Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi
Dialektika Masyarakat : Jurnal Sosiologiadalah peer-review jurnal yang diterbitkan secara periodik (Mei dan November) secara cetak dan online oleh Laboratorium Sosiologi Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Sebelas Maret (UNS). Jurnal ini lahir berdasarkan surat keputusan Kepala Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Sebelas Maret Surakarta Nomor: 209/UN27.05.6.3/PB/2017 tertanggal 21 April 2017.
Articles
8 Documents
Search results for
, issue
"Vol 2, No 2 (2018)"
:
8 Documents
clear
HUBUNGAN PATRON KLIEN BLANDONG DENGAN MANDOR HUTAN
Fitriyah Nurul Faizah;
Ekna Satriyati
Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UNS Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (506.616 KB)
Hubungan Patron Klien Blandong dengan Mandor Hutan (Studi Tentang Aktifitas Ilegal di Hutan Jati Dander Kabupaten Bojonegoro). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan memahami bagaimana hubungan patron klien Blandong dengan Mandor hutan terjadi di hutan jati Dander, Bojonegoro, serta untuk mengetahui alasan dan terjadinya hubungan kerja yang dilakukan oleh Blandong dan Mandor hutan. Manfaat penelitian ini secara teoritis diharapkan mampu mengembangkan teori patron klien dan menjadi wacana berikutnya mengenai hubungan patron klien Blandong dan Mandor hutan. Secara praktis diharapkan dapat memberikan wacana yang dapat memberikan pengetahuan dan wawasan bagi masyarakat kabupaten Bojonegoro dan masyarakat umumnya bahwa hubungan yang terjalin antara Blandong dengan mandor hutan tersebut memiliki sisi positif yang perlu untuk dipertahankan guna pelestarian hutan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi fenomenologi, pengumpulan data melalui observasi dan wawancara. Metode pemilihan informan menggunakan snowball sampling, sejumlah tiga pasang informan penelitian . dengan menggunakan triangulasi sumber, untuk proses pemeriksaan keabsahan data melalui perbandingan data yang diperoleh dilapangan dari hasil wawancara ke enam informan penelitian. Hubungan patron klien Blandong dengan Mandor Hutan dilakukan dengan proses yang cukup panjang yang dibangun melalui hubungan baik secara turun temurun, adanya hubungan timbal balik yang saling menguntungkan satu sama lain dan terdapat hubungan sosial untuk mempertahankan hubungan kerja yang sudah terbentuk antara Blandong dengan Mandor hutan, di Hutan Jati Dander Kabupaten Bojonegoro.
MERAJUT INDONESIA; NILAI KEBANGSAAN DAN PEREMPUAN PEJUANG LINGKUNGAN
Nikodemus Niko;
Rupita Rupita
Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UNS Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (576.664 KB)
Ketika persoalan-persoalan lingkungan sudah berada pada tahap sangat mengkhawatirkan di negeri ini, perempuan menjadi representasi yang tidak berdaya. Dibalik itu, sama sekali tidak menghilangkan orang-orang baik yang masih peduli, merawat dan mencintai lingkungan. Perempuan menjadi kontrol yang memegang kendali atas perjuangan lingkungan, kalau bukan perempuan, siapa lagi? Kendali patriarki atas pengrusakan lingkungan kemudian meluas pada tidak terkontrolnya penggunaan kantong plastik, sampah berbahaya bagi mahkluk hidup baik di lautan maupun di daratan. Persoalan tentang sampah kantong plastik menjadi polemik yang tidak berujung-pangkal. Tulisan ini merupakan refleksi atas perjuangan seorang perempuan yang dijuluki Ncie Kresek, yang aktif menyuarakan dan mempraktikkan asas etika lingkungan dengan mengubah sampah kantong plastik menjadi kerajinan rajut yang bernilai jual. Implikasinya terhadap rasa kebangsaan adalah ketekunannya mengajar merajut hingga ke pelosok-pelosok desa dan pulau-pulau terpencil di Indonesia, terdapat misi penyelamatan lingkungan serta rasa kebangsaan yang menjadi tujuan. Merajut Indonesia adalah slogan yang mendarah daging dalam diri Ncie, beragam komunitas adat di desa, komunitas anak muda di kota turut belajar merajut darinya. Diskursus yang ingin dibangun melalui tulisan ini berupa perdebatan atas isu lingkungan, membangun entitas manusia dari perusak lingkungan menjadi pejuang lingkungan dengan pendekatan Sosiologi Lingkungan. Melalui penyelamatan lingkungan nasib perempuan bisa terselamatkan pula, pun bangsa ini dapat selamat dari bencana alam yang diakibatkan kerusakan lingkungan yang berkepanjangan.
