cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Surya Masyarakat
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 209 Documents
Peningkatan Kualitas Hidup Lansia dalam Penanganan Stroke bagi Kader PKK dan Kesehatan di Gilingan, Banjarsari, Surakarta Novena Yety Lindawati; Endah Kurniawati; Dian Puspitasari; Diah Pratimasari
Jurnal Surya Masyarakat Vol 1, No 2 (2019): Mei 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (619.106 KB) | DOI: 10.26714/jsm.1.2.2019.139-145

Abstract

Stroke merupakan penyebab kecacatan nomor satu dan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan kanker baik dinegara maju maupun berkembang. Di Indonesia, stroke merupakan penyebab kematian pada semua kelompok umur, dengan proporsi tertinggi pada usia 55-64 tahun mencapai, 26,8% baik diperkotaan maupun dipedesaan. Kegiatan pengabdian masyarakat dalam bentuk promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif dengan memberikan penyuluhan tentang penyakit stroke dan penanganannya secara alami, workshop pembuatan minuman pencegah stroke, serta pelatihan senam pencegah stroke. Evaluasi kegiatan dilakukan dengan metode pretest dan postest terhadap materi penyuluhan yang diberikan serta kuisioner tentang pelaksanaan kegiatan yang telah dilakukan. Kegiatan pengabdian masyarakat diikuti oleh 43 peserta yang terdiri dari kader PKK dan kesehatan serta perwakilan lansia dari tiap RW di Gilingan, Banjarsari, Surakarta. Hasil kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan persentase tingkat pengetahuan dan pemahaman peserta mengenai penyakit stroke setelah pemberian penyuluhan “Mengenal Penyakit Stroke” dari 35% menjadi 95%. Peningkatan jumlah peserta yang memahami cara penanganan penyakit stroke secara alami juga terlihat setelah pemberian penyuluhan “Pemanfaatan Obat Alam Indonesia untuk Terapi Penyakit Stroke” dari 42% menjadi 93%. Evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan pengabdian ini juga menunjukkan hasil yang sangat baik terhadap tema yang diambil sebanyak 86,05% peserta memilih sangat menarik dan 13,95% memilih menarik. Kegiatan pengabdian ini meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan wawasan mengenai penyakit stroke dan penanganannya secara alami bagi Kader PKK dan Kesehatan serta perwakilan para lansia di Gilingan, Banjarsari, Surakarta sehingga dapat mensosialisasikan ke seluruh masyarakat serta mengurangi angka kejadian stroke di daerah tersebut.Kata Kunci : stroke, pencegahan dan penanganan alami stroke, kader PKK dan kesehatanAbstractStroke is one of the cause of disability and death (its rank is after heart disease and cancer) worldwide. In Indonesia, stroke is the cause of death in all age groups, with the highest proportion is at the age of 55-64 years reaching 26.8% both in urban and rural areas. Community service activities in stroke promotive, preventive, curative, and rehabilitative forms was held by providing counseling about stroke and how to handle it naturally, workshops on making health drinks to prevent strokes, as well as stroke prevention exercises. Evaluation of activities was carried out with the pretest and posttest method of counseling material provided as well as questionnaires about the implementation of activities that had been carried out. Community service activities were attended by 43 participants consisting of PKK workers (kader), community health workers (kader), and elderly representatives from each RW in Gilingan, Banjarsari, Surakarta. The results of this activity indicate an increase in the percentage of the level of knowledge and understanding of participants regarding stroke after giving counseling "Recognizing Stroke" from 35% to 95%. An increase in the number of participants who understand how to deal with stroke naturally is also seen after giving counseling "Utilization of Indonesian Natural Herbs for Stroke Therapy" from 42% to 93%. The evaluation of the implementation of this service activity also showed very good results on the theme taken as many as 86.05% of the participants chose very interesting and 13.95% chose interesting. This service activity increases knowledge, understanding, and insight into stroke and its handling naturally for PKK kader, community health kader and representatives of the elderly in Gilingan, Banjarsari, Surakarta so that they can socialize to the whole community and reduce the incidence of stroke in the area.
Bahaya Kosmetika Pemutih yang Mengandung Merkuri dan Hidroquinon serta Pelatihan Pengecekan Registrasi Kosmetika di Rumah Sakit Gunung Jati Cirebon Sulistiorini Indriaty; Nur Rahmi Hidayati; Arsyad Bachtiar
Jurnal Surya Masyarakat Vol 1, No 1 (2018): November 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jsm.1.1.2018.8-11

