cover
Contact Name
Ilham
Contact Email
Ilham.fishaholic@gmail.com
Phone
+6221-64700928
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Gedung Balibang KP II, Lantai 2 Jl. Pasir Putih II, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430
Location
Kab. jembrana,
Bali
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : http://doi.org/10.15578/JRA
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 3 (2016): (September 2016)" : 10 Documents clear
PENGARUH KADAR TRIPTOPAN PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN SINTASAN KRABLET KEPITING BAKAU, Scylla serrata SELAMA MASA PENDEDERAN Usman Usman; Kamaruddin Kamaruddin; Asda Laining
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 3 (2016): (September 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.582 KB) | DOI: 10.15578/jra.11.3.2016.259-269

Abstract

Kepiting bakau bersifat kanibal dan cenderung memiliki laju pertumbuhan yang lambat ketika diberi pakan buatan. Triptopan adalah salah satu asam amino esensial untuk pertumbuhan dan merupakan prekursor pembentukan serotonin yang dapat mengontrol sifat agresif pada beberapa vertebrata. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis optimum triptopan pakan terhadap pertumbuhan dan sintasan krablet selama masa pendederan. Empat dosis penambahan L-triptopan dalam pakan yaitu: 0% (A); 0,25% (B); 0,5% (C); dan 1,0% (D) dengan kadar triptopan dalam pakan berturut-turut 0,41%; 0,52%; 0,67%; dan 0,96%; serta kontrol berupa pakan rebon kering (E) yang mengandung triptopan sebanyak 0,79%. Hewan uji yang digunakan adalah krablet kepiting bakau berumur 3-5 hari sejak memasuki stadia krablet. Krablet dipelihara dalam bak fiber berukuran 1,0 m x 1,0 m x 0,5 m sebanyak 15 unit dengan kepadatan masing-masing 50 ekor/m2. Selama lima minggu pemeliharaan, krablet diberi pakan uji sebanyak 30%-15%/hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa krablet yang diberi pakan mengandung triptopan 0,67% menunjukkan laju pertumbuhan tertinggi dan berbeda nyata (P<0,05) dengan krablet yang diberi pakan mengandung triptopan 0,41%. Rasio efisiensi protein tertinggi juga didapatkan pada krablet yang diberi pakan mengandung triptopan 0,67% dan berbeda nyata (P<0,05) dengan krablet yang diberi pakan rebon. Sintasan, konsumsi pakan harian, rasio konversi pakan, dan komposisi proksimat total tubuh krablet relatif sama di antara perlakuan, meskipun ada kecenderungan terbaik pada krablet yang diberi pakan mengandung 0,67% triptopan.The main constrain in mud crab culture is high cannibalism which are triggered by several factors such as limited space, lack of feed and large size variation. Mud crab also has relative slow growth when fed artificial diet. Tryptophan is an essential amino acid for growth and precursor of serotonin which can control natural aggressiveness in vertebrates. This study was conducted to obtain optimum level of tryptophan in diet for mud crab during nursery. Four test diets were formulated to contain different levels of supplemental L-tryptophan at: 0%, 0.25%, 0.5%, 1.0%, and as the control diet was dried mysid, so the tryptophan levels of the test diets were 0.41% (A), 0.52% (B), 0.67% (C), 0.96% (D), and 0.79% (mysid, E) respectively. Crablets (3-5 days post-methamorphosis) with average initial weight of 0.039 g were randomly distributed into 15 of 1.0 m x 1.0 m x 0.5 m fibre glass tank with density of 50 ind./tank. The crablets were fed daily the test diets at 30% to15% of biomass. After five weeks feeding trial, crablet fed the diet containing 0.67% of tryptophan had significantly (P<0.05) higher weight gain compared to crablet fed diet containing 0.41% of tryptophan. Highest protein efficiency ratio was also obtained in crablet fed the diet containing 0.67% of tryptophan and significantly different (P<0.05) with crablet fed dried mysid (control). Final carapace width, feed conversion ratio, and survival rate were not significantly different (P>0.05) among the treatments.
KARAKTERISASI FENOTIPE DAN GENOTIPE TIGA POPULASI IKAN TENGADAK (Barbonymus schwanenfeldii) Irin Iriana Kusmini; Rudhy Gustiano; Deni Radona; Vitas Atmadi Prakoso; Fera Permata Putri; Tri Heru Prihadi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 3 (2016): (September 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.256 KB) | DOI: 10.15578/jra.11.3.2016.207-216

