cover
Contact Name
Jonathan Alfrendi
Contact Email
emailjonathan.a@gmail.com
Phone
+6285759296535
Journal Mail Official
izmykhumairoh@lecturer.undip.ac.id
Editorial Address
Jl. dr. Antonius Suroyo Kampus Universitas Diponegoro Tembalang, Semarang, Jawa tengah, Kode Pos 50275
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ENDOGAMI Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi
Published by Universitas Diponegoro
Core Subject : Humanities, Social,
Fokus bidang ilmu antropologi. Bentuk-bentuk karya ilmiah yang dapat dimuat adalah original article berupa artikel hasil penelitian review article atau makalah kajian pustaka berupa uraian singkat tentang temuan penelitian yang dianggap penting untuk segera dipublikasikan.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2024): November" : 11 Documents clear
Dari Kosmologi Hingga Komoditi : Menabur Asa Menuai Luka dalam Pusaran Daerah Istimewa Lucia Yerinta Destishinta
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 8, No 1 (2024): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.8.1.16-28

Abstract

Pembangunan sebagai dampak dari penganugerahan UNESCO kepada Sumbu Filosofi di Yogyakarta, sebagai warisan budaya dunia yang telah diakui secara resmi. Sebaik-baiknya pembangunan, adalah yang melihat bukan hanya dari sebuah fasad, namun juga nilai-nilai yang bertumbuh dalam denyut hidup manusia. Indikator keberhasilan sebuah pembangunan, bukan hanya dalam wujud fisik sebuah fasad namun juga dalam nilai-nilai filosofis, sebagaimana ruh yang tersemat pada Sumbu Filosofi. Oleh karenanya, pemilihan etnografi kritis sebagai cara alternatif yang menawarkan pembacaan etnografi dalam deskripsi kritis mengenai pembangunan dan ambivalensinya terhadap jurang ketimpangan yang semakin lebar, secara khusus mengenai masyarakat lokal di Yogyakarta yang kian tergusur dan tergerus oleh kentalnya pembangunan yang mengatasnamakan kultural sebagai tameng atas kepentingan kapital. Komodifikasi dari aksiologi menjadi komoditi samar-samar namun nyata. Yogyakarta menjadi laboratorium hidup untuk menjadi ruang kelas tanpa sekat yang bisa digunakan sebagai media pembelajaran yang efektif, apabila ditunjang dengan infrastruktur pendukung yang sarat makna. Ambivalensi dalam pembangunan bisa membawa dua hal; pembangunan akan menjadi baik, jika dibarengi dengan konsep matang demi kepentingan komunal bukan hanya segelintir kepentingan kelompok berdasar kepentingan politis. Sebaliknya, ketika pembangunan masih mengedepankan nilai-nilai kapital, dapat dipastikan jurang ketimpangan akan semakin lebar. Jebakan terhadap glorifikasi kultur dalam sebuah kota serta meromantisir gaya hidup, tidak dibarengi dengan tingkat kesadaran dan daya pikir yang kritis. Jika dengan pengakuan UNESCO atas Sumbu Filosofi masih terdapat ketimpangan yang tinggi, lantas untuk siapa sebenarnya keistimewaan Yogyakarta?
Social Learning: Baduy Tribe's Strategy in Maintaining Their Identity Amidst Tourism Cika Aprilia
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 8, No 1 (2024): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.8.1.93-110

Abstract

The life of the Inner Baduy tribe, particularly in Cibeo village, is still coloured by strong customary laws and culture, making it an attraction for tourists. Despite this, the Baduy tribe refused to be a tourist destination in 2020, fearing damage to their culture. They prefer the term 'saba budaya' or gathering rather than tourism as it relates to their 'pikukuh' or customary law. Despite not receiving formal education, the Baduy tribe has a social learning system that is in accordance with their background. This social learning is their identity strategy, even though they do not have formal schooling.This research uses the theories of Li Yang, Theron Nunez, Barth, and Hewlett to analyse the impact, background, positioning, boundary strategy, and social learning of the Inner Baduy tribe towards tourism. The ethnographic method is used to collect data through interviews, observations, literature studies, and documentation. The analysis shows that the Inner Baduy tribe does not reject tourism as long as it does not interfere with their daily activities. Cibeo Village is open to tourism due to the practice of their ancestors. Their position as hosts is supported by WISUBA with mutually beneficial cooperation. However, the impacts of this interaction include cultural commodification and ecological damage, such as plastic waste. Ethnic boundary strategies are used to defend their existence from the impacts of tourism. Social learning plays an important role in maintaining their identity as indigenous people without formal education.
Fungsi Batu Toguan Pada Masyarakat Desa Tipang Kecamatan Baktiraja Kabupaten Humbang Hasundutan Grace Meylin Hutauruk
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 8, No 1 (2024): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.8.1.1-15

