cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 25 Documents
Search results for , issue "Vol. 11 No. 1: April 2025" : 25 Documents clear
Teologi persahabatan sebagai fondasi pendidikan karakter kristiani: Studi eksploratif integrasi nilai-nilai kebhinekaan dalam kurikulum PAK di era postmodern Lumantow, Anatje Ivone Sherly
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1091

Abstract

This research explores the theological foundation of friendship as a cornerstone for Christian character education within Indonesia's multicultural context during the postmodern era. Through a qualitative exploratory methodology, this study examines how theological concepts of friendship can be integrated into Christian Religious Education (CRE) curricula to foster values of diversity. The research analyzes the intersection between Christian theological anthropology and Indonesian multicultural dynamics, proposing a paradigmatic shift from tolerance-based to friendship-based educational approaches. Findings indicate that theological friendship concepts, rooted in Trinitarian relationality and biblical narratives, provide robust frameworks for developing inclusive character education that maintains Christian theological integrity while embracing cultural diversity. The study contributes to PAK pedagogical development by offering theoretical foundations and practical implementations for multicultural character education in contemporary Indonesian educational contexts. Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi fondasi teologis persahabatan sebagai landasan pendidikan karakter Kristiani dalam konteks multikultural Indonesia di era postmodern. Melalui metodologi kualitatif eksploratif, studi ini mengkaji bagaimana konsep teologis persahabatan dapat diintegrasikan dalam kurikulum Pendidikan Agama Kristen (PAK) untuk menumbuhkan nilai-nilai kebhinekaan. Penelitian menganalisis titik temu antara antropologi teologis Kristen dan dinamika multikultural Indonesia, mengusulkan pergeseran paradigma dari pendekatan berbasis toleransi menuju persahabatan. Temuan menunjukkan bahwa konsep persahabatan teologis yang berakar pada relasionalitas Trinitarian dan narasi biblis memberikan kerangka kerja yang kokoh untuk mengembangkan pendidikan karakter inklusif yang mempertahankan integritas teologis Kristen sambil merangkul keberagaman budaya. Studi berkontribusi pada pengembangan pedagogis PAK dengan menawarkan fondasi teoretis dan implementasi praktis pendidikan karakter multikultural dalam konteks pendidikan Indonesia kontemporer.
Integrasi sejarah dan hermeneutika dalam pembentukan literasi teologis: Analisis dampaknya terhadap resiliensi eklesiologis dan transformasi kualitas gereja di era kontemporer Arnolus Amtiran, Abdon
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1260

Abstract

This study examines the integration of historical and hermeneutical approaches in developing theological literacy and its impact on ecclesiological resilience and church quality transformation in the contemporary era. Through qualitative analysis of theological education practices and church transformation patterns, this research reveals that the synergistic integration of historical consciousness and hermeneutical competence significantly enhances theological literacy levels. The findings demonstrate that churches with robust theological literacy exhibit stronger resilience in facing contemporary challenges and undergo more meaningful qualitative transformation. This study contributes to understanding how methodological integration in theological education can strengthen the adaptive capacity of ecclesial communities while maintaining theological integrity in rapidly changing contexts. Abstrak Penelitian ini mengkaji integrasi pendekatan historis dan hermeneutis dalam pengembangan literasi teologis serta dampaknya terhadap resiliensi eklesiologis dan transformasi kualitas gereja di era kontemporer. Melalui analisis kualitatif terhadap praktik pendidikan teologis dan pola transformasi gereja, riset ini mengungkapkan bahwa integrasi sinergis antara kesadaran historis dan kompetensi hermeneutis secara signifikan meningkatkan tingkat literasi teologis. Temuan menunjukkan bahwa gereja-gereja dengan literasi teologis yang kuat menunjukkan resiliensi yang lebih baik dalam menghadapi tantangan kontemporer dan mengalami transformasi kualitatif yang lebih bermakna. Studi ini berkontribusi pada pemahaman bagaimana integrasi metodologis dalam pendidikan teologis dapat memperkuat kapasitas adaptif komunitas gerejawi sambil mempertahankan integritas teologis dalam konteks yang berubah cepat.
Model dialog iman: Analisis biblika dialog Yesus dalam Injil dan relevansinya pada konteks Indonesia masa kini Sarumaha, Nurnilam; Hia, Supi Miranti
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.757

