cover
Contact Name
Dr. Ir. Lestari Ujianto, M.Sc.
Contact Email
ujianto@unram.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
cropagro@unram.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy
Published by Universitas Mataram
ISSN : 19788223     EISSN : 26215748     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Mataram yang memuat tulisan berupa hasil penelitian yang terkait dengan bidang budidaya tanaman, terbit enam bulan sekali. Redaksi menerima naskah dalam bahasa Indonesia atau Inggris.
Arjuna Subject : -
Articles 209 Documents
KAJIAN KETERKAITAN ANTAR SIFAT KUANTITATIF KETURUNAN HASIL PERSILANGAN ANTARA SPESIES KACANG TUNGGAK DENGAN KACANG PANJANG B. Mustainnah; Lestari Ujianto dan Sudirman
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy Vol 9 No 1 (2016): jurnal Crop Agro Januari 2016
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram and Indonesian Society of Agronomy Branch NTB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Hasil persilangan antara spesies kacang tunggak dengan kacang panjang akan menghasilkan generasi segregasi yang memiliki karakteristik kuantitatif beragam, sehingga perlu dilakukan seleksi untuk perbaikan sifat. Penelitian ini bertujuan untuk menduga besarnya koefisien korelasi genotipik antar sifat-sifat kuantitatif pada keturunan hasil persilangan dan untuk menentukan kriteria seleksi terutama untuk perbaikan daya hasil melalui seleksi tidak langsung. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Desember 2012 sampai Februari 2013 di Kecamatan Ampenan Kota Mataram. Rancangan yang diterapkan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK), yang terdiri dari 8 perlakuan, masing-masing diulang 5 kali. Perlakuan berupa keturunan hasil persilangan antar 4 varietas lokal kacang tunggak (Pamenang, Narmada, Gerung, dan Praya), dengan 2 varietas kacang panjang (berbiji cokelat dan berbiji hitam-putih), sehingga terdapat 40 unit percobaan. Terdapat 10 parameter yang diamati yaitu bobot biji kering per tanaman, jumlah polong per tanaman, jumlah biji per polong, bobot 10 butir biji, jumlah cabang produktif, diameter batang, diameter polong, tinggi tanaman, umur berbunga, dan umur panen. Hasil yang diperoleh adalah jumlah polong per tanaman dan diameter polong memiliki korelasi positif nyata dengan bobot kering per tanaman, dengan nilai koefisien korelasi genotifik 0,60 dan 0,63, 2) jumlah polong per tanaman dan didukung oleh diameter polong dapat digunakan sebagai kriteria seleksi tidak langsung untuk perbaikan daya hasil melalui program pemuliaan tanaman. ABSTRACT Interspecific hybridization between cowpea and long beans will produce generations of segregation that has a variety of quantitative characteristics, so it needs to be selected to repair the properties. The objectives of this research were to estimate coefficient of genotypic and phenotypic correlation among quantitative characters of hybrids and to determine the selection criteria, especially for the improvement of yield through indirect selection. The research was conducted from December 2012 until February 2013 in the District Ampenan Mataram. The design is applied to randomized block design (RBD), which consists of 8 treatments, each repeated 5 times. The treatments consisted interspesific hibrydization of four local varieties cowpea (Pamenang, Narmada, Gerung, and Praya), with two varieties of long beans (seeds brown and black-and-white seed), so there are 40 experimental units. There are 10 parameters was observed that weight of seed per plant, number of pods per plant, number of seeds per pod, weight of seed 10 grains, the number of productive branches, stem diameter, pod diameter, plant height, days to flowering, and harvest. The result is the number of pods per plant and pod diameter has a real positive correlation with weight of seeds per plant has positive significant genotific of 0,60 and 0,63 and number of pods per plant and pods supported by the diameter can be used as selection criteria are not directly for yield improvement through plant breeding programs.
