cover
Contact Name
Dr. Ir. Lestari Ujianto, M.Sc.
Contact Email
ujianto@unram.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
cropagro@unram.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy
Published by Universitas Mataram
ISSN : 19788223     EISSN : 26215748     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Mataram yang memuat tulisan berupa hasil penelitian yang terkait dengan bidang budidaya tanaman, terbit enam bulan sekali. Redaksi menerima naskah dalam bahasa Indonesia atau Inggris.
Arjuna Subject : -
Articles 209 Documents
PENGARUH CAMPURAN EKSTRAK MAKROALGA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN PADI (ORYZA SATIVA L.) DAN KETAN (ORYZA SATIVA L. FORMA GLUTINOSA) Zurriatun Toyyibah1, Sunarpi1, Rina Kurnianingsih1 dan Aluh Nikmatullah2
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy Vol 5 No 1 (2012): Jurnal Crop Agro
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram and Indonesian Society of Agronomy Branch NTB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Makroalga dapat dimanfaatkan sebagai sumber alternatif pengganti pupuk pertanian sintesis karena dilaporkan bahwa makroalga mengandung unsur-unsur hara makro dan mikro serta hormon pertumbuhan yang dapat merangsang pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Penggunaan ekstrak dari beberapa makroalga merah Nusa Tenggara Barat (NTB) secara tunggal dapat merangsang pertumbuhan dan perkembangan beberapa tanaman pangan dan hortikultura, namun perangsangan tersebut bersifat selektif tergantung jenis makro alga, jenis tanaman dan tahap pertumbuhannya. Karenanya, aplikasinya secara kombinasi diduga dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman dengan lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui pengaruh campuran ekstrak makroalga terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman padi dan ketan. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), yang terdiri atas 11 kombinasi perlakuan campuran ekstrak 5 jenis makro alga NTB yang dibandingkan dengan control. Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran ekstrak makroalga memberikan pengaruh yang berbeda-beda terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman padi dan ketan. Campuran ekstrak Sargassum cristaefolium dan Turbinaria murayana meningkatkan pertumbuhan (jumlah anakan dan berat basah batang) tanaman padi dan ketan. Sementara itu, campuran ekstrak S. cristaefolium dan S. aquifolium meningkatkani hasil atau produksi (berat 1000 biji gabah kering) tanaman padi dan ketan. ABSTRACT Macro alga (seaweed) can be used as an alternative source of fertilizer because it has been reported to contain macro and micro nutrients as well as plant growth promoting substances which promotes plant growth and development. The use of several red macro alga extract from Nusa Tenggara Barat (NTB), when applied solely, can promote growth and development of several crops. However, the promotive effect is selective depending on variety of macro alga, plant variety and developmental stages at which the extracts are applied. It is speculated that application of combined extract-macro alga from NTB would better propotes plant growth and development. The aim of this research is to examine the effect of extract combination of macro alga NTB on growth and development of rice-paddy and sticy rice paddy. The experiment is design according to Completely Randomized Design with 11 treatments of 10 combination of five extract of red macro alga NTB and control. The results show that different combination of macro alga extracts has different promotive effect on growth and development of rice paddy and sticy rice. The combined extracts of S. crassifolium and T. murayana promotes plant growth (number of tillage and plant biomass) while combined extract of S. cristaefolium and S. aquifolium promotes yield (weight of 1000 seeds) of rice paddy and sticky rice.
