cover
Contact Name
Khabibur Rohman
Contact Email
haabib.rohman@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalmartabat@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. tulungagung,
Jawa timur
INDONESIA
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak
ISSN : 25812076     EISSN : 25810472     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Martabat: Journal of Women and Children is a journal for scientific publication which is run by Center of Gender and Children's Studies (PSGA) IAIN Tulungagung. Journal of Martabat publish every six months in the form of printed and electronic. Martabat provides a theoretical and research study of women and children's issues resulting in new perspectives. Martabat presents a critical reflection on the theory and practice of feminism and children in various contexts. The articles that publish must have an authenticity and should be in line with editorial views
Arjuna Subject : -
Articles 193 Documents
Stereotype terhadap Tokoh Utama Perempuan dalam Novel Alun Samudra Rasa karya Ardini Pangastuti Bn
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol 5 No 1 (2021)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/martabat.2021.5.1.60-82

Abstract

Abstrak: Konflik yang terjadi antara laki-laki dan perempuan menekankan adanya labeling negatif yang tercipta atau stereotip terhadap perempuan selama ini, merupakan salah satu bentuk perubahan sosial dan kemerosotan kualitas moral manusia yang beradab dan beradab. Selain itu, stereotip dapat mengarah pada praktik diskriminatif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan bentuk stereotype tokoh utama wanita dalam novel Alun Samudra Rasa karya Ardini pangastuti Bn. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan kritik sastra feminis dalam novel Alun Samudra Rasa. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah novel Alun Samudra Rasa. Penelitian ini memfokuskan perhatian pada representasi stereotip tokoh utama wanita dalam novel Alun Samudra Rasa. Adanya stereotip dapat menimbulkan kesenjangan dan diskriminasi pada tokoh utama perempuan. Setelah menganalisis data dapat disimpulkan bahwa dalam novel terdapat bentuk stereotip atau pelabelan negatif terhadap tokoh utama perempuan yang dilakukan oleh laki-laki bahkan perempuan yang digambarkan dalam konflik dalam novel.
Pria sebagai Privileged Allies dalam Gerakan Feminis HeForShe untuk Memperjuangkan Hak Pekerja Wanita di Indonesia
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol 5 No 2 (2021)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/martabat.2021.5.2.400-433

Abstract

Abstract: Gender inequality is a problem faced throughout the world, including in Indonesia, where the patriarchal system causes women to often get injustice from various sectors, especially the work sector. In 2014, UN Women initiated the formation of HeForShe by making men as agents of change so that women can live equally without discrimination. This research then aims to see why the HeForShe organization involves men in efforts to address gender inequality in Indonesia. This research also uses qualitative methods with various data sources from the HeForShe organization, the Government of Indonesia and the Ministry of PPPA. The theory used is Liberal Feminists with the concept of men as privileged allies. The results of this study indicate that men as privileged allies in the struggle for the rights of women workers in Indonesia. The support provided by Indonesian men currently varies from learning about gender equality to building movements to support the elimination of violence against women. It is through this contribution that women's voices will be heard and gender equality actions will be better realized. Keywords: Indonesia, Gender Inequality, HeForShe, Privileged Allies, Equality, Rights of Women Workers Abstrak: Ketidaksetaraan gender merupakan permasalahan yang dihadapi di seluruh dunia termasuk di Indonesia dimana sistem patriarki menyebabkan wanita seringkali mendapatkan ketidakadilan dari berbagai sektor terutama sektor pekerjaan. Pada tahun 2014, UN Women menginisiasikan terbentuknya HeForShe dengan menjadikan pria sebagai agen perubahan agar wanita bisa hidup setara tanpa diskriminasi. Penelitian ini kemudian bertujuan untuk melihat mengapa organisasi HeForShe melibatkan pria dalam upaya penanganan ketidaksetaraan gender di Indonesia. Penelitian ini juga menggunakan metode kualitatif dengan berbagai sumber data dari organisasi HeForShe, Pemerintah Indonesia serta KemenPPPA. Teori yang digunakan adalah Feminis Liberal dengan konsep pria sebagai privileged allies. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pria berperan sebagai privileged allies dalam perjuangan hak pekerja wanita di Indonesia. Dukungan yang diberikan pria Indonesia saat ini sangat beragam mulai dari mempelajari mengenai kesetaraan gender sampai membangun gerakan untuk mendukung penghapusan kekerasan terhadap wanita. Melalui kontribusi inilah suara wanita akan lebih didengar dan kesetaraan gender akan terwujud dengan lebih baik. Kata Kunci: Indonesia, Ketidaksetaraan Gender, HeForShe, Privileged Allies, Kesetaraan, Hak Pekerja Wanita.
Sex Reassigment Surgery sebagai Penentuan Ulang Status Gender dalam Kajian Maqashid Syariah
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol 5 No 2 (2021)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/martabat.2021.5.2.459-487