Abstract

Skin whitening products are one of the cosmetic products that contain active ingredients that can suppress or inhibit the formation of melanin or eliminate melanin that has been formed so as to give a whiter skin tone. Limitations of knowledge about various whitening cosmetic products make people do not know the negative effects that arise if not careful. Mercury and hydroquinone are some active substances that are often misused by illegal cosmetics manufacturers. But in fact the abuse of mercury and hydroquinone is still common in whitening products. This activity was carried out with the aim of providing knowledge and skills to the community, especially waiting room patients in the outpatient clinic at Gunung Jati Cirebon Hospital in terms of checking the registration number for cosmetics. This activity was carried out with counseling methods and question and answer about the material hazards of using whitening cosmetics containing mercury and Hydroquinone is followed by training in checking the registration number for cosmetics using an Android cellphone. From this activity it can be concluded that patients are more aware of the dangers of mercury and hydroquinone and can directly check cosmetic products that are commonly used everyday.
Pemberdayaan Kelompok Istri Tani Ternak melalui Pembuatan Produk Olahan Susu di Kelurahan Wates, Kota Semarang, Jawa Tengah Lucia Hermawati Rahayu; Ronny Windu Sudrajat; Sri Sutanti
Jurnal Surya Masyarakat Vol 1, No 1 (2018): November 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.339 KB) | DOI: 10.26714/jsm.1.1.2018.1-7

Abstract

Susu merupakan bahan makanan dengan kandungan gizi yang lengkap, tetapi mudah mengalami kerusakan. Pengolahan susu menjadi produk olahan susu harus dilakukan guna menanggulangi kerusakan susu segar dan  memberi nilai tambah susu. Namun, masih banyak petani ternak yang belum mengolah susu yang tidak habis terjual karena keterbatasan pengetahuan dan keterampilan tentang pengolahan susu termasuk Kelompok Tani Ternak (KTT) di Kelurahan Wates, Semarang. Padahal, keterampilan membuat produk olahan susu, seperti kerupuk dan stik susu, dapat dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Mitra kegiatan PKM ini adalah kelompok istri peternak sapi KTT Air Bening I dan KTT Air Bening II di Kelurahan Wates, Semarang. Kegiatan PKM yang dilakukan meliputi penyuluhan dan pelatihan pembuatan kerupuk dan stik susu, praktek pengemasan, pendampingan dalam mengembangkan dan mengolah susu segar menjadi produk olahan susu, serta monitoring kegiatan. Hasil dari program PKM adalah peningkatan keterampilan mitra dalam memproduksi makanan olahan susu yang dapat dikembangkan sebagai usaha kecil untuk sumber penghasilan tambahan.Kata kunci: susu, kerupuk susu, stik susuAbstractMilk is an ingredient with a complete nutritional content, but is easily damaged. Processing milk into dairy product must be carried out in order to overcome the damage to fresh milk and gives added value to milk. However, there are still many livestock farmers who have not processed milk that has not been sold out due to limited knowledge and skills about milk processing including Kelompok Tani Ternak (KTT) who is a group of Livestock Farmer in Wates Village, Semarang. In fact, the skills to make dairy products, such as crackers and milk stick which are common Indonesian snacks, can be developed to increase farmer's income. Partners of PKM activities are groups of wives of cattle farmers from the KTT Clear Water Summit I and the KTT Air Bening II in Wates Sub-district, Semarang. PKM activities include counseling and training in making crackers and milk sticks, packaging practices, mentoring about developing and processing fresh milk into dairy products, and monitoring other activities. The outcome of the PKM program is the improvement of partner skills in producing dairy product that can be developed by small businesses for additional sources of income.
Pemetaan Rute Wisata Kampung Biru Arema (KBA) Kota Malang Fredy Nugroho Setiawan; Rizki Nufiarni; Fariska Pujiyanti
Jurnal Surya Masyarakat Vol 2, No 1 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (546.246 KB) | DOI: 10.26714/jsm.2.1.2019.35-44

