cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Surya Masyarakat
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 209 Documents
Pelatihan Pengelolaan Manajemen Keuangan dan Pelaporan Keuangan Akuntansi Pesantren bagi Pengelola Yayasan Pondok Pesantren X di Kota Semarang Asih Niati; Yohanes Suhardjo; Ratna Wijayanti; Risti Ulfi Hanifah
Jurnal Surya Masyarakat Vol 2, No 1 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.492 KB) | DOI: 10.26714/jsm.2.1.2019.76-79

Abstract

Pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan organisasi nirlaba keagamaan non pemerintah  yang  mengedepankan suatu pelayanan pada pihak eksternal. Pengelolaan pondok pesantren masih menggunakan manajemen yang sederhana dan dalam pengelolaan keuangan hanya dibebankan pada satu orang pengelola yaitu bendahara, akuntansi yang selama ini dilakukan kurang menggunakan laporan keuangan yang sesuai dengan pedoman Akuntansi Pesantren. Tujuan dari pengabdian ini adalah memberikan tambahan pengetahuan kepada para pengelola sehingga dapat melakukan manajemen modern dengan pengelolaan sumber-sumber pendanaan yang dapat memberikan pelaporan secara transparan, akuntabel dan dapat dipertanggujawabkan. Metode pelaksanaan kegiatan adalah penyuluhan atau ceramah, diskusi dan tanya jawab, yang diawali dengan memberikan pengetahuan tentang pentingnya pengelolaan manajemen keuangan pondok pesantren yang transparan, dimengerti dan dapat digunakan atau dibaca kepada semua pihak yang membutuhkan. Dengan diadakannya kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat maka dapat menambah wawasan, pengetahuan dan pemahaman serta meningkatkan pemahaman tentang manajemen keuangan dan pelaporan keuangan yang transparan dan akuntabel.Kata kunci: manajemen pondok pesantren dan pelaporan keuanganAbstractIslamic boarding schools are one of the educational institutions of non-profit and non-governmentalreligiousorganizations that prioritize service on external parties. The management of Islamic boarding schoolscurrently uses a simple management technique and they charged the financial managementonly to a treasurer, the current accounting has not usedfinancial statement which is according to Islamic Boarding Accounting guidelines.The purpose of this public service is to provide additional knowledge to the managersso he can carry out modern management by managing sources of funding so he can provide a transparentand accountable report. The method to implement the agenda are counseling or lecture, discussion and question and answer section, which begins byproviding knowledge about the importance of managing the financial management of boarding schools that aretransparent, understandable and can be used or read to all parties in need.By holding community service activities, it can add insight,knowledge and understanding as well as increase the understanding of financial management andtransparent as well as accountable financial statement.
Pencegahan Gerakan Radikalisme melalui Penanaman Ideologi Pancasila dan Budaya Sadar Konstitusi Berbasis Komunitas Iwan Satriawan; Muhammad Nur Islami; Tanto Lailam
Jurnal Surya Masyarakat Vol 1, No 2 (2019): Mei 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1338.048 KB) | DOI: 10.26714/jsm.1.2.2019.99-110