PERTUMBUHAN BIBIT GAHARU PADA BEBERAPA JENIS NAUNGAN Akhmad Zubaidi; Nihla Farida
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy Vol 1 No 2 (2008): Jurnal Crop Agro
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram and Indonesian Society of Agronomy Branch NTB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini merupakan suatu penelitian eksplorasi yang dilakukan di Laboratorium Lapangan dan Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Mataram tentang upaya perbaikan pembibitan tanaman gaharu dengan perlakuan naungan. Pemakaian naungan yang tepat dan sesuai diharapkan dapat memperbesar keberhasilan pembibitan gaharu yang sejauh ini masih merupakan salah satu kendala pengembangan tanaman gaharu di pulau Lombok. Pada penelitian ini dilakukan pemberian beberapa jenis naungan untuk bibit gaharu, berupa anyaman daun kelapa, kanopi pohon mahoni, plastik hitam, rumah kaca, paranet, dan tanpa naungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis naungan yang dapat mengurangi intensitas sinar matahari sampai 50% dan dapat mengurangi peningkatan temperatur sekitar bibithingga tidak melampaui 30oC, yaitu naungan anyaman daun kelapa, kanopi pohon mahoni, dan plastik hitam memberikan hasil pertumbuhan bibit yang lebih baik dibanding naungan rumah kaca, dan paranet. Hal ini ditunjukkan oleh laju pertumbuhan biomassa kering, biomassa basah, tinggi tanaman, jumlah daun, dan panjang akar yang lebih besar persentasenya. Perlakuan tanpa naungan menyebabkan bibit gaharu sangat tertekan pertumbuhannya sehingga mengalami kematian 70 hari setelah perlakuan. ABSTRACT An explorative experiment was conducted in field laboratory and glass house of Faculty of Agriculture The University of Mataram, to develop agarwood seedling preparation with shading treatments. Providing good seedling environment by using appropriate shading will increase seedling vigour, hence the successful of transplanting will be higher as well. Seedlings is one of agarwood plantation constrain in Lombok. In this experiment, agarwood seedlings were treated with 6 different shading materials, as follows: plaited coconut leaves, mahagony canopy, black polyethylene film, glass house, net house, and without shading. Result showed that shadings which can screen sunlight intensity until 50% also can prevent temperature reach 30oC or higher in seddling area, ie. coconut leaves, mahagony canopy, and black polyethylene film, gave a better seedling quality than other shading materials. Better growth of seedlings showed by a higher growth rate in term of biomass, leaves number, and root length. Seedling under direct sunlight was died after 70 days of treatment.
UJI DAYA HASIL JAGUNG HIBRIDA DAN BERSARI BEBAS PADA LAHAN TEGALAN DENGAN SISTEM AGROEKOTEKNOLOGI SEDERHANA DI KECAMATAN PRINGGABAYA Ida Nurlaili; I Wayan Sutresna2; Dwi Ratna Anugrahwati2
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy Vol 11 No 1 (2018): Jurnal Ilmiah Budidaya Pertanian