Abstract

Kampung Biru Arema (KBA) adalah salah satu kampung wisata di kota Malang. Kampung tersebut belum memiliki konsep kampung wisata yang baik sehingga hanya mengandalkan aspek estetika mural dan cat berwarna biru di setiap rumah tanpa arah pengembangan rute wisata yang jelas. Oleh karena itu, diperlukan penyusunan rute wisata berdasarkan potensi wisata yang ada di KBA sehingga pengembangan wisata dapat terarah dan berkesinambungan. Untuk melakukan hal tersebut kami menerapkan metode pengembangan wisata model Community Based Tourism (CBT, yaitu: mengikutsertakan anggota masyarakat dalam pengambilan keputusan, memastikan masyarakat lokal menerima manfaat dari kegiatan kepariwisataan, dan memberikan pendidikan kepariwisataan bagi masyarakat lokal. Kegiatan ini menghasilkan sebuah rute wisata di KBA yang disusun dengan mengintegrasikan 5 (lima) area wisata secara berurutan, yaitu Area Wisata Sejarah, Area Wisata Dolanan, Area Wisata Mitigasi Bencana, Area Wisata Arema, dan Area Wisata Basa Walikan. Dalam prosesnya, perumusan rute wisata melibatkan peran serta aktif warga dalam memberikan masukan dan keputusan terkait identifikasi dan pemetaan yang dilakukan. Luaran dari kegiatan ini adalah peta digital berupa rute wisata KBA bagi para wisatawan.Kata kunci: Kampung Biru Arema (KBA), Community Based Tourism (CBT), rute wisata, peta wisata.AbstractKampung Biru Arema (KBA) is one of the tourism villages in Malang. The village does not have a good tourism village concept so that it only relies on the aesthetic aspects of the murals and blue-painted houses without developing a clear direction of tourist route. Therefore, tourist route mapping which is based on tourism potentials in KBA is needed so that tourism development can be directed and sustainable. To do this we employ the premise of Community Based Tourism (CBT) by ensuring the active involvement of local people in the process of tourism development and management. The activities resulted in a tourist route on the basis of 5 (five) tourism areas, namely Historical Tourisn Area,. “Dolanan” Tourism Area, Disaster Mitigation Tourism Area, Arema Tourism Area, and “Basa Walikan” Tourism Area. In the process of determining the route, it involves the active participation of local people in providing input and decisions related to our identification and mapping of the location. The output of this activity is a digital map of KBA containing informative tourist route for visitors.
Deteksi Dini Kanker Serviks dengan IVA Test pada Kelompok Rentan Terkena HIV Dhesi Ari Astuti; Nurul Kurniati
Jurnal Surya Masyarakat Vol 1, No 2 (2019): Mei 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.691 KB) | DOI: 10.26714/jsm.1.2.2019.111-115

