Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi
Jurnal Anuva presents the latest information of study and research of Cultural Studies and Library and Information Science. Scientific scope of this journal covers cultural studies, library, documentation, and information science. Cultural Studies includes philosophy, literature, linguistics, philology, anthropology, and sociology. Library science includes librarianship, management activity/library services, library collection management, library automation, digital libraries, library cooperation, library empowerment, and/or development of library system/document and information institution. Studies of documentation include record and archive management, activities of data documentation, information, and publications/literature/collection in a database or a certain media, such as; repository, big data, codata, metadata, and/or development documentation system in the library/document and information institution. Studies of information include infometrics, bibliometrics, webometrics, repackaging information, retrieval information, knowledge management, literacy information, dissemination information, and/or development of information systems in the library/document and information institution.
Articles
409 Documents
Implementasi MOOCs di Pendidikan Ilmu Perpustakaan dan Informasi (Sebuah Peluang dan Tantangan di Indonesia)
Jazimatul Husna
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 3, No 3 (2019): September
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (548.09 KB)
|
DOI: 10.14710/anuva.3.3.247-256
Massive Open Online Courses (MOOCs) merupakan salah satu buah dari revolusi bidang pendidikan tinggi Abad 21. MOOCs Sudah berkembang dan di gunakan di banyak Negara, Khususna Eropa dan Amerika. Namun belum banyak digunakan di Asia, khususnya di Indonesia. MOOCs hadir dengan memberikan model pembelajaran baru dan kesempatan untuk calon mahasiswa di fakultas dan dan universitas untuk dapat bergerak aktif dalam belajar. MOOCs telah merambah dibanyak bidang studi termasuk dalam Ilmu Perpustakaan dan Informasi (IPI). Dalam tulisan ini, penulis akan menjelaskan Pengertian dan konsep MOOCs, implementas, Peluang dan Tantangan, dan Model kursus yang ditawarkan dalam Ilmu Perpustakaan dan Informasi dan bagaimana cara terbaik MOOCs dapat digunakan dalam meningkatkan kualitas pendidikan Ilmu Perpustakaan dan Informasi dengan melihat kemungkinan cara kerja dan dampaknya terhadap pendidikan Ilmu Perpustakaan dan Informasi di Indonesia.
Pustakawan sebagai Profesi yang Berkembang: Pemaknaan Kembali Peran Pustakawan terhadap Implementasi Teknologi Informasi di Perpustakaan
Roro Isyawati Permata Ganggi
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 3, No 4 (2019): Desember
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (295.636 KB)
|
DOI: 10.14710/anuva.3.4.399-409
Perpustakaan merupakan organisasi yang berkembang menurut Ranganathan. Hal ini dibuktikan dengan adanya sinergisitas antara perpustakaan dengan teknologi informasi yang merupakan bukti bahwa perpustakaan mengikuti perkembangan zaman. Jika perpustakaan sebagai organisasi telah mampu membuktikan diri mampu mengikuti perkembangan zaman, bagaimana dengan pustakawan sebagai sumber daya yang mengelola perpustakaan? Beberapa pihak menyuarakan ketakutan jika profesi pustakawan akan digantikan dengan profesi lain jika teknologi informasi diimplementasikan di perpustakaan. Nyatanya dengan adanya implementasi teknologi informasi di perpustakaan justru membuat profesi pustakawan semakin berkembang. Jika dahulu peran pustakawan terbatas hanya pada mengorganisasi informasi dan memberikan pelayanan di perpustakaan, maka dalam era teknologi informasi ini, peran yang dapat dilakukan oleh pustakawan, diantaranya adalah sebagai: perantara pencarian, fasilitator, pelatih atau edukator pemustaka, penerbit, pembangun website, peneliti, desainer antarmuka, manajer ilmu pengetahuan, sifter sumberdaya informasi, cybrarian.