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui latar belakang keberadaan Batu Toguan bagi masyarakat Desa Tipang serta makna dan fungsi yang dimiliki oleh Batu Toguan pada Masyarakat Desa Tipang, Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian yang didapatkan bahwa Batu Toguan merupakan pemberian dari Raja Lontung kepada puteri dan menantunya Raja Sumba. Batu Toguan terdiri dari Batu Siboru Sinur, Batu Siboru Gabe, Batu Siboru Horas, dan Batu Siungkap-ungkapon. Keempat Batu Toguan ini memiliki makna yang berbeda tergantung dari doa dan harapan yang diberikan. Adapun fungsi dari Batu Toguan yang berhasil ditemukan pada masyarakat Desa Tipang adalah sebagai tempat untuk memohon kepada Tuhan di masa dahulu.
Film Horor Agama di Indonesia, Kesalehan, dan Kesakralan Yang Terpinggirkan? Muh. Nur Rahmat Yasim; Muh. Yahya
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 8, No 1 (2024): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.8.1.111-126

Abstract

Film horor di Indonesia berfungsi sebagai cermin yang memantulkan ketakutan dan harapan masyarakat, sekaligus mengungkapkan kompleksitas hubungan antara kesalehan dan kesakralan yang di cap terpinggirkan. Tulisan ini berawal dari berbagai keresahan terhadap film horor di Indonesia bertemakan agama yang sering menampilkan simbol-simbol agama yang dianggap begitu sakral bagi masyarakat. Dengan menggunakan pendekatan etnografi media dan digital, tulisan ini menganalisis representasi film horor melalui platform media sosial X/Twitter, yang memungkinkan peneliti untuk memahami respons penonton dan dinamika sosial yang terjadi akibat menonton film horor bertemakan agama. Mengacu pada pandangan Talal Asad terkait kesalehan yang dianggap embodied, tulisan ini menyoroti bagaimana film horor sering kali mereduksi makna ritual keagamaan menjadi sekadar alat hiburan yang sejatinya bisa mempengaruhi kesalehan penikmat film horor. Selain itu, pandangan David MacDougall tentang makna dalam representasi visual membantu memahami bagaimana penonton merespons adegan sakral, seperti sholat dan doa, dalam konteks menakutkan. Penelitian ini membahas ketegangan antara tradisi dan modernitas, di mana simbol-simbol agama dapat menarik perhatian tetapi juga menimbulkan kontroversi dengan melihat bagaimana film horor memvisualisasikan simbol-simbol agama dan praktik keagamaan, serta dampaknya terhadap persepsi masyarakat terhadap nilai-nilai sakral.
Tradisi Pindah Marga (Puru) Sebagai Representasi Kesetaraan Gender Dalam Masyarakat Sabu Ricard Edwin Thomas; Irene Ludji; Tony Robert Tampake
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 8, No 1 (2024): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.8.1.29-46

Abstract

Artikel ini berfokus pada pelaksanaan tradisi pindah marga (puru) yang menjadi representasi kesetaraan gender dalam suku Sabu di Kota Waingapu, Sumba Timur yang ditinjau dari perspektif etika sosial feminis Beverly W. Harrison. Ketidakadilan gender membuat perempuan sering menjadi korban subordinasi, yang salah satunya disebabkan karena sistem budaya patriarki. Namun tidak semua budaya dalam masyarakat menjunjung tinggi martabat seorang perempuan, ada juga tradisi yang menjunjung tinggi martabat seorang perempuan dan masih dipertahankan hingga saat ini yaitu tradisi pindah marga (adat puru). Adat ini masih dipertahankan dan wajib dilakukan oleh suku Sabu karena mengandung nilai-nilai luhur. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi untuk memahami bagaimana sudut pandang suku Sabu tentang tradisi pindah marga (puru) yang berhubungan dengan upaya dalam menjaga kesetaraan gender. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ini merupakan suatu bentuk perlindungan terhadap perempuan Sabu dari berbagai tindakan kekerasan dan diskriminasi yang dapat dialaminya. Kesimpulan penelitian ini ialah tradisi Puru menjadi representasi dari keadilan dan kesetaraan gender, serta menunjukkan kepedulian terhadap kehidupan perempuan Sabu dalam pembentukan diri yang bertanggung jawab sehingga memperoleh kesejahteraan sosial. 
Transwomen in The Transition of Body Change: “Will We Be Accepted as Women?” Vania Pramudita Hanjani; Carolina Retmawati Putri
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 8, No 1 (2024): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.8.1.127-142