Abstract

Pengabdian ini memfokuskan pada upaya pencegahan gerakan radikalisme melalui penanaman ideologi Pancasila dan budaya sadar konstitusi berbasis komunitas. Komunitas yang dipilih adalah Pimpinan Ranting Muhammadiyah Bangunjiwo Barat, Banguntapan IV dan Sidokarto. Persoalan komunitas masyarakat saat ini adalah adanya gerakan-gerakan radikalisme yang memiliki agenda terselubung yang menggerogoti nilai-nilai Pancasila - memecah belah bangsa Indonesia, melemahkan persatuan dan kesatuan – merusak kebhinekaan yang sejak Indonesia berdiri telah menjadi konsensus bersama. Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk pengabdian berupa: (1) Pelatihan Pencegahan Radikalisme melalui Penanaman Ideologi Pancasila dan Budaya Sadar Konstitusi yang dilakukan di 3 tempat, yakni: di Pimpinan Ranting Muhammadiyah Bangunjiwo Barat, Banguntapan IV dan Sidokarto. Pelatihan ini memfokuskan pada penguatan pemahaman Pancasila dan budaya sadar konstitusi serta strategi pencegahan radikalisme di Indonesia; (2) ToT Pencegahan Radikalisme melalui Penanaman Ideologi Pancasila dan Budaya Sadar Konstitusi. Training of Trainer ini merupakan lanjutan dari pelatihan pada PRM yang dilakukan sebelumnya. Adapaun materi dalam ToT ini meliputi: Pemahaman Ideologi Bernegara Menurut Muhammadiyah dan Sikap Bernegara Muhammadiyah; Pencegahan Radikalisme melalui Kewajiban Bela Negara dalam kehidupan beragama; Advokasi Kebijakan dan Hukum terkait Gerakan Radikalisme. ToT ini dilakukan agar peserta memiliki kemampuan untuk menjadi pelatih yang memiliki pemahaman dan sikap bahwa radikalisme/ terorisme harus dicegah sedemikian rupa dengan berbagai kegiatan pencegahan. Kegiatan pencegahan tersebut merupakan bentuk bela negara warga negara yang baik demi menjaga kelangsungan hidup bangsa dan negara yang seutuhnya dengan melakukan pencegahan gerakan radikalisme di masing-masing komunitas.Kata kunci: Pancasila, budaya sadar konstitusi, radikalisme, terorisme, pencegahan.AbstractThe community service program aims to prevent radicalism movement through inculculating state ideology, Pancasila and building awareness on understanding more about Constitution among the community. In this program, Muhammadiyah branches at some villages in Yogyakarta are selected to be the pilot project. They are Muhammadiyah branch of Sidokarto, Banguntapan IV and Bangunjiwo Barat. These area are considered as some villages that are susceptible for penetrating radicalist movement ideology which threaten the state ideology, Pancasila as the result of national political consensus of Indonesia since 1945. The program is divided into two activities, 1) training for understanding Pancasila and preventing radicalism. The program focuses on how to improve the level of understading of Muhammadiyah actisvits on the phenomena of radicalist movement in the society. The participants are also guided by the understanding Pancasila as the state ideology. 2) Training of Trainers for understanding Pancasila and the 1945 Constitution. This program is more focused on developing the understanding of participants on Pancasila and the 1945 Constitution. The participants are also equipped with basic skill on how to advocate the rights of people in combating radicalism. It is expected that the program educates the Muhammadiyah activists to be the agent of combating radicalism as well as protecting the society.
Pendampingan Penanggulangan Penyelesaian Kasus Adopsi Anak dan Tindak Kekerasan dalam Rumah Tangga Nanik Prasetyoningsih; Tanto Lailam
Jurnal Surya Masyarakat Vol 1, No 1 (2018): November 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23824.819 KB) | DOI: 10.26714/jsm.1.1.2018.26-39

Abstract

tatacara adopsi anak yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan penanganan tindak kekerasan dalam rumah tangga. Pengabdian dilakukan dengan maksud untuk memberikan informasi yang akurat untuk meningkatkan pemahaman masyarat Dusun Kemiri mengenai adopsi anak dan penanganan kasus kekerasan dalam rumah tangga. Permasalahan yang ditemukan adalah sebagai berikut: (1) proses adopsi anak dilakukan berdasarkan kebiasaan yang berlaku di masyarakat, (2) kesadaran masyarakat masih rendah mengenai pentingnya bukti formal adopsi anak; (3) ketidakjelasan status anak adopsi menimbulkan tindak kekerasan dalam rumah tangga; dan (4) kasus kekerasan dalam rumah tangga masih belum belum teratasi dan terselesaikan. Metode pelaksanaan pengabdian adalah sebagai berikut: (1) melakukan sosialisasi tata cara adopsi anak sesuai hukum Indonesia; (2) melakukan sosialisasi penanggulangan kekerasan dalam rumah tangga; (3) melakukan Pelatihan dan Pembentukan Kader Pelindung Anak dan Satgas Anti kekerasan dalam rumah tangga; dan melakukan pendampingan Penyelesaian Kasus Adopsi Anak dan Kasus kekerasan dalam rumah tangga. Simpulan yang dapat diambil dari pelaksanaan pengabdian masyarakat adalah semua program kegiatan yang direncanakan telah terrealisasi dengan baik dan sesuai dengan jadwal dan rancangan yang telah ditentukan. Permasalahan adopsi anak sudah terpecahkan melalui beberapa tahap pengabdian. Demikianhalnya dengan penanganan Kasus kekerasan dalam rumah tangga. Pengabdian ini telah memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai tata cara adopsi anak dan perlindungan kekerasan dalam rumah tangga. Pemahaman hukum dan kesadaran hukum mulai meningkat dan terjaga, karena senantiasa ada Kader Perlindungan Anak dan Satgas Anti kekerasan dalam rumah tangga yang aktif melakukan sosialisasi dan upaya-upaya penyadaran sosial bagi masyarakat.
Wirausahawan Muda Mandiri dengan Program Pengembangan Kewirausahaan di Universitas Jenderal Soedirman Triana Setyawardani; Kusuma Widayaka; Kusmantoro Edy Sularso; Yusmi Wakhdiati
Jurnal Surya Masyarakat Vol 2, No 1 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (866.831 KB) | DOI: 10.26714/jsm.2.1.2019.50-57

