cover
Contact Name
Amalia Setiasari
Contact Email
jkpi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jkpi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia
ISSN : 19796366     EISSN : 25026550     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Indonesian Fisheries Policy Journal present an analysis and synthesis of research results, information and ideas in marine and fisheries policies.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 2 (2020): (November) 2020" : 5 Documents clear
DAMPAK PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR 74 TAHUN 2016 TERHADAP IMPOR PRODUK PERIKANAN (Studi Kasus Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya) Eka Aprianti; Yaser Krisnafi; Arpan Nasri Siregar
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 12, No 2 (2020): (November) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.12.2.2020.109-122

Abstract

Seiring dengan meningkatnya permintaan akan produk perikanan  membuat produsen dalam negeri harus memiliki stok ikan secara kontinyu, Keterbatasan stok ikan dalam negeri membuat produsen mengambil tindakan untuk mengimpor bahan baku dari luar indonesia. Meningkatnya permintaan produk perikanan menyebbkan pemerintah menetapkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 74 Tahun 2016 untuk menjaga produk perikanan yang masuk di Indonesia aman terbebas dari hama dan penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pelaksanaan dan dampak Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 74 Tahun 2016 Tentang Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan yang masuk ke dalam wilayah negara Republik Indonesia. Analisis dampak regulasi menggunakan metode RIA (Regulatory Impact Assessment), yang terdiri dari 7 tahapan. Permasalahan yang terjadi dilapangan diduga terkait dengan keluarnya Permen-Dag No.66 Tahun 2018 pada saat masih berjalannya Permen-Kp No.74 Tahun 2016 sehingga menyebabkan ketidakjelasan kewenangan ranah kerja, mengingat beberapa konten dari regulasi tersebut diatur secara bersamaan. Dari hasil pengamatan terhadap 7 tahapan RIA diperoleh opsi untuk mengatasi permasalahan yang ada yaitu: 1). do-nothing/pemerintah tetap menjalankan regulasi yang ada; dan 2). Merevisi Permen-KP No.74 Tahun 2016. Alternatif rekomendasi opsi terbaik adalah opsi ke 2 yaitu merevisi Permen-KP No.74 Tahun 2016 agar dapat berjalan bersama dengan regulasi yang lainnya. Rekomendasi opsi kedua berasal dari hasil pertimbangan rasio positif dan negatif dengan menggunakan metode soft cost benefit analysis.Along with the increasing demand for fish products, thus making domestic manufacturers must have a continuous fish stock, limited fish stocks in the country making manufacturers take measure to import raw materials from abroad. Growing demand for fishery products, so that the Government issued Minister of Marine Affairs and Fisheries Product Regulation Number 74 of 2016 to keep the fisheries products in Indonesia safe free from pests and diseases. This research aims to determine the overview of the implementation and the impact of Minister of Marine Affairs and Fisheries Product Regulation Number 74 of 2016 regarding quality control and safety of fishery products imported into the territory of the Republic of Indonesia. Analyse the impact of a regulation using the RIA (Regulatory Impact Assessment) method consisting of 7 stages. Problem that occur in the field allegedly related to the issuance of Trade Minister Regulation Number 66 Of 2018 while still in the course of Minister Of Marine Affairs And Fisheries Product Regulation Number 74 Of 2016 causing the obscurity of the working realm, considering that some of the regulatory content is governed simultaneously. From the observation of the 7 stages of RIA obtained the option to overcome the problem that is: 1). Do nothing/the government continues to carry out existing regulation; and 2). Government revised the Minister of Marine Affairs and Fisheries Product Regulation Number 74 of 2016. Alternative recommendation option is the 2nd option to revise the Minister of Marine Affairs and Fisheries Product Regulation Number 74 Of 2016 that it can run along with other regulations. The second option recommendation comes from the positive and negative ratio consideration using the soft cost benefit analysis method.
UPAYA PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN KEMATIAN MASSAL IKAN DI DANAU DAN WADUK Priyo Suharsono Sulaiman; Puput Fitri Rachmawati; Reny Puspasari; Ngurah Nyoman Wiadnyana
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 12, No 2 (2020): (November) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.12.2.2020.59-73

