cover
Contact Name
AXIOM Jurnal
Contact Email
jurnalaxiom@uinsu.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
rusiulfahasanah@uinsu.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
AXIOM : Jurnal Pendidikan dan Matematika
ISSN : 20878249     EISSN : 25800450     DOI : -
Core Subject : Education,
Axiom Jurnal Pendidikan dan Matematika adalah salah satu jurnal di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN-SU Medan dalam bidang pendidikan dan lebih fokus pada pendidikan matematika. Jurnal Axiom dapat memuat artikel-artikel yang berbahasa Arab, Indonesia atau Inggris.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1 (2020)" : 10 Documents clear
PENINGKATAN KEPERCAYAAN DIRI SISWA SMP DENGAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SQUARE Fitria Mardika; Rusi Ulfa Hasanah
AXIOM : Jurnal Pendidikan dan Matematika Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.635 KB) | DOI: 10.30821/axiom.v9i1.7267

Abstract

Abstrak:Kepercayaan diri siswa menjadi hal yang penting dalam mempersiapkan siswa menghadapi kehidupan yang semakin menantang. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa adalah pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Square (TPS). Pembelajaran kooperatif tipe TPS adalah model pembelajaran kelompok heterogen yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir mandiri kemudian mendiskusikan hasil pemikirannya dengan pasangan berdua dan berempat. Dalam meningkatkan kepercayaan diri siswa ini dilakukan penelitian tindakan kelas menggunakan pembelajaran kooperatif tipe TPS untuk siswa SMP. Selama Oktober hingga Desember 2018 penelitian dilakukan sebanyak dua siklus dan diterapkan kepada 32 siswa SMP di Pekanbaru. Data penelitian diperoleh dari instrumen non tes yaitu angket kepercayaan diri, lembar pengamatan guru dan siswa, catatan peneliti, dan lembar refleksi. Kondisi awal menunjukkan rata-rata kepercayaan diri siswa berada pada kriteria sedang. Setelah siklus 1 diperoleh rata-rata kepercayaan diri siswa meningkat menjadi kriteria tinggi, namun masih terdapat beberapa catatan yang ditulis dalam lembar refleksi. Setelah adanya perbaikan, rata-rata kepercayaan diri siswa berada pada kriteria tinggi dengan nilai rata-rata yang meningkat dibanding siklus 1 dikarenakan adanya upaya perbaikan yang disesuaikan dengan rencana. Hal ini memperlihatkan bahwa target peningkatan kepercayaan diri siswa SMP tercapai melalui pembelajaran kooperatif tipe TPS, dengan kondisi siswa berada pada kelas VIII dengan kelas yang heterogen dan kemampuan kognitif siswa rata-rata berada pada kategori sedang. Kata Kunci:Kepercayaan Diri, Pembelajaran Kooperatif, Think Pair Square. Abstract:Student confidence is important in preparing students for increasingly challenging lives. One method that can be used to improve student confidence is Think Pair Square (TPS) cooperative learning. TPS type cooperative learning is a heterogeneous group learning model that provides opportunities for students to think independently then discuss the results of their thinking with partners of two and four. In increasing students' confidence, a classroom action research study using TPS cooperative learning for junior high school students was conducted. During October to December 2018 the study was conducted in two cycles and applied to 32 junior high school students in Pekanbaru. The research data were obtained from non-test instruments namely self-confidence questionnaire, teacher and student observation sheets, researcher notes, and reflection sheets. The initial conditions indicate the average level of student confidence is at the medium criteria. After cycle 1, the average student's self-confidence is increased to a high criterion, but there are still some notes written in the reflection sheet. After the improvement, the average student confidence is at a high criterion with an average value that increases compared to cycle 1 due to the improvement effort that is adjusted to the plan. This shows that the target of increasing the confidence of junior high school students is achieved through cooperative learning type TPS, with the condition of students in class VIII with heterogeneous classes and cognitive abilities of students in the average category is in the medium category. Keywords:Self Confidence, Cooperative Learning, Think Pair Square
PENGEMBANGAN MODUL MATEMATIKA BERBASIS BUDAYA MANDAILING DENGAN PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK (PMR) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIK Ade Rahman Matondang
AXIOM : Jurnal Pendidikan dan Matematika Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.425 KB) | DOI: 10.30821/axiom.v9i1.7230

