cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
Search results for , issue "Vol. 12 No. 1: April 2026" : 18 Documents clear
Rekonsiliasi identitas dan politik tubuh Kristus: Efesus 2 dalam konteks polarisasi Sihite, Baringin; Tobing, Andre P. L.; Gaurifa, Suardin
KURIOS Vol. 12 No. 1: April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v12i1.1554

Abstract

Social and political polarization poses a serious threat to commu-nal cohesion in various societies, including Indonesia. This article examines Ephesians 2:11-22 as a theological foundation for reconciliation amid contemporary polarization. Through historical-critical exegesis, combined with biblical and political theology, this study demonstrates that Paul presents a radical vision of reconciliation in which Christ demolishes the dividing wall of hostility and creates one new humanity that transcends ethnic and religious boundaries. The Body of Christ functions as an alternative political space that challenges worldly power structures and offers a new identity rooted in union with Christ. Three theological dimensions are explored: exegesis of the concept of the dividing wall and the new humanity, the Body of Christ as an alternative political space, and the application of these findings to contemporary polarization, including issues of xenophobia, racism, religious fundamentalism, and political division. This article concludes that the church is called to be an agent of reconciliation that embodies peace, justice, and love in concrete practice.   Abstrak Polarisasi sosial-politik menjadi ancaman serius bagi kohesi masyarakat di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Artikel ini mengkaji Efesus 2:11-22 sebagai dasar teologis bagi rekonsiliasi di tengah polarisasi kontemporer. Melalui eksegesis historis-kritis yang dikombinasikan dengan teologi biblika dan teologi politik, studi ini menunjukkan bahwa Paulus menghadirkan visi rekonsiliasi yang radikal, di mana Kristus meruntuhkan tembok pemisah permusuhan dan menciptakan satu manusia baru yang melampaui batas-batas identitas etnis dan religius. Tubuh Kristus berfungsi sebagai ruang politik alternatif yang menantang struktur kekuasaan duniawi dan menawarkan identitas baru yang berakar pada kesatuan dengan Kristus. Tiga dimensi teologis dieksplorasi: eksegesis konsep tembok pemisah dan manusia baru, tubuh Kristus sebagai ruang politik alternatif, serta aplikasi temuan tersebut terhadap polarisasi kontemporer, mencakup isu xenofobia, rasisme, fundamentalisme religius, dan polarisasi politik. Artikel ini menyimpulkan bahwa gereja dipanggil menjadi agen rekonsiliasi yang mewujudkan damai sejahtera, keadilan, dan kasih dalam praktik konkret.
Komunitas iman sebagai ruang formasi moral: Reinterpretasi pendekatan “praksis bersama” Thomas Groome bagi pendidikan Kristiani multikultural Indonesia Woenardi, Thinna Naftali
KURIOS Vol. 12 No. 1: April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v12i1.1560