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram and Indonesian Society of Agronomy Branch NTB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.463 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil 8 varietas jagung yang terdiri dari 4 jagung Hibrida ( Bisi 2, Bisi 18, Bisi 222 dan NK 22), dan 4 Jagung Bersari bebas (C0, C2, Lamuru dan Arjuna) pada lahan tegalan di Kecamatan Pringgabaya. Penelitian ini telah dilaksanakan di lahan milik Petani Dusun Leper, Desa Gunung Malang, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur yang berlangsung dari bulan Mei sampai Agustus 2013. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan percobaan di lapangan. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri atas 8 perlakuan varietas jagung yaitu V1 (C0), V2 (C2), V3 (Lamuru), V4 (Arjuna), V5 (Bisi 2), V6 (Bisi 18), V7 (Bisi 222), V8 (NK 22), setiap perlakuan diulang 3 kali, sehingga diperoleh 24 unit percobaan. Parameter yang diamati adalah : 1) Umur Keluar Bunga Jantan, 2) Umur Keluar Bunga Betina, 3) Umur Panen 4) Tinggi Tanaman, 5) Tinggi Letak Tongkol, 6) Diameter Batang, 7) Panjang Daun, 8) Lebar Daun, 9) Jumlah Daun, 10) Berat Brangkasan, 11) Panjang Tongkol, 12) Diameter Tongkol, 13) Berat Tongkol, 14) Berat 1000 Butir dan 15) Berat Kering Pipil. Data pengamatan dianalisis dengan menggunakan analisis ragam, uji lanjut dengan menggunakan Uji Jarak Berganda Duncan (UJBD) pada taraf 5% dan analisis Korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Varietas Hibrida Bisi 18, Bisi 2, Bisi 222 dan NK 22 tidak berbeda, dengan hasil berturut-turut (140,66 g/tan, 124,33 g/tan, 124,33 g/tan, 123,00 g/tan, disetarakan ke ton/ha dengan hasil berturut-turut (10,04 ton/ha ; 8,88 ton/ha ; 8,88 ton/ha ; dan 8,78 ton/ha). Sedangkan untuk Varietas bersari bebas Arjuna dan Lamuru memiliki daya hasil yang tidak berbeda dengan hibrida (131,33 g/tan ; 121,33 g/tan) disetarakan ke ton/ha menjadi 9,38 ton/ha ; 8,66 ton/ha dan lebih tinggi dari C2 dan C0 (61 g/tan ; 55 g/tan) disetarakan ke ton/ha menjadi 4,35 ; 3,93 ton/ha. ABSTRACT The purpose of this experiment is to observe growth and yield potensial of 8 maize varieties : 4 hybird varieties (Bisi 2, Bisi 18, Bisi 222 and NK 22) and 4 composite varieties (C0, C2, Lamuru and Arjuna) in dry land of Pringgabaya Subdistrict. This experiment was done from May to Augst 2013 in the Leper, Pringgabaya Subdistrict, East Lombok District. Experimental design used was Randomized Complete Block Design (RCBD) with 8 varieties of maize as treatments. The Varieties are V1 (C0), V2 (C2), V3 (Lamuru), V4 (Arjuna), V5 (Bisi 2), V7 (Bisi 18), V7 (Bisi 222), V8 (NK 22), with three replications, to get 24 experiment units. The growth and yield parameters observed are the male flowering age, the female flowering age, maturity age, plant height, cob height, rod diameter, leaf length, leaf width, leaf number, biomass, cob length, cob diameter, cob weight, 1000 seed weight, grain weight. The data are analyzed by analysis of variance, if there are significant difference, continued by Duncan Multiple Range Test (DMRT) at 5 % and correlation analysis. The results of the experiment show that yield of hybird varieties Bisi 18, Bisi 2, Bisi 222 and NK 22 are not significantly different (140,66 g/plant ; 124,33 g/plant ; 124,33 g/plant ; 123 g/plant) converted to (10,44 ton/ha ; 8,88 ton/ha ; 8,88 ton/ha ; 8,78 ton/ha) respectively, whereas for composite varieties Arjuna and Lamuru showed no significant different result with hybird varieties (131,33 g/plant and 121,33 g/plant) or 9,38 ton/ha and 8,66 ton/ha, wich are higher yields than C2 (61 g/plant) and C0 (55 g/plant) 4,35 ton/ha and 3,93 ton/ha.