Abstract

Program pengembangan kewirausahaan di Universitas Jenderal Soedirman bertujuan menghasilkan wirausahawan muda mandiri berbasis iptek yang dilaksanakan selama 8 bulan.  Peserta  adalah mahasiswa  Universitas Jenderal Soedirman sebagai  calon tenant. Calon wirausahan muda mandiri diseleksi dengan beberpa tahap, yaitu: 1. Seleksi tertulis, 2. Seleksi tertulis tahap 2 dan 3. seleksi wawancara.  Seleksi bertujuan untuk mengetahui kemampuan, dan motivasi calon wirausaha. Hasil diperoleh dideskripsikan untuk menjaring calon wirausaha melalui ranking nilai hasil seleksi.  Calon wirausaha muda dengan jumlah 59 orang pada seleksi awal dan diperoleh 6 calon wirausaha yang akan dibimbing dan dilatih untuk menjadi wirausaha muda mandiri.  Keenam  calon wirausaha mempunyai usaha bidang: pengolahan susu; pembuatan sabun kefir; produksi ayam geprek dan fried chiken; produksi wedang jahe; budidaya ternak kelinci dan budidaya jangkrik alas. Kegiatan bagi tenant bertujuan untuk meningkatkan ketrampilan sesuai bidang ilmu yang ditekuni yang dibimbing dan diarahkan melalui pelaksanaan program kewirausahaan.  Tenant mendapatkan bimbingan dan pelatihan baik pelatihan manajerial berupa penyusunan proposal bisnis, manajemen keuangan dan pelatihan motivasi diri.  Tenant mendapatkan kesempatan magang dan melakukan pemasaran.  Tenant diwajibkan untuk membuat proposal bisnis, melakukan magang dan membuat laporan akhir dan mengikuti pameran dari kegiatan yang telah dilakukan. Program pengembangan kewirausahaan juga mendatangkan pakar yang kompeten dibidang ilmunya untuk memberikan pengetahuan dan worshop kepada tenant.Kata kunci: tenant, iptek, wirausaha, mandiriAbstractThe entrepreneurship development program at Jenderal Sudirman University aims to produce independent science-based young entrepreneurs who have been running for 8 months. Participants are Jenderal Sudirman University as tenant. Prosepctive independent young entrepreneurs are selected with several stages, namely: 1. Written selection, 2. Written selection stages 2 and 3. Interview selection.  Selection aims to determine the ability, and motivation of prospective entrepreneurs. The results obtained are described to capture potential entrepreneurs through the ranking of the selection results. Prospective young entrepreneurs with a total of 59 people in the initial selection and obtained 6 prospective entrepreneurs who will be guided and trained to become independent young entrepreneurial entrepreneurs. The six prospective entrepreneurs have business fields: milk processing; kefir soap making; production of geprek and fried chicken; production of ginger drink; cultivation of rabbit and cultivation of pedestal crickets. Activities for tenants aim to improve skills in accordance with the fields of study that are guided and directed through the implementation of entrepreneurship programs. Tenant received guidance and training in both managerial training in the form of business proposals, financial management and self-motivation training. Tenant has the opportunity to intern and do marketing. Tenant is required to make a business proposal, do an internship and make a final report and attend an exhibition of activities that have been carried out. The entrepreneurship development program also brings competent experts in the field of science to provide knowledge and workshops to tenants.
Aplikasi Antioksidan Alami Daun Sukun Fermentasi terhadap Produktivitas Itik di KTTI “Unggas Jaya” Elly Tugiyanti; Sigit Mugiyono; Ibnu Harisulistyawan
Jurnal Surya Masyarakat Vol 1, No 2 (2019): Mei 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (744.485 KB) | DOI: 10.26714/jsm.1.2.2019.132-138

