cover
Contact Name
eko subaktiansyah
Contact Email
eko.subaktiansyah@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
support@inajog.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology (Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia)
ISSN : 23386401     EISSN : 23387335     DOI : -
Core Subject : Health,
The Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology is an official publication of the Indonesian Society of Obstetrics and Gynekology. INAJOG is published quarterly.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Volume. 32, No. 2, April 2008" : 15 Documents clear
Eliminasi Human Papillomavirus (HPV) dan Respons Terapi pada Adenokarsinoma Serviks dan Karsinoma Sel Skuamos Serviks yang mendapat pengobatan Kemoradiasi TJOKROPRAWIRO, B. A.; HARTONO, P.; ANDRIJONO, ANDRIJONO; BUDIONO, BUDIONO; SUPRIANA, N.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 32, No. 2, April 2008
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (68.356 KB)

Abstract

Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui eliminasi DNA HPV risiko tinggi pada karsinoma sel skuamous serviks (KSS) dan adenokarsinoma serviks yang mendapat pengobatan kemoradiasi dan kaitannya dengan respons pengobatan. Bahan dan cara kerja: 22 penderita kanker serviks dengan jenis histopatologi adenokarsinoma dan 26 penderita kanker serviks dengan jenis histopatoloi KSS yang terdiri dari stadium IB-IIIB (FIGO) diambil sebagai sampel secara konsekutif dari penderita yang berkunjung dan dirawat di poliklinik dan ruangan onkologi ginekologi Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta antara Juli 2005 dan Juli 2006. Pemeriksaan DNA HPV risiko tinggi dengan metode Hybrid Capture 2 (HC2) pada semua sampel tersebut menunjukkan hasil yang positif. Semua penderita mendapat pengobatan kemoradiasi. Pascakemoradiasi dilakukan penilaian respons pengobatan secara klinik dan pemeriksaan HC2 untuk melihat eliminasi DNA HPV risiko tinggi pada penderita tersebut. Hasil: Eliminasi DNA HPV risiko tinggi pada kanker serviks jenis adenokarsinoma lebih kecil dibanding dengan kanker serviks jenis KSS. Pascapemberian kemoradiasi, pada adenokarsinoma terjadi eliminasi DNA HPV 59,1% penderita dibanding dengan kelompok KSS di mana terjadi eliminasi DNA HPV risiko tinggi pada 76,9% penderita. Jenis Adenokarsinoma juga mempunyai angka persistensi DNA HPV risiko tinggi yang lebih besar (40,9%) dibanding dengan jenis KSS (23,1%). Penelitian ini menunjukkan respons pengobatan terhadap kemoradiasi antara kanker serviks dengan jenis adenokarsinoma dan KSS tidak berbeda dan hasil analisis menunjukkan bahwa antara respons terapi dan eliminasi DNA HPV risiko tinggi tidak terdapat hubungan. Pemeriksaan HC2 pascakemoradiasi masih bisa positif pada tumor dengan respons komplit. Kesimpulan: Persistensi DNA HPV risiko tinggi pascakemoradiasi lebih banyak terjadi pada kanker serviks jenis adenokarsinoma dibanding dengan jenis KSS. Untuk melihat apakah hal ini berkaitan dengan terjadinya rekurensi maka diperlukan penelitian dengan waktu pengamatan yang lebih lama. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-2: 105-15] Kata kunci: kanker serviks, HPV, kemoradiasi
Kekuatan Otot Dasar Panggul pada Primigravida (Penelitian Pendahuluan) DINATA, F.; SANTOSO, B. I.; NUHONNI, S. A.; SURJANTO, SURJANTO
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 32, No. 2, April 2008
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.101 KB)