PERTUMBUHAN DAN KUALITAS BIBIT JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) ASAL STEK BATANG PADA BERBAGAI PANJANG DAN DIAMETER Bambang B. Santoso
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy Vol 3 No 1 (2010): Jurnal Crop Agro
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram and Indonesian Society of Agronomy Branch NTB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pengembangan teknik perpanyakan tanaman secara vegetatif yang efisien akan memberikan keuntungan pada industri pembibitan untuk menseleksi dan memproduksi beberapa klon tanaman dengan karakter yang diinginkan. Oleh karena itu, dua percobaan berikut dilakukan untuk mencari teknik perbanyakan vegetatif jarak pagar dengan menggunakan stek batang yang berbeda ukuran. Percobaan telah dilakukan selama September – Desember 2007. Percobaan pertama adalah panjang stek (20 cm, 25 cm, dan 30 cm) dengan masing-masing diameter stek berukuran 2.5 – 3.0 cm. Percobaan kedua adalah diameter stek (3 cm, 2.5-2.9 cm, 2.0-2.4 cm, and 1.5-1.9 cm) dengan masing-masing panjang stek 30 cm. Masing-masing percobaan didesain menurut in Completely Randomized Design dengan ulangan 3 dan setiap ulangan terdiri atas 25 bibit. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa pertumbuhan stek bervariasi tergantung pada ukuran panjang dan diameter stek. Akan tetapi, pertumbuhan bibit tanaman jarak pagar yang baik dengan daya adaptasi yang baik pula setelah penanaman di lapang diperoleh dari bibit yang berasal dari stek dengan panjang 20 – 30 cm dan juga bibit yang berasal dari stek dengan diameter 2.0 – 2.9 cm. ABSTRACT Development of efficient techniques for asexual propagation would benefit the nursery industry for selection and production of particular clones with desirable characters. Therefore, two following studies were conducted to develop a protocol for vegetative propagation of physic nut by stem cutting in different size of cut from September until December 2007. The first experiment was dealt with stem cutting length (20 cm, 25 cm, and 30 cm) with the same size of diameter (2.5-3.0 cm), and the second experiment was dealt with diameter of stem cutting (3 cm, 2.5-2.9 cm, 2.0-2.4 cm, and 1.5-1.9 cm) with the same size of length (30 cm). Each of experiment was designed in Completely Randomized Design with three replications and contained 25 seedlings of each. The results show that cutting growth varied depending on length and diameter of stem cutting. However, better seedlings growth and better survival of young plants of physic nut can be obtained from stem cutting with 20-30 cm in length and stem cutting with 2.0-2.9 cm in diameter.
PENGUJIAN KADAR ANTOSIANIN PADI GOGO BERAS MERAH HASIL KOLEKSI PLASMA NUTFAH SULAWESI TENGGARA Ni Wayan Sri Suliartini; Gusti R. Sadimantara; Teguh Wijayanto dan Muhidin1
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy Vol 4 No 2 (2011): Jurnal Crop Agro Pertanian
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram and Indonesian Society of Agronomy Branch NTB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Antosianin adalah senyawa fenolik yang bertindak sebagai antioksidan, dibutuhkan untuk tanaman itu sendiri dan nutrisi penting bagi kesehatan manusia. Pigmen antosianin menyebabkan warna merah atau biru, dan bahkan berwarna hitam ketika antosianin kandungan tinggi. Warna biru merah atau gelap terjadi tidak hanya pada pericarp dan tegmen, tetapi juga pada seluruh bagian padi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kandungan antosianin pada padi gogo beras merah lokal Sulawesi Tenggara. Semua genotipe padi gogo yang digunakan dalam penelitian ini dikumpulkan dari beberapa daerah sentra penanaman padi di Sulawesi Tenggara. Analisis kandungan antosianin beras dihitung berdasarkan metode Shi et al., (1992). Analisis dilakukan di Laboratorium Analisis Pangan Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Bali. Hasil analisis menunjukkan bahwa sembilan genotipe ("Paebiu Tamalaki, Paebiu Kolopua, Pae Tanta Mohalo, Paebiu Tamalaki Mataiwoi, Paebiu Sitoro, Paebiu Tamalaki Pewutaa, Paebiu Kolopua Kosebu, Ranggo Hitam, dan Hitam Lapodidi") memiliki kandungan antosianin tinggi, satu genotipe ("Ereke-1") memiliki kandungan antosianin sedang dan dua belas genotipe memiliki kandungan antosianin rendah. ABSTRACT Anthocyanin is a phenolic compound acting as an antioxidant that is necessary for plant itself and is important for human’s health. Anthocyanin pigment causes a red or blue colour, and even black when it is in a high content. Red or dark blue colour occurs not only on pericarp and tegmen, but also on all parts of paddy rice. This research was aimed to determine the variability of anthocyanin content on red up-land rice of Southeast Sulawesi. All up-land rice genotypes used in this research were collected from several up-land rice growing areas in Southeast Sulawesi. The rice kernels were analysed for their anthocyanin content based on the method of Shi et al., (1992). The analysis was conducted in the Food Analysis Laboratory of Agricultural Technology Faculty, University of Udayana, Bali. Analysis results showed that red rice of nine genotypes (“Paebiu Tamalaki, Paebiu Kolopua, Pae Tanta Mohalo, Paebiu Tamalaki Mataiwoi, Paebiu Sitoro, Paebiu Tamalaki Pewutaa, Paebiu Kolopua Kosebu, Ranggo Hitam, and Hitam Lapodidi”) had high anthocyanin content, one genotype (“Ereke-1”) had medium anthocyanin content and twelve genotypes had low anthocyanin content.