Abstract

Abstrak:Penelitian ini dimaksudkan untuk menggambarkan peningkatan keterampilan komunikasi matematis siswa dengan modul matematika berbasis budaya Mandailing dengan Pendekatan Matematika Realistik (PMR). Penelitian ini menggunakan model 4-D yang terdiri dari empat tahap: mendefinisikan, merancang, mengembangkan dan menyebarluaskan. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA 1 Batang Angkola. Data penelitian diperoleh dari lembar soal tes kemampuan komunikasi matematis. Hasil tes I dan tes II menunjukkan bahwa: (1) peningkatan keterampilan komunikasi matematis siswa dalam tes I adalah 79,23 naik menjadi 84,60 pada tes II. (2) Modul matematika berbasis budaya Mandailing yang dikembangkan telah dinyatakan valid baik dari segi konten dan konstruk; modul matematika berbasis budaya Mandailing yang dikembangkan dinyatakan mudah digunakan dilihat dari tanggapan siswa dan guru; dan modul matematika berbasis budaya Mandailing yang dikembangkan dinyatakan efektif dilihat dari kemampuan komunikasi matematis siswa. Kata Kunci:Komunikasi Matematika, Budaya, Modul  Abstract:This research is intended to describe the Enhancement of students' mathematical communication skills with Mandailing culture with Mathematics Realistic Approach based mathematics modules. This research uses a 4-D model which consists of four stages: defining, designing, developing and disseminating. The subjects of this study were students of class XI of Batang Angkola 1 High School. The research data were obtained from a mathematical communication ability test question sheet. The results of the test I and test II showed that: (1) the improvement of students' mathematical communication skills in the first test was 79.23, rising to 84.60 on the second test. (2) Mandailing culture-based mathematics modules developed is valid both in terms of content and construct; Mandailing culture based mathematics modules developed was easily used based on by students’ dan teacher’s response; and Mandailing culture based mathematics modules developed is effective, seen by student’s mathematical communication skills. Keywords:Mathematical Communication, Culture, Module
PERBEDAAN MINAT BELAJAR MATEMATIKA SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK DAN MODEL PEMBELAJARAN OPEN ENDED eka anggraini nasution
AXIOM : Jurnal Pendidikan dan Matematika Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.397 KB) | DOI: 10.30821/axiom.v9i1.5501

Abstract

Abstrak:Adapun tujuan dari penelitian ini ialah untuk melihat adakah perbedaan minat belajar matematika siswa dengan menggunakan model Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) dan model pembelajaran Open Ended. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII yang berjumlah 9 kelas dan sampel diambil 2 kelas sampling purvosive yaitu kelas VIII-1 dan kelas VIII-5. Desain penelitian yang digunakan adalah Two Group Randomized Posttest-Only Control Design. Instrumen penelitian menggunakan lembar angket (kuisioner) minat belajar matematika siswa. Data-data diperoleh dari hasil angket minat belajar matematika siswa yang diberikan kepada siswa. Dari hasil analisa data, pada kelas eksperimen diperoleh nilai hasil pengujian hipotesis (ANOVA) diperoleh dengan hasil signifikan 0,00 ≤ 0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima. Dalam hal ini berarti bahwa ada perbedaan minat belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran matematika realistik dan model pembelajaran Open Ended. Kata Kunci:Pembelajaran Matematika Realistik,Open Ended, Minat Belajar Abstract:The objectives of this study are to see whether there are differences in students' interest in learning mathematics by using realistic mathematics learning models (PMR) and Open Ended learning models. The population in this study were students of class VIII totaling 9 classes and samples were taken 2 purvosive sampling classes namely class VIII-1 and class VIII-5. The research design used was Two Group Randomized Posttest-Only Control Design. The research instrument used questionnaire sheets  students' interest in learning mathematics. The data were obtained from the results of the students' mathematics learning interest questionnaire given to students. From the results of data analysis, the experimental class obtained the results of hypothesis testing (ANOVA) obtained with a significant result of 0.00 ≤ 0.05, H0 is rejected and Ha is accepted. In this case it means that there are differences in student learning interest by using realistic mathematical learning models and Open Ended learning models. Keywords:Realistic Mathematics Learning, Open Ended, Interest In Learning
PERBEDAAN KEMAMPUAN PENALARAN DAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA YANG DIAJAR DENGAN PEMBELAJARAN TPS DAN GI Lisa Dwi Afri; Rahmadani Rahmadani
AXIOM : Jurnal Pendidikan dan Matematika Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.546 KB) | DOI: 10.30821/axiom.v9i1.7234