Abstract

Degradasi kualitas perairan di danau dan waduk semakin meningkat menyebabkan terjadinya kasus kematian ikan secara massal. Untuk itu dilakukan kajian yang bertujuan untuk merumuskan upaya pencegahan dan penanganan kematian massal ikan di danau dan waduk, terutama bagi ikan-ikan budidaya, melalui telaah dan analisis berbagai literatur. Hasil kajian menunjukkan bahwa kasus kematian massal ikan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya: i) perairan kekurangan oksigen; ii) ikan mengalami keracunan akibat gas-gas beracun; iii) serangan penyakit pada ikan; iv) kelebihan daya dukung perairan; v) perubahan suhu perairan; serta vi) lokasi keramba jaring apung (KJA) berada di perairan waduk yang dangkal. Untuk meminimalkan kasus kematian massal ikan, upaya pencegahannya antara lain: (a) memahami penyebab kematian ikan; (b) fokus pada pencegahan; (c) perhatikan sanitasi ikan yang dibudidayakan; (d) pengecekan rutin kesehatan ikan; (e) memahami jenis parasit/pathogen, dan perlunya diagnosa dan perlakukan terhadap penyakit ikan yang diketahui; (f) pengurangan kepadatan ikan budidaya; (g) pemberian pakan ikan tidak berlebihan untuk meminimalkan buangan limbah organik ke perairan; (h) pemasangan sistem aerasi darurat; dan (i) pemindahan unit KJA ke perairan yang lebih dalam. Langkah-langkah penanganan jika terjadi kematian massal ikan diuraikan dalam tulisan ini. Diperlukan kolaborasi diantara pemangku kepentingan dalam upaya penanganan kematian ikan untuk mencegah terjadinya dampak yang lebih buruk pada ikan yang belum mengalami kematian massal.Water quality degradation which caused mass fish mortality has increased in lakes and reservoirs. This study aimed to provide information on efforts of prevention and to handle the fish mass mortality through reviewing and analyzing various literatures. Results showed that the mass mortality of fish was caused by several factors, including: i) oxygen-deficient waters; ii) fish poisoning due to toxic gases; iii) disease attack on fish; iv) excess waters carrying capacity; v) water temperature changes; and vi) the location of floating net cages (KJA) in shallow waters reservoir. To minimize the fish mass mortality, preventive measures that can be taken include: (a) understanding the causes of fish mass mortality; (b) focus on prevention; (c) paying attention on sanitation of cultivated fish; (d) routine checks on the fish health; (e) understanding the types of parasites or pathogens and the need for diagnosis and treatment of the typed fish diseases; (f) reduction in the abundance of cultivated fish; (g) reduction in fish feeding for minimizingorganic waste disposal; (h) installation of emergency aeration systems; and (i) transferring the cages net to other deeper water areas. Furthermore, handling efforts in the event of a mass mortality occurrence of fish are described in this paper. Collaboration and coordination among stakeholders are needed in efforts to deal with the mass mortality of fish in lakes and reservoirs, to prevent a worse impact for fish which are still alive in cages net.
STATUS PERIKANAN BELIDA (CHITALA LOPIS) DI PROPINSI RIAU DAN STRATEGI PENGELOLAANNYA SECARA BERKELANJUTAN Estu Nugroho; Raden Roro Sri Pudji Sinarni Dewi; Aisyah Aisyah; Bambang Priono
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 12, No 2 (2020): (November) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.12.2.2020.87-99

