paunno
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 8, No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.61550

Abstract

AbstractBackground: Maternal care interventions (ANC) can reduce perinatal mortality by up to 75%. Neonatal mortality is closely related to the first 100 days of life starting from conception, the intra-uterine period, or in the womb for 230 days. Neonatal mortality can also be caused by various factors based on the cause, namely: Direct causes related to complications during the newborn and indirect causes related to the mother are hypertension, anemia in pregnancy, quality of care during pregnancy and/or delivery, and maternal mortality. Maternal mortality has some characteristics, such as Condition 4 is categorized as too much (namely too young; too old; too close range; and too much), while Condition 3 is categorized as delay, (being late to recognize the danger signs of childbirth; being late in making decisions; being late in handling by health workers in health facilities). Neonatal mortality refers to death in the 1st 28 days of life. Neonatal deaths are divided into two types, such as early neonatal mortality refers to death before 7 days or 0-6 days, and late neonatal mortality to death on days 7-28. The highest rate of neonatal deaths is perinatal mortality, where intrauterine fetal death occurs from 28 weeks of gestation to the 1st 7 days of life.Objective: This study was to determine the risk of neonatal death associated with prenatal care and delivery, as well as other factors.Research Methods: This type of observational research with a quantitative approach is a case-control research design. In this study, the case was neonatal mortality and the exposure was pregnancy care and delivery care. Calculation of the case-control sample size without matching by considering previous studies with a minimal sample studied for 1:1 control cases. Thus, the total number of samples is 86 people. By taking non-probability sampling, it is determined by quota sample.Results and Discussion: There is a relationship between Neonatal mortality with a P-value of 0.3150, which means being late in recognizing danger signs has a risk of 3.150 times The Asymptotic Significance (2-sided) value shows a P-value = 0.011 which means that <0.05 then the OR value declared significant or meaningful. While 95% CI showed a value of 1.306-7.600. There is a relationship between age and Neonatal mortality with the Odds value of Haenszel's Mantel Ratio indicated by the Estimate value, which is 3,496, which means that age in the risk category <25 years and >35 years has a risk of 3.496 times that of the age with no risk category 25-35 years. The Asymptotic Significance (2-sided) value shows a P-value = 0.006 which means that <0.05, the OR value is declared significant or significant. While the 95% CI showed a value of 1.438-8.498. There is a relationship between danger signs and Neonatal Mortality, the Odds value of the Haenszel Coat Ratio is indicated by the Estimate value, which is 3.150, which means that the variable late recognizes danger signs has a risk of 3.150 times that of not recognizing danger signs late. The Asymptotic Significance (2-sided) value shows a P-value = 0.011, which means that <0.05, the OR value is declared significant or significant. While 95% CI showed a value of 1.306-7.600.Conclusion: Pregnancy care and other factors, such as age and danger signs, have a risk of neonatal death compared to delivery care. Pregnant women of reproductive age have a higher risk than the group of live neonates. In the stillbirth group, pregnant women who were late in recognizing danger signs were higher than in the live neonates group. Keywords: Neonatal Death; Pregnancy and Delivery Care; RSUD dr. Haulussy Ambon.AbstrakLatar Belakang Intervensi perawatan ibu hamil (ANC) dapat menurunkan kematian