(INDUKSI REGENERASI IN VITRO PADA SPESIES TANAMAN PENGHASIL GUBAL GAHARU, Aquilaria filaria) Baiq Erna Listiana
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy Vol 10 No 01 (2017): jurnal Crop Agro Januari 2017
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram and Indonesian Society of Agronomy Branch NTB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Aquilaria filaria is one of the species producing precious fragrant oleoresin agarwood which is endemic in Eastern of Indonesia. In 2004 CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) incorporated A. filaria as vulnerable species due to the declining population of this plant in their habitat of origin. Propagation of this plant species is essential for continuation of agarwood supply and preservation of genetic resources. Biotechnological approach by plant in vitro culture is advanced preservation technique for genetic resources. Plant in vitro culture is not only strategy to propagate plant material in prolific rates for in situ and ex situ germplasm preservation in range of environmental condition, but also answer the problem in seed recalcitrant and less viability as well as studying genetic and physiology of the plant. Up to date there is no available information of in vitro regeneration in Aquilaria filaria plant. This research aims to study de novo regeneration of shoot and root in plant tissue culture of Aquilaria filaria for the basis of in vitro preservation of this vulnerable plant species. The research includes callus induction, shoot regeneration from plant callus and root regeneration from shoot explants. In vitro cultivation conducted in Murashige and Skoog (MS) medium containing phytohormone auxin: indole-3-butyric acid (IBA), α-naphthalene acetic acid (NAA) and 2,4-dichlorophenoxyacetic acid (2,4-D) and cytokinin: 6-benzylaminopurine (BAP) and kinetin. The result reveals that leaf is competent material for callus induction. High proliferating callus is induced in medium containing combination of IBA (2 mg/l) or NAA (0.2 – 1 mg/l) with cytokinin BAP (0.5 – 1 mg/l). A. filaria plant callus regenerate shoots primordia by an addition of single BAP (0.5 mg/l) or combination with IBA or NAA (0.2 mg/l)) into the culture medium. Moreover, rooting of shoot cultures achieve in medium with additional of sole phytohormone IBA (1 – 2 mg/l) or NAA (0.2 – 2 mg/l). The result of this study provides basis for in vitro propagation of A. filaria and further assessment related agarwood producing species. ABSTRAK Aquilaria filaria adalah salah satu spesies penghasil gaharu, gubal wangi bergengsi tinggi, yang endemik di Indonesia bagian timur. Pada tahun 2004 CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) memasukkan A. filaria sebagai spesies yang langka karena penurunan populasi dari tanaman ini pada habitat aslinya. Oleh karena itu, perbanyakan dari spesies tanaman ini sangat penting untuk keberlanjutan suplai gaharu dan pelestarian sumber genetik. Pendekatan biotechnologi melalui kultur in vitro tanaman adalah teknik terdepan untuk pelestarian sumber genetik. Budidaya tanaman in vitro tidak hanya strategi untuk memperbanyak tanaman secara masal untuk pelestarian sumber genetik pada kondisi linggungan yang luas, tetapi juga menjawab permasalahan benih rekalsitran dan viabilitas rendah, selain juga untuk mempelajari genetik dan fisiologi dari tanaman tersebut. Hingga saat ini belum ada informasi yang tersedia mengenai regenerasi in vitro pada tanaman Aquilaria filaria. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari de novo (permulaan) regenerasi pucuk dan akar pada kultur jaringan tanaman Aquilaria filaria sebagai basis pelestarian in vitro dari spesies tanaman ini. Penelitian ini termasuk induksi kalus tanaman, regenerasi pucuk dari kalus tanaman dan regenerasi akar dari eksplan pucuk. Kultur in vitro dilakukan menggunakan medium Murashige and Skoog (MS) yang mengandung phytohormone auxin: indole-3-butyric acid (IBA), α-naphthalene acetic acid (NAA) and 2,4-dichlorophenoxyacetic acid (2,4-D) dan cytokinin: 6-benzylaminopurine (BAP) and kinetin. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa daun adalah material yang kompeten untuk induksi kalus. Proliferasi kalus yang tinggi terinduksi pada medium yang mengandung kombinasi IBA (2 mg/l) atau NAA (0.2 – 1 mg/l) dengan cytokinin BAP (0.5 – 1 mg/l). Kalus tanaman A. filaria beregenerasi menjadi pucuk primordial dengan penambahan BAP (0.5 mg/l) atau kombinasi IBA atau NAA (0.2 mg/l)) kedalam medium kultur. Selanjutnya pengakaran dari kultur pucuk didapatkan pada medium dengan hanya penambahan IBA (1 – 2 mg/l) atau NAA (0.2 – 2 mg/l). Hasil penelitian ini memberikan basis bagi propagasi in vitro A. filaria dan penelitian lanjutan bagi spesies tanaman penghasil gaharu.