Abstract

Berbagai ancaman terhadap populasi belida di alam, seperti rendahnya nilai indikator ketersediaan induk di alam (15%), tingkat pemanfaatan yang tinggi, dan beberapa aturan perlindungan sebagai bukti adanya kekhawatiran kepunahan belida, menunjukkan perlunya upaya pelestarian tertentu menuju pengelolaan belida yang berkelanjutan. Kajian bertujuan untuk memformulasikan upaya menjaga keberlanjutan populasi belida di alam dan mendukung upaya peningkatan produksi, dengan melihat kondisi terkini perikanan belida baik dari aktifitas penangkapan maupun budidaya. Analisis sederhana dilakukan terhadap produksi dan hasil tangkapan belida di wilayah Propinsi Riau serta perkembangan kegiatan budidaya. Hasil menunjukan bahwa terdapat beberapa hal positif yang mendukung pemanfaatan belida sebagai komoditi budidaya. Dari sisi penangkapan, kontribusi belida terhadap total produksi perikanan perairan darat baik secara lokal (Riau) maupun nasional adalah relatif kecil, namun sampai dengan saat ini kebutuhan pasar dan industri lokal Riau hingga luar Riau masih bisa dipenuhi. Di samping itu, terdapat mekanisme pasar yang memberlakukan harga tinggi pada ukuran besar serta keberadaan lubuk larangan sebagai daerah yang dilindungi. Hal positif lainnya adalah latar belakang genetik yang memungkinkan pemanfaatan benih dan indukan dari lokasi Kampar dan Palembang untuk keperluan pemulihan di alam. Serta telah dikuasainya teknologi pemijahan belida dalam lingkungan terkontrol di luar habitat alaminya. Di sisi lain masih terdapat kondisi yang tidak mendukung keberlanjutan sumber daya ikan belida antara lain kondisi alami habitatnya yang sudah mengalami degradasi. Degradasi yang lebih nyata terlihat diduga lebih cepat berdampak jika dibandingkan dengan upaya pemulihannya. Budidaya diyakini mampu menjembatani percepatan pemulihan tersebut guna meningkatkan produksi ikan belida dalam hal ini.Various threats occurred to clown knifefish (belida) populations in wild nature, such as the low value of indicators for the availability of broodstock in nature (15%), high utilization rates, and several protection regulations as evidence of clown knifefish extinction concerns, indicate the need for certain conservation efforts towards sustainable clown knifefish management. The study aims to formulate efforts to maintain the sustainability of clown knifefish populations to population also the needs in increasing production, by looking at the current conditions of clown knifefish fisheries both from fishing and aquaculture activities. A simple analysis was carried out on the production and catch of clown knifefish in Riau Province as well as aquaculture. The results show that there are several positive things that support the use of clown knifefish as an aquaculture commodity. In terms of fishing, the contribution of clown knifefish to total inland fishery production both locally (Riau) and nationally is small relatively, however until now the market and industrial needs of local Riau to outside Riau can still be met. In addition, there is a market mechanism that imposes a high price on large sizes as well as the existence of ‘lubuk larangan’ as a protected area. Other positive is the genetic background that allows the use of seeds and broodstock from Kampar and Palembang locations for recovery purposes in nature. Also technological developments of spawning in a controlled environment outside their natural habitat. On the other hand, there is unsupported condition to the sustainability of clown knifefish resources, including the degradation of habitat. The more obvious degradation is seen having a faster impact than the recovery effort. Aquaculture is believed to be able to bridge the acceleration of the recovery in order to increase the production of clown knifefish in this case.
PENGEMBANGAN PERIKANAN PERKOTAAN BERBASIS PARIWISATA: MINA WISATA TIDAR DUDAN Kurnia Hardjanto
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 12, No 2 (2020): (November) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.12.2.2020.75-85

Abstract

Pengembangan sektor perikanan dapat diintegrasikan dengan sektor pariwisata (mina wisata), dengan ragam kegiatan wisata di dalamnya. Mina Wisata merupakan aktifitas wisata yang berbasis pada kegiatan perikanan, seperti penangkapan, budidaya, pengolahan dan pemasaran. Tidar Dudan merupakan salah satu wilayah di Kota Magelang dengan keberadaan potensi perikanan yang dapat diintegrasikan dengan pariwisata dan menjadi tujuan (destinasi) Mina Wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kegiatan mina wisata yang dapat dimunculkan di Tidar Dudan beserta pengembangan produknya. Selain itu, dapat dirumuskan strategi pengembangan mina wisata di Tidar Dudan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan strategi pengembangan dianalisis menggunakan matriks SWOT. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan diskusi terarah dengan responden penelitian. Hasil penelitian menunjukkan Mina Wisata di Tidar Dudan menjadi paket wisata minat khusus dengan daya tarik utama berupa outbond bertema perikanan, didukung keberadaan kompleks kolam budidaya dan alam perairan sungai yang ada. Produk mina wisata dapat dikembangkan dalam paket wisata Agro Education dan Susur Kampung Wisata. Strategi pengembangan mina wisata di Tidar Dudan antara lain dengan pengembangan paket mina wisata berbasis tematik dan lintas wilayah, pembenahan kelengkapan fasilitas dan aksesibilitas, pemasaran dan promosi produk mina wisata yang atraktif dan efektif, peningkatan investasi serta penguatan kapasitas pengelola wisata dan kelembagaan yang ada. The development of the fisheries sector can be integrated with the fisheries tourism sector (mina wisata), with a variety of tourism activities in it. Mina Wisata is a tourism activity based on fishery activities, like catching, aquaculturing, processing and marketing. Tidar Dudan is one of the areas in Magelang with the existence of fishery potential which can be integrated with tourism and to become the destination of fisheries tourism. This study aimed to determine the profile of tourism activities that can be raised in Tidar Dudan and its product development. In addition, this can be formulated a tourism development strategy in Tidar Dudan. The research was conducted using a qualitative descriptive method with the development strategy analyzed using the SWOT matrix. The data were obtained through observation, interviews and focused discussions group with respondents. The results show that Mina Wisata in Tidar Dudan became a special interest tour package, with the main atraction in the form of outbound tourism with the theme of fisheries, supported by the existence of fish farming complex and existing rivers. Mina Wisata product can be developed in Agro Education and village exploration tour. The strategy for developing mina wisata in Tidar Dudan includes a development of thematic and cross-regional based tourism packages, improving facilities and accessibility, marketing and promoting attractive and effective tourism products, increasing investment and strengthening the capacity of tourism managers and existing institutions.
PENGEMBANGAN BUDIDAYA KEPITING BAKAU (Scylla sp) SISTEM SILVOFISHERY UNTUK MELESTARIKAN HUTAN BAKAU DI KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI PROVINSI RIAU Budijono Parni; Eko Prianto; Muhammad Hasbi; Andri Hendrizal
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 12, No 2 (2020): (November) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.12.2.2020.101-108