Kriteria Pemilihan Buku Untuk Bibliokonseling Bagi Anak Jalanan di Yayasan Emas Indonesia
Rina Mukti Rahayu;
Roro Isyawati Permata Ganggi
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 3, No 3 (2019): September
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (353.859 KB)
|
DOI: 10.14710/anuva.3.3.303-311
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kriteria pemilihan buku untuk bibliokonseling bagi anak jalanan di Yayasan Emas Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan action research. Teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu focus group discussion, observasi, dan studi pustaka berupa teori. Pemilihan informan dilakukan menggunakan teknik sampling jenuh. Analisis data yang dilakukan pada penelitian berpedoman dengan siklus spiral Kurt Lewin yang kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian yang didapatkan bahwa Kegiatan bibliokonseling sudah diterapkan oleh anak jalanan binaan Yayasan Emas Indonesia, namun Yayasan Emas Indonesia belum mempunyai pedoman pemilihan buku bibliokonseling sehingga konselor masih mengalami kesulitan dalam melakukan pemilihan buku menyesuaikan dengan permasalahan khusus anak jalanan. Kesulitan dialami oleh konselor maka perlu mengkonstruksi pedoman pemilihan buku bibliokonseling. Konstruksi ini nantinya dapat membantu konselor dalam melakukan pemilihan buku untuk kegiatan bibliokonseling. Konstruksi pedoman pemilihan buku bibliokonseling dibuat menyesuaikan dengan permasalahan yang dialami oleh anak jalanan, karakter anak jalanan, kemampuan membaca anak jalanan, dan karakter pada isi buku yang akan digunakan untuk kegiatan bibliokonseling.
Dinamika Alat Tangkap Nelayan di Jepara dalam Dimensi Budaya
Sri Indrahti;
Siti Maziyah
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 3, No 4 (2019): Desember
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (748.919 KB)
|
DOI: 10.14710/anuva.3.4.461-469
Mata pencaharian merupakan salah satu unsur budaya yang menarik untuk dikaji. Mengingat, dengan mempelajari ragam mata pencaharian, manusia akan diajak juga mempelajari perjalanan budaya suatu masyarakat, berkaitan dengan cara hidup dan bertahan serta jenis peralatan dan hasil-hasil budaya yang menyertainya. Mencari ikan merupakan salah satu mata pencaharian di Jepara yang menyebabkan munculnya perlengkapan alat tangkap yang berbeda antara tempat satu dengan lainnya. Tulisan kali ini menyoroti masalah alat tangkap nelayan berdasarkan historis dan budayanya. Bagaimana sejarah alat tangkap nelayan di Jawa? Budaya apa sajakah yang melatarbelakangi dan ditimbulkan oleh alat tangkap nelayan itu? Mengapa alat tangkap ini masih lestari hingga sekarang? Penelitian ini dilakukan beberapa tahap. Pertama, dimulai dengan mencari berbagai alat tangkap nelayan berdasarkan studi pustaka yang menyimpan informasi tersebut. Kedua, dilakukan penelitian lapangan di Jepara untuk mengetahui kesinambungan budaya berkaitan dengan temuan alat tangkap nelayan. Ketiga, digali lebih lanjut budaya yang melatarbelakangi dan ditimbulkan oleh alat tangkap nelayan. Keempat, dianalisis mengapa alat tangkap nelayan ini masih lestari hingga sekarang.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ragam alat tangkap yang digunakan disesuaikan dengan kondisi alam lingkungan tempat ikan berada, sehingga tidak semua alat tangkap ditemukan di setiap daerah. Berdasarkan berbagai jenis alat tangkap dapat menunjukkan bahwa mencari ikan itu merupakan pekerjaan sambilan atau pekerjaan utama. Pada masyarakat yang pekerjaan utamanya mencari ikan, maka muncullah budaya yang berkaitan dengan alat tangkapnya.
Embedded Librarian: Kolaborasi Pustakawan di Era Informasi
Jazimatul Husna
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 3, No 4 (2019): Desember
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (706.224 KB)
|
DOI: 10.14710/anuva.3.4.353-362
Penelitian ini membahas dan menjelaskan peran baru untuk pustakawan yang sedang dibahas oleh peneliti dunia di bidang ilmu perpustakaan dan Ilmu Informasi. Pustakawan dapat bekerja dalam kolaborasi dengan para pakar domain di bidang akademik, industri, dan juga di bidang lain untuk melayani kebutuhan informasi mereka dan menghemat waktu mereka. Penelitian ini berbicara tentang berbagai bidang kepustakawanan tertanam. Tanggung jawab mencari informasi dibagikan kepada pustakawan. berkolaborasi dan berpikir dalam konteks makro. Pustakawan bisa menampilkan diri dalam profesinya dengan ranah yang lebih luas untuk membantu orang di luar profesi pustakawan.
