cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. hulu sungai utara,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan
ISSN : 19074174     EISSN : 26210681     DOI : -
Core Subject : Social,
ALQALAM : Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan (P-ISSN: 1907-4174 ; E-ISSN: 2621-0681) merupakan jurnal berkala yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan yang memuat tulisan dari dosen, tenaga kependidikan, pemerhati pendidikan dan lain sebagainya. Jurnal ini mempublikasikan hasil-hasil penelitian yang terkait dengan isu ke-Islaman yang berhadapan dengan isu sosial seperti pendidikan, sejarah, komunikasi, sosial politik, hukum, ekonomi, dan lainnya. Scope ini dijabar dalam fokus isu per edisi yang membahas isu sosial kontemporer seperti, kearifan lokal, urban dan multikultural.
Arjuna Subject : -
Articles 1,138 Documents
ID, EGO DAN SUPEREGO DALAM PENDIDIKAN ISLAM Husin Husin
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Al Qalam Vol. 11, No. 23, Januari-Juni 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (639.547 KB) | DOI: 10.35931/aq.v0i0.3

Abstract

Psikologi lahir sebagai disiplin ilmu tersendiri di Jerman pada pertengahan abad ke XIX. Sebagai suatu ilmu, psikologi merupakan ilmu yang relatif muda apabila dibandingkan dengan ilmu-ilmu yang lain. Terkait dengan tentang kepribadian dalam psikologi, pandangan Sigmund Freud tentang Id, Ego dan Superego telah mempengaruhi manusia sepanjang abad ke XX. Dalam kajian Islam, teori tentang Id, Ego dan Superego bukanlah hal baru. Pembahasan tentang nafs, al-‘aql dan al-qalb yang merupakan kajian tentang struktur kepribadian manusia telah Allah SWT. paparkan dalam Al-Quran yang secara meyakinkan menjadi “induk” dari ilmu-ilmu yang datang kemudian.
REORIENTASI KEUTAMAAN ILMU DALAM PENDIDIKAN PERSPEKTIF AL-GHAZALI PADA KITAB IHYA ‘ULUMUDDIN Agus Setiawan
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Al Qalam Vol. 12, No. 1, Januari-Juni 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.749 KB) | DOI: 10.35931/aq.v0i0.18

Abstract

Bahwa problem yang terbesar di kalangan umat manusia saat ini adalah acuh  terhadap ilmu agamanya. Faktanya terkadang ilmu agama dinomor duakan sedangkan yang nomor satu adalah ilmu umum. Bahkan sekarang yang menjadi panutan adalah media sosial, bukan ilmu yang dipelajari. Pada tataran di Indoneia idealnya pendidikan memberikan andil besar dalam memberi solusi terhadap krisis kemanusiaan yang kini melanda kehidupan. Mulai pendidikan, kita ingin menghasilkan manusia yang jujur, bersemangat, pekerja keras, tidak malas, berani, kreatif, cinta kebersihan, toleran dan sebaginya.Oleh karena itu sangat sayang sekali kalau sebuah karya yaitu Ihya ‘Ulumuddin karya al-Ghazali tidak di implementasi. Karya tersebut tidak melulu membahas satu bahasan keilmuan saja namun berbagai ilmu terkadang dibahas dalam satu kitab. Semisal Ihya’ Ulumuddin. Dalam kitab tersebut membahas tentang konsep ilmu, konsep Aqidah, fiqh dan lainnya. Hal ini mengindikasikan bahwa al-Ghazali adalah seorang representatif ulama’ integral dengan keilmuannya dan sangat relevan untuk diimplementasikan saat ini. Al-Ghazali menyebutkan bahwa untuk meraih kebahagiaan negeri akhirat hanya bisa dicapai melalui penguasaan terhadap ilmu mengenai akhirat. Semua itu semakin menguatkan posisi ilmu, ketetapan tentangnya, dan kedudukan mulia mereka yang memiliki ilmu dalam pandangan Allah SWT. Manusia yang memiliki ilmu dikatakan oleh al-Ghazali dapat memperoleh derajat atau kedudukan paling terhormat di antara sekian banyak makhluk di permukaan bumi dan langit karena ilmu dan amalnya.
NILAI-NILAI PENDIDIKAN ADVERSITY QUOTIENT PADA CERITA NABI MÛSÂ DALAM ALQURAN Muh. Haris Zubaidillah
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Al Qalam Vol. 11, No. 24, Juli-Desember 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (623.175 KB) | DOI: 10.35931/aq.v0i0.9