Abstract

Tujuan: Mengetahui ada tidaknya penurunan kekuatan otot dasar panggul selama kehamilan, yang dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya stres inkontinensia urin. Tempat: Poliklinik Obstetri Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo. Bahan dan cara kerja: Subjek penelitian adalah primigravida. Penilaian dilakukan sebanyak dua kali, masing-masing pada kehamilan 20-28 minggu dan 29-36 minggu. Kekuatan otot dasar panggul diukur dengan alat myofeedback, yaitu Myomed 932 (Enraf Nonius, The Nederlands). Pasien melakukan 3 kontraksi maksimal dengan interval istirahat di antaranya. Dari 3 kontraksi tersebut diambil rata-ratanya dalam satuan hPa dan dijadikan sebagai nilai kekuatan otot dasar panggul. Hasil: Selama Oktober 2006 hingga Mei 2007, diperoleh 67 subjek yang memenuhi kriteria penelitian. Karakteristik subjek penelitian: 80,6% berada dalam kelompok umur 18-30 tahun. Hampir berimbang kelompok subjek yang berpendidikan menengah (56,7%) dan tinggi (43,3%). Sebagian besar adalah ibu rumah tangga (61,2%). Tiga kelompok suku bangsa terbanyak yaitu Jawa (29,8%), Betawi (26,9%) dan Sunda (17,9%). Dengan uji t tidak berpasangan, ditemukan bahwa kekuatan otot dasar panggul primigravida pada trimester II dan trimester III tidak terdapat perbedaan bermakna (p = 0,936). Rerata pada trimester II yaitu 30,76 ± 9,60 hPa dan pada trimester III yaitu 30,90 ± 9,67 hPa. Rerata pada seluruh kehamilan yaitu 30,83 ± 9,60 hPa. Kesimpulan: Kecenderungan kekuatan otot dasar panggul yang diukur dengan alat Myomed 932 pada primigravida kehamilan trimester II adalah 30,76 ± 9,60 hPa dan trimester III adalah 30,90 ± 9,67 hPa. Tidak terdapat perbedaan bermakna kekuatan otot dasar panggul pada primigravida kehamilan trimester II dan trimester III. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-2: 77-81] Kata kunci: otot dasar panggul, kekuatan, primigravida, stres inkontinensia urin
Perbandingan Kadar Laktat Dehidrogenase pada Asites yang disebabkan Kanker Ovarium dengan Asites Nonmaligna (Laporan Pendahuluan) TANGDIALLA, A. F.; ANDRIJONO, ANDRIJONO; PRIHARTONO, J.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 32, No. 2, April 2008
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (39.95 KB)

Abstract

Tujuan: Membuktikan manfaat pemeriksaan kadar LDH untuk membedakan asites maligna dengan asites nonmaligna. Tempat: Kamar operasi ginekologi bedah pusat RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, poliklinik Penyakit Dalam dan ruang pera-watan Penyakit Dalam IRNA B RSUPNCM, Jakarta. Bahan dan cara kerja: Analisis potong lintang dengan membandingkan kadar LDH dalam asites kanker ovarium dengan kadar LDH dalam asites nonmaligna. Diambil sampel cairan asites pasien kanker ovarium dan asites pasien bukan kanker dengan cara paresintesis/ aspirasi saat operasi sebanyak 10 cc. Pada asites yang terkumpul, dilakukan pemeriksaan kadar LDH dengan cara enzimatik. Hasil: Data kadar LDH diperoleh dari 17 pasien kanker ovarium (delapan kasus stadium IA, 3 kasus stadium IB, 1 kasus stadium IC, dan 5 kasus stadium IIIC; delapan puluh dua persen dari kasus merupakan adenokarsinoma, sisanya 12% kasus jenis sel granulosa dan 6% kasus dengan germ cell) dan 9 pasien bukan kanker (empat kasus sirosis hepatis, 2 kasus gagal jantung, 1 kasus peritonitis tuberkulosis dan 2 kasus kista jinak ovarium) dengan karakteristik kelompok usia terbanyak 30 - 50 tahun. Didapatkan kadar LDH asites pada pasien kanker ovarium lebih tinggi secara bermakna dibandingkan dengan kadar LDH asites pasien bukan kanker (p
Prevalensi penderita Overactive Bladder pada pegawai perempuan di lingkungan Departemen Obstetri dan Ginekologi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta AGUSTINA, N.; SANTOSO, B. I.; JUNIZAF, JUNIZAF
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 32, No. 2, April 2008
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (64.735 KB)