perinatal hingga 75%. Kematian neonatal berkaitan erat dengan100 hari pertama kehidupan yang dimulai sejak konsepsi, masa intra uteri atau dalam kandungan selama 230 hari. Kematian neonatal juga dapat disebabkan oleh berbagai faktor berdasarkan penyebab yaitu: Penyebab langsung berhubungan dengan komplikasi saat bayi baru lahir dan penyebab tidak langsung berhubungan dengan ibu adalah hipertensi, anemia dalam kehamilan, kualitas perawatan selama hamil, persalinan dan karakteristik ibu meliputi keadaan 4 terlalu (terlalu: muda; tua; jarak dekat; banyak) dan keadaan 3 terlambat yaitu terlambat mengenal: tanda bahaya; mengambil keputusan; terlambat ditolong. Kematian Neonatal adalah kematian terjadi saat bayi baru lahir sampai 28 hari. Kematian neonatal dibagi menjadi 2, yaitu kematian neonatal dini yang terjadi selama minggu pertama kehidupan umur 0-6 hari setelah lahir dan kematian neonatal lanjut yang terjadi umur 7-28 hari setelah lahi. Penyumbang kematian neonatal adalah kematian perinatal perinatal dimana tefjadi kematian janin intra uteri mulai dari kehamilan 28 minggu sampai 7 hari pertama kehidupan.Tujuan: Penelitian ini untuk  mengetahui  risiko kematian  neonatal yang berhubungan dengan  perawatan kehamilan dan persalinan, serta faktor lainnya.Metode :Jenis penelitian observasional dengan pendekatan kuantitatif adalah rancangan penelitian Kasus-Kontrol. Dalam penelitian  ini sebagai kasus adalah kematian neonatal dan paparan adalah perawatan kehamilan dan perawatan persalian. Perhitungan besar sampel kasus kontrol tanpa matching dengan mempertimbangkan penelitian sebelumnya dengan sampel minimal yang diteliti untuk kasus kontrol 1:1. sehingga jumlah sampel total adalah 86 orang. Dengan Cara pengambilan non probability sampling, ditentukan secara quota sample.Hasil dan Pembahasan: Adanya hubungan antara kematian Neonatal dengan nilai Pvalue 0,3150 yang artinya terlambat mengenal tanda bahaya mempunyai risiko sebesar 3,150 kali lipat Nilai Asymptotic Significance (2-sided) menunjukkan nilai Pvalue=0,011 yang berarti bahwa <0,05 maka nilai OR dinyatakan signifikan atau bermakna. Sedangkan 95% CI menunjukkan nilai 1,306-7,600. Ada hubungan antara umur dengan kematian Neonatal dengan atas nilai Odds Rasio Mantel Haenszel ditunjukkan dengan nilai Estimate yaitu 3,496 yang artinya umur dengan kategori beresiko <25 tahun dan >35 tahun mempunyai resiko sebesar 3,496 kali lipat dari pada umur dengan kategori tidak beresiko 25-35 tahun. Nilai Asymptotic Significance (2-sided) menunjukkan nilai Pvalue=0,006 yang berarti bahwa <0,05 maka nilai OR dinyatakan signifikan atau bermakna. Sedangkan 95% CI menunjukkan nilai 1,438-8,498. Ada hubungan tanda bahaya dengan Kematian Neonatal nilai Odds Rasio Mantel Haenszel ditunjukkan dengan nilai Estimate yaitu 3,150 yang artinya variabel terlambat mengenal tanda bahaya mempunyai resiko sebesar 3,150 kali lipat dari tidak terlambat mengenal tanda bahaya. Nilai Asymptotic Significance (2-sided) menunjukkan nilai Pvalue=0,011 yang berarti bahwa <0,05 maka nilai OR dinyatakan signifikan atau bermakna. Sedangkan 95% CI menunjukkan nilai 1,306-7,600.Kesimpulan: perawatan kehamilan serta faktor lainnya yaitu umur dan tanda bahaya memiliki risiko 1kali beriko terhadap kematian Neonatal dibandingkan dengan perawatan Persalinan.  lebih besar ibu hamil umur reproduksi beresiko di bandingkan dengan kelompok neonatal hidup.Pada kelompok lahir mati lebih besar ibu hamil yang terlambat mengenal tanda bahaya di banding kelompok neonatal hidup. Kata kunci: Kematian Neonatal; Perawatan kehamilan dan persalinan; RSUD dr. Haulussy Ambon.
Diagnosis and Treatment in patient with Herlyn-Werner-Wunderlich Syndrome: A case causing pelvic pain Norman Aji Triantoro; Nuring Pangastuti
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 8, No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.64831