Abstract

Di Indonesia, jumlah kasus baru HIV positif yang dilaporkan pada Tahun 2015 sebanyak 30.935 kasus, menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Perkumpulan Ibu-ibu  Dasa Wisma Seruni merupakan perkumpulan ibu-ibu di wilayah Balecatur yang memiliki karakteristik dari segi profesi beragam, meliputi tenaga kesehatan, tenaga kependidikan, dan 70 % adalah IRT. Jenis pekerjaan yang dimiliki jika diperhatikan merupakan jenis pekerjaan yang rentan terhadap penularan HIV/AIDS dan paparan HIV/AIDS ini erat kaitannya dengan Kanker Serviks yaitu sopir truk antar kota, pelayar kapal, tenaga kerja di Arab. Balecatur merupakan wilayah di Kabupaten Sleman yang keberadaannya dekat dengan Jalan Wates sehingga merupakan wilayah yang berisiko dengan akses ke penjaja seks tidak langsung. Tujuan kegiatan adalah transfer informasi dan skrining Ca.Cerviks memlaui pemeriksaan IVA pada ibu rumah tangga di wilayah Dasawisma Dusun Ngaran Balecatur. Metode pelaksanaan kegiatan dengan melakukan skrining pada ibu ibu di perkumpulan Dasawisma Seruni Balecatur, karena skrining ini terutama dilakukan pada kelompok yang rentan terhadap paparan HIV yakni karena telah di ketahui bahwa pada kelompok ini akan lebih mudah terkena paparan HPV penyebab kanker serviks. Skrining dilakukan pada 15 ibu dasawisma yang telah dilakukan anamnesa dan pemeriksaan vtal sign terlebih dahulu. Kegiatan IbM skrining IVA ini hasilnya dari 15 ibu terdapat 13 hasil normal dan 2 ibu perlu rujukan ke puskesmas. Sebagai upaya tindak lanjut dari kegiatn ini diperlukan kerjaam dengan lintas sektor baik itu perangkat desa di masyarakat maupun dengan sektor penyedia layanan kesehatan untuk dapat melakukan kegiatan serupa secara rutin sehingga bisa menjamin kualitas kesehatan masyarakat pada umumnya.Kata kunci: deteksi dini, kanker serviks, IVA.AbstractIn Indonesia, the number of new HIV positive cases reported in 2015 was 30,935 cases, down from the previous year. The Dasawisma Seruni is an association of mothers in the Balecatur region who have various professional characteristics, including health workers, education staff, and 70% are IRTs. The type of work that is owned if it is considered is the type of work that is susceptible to HIV / AIDS transmission and exposure to HIV / AIDS is closely related to Cervical Cancer namely inter-city truck drivers, ship sailors, workers in Arabia. Balecatur is an area in Sleman Regency which is close to  Wates Street, making it a risky area with access to indirect sex workers. The purpose of the activity was the transfer of information and screening of Cervical Cancer through IVA examination in housewives in the Dasawisma area of Ngaran, Balecatur. The method of carrying out activities is by screening mothers in the Dasawisma Seruni Balecatur , because screening is mainly done in groups vulnerable to HIV exposure because it is known that this group will be more susceptible to exposure to HPV causing cervical cancer. Screening was carried out on 15 charismatic mothers who had done anamnesa and vtal sign examination first. The IbM IVA screening activity results from 15 mothers with 13 normal results and 2 mothers needing referral to the puskesmas. As a follow-up effort, these activities require cross-sectoral work, both village officials in the community and with the health care provider sector to be able to carry out similar activities on a regular basis so that they can guarantee the quality of public health in general.
Teknologi Tepat Guna untuk Usaha Ikan Asin di Desa Korban Bencana Rob Purnomo Purnomo
Jurnal Surya Masyarakat Vol 1, No 1 (2018): November 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1224.9 KB) | DOI: 10.26714/jsm.1.1.2018.47-53