EVALUASI PENGARUH RESIDU BIOCHAR DAN DOSIS NITROGEN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KEDELAI (Glycine max. L. merill.) PADA TANAH BERTEKSTUR LEMPUNG BERPASIR (SANDY LOAM) Ahyar Rosidi, Mulyati dan Sukartono
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy Vol 9 No 1 (2016): jurnal Crop Agro Januari 2016
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram and Indonesian Society of Agronomy Branch NTB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Produktivitas tanah yang rendah, miskin bahan organik tanah, defisiensi N, kemampuan meretensi air rendah merupakan karakteristik tanah bertekstur lempung berpasir yang menjadi faktor pembatas terhadap ketersediaan hara dalam tanah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka diperlukan pembenahan tanah seperti penggunaan biochar dari berbagai limbah pertanian (batang tembakau, tempurung kelapa dan sekam padi). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh residu biochar dan dosis nitrogen terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai pada tanah bertekstur lempung berpasir. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental yaitu dengan melakukan penelitian di Rumah Kaca. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial terdiri atas dua faktor yaitu Biochar dan Dosis Nitrogen. Biochar terdiri atas empat perlakuan yaitu: B0 (tanpa pemberian biochar), B1 (Biochar batang tembakau), B2 (biochar sekam padi) dan B3 (biochar tempurung kelapa) sedangkan Nitrogen terdiri atas tiga takaran yaitu: N0 (tanpa pemberian N), N1 (50 kg/ha) dan N2 (100 kg/ha). Masing-masing perlakuan diulang tiga kali sehingga diproleh tiga puluh enam pot percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, masih ada pengaruh residu perlakuan pemberian biochar dan Nitrogen terhadap beberapa sifat kimia tanah yaitu kandungan C-Organik tanah, kadar N-Total tanah dan pH tanah. Residu perlakuan pemberian biochar ke dalam tanah memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan tanam yakni jumlah daun dan jumlah biji. Dari semua perlakuan biochar, residu biochar batang tembakau paling tinggi memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap beberapa parameter tanah yaitu pH, C-Organik, N-Total, Jumlah daun dan Jumlah Biji. ABSTRACT Low soil productivity, poor soil organic matter, N deficiency, low water retention ability is characteristic of sandy loam textured soils become a limiting factor on the availability of nutrients in the soil. To overcome these problems, it is necessary to reform the ground such as the use of biochar from various agricultural wastes (stem tobacco, coconut shells and rice husks). This study aimed to evaluate the residual effect of biochar and doses of nitrogen on the growth and yield of soybean crops in sandy loam soil. The method used is the experimental method is to conduct research in the Greenhouse he design used was a completely randomized design (CRD) factorial design consisting of two factors: Biochar and nitrogen doses. Biochar is made up of four treatments, ie: B0 (without giving biochar), B1 (Biochar tobacco stems), B2 (rice husk biochar) and B3 (biochar coconut shell) while Nitrogen consists of three doses, namely: N0 (without giving N), N1 (50 kg / ha) and N2 (100 kg / ha). Each treatment was repeated three times so diproleh thirty-six pot experiment. The results showed that, there is still residual effect of biochar treatment provision and Nitrogen on some chemical properties of soil organic C content of the soil, levels of N-total soil and soil pH. Treatment residues into the soil biochar provision giving effect to the growth of the plant leaf number and the number of seeds Of all the treatments biochar, biochar residues highest tobacco rod provides a significantly different effect on some soil parameters, namely pH, organic C, N-total, number of leaves and the amount of seeds.