PENGARUH JENIS DAN DOSIS NEMATISIDA TERHADAP AKTIFITAS MELOIDOGYNE JAVANICA Sudirman 1; M.E.P. Pasorong
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy Vol 1 No 2 (2008): Jurnal Crop Agro
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram and Indonesian Society of Agronomy Branch NTB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis dan dosis nematisida terhadap tetasnya telur, penetrasi, perkembangan dan reproduksi Meloidogyne javanica. Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap, percobaan tersarang. Tiga jenis nematisida (furadan, petrofur, dan basamid) dengan tiga dosis (0,05; 0,125; dan 0,2 g/kg media) diuji. Untuk penetasan telur, percobaan dilakukan pada media agar yang diperlakukan nematisida dalam cawan Petri yang ditaburi 100 telur M. javanica, dan J2 yang menetas diamati mulai 1 hari setelah inokulasi (hsi) selama 10 hari. Percobaan untuk penetrasi, perkembangan dan reproduksi dilakukan pada bibit tanaman tomat yang berumur 15 hari pada polybag dengan 1 kg tanah yang diinokulasi dengan 200 telur M. javanica dan diperlakukan dengan nematisida. Jumlah J2 yang penetrasi akar diamati 15 hsi. Sedangkan perkembangan dan reproduksi nematoda diamati 30 hsi. Untuk tiap percobaan disiapkan lima ulangan. Data hasil percobaan dianalisa dengan analisis keragaman dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nematisida petrofur, furadan dan basamid efektif menekan semua aktifitas M. javanica dengan penekanan tertinggi didapatkan pada perlakuan dengan nematisida basamid. Tingkat penekanan aktifitas M. javanica semakin tinggi dengan peningkatan dosis nematisida. Abstract Research aimed at knowing effects of types and dosages of nematicides on egg hatching, penetration, development, and reproduction of Meloidogyne javanica. The study was done with completely randomized design, nested experiment. Three types of nematicides (furadan, petrofur, and basamid) with three dosages (0.05; 0.125; and 0.2 g/kg medium) were tested. The experiment for egg hatching was conducted on nematicides treated agar in Petri dish spread with 100 eggs of M. javanica, and J2 hatching was recorded since one day after inoculation (dai) for 10 days. For penetration, development, and reproduction, experiments were carried out on 15-day-old tomato seedlings grown in polybag with 1 kg soil invested with 200 eggs of M. javanica and treated with nematicides. Whilst numbers of J2 penetrated roots were observed 15 dai, development and reproduction of nematodes were recorded 30 dai. Each experiment was provided with five replicates. Data were analyzed with analysis of variance followed by least significant different test at 5% level. Results of experiments showed that all nematicides; furadan, petrofur, and basamid were effective in suppressing all activities of M. javanica with the highest level of suppression was resulted from basamid treatment. Levels of activity suppression were in accordance with dosages of nematicide tested.
TAMPILAN SIFAT KUANTITATIF BEBERAPA GALUR F7 PADI BERAS MERAH (Oryza sativa L.) HASIL SILANG GANDA INDICA DENGAN JAVANICA Rijalul Umam1; A. A. K. Sudharmawan2; Sumarjan 2
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy Vol 11 No 1 (2018): Jurnal Ilmiah Budidaya Pertanian
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram and Indonesian Society of Agronomy Branch NTB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (564.941 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tampilan sifat kuantitatif beberapa genotipe dari galur F7 padi beras merah (Oryza sativa L.) hasil silang ganda Indica dengan Javanica. Percobaan ini dilakukan di Desa Nyurlembang, Kecamatan Narmada Kabupaten Lombok Barat pada bulan Agustus sampai dengan November 2015. Rancangan Percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas 12 galur harapan padi beras merah dan empat tetua (Du’u, Soba, Piong dan Sri), setiap perlakuan di ulang tiga kali sehingga terdapat 48 unit percobaan. Data hasil pengamatan dianalisa dengan analisis ragam, selanjutnya di uji lanjut dengan DMRT (5 %) untuk parameter yang berbeda nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 12 galur