PERAN KONSELOR SEBAYA UNTUK MEREDUKSI KECANDUAN GAME ONLINE PADA ANAK
Rischa Pramudia Trisnani;
Silvia Yula Wardani
Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UNS Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (566.652 KB)
Saat ini game online menjadi permainan yang sangat digemari oleh sebagaian besar anak di Indonesia. Tidak hanya di daerah perkotaan saja, tetapi di pelosok desa pun saat ini mudah mendapatkan jaringan internet untuk kelancaran mengoperasikan game online. Handphone, notebook dan laptop menjadi piranti yang sering digunakan oleh anak untuk mengoperasikan game online. Harapannya kemudahan yang di dapatkan untuk mengoperasikan game online bisa dimanfaatkan sebagai hiburan saat anak jenuh dengan rutinitas sehari-hari tetapi kenyataannya justru membuat anak menjadi ketergantungan, hal ini terlihat dari banyak anak yang akhirnya berperilaku kompulsif, tak acuh pada sekitar, banyak meluangkan waktu untuk game online, atau disebut dengan mengalami kecanduan game online. Teman sebaya yang memiliki kriteria menjadi konselor sebaya bisa menjadi salah satu personel yang dipandang sangat tepat sebagai tokoh yang mampu membantu mereduksi kecanduan game online. Tujuan penulisan artikel ini adalah mengetahui peran konselor sebaya untuk mereduksi kecanduan game online. Metodologi penulisan dalam artikel ini berorientasi pada pendekatan kualitatif, dengan merujuk pada beberapa kajian pustaka, yang kemudian dianalisis secara deskriptif.
DEKONSTRUKSI MAKNA POLITIK IJO-ABANG DALAM PROYEK KUNING-HIJAUISASI DI KABUPATEN JOMBANG
Ade Julandha Wiranata
Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UNS Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (500.089 KB)
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pola dekonstruksi makna Politik Ijo-Abang yang dilakukan oleh Pemerintahan Bupati Nyono Suharli Wihandoko-Mundjidah Wahab dalam proyek simbolisasi warna kuning dan hijau selama lima tahun. Dekonstruksi dalam penelitian ini adalah penanda kuning dan hijau yang mencoba menggeser kesatuan ijo dan abang sebagai bangunan politik Bupati Suyanto-Widjono Soeparno. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan semiotika model Roland Barthes. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi langsung dan wawancara semi terstruktur. Penentuan informan dilakukan dengan purposive sampling dengan informan: Budayawan Jombang, kritikus politik, pegawai dinas, anggota DPD Partai Golkar Jombang dan aktor gerakan #SaveJombang. Analisis data dilakukan menggunakan teknik Miles dan Huberman. Uji keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan waktu. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Jombang dengan observasi dari Juli 2014 sampai Januari 2018 dan wawancara pada Juni 2016 serta Januari 2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna politik ijo-abang bermakna konotatif identitas politik. Penanda kuning dan hijau hadir di Kabupaten Jombang dalam berbagai bidang pasca dimenagkannya Nyono Suharli Wihandoko-Mundjidah Wahab dalam Pemilukada Jombang 2013. Kuning dan hijau hadir untuk menggeser oposisi biner politik ijo dan abang, serta membangun citra diri pada masyarakat tentang siapa yang sedang berkuasa. Kehadiran warna baru mendapat perlawanan dari gerakan #SaveJombang yang hanya bersifat sementara. Penanda kuning dan hijau semakin terninternalisasi dalam kegiatan masyarakat Jombang. Bangunan citra diri ini kemudian perlahan runtuh ketika Mundjidah Wahab pecah koalisi dalam Pilkada Jombang 2018 dan ditangkapnya Bupati Nyono Suharli Wihandoko oleh Komisi Pemberantasan Korupsi pada Februari 2018.