Abstract

Ikan tengadak, Barbonymus schwanenfeldii merupakan salah satu jenis ikan lokal yang potensial untuk dikembangkan. Kemungkinan keberhasilan pengembangan ikan ini sangat tinggi karena ikan tengadak sekerabat dengan ikan tawes. Studi keragaman genetik dilakukan dalam upaya pemanfaatan sumber daya genetik untuk kegiatan budidaya secara berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis keragaman dan kekerabatan antara populasi ikan tengadak asal Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Analisis fenotipe dilakukan berdasarkan pengukuran truss-morfometrik, sedangkan analisis genotipe dilakukan secara molekuler menggunakan metode PCR-RAPD dengan primer OPA-08, OPA-09, dan OPC-02. Hasil analisis fungsi kanonikal truss-morfometrik menunjukkan sebaran pengukuran ketiga populasi berada pada kuadran yang berbeda dengan persentase indeks keseragaman tertinggi pada populasi Sumatera dan Jawa (100%). Analisis genotipe menunjukkan ikan tengadak populasi Kalimantan memiliki nilai polimorfisme (50,00) dan heterozigositas tertinggi (0,206); secara kekerabatan ikan tengadak Kalimantan memiliki jarak yang jauh dengan ikan tengadak Jawa dan Sumatera.Tinfoil barb Barbonymus schwanenfeldii is one of potential local fish species for aquaculture development. The successful probability of aquaculture development of tinfoil barb is very high due to close genetic relationship with silver barb. Study related to genetic diversity was conducted in order to explore genetic resources for sustainable aquaculture. The aim of this study was to analyze the genetic diversity and relationship between tinfoil barb populations from Java, Sumatra, and Kalimantan. Phenotype analysis was conducted by truss morphometric, whereas genotype analysis conducted by PCR-RAPD using OPA-08, OPA-09, and OPC-02 primers. The results of canonical correlation analysis from truss-morphometric measurements showed that the distribution of three populations were located in different quadrants with the highest similarity index percentage on Sumatra and Java population (100%). Genotypic analysis showed that tinfoil barb population from Kalimantan revealed the highest value of polymorphism (50.00) and heterozygosity (0.206), Kalimantan population have distantly genetic relationship to tinfoil barb from Java and Sumatra.
APLIKASI INSEMINASI BUATAN PADA UDANG WINDU, Penaeus monodon ALAM MENGGUNAKAN SUMBER DAN JUMLAH SPERMATOFOR YANG BERBEDA Samuel Lante; Asda Laining
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 3 (2016): (September 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.153 KB) | DOI: 10.15578/jra.11.3.2016.271-280

Abstract

Salah satu kendala utama dalam domestikasi udang windu adalah rendahnya tingkat perkawinan secara alami dalam wadah budidaya. Hal yang sama terjadi pada udang windu alam yang digunakan di unit pembenihan. Salah satu upaya untuk mendapatkan telur fertil adalah melalui inseminasi buatan (IB). Inseminasi buatan merupakan teknik mentransfer spermatofor dari induk jantan dengan cara memasukkannya ke dalam telikum udang betina. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performa reproduksi udang windu betina alam pasca-inseminasi menggunakan sumber dan jumlah spermatofor induk jantan alam yang berbeda. Penelitian dilakukan dua tahap yaitu 1) IB menggunakan spermatofor induk jantan dari perairan Sulawesi Selatan (SS) dan spermatofor induk jantan dari Aceh (SA) dan 2) IB menggunakan jumlah spermatofor berbeda yaitu satu spermatofor (S-1) dan dua spermatofor (S-2) pada udang windu betina alam. Inseminasi spermatofor dilakukan pada induk udang windu betina setelah dua hari moulting. Hasil yang diperoleh pada IB tahap pertama menunjukkan bahwa daya tetas telur udang windu betina alam lokal tidak dipengaruhi oleh sumber (lokasi) asal udang jantan, di mana daya tetas telur relatif sama pada kedua perlakuan, yaitu 61,6% pada SS dan 61,7% pada SA. IB pada tahap kedua menunjukkan bahwa daya tetas telur fertil yang diperoleh pada S-2 sebesar 40,5%; lebih rendah dari S-1 sebesar 44%.One of the main constraints in the domestication of black tiger shrimp is very low natural mating in the tank. Similar condition have been happened in commercial hatcheries. An effort to improve the eggs fertility is through artificial insemination (AI). This study aimed to know reproductive performance of wild black tiger shrimp after insemination with different sources and numbers of spermatophore. This study consisted of two trials.The first one was AI using spermatophores of wild male obtained from two different locations, namely from South Sulawesi (SS) and Aceh (SA). The second trial was AI using different numbers of spermatophore namely one spermatophore (S-1) and two spermatophores (S-2). AI was applied to the females at two days post-moulting. The results of the first trial showed that the hatching rate (HR) was not affected by the source of the male which was 61.6% for SS and 61.7% for SA. The second trial indicated that female inseminated S-2 had lower HR than S-1 (40.5% vs 44%).
TRANSMISI GEN PhGH DAN PERFORMA PERTUMBUHAN IKAN LELE AFRIKA (Clarias gariepinus) TRANSGENIK GENERASI KETIGA Huria Marnis; Bambang Iswanto; Selny Febrida; Imron Imron; Raden Roro Sri Pudji Sinarni Dewi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 3 (2016): (September 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.376 KB) | DOI: 10.15578/jra.11.3.2016.225-234