Abstract

This study analyzes Jesus' model of faith dialogue in the Gospel narratives through a biblical-historical approach to explore its relevance to the contemporary Indonesian context. The analysis reveals significant pa-rallels between the socio-religious tensions of Jesus' era and the challenges faced by Indonesian Christian communities in dealing with social pressure and discrimination. In Indonesia's heterogeneous landscape of plurality, Jesus' dialogical model is proposed as a theoretical framework for developing inclusive faith communication conducive to social harmony. The findings reveal that Jesus' faith dialogue offers theological-ethical principles relevant to religious moderation: empathy in listening, articulation of truth in love, and preservation of the integrity of faith amid external pressures. The research contributes to strengthening the spirituality of Indonesian Christian communities and providing strategic guidance for ecclesiastical institutions. This study enriches the discourse of contextual theology by presenting a model of dialogue rooted in the Gospel tradition that is responsive to Indonesia's diverse reality. Abstrak Studi ini menganalisis model dialog iman Yesus dalam narasi Injil melalui pendekatan analisis biblika-historis untuk mengeksplorasi relevansinya bagi konteks Indonesia kontemporer. Analisis menunjukkan paralelisme signifikan antara kompleksitas tensionalitas sosio-religius era Yesus dengan tantangan yang dihadapi komunitas Kristen Indonesia dalam menghadapi tekanan sosial dan diskriminasi. Dalam lanskap pluralitas Indonesia yang heterogen, model dialogis Yesus diposisikan sebagai kerangka teoretis untuk mengembangkan komunikasi iman yang inklusif dan kondusif bagi harmoni sosial. Temuan mengungkapkan bahwa dialog iman Yesus menawarkan prinsip teologis-etis yang relevan untuk moderasi beragama: empati dalam mendengarkan, artikulasi kebenaran dalam kasih, dan preservasi integritas iman di tengah tekanan eksternal. Kontribusi penelitian meliputi penguatan spiritualitas komunitas Kristen Indonesia dan penyediaan panduan strategis bagi institusi gerejawi. Studi ini memperkaya diskursus teologi kontekstual dengan menghadirkan model dialog berakar tradisi Injil yang responsif terhadap realitas kemajemukan Indonesia.
Kepemimpinan feminis yang memulihkan di masa duka: Suksesor gembala perempuan Gereja-gereja Pentakostal di Indonesia Sumual, Ivonne Sandra
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1024

Abstract

This study explores the dynamics of female leadership succession in Indonesian Pentecostal churches, particularly when pastors' wives automatically inherit leadership roles after their husbands' deaths. Using a narrative qualitative approach framed by feminist hermeneutics and trauma theology, this study examines the experiences of female leaders who are survivors, employing the conceptual frameworks of Holy Saturday and Middle Spirit from Shelly Rambo, as well as the Table Principle and Community of Hospitality from Letty Russell. The findings show that the logic of structural inheritance often overlooks the spiritual-emotional healing needs of grieving leaders, thereby reproducing suffering rather than fostering healing. This study affirms that restorative feminist leadership requires the church to suspend the functionalistic logic of succession, provide space for hospitality, and uphold gender justice as fidelity to the work of the Holy Spirit in forming authentic and transformative leadership.   Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi dinamika suksesi kepemimpinan perempuan dalam Gereja-gereja Pentakostal Indonesia, khususnya ketika istri gembala secara otomatis mewarisi peran kepemimpinan pasca-kematian suaminya. Melalui pendekatan kualitatif naratif yang dibingkai her-meneutika feminis dan teologi trauma, penelitian ini membaca pengalaman para pemimpin perempuan penyintas dengan kerangka konseptual Holy Saturday dan Middle Spirit dari Shelly Rambo, serta Table Principle dan Community of Hospitality dari Letty Russell. Temuan menunjukkan bahwa logika pewarisan struktural kerap mengabaikan kebutuhan pemulihan spiritual-emosional pemimpin yang berduka, sehingga gereja justru menjadi aktor reproduksi penderitaan alih-alih komunitas penyembuh. Penelitian ini menegaskan bahwa kepemimpinan feminis yang memulihkan menuntut gereja menunda logika fungsionalistik suksesi, memberi ruang hospitalitas, dan menegakkan keadilan gender sebagai kesetiaan pada karya Roh Kudus dalam membentuk kepemimpinan yang otentik dan transformatif.
Green liberation theology dan kepemimpinan eko-pastoral: Konstruksi teologis gereja yang berkomitmen pada keadilan ekologis Randa II, Federans; Manggaprou, Pilipus; Rumbekwan, George
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1051

Abstract

The contemporary ecological crisis demands an integrative and transformative theological response from church leadership. This article develops a model of eco-pastoral leadership grounded in green liberation theology, a creative synthesis of liberation theology and eco-theology. Through constructive theology with hermeneutical-ecological analysis, this study shows that eco-pastoral leadership requires ecological metanoia that integrates spiritual, social, and environmental dimensions. This theological construction rests on three pillars: the amplification of green theology, sustainable practices, and advocacy for environmental justice. The result is a framework of church leadership capable of responding to the cli-mate crisis while empowering the communities most affected by environmental injustice. Abstrak: Krisis ekologis kontemporer menuntut respons teologis yang integratif dan transformatif dari kepemimpinan gereja. Artikel ini mengonstruksi model kepemimpinan eko-pastoral berbasis green liberation theology sebagai sintesis kreatif antara teologi pembebasan dan ekoteologi. Melalui metode teologi konstruktif dengan analisis hermeneutis-ekologis, penelitian ini menunjukkan bahwa kepemimpinan eko-pastoral memerlukan ecological metanoia yang mengintegrasikan dimensi spiritual, sosial, dan ekologis. Konstruksi teologis ini dibangun di atas tiga pilar: amplifikasi teologi hijau, praktik berkelanjutan, dan advokasi keadilan lingkungan. Hasilnya adalah kerangka kepemimpinan gerejawi yang mampu merespons krisis iklim sekaligus memberdayakan komunitas-komunitas yang paling terdampak oleh ketidakadilan lingkungan.

Page 3 of 3 | Total Record : 25