cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota ternate,
Maluku utara
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil
Published by Universitas Khairun
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 27 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2017)" : 27 Documents clear
PEMETAAPEMETAAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN DEMERSAL DI PERAIRAN PULAU LIPANG KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE PROVINSI SULAWESI UTARAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN DEMERSAL DI PERAIRAN PULAU LIPANG KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE PROVINSI SULAWESI UTARA Julius F Wuaten; Joneidi Tamarol; Dekrist Kapai
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.962 KB)

Abstract

Ikan demersal yang oleh masyarakat di Sangihe dinamakan ikan batu atau ikan karang menjadi salah satu dari sekian banyak produk perikanan yang dihasilkan oleh nelayan di Sangihe. Produksi ikan demersal di Kabupaten Kepulauan Sangihe pada tahun 2010 mencapai 511,21 ton (6,65%) dari total produksi ikan yang mencapai 7.677,2 ton (Anonimous, 2011). Meningkatnya permintaan akan ikan demersal baik untuk kebutuhan lokal maupun ekspor mendorong untuk terus dikembangkan. Namun demikian informasi mengenai daerah penangkapan ikan demersal masih sangat minim sehingga perlu dilakukan penelitian dan pemetaan daerah penangkapan ikan demersal di Kabupaten Kepulauan Sangihe khususnya di perairan Pulau Lipang. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendapatkan data posisi geografis daerah penangkapan ikan demersal disekitar Pulau Lipang Kecamatan Kendahe Kabupaten Kepulauan Sangihe untuk dipetakan menjadi peta daerah penangkapan ikan demersal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey yaitu upaya mengumpulkan informasi dari sebagian populasi yang dianggap dapat mewakili populasi tertentu dan memiliki sifat verifikasi atau pengecekan terhadap teori yang sudah ada. Hasil penelitian diperoleh data posisi geografis daerah penangkapan ikan demersal di perairan sekitar Pulau Lipang pada : 03° 52’ 93.6” LU - 125° 22’ 65.3” BT kedalaman 117 – 135 meter; 03° 55’ 20.4” LU - 125° 23’ 64.8” BT kedalaman 30 – 40 meter; 03° 54’ 76.2” LU - 125° 22’ 84.3” BT kedalaman 20 – 50 meter; 03°54’ 56.6”LU -125°23’ 36.5” BT kedalaman 30 – 65 meter; 03°55’02.3”LU- 125° 23’ 23.2” BT kedalaman 40 – 59 meter; 03° 55’15,6”LU - 125°23’15.8” BT kedalaman 30 – 45 meter.Keyword : demersal, daerah penangkapan ikan, kepulauan sangihe
IDENTIFIKASI BAKTERI PATOGEN PADA IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DI LOKASI BUDIDAYA IKAN AIR TAWAR KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE Usy Nora Manurung
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.869 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis bakteri yang menginfeksi ikan nila (Oreocromis niloticus) yang dibudidayakan di lima Kecamatan di Kabupaten Tahuna yaitu Kecamatan Tamako, Kecamatan, Tabukan Tengah, Kecamatan Tabukan Utara, Kecamatan Manganitu dan Kecamatan Tahuna, serta menganalisa parameter kualitas air (suhu dan pH). Dengan adanya penelitian ini, maka didapatkan informasi jenis bakteri yang menyerang ikan budidaya termasuk faktor-faktor penyebab. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni hingga Agustus 2017. Isolasi dan identifikasi bakteri dilakukan di Laboratorium Penguji Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas II Tahuna. Organ target yang diperiksa adalah ginjal. Bakteri ditumbuhkan pada media TSA kemudian di isolasi. Pada bakteri dilakukan uji pewarnaan Gram, motility, aerobis, katalase, oksidase, O/F, glukosa dan media Rimler shots untuk A. hydrophila. Berdasarkan hasil uji tersebut, dilakukan identifikasi bakteri menggunakan buku Manual for the Identification of Medical Bacteria (Cowan, 1974). Dari 30 sampel yang di identifikasi, didapat 7 jenis bakteri patogen yang menyerang ikan nila yaitu bakteri Aeromonas hydrophila 11 ekor atau 36,6 %, Corynebacterium sp. 6 ekor atau 20 %, Enterobacteria sp. 5 ekor atau 16,6 %, Listeria sp. 2 ekor atau 6,6 %, Pseudomonas sp. 1 ekor atau 3,3 %, Plesiomonas sp. 1 ekor atau 3,3 % dan Kurtiha sp.1 ekor atau 3,3 %. Parameter kualitas air di ke lima Kecamatan berada pada kisaran 25 – 28o C, sedangkan nilai pH berkisar antara 6 – 7 dan sesuai dengan batas standar mutu PP No. 82 Tahun 2001 nilai tersebut layak untuk usaha budidaya.Keywords: Bakteri Patogen, Budidaya, Oreochromis niloticus
PENGEMBANGAN PULAU KECIL PERBATASAN (KAJIAN EKONOMI DAN KEBIJAKAN PADA PULAU LIRANG) Femsy Kour
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.455 KB)