KAJIAN KERAGAMAN GENETIK PADA POPULASI F2 HASIL PERSILANGAN BLEWAH (Cucumis melo var cantalupensis) DENGAN MELON (Cucumis melo L.) Misfalah Misfalah; Lestari Ujianto; Dwi Ratna Anugrahwati
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy Vol 10 No 2 (2017): Jurnal Crop Agro Juli 2017
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram and Indonesian Society of Agronomy Branch NTB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.109 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kergaman genetik pada populasi F2 hasil persilangan blewah dengan melon. Percobaan ini dilakukan di Kebun Koleksi dan Hibridisasi, Kelurahan Pejeruk, Kecamatan Ampenan pada bulan Oktober 2015 sampai Januari 2016. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan yaitu G1 (P1 Blewah Lonjong), G2 (P2 Melon Putih), G3 (F2 BLXMP) dan G4 (F2 MPXBL). Perlakuan G1 dan G2 diulang sebanyak 4 kali sedangkan perlakuan G3 dan G4 diulang sebanyak 16 kali sehingga diperoleh 40 unit percobaan. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis keragaman, koefisien keragaman genetik dan heritabilitas yang diduga berdasarkan analisis keragaman dan metode Mahmud-Kramer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragaman genetik pada populasi F2 hasil persilangan blewah dengan melon beragam dari nilai yang paling tinggi (36%) sampai paling rendah (0,2%), poulasi F2 keragamannya lebih besar dibandingkan dengan kedua tetuanya. Nilai heritabilitas yang diduga berdasarkan metode Mahmud-Kramer beragam, yang tegolong rendah yaitu jumlah bunga jantan (3,7%) dan jumlah cabang produktif (17%), yang tergolong sedang pada umur bunga jantan (44%), kadar gula (25%brix), dan bobot buah segar (28%), sedangkan yang tergolong tinggi panjang tanaman (79%), jumlah bunga betina (91%), umur bunga betina (92%), umur panen (74%), diameter batang (89%), diameter buah (54%) dan panjang buah (72%).Nilai heritabilitas yang diduga berdasarkan analisis keragaman yang tergolong rendah yaitu umur bunga jantan (9%), umur panen (10%), diameter batang (9,5%), bobot buah segar (10%), panjang buah (9,5%) dan jumlah cabang produktif (6,8%), yang tergolong sedang jumlah bunga jantan (25%) dan kadar gula (30%), sedangkan yang tergolong tinggi hanya pada diameter buah (56%). ABSTRACT The objective of this research was to study the genetic variation on F2 population resulted of hybridization between cantaloupe and melon. This research was conducted in the Collection and hybridization Garden, Pejeruk Village, Ampenan District in October 2015 to January 2016. The experimental design used was completely randomized design (CRD), which consists of 4 treatments ie: G1 (P1 Cantaloupe Oval), G2 (P2 Melon white), G3 (F2 BLxMP) and G4 (F2 MPxBL). G1 and G2 treatments were repeated 4 times while the G3 and G4 treatments were repeated 16 times thus obtained 40 experimental units. The data were analyzed using analysis of variance, genetic variation coefficients and heritability estimated based on analysis of variance and Mahmud-Kramer method. The results of this research showed that the genetic variation on F2 population of hybridization between cantaloupe and melon was varywith the highest scores (36%) to the lowest score (0.2%), the variation on F2 population was greater than their parents. Heritability values ​​ estimated based on Mahmud-Kramer method was vary, the lowest score was on the number of male flowers (3.7%) and the number of productive branches (17%), classified as medium score was on the age of male flowers (44%), sugar content (25% brix), and the weight of fresh fruit (28%), while a high score was plant length (79%), the number of female flowers (91%), the age of the female flowers (92%), harvesting day(74%), stem diameter (89% ), fruit diameter (54%) and fruit length (72%). Heritability Value estimated based on analysis of variance classified as low level was age of male flowers (9%), harvesting date (10%), stem diameter (9.5%), the weight of the fresh fruit (10%), fruit length (9.5%) and the number of productive branches (6.8%). classified as moderate was amount of male flowers (25%) and sugar (30%), while the high level was only in fruit diameter (56%).