Abstract

Tujuan: Mengetahui prevalensi penderita overactive bladder (OAB) pada pegawai perempuan di Lingkungan Departemen Obstetri dan Ginekologi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta serta mengetahui sebaran gangguan OAB tersebut menurut beberapa faktor risiko seperti usia, paritas, cara persalinan, status menopause, obesitas dan riwayat operasi histerektomi. Rancangan/rumusan data: Studi observasional deskriptif dengan rancangan potong lintang. Bahan dan cara kerja: Penelitian ini dilakukan pada 250 orang responden yang bekerja di lingkungan Departemen Obstetri dan Ginekologi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta yang memenuhi kriteria, tanpa batasan usia, yang dipilih secara acak. Lalu diberikan kuesioner yang terdiri dari beberapa pertanyaan dan dilakukan pengukuran tinggi dan berat badan untuk menentukan besarnya nilai indeks massa tubuh (IMT) responden tersebut. Bagi responden yang menunjukkan gejala-gejala OAB dilakukan pemeriksaan urinalisa untuk menyingkirkan adanya infeksi saluran kemih maupun glukosuria. Kemudian bagi responden yang memiliki hasil urinalisa dalam batas normal diberikan lembaran daftar harian berkemih untuk membuktikan adanya pola gangguan OAB. Responden yang terbukti mengalami gangguan OAB tersebut selanjutnya dilakukan pemeriksaan fisik guna menyingkirkan adanya kelainan organ. Hasil: Dari 250 orang responden didapatkan 89 orang (35,6%) yang mengaku mengalami gangguan berkemih (inkontinensia urin) dan sebanyak 66 orang di antaranya menunjukkan gejala klinis OAB sesuai definisi yang telah ditetapkan oleh The International Continence Society (ICS) tahun 2002. Rerata usia subjek penelitian OAB ini adalah 40,8 tahun dengan usia termuda 20 tahun dan usia tertua responden adalah 65 tahun. Responden terbanyak adalah pada kelompok usia 40 hingga 49 tahun yaitu sebanyak 90 orang (36%). Dari 66 orang responden yang menunjukkan gejala OAB terdapat 40 orang (60,6%) yang memiliki hasil urinalisa dalam batas normal, terdapat 21 orang (31,8%) glukosuria, dan yang terdeteksi adanya infeksi saluran kemih (ISK) pada penelitian ini ada 5 orang (7,5%). Setelah dikonfirmasi melalui lembaran daftar harian berkemih pada 40 orang responden yang dicurigai menderita OAB tersebut yaitu yang mempunyai hasil urinalisa dalam batas normal, didapatkan 39 responden yang terbukti menderita gangguan OAB serta tidak ditemukan adanya kelainan pada pemeriksaan fisik. Sehingga ketigapuluhsembilan orang inilah yang akhirnya didiagnosa sebagai penderita OAB (15,6) dengan 31 orang di antaranya merupakan tipe campuran, yaitu selain menderita SIU ia juga menderita OAB secara bersamaan. Usia rerata subjek penderita OAB yang berjumlah 39 orang tersebut adalah 44,5 tahun dengan nilai SD 7,5. Pada penelitian ini terlihat kecenderungan timbulnya gangguan OAB dengan pertambahan usia, cara persalinan pervaginam khususnya dengan bantuan ekstraksi vakum, jumlah paritas, status menopause, obesitas serta riwayat operasi histerektomi. Kesimpulan: Prevalensi penderita OAB pada pegawai perempuan yang bekerja di lingkungan Departemen Obstetri dan Ginekologi RSUPNCM Jakarta adalah 15,6% (39 orang). Faktor usia, cara persalinan, paritas, status menopause, obesitas, dan riwayat operasi histerektomi merupakan faktor-faktor yang cenderung berpengaruh terhadap timbulnya gangguan OAB. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-2: 82-92] Kata kunci: overactive bladder, urge inkontinensia, stres inkontinensia urin, daftar harian berkemih
Aspek Etik pada Pemeriksaan USG Obstetri MOSE, J.C.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 32, No. 2, April 2008
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (45.354 KB)