Abstract

Usaha pengolahan ikan asin menjadi sangat penting bagi penduduk yang tinggal di daerah pinggir laut dan daerahnya menjadi kurban rob. Tambak yang sudah menyatu dengan laut akibat rob, menyebabkan pendapatan masyarakat menurun drastis. Hasil-hasil melaut dan tambak tidak dijual dalam keadaan mentah, namun ikan dan udang bisa diolah menjadi produk lain yang lebih menarik. Permasalahan yang dihadapi adalah kesulitan pengeringan ikan jika hujan, tingginya kadar minyak goring sehingga olahan makanan cepat tengik, dan makanan olahan cepat melempem. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan usaha pengolahan ikan asin di desa kurban rob sehingga menjadi mandiri secara ekonomi. Tujuan ini diraih melalui melalui peningkatan peralatan penunjang dan ketrampilan usaha. Alat pengering, peniris minyak, serta pengemas makanan diterapkan dalam kegiatan ini. Hasilnya menunjukkan bahwa dengan menggunakan alat pengering, pengeringan tidak lagi tergantung panas matahari. Kapasitas pengeringan meningkat 700% dari keadaan awal 1 kg/jam. Daya tahan gimbal meningkat menjadi 15 hari dari keadaan awal 4 hari. Begitu pula dengan daya tahan gimbal yang meningkat dari semula 7 hari menjadi 30 hari.Kata kunci: Ikan asin, pengeringan, penirisan, kemasan.AbstractSalted fish processing business is very important for residents who live in coastal areas and the area becomes a victim of rob. Ponds that have been fused with the sea due to rob, causing people's income to drop dramatically. The results of fishing and ponds are not sold in raw conditions, but fish and shrimp can be processed into other products that are more attractive. The problem faced was the difficulty of drying fish if it rained, high levels of fried oil so that processed foods quickly rancid, and processed foods quickly sluggish. This activity aims to increase the salted fish processing business in the village of sacrifice rob so that it becomes economically independent. This goal is achieved through increasing the supporting equipment and business skills. Dryer, oil slicer, and food packaging are applied in this activity. The results show that by using a dryer, drying is no longer dependent on the sun's heat. Drying capacity increases by 700% from the initial state of 1 kg/hour. Dread resistance increases to 15 days from the initial 4 days. Similarly, dreadlocks endurance increased from 7 days to 30 days
Pemeriksaan Kadar Hemoglobin dengan Metode POCT (Point of Care Testing) sebagai Deteksi Dini Penyakit Anemia Bagi Masyarakat Desa Sumbersono, Mojokerto Ersalina Nidianti; Gilang Nugraha; Ilmiah Alvi Nisa Aulia; Saumia Khoirunnisa Syadzila; Sri Surya Suciati; Nila Dwi Utami
Jurnal Surya Masyarakat Vol 2, No 1 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (702.259 KB) | DOI: 10.26714/jsm.2.1.2019.29-34