Abstract

Abstract: Postgenderism is a social movement about understanding the balance between men, women and nature. The development of the times and technological advances has brought people to various conditions with various attitudes to life, including a new way of looking at humans regarding gender status. This is intended as a space for human potential by eliminating gender status biologically and psychologically because it is considered an arbitrary limitation space. Postgenderism faces the limitations of social constructionist views on gender and sexuality, as well as the possibility of gender transcendence through social and political means that can be resolved by means of technology. Maqashid Syariah is here to provide a bridge of thought in viewing discourses and phenomena that move with the times. This is as a role in providing a legal footing that is oriented to the benefit of the people. In order to provide a sharp analysis, this study uses a qualitative library research with the theory of Maqashid Syariah. The method used in this research is descriptive analytical by describing a problem, and qualitative analysis with reference to the literature and applicable legal provisions. So that through the research method used, the use of Sex Reassigment Surgery technology as a re-determination of gender status can be studied using the Maqashid Syariah theory which legally has benefits or brings new problems in its implementation in social life. Keywords: Maqashid Syariah Postgender, Sex Reassigment Surgery, Technology Abstrak: Postgenderisme adalah gerakan sosial tentang memahami keseimbangan antara laki-laki, perempuan dan alam. Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi telah membawa manusia pada berbagai kondisi dengan berbagai sikap hidup, termasuk cara baru dalam memandang manusia mengenai status gender. Hal ini dimaksudkan sebagai ruang bagi potensi manusia dengan menghilangkan status gender secara biologis dan psikologis karena dianggap sebagai ruang pembatasan yang sewenang-wenang. Postgenderisme menghadapi batasan pandangan konstruksionis sosial tentang gender dan seksualitas, serta kemungkinan transendensi gender melalui sarana sosial dan politik yang dapat diselesaikan dengan sarana teknologi. Maqashid Syariah hadir untuk memberikan jembatan pemikiran dalam melihat wacana dan fenomena yang bergerak mengikuti perkembangan zaman. Hal ini sebagai perannya dalam memberikan pijakan hukum yang berorientasi pada kemaslahatan umat. Guna memberikan analisis yang tajam, penelitian ini menggunakan penelitian library research bersifat kualitatif dengan teori Maqashid Syariah. Metode yang dipakai di dalam penelitian ini bersifat deskriptif analitis dengan memaparkan mengenai suatu permasalahan, dan analisa kualitatif dengan acuan literatur dan ketentuan hukum yang berlaku. Sehingga melalui metode penelitian yang digunakan tersebut, penggunaan teknologi Sex Reassigment Surgery sebagai penentuan ulang status gender dapat dikaji menggunakan teori Maqashid Syariah yang secara muatan hukum memiliki kebermanfaat ataupun membawa permasalahan baru dalam implementasinya di kehidupan sosial. Kata kunci: Maqashid Syariah Postgender, Sex Reassigment Surgery, Teknologi
Risiko KDRT terhadap Anak sebagai Dampak Ketegangan Sosial Akibat Pandemi Covid-19
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol 5 No 2 (2021)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/martabat.2021.5.2.361-376