Abstract

Tujuan: Untuk menguraikan beberapa aspek etik yang berkaitan dengan pemakaian USG di bidang Obstetri. Bahan dan cara kerja: Dari pengamatan pemakaian USG di Indonesia dan analisis hasil penulisan pustaka ditelusuri pelbagai aspek etik yang menyangkut aspek moral dan hukum akibat semakin meningkatnya pemakaian USG pada akhir-akhir ini. Hasil: Etik didefinisikan sebagai suatu disiplin ilmu yang mempelajari masalah moralitas. Pembahasan masalah etik di sini dimulai dari pembahasan singkat mengenai 4 prinsip dasar dari etika medis yaitu, beneficence, non-maleficence, autonomy dan justice. Masalah etik dapat muncul dari pelbagai aspek seperti peralatan USG dan teknik pemeriksaan, operator, indikasi pemeriksaan, cara pemeriksaan, dan dari beberapa kasus khusus seperti penentuan jenis kelamin, prenatal informed consent for sonogram (PICS), skrining kelainan kongenital dan salon foto janin. Kesimpulan: Masalah etik pemeriksaan USG obstetri sangat terkait dengan pelbagai aspek seperti, jenis alat dan cara pemeriksaan, siapa yang berkompeten untuk melaksanakan pemeriksaan, indikasi pemeriksaan, etiket dan beberapa hal khusus seperti penentuan jenis kelamin, PICS, skrining kelainan kongenital dan salon foto janin. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-3: 65-71] Kata kunci: etik, USG obstetri
Study of Apoptosis Induction of Hydatidiform Mole Trophoblastic Cell by the Administration of Retinoic Acid ANDRIJONO, ANDRIJONO; HEFFEN, W. L.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 32, No. 2, April 2008
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.182 KB)

Abstract

Pendahuluan: Molahidatidosa merupakan kehamilan abnormal yang pada pemeriksaan histologi didapatkan proliferasi sel trofoblas. Sejumlah 80% penderita molahidatidosa akan mengalami regresi pascaevakuasi. Regresi spontan pascaevakuasi disebabkan karena sel trofoblas mempunyai aktivitas apoptosis. Sejumlah 20% penderita molahidatidosa menderita degenerasi keganasan yang secara klinis disebut PTG (Penyakit Trofoblas Ganas). Degenerasi keganasan ini mungkin disebabkan karena aktivitas proliferasi yang dominan sehingga proliferasi terjadi berkelanjutan pascaevakuasi. Mekanisme apoptosis pada molahidatidosa belum diketahui sepenuhnya. Asam retinoat yang merupakan zat aktif retinol atau vitamin A mempunyai aktivitas merangsang arest siklus sel dan merangsang apoptosis. Menarik untuk diteliti, apakah pemberian asam retinoat pada sel trofoblas molahidatidosa juga menginduksi apoptosis. Penelitian ini bertujuan membuktikan peningkatan aktivitas apoptosis pada sel trofoblas molahidatidosa yang diberikan asam retinoat. Penelitian ini memberi manfaat sebagai dasar penelitian kemoprevensi vitamin A pada molahidatidosa. Bahan dan cara kerja: Penelitian menggunakan spesimen kultur sel trofoblas molahidatidosa. Kultur sel trofoblas diperoleh dengan mengkultur sel trofoblas yang diperoleh dari gelembung molahidatidosa. Kultur dengan media RPMI. Pada usia 24 jam, dilakukan perlakuan dengan pemberian ATRA (all transretinoic acid) dengan dosis 50 μg/ml, 100 μg/ml, 150 μg/ml dan 200 μg/ml. Pelarut yang digunakan adalah DMSO (dimethyl sulfoxide). Dilakukan analisis aktivitas apoptosis dengan flowcytometry pada 24 jam pascaperlakuan. Aktivitas apoptosis tergambar pada sitogram di kwadran kanan bawah, sedangkan jumlah sel hidup pada kwadran kiri bawah. Perhitungan sel dilakukan pada 1000 sel. Hasil: Persentase apoptosis pada kontrol 60,64% sel hidup 7,09%. Persentase apoptosis pada 50 μg/ml 89,45%, 100 μg/ml sejumlah 87,23%, 150 μg/ml sejumlah 94.635 dan pada 200 μg/ml sejumlah 94,83%. Sedangkan sel hidup pada 50 μg/ml sejumlah 5,04%, pada 100 μg/ml 5,71%, pada 150 μg/ml sejumlah 3,14% dan pada 200 μg/ml sejumlah 2,66%. Kesimpulan: Terdapat peningkatan persentase jumlah sel yang apoptosis dan penurunan sel yang hidup pada sel trofoblas yang diberikan ATRA. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-2: 99-104] Kata kunci: apoptosis, molahidatidosa, sel trofoblas, asam retinoat
Penatalaksanaan Kehamilan Ektopik dengan Kajian Hasil Laparoskopi Operatif HADISAPUTRA, W.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 32, No. 2, April 2008
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.859 KB)