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi transmisi transgen PhGH dan performa ikan lele Afrika transgenik generasi ketiga (F3) yang meliputi pertumbuhan, rasio efisiensi konversi pakan, konsentrasi hormon pertumbuhan dan hormon IGF-I. Ikan lele transgenik F3 telah diproduksi dengan meyilangkan ikan lele transgenik F2 dengan non-transgenik. Deteksi transgen (PhGH) dilakukan menggunakan metode PCR. Analisis hormon pertumbuhan dan hormon insuline-like growth factor (IGF-I) menggunakan sampel serum darah dan metode enzyme linked immunosorbent assay (ELISA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan lele transgenik F3 yang digunakan pada pengujian ini terdeteksi positif membawa transgen dengan ukuran fragmen gen sebesar 1.500 bp. Transmisi transgen dari induk F2 ke F3 berkisar 0-75%. Pertumbuhan bobot populasi ikan lele transgenik F3 lebih tinggi 51,26% dibandingkan dengan ikan lele non-transgenik (P<0,05). Pertumbuhan bobot populasi ikan transgenik mencapai 484±60,3 g, sedangkan pertumbuhan bobot ikan non-transgenik 319,98±65,3 g. Nilai rasio konversi pakan ikan lele transgenik F3 sebesar 0,89 sedangkan non-transgenik 1,30. Hal ini menunjukkan bahwa efisiensi pakan ikan lele transgenik F3 lebih tinggi dibandingkan dengan ikan non-transgenik (P<0,05). Ikan lele transgenik mempunyai konsentrasi hormon pertumbuhan (5,67±2,65 ng/mL) yang lebih tinggi (P<0,05) jika dibandingkan dengan ikan lele non-transgenik (3,00±1,41 ng/mL). Ikan lele transgenik juga memiliki kandungan hormon IGF-I (6,63±0,11 ng/mL) lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan ikan lele non-transgenik (5,38±0,63 ng/mL). Tingginya konsentrasi hormon pertumbuhan dan hormon IGF-I dapat mewakili performa pertumbuhan dan efisiensi penggunaan pakan pada ikan lele transgenik.The aim of this study was to determine the transmission of a transgene (PhGH) and to evaluate the performance of F3 transgenic African catfish, such as body weight, feed conversion ratio (FCR), growth hormone and IGF-I hormone profile. F3 transgenic were produced by mating F2 transgenic with non-transgenic fish. Detection of transgene was performed using PCR method. Analysis of the growth hormone and the insulin-like growth factor-I (IGF-I) hormone were conducted by enzyme linked immunosorbent assay (ELISA) method using serum samples. The results showed that the transgenic catfish F3 was positive carrying the transgene 1.500 bp. Transgene transmission from F2 to F3 ranged zero to 75%. The performance of F3 transgenic African catfish was significantly better 51.26% than that the non-transgenic (P<0.05). The body weight of transgenic population (484±255.25 g) was higher than that non-transgenic (319.98±165.27 g). FCR of transgenic fish (0.89) was lower than that non-transgenic (1.30). The growth hormone level of transgenic (5.67±2.65 ng/mL) was higher than that non-transgenic (3.00±1.41 ng/mL), IGF-I hormone level of F3 transgenic (6.63±0.11 ng/mL) was also higher than that non-transgenic (5.38±0.63 ng/mL). High level of growth hormone and IGF-I hormone represented both growth performance and efficiency of feed utilization of transgenic African catfish.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI PENYEBAB VIBRIOSIS TERHADAP UDANG WINDU DARI EKSTRAK HERBAL MANGROVE Sonneratia alba DAN Bruguiera gymnorrhiza Muliani Muliani; Bunga Rante Tampangallo; Muharijadi Atmomarsono
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 3 (2016): (September 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.438 KB) | DOI: 10.15578/jra.11.3.2016.281-289