Abstract

Hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir yang berperan penting dalam mendukung kehidupan biota laut. Keberadaan hutan mangrove di Kabupaten Kepulauan Meranti saat ini terus mengalami degradasi yang berimplikasi terhadap menurunnya fungsi ekologis, sosial dan ekonomi masyarakat lokal. Upaya meminimalisir kerusakan hutan mangrove terus dilakukan oleh pemerintah daerah dan masyarakat lokal hingga saat ini. Salah satu upaya yang dapat dilakukan melalui budidaya kepiting bakau dengan sistem sylvofishery. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dan wawancara yang dilakukan di Kelurahan Teluk Belitung dan Desa Bandul Kabupaten Meranti. Data dan informasi dihimpun dari penelusuran, dan penelahaan data dan informasi hasil penelitian serta laporan kegiatan yang terkait dengan budidaya kepiting bakau dengan sistem silvofishery. Hasil kajian menunjukkan potensi pengembangan budidaya laut di Kabupaten Kepulauan Meranti tersebar di beberapa pulau seperti Pulau Padang, Tebing Tinggi dan Pulau Rangsang dengan luas lahan sebesar 438 ha. Luasnya lokasi budidaya didukung pula dengan kualitas perairan yang cukup bagus dan cocok untuk dikembangkan budidaya kepiting dengan sistem sylvofishery. Ujicoba penerapan sylvofishery kepiting bakau model kurungan tancap diperoleh tingkat survival rate mencapai 70 % dan pertumbuhan rata-rata berkisar 100 – 140 g per bulan. Pemeliharaan kepiting bakau dengan sistem sylvofishery selama 3 bulan dapat memberikan keuntungan dan tambahan penghasilan per bulan sebesar Rp. 1.070.150. Dalam satu siklus pembesaran jika kondisi normal dapat mengembalikan investasinya sehingga sylvofishery kepiting bakau layak dijadi usaha alternatif bagi masyarakat pesisir.Mangrove forest is one of the coastal ecosystems were plays a role in supporting marine life. Existence of mangrove forests in the Meranti Kepulauan district is experiencing degradation which has implications for the decline to ecological, social and economic functions of the local community. The efforts for minimize damage of mangrove forests have been carried out by local governments and local communities. One of the effort could be done through the cultivation of mud crabs with sylvofishery system. Experiment method was applied and interview was done in Teluk Belitung and Bandul villages, Meranti Regency. Data and information were collected and had been analyzed and activities reported that related to mud crab culture using the silvofishery system. The resut of the study showed that potential development of marine culture in the Kepulauan Meranti district is spread across several islands such as Padang Island, Tebing Tinggi and Pulau Rangsang with an area of 438 ha. The extent of the aquaculture site is also supported by good waters quality and suitable for developing mud crab culture with the sylvofishery system. The trial application of the mud crab silvofishery model of fixed confinement obtained a survival rate of up to 70% and an average growth of around 100-140 g per month. Maintenance of mangrove crabs with the sylvofishery system for 3 months can provide benefits and additional income per month of IDR. 1,070,150. In one cycle of enlargement if normal conditions, it’s can return the investment so the mangrove crab sylvofishery deserves to be an alternative effort for coastal communities.

Page 1 of 1 | Total Record : 5