Abstract

Tujuan: Membahas tatalaksana Kehamilan Ektopik (KE) secara dini dengan pendekatan medisinal dan operatif, serta mengkaji karakteristik pasien dan keberhasilan kehamilan pascatatalaksana laparoskopi operatif. Tempat: Pusat pelatihan nasional endoskopi Klinik Raden Saleh Departemen Obstetri Ginekologi FKUI/ RSCM dan Rumah Sakit Bersalin Yayasan Pemeliharaan Kesehatan (YPK) Jakarta Pusat. Bahan dan cara kerja: Tulisan ini merupakan rangkuman pustaka terkini mengenai tatalaksana KE secara medisinal dan operatif, serta menganalisis hasil (luaran) protokol tatalaksana KE dengan laparoskopi operatif. Hasil: Sebagian besar kasus yang mengalami KE ada pada usia reproduksi. Lama waktu yang dibutuhkan untuk hamil ialah 0 - 6 bulan (50%) dan keberhasilan hamil 48%. Kesimpulan: Pilihan terapi medisinal adalah Methotrexate (MTX), laparoskopi operatif merupakan pilihan akses pertama untuk KE yang akan menjalani operasi serta angka keberhasilan kehamilan pascaoperasi adalah 48%. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-2: 72-6] Kata kunci: kehamilan ektopik (KE), Methotrexate (MTX), salpingostomi linear, laparoskopi operatif
Aspek Etik pada Pemeriksaan USG Obstetri J.C. MOSE
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 32, No. 2, April 2008
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (45.354 KB)

Abstract

Tujuan: Untuk menguraikan beberapa aspek etik yang berkaitan dengan pemakaian USG di bidang Obstetri. Bahan dan cara kerja: Dari pengamatan pemakaian USG di Indonesia dan analisis hasil penulisan pustaka ditelusuri pelbagai aspek etik yang menyangkut aspek moral dan hukum akibat semakin meningkatnya pemakaian USG pada akhir-akhir ini. Hasil: Etik didefinisikan sebagai suatu disiplin ilmu yang mempelajari masalah moralitas. Pembahasan masalah etik di sini dimulai dari pembahasan singkat mengenai 4 prinsip dasar dari etika medis yaitu, beneficence, non-maleficence, autonomy dan justice. Masalah etik dapat muncul dari pelbagai aspek seperti peralatan USG dan teknik pemeriksaan, operator, indikasi pemeriksaan, cara pemeriksaan, dan dari beberapa kasus khusus seperti penentuan jenis kelamin, prenatal informed consent for sonogram (PICS), skrining kelainan kongenital dan salon foto janin. Kesimpulan: Masalah etik pemeriksaan USG obstetri sangat terkait dengan pelbagai aspek seperti, jenis alat dan cara pemeriksaan, siapa yang berkompeten untuk melaksanakan pemeriksaan, indikasi pemeriksaan, etiket dan beberapa hal khusus seperti penentuan jenis kelamin, PICS, skrining kelainan kongenital dan salon foto janin. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-3: 65-71] Kata kunci: etik, USG obstetri
Penatalaksanaan Kehamilan Ektopik dengan Kajian Hasil Laparoskopi Operatif W. HADISAPUTRA
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 32, No. 2, April 2008
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.859 KB)

Abstract

Tujuan: Membahas tatalaksana Kehamilan Ektopik (KE) secara dini dengan pendekatan medisinal dan operatif, serta mengkaji karakteristik pasien dan keberhasilan kehamilan pascatatalaksana laparoskopi operatif. Tempat: Pusat pelatihan nasional endoskopi Klinik Raden Saleh Departemen Obstetri Ginekologi FKUI/ RSCM dan Rumah Sakit Bersalin Yayasan Pemeliharaan Kesehatan (YPK) Jakarta Pusat. Bahan dan cara kerja: Tulisan ini merupakan rangkuman pustaka terkini mengenai tatalaksana KE secara medisinal dan operatif, serta menganalisis hasil (luaran) protokol tatalaksana KE dengan laparoskopi operatif. Hasil: Sebagian besar kasus yang mengalami KE ada pada usia reproduksi. Lama waktu yang dibutuhkan untuk hamil ialah 0 - 6 bulan (50%) dan keberhasilan hamil 48%. Kesimpulan: Pilihan terapi medisinal adalah Methotrexate (MTX), laparoskopi operatif merupakan pilihan akses pertama untuk KE yang akan menjalani operasi serta angka keberhasilan kehamilan pascaoperasi adalah 48%. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-2: 72-6] Kata kunci: kehamilan ektopik (KE), Methotrexate (MTX), salpingostomi linear, laparoskopi operatif
Kekuatan Otot Dasar Panggul pada Primigravida (Penelitian Pendahuluan) F. DINATA; B. I. SANTOSO; S. A. NUHONNI; SURJANTO SURJANTO
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 32, No. 2, April 2008
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.101 KB)