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri dari ekstrak herbal mangrove Sonneratia alba dan Bruguiera gymnorrhiza terhadap penyebab penyakit vibriosis pada udang windu. Daun mangrove S. alba dan B. gymnorrhiza masing-masing diambil dari Kabupaten Maros dan Pangkep. Sampel daun dikering-anginkan selama dua minggu, ditepungkan, diekstraksi dengan metanol 80%, dan dievaporasi. Rendemen yang diperoleh dipartisi menggunakan dua jenis pelarut yaitu butanol dan dietileter. Uji bioassay dilakukan baik secara kualitatif maupun kuantitatif melalui penentuan minimum inhibition concentration (MIC) dan minimum bactericidal concentration (MBC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri ekstrak mangrove S. alba dan B. gymnorrhiza lebih tinggi terhadap V. parahemolyticus dibanding V. harveyi. Fraksi dietileter dan ekstrak metanol S. alba, serta fraksi butanol B. gymnorrhiza memiliki antibakteri yang tergolong kuat. Ekstrak metanol S. alba bersifat toksik terhadap benur udang windu pada konsentrasi di atas 2.000 mg/L.The experiment was aimed to examine the activity of anti-bacterial of mangrove herbs Sonneratia alba and Bruguiera gymnorrhiza extract on tiger shrimp. Mangroves leaf of S. alba and B. gymnorrhiza were taken from Maros and Pangkep Regency. Mangrove leaves dried aired approximately two weeks, made into flour, extracted using 80% metanol, and evaporated. Yield were then partitioned using two types of solvents are butanol and dietileter. Bioassay test both qualytatively and quantitatively by determination of minimum inhibition concentration (MIC) and minimum bactericidal concentration (MBC). The results showed that the anti-bacterial activity mangrove extract of S. alba and B. gymnorrhiza higher in V. parahemolyticus compared against V. harveyi. Dietileter fraction and the metanol extract of S. alba and buthanol fraction of B. gymnorrhiza have strongly as anti-bacterial. The methanol extract of S. alba will be toxic to black tiger shrimp fry at concentrations above of 2,000 mg/L.
ESTIMASI NILAI HERITABILITAS BOBOT IKAN MAS VARIETAS PUNTEN DALAM PROGRAM SELEKSI INDIVIDU Estu Nugroho; Budi Setyono; Mochammad Su&#039;eb; Tri Heru Prihadi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 3 (2016): (September 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.802 KB) | DOI: 10.15578/jra.11.3.2016.217-223