Abstract

Kehidupan ekonomi di daerah perbatasan umumnya dipengaruhi oleh kegiatan di Negara tetangga. Di kawasan perbatasan Pulau Lirang, sulitnya aksebilitas memunculkan kecenderungan masyarakat khususnya nelayan untuk berinteraksi dengan masyarakat di Negara Republik Demokratik Timor Leste (RDTL). Oleh karena itu, dibutuhkan adanya suatu pengelolaan dan pengembangan pulau-pulau kecil yang tepat sesuai dengan potensi, karakteristik, dan permasalahan yang dimiliki daerah tersebut. Tujuan penelitian adalah menganalisis kondisi ekonomi masyarakat Pulau Lirang menggunakan metode Analisis Tukar Nelayan (NTN), menganalisis kebijakan pengembangan kawasan perbatasan, serta merumuskan strategi pengembangan Pulau Lirang menggunakan metode analisis kebijakan publik (Dunn, 1994) dan analisis SWOT. Secara umum nelayan Lirang yang adalah nelayan perbatasan memiliki distribusi NTN di atas angka satu, dan dapat disimpulkan bahwa nelayan mempunyai tingkat kesejahteraan cukup baik untuk memenuhi kebutuhan subsistennya dan mempunyai potensi untuk mengkonsumsi kebutuhan sekunder atau tersiernya, dan menabung dalam bentuk investasi barang. Beberapa kebijakan yang turut mendukung pengembangan Pulau Lirang sebagai Pulau kecil perbatasan antara lain: meningkatkan kemandirian nelayan melalui dukungan sarana prasarana penangkapan ikan (pasar, dermaga/jeti, pangkalan pendaratan ikan (PPI), pabrik es, cold storage dan air bersih dalam menunjang proses dan kelancaran usaha perikanan tangkap) dan pelatihan-pelatihan bagi nelayan melalui pembinaan, magang, guna meningkatkan ketrampilan dan penguasaan teknologi dalam rangka pemanfaatan potensi sumberdaya perikanan yang tersedia; meningkatkan kerjasama di bidang sosial dan ekonomi, dengan RDTL.Kata kunci : ekonomi, kawasan perbatasan, kebijakan
HUBUNGAN ANTARA SUHU PERMUKAAN LAUT DAN HASIL TANGKAPAN IKAN JULUNG DI PERAIRAN PULAU TERNATE PROVINSI MALUKU UTARA Aisyah Bafagih; Sahriar Hamzah; Umar Tangke
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.415 KB)

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Perairan Pulau Ternate pada bulan Maret sampai April 2017 dengan tujuan untuk mengkaji hubungan suhu permukaan laut dengan hasil tangkapan ikan julung (Hemiramphus sp). Penelitian ini menggunakan metode survey untuk mendapatkan data hasil tangkapan ikan julung, suhu permukaan laut serta posisi tangkap yang nantinya akan dianalisis dengan metode analisis statistik dan Sistem Informasi Geografis untuk menjelaskan korelasi dari dua variabel tersebut yang selanjutnya di gambarkan dalam bentuk peta daerah penangkapan potensial. Hasil penelitian dilihat bahwa produksi ikan julung selama bulan Maret-Mei 2017sebesar 1.514,85 kg dengan daerah penangkapan di pesisir Pulau Ternate berjarak 0.5 - 1.5 mil dari garis pantai. Kondisi suhu permukaan laut selama penelitian berlangsung adalah berkisar antara 26.1-30.3 oC dengan rata-rata suhu permukaan laut adalah 29.14 oC. Hasil tangkapan ikan julung dipengaruhi oleh suhu permukaan laut dengan nilai koefisien korelasi (r2) 0.6255, dimana suhu optimum untuk penangkapan ikan julung di Perairan Pulau Ternate adalah 26.0-29.9 oC.Kata Kunci : Hemiramphus sp, ikan julung, Perairan Pulau Ternate
IDENTIFIKASI IKAN HASIL TANGKAPAN PADA ALAT TANGKAP SERO DI PESISIR KELURAHAN WAETUO DAN KELURAHAN PALLETTE, KABUPATEN BONE Agus Surachmat; Yasser Arafat; Ali Imran
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.507 KB)

Abstract

Jumlah alat tangkap ikan di Kabupaten Bone meningkat seperti halnya dengan produksi perikanan dan armada penangkap ikan. Hal ini disebabkan karena sektor perikanan membuka peluang yang sebesar-memberikan kesempatan untuk bekerja, sehingga kegiatan mengarah ke sektor ini. Hasil penangkapan sero terutama adalah ikan pantai, tetapi sering juga tertangkap ikan-ikan layaran, atau jenis ikan besar lainnya. Untuk daerah-daerah tertentu sero justru untuk menangkap ikan kembung.Kata kunci: sero, pesisir, Waetuo dan Paletta, Bone
GERAKAN HIJAU DI ARUS POROS MARITIM (REHABILITASI MANGROVE MALUKU UTARA SEBAGAI PILAR EKONOMI BIRU) Muh. Arba’in Mahmud
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.69 KB)