Abstract

Christian education in multicultural Indonesia faces distinctive challenges in moral formation amidst religious, ethnic, and cultural diversity. This article reinterprets Thomas Groome's "Shared Christian Praxis" as a theological-pedagogical framework for moral formation within faith communities in plural contexts. Using a hermeneutic-reconstructive method that combines conceptual analysis and contextual synthesis with Indonesian local wisdom, the study argues that Groome's dialogical pedagogy, when placed in critical dialogue with communitarian ecclesiology and Indonesian cultural grammar, yields a distinctive model of character formation that respects diversity without sacrificing Christian particularity. This article constructs a critical-constructive reinterpretation that identifies Groome's limitations for non-Western contexts and recalibrates his five movements through the cultural lenses of gotong royong, musyawarah-mufakat, and tepo seliro. The resulting framework positions the faith community as the primary locus of moral formation through dialogical praxis at the level of epistemic posture, communal ritual, and pedagogical flow, offering concrete markers for institutional transformation.   Abstrak Pendidikan Kristiani di Indonesia yang multikultural menghadapi tantangan khas dalam formasi moral di tengah keragaman agama, etnis, dan budaya. Artikel ini mereinterpretasi pendekatan "praksis Kristiani bersama" Thomas Groome sebagai kerangka teologis-pedagogis bagi formasi moral dalam komunitas iman dalam konteks plural. Dengan metode hermeneutis-rekonstruktif yang memadukan analisis konseptual dan sintesis kontekstual dengan kearifan lokal Indonesia, studi ini berargumen bahwa pedagogi dialogis Groome, ketika didialogkan secara kritis dengan eklesiologi komunitarian dan tata budaya Indonesia, menghasilkan model pembentukan karakter yang menghargai keragaman tanpa mengorbankan kekhasan Kristiani. Artikel ini membangun reinterpretasi kritis-konstruktif yang mengidentifikasi keterbatasan Groome bagi konteks non-Barat dan mengalibrasi ulang lima gerakannya melalui lensa gotong royong, musyawarah-mufakat, dan tepo seliro. Kerangka yang dihasilkan memosisikan komunitas iman sebagai lokus utama formasi moral melalui praksis dialogis pada level sikap epistemik, ritus komunal, dan alur pedagogis, sekaligus menawarkan penanda konkret bagi transformasi institusional.
Arsitektur misi Perjanjian Lama: Pembacaan kanonik-naratif dari penciptaan hingga tradisi kenabian Masneno, Denny Folkes
KURIOS Vol. 12 No. 1: April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v12i1.1561

Abstract

Debates over the locus of biblical mission reveal a reductive tendency that positions the Old Testament (OT) as a mere prefiguration of New Testament mission, neglecting the theological coherence that shapes God's people from creation to the prophetic tradition. This study argues that OT theology contains an integral mission structure, not merely isolated motifs such as the proto-evangelium or the Abrahamic promise. Using a canonical-narrative approach and covenant-theology analysis, it traces the progression of OT mission through three nodes: the representational mandate in creation, the formation of missional identity through covenant, and the affirmation and universal expansion through the prophetic tradition. The findings demonstrate that mission functions as a hermeneutical category organizing the narrative; covenantal structures, sending patterns, and prophetic rhetoric consistently orient God's people toward a cross-national representational task. The study concludes that the OT offers an "architecture of mission" linking creation, covenant, and prophecy within a coherent narrative-theological framework, serving as a foundation for contemporary ecclesial missional praxis rooted in the covenant-binding, sending character of God.   Abstrak Perdebatan mengenai locus awal misi dalam Alkitab menunjukkan kecenderungan reduktif yang menempatkan Perjanjian Lama (PL) sebatas prafigurasi misi Perjanjian Baru, sehingga mengabaikan koherensi teologis yang membentuk identitas umat Allah sejak penciptaan hingga tradisi kenabian. Penelitian ini menegaskan bahwa teologi PL mengandung struktur misi yang bersifat integral, bukan sekadar motif terpisah seperti proto-evangelium atau janji Abrahamik. Dengan pendekatan kanonik-naratif dan analisis teologi perjanjian, kajian ini menelusuri progres misi PL melalui tiga simpul, yaitu mandat representasional dalam penciptaan, pembentukan identitas misioner melalui perjanjian, serta penegasan dan perluasan universalitas melalui tradisi kenabian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa misi berfungsi sebagai kategori hermeneutik yang mengorganisasi keseluruhan narasi; struktur perjanjian, pola pengutusan, dan retorika profetik secara konsisten mengarahkan umat Allah pada tugas representasional yang bersifat lintas-bangsa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa PL menawarkan suatu “arsitektur misi” yang menghubungkan penciptaan, perjanjian, dan kenabian dalam kerangka naratif-teologis yang koheren, sehingga menjadi fondasi bagi gereja masa kini dalam merumuskan praksis misi yang berakar pada karakter Allah yang mengikat perjanjian dan mengutus umat-Nya bagi dunia.
Melampaui dikotomi personal-komunal: Sebuah sintesis hermeneutis untuk pendidikan Kristiani Kristiani
KURIOS Vol. 12 No. 1: April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v12i1.1562