Abstract

The challenge for education that can not be denied is globalization and technological progress on the one hand. On the other hand education is also faced with the increasing variety of life pressures. Paul G. Stoltz invented a new type of intelligence theory from the psychological paradigm, namely Adversity Quotient (ability to face difficulties), that is, a person's ability to observe difficulties and cultivate those difficulties with his or her intelligence so that it becomes a challenge to be solved. The Qur'an is a holy book filled with educational values. Among the content of the Qur'an are stories. One of the stories in the Qur'an is the story of Prophet Moses that is found in many surahs in the Qur'an. In the story of Prophet Moses there are many extraordinary values and lessons especially in how to deal with adversity. From the results of research, revealed the following important matters. The Adversity Quotient's educational value scontained in the story of Prophet Musa in the Qur'an are the values of patience, the value of optimism and unyielding, the value of the great soul and the value of jihad.
ANALISIS PENDIDIKAN ISLAM DI INDIA DAN PERBANDINGANNYA DENGAN PENDIDIKAN DI INDONESIA Agus Setiawan
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Al Qalam Vol. 12, No. 2, Juli-Desember 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.361 KB) | DOI: 10.35931/aq.v0i0.60

Abstract

India mempunyai universitas pertama di dunia dengan 1000 dosen berdiri Pada abad 6 dan 7. Di India memiliki perpustakaan yang buka 24 jam. Sehingga kapanpun bisa belajar atau membaca di perpustakaan tersebut. Ada banyak pelajaran di luar ruangan kuliah. Pendidikan Islam saat ini di India, mengalami masa-masa yang sulit, karena dianggap minoritas dan dianaktirikan oleh pemerintah. Namun dengan semangat dari minoritas muslim ini, maka sebagian mendesak untuk mereformasi pendidikan Islam di India. Faktanya bahwa pendidikan Islam di India seperti di Madrasah telah berkembang dengan kolaborasi kurikulum madrasah kepada kurikulum modern, sehingga banyak siswanya yang belajar disana. Tercatat tidak hanya siswa muslim yang belajar, namun kebanyakan malahan siswa beragama Hindu yang belajar disana. "Meskipun disebut madrasah (sekolah Islam), orang-orang di daerah melihatnya seperti sekolah reguler yang baik. Seperti Madrasah Orgram yang terletak 125 km utara ibukota negara bagian, Kolkata, mengatakan bahwa sebagian besar kurikulum modern telah membuat lembaga semakin populer dalam masyarakat mayoritas Hindu. "Orang-orang biasa percaya bahwa madrasah adalah tempat di mana siswa diajarkan hanya pelajaran agama, dan hal itu tidak ada hubungannya dengan pendidikan modern. Pengakuan dari guru disana bahwa selama beberapa tahun telah bekerja untuk mengubah gagasan mereka. Di India berbeda dengan di Indonesia ketika anak selesai sekolah/belajar di sekolah. Di India ketika guru pulang mengajar, tidak langsung pulang ke rumah. Tetapi, Guru diundang oleh orang tua siswa untuk menginap/berkunjung ke rumah orang tua siswa. Untuk mengajarkan pelajaran tambahan di rumah siswanya. Guru dilayani dengan baik oleh keluarga siswa diberikan pelajaran dengan cara memanggil guru ke rumah. Untuk memberikan pelajaran tambahan. Sistem pendidikan India sedikit berbeda dengan Indonesia, setidaknya dilihat dari usia pendidikan tingkat SD sampai Menengah. Di India menggunakan sistem 10 tahun pembelajaran. Terbagi dalam 3 jenjang, yaitu primary (5 tahun), upper primary (3 tahun), dan secondary (2 tahun). Struktur pendidikan sekolah yang seragam tersebut telah di adobsi oleh seluruh Negara bagian dan teritori India. Ini juga berlaku untuk pendidikan konvensionalnya dan pendidikan Islamnya. Karena keduanya di bawah kebijakan Nasional pemerintah India. Berbeda dengan Indonesia yang mewajibkan 6 tahun di SD, 3 tahun di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 3 tahun di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Adapun untuk pendidikan tingginya yaitu pada jurusan, baik teknik maupun bisnis menetapkan pola pendidikan Ghandi, yaitu pembentukan manusia yang berkepribadian utuh, kreatif dan produktif. Ada istilah S1, S2 dan juga S3 di India. Ini berlaku sama perguruan tinggi di Indonesia. Hanya saja sistem perkuliahannya yang berbeda juga tugas akhirnya. Kalau di India S1 tidak dituntut untuk menyelesaian akhir seperti Skripsi, sedangkan yang diwajibkan hanya pada tingkat S3 yaitu ada tugas wajib pembuatan Disertasi. Terdapat perbedaan yang signifikan tentang orientasi berfikir dan pola studi mahasiswa India dengan mahasiswa Indonesia. Bagaimana tidak, mahasiswa di India nyaris tak punya waktu untuk mengurusi hal-hal yang tidak berkaitan dengan persoalan akademik. Setiap hari, waktu mereka terkuras untuk mengamati huruf-huruf dalam susunan beratus-ratus kertas bahkan beribu-ribu halaman tebalnya. Membaca yang awalnya merupakan suatu kewajiban dengan sendirinya terkonversi menjadi satu kebutuhan pokok yang wajib dipenuhi. Pada umumnya mahasiswa menghabiskan waktu 12 hingga 20 jam perhari untuk berkonsentrasi dengan materi-materi kuliah.
KEBIJAKAN EKONOMI UMAR BIN KHATTAB Arsyad Almakki
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Al Qalam Vol. 11, No. 24, Juli-Desember 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.699 KB) | DOI: 10.35931/aq.v0i0.14