Abstract

Abstrak:Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kemampuan penalaran dan pemecahan masalah matematis siswa yang diajar dengan Think Pair Share (TPS) dan Group Investigation (GI) di kelas X MAS Amaliyah Sunggal. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis eksperimen kuasi. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X MAS Amaliyah Sunggal Tahun Ajaran 2019/2020, yang selanjutnya dipilih sampel sebanyak dua kelas secara acak yaitu X-IPA3 dan X-IPA2. Data pada penelitian ini diperoleh melalui tes kemampuan penalaran dan pemecahan masalah matematis. Selanjutnya data dianalisis menggunakan uji ANAVA dua jalur. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa, (1) terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan penalaran dan pemecahan masalah matematis siswa yang belajar dengan TPS dengan siswa yang belajar dengan GI; dan (2) tidak ada interaksi antara model pembelajaran (TPS, GI) terhadap kemampuan matematis (penalaran, pemecahan masalah). Sehingga dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran TPS dan GI memberikan pengaruh yang berbeda terhadap kemampuan penalaran dan pemecahan masalah matematis siswa. Kata Kunci:Penalaran, Pemecahan Masalah, Think Pair Share, Group Investigation Abstract:The purpose of this research was to determine differences in students’s reasoning and mathematical problem solving abilities by cooperative learning in Think Pair Share (TPS) and Group Investigation (GI). This research was quantitative study and a quasi eksperimen. The population was all students of grade X MAS Amaliyah Sunggal in Academic Year 2019/2020, then two class is selected as sample randomly. They were X-IPA2 dan X-IPA3. Data was collected by test of reasoning and mathematical problem solving. Then data were analyzed using the two-way ANAVA. The result showed that, (1) there were significant differences in the ability of reasoningg and mathematical problem solving of students who studied by TPS and students who studied by GI; and (2). There is no interaction between learning models (TPS and GI) and the mathematics ability (reasoning and problem solving). So it can be concluded that the TPS and GI gives a different effect on students’ mathematical reasoning and problem solving abilities. Keywords:Reasoning, Problem Solving, Think Pair Share, Group Investigation
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN KNISLEY BERORIENTASI PADA LEVEL BERPIKIR VAN HIELE DAN KEMAMPUAN PENALARAN ADAPTIF Heru Tri Novi Rizki; Ariyadi Wijaya; Diena Frentika
AXIOM : Jurnal Pendidikan dan Matematika Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.836 KB) | DOI: 10.30821/axiom.v9i1.7237