Abstract

ABSTRACTBackground: Herlyn-Werner-Wunderlich (HWW) syndrome is a rare variant of Mullerian duct anomalies. The characteristic triad of this syndrome includes didelphys uterus, obstructed hemivagina, and ipsilateral renal agenesis, recently known as Obstructed Hemivagina and Ipsilateral Renal Anomaly (OHVIRA) syndrome. The most common presentation is abdominal and pelvic pain, dysmenorrhea, and abdominal mass secondary to hematocolpos, hematosalping or hematometra.Objective: to determine the diagnosis and operative management of HWW syndrome case with pelvic pain as the chief complaint.Methods: case examination and tracing medical records at Dr Sardjito Hospital Yogyakarta.Results and Discussion: Fourteen-year-old female, presented with pelvic pain. Physical examination revealed a cystic mass in the abdomen inferior, palpable up to 3 cm inferior to the umbilicus. From the Intravenous Pyelography (IVP) examination, it was found normal anatomy and function of the right kidney, but there was no left kidney. On a contrast-enhanced abdominal CT scan, magnetic resonance imaging (MRI) and laparoscopy showing a complete duplication of the uterus from the horn to the cervix with no connection between the two uterine cavities, both ovaries were normal, the right fallopian tube was normal, the left tube was enlarged, attached to the uterus and the left ovary, no left kidney was found. Operative management of the vaginal septectomy procedure was performed.Conclusion: MRI is most accurate for providing details regarding the altered anatomy and for identifying associated hematocolpos,hematosalping or hematometra for HWW syndrome cases. Surgical intervention by vaginal septectomy is performed to relieve symptoms, provide better reproductive and sexual functions.Keywords: Herlyn-Werner-Wunderlich syndrome, Mullerian disgenesis, pelvic pain. ABSTRAKLatar belakang: sindrom Herlyn-Werner-Wunderlich (HWW) adalah varian langka dari kelainan duktus Mullerian. Trias khas dari sindrom ini adalah uterus didelfis, septum hemivagina, dan agenesis ginjal ipsilateral atau sindromObstructed Hemivagina and Ipsilateral Renal Agenesis (OHVIRA). Gejala paling sering adalah nyeri perut maupun panggul, dismenorea, dan terdapatnya massa pada perut akibat dari hematokolpos, hematosalping atau hematometra.Tujuan: untuk mengetahui penegakan diagnosis dan penatalaksanaan operatif satu kasus sindrom HWW dengan keluhan utama nyeri panggul.Metode: pemeriksaan kasus dan penelusuran rekam medis di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta.Hasil dan Diskusi: Perempuan berusia 14 tahun dengan nyeri panggul. Pemeriksaan fisik terdapat massa kistik di perut bagian inferior, teraba hingga 3 cm inferior umbilikus. Dari pemeriksaan Intravenous Pyelografi (IVP) didapatkan anatomi dan fungsi ginjal kanan yang normal namun tidak didapatkan adanya ginjal kiri. Pada CT scan abdomen dengan kontras, Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan laparoskopi menunjukkan duplikasi lengkap uterus dari cornu ke serviks tanpa hubungan antara dua rongga uterus, kedua ovarium normal, tuba fallopi kanan normal, tuba kiri membesar, menempel pada uterus dan ovarium kiri. tidak didapatkan ginjal kiri. Selanjutnya dilakukan penatalaksanaan operatif prosedur septektomi vagina.Kesimpulan: MRI paling akurat untuk memberikan rincian mengenai perubahan anatomi dan untuk mengidentifikasi hematocolpos, hematosalping maupun hematometra pada sindrom HWW. Intervensi bedah berupa septektomi vagina dilakukan untuk meredakan gejala serta memberikan harapan fungsi reproduksi dan sexual yang lebih baik.Kata kunci: Sindrom Herlyn-Werner-Wunderlich, disgenesis Mullerian, nyeri panggul. 
Early Finding of Vasa Previa: A Case Report Rizka Adi Nugraha Putra
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 8, No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.65005

Abstract

Vasa previa is referred to the condition of running of fetal vessels that are unprotected by placenta or umbilical cord, within the membranes over the cervix and under the presenting part of the fetus. Due to its membranous vessels, risk of being compressed or ruptures could lead to fetal demise, exsanguination or even death. Its exact etiology is still unknown but multiple risk factors are known, such as low-lying placenta, placenta previa, multiple pregnancies, multilobed placenta and velamentous umbilical cord anchorage, and assisted pregnancy like invitro fertilization.In this report we report a case of 40 years old woman, G3P1A1 at 35 weeks of gestation and history of C-section due to preeclampsia and breech presentation and curettage due to blighted ovum. Early prenatal diagnosis using ultrasonography examination could increase the survival rate of the fetus if followed by sufficient measure after diagnosed. Cesarean birth is the safest mode of delivery even before the clinical signs or onset of labor occurred.
Pengembangan Video Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja Bagi siswa Sekolah Dasar di Kota Cirebon Dyah Widiyastuti; Lia Nurcahyani
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 8, No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.65821

Abstract

Latar Belakang: Batasan usia remaja berdasarkan WHO adalah 10-19 tahun. Seks pranikah merupakan masalah yang sangat rentan terjadi pada remaja. Faktor penyebab munculnya perilaku seksual adalah kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi. Pemberian pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja sangat penting, Berbagai penelitian telah merekomendasikan pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi sejak dini.Tujuan: melakukan pengembangan video pendidikan kesehatan reproduksi remaja bagi siswa Sekolah Dasar di Kota CirebonMetode: Metode yang digunakan adalah metode penelitian dan pengembangan (research and development), dengan jenis data kuantitatif dan kualitatif. Subjek penelitian ini subjek ahli/ pakar (psikolog, petugas UKS, dosen Kesehatan Reproduksi, ahli informasi dan teknologi).  Penelitian ini menggunakan instrumen berupa kuesioner dan 3 buah video. Analisis data meliputi univariabel dalam bentuk distribusi frekuensi. Data kualitatif dianalisis dengan content analysis.Hasil dan Pembahasan: hasil analisis uji kelayakan video pendidikan kesehatan reproduksi pada siswa SD menurut psikolog, petugas UKS, dosen kespro dan ahli media adalah layak digunakan sebagai media pembelajaran kesehatan reproduksi remajaKesimpulan : video pendidikan kesehatan reproduksi pada siswa SD menurut psikolog, petugas UKS, dosen kespro dan ahli media adalah layak digunakan sebagai media pembelajaran kesehatan reproduksi remaja
PERBANDINGAN EFEK ANTARA PEMBERIAN NIFEDIPIN DAN SALBUTAMOL SEBAGAI TOKOLITIK PADA IBU HAMIL DENGAN ANCAMAN PERSALINAN PREMATUR Andi Alamanda Irwan
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 8, No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.67578