Abstract

Umar bin Khattab adalah Khalifah kedua setelah Abu Bakar, seorang Khalifah yang berpikir kreatif dan inovatif. Umar melakukan langkah-langkah yang berani mengambil ijtihad dalam masalah furu'iyah ketika merespons persoalan yang belum ada ketetapan nasnya. Pada masa Umar ini lah perkembangan ekonomi berkembangan pesat, luasnya daerah kekuasaan Islam membutuhkan kebijakan-kebijakan yang mensejahterakan masyarakat yang berada dalam daerah-daerah kekuasaan Islam. Kebijakan-kebijakan Umar tentang pengelolaan tanah, zakat, usyr, jizyah, kharaj dan yang paling mengesankan adalah pembentukan administrasi yang baik dalam menjalankan roda pemerintahan yang besar. Ia mendirikan institusi administrasi yang hampir tidak mungkin dilakukan pada abad ketujuh sesudah masehi. Salah satu kebijakan terkenalnya adalah membuat baitul mal yang regular dan permanent, untuk mengawasi keuangan Negara dan mengatur urusan pengumpulan dan pengeluaran. Baitul mal secara tidak langsung bertugas sebagai pelaksana kebijakan fiscal Negara Islam dan Khalifah adalah yang berkuasa penuh atas dana tersebut. Pada masa Umar inilah masyarakat Negara Islam mengalami kemakmuran yang pesat.
RUKHSAH (KERINGANAN) BAGI ORANG SAKIT DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM Mahmudin Mahmudin
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Al Qalam Vol. 11, No. 23, Januari-Juni 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (829.682 KB) | DOI: 10.35931/aq.v0i0.4

Abstract

Dalam perspektif hukum Islam orang yang sakit tetap berkewajiban menjalankan agamanya, selama akalnya masih berfungsi dengan baik (tidak gila), baik kewajiban kepada Allâh ataupun yang berkaitan dengan hak-hak manusia, tetapi aktivitas orang sakit tentunya berbeda dengan orang yang sehat. Syariah Islam memberikan beberapa kemudahan bagi orang yang sakit. Hal ini bertujuan agar orang yang sakit tetap melaksanakan ibadah sesuai dengan kondisi sakit yang dideritanya tanpa beban dan kesulitan. Rukhsah (keringanan) yang diberikan oleh syariat Islam kepada orang yang sakit seperti: bolehnya berbuka puasa pada saat sakit, ataupun melakukan salat dengan posisi yang mampu dilaksanakannnya dan yang lainnya. 
PENDIDIKAN ISLAM DALAM SURAH LUQMAN Abdan Rahim
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Al Qalam Vol. 12, No. 1, Januari-Juni 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (772.494 KB) | DOI: 10.35931/aq.v0i0.19