Abstract

Abstrak:Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan perangkat pembelajaran geometri dengan pendekatan model pembelajaran matematika Knisley untuk meningkatkan level berpikir Van Hiele dan kemampuan penalaran adaptif siswa kelas VII SMP. Pengembangan perangkat pembelajaran ini didasarkan pada empat tahapan model pembelajaran matematika Knisley yang terdiri dari allegorization, integrator, analysis, dan synthesis. Penelitian ini menggunakan model pengembangan ADDIE. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar validasi, lembar penilaian kepraktisan guru dan siswa, lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran, tes level berpikir Van Hiele dan tes kemampuan penalaran adaptif. Perangkat pembelajaran dikatakan baik jika memenuhi aspek kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran memenuhi aspek kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan dengan kriteria berikut 1) sangat valid menurut ahli dengan skor rerata 4,179 untuk RPP dan 4,230 untuk LKS, 2) sangat praktis menurut penilaian guru dengan skor rerata 5 untuk LKS dan RPP serta sangat praktis menurut penilaian siswa dengan skor rerata 4,538 untuk LKS, dan 3) sangat efektif berdasarkan level berpikir Van Hiele dengan banyaknya siswa pada level analisis mencapai 77% dan berdasarkan kemampuan penalaran adaptif dengan ketercapaian persentase ketuntasan 64,71%, rerata kelas 65,4 dan rerata skor 10,47 dengan kategori tinggi. Kata Kunci:Geometri, Kemampuan Penalaran Adaptif, Model Pembelajaran Matematika Knisley, Level Berpikir Van Hiele, Perangkat Pembelajaran Abstract:This study was a study of geometric instructional development with Knisley mathematics learning model approach to improved Van Hiele levels of thinking and adaptive reasoning skills of seventh’ grade Junior High School students. The development of geometric instructional based on four phases of Knisley mathematics learning model were allegorization, integrator, analysis, and synthesis. This study used ADDIE’s model. The research instrumens were validation sheets, teacher and student practicality assessment questionnaire, observation sheets for learning implementation Van Hiele levels of thinking tests and adaptive reasoning skills test. The instructional package is good if fulfilled validity, practicality, and effectiveness aspects. This study result showed that the instructional package fulfilled the following criteria: 1) very valid according to the average score of 4,179 for RPP and 4,230 for LKS, 2) very practical according to the teacher’s assessment with mean score of 5 for LKS and RPP and very practical according to the assessment of students with an average score of 4,538 for LKS, and 3) very effective based on Van Hiele levels of thinking with the number of students at the analysis level reaching 77% and based on adaptive reasoning ability with completion of a classical was 64,71%, average grade was 65,4 and average score was 10,47 with high category. Keywords:Geometric, Adaptive Reasoning Skills, Knisley Mathematics Learning Model, Van Hiele Levels Of Thinking, Instructional Package
ANALISIS KEMAMPUAN REPRESENTASI MATEMATIS SISWA PADA MATERI SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL (SPLDV) DI KELAS VIII 3 MTS AL-JAM’IYATUL WASLIYAH TEMBUNG Latifah Marhamah Harahap; Fibri Rakhmawati
AXIOM : Jurnal Pendidikan dan Matematika Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.472 KB) | DOI: 10.30821/axiom.v9i1.7235

Abstract

Abstrak:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan representasi matematis siswa MTs Al-Washliyah Tembung di kelas VIII 3 dalam menyelesaikan masalah dari materi Sistem Persamaan Linier Dua Variabel (SPLDV). Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Dalam penelitian ini 6 subjek diambil sebagai subjek wawancara yang mewakili 3 kelompok, yaitu kelompok atas, kelompok menengah, dan kelompok bawah ditentukan berdasarkan hasil tes. Kriteria untuk subjek wawancara adalah subjek yang dapat mewakili jawaban masing-masing kelompok dan dapat berkomunikasi dengan baik. Pengumpulan data dilakukan dengan metode pengujian, dokumentasi, dan wawancara dengan siswa. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa ada siswa yang kurang mampu untuk membuat representasi visual sesuai dengan informasi dalam pertanyaan, tidak memiliki pemahaman dalam menjawab pertanyaan tentang kemampuan representasi ekspresi, dan masih mengalami kesulitan menulis representasi verbal dan menjelaskannya. Kata Kunci:Kemampuan Representasi Matematis Abstract:This study aims to determine the mathematical representation ability of students of MTs Al-Washliyah Tembung in class VIII 3 in solving material problems of the Two Variable Linear Equation System (SPLDV). This research is a qualitative research. In this study 6 subjects were taken as interview subjects who were representatives of 3 groups, namely the upper group, middle group, and lower group determined based on test results. Criteria for interview subjects are subjects that can represent the answers of each group and can communicate well. Data collection is done by the method of testing, documentation, and interviews with students. Based on the results of the study, it was found that there were students who were less able to make visual representations in accordance with the information in the questions, lacked understanding in answering questions about the ability of expression representation. Also still having difficulty writing verbal representations and explaining them. Keywords:Mathematical Representation Ability
KEMAMPUAN MEMBUKTIKAN MAHASISWA CALON GURU MATEMATIKA Diena Frentika; Sugiman Sugiman; Heru Tri Novi Rizki
AXIOM : Jurnal Pendidikan dan Matematika Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.151 KB) | DOI: 10.30821/axiom.v9i1.7236