PENGARUH KULTUR TEKNIS TERHADAP PERKEMBANGAN PENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI PADA BIBIT TANAMAN Acacia crassicarpa Ni Made Laksmi Ernawati
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy Vol 2 No 2 (2009): Jurnal Crop Agro
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram and Indonesian Society of Agronomy Branch NTB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kultur teknis yang diterapkan pada pembibitan tanaman A. crassicarpa di Pelalawan Riau mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman sehingga berpengaruh juga terhadap perkembangan penyakit hawar daun bakteri. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh kultur teknis terhadap perkembangan penyakit hawar daun bakteri seperti munculnya gejala awal penyakit, kejadian dan keparahan penyakit pada tahun 2004 dan 2007. Penelitian telah dilakukan di pembibitan Pelalawan Riau menggunakan metode survei dengan teknik wawancara dan dengan cara mengamati dan menghitung kejadian dan keparahan penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan kultur teknis yang berbeda seperti penggunaan media cocopeat, pupuk NPK hidrokompleks dan M-phospat, penjarangan tanaman, tabung dengan lubang hanya di bagian bawah, penambahan sodium hipoklorid pada air sumber irigasinya, sanitasi lingkungan, lamanya bibit di bedengan dengan naungan, dan sistem penyiraman, menyebabkan terjadinya penurunan kejadian dan keparahan penyakit hawar daun bakteri pada tahun 2007 dibandingkan dengan tahun 2004 yang menerapkan kultur teknis berbeda. Gejala awal penyakit hawar daun bakteri muncul pada bibit berumur 5 minggu pada tahun 2004 dan bibit berumur 6 minggu pada tahun 2007. ABSTRACT Cultural techniques applied on A. crassicarpa nursery in Pelalawan Riau affected growth and development of A. crassicarpa seedlings and hance development of bacterial leaf blight disease on the nursery is affected as well. The research aim was to know the effect of cultural techniques on development of bacterial leaf blight disease such as appearance of first symptom, disease incidence and severity in year 2004 and 2007. The research was conducted in Pelalawan Riau nursery by using survey method with interview technique and by observing and counting disease incidence and severity. The results show that application of different cultural techniques i.e. the used of cocopeat media, NPK hydrocomplex and M-phosphate fertilizers, spacing, poly tubes, addition of sodium hypochloride to water source, field sanitation, period of seedlings under shade bed, and watering system caused a decrease on disease incidence and severity in year 2007 compared to those in 2004 that applied different cultural techniques. First symptom of bacterial leaf blight disease was appeared on 5 week-old seedling in year 2004 and 6 week-old seedling in year 2007.
KETAHANAN BEBERAPA GALUR KACANG TANAH HASIL KULTUR IN VITRO TERHADAP PENYAKIT LAYU CENDAWAN Fusarium sp Sumarjan .; A. Farid Hemon
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy Vol 4 No 1 (2011): Jurnal Crop Agro pertanian
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram and Indonesian Society of Agronomy Branch NTB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketahanan beberapa galur kacang tanah hasil kultur in vitro terhadap penyakit layu Fusarium sp. Seleksi in vitro diawali dengan menginduksi embrio somatik (ES) dan variasi somaklonal kacang tanah cv. Lokal Bima. Seleksi in vitro untuk ketahanan terhadap penyakit layu fusarium dilakukan pada populasi ES dengan media selektif yang mengandung filtrat kultur Fusarium sp. Setelah dilakukan seleksi in vitro, diperoleh populasi ES yang insensitif terhadap media filtrat kultur. Embrio somatik insensitif ini dikecambahkan dan menghasilkan planlet. Planlet-palnlet ini ditanam untuk memproduksi tanaman generasi R1 dan R2. Tanaman generasi R2 inilah yang akan dievaluasi ketahanannya terhadap penyakit layu cendawan Fusarium sp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kultur in vitro telah mampu meningkatkan ketahanan tanaman kacang tanah cv Lokal Bima dari rentan menjadi agak resisten terhadap penyakit layu cendawan Fusarium sp. Galur GFK 10 menunjukkan agak resisten terhadap infeksi cendawan Fusarium sp dan menghasilkan jumlah polong kering terbanyak 13.5 polong per tanaman dan polong kering terberat 786.5 g/1.1 m2. ABSTRACT This research aimed to investigating resistance of peanut cultivars resulted in vitro culture to fusarium infection. The experiment was inisiated with induction of somatic embryos (SE) and somaclonal variation from peanut cv. Local Bima in MS medium containing Picloram. Medium of MS that added culture filtrate 30% was used as selective agent for resistance to fusarium. After in vitro selection will be gotten insensitive SEs population on culture filtrate medium, and insensitive SEs will be germinated to produce plantlets. Experiment had been done to produced R1 and R2 plant generationt. R2 plants generation had been evaluated resistance level of fusarium infection in Glass House and in farmer field. Result of the experiment showed that in vitro culture had increased peanut cv. Local Bima resistance from susceptible become moderate resistant to Fusarium infection. Peanut line GFK 10 showed moderate resisntant to Fusarium infection with more dry pod number 13.5 pod per plant and more dry pod weight 786.5 g/1.1 m2.