hasil silang ganda Indica dengan Javanica karakter vegetatif umur berbunga paling genjah pada galur G15 (84,67 hss), tinggi tanaman terpendek pada galur G16 (125,8 cm), jumlah anakan produktif paling banyak pada galur G8 (25,43) dan jumlah anakan non produktif paling sedikit pada galur G11 (0,00). Untuk karakter generatif malai terpanjang galur G16 (31,00 cm), jumlah gabah berisi paling banyak galur G10 (121,37), jumlah gabah hampa paling sedikit galur G13 (26,62), berat 100 butir paling berat galur G11 (3,33 gram), berat gabah per-rumpun paling berat galur G13 (72,45 gram) dan hasil tertinggi galur G13 (9,01 ton/ha). ABSTRACT This research aims to observe quantitative traits of few lines of F7 red rice paddy (Oryza sativa L.). This experiment was conducted in Nyur lembang village, Narmada District of West Lombok on August until November 2015. Experimental Design used was a randomized block design (RCBD) consisted of 12 promising lines of red rice paddy and four parental cultivars (Du’u, Soba, Piong and Sri). Every treatment was repeated 3 times so there were 48 experimental units. The data were analyzed using analysis of variance with 5% significance level, followed by Duncan Multiple Range Test (DMRT) for significantly different result. The results of experiment shows that the 12 promosing lines from double croos between Indica and Javanica for vegetative characters: G15(84,67 das) is the fastest in flowering time, the shortest plant height is G16 (125,8 cm), the highest productive tillers is G8 (25,43, the lowest non-productive tillers is G11 (0,00). For generative characters: the longest panicle is G16 (31 cm), the highest grain number is G10 (121,37), the lowest number of empty grain is G13 (26,2). The highest of 100 grain weight is G11 (3,33 g) and grain yield/clump is G13 (72,45 g) and the higest grain yield is G13 (9,01 ton/ha)
INDUKSI MUTASI DENGAN IRADIASI SINAR GAMMA DAN SELEKSI IN VITRO UNTUK IDENTIFIKASI EMBRIO SOMATIK KACANG TANAH CV. LOKAL BIMA YANG TOLERAN PADA MEDIA POLIETILENA GLIKOL A. Farid Hemon
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy Vol 3 No 1 (2010): Jurnal Crop Agro
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram and Indonesian Society of Agronomy Branch NTB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas sinar Gamma untuk meningkatkan frekuensi diperolehnya embrio somatik (ES) kacang tanah cv. Lokal Bima yang toleran terhadap cekaman larutan polietilena glikol (PEG). Percobaan diawali dengan menginduksi ES kacang tanah. Induksi mutasi dengan sinar Gamma dilakukan pada kultur ES. Embrio somatik yang telah diiradiasi dengan sinar Gamma diseleksi dalam media yang mengandung PEG 15%. Hasil penelitian yang diperoleh adalah 1) dosis sinar Gamma berpengaruh terhadap pertumbuhan ES kacang tanah. Penggunaan dosis sinar Gamma 15 Gy memberikan pertumbuhan ES yang lebih baik dibanding dosis yang lebih tinggi, 2) Kalus embriogenik yang diiradiasi dengan dosis sinar Gamma 15 Gy dan 20 Gy menghasilkan proliferasi ES, jumlah ES per eksplant, dan total ES yang lebih tinggi ketika diseleksi dalam media yang mengandung PEG 15%. Pertumbuhan ES pada kalus embriogenik yang tidak disinari dengan sinar Gamma dan dosis sinar Gamma 25 Gy lebih rendah ketika diseleksi dalam media yang mengandung PEG 15%. ABSTRACT The objective of this experiment was to evaluate effectiveness of Gamma ray to increase the frequency of obtaining polyethylene glycol (PEG) insensitive somatic embryos (SE) from peanut cv. Local Bima. The experiment was iniciated with induction of peanut SE followed by induction mutation with Gamma ray on SE culture. Somatic embryos that had been irradiated with Gamma ray were selected in medium containing 15% of PEG 6000. The results of experiment show that: 1) Gamma ray irradiation influenced the growth of SE. Irradiation with the dosage of 15Gy resulted in better SE growth than higher dosages, 2) Embriogenic calli irradiated with 15 and 20 Gy of Gamma ray demonstrated higher number of total SE when selected in medium containing 15% of PEG 6000, and 3) lower SE growth occured on SE calli without irradiation or with 25 Gy Gamma irradiation.