Abstract

Abstrak:Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh akreditasi prodi terhadap kemampuan mahasiswa pendidikan matematika dalam membaca, mengklasifikasikan, dan mengkonstruksi bukti matematis. Penelitian ini merupaan penelitian ex post facto dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa pendidikan matematika di Yogyakarta tahun ajaran 2016/2017 yang menempuh masa studi 3 tahun pertama. Sampel penelitian ini yaitu 386 mahasiswa dengan kategori akreditasi prodi A dan B. Instrumen penelitian ini terdiri dari tes kemampuan membaca, mengklasifikasi, dan mengkonstruksi bukti matematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor akreditasi memberikan perbedaan yang signifikan pada mahasiswa prodi terakreditasi A dan B dalam membaca, mengklasifikasi, dan mengkonstruksi bukti matematis. Kemampuan membaca, mengklasifikasi, dan mengkonstruksi bukti matematis mahasiswa berbanding lurus dengan akreditasi prodi. Dengan demikian semakin baik akreditasi prodi pendidikan matematika maka semakin baik pula kemampuan mahasiswanya dalam membaca, mengklasifikasi, dan mengkonstruksi bukti matematis. Kata Kunci:Akreditasi, Bukti Matematika, Membaca, Mengklasifikasi, Mengkonstruksi Abstract:This study aims to explain the effect of study programs accreditation on mathematics education students ability in reading, classifying, and constructing mathematical proof. This study was ex post facto with quantitative approach. The study populations was students mathematics education students at Yogyakarta in the academic year 2016/2017 who studying in the first 3 years. The research samples included 386 students with study programs accreditation categories A and B. This research instruments consist of reading skills tesr, classifying skills test, and constructing skills test of mathematical proof. The results showed that accreditation of study programs have a significant influence in study programs students of A and B accreditations. The skills of reading, classifying, and constructing mathematical proof was directly proportional to the accreditation of study programs. Therefore, the better accreditation of mathematics education study programs can make the better students skills in reading, classifying, and constructing mathematical proof.  Keywords:Accreditation, Mathematics Proof, Reading, Classifying, Constructing
PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS TERHADAP PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MODEL DISCOVERY LEARNINGPADA SISWA KELAS X MAN 1 KAMPAR Sri Ulfa Insani
AXIOM : Jurnal Pendidikan dan Matematika Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.774 KB) | DOI: 10.30821/axiom.v9i1.7255

Abstract

Abstrak:Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan model discovery learning pada siswa kelas X MIA 1 MAN 1 Kampar. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan sebanyak dua siklus dengan 6 kali pertemuan. Subjek penelitian adalah siswa kelas X MIA 1 yang berjumlah 34 orang siswa. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik tes dan non tes (observasi dan dokumentasi). Instrumen yang digunakan adalah soal kemampuan berpikir kritis dan lembar observasi. Selanjutnya teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif terhadap observasi proses pembelajaran dan kuantitatif terhadap hasil tes kemampuan berpikir kritis. Hasil penelitian menunjukkan terdapat peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa terhadap pembelajaran matematika. Hasil tersebut diperoleh berdasarkan hasil tes kemampuan berpikir kritis yang diberikan pada akhir siklus I dan II. Pada siklus I terdapat 20 orang yang tuntas dengan rata-rata 78.4 dan pada siklus II terdapat 27 siswa yang tuntas dengan rata-rata 83.1. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, diperoleh kesimpulan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa mengalami peningkatan dengan menerapkan model discovery learning pada siswa kelas X MIA 1 MAN 1 Kampar pada tahun ajaran 2018/2019. Kata Kunci:Discovery Learning, Kemampuan Berpikir Kritis Abstract:The aim of this researchis to improve student’s critical thinking skills in learning mathematics by using discovery learning models in class X MIA 1 MAN 1 Kampar. This study was classroom action research conducted in two cycles with 6 meetings. Thesubjects were students of class X MIA 1 with 34 students. The data collection techniques used test and non-test(observation and documentation). The research instruments were questions of critical thinking skills and observation sheets. The data analysis techniques useddata qualitative analysisbased on the observation of learning process and data quantitative analysis based on the results of critical thinking skills test. The results showed that there was an increase in student’s critical thinking skills in mathematics. The results were obtained based on the results of tests of critical thinking skills given at the end of cycles I and II. In the first cycle there were 20 people who completed with an average of 77.8 and in the second cycle there were 27 students who completed an average of 83.1. Based on the results of the study, it was concluded that student’s critical thinking skills improved by applying discovery learning models in class X MIA 1 MAN 1 Kampar in 2018/2019 school year. Keywords:Discovery Learning, Critical Thinking Skills
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN NUMBERED HEAD TOGETHER DAN REALISTICS MATHEMATIC EDUCATION TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA DI SMA NEGERI 11 MEDAN Nella Putriyani Siregar; Ella Andhany
AXIOM : Jurnal Pendidikan dan Matematika Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.656 KB) | DOI: 10.30821/axiom.v9i1.7253