Abstract

Christian education has long been trapped in the dichotomy between personal Bible reading and communal interpretation. This article proposes a hermeneutical synthesis that transcends this binary opposition by drawing on philosophical hermeneutics and ecclesiological theology. Through library research employing a conceptual analysis, this study argues that Scripture reading is neither purely individual nor merely collective but constitutes a dialectical process in which personal encounter with the text occurs within and is shaped by interpretive communities. The synthesis offers four dimensions: historical consciousness, communal dialogue, spiritual formation, and pneumatological participation. This framework reconceptualizes Christian education from information transfer toward transformative formation within reading communities. The article concludes that effective Christian education requires pedagogical designs acknowledging Scripture as both personally addressed and communally mediated.   Abstrak Pendidikan Kristiani telah lama terjebak dalam dikotomi antara pembacaan Alkitab secara personal dan interpretasi komunal. Artikel ini mengusulkan sintesis hermeneutis yang melampaui oposisi biner tersebut dengan berpijak pada hermeneutika filosofis dan teologi eklesiologis. Melalui penelitian kepustakaan dengan metode analisis konseptual, studi ini berargumen bahwa pembacaan Alkitab bukanlah murni individual maupun sekadar kolektif, melainkan merupakan proses dialektis di mana perjumpaan personal dengan teks terjadi di dalam dan dibentuk oleh komunitas interpretatif. Sintesis ini menawarkan empat dimensi: kesadaran historis, dialog komunal, formasi spiritual, dan partisipasi pneumatologis. Kerangka ini merekonseptualisasi pendidikan Kristiani dari transfer informasi menuju formasi transformatif dalam komunitas pembaca. Artikel menyimpulkan bahwa pendidikan Kristiani yang efektif memerlukan desain pedagogis yang mengakui Alkitab sebagai yang ditujukan secara personal sekaligus dimediasi secara komunal.
Ekomisiologi integral: Dialektika teologis mandat penciptaan dengan amanat agung Kristus dalam Markus 16:15 Pandensolang, Welly; Agatha, Krista
KURIOS Vol. 12 No. 1: April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v12i1.1566

Abstract

This article examines the theological relationship between the Creation Mandate (Gen. 1:28) and the Great Commission of Christ in Mark 16:15 through the lens of integral ecomissiology. Employing a biblical-theological method combined with hermeneutical and ecological analysis, this study argues that the phrase "all creation" (πᾶσα ἡ κτίσις) in Mark 16:15 encompasses not only humanity but the entire created order, opening a comprehensive theological framework that bridges ecological responsibility and evangelistic mission. The research identifies a significant gap in missiological literature, wherein the creation mandate and the Great Commission are frequently treated as separate theological themes rather than as an integrated whole. Through exegetical analysis, intertextual dialogue, and engagement with contemporary ecotheological discourse, this article demonstrates that integral ecomissiology offers a coherent response to both the ecological crisis and the Church's missional calling. The findings suggest that faithful mission in the Anthropocene demands a holistic posture that takes the flourishing of all creation seriously as an intrinsic dimension of the proclamation of the Kingdom of God.   Abstrak Artikel ini mengkaji relasi teologis antara Mandat Penciptaan (Kej. 1:28) dan Amanat Agung Kristus dalam Markus 16:15 melalui perspektif ekomisiologi integral. Dengan menerapkan metode teologi biblika yang dikombinasikan dengan analisis hermeneutis dan ekologis, studi ini berargumen bahwa frasa "segala makhluk" (πᾶσα ἡ κτίσις) dalam Markus 16:15 mencakup bukan hanya umat manusia, melainkan seluruh ciptaan, sehingga membuka kerangka teologis yang komprehensif dalam menjembatani tanggung jawab ekologis dan misi evangelistik. Penelitian ini mengidentifikasi kesenjangan signifikan dalam literatur misiologi, di mana mandat penciptaan dan Amanat Agung sering diperlakukan sebagai tema teologis yang terpisah, bukan sebagai suatu kesatuan integratif. Melalui analisis eksegetis, dialog intertekstual, dan keterlibatan dengan wacana ekoteologi kontemporer, artikel ini mendemonstrasikan bahwa ekomisiologi integral menawarkan respons yang koheren terhadap krisis ekologis sekaligus panggilan misioner gereja. Temuan menunjukkan bahwa misi yang setia di era Antroposen menuntut sikap holistik yang memandang kesejahteraan seluruh ciptaan sebagai dimensi intrinsik dari pemberitaan Kerajaan Allah.
Spiritualitas relasional sebagai kerangka evaluatif pendidikan Kristiani: Analisis hermeneutis-soteriologis Matius 5:3 dalam konteks budaya digital Sitorus, Johnson; Sihotang, Lamris
KURIOS Vol. 12 No. 1: April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v12i1.1568