Abstract

Dilatarbelakangi kondisi petani  di pedesaan yang pendapatannya rendah dan  umumnya petani mempunyai usaha sampingan yaitu beternak. Beternak yang erat kaitannya dengan kehidupan petani adalah beternak itik. Di desa Pegalongan kecamatan Patikraja terdapat Kelompok tani ternak itik (KTTI) yang masih aktif,  yaitu KTTI “Unggas Jaya”.  Permasalahan yang dihadapi oleh kelompok mitra adalah pengadaan bibit, harga pakan, performan itik, harga jual telur dan itik afkir rendah,  Solusinya menggunakan daun sukun fermentasi yang berpotensi sebagai bahan pakan itik berkualitas, karena murah, mudah didapat, mengandung vitamin E,C dan A, mineral, antioksidan dan senyawa aktif  lain yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh ternak itik. Antioksidannya dapat meningkatkan performan, kesehatan, kualitas produk sehingga aman dan berkualitas. Metode untuk memecahkan masalah di kelompok mitra melalui alih tehnologi, praktek (IB, penetasan, fermentasi, pengolahan dan pengemasan produk), evaluasi, pendampingan dan pengkaderan. Target luaran adalah produk, artikel ilmiah popular. Hasil dari demo yang sudah dilakukan adalah : pertumbuhan itik lebih baik daripada sebelumnya, itik lebih sehat-sehat, petani sudah mampu melakukan IB,  fertilitas telur hasil IB tinggi yaitu pemeliharaan pejantan lebih dihemat dan peternak dapat menetaskan telur menggunakan mesin tetas.Kata kunci: karkas itik; keamanan pangan; antioksidan; daun sukun, fermentasiAbstractThe background is the low income of farmers in rural areas and side business of farmers is raising livestock. Duck raising was closed with farmer lifes. There are active duck farmer groups (KTTI), namely the "Unggas Jaya" in Pegalongan village, Patikraja sub-district. The problems in farmer group are procurement of day old duck, feed prices, duck performance, low selling prices of eggs and culled ducks. Solution of the problem is using fermented of breadfruit leaf which have the potential as quality duck feed ingredients, because they are cheap, easily obtained, contain vitamins E, C and A , minerals, antioxidants and other active compounds that are beneficial to ducks health. Antioxidants are safe because the performance and ducks health can be improved. Problem solving method in “Unggas Jaya” farmer groups use by technology transfer, practice (Artificial Incemination, operation of hatching machine, fermentation, product processing and packaging), evaluation, mentoring and cadre of participant. Output targets are products and publication of articles in journal. The results of the demonstrations that have been carried out are: duck growth is better than before. The duck is healthier, farmers are able to do IB, high IB fertility eggs are more conserved and farmers can hatch eggs using hatching machine.
Efektivitas Program Partisipatif Kelompok Perempuan dalam Meningkatkan Swadaya Masyarakat Yeni M.; Sartika Yuliana; Rini Parmila Yanti
Jurnal Surya Masyarakat Vol 1, No 1 (2018): November 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jsm.1.1.2018.64-80