Abstract

Abstract: Various drastic and sudden changes caused by the COVID-19 pandemic have an impact on economic and social implications that affect various aspects of life, including life in the family. Increased social tensions arise in line with economic imbalances and self-isolation as a result of the pandemic, so that it has the potential to create ideal conditions involving Domestic Violence (KDRT) against children by parents. This study sought to monitor this potential by using a survey-based study to determine the relationship between parental experience (n=150) with increased social tension and risky behavior patterns towards children. The results obtained will be analyzed contextually with existing research, namely regarding the factors of Domestic Violence (KDRT) against children. The results obtained indicate a relationship between social tension and risky behavior of parents towards their children. Keywords: Pandemic, domestic violence, social tension Abstract: Berbagai perubahan drastis dan mendadak yang diakibatkan oleh pandemi COVID-19 berdampak pada implikasi ekonomi dan sosial yang mempengaruhi beragam aspek kehidupan, termasuk kehidupan dalam keluarga. Peningkatan ketegangan sosial muncul sejalan dengan adanya ketidakseimbangan ekonomi dan isolasi diri yang merupakan dampak dari pandemi, sehingga berpotensi untuk menciptakan kondisi ideal yang melibatkan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) terhadap anak oleh orang tua. Penelitian ini berusaha mengawasi potensi terjadinya hal tersebut dengan menggunakan studi berbasis survei untuk menentukan hubungan antara pengalaman orang tua (n=150) dengan peningkatan ketegangan sosial dan pola perilaku beresiko terhadap anak. Hasil yang didapatkan akan dianalisis secara kontekstual dengan penelitian yang telah ada, yaitu mengenai faktor-faktor Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) terhadap anak. Hasil temuan yang didapatkan menunjukkan adanya hubungan antara ketegangan sosial dan perilaku berisiko orang tua terhadap anak. Kata Kunci: Pandemi, KDRT, ketegangan sosial
Peran Rumah Aspirasi "TITIS" dalam Mendampingi Perempuan Korban Kekerasan
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol 5 No 1 (2021)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/martabat.2021.5.1.210-239

Abstract

Kekerasan merupakan sebuah mata rantai yang sulit untuk dihapuskan. Fenomena pandemi covid-19 menjadi salah satu katalis dalam tindak kekerasan terhadap perempuan. Jawa Tengah menjadi salah satu provinsi dengan jumlah tertinggi kasus kekerasan terhadap perempuan. Akan tetapi, Kabupaten Kebumen pada tahun 2020 justru mengalami penurunan kasus. Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Kebumen adalah dengan mendirikan Rumah Aspirasi Perempuan “TITIS”. Penelitian ini berusaha untuk menjelaskan lebih jauh lagi terkait peran Rumah Aspirasi Perempuan yang telah didirikan oleh Pemerintah Kabupaten Kebumen dalam mendampingi korban kekerasan dan mendukung upaya pemerintah untuk mengurangi angka kekerasan terhadap perempuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam dan kajian pustaka dengan mengumpulkan data dari berbagai sumber. Rumah aspirasi perempuan titis memiliki tugas pokok dan fungsi melakukan pendampingan terhadap korban-korban kekerasan sekaligus memberikan konseling. Kasus kekerasan berbasis gender dan anak di Kabupaten Kebumen pada tahun 2020 mengalami penurunan dari tahun 2019. Hal ini dikarenakan banyak korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) tidak melapor kepada pihak layanan sosial atau dalam hal ini Rumah Aspirasi Perempuan “Titis” maupun kepada layanan sosial yang berada dibawah naungan Dispermades P3A Kabupaten Kebumen. Korban kekerasan cenderung untuk langsung menempuh jalur hukum dan melaporkan kasus kekerasan tersebut ke aparat kepolisian setempat. Selain itu, kurangnya pengetahuan masyarakat menjadi salah satu penyebab rendahnya laporan yang masuk ke rumah aspirasi perempuan titis. Oleh sebab itu, rumah aspirasi titis bekerja sama dengan pemerintah desa guna mendapatkan data tambahan terkait kekerasan terhadap perempuan agar dapat memberikan pendampingan korban. Kata kunci : Kekerasan, Perempuan, Rumah Aspirasi, Kabupaten Kebumen.
Handling Compassion Fatigue in Complaint and Referral Unit Volunteers: Case Study of Komnas Perempuan
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol 5 No 2 (2021)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/martabat.2021.5.2.240-263