Abstract

Digital culture has transformed Christian faith-learning practices, generating a performative spirituality that reduces faith to measurable, visible expressions. This challenges Christian Education to critically reassess its pedagogical and evaluative paradigms. No existing research has developed a soteriological hermeneutical framework grounded in biblical text for theologically comprehensive evaluation of CRE in the digital era. This article constructs relational spirituality as an evaluative framework for CRE through hermeneutical soteriological analysis of Matthew 5:3, integrating critical biblical reading, systematic theological reflection, and digital culture analysis. The analysis reveals that ptōchos tō pneumati in Matthew 5:3 discloses a soteriological foundation that rejects spiritual meritocracy and positions dependence on God's grace as a fundamental faith disposition. On this basis, relational spirituality is constructed as a pacen-term that places relationships with God, others, and the center of the salvation experience, while theologically critiquing digital individualism and performativity. This article concludes that CRE evaluation must be reoriented from measuring external outcomes toward relational and transformative faith formation.   Abstrak Budaya digital mentransformasi praktik pembelajaran iman Kristen dan menciptakan spiritualitas performatif yang mereduksi iman menjadi ekspresi terukur dan publik. Kondisi ini menantang Pendidikan Kristiani (PK) untuk mengkritisi paradigma pedagogis dan evaluatifnya secara mendasar. Belum ada penelitian yang mengembangkan kerangka soteriologis hermeneutis berbasis teks biblika untuk mengevaluasi pembelajaran PK secara teologis komprehensif. Artikel ini mengonstruksi spiritualitas relasional sebagai kerangka evaluatif PK melalui analisis hermeneutis soteriologis Matius 5:3, dengan memadukan pembacaan biblika kritis, refleksi teologi sistematik, dan analisis budaya digital sebagai konteks pedagogis kontemporer. Hasil analisis menunjukkan bahwa konsep ptōchos tō pneumati dalam Matius 5:3 menyingkapkan fondasi soteriologis yang menolak meritokrasi rohani dan menempatkan ketergantungan pada anugerah Allah sebagai disposisi iman yang fundamental. Dari landasan ini, spiritualitas relasional dikonstruksi sebagai paradigma yang menempatkan relasi dengan Allah, sesama, dan komunitas sebagai pusat pengalaman keselamatan, sekaligus sebagai kritik teologis terhadap individualisme dan performativitas digital. Artikel ini menegaskan bahwa evaluasi pembelajaran PK perlu direorientasi dari pengukuran capaian eksternal menuju formasi iman yang relasional dan transformatif.
Efektivitas teori belajar Carl Rogers melalui pendidikan agama Kristen dalam membentuk kecerdasan emosional siswa Telaumbanua, Arozatulo; Zega, Sabaria
KURIOS Vol. 12 No. 1: April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v12i1.1318