Abstract

Tujuan: Mengetahui ada tidaknya penurunan kekuatan otot dasar panggul selama kehamilan, yang dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya stres inkontinensia urin. Tempat: Poliklinik Obstetri Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo. Bahan dan cara kerja: Subjek penelitian adalah primigravida. Penilaian dilakukan sebanyak dua kali, masing-masing pada kehamilan 20-28 minggu dan 29-36 minggu. Kekuatan otot dasar panggul diukur dengan alat myofeedback, yaitu Myomed 932 (Enraf Nonius, The Nederlands). Pasien melakukan 3 kontraksi maksimal dengan interval istirahat di antaranya. Dari 3 kontraksi tersebut diambil rata-ratanya dalam satuan hPa dan dijadikan sebagai nilai kekuatan otot dasar panggul. Hasil: Selama Oktober 2006 hingga Mei 2007, diperoleh 67 subjek yang memenuhi kriteria penelitian. Karakteristik subjek penelitian: 80,6% berada dalam kelompok umur 18-30 tahun. Hampir berimbang kelompok subjek yang berpendidikan menengah (56,7%) dan tinggi (43,3%). Sebagian besar adalah ibu rumah tangga (61,2%). Tiga kelompok suku bangsa terbanyak yaitu Jawa (29,8%), Betawi (26,9%) dan Sunda (17,9%). Dengan uji t tidak berpasangan, ditemukan bahwa kekuatan otot dasar panggul primigravida pada trimester II dan trimester III tidak terdapat perbedaan bermakna (p = 0,936). Rerata pada trimester II yaitu 30,76 ± 9,60 hPa dan pada trimester III yaitu 30,90 ± 9,67 hPa. Rerata pada seluruh kehamilan yaitu 30,83 ± 9,60 hPa. Kesimpulan: Kecenderungan kekuatan otot dasar panggul yang diukur dengan alat Myomed 932 pada primigravida kehamilan trimester II adalah 30,76 ± 9,60 hPa dan trimester III adalah 30,90 ± 9,67 hPa. Tidak terdapat perbedaan bermakna kekuatan otot dasar panggul pada primigravida kehamilan trimester II dan trimester III. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-2: 77-81] Kata kunci: otot dasar panggul, kekuatan, primigravida, stres inkontinensia urin