Abstract

The spiking exposure of traumatic events faced by workers and volunteers in handling violence against women has the potential to lead to compassion fatigue. This research sought to describe the experience and protective factors of compassion fatigue in Complaint and Referral Unit volunteers who provide services to female victims of violence in Komnas Perempuan. A total of 3 respondents participated in this study through online interview. Thematic analysis is performed to analyze the data. The result suggested that the participants had compassion fatigue symptoms, which included burnout and secondary traumatic stress symptoms. The experience of burnout included physical and emotional exhaustion as well as guilt and helplessness. Whereas secondary traumatic stress was expressed in preoccupation of thoughts about victim’s violence case and projection in personal relationships. Nevertheless, these symptoms had been resolved due to protective factors such as personal characteristics (educational background and self-care) and social support (personal and professional support from the organization). This study added to our knowledge on how to create supportive system for volunters who provide services for victims of violence against women.
Kekerasan Non-fisik Media pada Artis Gisella Anastasia (Analisis Wacana Kritis Sara Mills)
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol 5 No 2 (2021)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/martabat.2021.5.2.264-288

Abstract

Abstract: The increasing violence against women makes the issue of gender will continue to be interesting to study. The forms of violence committed against women are also increasingly diverse, one of which is non-physical violence through the news media. Women are often treated unfairly and even harassed their dignity in news discourse. This paper will describe the styles of two media that are quite popular in Indonesia, namely Detik.com and Media Indonesia in constructing news about the hot video of artist Gisella Anastasia. Then the discourse construction will be analyzed using Sara Mills' critical discourse analysis. Sara Mills' critical discourse analysis will analyze the discourse building holistically which includes the position of the subject-object and also the position of the writer-reader in the news. The results of the study reveal that the position of the subject and the author is dominated by men to convince the public that women are the cause of the hot video case. The tendentious narratives aimed at women by the two media in constructing discourse further exacerbate the framing inherent in women. Keywords: Gisella Anastasia, Sara Mills Critical Discourse Analysis, Sara Mills Critical Discourse Analysis Abstrak: Meningkatknya kekerasan pada perempuan membuat isu tentang gender akan terus menarik untuk dikaji. Bentuk kekerasan yang dilakukan pada perempuan juga semakin beragam, salah satunya kekerasan non fisik lewat media pemberitaan. Perempuan kerap diperlakukan tidak adil bahkan dilecehkan martabatnya dalam pewacanaan berita. Tulisan ini akan menguraikan gaya dua media yang cukup populer di Indonesia yaitu Detik.com dan Media Indonesia dalam mengkonstruksikan berita tentang video panas artis Gisella Anastasia. Kemudian konstruksi wacana akan dianalisa dengan menggunakan analisis wacana kritis Sara Mills. Analisis wacana kritis Sara Mills akan menganalisa bangunan wacana secara holistik yang meliputi posisi subjek-objek dan juga posisi penulis-pembaca dalam pemberitaan. Hasil penelitian mengungkapkan posisi subjek maupun penulis dikuasai oleh laki-laki untuk meyakinkan publik bahwa perempuan sebagai penyebab terjadinya kasus video panas. Narasi tendensius yang ditujukan bagi perempuan oleh kedua media dalam mengkonstruksikan wacana semakin memperburuk framing yang melekat pada perempuan. Kata Kunci: Gisella Anastasia, Analisis Wacana Kritis Sara Mills, Critical Discourse Analysis Sara Mills
Penguatan Identitas Gender pada Siswa Laki-laki Melalui Kehadiran Guru Laki-laki di Tingkat PAUD
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol 5 No 2 (2021)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/martabat.2021.5.2.289-309