Abstract

Indonesian society is faced with a gender construction that always directs that men should be masculine while women are required to be feminine. But in reality, we are faced with a condition. where there are men who are feminine, which ultimately makes them get stigmatized and discriminated against by society. This condition causes some men to decide to become women (transwomen). This article explores the journey of transwomen in embracing their gender identity through their physical changes. We conducted participant observation along with semi-formal in-depth interviews with 5 transwomen in in the KTS organization (Kebersamaan Transpuan Semarang), to obtain data through the experiences of these transwomen. Through the results of the analysis, we see that the informants experienced emotional and social challenges faced during the transition process, as well as the hope to be accepted as a woman. Until now, they are still trying to be accepted by society despite the long process they have to go through.
Analisis Kajian Folklore dalam Upacara Tradisional Massorong Lopi di Desa Tapango, Kabupaten Polman, Sulawesi Barat Arravi Rizal Firmansyah
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 8, No 1 (2024): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.8.1.47-63

Abstract

Kajian penelitian ini di latar belakangi oleh permasalahan fenomena bahwa pelaksanaan upacara tradisional di Indonesia pada umumnya tidak diwariskan secara tertulis atau tidak di dokumentasikan melainkan dilakukan secara lisan dan dicontohkan dalam bentuk perbuatan. Fenomena ini juga terjadi di daerah Desa Tapango, Sulawesi Barat pada upacara tradisional Massorong Lopi. Hal ini tentu dapat menimbulkan kekhawatiran apabila tidak ada orang yang bersedia melakukannya pada suatu hari nanti.  Analisis kajian folklore digunakan untuk meninjau sikap dibalik perbuatan kebudayaan masyarakat Indonesia dalam kasus Upacara Massorong Lopi yang pelaksanaan ritualnya diwariskan secara lisan dan dicontohkan dalam bentuk perbuatan. Kajian penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jawaban motif dibalik perbuatan masyarakat tersebut. Melalui metode penelitian studi pustaka yang merujuk kepada pemikiran hasil riset para ahli folklore, kebudayaan, dan ritus dari berbagai negara dan menggunakan metodologi ilmu budaya, hasil temuan penelitian ini menunjukkan bahwa motif utama masyarakat di Desa Tapango tetap mempertahankan tradisi lisan pada pewarisan upacara tradisional Massorong Lopi adalah karena tradisi ini sudah dilakukan sejak turun temurun dan menjadi bagian dari kehidupan mereka yang memandang bahwa pewarisan secara lisan dinilai dipercaya keaslian informasi yang diberikan dibandingkan secara tertulis. Hal ini yang kemudian menjadi pembeda sekaligus ciri khas antara budaya pelaksanaan upacara tradisional orang-orang Timur dan orang-orang Barat.
Perilaku dan Pengelolaan Pangan Terbuang Pada Lansia (Studi Kasus di Komplek Lipi, Bogor, Jawa Barat) Himma Ellisa Dianita
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 8, No 1 (2024): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.8.1.143-156