Abstract

Latar belakang: Ancaman persalinan prematur dapat terjadi pada usia kehamilan 22 – 37 minggu. Hal ini menjadi penyebab meningkatnya angka kematian dan kesakitan pada neonatus/bayi masih sangat tinggi di beberapa negara. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mencegah kelahiran prematur pemberian tokolitik.Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan efek antara  Nifedipin dan Salbutamol sebagai tokolitik pada ibu hamil dengan ancaman persalinan prematur.Metode: Desain penelitian adalah cross sectional dengan metode simple random sampling. Hasil dan Pembahasan: Sampel terdiri dari 20 kelompok Nifedipin dan 20 kelompok Salbutamol. Analisis bivariat digunakan untuk menilai hubungan antara efek pemberian obat tokolitik terhadap kontraksi. Hasil menunjukan nilai yang signifikan (p=0,000) pada semua sampel, dimana mengalami penurunan kontraksi setelah diberikan nifedipin dan salbutamol. Hal ini sesuai dengan teori tentang mekanisme kerja tokolitik yang menghambat kontraksi otot polos.Kesimpulan: Nifedipin dan Salbutamol efektif dalam mencegah kontraksi pada ancaman persalinan prematur. Efek samping ditemukan pada penggunaan Nifedipin.Kata Kunci: Tokolitik, Nifedipin, Salbutamol, Ibu Hamil, Kardiotokografi
Rekanalisasi Tuba Fallopi Paska Sterilisasi dan Luaran Kehamilannya: Case Report Muhammad Ludfi
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 8, No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.73600

Abstract

Latar Belakang: Sekitar 1-3% wanita yang telah melakukan sterilisasi berkeinginan untuk memiliki anak kembali di kemudian hari. Sementara beberapa penelitian menunjukkan bahwa kehamilan tidak terencana yang terjadi setelah prosedur sterilisasi dapat meningkatkan risiko kehamilan ektopik. Rekanalisasi tuba fallopi merupakan suatu alternatif dari fertilisasi in vitro (IVF) untuk pasien yang menginginkan kehamilan setelah sterilisasi dan mungkin lebih sesuai untuk dilakukan di negara berkembang karena efektivitas biayanya.Tujuan: Untuk memberikan informasi mengenai prosedur rekanalisasi tuba fallopi yang dilakukan pada wanita yang sebelumnya menjalani sterilisasi serta luaran kehamilannya.Laporan Kasus: Kami melaporkan dua kehamilan pada wanita yang menjalani rekanalisasi tuba fallopi. Pada kedua wanita tersebut dilakukan pendekatan laparotomi mikro dari reanastomosis tuba setelah mengidentifikasi tuba fallopi yang diikat sebelumnya. Pembedahan mikro dilakukan dengan menjahit mesosalping menggunakan bahan polypropylene no. 6.0. Selanjutnya lapisan otot di ujung kedua tuba diidentifikasi dan dijahit secara sistematis pada jam 6, 12, 3, 9 dan diakhiri dengan penjahitan lapisan serosa menggunakan jahitan satu-satu. Uji patensi kedua tuba dilakukan dengan mengalirkan pewarna metilen biru untuk memastikan tidak ada kebocoran dari jahitan reanastomosis. Evaluasi pencitraan HSG satu bulan paska tindakan didapatkan hasil tuba dalam kondisi baik dan kurang lebih satu tahun setelahnya kedua pasien berhasil hamil dan melahirkan dengan kondisi ibu dan bayi baik.Kesimpulan: Keberhasilan rekanalisasi tuba dan kehamilan setelahnya ditentukan sejak dokter melakukan skrining awal pada kandidat operasi, penjelasan yang tepat mengenai teknik prosedur yang dilakukan dan persiapan pre-operasi yang detail dan baik. Banyak studi menyebutkan rekanalisasi tuba fallopi sebagai pilihan yang patut untuk dikerjakan karena memiliki keunggulan pada kelayakan tindakan dan juga efektivitas biayanya. Beberapa faktor penting yang dapat memengaruhi keberhasilan rekanalisasi adalah usia pasien, interval waktu antara sterilisasi dengan tindakan rekanalisasi, tempat ligasi, metode yang digunakan pada ligasi sebelumnya dan sisa panjang tuba setelah operasi. Kata Kunci: rekanalisasi tuba fallopi paska sterilisasi;luaran kehamilan 

Page 1 of 1 | Total Record : 7