Articles
59 Documents
PENGEMBANGAN DAKWAH MELALUI PENGELOLAAN WISATA DALAM TRADISI BUKA LUWUR MAKAM SUNAN KUDUS
Hasan Bastomi
TADBIR : Jurnal Manajemen Dakwah Vol 1, No 2 (2016): Tadbir Jurnal Manajemen Dakwah
Publisher : TADBIR : Jurnal Manajemen Dakwah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Islam adalah agama perubahan yang berisikan petunjuk-petunjuk agar manusia secara individual menjadi manusia yang baik,beradap dan berkualitas, selalu berbuat baik sehingga mampumembangun sebuah peradaban yang maju, sebuah tatananyang manusiawi. Agar ajaran Islam selalu mampu menghadapiperkembangan zaman dan mampu menjawab tantangan zaman maka dakwah Islam perlu dikembangkan dan menciptakan alternatif-alternatif diantaranya dapat memanfaatkansektor wisata. Pariwisata yang dikelola dengan efektif akanmenimbulkan berbagai dampak sosial. Salah satu tradisi yangdapat menjadi potensi wisata adalah Tradisi Buka Luwur makamSunan Kudus. Pengelolaan dana buka luwur diimplikasikan padabeberapa kegiatan, antara lain: (1) Pengajian umum tahun barudan Pengajian Upacara Buka Luwur, (2) Kegiatan MunadhorohDiniyah, (3) Santunan Anak Yatim, (4) Khatmil Qur’an, (5)Pembagian Nasi Sodaqoh Buka Luwur. Pengelolaan dana kemudian di salurkan untuk kepentingan dakwah Islam melalui tradisi buka luwur Sunan Kudus yang pada akhirnya dibagikankepada masyarakat disekitar Makam Sunan Kudus dan parapeziarah.
KEISLAMAN DAN KEBANGSAAN: Modal Dasar Pengembangan Organisasi Dakwah
Eko Sumadi
TADBIR : Jurnal Manajemen Dakwah Vol 1, No 1 (2016): Tadbir Jurnal Manajemen Dakwah
Publisher : TADBIR : Jurnal Manajemen Dakwah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Artikel ini berusaha mengulas wawasan keislaman dan wawasankebangsaan yang semestinya menjadi ruh setiap ormas Islamdi Indonesia. Faktanya tidak sedikit ormas Islam di Indonesiayang memiliki sikap eksklusif dalam tafsiran sekaligus dalammengekspresikan pemahamannya. Ada monopoli kebenaranyang sesungguhnya hanyalah persoalan beda tafsir dan bedapemahaman. Sehingga berimplikasi pada nalar penyeragaman,bahwa berbeda berarti salah. Ide demikianlah yang sering kalimemicu kegaduhan dan bahkan kontak fisik antar sesamaumat Islam di Indonesia. Selain itu, ide-ide transnasional jugasudah mewabah di negeri ini yang secara tidak langsung berartiancaman bagi integritas dan keutuhan bangsa Indonesia sebagaisebuah Negara kesatuan republik Indonesia. Dari kajian yangpenulis lakukan, sampai pada kesimpulan bahwa; Pertama, sikaptoleransi dan sikap menghargai setiap perbedaan harus dijunjungtinggi. Karena pada wilayah penafsiran sangat mungkin lahirberbagai perbedaan (khilafiyah), tidak ada kebenaran yangmutlak di wilayah pemikiran dan pemahaman, yang ada hanyalahkebenaran relatif. Maka hal demikian harus senantiasa menjadikesadaran setiap aktivis ormas Islam di Indonesia. Kedua, setiapaktivis ormas Islam di Indonesia juga harus memiliki wawasankebangsaan yang komprehensif dan senantiasa mengedepankansikap nasionalisme. Harus ada kesadaran bahwa Indonesia bukan Negara Agama, bukan juga Negara sekuler melainkan Negara religius. Sehingga rumusan Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI merupakan suatu dasar yang sudah final. Selanjutnya segala sikap dan tindakan yang bertentangan dengan 4 pilar kebangsaan tersebut harus dijauhi dan ditinggalkan.