Page 1 of 2 | Total Record : 15


Filter by Year

2008 2008


Filter By Issues
All Issue Volume 13. No. 3 July 2025 Volume 13. No. 2 April 2025 Volume 13. No. 1 January 2025 Volume 12 No. 4 October 2024 Volume 12 No. 3 Jully 2024 Volume 12 No. 2 April 2024 Volume 12 No. 1 January 2024 Volume 11 No. 4 October 2023 Volume 11 No. 3 July 2023 Volume 11 No. 2 April 2023 Volume 11 No. 1 January 2023 Volume 10 No. 4 Oktober 2022 Volume 10 No. 3 July 2022 Volume 10 No. 2 April 2022 Volume 10 No. 1 January 2022 Volume 9 No. 4 October 2021 Volume 9 No. 3 July 2021 Volume 9 No. 2 April 2021 Volume 9 No. 1 January 2021 Volume 8 No. 4 October 2020 Volume 8 No. 3 July 2020 Volume 8 No. 2 April 2020 Volume 8 No. 1 January 2020 Volume 7 No. 4 October 2019 Volume 7 No. 3 July 2019 Volume 7 No. 2 April 2019 Volume 7 No. 2 April 2019 Volume 7, No. 1 January 2019 Volume 7, No. 1 January 2019 Volume 6 No. 4 October 2018 Volume 6 No. 4 October 2018 Volume 6 No. 3 July 2018 Volume 6 No. 3 July 2018 Volume 6. No. 2 April 2018 Volume 6. No. 2 April 2018 Volume 6. No. 1. January 2018 Volume 6. No. 1. January 2018 Volume. 5, No. 4, October 2017 Volume. 5, No. 4, October 2017 Volume. 5, No. 3, July 2017 Volume. 5, No. 3, July 2017 Volume. 5, No. 2, April 2017 Volume. 5, No. 2, April 2017 Volume. 5, No. 1, January 2017 Volume. 5, No. 1, January 2017 Volume 4, No. 4, October 2016 Volume 4, No. 4, October 2016 Volume. 4, No.3, July 2016 Volume. 4, No.3, July 2016 Volume. 4, No. 2, April 2016 Volume. 4, No. 2, April 2016 Volume. 4, No. 1, January 2016 Volume. 4, No. 1, January 2016 Volume. 3, No. 4, October 2015 Volume. 3, No. 4, October 2015 Volume. 3, No. 3, July 2015 Volume. 3, No. 3, July 2015 Volume. 3, no. 2, April 2015 Volume. 3, no. 2, April 2015 Volume. 3, No. 1, January 2015 Volume. 3, No. 1, January 2015 Volume. 2, No. 4, October 2014 Volume. 2, No. 4, October 2014 Volume. 2, No. 3, July 2014 Volume. 2, No. 3, July 2014 Volume. 2, No. 2, April 2014 Volume. 2, No. 2, April 2014 Volume. 2, No. 1, January 2014 Volume. 2, No. 1, January 2014 Volume. 37, No. 2, April 2013 Volume. 37, No. 2, April 2013 Volume. 37, No. 1, January 2013 Volume 37, No. 1, January 2013 Volume 37, No. 1, January 2013 Volume. 1, No. 4, October 2013 Volume. 1, No. 4, October 2013 Volume. 1, No. 3, July 2013 Volume. 1, No. 3, July 2013 Volume. 36, No. 4, October 2012 Volume. 36, No. 4, October 2012 Volume. 36, No. 3, July 2012 Volume. 36, No. 3, July 2012 Volume. 36, No. 2, April 2012 Volume. 36, No. 2, April 2012 Volume. 36, No. 1, January 2012 Volume. 36, No. 1, January 2012 Volume. 35, No. 4, October 2011 Volume. 35, No. 4, October 2011 Volume. 35, No. 3, July 2011 Volume. 35, No. 3, July 2011 Volume. 35, No. 2, April 2011 Volume. 35, No. 2, April 2011 Volume. 35, No. 1, January 2011 Volume. 35, No. 1, January 2011 Volume. 34, No. 4, October 2010 Volume. 34, No. 4, October 2010 Volume. 34, No. 3, July 2010 Volume. 34, No. 3, July 2010 Volume. 34. No. 2, April 2010 Volume. 34. No. 2, April 2010 Volume. 34, No. 1, January 2010 Volume. 34, No. 1, January 2010 Volume. 33. No. 4, October 2009 Volume. 33. No. 4, October 2009 Volume. 33, No. 3, July 2009 Volume. 33, No. 3, July 2009 Volume. 33, No. 2, April 2009 Volume. 33, No. 2, April 2009 Volume. 33, No. 1, January 2009 Volume. 33, No. 1, January 2009 Volume. 32, No. 4, October 2008 Volume. 32, No. 4, October 2008 Volume. 32, No. 3, July 2008 Volume. 32, No. 3, July 2008 Volume. 32, No. 2, April 2008 Volume. 32, No. 2, April 2008 Volume. 32, No. 1, January 2008 Volume. 32, No. 1, January 2008 Volume. 31, No. 4, October 2007 Volume. 31, No. 4, October 2007 Volume. 31, No. 3, July 2007 Volume. 31, No. 3, July 2007 Volume. 31, No. 2, April 2007 Volume. 31, No. 2, April 2007 Volume. 31, No. 1, January 2007 Volume. 31, No. 1, January 2007 Volume. 30, No. 4, October 2006 Volume. 30, No. 4, October 2006 Volume. 30, No. 3, July 2006 Volume. 30, No. 3, July 2006 Volume. 30, No. 2, April 2006 Volume. 30, No. 2, April 2006 Volume. 30, No. 1, January 2006 Volume. 30, No. 1, January 2006 More Issue