Abstract

Paradigma pembangunan nasional Indonesia pada dekade terakhir ini mulai berpijak pada konsepsi ekonomi biru (blue economy), sebagai bagian integral dari ekonomi hijau (green economy). Jika ekonomi hijau berorientasi pada aspek lingkungan dan ekosistem, maka ekonomi biru lebih fokus kepada sumber daya perairan, penciptaan lapangan kerja, dan lebih peduli pada pengentasan kemiskinan. Rehabilitasi Mangrove merupakan salah satu wujud gerakan hijau Pemerintah dapat menjadi salah satu implementasi konsep ekonomi biru di Maluku Utara (Malut), selain aksi-aksi kepedulian mangrove yang dilaksanakan secara swadaya oleh masyarakat dan elemen sosial lainnya. Rehabilitasi Mangrove tersebut sangat mendukung program Poros Maritim Malut baik secara biofisik maupun sosial, ekonomi dan budaya. Rehabilitasi Mangrove di Malut perlu ditingkatkan pengembangannya karena potensi mangrove Malut relatif berlimpah didukung karakteristik wilayah kepulauan. Rehabilitasi Mangrove Malut dapat menggenapi pengembangan ekonomi pesisir yang bersumber dari produksi perikanan tangkap dan potensi kelautan lainnya.Kata kunci : ekonomi hijau, ekonomi biru, gerakan hijau, poros maritim, rehabilitasi mangrove
TEKNIK PEMBENIHAN TIRAM MUTIARA (Pinctada maxima) Raismin Kotta
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.502 KB)

Abstract

Pengamatan terhadap kerang mutiara (Pinctada sp) telah dilakukan terhadap jenis Pinctada maxima dengan tujuan mengetahui teknik pembenihan dan metoda pemeliharaan dari stadium larva hingga ukuran spat di Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Pantai (BPBPP) Sekotong Lombok barat. Guna memperoleh anakan kerang mutiara maka dilakukan melalui proses pemijahan. Metoda pemijahan yang digunakan adalah adalah metoda kejut suhu (Thermal shock) dimana terjadi penaikan dan penurunan suhu secara berangsur-angsur dengan tujuan agar seluruh tiram bisa terangsang untuk memijah (spawning) selanjutnya dipindahkan ke bak pemijahan sekaligus bak penetasan dan pemeliharaan larva. Induk tiram yang digunakan pada pengamatan ini adalah tiram mutiara alam (Natural oyster) dengan ukuran panjang induk betina berkisar antara 17.0 – 22.0 cm dan ukuran panjang induk jantan 17.5 – 22.0 cm dengan Tingkat Kematangan Gonad (TKG) stadia IV. Tahapan kegiatan adalah dimulai dari persiapan wadah,seleksi induk,pemijahan,penetasan telur,perawatan larva,sirkulasi air media,kultur pakan alami fitoplankton jenis Nannochloropsis sp,Pavlova lutheri,Isochrysis galbana dengan dosis pemberian meningkat 10% tiap hari dari dosis awal. Selanjutnya untuk menyuburkan pertumbuhan fitoplankton dalam media kultur digunakan pupuk KW 21.Hasil pengamatan menunjukan bahwa pemijahan tiram mutiara berhasil dilakukan dan berdasarkan hasil sampling, jumlah telur yang dihasilkan sebanyak 90.000.000 butir dengan Hatching rate 70% yaitu 63.000.000 ekor serta hasil panen spat dengan waktu pemeliharaan dalam bak pembesaran selama 40 hari sebanyak 2,5% (1.575.000 ekor) dari total larva yang menetas. Stadia larva tiram mutiara terdiri dari D- Shape, Umbo 1,Umbo 2,Umbo 3,Planty grade,Spat. Stadia paling rawan pada fase larva tiram mutiara adalah pada stadia Umbo 2, karena pada stadia ini larva mulai bermetamorfosis menuju fase plantygrade dimana akan membentuk rangkaian menggunakan benang-benang yang disekresikan. Fase terakhir di hatchery, sebelum dipelihara di laut adalah fase spat yang akan dicapai pada hari pemeliharaan ke 20. Spat hampir sepenuhnya seperti tiram muda, hanya bentuk engsel yang membedakan yaitu masih belum rata.Pada fase spat,larva tidak lagi bersifat planktonik tetapi menjadi sesil yaitu menetap pada substrat dengan cara mensekresikan benang-benang bisus dari kelenjar bisus untuk menempel.Kata kunci:Budidaya; Pembenihan tiram mutiara (Pinctada maxima)

Page 3 of 3 | Total Record : 27


Filter by Year

2017 2017