KAJIAN PARAMETER GENETIK POPULASI ALAMI TANAMAN BAWANG MERAH KULTIVAR AMPENAN I Wayan Sudika; Aris Budianto, Ketut Ngawit dan Nyoman
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy Vol 5 No 1 (2012): Jurnal Crop Agro
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram and Indonesian Society of Agronomy Branch NTB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui parameter genetik, meliputi koefisien keragaman genetik, heritabilitas dan korelasi genetik beberapa sifat pada populasi alami tanaman bawang merah kultivar Ampenan. Metode yang digunakan adalah metode eksploratif dengan teknik survei dan pengamatan langsung pada hamparan pertanaman petani. Data hasil pengamatan dianalisa dengan analisis ragam dengan hamparan petani dianggap sebagai perlakuan, yakni 30 petani dan diulang 5 kali berupa petak observasi; yang ditetapkan secara diagonal. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa koefisien keragaman genetik tertinggi diperoleh pada sifat berat umbi basah per rumpun ( 21,95%); kemudian diikuti oleh berat umbi kering per rumpun ( 20,34%) dan tinggi tanaman (5,96 %). Nilai heritabilitas arti luas yang tergolong tinggi diperoleh pada jumlah umbi per rumpun, berat umbi basah per rumpun dan berat umbi kering per rumpun, yaitu berturut-turut (68,54%, 64,60% dan 71,26%). Tinggi tanaman dan jumlah daun per rumpun, nilai heritabilitasnya tergolong sedang. Sifat yang memiliki koefisien korelasi genetik positif nyata dengan berat umbi kering per rumpun (hasil), yaitu jumlah daun per rumpun, jumlah umbi per rumpun dan berat umbi basah per rumpun, sedangkan tinggi tanaman memiliki korelasi genetik yang tidak nyata dengan semua sifat yang lainnya. ABSTACT This research aimed to study genetic parameters, such as: genetic variability coefficient, heritability and genetic correlation of some traits of shallot population cultivar Ampenan. The methods employed were exploration, survey and direct observation on farmer’s cultivation areas. The data were analyzed using analysis of variance with farmer’s cultivation areas (30 farmers) as treatments with 5 replications in the form of observation plots, which were determined in diagonal. The results of this research show that the highest coefficient of genetic variability was on the fresh bulb weight per cluster (21.95%), followed by dry bulb weight per cluster (20.34 %) and plant height (5.96%). Wide heritability value was found the highest in the number of bulb per cluster (68.54%), weight of fresh bulb per cluster (64.60%) and weight of dry bulb per cluster (71.26%), while plant height and number of leaf per cluster showed middle value of heritability. The traits that had significant positive genetic correlation with dry bulb weight per cluster (yield) were number of leaf per cluster, number of bulb per cluster and weight of fresh bulb per cluster. Plant height had no significant genetic correlation with all other traits.
EVALUASI KARAKTER DAN NILAI HERITABILITAS HASIL DAN KOMPONEN HASIL PADA GENERASI F3 PERSILANGAN DOUBLE CROSS PADI CERE DAN BULU Baiq Ernawati; Muliarta dan Kantun
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy Vol 9 No 1 (2016): jurnal Crop Agro Januari 2016
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram and Indonesian Society of Agronomy Branch NTB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian yang berjudul evaluasi karakter dan nilai heritabilitas hasil dan komponen hasil pada generasi F3 persilangan double cross padi cere dan bulu bertujuan untuk mengetahui karakteristik genotipe zuriat F3 pada parameter hasil dan komponen hasil serta menduga nilai heritabilitas menggunakan pola regresi, menggunakan metode eksperimental dengan rancangan pengujian. Penelitian ini adalah seleksi Pedigree dari hasil persilangan double cross antara varietas cere (Sri x Piong) dan bulu ( Du’u x Soba) dengan perlakuan sebanyak 16 genotipe, masing-masing delapan zuriat F2 dan F3. Model analisis nilai heritabilitas pola regresi menggunakan rumus Singh and Chaudhary (1977). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rerata, kisaran dan ragam tertinggi pada genotipe zuriat F3CB4 (keturunan ke tiga persilangan cere dengan bulu pada galur ke empat) dan secara keseluruhan ke delapan genotipe zuriat F3 yang merupakan nilai rata-rata dari 80 galur terpilih menunjukkan adanya heritabilitas tinggi terhadap semua karakter kuantitatif yang diamati kecuali pada karakter jumlah anakan non produktif dan jumlah gabah hampa. ABSTRACT The study, entitled the evaluation of the characterand value of the heritability of yield and yield component sin F3 generation double cross hybrid rice cere and feather saims to investigate the characteristics of zuriat F3 genotype son yield and yield component parameters and assumed heritability values using regression pattern, using experimental methods to test draft. This study is the selection of Pedigree double cross from crosses between varieties cere(Sri x Piong) and feather (Du'u x Soba) with treatmentas many as 16 genotypes, respectively eight zuriat F2 and F3. Heritability value analysis model regression pattern used the formula Singh and Chaudhary (1977). The results show edthatthe mean, range and variety of the high estin genotypes zuriat F3CB4 (descendants of the three crosses cere with feather son the fourstrains) and eight hoverall genotype zuriat F3 which is the average value of the 80 selected strains showed a high heritability of all quantitative characters were observedex ceptin the character of non productive till ernumber and amount of grain hollow.