POLA KEPEMIMPINAN ISLAM SEBAGAI KUNCI SUKSES DAKWAH RASULULLAH
Mubasyaroh Mubasyaroh
TADBIR : Jurnal Manajemen Dakwah Vol 2, No 1 (2017): Tadbir Jurnal Manajemen Dakwah (Article in Press)
Publisher : TADBIR : Jurnal Manajemen Dakwah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kepemimpinan atau sering disebut sebagai leadership menurut arti harfiahnya adalah daya memimpin atau kualitas pemimpin. Adapun kepemimpinan merupakan suatu kegiatan atau seni untuk mempenbaruhi perilaku orang-orang yang dipimpin agar rela bekerja sama menuju kepada satu tujuan yang ditetapkan atau diinginkan bersama. Berbicara tentang Nabi Muhammad SAW tidak bisa dilepaskan dari tugas utama beliau sebagai seorang rasul penyampai risalah Tuhan dan tugasnya sebagai pemimpin panutan umat dengan memberikan pendidikan dan pengajaran tentang nilai-nilai Islam, sebagai bentuk dakwahnya. Pemimpin dambaan ummat adalah sosok pemimpin yang bisa membawa ummat kembali merintis dan menciptakan peradaban mulia sebagaiman telah digambarkan Nabi SAW. Karena hanya kepemimpinan yang sesuai dengan metode kenabianlah, Ridha Allah akan didapat. Pada makalah ini akan mencoba diungkap tentang pola kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW sehingga mencapai sukses dalam dakwahnya yang mampu menguasai seluruh jazirah Arab.
POTRET MANAJAMEN RASULULLAHSAW KETIKA BERDAKWAH DI MADINAH AL-MUNAWWARAH
Nurul Hidayati
TADBIR : Jurnal Manajemen Dakwah Vol 1, No 2 (2016): Tadbir Jurnal Manajemen Dakwah
Publisher : TADBIR : Jurnal Manajemen Dakwah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Dakwah adalah menyeru kepada Islam yang hanif dengan keutuhandan keuniversalannya dengan syiar-syiar dan syariatnya. Salahsatu komitmen seorang muslim terhadap keislamannya adalahupaya menyerukan, menyebarkan dan menyampaikan ajaranIslam kepada orang lain. Kegiatan penyeruan dan pengajakankepada Islam mempunyai langkah-langkah khusus yang menjadigaris landasannya, serta arah dan tujuannya yang hendak dicapai.Dalam hal ini, al-Quran sebagai rujukan dakwah mempunyaiwatak atau karakteristik yang khas. Kekhasannya dapat dilihatdari beberapa isyarat pernyataan-pernyataan yang diekspresikandan dijelaskan dalam al-Quran. Kehadiran Rasulullah saw.di tengah-tengah masyarakat Jazirah Arab khususnya di kotaMekkah sebagai cahaya bagi mereka yang mempercayainya.Karena, tidak semua dari mereka mengikuti dan mempercayaiapa yang dibawa olehnya. Banyak sekali tantangan dan halanganyang dihadapi oleh beliau ketika menyeru dan mengajak sukuQuraisy yang sudah mendarah daging dengan kejahiliahannya.Dakwah di Mekkah fokus pada masalah keesaan Allah.Karenanya, ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah banyak sekaliberbicara tentang ketauhidan, semisal surat al-Ikhlas. Sebaliknyadakwah di Madinah fokus pada masalah sosial kemasyarakatan.Selanjutnya tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengetahui cara Rasulullah mengelola dakwah ketika berada di Madinah dan untuk mengetahui apa saja yang beliau lakukan sehingga dakwah beliau di Madinah bisa sukses.
SUMBER DAYA MANUSIA DAN KONFLIK SOSIAL DALAM ORGANISASI KEAGAMAAN (Analisis Fenomena Konflik Komunitas NU dan Muhammadiyah)
Yuliyatun Yuliyatun
TADBIR : Jurnal Manajemen Dakwah Vol 1, No 1 (2016): Tadbir Jurnal Manajemen Dakwah
Publisher : TADBIR : Jurnal Manajemen Dakwah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan peran sumberdaya manusia dalam mengelola konflik sosial antarorgansasikeagamaan dan relevansinya dengan keseimbangan diri sumberdaya manusia dalam resolusi konflik. Tulisan ini merupakan hasilanalisis terhadap fenomena di masyarakat adanya konflik antarakomunitas organisasi keagamaan NU dengan Muhammadiyah.Dengan pendekatan psikologi fenomenologis, penulis menemukan bahwa peran sumber daya manusia sangat penting dalam upayanya membangun kesadaran komunitas masyarakatpendukung organisasi untuk memahami visi dan tujuankeberadaan organisasi keagamaan di tengah masyarakat, yakniuntuk menjaga keimanan dan memelihara ukhuwah Islamiyah.