KEBIJAKAN PUBLIK PADA MASYARAKAT MULTIKULTURAL DI DESA RIAS, KEC. TOBOALI BANGKA SELATAN
Khairul Amin;
Siti Ikramatoun
Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UNS Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (699.52 KB)
Tulisan ini bermaksud mengkaji tentang kebijakan publik pada masyarakat multikultural. Dalam beberapa kasus, meskipun kebijakan publik sudah disusun sesuai dengan prosedur yang ada, namun dalam tataran implementasi masih sering ditemui adanya resistensi dari masyarakat, terlebih pada masyarakat yang multikultural. Seting sosial masyarakat dalam tulisan ini adalah masyarakat Desa Rias Kecamatan Toboali Kabupaten Bangka Selatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang multi etnis. Dalam menyelesaikan tulisan ini, penulis menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, di mana data diperoleh dari hasil observasi dan wawancara serta sumber-sumber sekunder pendukung lain yang terkait dengan tema tulisan ini. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa meskipun secara prosedural pemerintah telah melaksanan proses perumusan dengan baik namun informasi terkait hasil dari perumusan itu masih menjadi informasi yang “langka” bagi sebagian besar masyarakat. Sehingga hasil kesepakatan tersebut tidak mendapat legitimasi yang kuat dari masyarakat. Belum tersedia ruang ekspresi yang memadai, dalam hal politik dan kebijakan publik sehingga resistensi dalam implementasi kebijakan masih seiring muncul. Oleh karena itu, diperlukan transparasi, akses dan ruang bagi masyarakat untuk dapat memberikan umpan balik terhadap kebijakan publik, yaitu ruang yang bebas intervensi, kooptasi dan intimidasi. Dengan begitu, partisipasi masyarakat akan menguat.
MIGRASI ORANG BUTON KE AMBON (Studi Pada Orang Buton Di Dusun Telaga Pangi Negeri Rumahtiga KecamatanTeluk Ambon, Kota Ambon)
Yani Talakua
Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UNS Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (442.03 KB)
Proses migrasi penduduk di Ambon ini sudah berkembang cukup lama, namun pengetahuan ilmiah tentang migrasi penduduk dari berbagai sukubangsa di Ambon masih sangat terbatas. Untuk itu yang menjadi permasalahan umum yang dijumpai dalam usaha memahami dorongan untuk melakukan migrasi Orang Buton ke Ambon antara lain; 1). Mereka datang untuk mencari kehidupan yang lebih baik; 2). Kondisi tanah di tempat asal yang terbatas untuk melakukan usaha tani; 3). Mengikuti saudara-saudara mereka yang datang dan sudah menetap di wilayah Maluku maupun Ambon sejak dahulu; 4). Terjadi perkwinan. Migrasi Orang Buton yang berasal dari Sulawesi Tenggara ke Ambon telah berlangsung cukup lama. Proses migrasi yang dilakukan oleh Orang Buton ke daerah ini terjadi karena; 1). Atas dasar kemauan mereka sendiri; 2). Tidak ada paksaan atau anjuran dari pihak manapun juga; 3). Kondisi yang terdapat di wilayah Pulau Buton pada waktu itu kondisinya tidak memungkinkan untuk melakukan usaha, karena Orang Buton mayoritas bekerja sebagai petani. Mereka dari wilayah Pulau Buton atau Buton Bau-Bau. Kedua kelompok Orang Buton ini yang mayoritas mendiami Dusun Telaga Pangi. Mereka sama-sama berasal dari Tanah Buton, tetapi ciri khas yang membedakan mereka yaitu bahasa daerah, adat-istiadat, dan budaya. Tetapi sesama Orang Buton, mereka sampai saat ini dapat hidup secara bersama di Dusun Telaga Pangi Negeri Rumahtiga.