Abstract

Abstrak:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kemampuan berpikir kritis dan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang diajar dengan model pembelajaran Numbered Head Together dan model pembelajaran Realistics Mathematic Education di kelas XI SMA Negeri 11 Medan. Penelitian ini merupakan peneltian kuantitatif dengan jenis penelitian kuasi eksperimen. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMA Negeri 11 Medan yang terdiri dari 2 kelas dan berjumlah 60 siswa, yang juga dijadikan sampel pada penelitian ini yakni sebagai sampel jenuh. Instrumen tes yang digunakan adalah dengan tes kemampuan berpikir kritis dan tes kemampuan pemecahan masalah berbentuk uraian. Analisis data dilakukan dengan analisis vaian (ANAVA). Hasil temuan ini menunjukkan: 1) Kemampuan berpikir kritis matematika siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Numbered Head Together lebih baik dari pada siswa yang diajar dengan model pembelajaran Realistics Mathematic Education pada materi turunan fungsi; 2)Kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Numbered Head Together tidak lebih baik dari pada siswa yang diajar dengan model pembelajaran Realistics Mathematic Education pada materi turunan fungsi; 3) Kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah matematika siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Numbered Head Together lebih baik dari pada siswa yang diajar dengan model pembelajaran Realistics Mathematic Education pada materi turunan fungsi; 4) Terdapat interaksi yang signifikan antara model pembelajaran yang digunakan terhadap kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah matematika siswa pada materi turunan fungsi. Simpulan dalam penelitian ini menjelaskan bahwa kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah matematika siswa lebih sesuai diajarkan dengan Model Pembelajaran Numbered Head Together dari pada Model Pembelajaran Realistics Mathematic Education pada materi turunan fungsi. Kata Kunci:Kemampuan Berpikir Kritis, Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis, Model Pembelajaran Numbered Head Together, Model Pembelajaran Realistics Mathematic Education Abstract:This study aims to determine the effect of critical thinking skills and mathematical problem solving abilities of students who are taught with the Numbered Head Together learning model and the Realistic Mathematic Education learning model in class XI of SMA Negeri 11 Medan. This research is a quantitative research with the type of research that is quasi experiment. The population of this study was all students of class XI of SMA Negeri 11 Medan consisting of 2 classes and totaling 60 students, who were also sampled in this study as saturated samples. The test instrument used was a critical thinking ability test and a problem solving ability test in the form of a description. Data analysis was performed by analysis of variants (ANAVA). These findings show: 1) The ability to think critically the mathematics of students taught using the Numbered Head Together learning model is better than students taught with the Realistic Mathematic Education learning model on functional derivative material; 2) The ability to solve mathematical problems of students who are taught using the Numbered Head Together learning model is no better than students who are taught with Realistic Mathematic Education learning models on functional derivative material; 3) The ability to think critically and solve mathematical problems of students taught using the Numbered Head Together learning model is better than students taught with Realistic Mathematic Education learning models on functional derivative materials; 4) There is a significant interaction between the learning models used in critical thinking skills and students' mathematical problem solving on functional derivative material. The conclusion in this study explains that the ability to think critically and solve students' mathematical problems is more suitable to be taught with the Numbered Head Together Learning Model than the Realistic Mathematic Education Learning Model on functional derivative material. Keywords:Critical Thinking Ability, Mathematical Problem Solving Ability, Numbered Head Together Learning Model, Realistic Mathematic Education Learning Model
PERBEDAAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP DAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA YANG MEMPEROLEH MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DAN PEMBELAJARAN EKSPOSITORI Wina Alnadrah Pulungan; Eka Khairani Hasibuan
AXIOM : Jurnal Pendidikan dan Matematika Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.875 KB) | DOI: 10.30821/axiom.v9i1.7233