Abstract

Abstract: Gender identity typically aware at the age of two and will strengthen until about five years old. It is important for parents and teacher of early childhood education to provide knowledge and strengthen children's gender identity so that their gender identity develops according to their gender. Teachers in schools play an important role in strengthening gender identity. Unfortunately, today's society is not much aware of the importance of it and teachers of early childhood education are still considered as women's professions. This article aims to explain the importance of the presence of male teachers on the strengthen of gender identity in early childhood students. This study used a literature review method with thematic analysis techniques. The results of the research analysis showed that society still gives a stigma that early childhood teachers must be women because they have more patience and so on. It creates a sense of prestige and shame for men to become early childhood teachers. On the other hand, male teachers are very much needed at the early childhood education level because male teachers have a role that cannot be replaced by female teachers, especially in the formation and strengthening of gender identity for male students, including providing challenging games for male students, giving examples of assertive behavior, and other attributes that show male gender roles in front of male students. Keywords: Early childhood education, gender identity, male student, male teacher. Abstrak: Identitas gender mulai terbentuk pada usia dua tahun dan akan menguat sampai sekitar usia lima tahun. Penting bagi orang tua dan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) untuk memberikan pengetahuan dan penguatan tentang identitas gender anak agar identititas gendernya berkembang sesuai dengan jenis kelamin yang dimiliki. Guru di sekolah memberikan pengaruh penting bagi penguatan identitas gender. Namun sayangnya masyarakat saat ini belum banyak yang menyadari pentingnya hal itu dan guru PAUD masih di anggap sebagai profesi perempuan. Artikel ini bertujuan untuk memaparkan pentingnya keberadaan guru laki-laki terhadap pembentukan identitas gender pada siswa PAUD. Penelitian ini menggunakan metode literature review atau studi pustaka dengan teknik analisis tematik. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa masyarakat masih memberikan stigma bahwa guru PAUD haruslah perempuan karena memiliki kesabaran lebih dan lain-lain. Hal ini memunculkan rasa gengsi dan malu bagi laki-laki untuk menjadi guru PAUD. Di sisi lain, guru laki-laki sangatlah diperlukan di tingkat pendidikan anak usia dini karena guru laki-laki memiliki peran yang tidak bisa digantikan oleh guru perempuan khususnya dalam pembentukan dan penguatan identitas gender bagi siswa laki-laki, diantaranya pemberian permainan yang menantang bagi anak laki-laki, pemberian contoh perilaku tegas, serta atribut lain yang menunjukkan peran gender laki-laki dihadapan siswa laki-laki. Kata kunci: Identitas gender, guru laki-laki, PAUD, siswa laki-laki.
Penguatan Resilensi Perempuan Melalui Modal Sosial di Era Adaptasi Kebiasaan Baru Pandemi Covid-19
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol 5 No 2 (2021)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/martabat.2021.5.2.310-336