PERAKITAN JAGUNG VARIETAS UNGGUL UNTUK TUMPANGSARI MELALUI SELEKSI MASSA Uyek Malik Yakop; Idris Idris; Lestari Ujianto
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy Vol 10 No 2 (2017): Jurnal Crop Agro Juli 2017
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram and Indonesian Society of Agronomy Branch NTB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.447 KB)

Abstract

ABSTRAK Usaha mempertinggi produksi jagung pada system tumpangsari antara lain dengan mencari varietas yang cocok untuk tumpangsari. Usaha ini antara lain dengan program pemuliaan yaitu melakukan seleksi pada suatu populasi jagung yang cocok untuk tumpangasi. Lebih-lebih hal ini bila dihubungkan dengan kemampuan suatu varietas yang memiliki kemampuan berbeda untuk beradaptasi dengan suatu kondisi lingkungan tertentu termasuk untuk tumpangsari. Penelitian diawali dengan penanaman populasi siklus kedua (C2) sekitar 4.000 tanaman, kemudian dibuat 10 petak yang masing-masing memuat 200 tanaman. Pada tiap petak dipilih 20 tanaman yang jumlah daun terbanyak, kemudian dipilih 15 tanaman yang berbatang tinggi di antara tanaman yang berdaun banyak. Selanjutnya dipilih 10 tanaman yang memiliki tongkol terpanjang di antara 15 tanaman berbatang tinggi. Bijinya dipipil dan diambil hanya bagian tengahnya (1/3 bagian (kemudian dibulk menjadi benih hasil seleksi massa tanpa pengendalian penyerbukan siklus ketiga (C3). Akhir kegiatan dilakukan pengujian kemajuan seleksi dengan membandingk siklus ketiga (C3) dengan populasi C2, C1dan C0. Jika kemajuan seleksi menunjukkan nyata maka akan dilanjutkan seleksi siklus berikutnya. Hasil penelitian menujukkan bahwa Kemajuan seleksi dari seluruh sifat yang diamati adalah nyata dan bersifat linear kecuali sifat berat biji pipilan kering per tongkol dan jumlah baris per tongkol, sehingga jagung lokal Kebo berpeluang untuk menjadi varietas ungul dalam sistem pertanaman tumpangsari. Populasi jagung lokal Kebo siklus ketiga (C3) menunjukkan sifat yang lebih unggul dibandingkan dengan populasi C2, C1 dan C0. ABSTRACT Suitable varieties for intercropping is one of factors to increase production in intercropping system and the way to find out the varieties is by implementing breeding technique, i.e. selection method in order to develop superior varieties capable for adapting to a certain environment, including for intercropping. This study began with planting the second cycle populations (C2 ) of approximately as many as 4,000 plants, then plotted into 10 plots containing 200 plants each. In each plot, 20 plants were chosen based on the most number of leaves, then of these, 15 plants were selected on the basis of the tallest plants. Of these only 10 plants were selected based on the longest ear. Seeds were harvested and taken only the in middle of the ear (the third part of the ear), and all seeds were bulked. These seeds were called from the third cycle of population ( C3 ). The next experiment was to test all the progenies obtained, including C2, C1, and C0 . If there is no any progress of the selection, the multilocation trials will be conducted. The multilocation trials is aimed to determine the adaptability and stability of the C3 population. The multilocation trials are part of the stages in the prosess of variety release. The research results showed that the selection progress of all characters observed were significant and linear, except the weight of dry seeds per ear and and number of rows per ear, therefore, the corn local Kebo is expected to be superior varieties for seeds in intercropping systems. The characteristics of C3 population of Maize local Kebo compared to the population of the C2, C1 and C0 showed to be superior.