Abstract

Di era otonomi daerah, yang diawali dengan UU RI No. 22 Tahun 1999, yang diamandemen dengan UU RI No. 32 Tahun 2004 tentang pemerintah lokal, telah memberikan kesempatan bagi otonomi daerah dan kesempatan-kesempatan untuk mengoptimalkan sumber daya-sumber daya yang ada di daerah guna kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat, kemudian untuk merencanakan pembangunan sebagaimana diatur dalam UU No. 25 Tahun 2004 tentang sistem perencanaan pembangunan nasional. Produk hukum tersebut sekali lagi mengubah deadlock paradigm pembangunan dari atas ke bawah ke pembangunan berbasis masyarakat dari bawah ke atas, yang mana merupakan model dari pola pembangunan partisipatoris yang diterapkan di Kabupaten Sijunjung, yang melibatkan masyarakat dalam semua proses pembangunan. The purposes of the research conducted by the author are: 1) untuk mengetahui bagaimana program tersebut diimplementasikan di Desa Kunangan Parik Rantang, Kecamatan Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung selama periode 2 tahun. 2) untuk menentukan bagaimana level pemerintahan Desa Kunangan Parik Rantang pada setiap pembangunan yang dilakukan melalui program partisipatoris. 3) untuk mengetahui bagaimana efektivitas program partisipatoris di Desa Kunangan Parik Rantang dalam upaya untuk meningkatkan program-program swadaya yang diterapkan melalui partisipatoris. Studi ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang mana peneliti mencoba untuk menggambarkan seluruh gejala, kejadian, dan fenomena apa adanya dalam kaitannya dengan data dan informasi yang telah diperoleh dari responden (sumber data). Hal ini dilakukan secara konstan merujuk pada pembahasan isu-isu yang yang telah ditentukan sebelumnyya. Menurut Moloeng “penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang memproduksi data dalam bentuk kata-kata – tertulis atau kata-kata yang diucapkan oleh orang – orang dan perilaku yang dapat diamati”. Studi ini menunjukkan bahwa program pembangunan partisipatoris adalah program yang sangat efektif untuk meningkatkan kesadaran organisasi-organisasi pemerintahan akan pembangunan, karena program tersebut tidak hanya melibatkan masyarakat dalaam perencanaan, implementasi, dan monitoring pembangunan tetapi juga melibatkan masyarakat dalam pembiayaan pembangunan, dengan pola pembiayaan 30% dibebankan kepada masyarakat dan 70% kepada pemerintah, dalam rangka meningkatkan rasa memiliki dari publik atas hasil-hasil pembangunan, yang pada akhirnya tanpa perintah, masyarakat akan berkontribusi pada hasil-hasil pembangunan tersebut. Program ini juga merupakan salah satu solusi bagi pemerintah daerah Sijunjung dalam mengatasi kurangnya dana yang tersedia untuk pembangunan di anggaran Kabupaten Sijunjung, oleh karena pola partisipatifnya bila dibandingkan dengan apa yang tender atau kontraktor lakukan akan mampu menyediakan dana sebesar 30,32% untuk pelaksanaanpembangunan. Sayangnya, program ini tampak kurang mendapat dukungan dari kelompok elit – elit dan pemangku kepentingan di Kabupaten Sijunjung, dibuktikan dengan rendahnya dana yang dianggarkan oleh pemerintah lokal, yang hanya berkisar antara 0,5% dan 0,7% setiap tahunnya dari keseluruhan Anggaran dan Pengeluaran Kabupaten Sijunjung. Pemerintah maupun dewan di Sijunjung harus memiliki komitmen dan hasrat yang kuat untuk meningkatkan alokasi dana partisipatoris setiap tahun sebesar 1,5-2,0%, dari total anggaran Kabupaten Sijunjung, yang sebesar 14-15 milyar rupiah per tahun. Komposisi pembiayaan pembangunan partisipatoris yang saat ini dibagi menjadi 70% pemerintah dan 30% kelompok masyarakat perlu dirubah menjadi 85% pemerintah lokal dan 15& kelompok masyarakat, sehingga komposisi penbiayaan partisipatif tidak terlalu membebani kelompok pengusul yang secara ekonomi lemah, dan mereka diharapkan untuk dapat langsung mengimplementasikan pengembangan ini melalui pola-pola partisipatoris.Kata kunci: program partisipatif, kabupaten Sijunjung, masyarakatAbstractIn the era of regional autonomy, which starts from the regulations of Law Number 22 of 1999 as amended by Act Number 32 of 2004 concerning local government, has provided an opportunity for local autonomy and opportunities to optimize existing resources in the region for the prosperity and welfare of the people, then to plan the development of regulated law No. 25 Year 2004 concerning the system of national development planning, regulatory legal product is once again paved the deadlock top-down development paradigm into a folk-based development of bottom-up, the main approach to bottom-up models which is the model of participatory development patterns in Sijunjung Regency involving the community in the whole process of development. The purpose of the research conducted by the author are: 1) To find out how the program is implemented in village of Kunangan Parik Rantang, District of Kamang Baru, Sijunjung within a period of 2 Years. 2) To determine how the level of Governmental village of Kunangan Parik Rantang in every development is carried out through a participatory program. 3) To know how Participatory Program Effectiveness in villages Kunangan Parik Rantang in an effort to improve the non-governmental development programs implemented through participatory. This study is a descriptive research method with qualitative approach, where researchers try to describe all the symptoms, events or phenomena as it is in accordance with the data and information that has been obtained from the respondents (data source), this is done by constantly referring to the discussion of issues that have been determined in advance, according Moloeng "qualitative research is a research procedure that produces a data description form of words - written or spoken words of people - people and behaviors that can be observed". This study shows that participatory development program is a program that is very effective in raising the awareness and governmental organizations to development, because the program does not only involve the community in the planning, implementation and monitoring of development, but also involving communities in development financing, with the pattern of charging 30% community, and 70% of Government, so as to increase the sense of public ownership of the results of development, which in the end without command will always keep the public with the results of such development. The program also is one of the solutions for local government Sijunjung, in overcoming the lack of funds available for development in the district budget Sijunjung, because the participative pattern when compared with the pattern of the tender or contractors did Sijunjung local governments, will be able to save funds to the implementation of a development of 30.32%. Unfortunately, this program seems less a place in the hearts of the elite - the elite and stakeholders in Sijunjung Regency, evidenced by the lack of funds budgeted by the local government, which is only 0.5% to 0.7% annually of the total Budget and Expenditure of Sijunjung, to the District Government of Sijunjung together with parliament of Sijunjung must have a strong commitment and desire, to increase the allocation of funds participatory, every year to 1.5% up to 2.0%, of the total budget Sijunjung, which Range between 14 to 15 billion annually. Participatory development funding composition, currently borne by the local government 70%, and community groups proposer of 30%, should be changed to 85% of local government - and community groups proposing 15%, so that the composition of participative funding, not overly burden the proposer group, which the economically weak, and they are expected to eventually be able to implement this development through participatory patterns.
English for Jobseekers: Pelatihan Keterampilan Berbahasa Inggris untuk Anak Muda Pencari Kerja di Rumah Siap Kerja Jakarta Ince Dian Aprilyani Azir
Jurnal Surya Masyarakat Vol 2, No 1 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.953 KB) | DOI: 10.26714/jsm.2.1.2019.20-28