Abstract

Abstract: The increasing issue of gender responsiveness to women's burdens as a result of COVID-19 has become the background for the implementation of women-based community empowerment under the name "Patali Gumbira". The implementation of women's empowerment "Patali Gumbira" has become one of the issues to prepare women in adapting to the new habits of COVID-19. To build women's resilience based on social capital, their knowledge, experience, and aspirations in responding to the impact of COVID-19. In this study, the Feminist Participatory Action Research (FPAR) approach was used, which made women the center for critical, independent, and creative thinking. The findings in this study indicate that the empowerment of "Patali Gumbira" is a form of means of women's social resilience through a structured framework of education, advocacy, and economic systems utilizing social networks, one of which is strengthening the organization of PKK women in the village public sphere. This strengthening effort is driven by the inclusion of various training including 1) strengthening women's motivation in facing adaptation to new habits due to COVID-19; 2) strengthening women's leadership in an effort to build their potential capabilities; 3) advocacy in the prevention and handling of cases of violence against women, and 4) hairdressing soft skills training as an opportunity for women's business services on an ongoing basis. Efforts to overcome social impacts during the COVID-19 pandemic are strengthening women's resilience and becoming confident in building a sense of belonging. Keywords: Covid 19, Social Capital, Social Resilience, Women Empowerment Abstrak: Meningkatnya isu responsif gender terhadap beban perempuan sebagai dampak COVID-19, menjadi latar belakang terselenggaranya pemberdayaan masyarakat berbasis perempuan dengan nama “Patali Gumbira”. Pelaksanaan pemberdayaan perempuan “Patali Gumbira” ini menjadi salah satu isu mempersiapkan perempuan dalam adaptasi kebiasaan baru COVID-19. Dalam upaya membangun resiliensi perempuan tersebut berdasarkan modal sosial pengetahuan, pengalaman, dan aspirasi mereka dalam menyikapi dampak COVID-19. Pada penelitian ini digunakan pendekatan Feminist Participatory Action Research (FPAR), yang menjadikan perempuan sebagai sentral untuk befikir kritis, mandiri serta kreatif. Temuan dalam kajian ini menunjukkan bahwa, pemberdayaan “Patali Gumbira” menjadi bentuk sarana resiliensi sosial Perempuan melalui kerangka sistem edukasi, advokasi dan ekonomi yang terstruktur memanfaatkan jejaring sosial salah satuanya penguatan organisasi Ibu-ibu PKK di ranah publik desa. Upaya penguatan ini didorong dengan termuatnya berbagai pelatihan diantaranya: 1) penguatan motivasi perempuan dalam menghadapi adaptasi kebiasaan baru akibat COVID-19; 2) penguatan kepemimpinan perempuan dalam upaya membangun kemampuan potensinya; 3) advokasi dalam pencegahan dan penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan, dan 4) pelatihan softskill tata rambut sebagai peluang jasa usaha perempuan secara berkelanjutan. Upaya mengatasi dampak sosial di masa pandemi COVID-19 menjadi penguatan resiliensi para perempuan dan menjadi keyakinan dalam membangun rasa memiliki. Kata kunci: Covid 19, Modal Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Resiliensi sosial
Polemik Work From Home (WFH) Bagi Perempuan Bekerja di Tengah Digitalisasi Teknologi dan Pandemi
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol 5 No 2 (2021)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/martabat.2021.5.2.377-399

Abstract

Abstract: Social distancing are a form of policy that made by the government in order to prevent the spread of the COVID-19 virus. This method, that was made by Indonesian government has implications for the method of working in the pandemic era, namely working from home. The application of social distancing then causes an increase in household activities that increase women's responsibilities in parenting and household work. Through the concept of symbolic violence, this article tries to explain the impact of social distancing restrictions on working women. This article finds that symbolic violence occurs through habitus that shapes women's mindsets so that they feel that caregiving and household work are women's responsibilities. This article also finds various gender inequalities that are increasingly visible with the social distancing restrictions that implemented by Indonesian governement. Keywords: Gender; pandemic; symbolic violence Abstrak: Pembatasan jarak sosial menjadi salah satu kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk mencegah persebaran COVID-19. Metode ini dijalankan di Indonesia yang berimplikasi pada metode bekerja era pandemi yaitu work from home atau bekerja dari rumah. Penerapan social distancing kemudian menyebabkan bertambahkan kegiatan rumah tangga yang memperbesar tanggung jawab perempuan dalam kerja pengasuhan dan kerja rumah tangga. Melalui konsep kekerasan simbolik artikel ini mencoba memaparkan dampak dari pembatasan jarak sosial pada perempuan bekerja. Artikel ini menemukan bahwa kekerasan simbolik terjadi melalui habitus yang menyusun pola pikir perempuan sehingga merasa kerja pengasuhan dan kerja rumah tangga merupakan tanggung jawab perempuan. Artikel ini juga menemukan berbagai ketimpangan gender yang semakin terlihat dengan adanya pembatasan jarak sosial yang dilakukan di Indonesia. Kata kunci: Gender; kekerasan simbolik; pandemi