Abstract

Kasus anemia di Indonesia masih cukup tinggi hasil menunjukkan bahwa angka prevalensi anemia secara nasional pada semua kelompok umur adalah 21,70 %. Sedangkan prevalensi anemia di Provinsi Jawa Timur sebesar 5,8 %. Anemia adalah kondisi penyakit dimana jumlah sel darah merah lebih rendah dari jumlah normal. Kondisi ini biasa disebut sebagai kekurangan darah. Anemia dapat dideteksi dengan melakukan pengukuran kadar hemoglobin (Hb) menggunakan metode POCT (Point of Care Testing). Metode POCT merupakan metode yang dilakukan untuk pemeriksaan sederhana dengan menggunakan sampel dalam jumlah sedikit, mudah, cepat serta efektif dilakukan di daerah-daerah dengan jumlah fasilitas kesehatan seperti pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), rumah sakit yang relatif sedikit khususnya di lokasi pengabdian masyarakat di Desa Sumbersono, Mojokerto. Jenis metode yang digunakan adalah observasional analitik. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk skrining (pemeriksaan) kadar hemoglobin sebagai deteksi dini penyakit anemia dengan metode POCT, mengetahui hubungan antara umur, pendidikan, pekerjaan terhadap kejadian anemia serta sebagai upaya preventif (pencegahan) untuk meminimalisir penyakit anemia. Hasil menunjukkan dari 48 reponden (laki-laki 11 orang), (perempuan 37 orang) bahwa kejadian anemia pada perempuan 40 % lebih besar dibandingkan dengan laki-laki 6 %. Jumlah  kasus anemia terbanyak terjadi pada umur ≥ 60 presentase 36,36 % dibandingkan kelompok umur lainnya. Jumlah kejadian anemia terbanyak dengan presentase 46 % pekerjaan Petani dibandingkan pekerjaan lainnya. Jumlah anemia dengan pendidikan sekolah dasar presentase 16,67 % terbanyak dibandingkan dengan pendidikan lainnya. Kesimpulannya tidak terdapat hubungan antara umur, pendidikan, pekerjaan terhadap penyakit anemia bagi masyarakat desa Sumbersono, Mojokerto.Kata kunci: Anemia, Kadar Hemoglobin . POCT, Faktor AnemiaAbstract Cases of anemia in Indonesia are still quite high. The results show that the national prevalence of anemia in all age group is 21.70%. While the prevalence of anemia in East Java Province was 5.8%. Anemia is a disease because the number of red blood cells is lower than the normal number. This condition is commonly referred to blood deficiency. Anemia can be detected by measuring of hemoglobin (Hb) levels using the POCT (Point of Care Testing) method. The POCT method is a method that is carried out for a simple examination using a small samples, easy, fast and effective carried out in areas with a number of health facilities such as community health centers, hospitals that are relatively small, especially in community service locations in the village Sumbersono, Mojokerto. The type of method used is analytic observational. This community service activities aims to screening (examining) hemoglobin levels as an early detection of anemia using the POCT method, to find out the relationship between age, education, work and anemic events and as a preventive measure (prevention) to minimize anemia. The results showed there were 48 population, while (11 men), (37 women) that the incidence of anemia in women was 40% greater than 6% men. The highest number of anemia cases occurred at age ≥ 60 is 36.36% compared to other age groups. The highest number of anemia occurrences with 46% of Farmers' work compared to other occupations. The highest number of anemia with primary school education level is 16.67% compared to other education levels. Conclution There was no significant correlation between age, educational background, works and anemia cases in community the Sumbersono village, Mojokerto.
Pembuatan Aneka Masakan dari Bahan Lele Catur Rini Sulistyaningsih
Jurnal Surya Masyarakat Vol 1, No 2 (2019): Mei 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.457 KB) | DOI: 10.26714/jsm.1.2.2019.146-149

Abstract

Pengabdian Kepada Masyarakat ini adalah untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan serta pendapatan kepada para anggota PKBM Desa Pondok Kecamatan Nguter Kabupaten Sukoharjo. Tentang pembuatan aneka masakan dari bahan lele yang berfariasi dan bernilai gizi tinggi. Kegiatan ini dimulai dengan mengadakan sosialisasi kepada paran anggota, karena di desa ini banyak dijumpai masyarakat yang membudidayakan lele. Pelaksanaanh penyeluruhan diawali dengan memberikan penyuluhan dalam bentuk ceramah dan diskusi, dilanjutkan pelatihan dan pendampingan pembuatan aneka ragam masakan dari bahan lele. Kemudian dilakukan evaluasi bagi peserta untuk mengetahui keberhasilan kegiatan dengan mengadakan kegiatan pre test maupun post test. Hasil pre test menunjukkan bahwa sebelum pelatihan dimulai peserta masih kurang faham tentang tentang materi dengan rerata nilai 1,482. Setelah melaksanakan pelatihan rerata nilai pos test terhadapat pemahaman, peserta mengalami peningkatan 92,325% ini menunjukkan bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat berhasil meningkat pengetahuan dan keterampilan serta dapat menambah penghasilan peserta mengelola lele menjadi aneka masakan yang lezat dan bergizi tinggi.Kata kunci: lele, aneka masakanAbstractThis Community Service is to improve the abilities and skills and income of the members of the PKBM Pondok Nguter District, Sukoharjo Regency. This is about making various dishes from catfish ingredients that vary and have high nutritional value. This activity was started by holding socialization to the members, because in this village there were many people who cultivated catfish. The dissemination began with giving counseling in the form of lectures and discussions, followed by training and mentoring to produce a variety of dishes made from catfish. Then an evaluation is carried out for participants to find out the success of the activity by holding pre-test and post-test activities. The pre-test results showed that before the training began the participants still did not understand about the material with a mean value of 1,482. After carrying out the average training on the value of the postal test for understanding, participants experienced an increase of 92.325% indicating that community service activities were successful in increasing their knowledge and skills and could increase the income of participants in managing catfish into delicious and highly nutritious dishes.
Pemberdayaan Wanita Tani Kabupaten Kudus dalam Pembuatan Saus Cabai (Capsicum anuum) Dyah Ayu Widyastuti; Fafa Nurdyansyah
Jurnal Surya Masyarakat Vol 1, No 2 (2019): Mei 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (527.76 KB) | DOI: 10.26714/jsm.1.2.2019.81-85