Abstract

Angka pengangguran muda yang mencapai 43,4 persen menjadi titik tolak Rumah Siap Kerja sebagai pusat pelayanan terpadu untuk kegiatan pelatihan keterampilan kerja dan kewirausahaan. Berbagai pelatihan sudah digelar oleh Rumah Kerja sebagai mitra pengabdi. Hanya saja, salah satu kemampuan yang wajib dimiliki oleh para kaum muda untuk memperoleh pekerjaan yang layak yaitu kemampuan komunikasi berbahasa Inggris belum pernah diadakan kegiatan pelatihan sebelumnya.udah banyak riset yang membuktikan bahwa kemampuan berbahasa Inggris adalah kunci untuk bisa unggul hampir di semua aspek kehidupan manusia. Inisiasi kegiatan pelatihan terhadap kemampuan bahasa Inggris di Rumah Kerja dilaksanakan sebagai solusi peningkatan keterampilan komunikasi Berbahasa Inggris baik secara tertulis maupun secara lisan dalam tujuan khusus untuk mencari pekerjaan. Dalam kegiatan ini, para peserta mendapatkan pengetahuan dan keterampilan membuat profil diri dalam bentuk CV secara daring dan konvensional juga dalam bentuk media sosial profesional. Selain itu, peserta juga mendapatkan pengetahuan dan pengalaman bagaimana membuat surat lamaran kerja secara konvensional dan elektronik. Tidak hanya itu, peserta juga mendapatkan simulasi praktek wawancara kerja dalam Bahasa Inggris. Simulasi wawancara kerja dengan penulis menjadi kegiatan akhir dari pelatihan ini untuk mengevaluasi hasil pembelajaran para peserta selama pelatihan.Kata kunci: pelatihan, keterampilan, bahasa inggris, pencari kerja, anak mudaAbstractThe high number of youth unemployment reached 43.4 percent to be the starting point of Rumah Siap Kerja as a hub for job skills and entrepreneurship training activities. Various trainings have been held by the Rumah Siap Kerja as a partner of this training activity. Unfortunately, there has not been any English training conducted in the partner institution while English skills have been considered as the key to excellence in almost all aspects of human life. This inspires the trainer to provide the training entitled English for Jobseekers as a solution for English communication skills either in writing or orally within the English for specific purpose of seeking jobs. In this activity, participants gain knowledge and skills to create self-identity in the form of online and written CV as well as in the form of professional social media. In addition, participants also gained the knowledge and experience on how to write a cover letter and send it via email based on the email ethics explained by the trainer previously. Moreover, the participants experience the interview practice in English. Simulating a job interview with the author became the final activity of the training to evaluate the participants ' learning outcomes during the training.
Meningkatkan Kesehatan Mental Penderita Diabetes Melitus di Komunitas dengan Kegiatan Kelompok Swabantu (Self Help Group) Tesaviani Kusumastiwi; Lilis Suryani; Denny Anggoro P
Jurnal Surya Masyarakat Vol 1, No 2 (2019): Mei 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.18 KB) | DOI: 10.26714/jsm.1.2.2019.92-98