MANAJEMEN DALAM ORGANISASI ISLAM
Mubasyaroh Mubasyaroh
TADBIR : Jurnal Manajemen Dakwah Vol 2, No 2 (2017): Tadbir Jurnal Manajemen Dakwah (Article in Press)
Publisher : TADBIR : Jurnal Manajemen Dakwah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Organisasi yang baik dalam pandangan masyarakat modern harus dikelola secara efektif dan efisien. Pengelolaan organisasi secara efktif dan efisien hanya akan didapati bila didalamnya dipraktekkan manajemen modern. Pengelolaan organisasi dapat dilakukan dengan menggunakan manajemen yang baik. Dalam makalah ini akan diungkapkan manajemen dalam organisasi Islam. Adapun tujuan tulisan ini, ingin memberikan gambaran dan wawasan terhadap pembaca, mengenai hal-hal yang berkaitan dengan organisasi, serta manajemen dalam organisasi Islam. Manajemen sebagai kegiatan mengerakkan orang-orang dalam suatu organisasi atau kegiatan tertentu, memiliki fungsi yang berbeda-beda. Henri Fyol misalnya menyebutkan fungsi-fungsi manajemen terdiri dari planning, organizing, commonding, coordinating, dan controlling. Sementara itu George R.Terry membagi fungsi manajemen ada 4(empat) yaitu; planning, organizing, actuating, dan controlling.
KARAKTERISTIK KEPEMIMPINAN DALAM PERSPEKTIF MANAJEMEN DAKWAH
Istina Rakhmawati
TADBIR : Jurnal Manajemen Dakwah Vol 1, No 2 (2016): Tadbir Jurnal Manajemen Dakwah
Publisher : TADBIR : Jurnal Manajemen Dakwah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Manajemen dakwah adalah pengaturan secara sistematis dankoordinatif dalam setiap kegiatan yang secara aktifitas sebuahdakwah yang dimulai dari sebelum pelaksanaan sampai akhirdari rangkaian kegiatan dakwah. Sedangkan manajemen sendiriadalah sbagai proses perencanaan tugas, mengelompokkan,menghimpun dan menempatkan tenaga-tenaga pelaksanaandalam kelompok-kelompok tugas dan kemudian menggerakkankearah tujuan. Jika aktivitas manajemen dakwah dilaksanakansesuai dengan prinsip manajemen maka citra profesional dalamdakwah akan terwujud. Adapun nilai kepemimpinan dalamsebuah manajemen dakwah merupakan sifat dan sikap nilaisebuah kepemimpinan serta tingkah laku seorang pemimpinyang mengandung kemampuan untuk memimpin, mengarahkan,mempengaruhi daya kemampuan seseorang atau kelompokguna mencapai tujuan dakwah yang telah ditetapkan. Nilai darikepemimpinan tersebut bertujuan semata-mata untuk mencapaisebuah keberhasilan dakwah melalui pendekatan manajemendakwah. Pemimpin sebuah organisasi dakwah adalah orang yangmampu menggerakkan orang lain yang ada disekitarnya untukmengikuti ajakannya dalam proses pencapaian tujuan dakwah,dengan kata lain sifat-sifat kepemimpinan dakwah seharusnyamemiliki kedalaman memahami ilmu agama dan kecakapan ilmu duniawi, disamping harus selalu menjaga ketaqwaan kepada Allah swt.