PERANAN JAMUR PATOGEN SEKUNDER DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BIOKONTROL JAMUR KARAT (Puccinia sp.) PADA GULMA TEKI (Cyperus rotundus) M. Taufik Fauzi dan Murdan
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy Vol 2 No 2 (2009): Jurnal Crop Agro
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram and Indonesian Society of Agronomy Branch NTB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui peranan jamur patogen sekunder dalam meningkatkan kemampuan biokontrol jamur karat (Puccinia sp.) pada gulma teki, telah dilaksanakan di Laboratorium Proteksi dan Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Mataram. Percobaan ini merupakan percobaan faktorial dengan dua faktor yaitu umur teki saat inokulasi dan penggunaan jamur patogen sekunder. Percobaan dirancang mengunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 6 kali ulangan. Hasil menunjukkan bahwa jamur patogenik sekunder yang paling umum ditemukan berasosiasi dengan gulma teki yang terinfeksi jamur karat adalah Curvularia sp., Aspergillus sp. dan Fusarium sp. Jamur patogenik sekunder dapat meningkatkan kemampuan biokontrol jamur karat yang ditunjukkan oleh semakin meningkatnya intensitas penyakit yang terjadi pada gulma teki, berkurangnya jumlah umbi teki yang terbentuk dan terhambatnya pertumbuhan gulma teki. ABSTRACT A research aimed at investigating the role of secondary fungal pathogens in increasing the biocontrol ability of the rust fungus (Puccinia sp.) on purple nutsedge had been conducted in the Laboratory of Plant Protection and Glasshouse Faculty of Agriculture the University of Mataram. The experiment was a factorial experiment with two factors, i.e. the age of purple nutsedge at the time of inoculation and the use of secondary fungal pathogens. The experiment was arranged according to Completely Randomized Design with six replicates. The results showed that secondary fungal pathogens that commonly found associate with rust infected purple nutsedge were Curvularia sp., Aspergillus sp. and Fusarium sp. Secondary fungal pathogens were able to increase biocontrol ability of the rust fungus as shown by their ability in increasing the disease intensity, decreasing the number of tubers formed and suppressing the growth of purple nutsedge
PENGARUH MEDIA TUMBUH DAN PUPUK ORGANIK CAIR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN SELEDRI (Apium graveolens L.) Rukmini Kusmarwiyah; Sri Erni
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy Vol 4 No 2 (2011): Jurnal Crop Agro Pertanian
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram and Indonesian Society of Agronomy Branch NTB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis media tumbuh dan pupuk organik cair yang dapat digunakan untuk meningkatkan hasil tanaman seledri. Percobaan dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial. Media yang digunakan adalah media campuran antara tanah, pupuk kandang sapi dan pasir (1 : 1 : 1), tanah dan arang sekam (1 : 1), tanah dan kompos (1 : 1), tanah dan serbuk gergaji (1 : 1), dan pupuk organik cair yang digunakan yaitu Agronik Super, Biofert CR dan Emvilon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pupuk organik cair dan interaksinya dengan media tumbuh tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman seledri. Penggunaan media tumbuh yang berbeda memberikan laju pertambahan dan hasil yang berbeda. Media tumbuh campuran antara tanah, pupuk kandang sapi dan pasir memberikan laju pertambahan dan hasil yang tertinggi, diikuti oleh media tanah dan arang sekam. ABSTRACT The objectives of the research were to find out growing media and liquid organic fertilizer to improve the yield of celery. The experiment was arranged using Completely Randomized Design with factorial design. Growing media used were the mixture of soil, manure and sand; soil and husk charcoal; soil and compost, soil and sawdust. Liquid organic fertilizers used were Agronik Super, Biofert CR and Emvilon. The result showed that liquid organic fertilizer treatment and its interaction with growing media did not affect on the growth rate and yield of celery. Different growing media showed different of the growth rate and yield of celery. Media mixture of soil, manure and sand gave the highest growth rate and yield of celery, followed by media soil and husk charcoal.

Page 6 of 21 | Total Record : 209