Abstract

Produksi cabai (Capsicum anuum) di Kabupaten Kudus yang cukup melimpah belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Buah cabai dapat diolah menjadi produk saus sehingga meningkatkan nilai ekonominya. Pengolahan cabai menjadi saus cabai dapat meningkatkan nilai jual sekaligus menghindari pembusukan berlebih ketika musim panen. Pengolahan cabai ini juga dapat menjadi alternatif pemberdayaan wanita tani di Kabupaten Kudus sehingga keterampilan dan produktivitasnya meningkat. Program ini bertujuan untuk memberdayakan wanita tani di Kabupaten Kudus dalam pembuatan saus cabai demi meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Pelaksanaan program dibagi menjadi tiga tahapan yaitu penyuluhan dan sosialisasi, pelatihan, serta monitoring dan evaluasi. Peserta pelatihan adalah ibu-ibu wanita tani Kabupaten Kudus yang cenderung tidak produktif. Antusiasme peserta pelatihan terlihat dari keterlibatan dan partisipasi mereka dalam setiap tahapan program. Peningkatan keterampilan pembuatan saus cabai melalui pemberdayaan wanita tani Kabupaten Kudus ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan tingkat ekonomi masyarakat yang selama ini bergantung pada sektor pertanian.Kata kunci: pemberdayaan, saus cabai, wanita tani.AbstractThe high production of chilli (Capsicum anuum) in Kudus is not utilized yet. Chilli can be processed to other products such as chilli ketchup so its economical value is increasing. Chilli processing to ketchup is improve its price and also inhibit putrefaction when in harvest time. Its chilli processing can also empower peasant women in Kudus so it would increase their skill and productivity. The aim of this program is to empower peasant women in Kudus to process chilli ketchup. The program is devide into three steps: counseling and socialization, training, also monitoring and evaluation. The participants are peasant women in Kudus whose productivity is not so high.The participants antusiasm showed in their involvements and partisipations in each steps. Productivity of society are expected to improve by empower Kudus peasant women to produce chilli ketchup. So, the economy level is also been increased by its empowering program.
Penerapan Teknologi Epoxy Wood dan Pallet Dari Limbah Kayu Sebagai Produk Kerajinan Unik Bernilai Ekonomis Tinggi Bagi Kelompok Pengrajin di Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet Kabupaten Purbalingga Bambang Sugiantoro; Sakuri Sakuri; Hartono Hartono
Jurnal Surya Masyarakat Vol 1, No 1 (2018): November 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (926.94 KB) | DOI: 10.26714/jsm.1.1.2018.12-20