Abstract

Penduduk lanjut usia (lansia) adalah bonus demografi kedua yang dimiliki Indonesia pada masa mendatang. Tingginya jumlah lansia berpotensi menjadi salah satu penyumbang limbah pangan rumah tangga yang dihasilkan. Timbunan limbah pangan (kehilangan pangan dan pangan terbuang) di Indonesia telah mencapai 115-184 kg/kapita pada tahun 2020. Dari angka tersebut, setidaknya ada tiga dampak dominan yang dihasilkan, yakni kerugian ekonomi, lingkungan, dan sosial. Meskipun bukan populasi produktif, tingginya angka lansia juga berimplikasi membentuk pengetahuan, kultur, hingga penerapan nilai-nilai lain untuk generasi selanjutnya. Tulisan ini bertujuan mengeksplorasi lebih jauh mengenai pandangan dan kontribusi lansia pada pangan terbuang serta perilaku yang mendukungnya. Penelitian ini dilakukan di Komplek LIPI dengan lima keluarga (tiga pasangan suami istri dan dua janda). Pengambilan data diambil secara periodik menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam yang dilakukan berulang, observasi partisipatif, dan studi literatur. Lansia di Komplek LIPI Bogor dengan segala keterbatasan fisiknya cenderung lebih sedikit dalam memproduksi pangan terbuang, bahkan memiliki praktik pengelolaan pangan terbuang mandiri dalam skala rumah tangga. Namun, dalam kesempatan tertentu, lansia juga memiliki perilaku pangan terbuang lebih besar dari biasanya terutama terjadi karena intervensi keluarga dekat.
Jaringan Sosial Antar Pedagang Bakso Pada Paguyuban Semar Nusantara di Kota Medan Dimas Erlangga
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 8, No 1 (2024): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.8.1.64-78

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis latar belakang dibentuknya Paguyuban Semar Nusantara di Kota Medan serta bentuk jaringan sosial dan upaya yang dilakukan dalam mempertahankan jaringan sosial antar pedagang bakso yang tergabung dalam Paguyuban Semar Nusantara di Kota Medan. Jaringan sosial sangat diperlukan bagi perantauan meski hanya sebagai seorang pedagang bakso, agar dapat mengetahui pasar penjualan bakso di Kota Medan dan meningkatkan daya saing. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi partisipasi dengan terlibat secara langsung dan mengamati aktivitas bentuk jaringan antar pedagang bakso yang tergabung dalam Paguyuban Semar Nusantara di Kota Medan, wawancara mendalam, serta dokumentasi berupa pengambilan gambar dalam segala aktivitas yang dikerjakan oleh informan, rekaman suara dalam proses wawancara mendalam, hingga pengambilan video yang mengalisis kegiatan para pedagang bakso yang tergabung dalam Paguyuban Semar Nusantara di Kota Medan. Hasil penelitian menemukan latar belakang dibentuknya Paguyuban Semar Nusantara di Kota Medan yaitu; (a) karena banyak perantau yang berasal dari Jawa Tengah memilih Kota Medan (b) menjaga tali persaudaraan dan kekeluargaan (c) mempertahankan identitas diri (d) agar mendapatkan suasana kebersamaan seperti di kampung halaman. Bentuk jaringan sosial antar pedagang bakso yang tergabung dalam Paguyuban Semar Nusantara yaitu; (1) jaringan mikro (2) jaringan meso (3) jaringan makro dan (a) segi sosial (b) segi ekonomi. Terdapat beberapa upaya yang dilakukan dalam mempertahankan jaringan sosial antar pedagang bakso yang tergabung dalam Paguyuban Semar Nusantara di Kota Medan yaitu; (a) mengadakan pertemuan rutin (b) saling menjaga solidaritas dan kekompakan (c) membuat grup WhatsApp (d) menjaga kestabilan harga jual.
Kultus Jokowi: Langkah Politik Jokowi Pada Pemilu 2024 Jonathan Alfrendi
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 8, No 1 (2024): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.8.1.157-171

Abstract

Artikel ini merupakan kajian literatur dengan analisis menggunakan pendekatan antropologi politik untuk menyelidiki secara kultural gaya kepemimpinan Jawa yang sering terlihat dalam kepribadian, citra diri, gaya komunikasi, dan gaya kepemimpinan Jokowi sebagai orang Jawa. Referensi teori yang relevan digunakan dalam kajian ini yaitu oleh Hans Antlov (2002), yang melihat perintah halus adalah suatu model rakyat, melibatkan norma-norma moral, baik bagi penguasa maupun rakyat, dan pemimpin harus dekat dengan rakyat. Teori tersebut dapat menjelaskan alasan masyarakat terutama para pendukung mengultuskan Jokowi

Page 1 of 2 | Total Record : 11