MENUMBUHKAN SIKAP BERPIKIR POSITIF DALAM ORGANISASI DAKWAH
Riza Zahriyal Falah
TADBIR : Jurnal Manajemen Dakwah Vol 1, No 1 (2016): Tadbir Jurnal Manajemen Dakwah
Publisher : TADBIR : Jurnal Manajemen Dakwah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini membahas tentang sikap berpikir positif yangmerupakan keharusan dalam menjalankan tugas berdakwah.Landasan dan alasan berpikir positif dikemukakan agar bisadipahami bahwa berpikir positif merupakan sikap yang tidakbisa ditinggalkan dalam menjalankan tugas dakwah. Tujuan daripenulisan artikel ini adalah untuk memperkaya referensi parada’i dan organisasi dakwah dalam menjalankan kegiatannya.Selain itu juga untuk memberi pengetahuan tentang strategi danmetode untuk selalu berpikir positif dalam kehidupan sehari-hari.Selain penulisan deskriptif, teknik komparasi juga digunakandalam penulisan artikel ini. Ditambah dengan analisa kritis danmendalam. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kondisipikiran seseorang akan mempengaruhi perilaku fisiknya. Berpikirpositif akan menghasilkan perilaku yang positif (baik). Sebaliknyaberpikir negatif juga akan menghasilkan perilaku yang negatif.Maka dari itu, dalam tulisan selain alasan berpikir positif, strategiberpikir positif juga dibahas sehingga bisa dijadikan referensibagi para da’i dan organisasi dakwah dalam menjalankantugas dakwah
KONTRIBUSI DA’I DALAM MEMBANGUN JIWA KEPEMIMPINAN MELALUI PENDIDIKAN KARAKTER
Fatma Laili Khoirun Nida
TADBIR : Jurnal Manajemen Dakwah Vol 2, No 1 (2017): Tadbir Jurnal Manajemen Dakwah (Article in Press)
Publisher : TADBIR : Jurnal Manajemen Dakwah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Eksistensi da’i dalam dinamika dakwahnya tidak cukup hanya sebagai pembawa risalah agama, namun lebih dari itu da’i memiliki peran yang strategis dalam kiprahnya sebagai fasilitator, motivator, problem solver dan teladan bagi masyarakat. Dalam tulisan ini akan menguraikan bagaimana kompetensi da’i mampu menjadi daya dukung dalam proses pembangunan jiwa kepemimpinan mad’u. Keberhasilan da’i dalam membangun jiwa kepemimpinan mengindikasikan kemampuan da’i dalam mewujudkan proses pendidikan karakter sebagai muatan dalam dinamika dakwahnya. Disisi lain, kekuatan karakter yang dicapai mad’u sebagai produk dari keberhasilan dakwah merupakan wujud nyata dari aktualisasi kompetensi da’i baik secara personal, social, spiritual dan subtantif-metodologis. Kekuatan karakter dalam proses pembangunan jiwa kepemimpinan didukung oleh tiga pilar pendidikan karakter yang meliputi; moral knowing, moral loving dan moral behavior sebagai sebagai pijakannya. Keberhasilan pendidikan karakter melalui peran da’i yang professional akan menjadi media yang strategis dalam upaya pembangunan jiwa kepemimpinan ummat sebagai salah satu tujuan dari kegiatan dakwah.
KESADARAN BERORGANISASI SOSIAL (Kajian Tanggungjawab Berorganisasi Penataan Administrasi Masjid)
Mas'udi Mas'udi
TADBIR : Jurnal Manajemen Dakwah Vol 1, No 2 (2016): Tadbir Jurnal Manajemen Dakwah
Publisher : TADBIR : Jurnal Manajemen Dakwah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Masjid dalam kehidupan kaum muslimin merupakan salah satutempat yang bernilai pokok karena kehadirannya sebagai saranamereka mengabdi kepada Allah Swt. Keberadaan masjid dalamkehidupan kaum muslimin akan menunjung seutuhnya terhadapmutu-mutu ibadah yang dilaksanakan pada hari-hari kehidupanmereka di dunia. Tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan masjidbagi identitas seorang muslim sebagai kenyataan yang harus dijagadan dilestarikan. Pelestarian masjid itu sendiri juga menjadiaspek penting yang akan menjadikan nilai-nilai ibadah yangmereka jalankan dapat nyaman dan berjalan dalam ketentraman.Menganalisis mutu ibadah yang bisa dicapai oleh setiap muslimdalam hari-hari mereka melangsungkan ibadah di masjid pentingmenegaskan kondisi yang bisa dijumpai di masjid tersebut.Kondisi masjid yang bersih, nyama, kondusif, dan tertata denganbaik sistem organisasinya akan menegaskan bahwa operasionalibadah di tempat tersebut tergolong baik dan rapi. Usahamenunjukkan mutu ibadah yang baik dalam rancangan masjidyang kondusif ini, kajian dalam artikel ini disandarkan kepadaanalisis deskriptif dengan metode analisis data secara kualitatif.Pendekatan yang ada ini ditujukan untuk menjelaskan fenomena yang berjalan dan terjadi pada sistem manajemen yang ada di masjid-masjid. Penataan administrasi dari manajemen masjid masih kurang terurus dengan rapi. Hal ini terjadi karena asumsi yang muncul dari beberapa pengurus yang ada bahwa masjid hanya eksklusif pada bagian-bagian kerja yang berhubungan dengan ibadah mahdlah wajib semata. Padahal dalam realitas kerja dan operasionalnya, masjid tampak menjadi nyaman di saat tata kelola dan sistem manajemen yang ada bisa dilangsungkan melalui kesepakatan-kesepakatan bersama yang dibangun ditengah-tengah masyarakat.