Abstract

Program pemuliaan ikan mas varietas Punten dilakukan dengan seleksi individu terhadap karakter bobot ikan. Pembentukan populasi dasar untuk kegiatan seleksi dilakukan dengan memijahkan secara massal induk ikan mas yang terdiri atas 20 induk betina dan 21 induk jantan yang dikoleksi dari daerah Punten, Kepanjen (delapan betina dan enam jantan), Kediri (tujuh betina dan 12 jantan), Sragen (27 betina dan 10 jantan), dan Blitar (15 betina dan 11 jantan). Larva umur 10 hari dipelihara selama empat bulan. Selanjutnya dilakukan penjarangan sebesar 50% dan benih dipelihara selama 14 bulan untuk dilakukan seleksi dengan panduan hasil sampling 250 ekor individu setiap populasi. Seleksi terhadap calon induk dilakukan saat umur 18 bulan pada populasi jantan dan betina secara terpisah dengan memilih berdasarkan 10% bobot ikan yang terbaik. Calon induk yang terseleksi kemudian dipelihara hingga matang gonad, kemudian dipilih sebanyak 150 pasang dan dipijahkan secara massal. Didapatkan respons positif dari hasil seleksi berdasarkan bobot ikan, yaitu 49,89 g atau 3,66% (populasi ikan jantan) dan 168,47 g atau 11,43% (populasi ikan betina). Nilai heritabilitas untuk bobot ikan adalah 0,238 (jantan) dan 0,505 (betina).Punten carp breeding programs were carried out by individual selection for body weight trait. The base population for selection activities were conducted by mass breeding of parent consisted of 20 female and 21 male collected from area Punten, eight female and six male (Kepanjen), seven female and 12 male (Kediri), 27 female and 10 male (Sragen), 15 female and 11 male (Blitar). Larvae 10 days old reared for four moths. Then after spacing out 50% of total harvest, the offspring reared for 14 months for selection activity based on the sampling of 250 individual each population. Selection of broodstock candidates performed since 18 months age on male and female populations separately by selecting based on 10% of fish with best body weight. Candidates selected broodstocks were then maintained until mature. In oder to produce the next generation 150 pairs were sets and held for mass spawning. The results revealed that selection response were positive, 49.89 g (3.66%) for male and 168.47 (11.43%) for female. Heritability for body weight is 0.238 (male) and 0.505 (female).
SELEKSI RUMPUT LAUT Kappaphycus striatum DALAM UPAYA PENINGKATAN LAJU PERTUMBUHAN BIBIT UNTUK BUDIDAYA Andi Parenrengi; Mat Fahrur; Makmur Makmur; Sri Redjeki Hesti Mulyaningrum
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 3 (2016): (September 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (696.813 KB) | DOI: 10.15578/jra.11.3.2016.235-248

Abstract

Budidaya rumput laut di Indonesia semakin berkembang seiring dengan peningkatan permintaan bahan baku industri untuk pasar domestik dan eksport. Rumput laut Kappaphycus striatum, salah satu spesies rumput laut komersil, telah intensif dibudidayakan di perairan pantai. Saat ini, masalah utama yang dihadapi pembudidaya adalah rendahnya kualitas bibit yang berasal dari hasil budidaya. Seleksi varietas merupakan salah satu metode yang diharapkan dapat meningkatkan laju pertumbuhan rumput laut. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh seleksi varietas terhadap pertumbuhan rumput laut sehingga dapat dilakukan produksi bibit unggul untuk keperluan budidaya. Budidaya rumput laut K. striatum telah dilakukan di Teluk Laikang, Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan dengan menggunakan metode long line. Seleksi varietas dilakukan berdasarkan parameter laju pertumbuhan harian (LPH) dan metode seleksi mengacu pada protokol seleksi yang telah dikembangkan pada rumput laut K. alvarezii. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LPH bibit hasil seleksi lebih tinggi (P
UJI IN VITRO BAKTERI ANTI QUORUM SENSING PENDEGRADASI ACYL HOMOSERINE LACTONE Aeromonas hydrophila Hessy Novita; Iman Rusmana; Munti Yuhana; Fachriyan Hasmi Pasaribu; Angela Mariana Lusiastuti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 3 (2016): (September 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.921 KB) | DOI: 10.15578/jra.11.3.2016.291-296