Abstract

Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik yang memiliki prevalensi yang cukup tinggi di Indonesia. Penanganan jangka panjang pada penyakit ini dapat memberikan beban baik fisik maupun mental pada penderitanya. Munculnya masalah kesehatan mental pada pasien diabetes melitus akan memperburuk prognosis pasien. Penanganan holistik baik fisik dan mental diharapkan dapat dilakukan pasien diabetes melitus, salah satunya melalui kelompok swabantu (self help group) yakni kelompok yang terdiri dari para penderita diabetes melitus yang saling berbagi permasalahan dan memberikan dukungan satu sama lain. Program pengabdian masyarakat kelompok swabantu  penderita diabetes mellitus dilaksanakan di Desa Bogoran, Trirenggo, Bantul. Kegiatan swabantu berisi tentang sharing dari masing-masing penderita yang dipantau/dimonitor oleh dokter ahli jiwa. Pada kelompok swabantu di Desa Bogoran, Trirenggo, Bantul ditemukan komorbiditas gejala klinis depresi dan cemas pada penderita diabetes. Beberapa permasalahan yang dialami oleh para penderita adalah manajemen stres, gangguan tidur, kepatuhan minum obat, ketakutan akan komplikasi dan penyesuaian gaya hidup. Kegiatan kelompok swabantu selain dapat membantu para penderita diabetes dalam menangani permasalahan yang dihadapi terkait dengan diabetes melitus, juga dapat memberikan rasa kebersamaan dan saling menguatkan antar penderita diabetes.Kata kunci: diabetes melitus, kelompok swabantu, kesehatan mentalAbstractDiabetes mellitus is a metabolic disease that has a high prevalence in Indonesia. Long-term treatment of this disease can provide physical and mental burden on the sufferer. The emergence of mental health problems in patients with diabetes mellitus will worsen the patient's prognosis. Holistic handling both physically and mentally is expected to be carried out by patients with diabetes mellitus, one is through self-help groups (self-help group), which is a group consisting of people with diabetes mellitus who share problems and provide support for each other. The community service program for self-help groups with diabetes mellitus was carried out in Bogoran Village, Trirenggo, Bantul. Self-help activities are about sharing from each sufferer who is monitored by a psychiatrist. In the self-help group in the Bogoran Bantul area, comorbid clinical symptoms of depression and anxiety were found in diabetics. Some of the problems experienced by sufferers are stress management, sleep disorders, compliance with medication, fear of complications and lifestyle adjustments. Self-help group activities besides being able to help diabetics in dealing with problems faced with diabetes mellitus, they can also provide a sense of togetherness and mutual support among diabetics.
Peningkatan Mesin Cetak dan Kekuatan Mekanik Batu Bata Press Menggunakan Mesin Cetak Kapasitas 1000 Buah/Jam pada Usaha Keluarga di Desa Kalipucang Kulon Solechan Solechan; Aris Kiswanto
Jurnal Surya Masyarakat Vol 1, No 1 (2018): November 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1048.356 KB) | DOI: 10.26714/jsm.1.1.2018.40-46

Abstract

Kota Jepara salah satu kota dimana terdapat peluang usaha untuk memenuhi kebutuhan batubata. Sentra batu bata salah satunya berada di desa Kalipucang Kulon kecamatan Welahan. Dari kekuatan mekanik batu bata masih di bawah standar, densitas rendah, porositas tinggi dan warna merah. Batu bata mengandung pasir besi dan jenis tanah lempung merah. Usaha pembuatan batu bata di desa Kalipucang Kulon sebanyak 54 buahyang terdaftar di kantor Kelurahan tahun 2015. Banyak terjadi permasalahan di mitra UK batu bata Kalipucang Kulon, antara lain, pembuatan batu bata konvesnsional dan ukuran batu bata tidak standar SNI. Aspek pemasaran masih menunggu pembeli, manajeman usaha bersifat kekeluargaan dan minimnya strategi pemasaran,modal terbatas, dan kurangnya informasi mengakses pinjaman modal. Tujuan pengabdian pada masyarakat Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yaitu pembuatan mesin batu bata untuk meningkatkan produksi, pembuatan dan pemeliharaan website e-commerce untuk jual produk batu bata, manajemen usaha, strategi pemasaran, member informasi dan pendampingan mendapatkan modal usaha. Metode yang dipakaiadalah Workshop pembuatan dan pengoperasian mesin batu bata press sesuai standar SNI, pelatihan pembuatan dan pemeliharaan website e-commerce, memberikan pelatihan kewirausahaan, strategi pemasaranproduk, member informasi dan pendampingan untuk mendapatkan modal usaha,dan cara mengakses bantuan dana. Hasilnya dengan penerapan mesin batu bata press manpu meningkatkan 880% dibandingkan denganmanual tenaga manusia. Kekuatan mekanik batu bata merah paling optimal dimiliki oleh komposisi campuran dengan kode B3 dengan kekuatan tekan 41.712 Kg/cm2 dan densitas 25,87 kg/m3. Peningkatan produksi dengan sifat mekanik batu bata press mampu meningkatkan pendapatan usaha keluarga dan kualitas batu bata.Kata kunci: Kalipucang, batu bata, mesin, ektruder, densitasAbstractJepara is one of town where there is a business opportunity to meet the need of bricks. The brick industry center is located in Kalipucang Kulon Village, Welahan Subdistrict. Seen from the mechanical power, the bricks are still below the standard, with low density, high porosity, and red in color. Bricks contain iron sand and are made of red clay soil. There are 54 registered business entities of bricks in Kalipucang Kulon Village in 2015. There have been a lot of problems faced by the partner of the community service program in Kalipucang Kulon Village, such as the brick making is still conventional and the dimensions are not based on the (Indonesian National Standard or SNI. The marketing aspect is that they still wait for buyers. Besides, the management is family-based, the marketing strategies are still minimal, the capical is limited, and there is a lack of information about how to access capital loan. The Community Partnership Program was aimed at creating a brick making machine that would increase the production rate, creating and maintaining e-commerce website to sell the bricks, teaching about business management and marketing strategies, and giving information and assistances to get venture capital. Method applies was by giving a workshop on creating and operating press brick machine based on the SNI, training on creating and maintaining ecommerce website, training on entrepreneurship, and product marketing strategies, and giving information and assistances to get venture capital and how to access capital loan. The result showed that by using the press brick machine, the production had been increasing up to 880% compared to when making manually. The most optimal mechanical power of red bricks was when the bricks were made of the composition of mixture coded B3 with compressive strength of 41.712 Kg/cm2 and density of 25,87kg/m3. The production increase using press brick machine has improve the family’s revenue as well as the bricks’ quality itself.
Pengolahan Limbah Jerami Padi dengan Limbah Jamu Menjadi Pupuk Organik Plus Catur Rini Sulistyaningsih
Jurnal Surya Masyarakat Vol 2, No 1 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.023 KB) | DOI: 10.26714/jsm.2.1.2019.58-68