PEMERINTAH SEBAGAI AGEN PERUBAHAN SOSIAL YANG DIRENCANAKAN : STUDI ATAS PEMBANGUNAN KEMARITIMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Anggalih Bayu Muh. Kamim;
Ichlasul Amal;
M. Rusmul Khandiq
Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UNS Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (632.437 KB)
Kajian ini akan mendalami peran pemerintah DIY sebagai agen pembangunan yang menentukan perubahan fokus dari agraris ke maritim. Perubahan sosial yang ada dalam masyarakat dapat disebabkan oleh kehendak dari pemerintah untuk melakukan perubahan sosial, baik melalui program-program pembangunan, maupun melalui intervensi secara langsung. Dengan menggunakan metode studi kasus yang dibatasi pada perubahan sosial yang direncanakan pada pengembangan sektor maritim DIY pada RPJMD DIY 2012-2017 dan RPJMD DIY 2017-2022. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dengan purposive sampling, teknik dokumentasi terhadap laporan riset dan hasil kajian, serta observasi nonpartisipatif di sepanjang pantai Kabupaten Bantul, Kulonprogo, dan Gunungkidul. Analisis data dilakukan dengan model Miles and Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, verifikasi dan penarikan kesimpulan. Ditemukan bahwa Pemerintah DIY melalui program-program pembangunan mendorong perubahan sosial dalam masyarakat, walaupun memunculkan permasalahan karena tidak dapat memenuhi kesejahteraan secara maksimal. Selain itu, tindakan intervensi secara langsung terhadap perubahan sosial melalui rekayasa sosial dengan mengubah struktur sosial dari masyarakat agraris ke masyarakat maritim mengalami berbagai permasalahan. Salah satu penyebabnya adalah tidak dilihatnya realitas sosial masyarakat pesisir yang terkendala oleh kondisi geografis. Selain itu, dominasi dari nelayan pendatang menyebabkan tidak dijadikannya nelayan sebagai profesi utama bagi masyarakat pesisir selatan DIY, dan dipilihnya sektor agraris sebagai mata pencaharian utama.
SOCIOPRENEURSHIP MASYARAKAT GUSURAN DALAM MEMBANGUN KONSEP KAMPUNG WISATA TEMATIK TOPENG MALANGAN
Faizal Kurniawan;
Krisna Abdi Parela
Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UNS Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (771.927 KB)
Penelitian yang telah didanai oleh kemenristek pada skim penelitian dosen pemula ini untuk mengetahui gambaran umum sociopreneurship masyarakat gusuran yang bermukim di kawasan kampung wisata kampung 1000 topeng malangan di dusun Baran, Kelurahan Tlogowaru, Kabupaten Malang. Penelitian ini menyimpulkan sebuah hasil, bahwa sociopreneurship menimbulkan sebuah inovasi baru bagi masyarakat kampung wisata topeng malangan. Masyarakat kampung topeng malangan adalah masyarakat yang terdiri dari gabungan anak jalanan, gelandangan dan pengemis yang berasal dari beberapa kawasan di Kota Malang. Masyarakat ini dibina oleh dinas sosial dan diberikan modal sebesar lima juta rupiah sebagai modal untuk memulai usaha baru. Dari hasil depth interview dengan warga sekitar ditemukan bahwa sociopreneurship atau usaha berbasis kegiatan sosial menjadi solusi baru bagi masyarakat yang pertama kali memulai usaha baru dan meninggalkan pekerjaan mereka sebagai pemulung, pengamen, dan pengemis. Akan tetapi sociopreneurship ini tidak hanya memberikan dampak baik. Beberapa orang pun merasa kesulitan dalam memulai usaha barunya. Bahkan, ada yang ingin kembali melakoni pekerjaan lamanya sebagai gelandangan dan pengemis. Dalam komunal masyarakat gusuran ini mereka harus saling membantu antara satu sama lain agar usaha mereka tetap berjalan sehingga mereka tetap bisa melaksanakan aktivitas sociopreneurshipnya. Mereka melakoni sociopreneur tersebut demi sebuah dukungan demi terselenggarakannya konsep kampung wisata tematik khas kota Malang yaitu topeng Malangan.