Abstract

Purbalingga mempunyai keunggulan ketersediaan kayu yang tinggi, kondisi tanah yang kebanyakan pegunungan sangat mendukung tumbuhnya kayu keras, hampir setiap desa memiliki jumlah tanaman keras yang melimpah. Beberapa perusahaan kayu lapis dan mebelair juga banyak menginvestasikan dibidang produksi kayu lapis dan barecore di beberapa kawasan di purbalingga. UKM mebelair, kayu lapis dan kusen membutuhkan tenaga kerja yang cukup banyak, tidak membutuhkan pendidikan formal, sehingga terbuka pengentasan tenaga kerja secara umum. UKM pengrajin mebelair dan kusen kayu di Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, membuat model berdasarkan pesanan lokal, tidak mengikuti trend furniture terbaru, memiliki kesulitan pada pembentukan model radius dan lengkung, finishing kurang halus dan waktu yang lama. Kayu dengan lubang dan tidak simetris biasanya tidak digunakan sebagai produk kusen/furnitur, limbah kayu dalam bentuk potongan secara umum tidak dimanfaatkan, padahal volume kayu limbah pada pembentukan mencapai kurang lebih 30% dari bahan baku. UKM mebelair belum memiliki pengetahuan pembentukan kayu dari limbah untuk menjadi produk kerajinan. Disamping itu pengetahuan manajeman usaha, pengelolaan keuangan, dan metode pemasaran produk juga masih rendah hanya menunggu pelanggan, mengakibatkan UKM sulit berkembang, persaingan harga antar UKM. Permasalahan pembentukan dengan menggunakan limbah kayu dan bahan baku dalam bentuk potongan digunakan untuk pembuatan kerajinan. Pembentukan ditingkatkan dengan kemampuan untuk membentuk lengkung menggunakan cutting vertical/bendsaw, untuk percepatan pembelahan menggunakan mesin TTG circle cutting. Teknologi yang diterapkan untuk pemanfaatan limbah kayu akibat kerusakan lobang, tidak lurus, akan diubah menjadi produk bernilai ekonomis tinggi, unik dengan epoxy wood resin. Metode pembentukan produk kusen dan mebelair dari kayu (limbah) akan memberikan alternatif untuk meningkatkan nilai tambah dan pendapatan, keuntungan lainnya penggunaan epoxy juga meningkatkan daya tahan, anti rayap dan bernilai ekonomis tinggi, berpotensi memiliki brand merk yang khas. Untuk penguatan manajemen, UKM dikenalkan administrasi keuangan, dan strategi pemasaran produk secara online. Solusi diatas diharapkan akan meningkatkan daya saing dan produktifitas UKM, desain produk baru dengan memanfaatkan limbah kayu untuk menjadi produk dinding kayu, dan produk epoxy wood resin, akan meningkatkan pendapatan UKM.Kata kunci: epoxy wood resin, wooden wall, circle rotary.AbstractPurbalingga has the advantage of high wood availability, the condition of the land that is mostly mountainous strongly supports the growth of hardwood, almost every village has an abundance of perennials. Several plywood and furniture companies also invested heavily in the production of plywood and barecore in several areas in Purbalingga. Furniture furniture, p lywood and sills need a lot of workforce, do not need formal education, sothere is a general elimination of labor. UKM of furniture and wood frame craftsmen in Sangkanayu Village, Mrebet Subdistrict, Purbalingga Regency, make a model based on local orders, do not follow the latest furniture trends, have difficulty in forming radius and curved models, less smooth finishing and long time. Holey and asymmetrical wood is usually not used as a frame / furniture product, wood waste in the form of pieces is generally not utilized, even though the volume of waste wood at the formation reaches approximately 30% of the raw material. Mebelair UKM has no knowledge of wood formation from waste to become handicraft products. Besides that, business management knowledge, financial management, and product marketing methods are also still low, just waiting for customers, which makes it difficult for SMEs to develop, price competition among SMEs. The problem of formation by using wood waste  and raw materials in the form of pieces is used for making crafts. Formation is enhanced by the ability to form curves using vertical cutting/bendsaw, for acceleration of cleavage using circle cutting machine. The technology applied to the utilization of wood waste due to damage to the hole, not straight, will be converted into high economic value products, unique with epoxy wood resin. The method of forming frame and furniture products from wood (waste) will provide an alternative to increase added value and income, other benefits of using epoxy also increase durability, anti termites and high economic value, potentiallyhaving a distinctive brand brand. To strengthen management, SMEs are introduced to financial administration, and online product marketing strategies. The above solution is expected to improve the competitiveness and productivity of SMEs, the design of new products by utilizing wood waste to become wood wall products, and epoxy wood resin products, will increase the income of SMEs.

Page 3 of 21 | Total Record : 209