Abstract

Anti quorum sensing (AQS) adalah proses inaktivasi atau degradasi molekul sinyal quorum sensing (QS) yaitu acyl homoserine lactone (AHL) tanpa memengaruhi pertumbuhan bakteri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan uji kultur bersama dan uji penghambatan faktor virulensi secara in vitro antara bakteri AQS dengan Aeromonas hydrophila sebagai patogen yang menyebabkan Motile Aeromonad Septicaemia (MAS) pada ikan air tawar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji in vitro dengan kultur bersama antara bakteri AQS Bacillus sp. dan A. hydrophila tidak ada penghambatan pertumbuhan pada kedua bakteri, tetapi bakteri AQS dapat menghambat produksi faktor virulensi dari A. hydrophila yaitu protease dan hemolisin. AQS merupakan salah satu strategi yang potensial untuk diaplikasikan dalam pengendalian penyakit infeksius atau bakteri patogen resisten antibiotik pada budidaya ikan air tawar.Anti quorum sensing (AQS) was process of inactivation or degradation of Quorum sensing signal molecules of acyl homoserine lactone (AHL) without affecting growth of the bacteria. The aim of the reseach was to study in vitro assay of co-culture and inhibition of virulence factors between AQS bacteria which Aeromonas hydrophila as pathogen caused motile aeromonad septicaemia (MAS) in fresh water fish. The result showed that in vitro assay of co culture between AQS bacteria Bacillus sp. and A. hydrophila without inhibited of growth in both bacteria but bacteria AQS could suppressed production A. hydrophila virulence factors, protease, and hemolysin. The AQS is one of potential strategies to inhibit QS for application to control of infectious diseases or antibiotic resistant bacterial pathogens in fresh water aquaculture.
PREFERENSI PENEMPELAN, PERTUMBUHAN, DAN SINTASAN LARVA TERIPANG PASIR, Holothuria scabra PADA SUBSTRAT LAMUN YANG BERBEDA Lisa Fajar Indriana; Yuli Afrianti; Sitti Hilyana; Muhammad Firdaus Firdaus
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 3 (2016): (September 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (702.999 KB) | DOI: 10.15578/jra.11.3.2016.249-258

Abstract

Teripang pasir, Holothuria scabra merupakan komoditas hasil laut yang bernilai ekonomis tinggi. Penangkapan berlebihan stok di alam mendorong berkembangnya kegiatan budidaya. Penempelan merupakan fase kritis pada larva teripang karena terjadi peralihan sifat planktonis ke bentik yang memerlukan substrat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi penempelan, pertumbuhan, dan sintasan larva H. scabra fase penempelan pada substrat lamun yang berbeda. Penelitian menggunakan metode rancangan acak lengkap dengan perlakuan empat jenis daun lamun berbeda dan lima ulangan. Perlakuan terdiri atas Enhalus acoroides (L-1), Syringodium isoetifolium (L-2), Cymodocea serrulata (L-3), dan Cymodocea rotundata (L-4). Jumlah awal larva sebanyak 1.000 individu dan substrat dirangkai dengan luasan yang sama sebesar 12 cm x 17 cm untuk setiap unit penelitian. Hasil penelitian menunjukkan jenis lamun yang digunakan sebagai substrat berpengaruh secara nyata terhadap preferensi penempelan dan sintasan larva teripang pasir, namun tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan. E. acoroides menunjukkan hasil terbaik dengan preferensi penempelan 0,26 ind. cm-2 dan sintasan 10,66%; sehingga layak digunakan sebagai substrat penempelan dalam pembenihan teripang pasir, H. scabra.Holothuria scabra larvae on different seagrass substrates. By: Lisa Fajar Indriana, Yuli Afrianti, Sitti Hilyana, and Muhammad FirdausSandfish Holothuria scabra is marine commodities with a high economic value. Overfishing of natural stocks has compelled an interest to begin aquaculture practice. Settlement is a critical phase for the planktonic larvae as they will transform to benthic form in the presence of substrate. This study aims to evaluate the settlement preferences, growth, and survival rate of H. scabra larvae settled on different seagrass leaves. The research was conducted using the Completely randomized design with four different species of seagrass leaves and five replications. The treatments consist of Enhalus acoroides (L-1), Syringodium isoetifolium (L-2), Cymodocea serrulata (L-3), and Cymodocea rotundata (L-4). Initial number of larvae was 1,000 individuals and the substrate was set with same widthof 12 cm x 17 cm for each unit. Results of the experiment indicated that settlement preference and survival rate of H. scabra larvae was significantly affected by seagrass used as substrate while no significantly differences was observed for growth of larvae. E. acoroides showed the best result with 0.26 ind. cm-2 settelement preference and 10.66% survival rate, so that suitable to be used as settlement substrate in H. scabra hatchery.
IDENTIFIKASI IKAN CUPANG (Betta imbelis) TRANSGENIK FOUNDER MEMBAWA GEN PENYANDI HORMON PERTUMBUHAN; Identification of Transgenic Founder Betta Fish (Betta imbelis) Carry Growth Hormone Gene. Eni Kusrini; Alimuddin Alimuddin; Mohammad Zairin; Dinar Tri Sulistyowati
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 3 (2016): (September 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.011 KB) | DOI: 10.15578/jra.11.3.2016.197-205