Abstract

Tujuan dari program ini ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan khalayak sasaran tentang pengolahan jerami dengan limbah jamu secara praktis. Dengan kegiatan ini kelompok tani dihimbau dapat memanfaatkan limbah jerami yang melimpah dan kurang di daya gunakan sehingga dapat memenuhi kebutuhan pupuk organik dan kebutuhan unsur hara tanaman terpenuhi. Pengabdian pada masyarakat dilaksanakan mulai bulan Juli sampai Oktober 2011 di Kelurahan Gedong, Kecamatan / Kabupaten Karanganyar. Bentuk kegiatan pengabdian pada masyarakat yaitu memberi penyuluhan  (ceramah dan tanya jawab ) dan demonstrasi pembuatan pupuk jerami dengan limbah jamu. Sasaran kegiatan adalah kelompok tani padi  sawah di Kelurahan Gedong, Kecamatan / Kabupaten Karanganyar. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang telah dilakukan menyebabkan adanya peningkatan pengetahuan peserta tentang pembuatan pupuk organik dari jerami dengan limbah jamu sebesar 1,61 % dan peningkatan ketrampilan tentang pembuatan pupuk organik jerami dengan limbah jamu sebesar 3,80 %. Presentasi pemahaman materi meningkat menjadi 156, 57 %. Para peserta merasa puas karena dengan teknologi maju yaitu pengomposan dengan menggunakan limbah jamu menyebabkan jerami dapat difermentasi (terurai) lebih cepat dan praktis, sehingga pupuk organik dari jerami dapat segera dimanfaatkan pada periode tanam berikutnya.Kata kunci: limbah jerami, limbah jamu, pupuk organik plus AbstractThe purpose of this program is to increase the knowledge and skills of the target audience about processing straw with medicinal waste in a practical manner. With this activity, farmer groups are encouraged to take advantage of the abundant and underutilized straw waste so that they can meet the needs of organic fertilizer and plant nutrient needs are met. Community service is carried out from July to October 2011 in Gedong Village, Karanganyar District / District. The form of community service activities is providing counseling (lectures and questions and answers) and demonstration of making straw fertilizer with herbal medicine waste. The target activity is a group of rice farmers in Gedong Village, Karanganyar District / District. Community service activities that have been carried out have led to an increase in participant's knowledge about making organic fertilizer from straw with medicinal waste by 1.61% and increasing skills about making straw organic fertilizer with herbal medicine waste by 3.80%. Presentation of understanding of the material increased to 156, 57%. The participants were satisfied because with advanced technology that is composting using medicinal waste, straw can be fermented faster and more practically, so that organic fertilizer from straw can be used immediately in the next planting period.

Page 2 of 21 | Total Record : 209