Abstract

Tujuan pendidikan Islam, tidaklah sekedar proses alih budaya atau ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) tetapi juga proses alih nilai-nilai ajaran Islam (transfer of Islamic values). Tujuan pendidikan Islam pada hakikatnya menjadikan manusia yang bertaqwa, manusia yang dapat mencapai al-falah, serta kesuksesan hidup yang abadi di dunia dan akhirat (muflihun).[1]Pendidikan merupakan kebutuhan penting bagi setiap negara, pemerintah secara umum dan sekolah secara khususnya. Terlebih lagi pendidikan agama, karena dari orang tualah anak-anak mula-mula menerima pendidikan. Bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga. Pendidikan yang ditekankan tidak lain adalah pendidikan dengan konsep Islami yang menjadikan masalah penghambaan kepada Allah SWT, dan ketaatan kepada-Nya menjadi poros segala kehidupan.[2]Dari kisah Luqman, dapat diambil pelajaran sebagai pedoman baik bagi orang tua maupun para pendidik dalam melaksanakan pendidikan. Al-Qur’an sebagi pedoman hidup umat Islam, memuat semua segi kehidupan dan berbagai kisah yang dapat dijadikan contoh pedoman dalam kehidupan.[1] A. Syafi’I Ma’arif, Pendidikan Islam di Indonesia, Antara Cita dan Fakta, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991), h. 41[2]Muhammad Nasib, Ar-Rifa;I, Ringkasan Tafsir…, h. 789
PENDIDIKAN MENURUT FILSAFAT SUHRAWARDI ( 1155–1191 M ) SEJARAH TOKOH, PEMIKIRAN DAN ALIRAN Husin Husin
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Al Qalam Vol. 11, No. 24, Juli-Desember 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (680.28 KB) | DOI: 10.35931/aq.v0i0.10

Abstract

Dunia filsafat akan selalu berkembang seiring dengan “eksplorasi” manusia akan akal yang gunakan. Filsafat tidak hanya tumbuh subur di dunia barat akan tetapi juga di dalam dunia Islam dimana filsafat yang berkembang tidak hanya filsafat akhlaki amali yang merujuk kepada Imam Al-Ghazali akan tetapi juga filsafat falsafi atau sering juga disebut teosofi. Filsafat falsafi yang sering diarahkan kepada filsafat Ilmunisai dengan tokoh besarnya Suhrawardi al-Maqtu>l adalah bagian dari khazanah keilmuan Islam yang penting untuk dikaji, sehingga umat Islam tidak hanya silau dengan nama besar filosof barat yang bersifat skeptis kepada ajaran Islam akan tetapi juga bisa menggali ilmu pengetahuan dengan mempelajari teori-teori dari filosof muslim. Teori Suhrawardi al-Maqtu>l terkait dengan teori cahaya yang meyakinkan kita bahwa sumber ilmu pengetahuan adalah berasal dari cahaya Tuhan, akhirnya dapat memberikan pijakan baru bagaimana seharusnya seorang penuntut ilmu dalam mendapatkan ilmu pengetahuan yang benar yaitu dengan cara mendekatkan kepada sumber cahaya (ilmu pengetahuan) yaitu Allah SWT.
SEJARAH LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM (MADRASAH) DI INDONESIA Muhammad Nasir
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Al Qalam Vol. 11, No. 24, Juli-Desember 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.365 KB) | DOI: 10.35931/aq.v0i0.15

Abstract

Madrasah Ibtidaiyah merupakan lembagapendidikan Islam formaldiIndonesia yang dinaungi oleh Kementrian Agama. Eksistensi Madrasah Ibtidaiyah saat ini tidak terlepas dari sejarah madrasah yang dikembangkan oleh negara-negara Islam di Timur Tengah, sampai pendidikan Islam yang ada di Indonesia jauh sebelum kemerdekaan dan hingga saat ini. Pada awal perkembangannya Madrasah merupakan institusi pendidikan Islam dengan didirikannya Madrasah Nizhamiyah di Bagdad ketika wazir Bani Saljuk Nizhamul Mulukpada abad ke 5 Hijriyah. Kemudian pendidikan Islam masuk ke Indonesia yang pada mulanya hanya menggunakan sistem klasik seperti pengajaran di surau-surau atau masjid-masjid dan sistem pondok atau Pesantren. Beberapa lembaga pendidikan Islam di Indonesia melakukan pembaharuan dalam sistem pendidikan klasik menjadi sistem madrasi (berkelas). Madrasah Ibtidaiyah adalah salah satu produk pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia yang dikhususkan untuk pendidikan dasar. Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, madrasah Ibtidaiyah menjadi lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu pengetahuan agama Islam sebagai pokok pengajaran, dan juga mengajarkan pengetahuan umum sekurang-kurangnya; Bahasa Indonesia, berhitung dan membaca serta menulis huruf latin untuk madrasah tingkat rendah (Madrasah Ibtidaiyah).
FILOLOGI (Sebuah Pendekatan Mengkaji Kitab Keagamaan) Arsyad Almakki
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Al Qalam Vol. 11, No. 23, Januari-Juni 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.767 KB) | DOI: 10.35931/aq.v0i0.5