EVALUASI KARAKTERISTIK KETURUNAN HASIL PERSILANGAN ANTARA JAGUNG LOKAL BERBIJI UNGU (Zea mays L.) DENGAN JAGUNG MANIS BERBIJI PUTIH BERNAS (Zea mays saccharata Sturt) Hanafi .; Lestari Ujianto; Idris .
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy Vol 5 No 2 (2012): Jurnal Ilmiah Crop Agro budidaya Pertanian
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram and Indonesian Society of Agronomy Branch NTB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik keturunan hasil persilangan antara jagung lokal ungu dengan jagung manis yang memiliki daya hasil tinggi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode experimental dengan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas 6 perlakuan, 2 tetua dan 4 keturunannya yaitu; P1= Tetua jagung berbiji ungu, P2= Tetua jagung manis berbiji putih bernas, P3= Keturunan pertama (F1) yang berbiji ungu hasil persilangan jagung berbiji ungu dengan jagung manis berbiji putih bernas, P4= Keturunan pertama (F1) yang berbiji putih hasil persilangan jagung berbiji ungu dengan jagung manis berbiji putih bernas, P5= Keturunan pertama (F1) yang berbiji putih hasil persilangan jagung manis berbiji putih bernas dengan jagung berbiji ungu, P6= Keturunan pertama (F1) yang berbiji ungu hasil persilangan jagung manis berbiji putih bernas dengan jagung berbiji ungu. Data hasil pengamatan dianalisis dengan analisis keragaman (ANOVA), diuji lanjut dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1). Warna biji untuk F1 hasil persilangnan antara jagung lokal berbiji ungu dengan jagung manis berbiji putih bernas adalah putih, sedangkan warna batang dan warna tongkol sama seperti tetua jantannya. 2). Karakteristik kuantitatif dari F1 dan resiproknya yang berkisar antara kedua tetuanya. ABSTRACT The purpose of this research was to know the characteristics of progenies result of crossing between local corn with purple seeds and sweet corn with fill out white seeds which have high yield ability. The method used in this research was experimental method with complete random design consists of six treatments, two as parents and four as progenies. They are described as follows: P1= the parent of corn with purple seeds, P2= the parent of sweet corn with fill out white seeds, P3= first progeny (F1) of corn with purple seeds result of crossing between corn with purple seeds and corn with fill out wide seeds, P4= first progeny (F1) of corn with white seeds result of crossing between corn with purple seeds and corn with fill out white seeds, P5= reciprocal progeny of corn with white seeds result of crossing between corn with fill out white seeds and corn with purple seeds, P6= reciprocal progeny of corn with purple seeds result of crossing between corn with fill white seeds and corn with purple seeds. The observed data were analyzed using analysis of variance ( ANOVA) and Duncan Multiple Range Test (DMRT) if the treatment is significantly different in 5% significant level. Result of the research showed that: 1). Seed colour of F1 result of crossing between local corn with purple seeds and sweet corn with fill out white seeds is white, while stem colour and ear colour was same as male parent. 2). Quantitative characteristics of F1 and reciprocal were range between their parents.

Page 8 of 21 | Total Record : 209