Abstract

Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi keberhasilan introduksi gen penyandi hormon pertumbuhan (Growth Hormone, GH) pada induk F-0 ikan Betta imbellis. Ikan transgenik F-0 dibuat dengan menggunakan metode transfeksi. Identifikasi dilakukan menggunakan metode RT-PCR. RNA total diekstraksi dari embrio pooled sample hasil persilangan induk transgenik dan non-transgenik. Berdasarkan analisis ekspresi gen pada embrio juga menunjukkan adanya aktivitas ekspresi gen GH pada semua perlakuan dibandingkan dengan kontrol (embrio hasil persilangan non-transgenik x non-transgenik). Jumlah individu induk F-0 yang membawa gen GH eksogen berdasarkan analisis PCR dengan DNA template dari sirip ekor adalah sebanyak 16%. Individu positif membawa gen GH eksogen tersebut dibesarkan lebih lanjut untuk memproduksi Betta imbellis transgenik F-1. Kandidat ikan transgenik jantan F-0 dikawinkan dengan ikan non-transgenik betina, sedangkan transgenik F-0 betina dikawinkan dengan non-transgenik jantan. Sebanyak 30-50 butir embrio hasil pemijahan F-0 digabung, kemudian DNA genom diekstrak. Sebagian embrio digunakan untuk ekstraksi RNA total untuk analisis ekspresi mRNA GH eksogen. Hasil analisis PCR menunjukkan bahwa semua sampel embrio dari induk transgenik F-0 dapat terdeteksi gen GH eksogen, sedangkan untuk kontrol (non-transgenik) tidak terdeteksi. Ekspresi mRNA juga terdeteksi pada embrio F-1. Dengan demikian, metode transfeksi embrio Betta imbellis efektif digunakan untuk menghasilkan ikan transgenik, dan sangat berpotensi menghasilkan individu F-1 Betta imbellis dengan pertumbuhan lebih cepat.The study was conducted to identify the successful introduction of the growth hormone gene (Growth Hormone, GH) on the F-0 Betta imbellis broodstock. The F-0 transgenic fish was made through transfection methods. Identification was done using RT-PCR method. Total RNA was extracted from pooled embryos sample. Based on the analysis of gene expression in embryos also showed activity GH gene expression in all treatments compared to the control (non-transgenic x non-transgenic). The number of individuals F-0 which carried exogenous GH gene by PCR analysis of the DNA template of the tail fin was as much as 16%. Positive individuals carried the exogenous GH gene raised further to produce transgenic F-1 B. imbellis. Candidate of transgenic F-0 males fish were mated with non-transgenic female fish, whereas the transgenic F-0 females were mated with non-transgenic males. The 30-50 embryos obtained were combined, then their genomic DNA were extracted. Some of the embryos was used for the extraction of total RNA for analysis of mRNA expression of GH exogenous. The PCR analysis showed that all samples of embryos from the transgenic F-0 broodstock could be detected, whereas for the control (non-transgenic) was not detected. mRNA expression was also detected in embryos of F-1. The average weight of the F-0 broodstocks were 1.55 g and a total length was 12.97 cm. Thus, the transfection methods through betta embryos peaceful effectively generated transgenic fish, and potentially produced fast growth of individuals F-1 Betta imbellis.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2016 2017


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 3 (2025): September (2025) Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025) Vol 20, No 1 (2025): Maret (2025) Vol 19, No 4 (2024): Desember (2024) Vol 19, No 3 (2024): September (2024) Vol 19, No 2 (2024): Juni (2024) Vol 19, No 1 (2024): (Maret 2024) Vol 18, No 4 (2023): (Desember, 2023) Vol 18, No 3 (2023): (September, 2023) Vol 18, No 2 (2023): (Juni, 2023) Vol 18, No 1 (2023): (Maret 2023) Vol 17, No 4 (2022): (Desember 2022) Vol 17, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022) Vol 16, No 4 (2021): (Desember, 2021) Vol 16, No 3 (2021): (September, 2021) Vol 16, No 2 (2021): (Juni, 2021) Vol 16, No 1 (2021): (Maret, 2021) Vol 15, No 4 (2020): (Desember, 2020) Vol 15, No 3 (2020): (September, 2020) Vol 15, No 2 (2020): (Juni, 2020) Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020) Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019) Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019) Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019) Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) More Issue