Pemindahan Pengetahuan Lokal Komunitas Nelayan Tradisional Desa Kedungmalang
Ari Andesfi;
Yanuar Yoga Prasetyawan
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 3, No 3 (2019): September
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (431.049 KB)
|
DOI: 10.14710/anuva.3.3.257-271
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis fenomena dan proses pemindahan pengetahuan (knowledge transfer) yang terjadi pada Kelompok Nelayan Tradisional Desa Kedungmalang, Jepara, Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu menggunakan wawancara mendalam, observasi, serta studi pustaka dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan lokal yang dimiliki Kelompok Masyarakat Nelayan Tradisonal Desa Kedungmalang cukup bervariasi yang dikategorikan ke dalam tiga jenis, yaitu pengetahuan yang diwariskan secara turun temurun, pengetahuan berdasarkan pengalaman melaut selama bertahun-bertahun, dan pengetahuan yang tercipta dari kegiatan interaksi antara individu nelayan dengan sesama nelayan sebagai pemilik pengetahuan serta interaksi dengan pihak eksternal seperti Dinas Perikanan dan Kelautan Jepara dan akademisi dari Universitas Diponegoro. Kegiatan pemindahan pengetahuan lokal (local knowledge transfer) terjadi melalui sosialisasi (socialization) antara bapak-anak dalam sebuah keluarga nelayan serta sosialisasi yang terjadi dalam kegiatan berbagi pengetahuan di dalam sebuah komunitas praktis (community of practice/CoP), yaitu kelompok-kelompok nelayan aktif di Desa Kedungmalang yang menempatkan individu sebagai tandon pengetahuan (people-based knowledge repository). Selain itu, terdapat terdapatnya model pemindahan pengetahuan externalization (eksternalisasi) berupa inovasi pembuatan alat tangkap ikan “sodong” ramah lingkungan yang merupakan akumulasi/perpaduan antara pengetahuan tacit dan pengalaman individu nelayan dengan interaksi pada kelompok nelayan maupun dengan pihak eksternal.
Peran Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah Sebagai Tempat Belajar Masyarakat
Mecca Arfa
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 3, No 4 (2019): Desember
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (400.809 KB)
|
DOI: 10.14710/anuva.3.4.471-477
Perpustakaan seyogyanya melakukan kegiatan yang tidak hanya menyediakan koleksi saja tetapi melakukan kegiatan-kegiatan yang mengarah kepada pengembangan pengetahuan maupun intelektual masyarakat di sekelilingnya. Penelitian ini membahas tentang apakah perpustakaan provinsi jawa tengah digunakan sebagai tempat untuk belajar masyarakat dan apa saja yang dilakukan oleh perpustakaan sehingga perpustakaan dikatakan sebagai tempat untuk belajar masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif, pemaparannya menggunakan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinas kearsipan dan perpustakaan provinsi Jawa Tengah melakukan banyak kegiatan yang mengarah kepada pendidikan atau pelatihan. Pelatihan ini diadakan di perpustakaan dan diikuti oleh masyarakat umum terutama masyarakat Jawa Tengah. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh perpustakaan Jawa Tengah yang berhubungan langsung tentang pembelajaran adalah pelatihan menari, pelatihan mewarnai, pelatihan menggambar, bimbingan belajar bagi anak-anak sekolah, pelatihan menyulam pita, pelatihan merajut, pelatihan membuat hantaran pengantin, kursus pemanfaatan limbah kain perca. Selain itu perpustakaan juga menyediakan sarana prasana belajar seperti menyediakan free hot spot area, menyediakan berbagai macam ragam koleksi, Audio visual, perpustakaan keliling, permainan edukasi, dan computer kids fun.