Abstract

Teks keagamaan dalam bentuk kitab atau buku - dalam berjalannya waktu - banyak yang tidak dipelihara dengan cermat, Akibatnya mengalami banyak kerusakan. Sehingga untuk membaca dan memahami teks keagamaan tersebut mengalami kendala cukup besar. Filologi merupakan salah satu pendekatan dalam studi keislaman (Islamic Studies). Pendekatan yang bisa digunakan untuk mengkaji teks atau kitab-kitab keagamaan (fiqh, tafsir, tasawuf). Filologi dalam dalam dunia Islam di kenal dengan Tahqiq. Filologi digunakan untuk mengkaji teks atau kitab-kitab keagamaan yang telah banyak rusak dimakan waktu atau korup serta memurnikan teks dengan mengadakan kritik sehingga menghasilkan suatu teks yang paling mendekati aslinya.

Page 5 of 114 | Total Record : 1138


Filter by Year

2016 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 19, No. 6 : Al Qalam (In Progress November 2025) Vol. 19, No. 5 : Al Qalam (September 2025) Vol. 19, No. 4 : Al Qalam (Juli 2025) Vol. 19, No. 3 : Al Qalam (Mei 2025) Vol. 19, No. 2 : Al Qalam (Maret 2025) Vol. 19, No. 1 : Al Qalam (Januari 2025) Vol. 18, No. 6 : Al Qalam (November 2024) Vol. 18, No. 5 : Al Qalam (September 2024) Vol. 18, No. 4 : Al Qalam (Juli 2024) Vol. 18, No. 3 : Al Qalam (Mei 2024) Vol. 18, No. 2 : Al Qalam (Maret 2024) Vol. 18, No. 1 : Al Qalam (Januari 2024) Vol. 17, No 6 : Al Qalam (November 2023) Vol. 17, No 5 : Al Qalam (September 2023) Vol. 17, No 4 : Al Qalam (Juli 2023) Vol. 17, No 3 : Al Qalam (Mei 2023) Vol. 17, No 2 : Al Qalam (Maret 2023) Vol. 17, No 1 : Al Qalam (Januari 2023) Vol. 16, No 6 : Al Qalam (November 2022) Vol 16, No 5: Al Qalam (September 2022) Vol 16, No 4: Al Qalam (Juli 2022) Vol 16, No 3: Al Qalam (Mei 2022) Vol 16, No 2: Al Qalam (Maret 2022) Vol 16, No 1: Al Qalam (Januari 2022) Al Qalam Vol. 15, No. 2, Juli-Desember 2021 Al Qalam Vol. 15, No. 1, Januari-Juni 2021 Al Qalam Vol. 14, No. 2, Juli-Desember 2020 Al Qalam Vol. 14, No. 1, Januari-Juni 2020 Al Qalam Vol. 13, No. 2, Juli-Desember 2019 Al Qalam Vol. 13, No. 1, Januari-Juni 2019 Al Qalam Vol. 12, No. 2, Juli-Desember 2018 Al Qalam Vol. 12, No. 1, Januari-Juni 2018 Al Qalam Vol. 12, No. 1, Januari-Juni 2018 Al Qalam Vol. 11, No. 24, Juli-Desember 2017 Al Qalam Vol. 11, No. 24, Juli-Desember 2017 Al Qalam Vol. 11, No. 23, Januari-Juni 2017 Al Qalam Vol. 11, No. 23, Januari-Juni 2017 Al Qalam Vol. 9, No. 17, Januari-Juni 2016 Al Qalam Vol. 9, No. 17, Januari-Juni 2016 More Issue