Abstract

The formation of students' emotional intelligence has become a critical challenge amid the growing prevalence of behavioral problems, violence, and mental health disorders among adolescents in school settings. Christian Religious Education (CRE) has strategic potential to address these challenges by integrating humanistic approaches into the learning process. This study aims to analyze the effectiveness of applying Carl Rogers' learning theory in CRE to holistically develop students' emotional intelligence. A qualitative library research method was employed, examining books, academic journals, and relevant theological sources. The findings reveal that Rogers' core principles of empathy, unconditional positive regard, and genuineness align closely with the value of love in CRE, contributing significantly to students' self-awareness, emotional regulate-on, intrinsic motivation, and social skills. This study concludes that integrating Rogers' learning theory into CRE constitutes an effective and holistic pedagogical approach. CRE teachers need training grounded in a Christian humanistic approach to optimally support students' development of emotional intelligence.   Abstrak Pembentukan kecerdasan emosional siswa menjadi tantangan penting seiring meningkatnya persoalan perilaku, kekerasan, dan gangguan kesehatan mental remaja di lingkungan sekolah. Pendidikan Agama Kristen (PAK) memiliki potensi strategis untuk menjawab tantangan tersebut melalui integrasi pendekatan humanistik dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas penerapan teori belajar Carl Rogers dalam PAK guna membentuk kecerdasan emosional siswa secara holistik. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan kualitatif yang menelaah buku, jurnal ilmiah, dan sumber teologis yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa prinsip empati, penerimaan tanpa syarat, dan ketulusan dalam teori Rogers selaras dengan nilai kasih dalam PAK, serta berkontribusi pada pengembangan kesadaran diri, regulasi emosi, motivasi intrinsik, dan keterampilan sosial siswa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi teori Rogers dalam PAK merupakan pendekatan pedagogis yang efektif dan holistik. Guru PAK perlu dibekali pelatihan berbasis pendekatan humanistik Kristiani guna mendukung pembentukan kecerdasan emosional siswa secara optimal dan berkelanjutan.
Kecerdasan spiritualitas-sosial sebagai habitus teologis: Refleksi praktis-teologis atas penanganan konflik sosial personel Direktorat Samapta Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah di Kabupaten Seruyan Arnoldus, Andreas
KURIOS Vol. 12 No. 1: April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v12i1.1552

Abstract

The shooting of Bangkal villagers on October 7, 2023, exposes a fundamental problem in the Indonesian police’s approach to social-personal conflict. Existing academic discourse reads officers' spiritual competence through individualistic, atheological psychometric frameworks, failing to capture the social-relational dimension that is most decisive in conflict situations. This article constructs spiritual-social intelligence as a singular theological habitus uniting the vertical and horizontal dimensions of love, grounded in the double-love command (Mat. 22:37-40), Trinitarian perichoresis, and koinonia. The research employs practical-theological reflection within a case study framework using Osmer's four tasks: descriptive-empirical, interpretive, normative, and pragmatic. Three findings emerge: psychometric reduction is insufficient for forming officers as servants of peace; Christian spirituality is socially constitutive rather than merely consequential; and spiritual formation must integrate egkrateia (self-control) and eirenopoietics (peacemaking) across the entire deployment cycle. The article concludes with pastoral-practical proposals for spiritual formation among Polri personnel.   Abstrak Tragedi penembakan warga Desa Bangkal pada 7 Oktober 2023 menyingkap problema mendasar dalam pendekatan aparat kepolisian terhadap konflik sosial-personal di Indonesia. Wacana akademik selama ini membaca kompetensi spiritual aparat melalui kerangka psikometrik yang individualistis dan ateologis, sehingga gagal menangkap dimensi sosial-relasional yang paling menentukan di lapangan konflik. Artikel ini mengonstruksi kecerdasan spiritualitas-sosial sebagai habitus teologis tunggal yang menyatukan dimensi vertikal dan horizontal kasih, berpijak pada hukum kasih ganda (Mat. 22:37-40), perikoresis trinitarian, dan koinonia. Penelitian menggunakan refleksi teologi praktis berbasis studi kasus dengan kerangka empat tugas Osmer, yakni deskriptif-empiris, interpretatif, normatif, dan pragmatis. Hasil refleksi menunjukkan tiga hal: reduksi psikometrik tidak memadai untuk membentuk aparat sebagai pelayan damai; spiritualitas Kristiani berdimensi sosial-konstitutif, bukan sekadar konsekuensial; serta formasi rohani perlu mengintegrasikan egkrateia (penguasaan diri) dan eirenopoietik (membawa damai) dalam siklus tugas pengamanan. Artikel menutup dengan usulan praksis pastoral bagi pembinaan personel Polri.

Page 2 of 2 | Total Record : 18