Abstract

Abstrak:Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui apakah kemampuan pemahaman konsep matematis siswa yang memperoleh model pembelajaran berbasis masalah lebih baik daripada siswa yang memperoleh model pembelajaran ekspositori, (2) mengetahui apakah kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang memperoleh model pembelajaran berbasis masalah lebih baik daripada siswa yang memperoleh model pembelajaran ekspositori, (3) mengetahui apakah kemampuan pemahaman konsep dan pemecahan masalah matematis siswa yang memperoleh model pembelajaran berbasis masalah lebih baik daripada siswa yang memperoleh model pembelajaran ekspositori. Jenis penelitian ini ialah penelitian kuantitatif, dengan pendekatan penelitian quasi eksperimen. Populasi penelitian ini adalah seluruh kelas X SMA Negeri 1 Binjai Kab. Langkat yang terdiri dari 7 kelas, dan sampel pada penelitian ini yaitu kelas X-IPA 1 (kelas eksperimen) sebanyak 30 siswa dan kelas X-IPA 2 (kelas kontrol) sebanyak 30 siswa. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Pengujian hipotesis dilakukan dengan analisis varians dan dilanjutkan dengan uji tuckey pada taraf signifikan 0,05. Hasil temuan ini menunjukkan: (1) kemampuan pemahaman konsep matematis siswa yang memperoleh model pembelajaran berbasis masalah lebih baik daripada siswa yang memperoleh model pembelajaran ekspositori, (2) kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang memperoleh model pembelajaran berbasis masalah tidak lebih baik daripada siswa yang memperoleh model pembelajaran ekspositori, (3) kemampuan pemahaman konsep dan pemecahan masalah matematis siswa yang memperoleh model pembelajaran berbasis masalah lebih baik secara signifikan dengan siswa yang memperoleh model pembelajaran ekspositori. Kata Kunci:Kemampuan Pemahaman Konsep, Kemampuan Pemecahan Masalah, Pembelajaran Berbasis masalah, dan Pembelajaran Ekspositori Abstract:This study aims to: (1) determine whether the ability to understand mathematical concepts of students who get problem-based learning models is better than students who get expository learning models, (2) find out whether the mathematical problem-solving abilities of students who get problem-based learning models are better than students who get expository learning models, (3) know whether the ability to understand concepts and mathematical problem solving students who get a problem-based learning model is better than students who get expository learning models. This type of research is quantitative research, with a quasi-experimental research approach. The population of this study were all class X SMA Negeri 1 Binjai, Langkat Regency which consisted of 7 classes, and the sample in this study was X-Science 1 (experimental class) of 30 students and 30 X-Science 2 (control class) of 30 students. . The sampling technique is done by using cluster random sampling techniques. Hypothesis testing is done by analysis of variance and followed by tuckey test at a significant level of 0.05. These findings indicate: (1) the ability to understand mathematical concepts of students who get a problem based learning model is better than students who get expository learning models, (2) the ability to solve mathematical problem students who get a problem based learning model is no better than students who get expository learning models, (3) the ability to understand concepts and mathematical problem solving students who get a problem-based learning model is significantly better than students who get expository learning models Keywords:Concept Understanding Ability, Problem Solving Ability, Problem Based Learning, and Expository Learning

Page 1 of 1 | Total Record : 10