Seni Kuda Lumping “Turangga Tunggak Semi” di Kampung Seni Jurang Belimbing Tembalang: Sebuah Alternatif Upaya Pemajuan Kebudayaan di Kota Semarang
Triyono Triyono
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 4, No 2 (2020): Juni
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (361.62 KB)
|
DOI: 10.14710/anuva.4.2.247-254
Undang Undang Pemajuan Kebudayaan (UU No. 5 Tahun 2017) mengamanatkan untuk melakukan perlindungan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan berbagai jenis kebudayaan. Salah satu jenis dari kebudayaan adalah kesenian. Berbagai macam jenis kesenian yang ada di tengah masyarakat perlu mendapatkan perlindungan, pengembangan dan pembinaan. Kesenian tradisional Kuda Lumping “Turangga Tunggak Semi” yang berada di Kampung Seni Jurang Belimbing Kelurahan Tembalang merupakan kelompok kesenian tradisional yang masih didukung kederadaannya oleh masyarakat sekitarnya. Kelompok kesenian ini beranggotakan anak-anak muda yang berada di kampung seni Jurang Belimbing yang didukung oleh para sesepuh dan perangkat desa di kampung tersebut. Di era Global dimana anak-anak muda cenderung menggandrungi budaya dari luar, namun di kampung seni jurang belimbing generasi muda masih sangat memperhatikan bahkan melestarikan kesenian tradisional yang sudah mulai ditinggalkan masyarakat pada umumnya. Pemerintah Kota Semarang berupaya untuk melestarikan dan melakukan pembinaan terhadap Kesenian Kuda Lumping “Turangga Tunggak Semi” dengan menetapkan Kampung Jurang Belimbing sebagai Kampung Tematik Seni dan Budaya. Upaya ini dimaksudkan selain untuk melestarikan beberapa kesenian yang berada di Kampung tersebut, juga diharapkan akan membawa dampak pada peningkatan perekonomian masyarakat setempat.
Kegiatan Pelestarian dan Promosi Candi Kimpulan di Area Perpustakaan Universitas Islam Indonesia
Fauzan Hidayatullah;
Wahid Nashihuddin;
Kadek Aryana Dwi Putra
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 4, No 2 (2020): Juni
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1071.074 KB)
|
DOI: 10.14710/anuva.4.2.141-152
Candi Kimpulan merupakan candi peninggalan kerajaan hindu yang berlokasi di area Perpustakaan UII. Keberadaan Candi Kimpulan sampai saat ini dalam kondisi baik dan semakin dikenal oleh masyarakat luas. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui keg iatan pelestarian dan promosi Candi Kimpulan yang berada di area Perpustakaan UII. Data kajian ini menggunakan data kualitatif – deskriptif, yang bersumber dari kegiatan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa kegiatan pelestarian Candi Kimpulan dilakukan oleh BPCB DIY dengan cara evakuasi, restorasi, dan konservasi. Sedangkan Perpustakaan UII (pustakawan) membantu tugas edukator museum dalam mempromosikan wisata budaya Candi Kimpulan ke masyarakat. Kegiatan promosi dilakukan dengan tatap muka, penyebaran brosur, dan website Perpustakaan UII.
Gedong Sarekat Islam Semarang: Pemendam Bara Nasionalisme Indonesia
Dewi Yuliati
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 4, No 1 (2020): Maret
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (856.051 KB)
|
DOI: 10.14710/anuva.4.1.43-62
Artikel ini memuat pembahasan tentang fungsi ”Gedong Sarekat Islam Semarang” yang menjadi saksi atas Pergerakan Nasionalisme Indonesia pada dekade ke-3 abad XX. Inisiator pembangunan ”Gedong Sarekat Islam” adalah Semaoen, pemimpin Sarekat Islam Semarang, dengan cara mencari donasi di kalangan anggota Sarekat Islam Semarang. Akhirnya gedung ini selesai dibangun dan dapat difungsikan pada tahun 1920 untuk rapat-rapat umum, dan kemudian juga untuk Sekolah Sarekat Islam, yang diprakarsai oleh Tan Malaka, yang juga menjadi guru di sekolah itu. Sekolah ini ditujukan terutama untuk anak-anak bumiputera yang orang tuanya tidak mampu untuk membayar biaya sekolah. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ”Gedong Sarekat Islam Semarang” merupakan arena ideologis dalam mempersiapkan rakyat bumiputera Indonesia untuk memiliki semangat merdeka dalam suasana kolonialisme Belanda.