cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sukoharjo,
Jawa tengah
INDONESIA
IJMS - Indonesian Journal on Medical Science
ISSN : 24431249     EISSN : 23551313     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 224 Documents
Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Tenaga Teknis Kefarmasian Tentang Hepatitis B Di Kabupaten Sragen Anggraini, Truly Dian; Susilowati, Susilowati; Melati-Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional, Risna Intan
IJMS - Indonesian Journal on Medical Science Vol 8, No 1 (2021): IJMS 2021
Publisher : IJMS - Indonesian Journal on Medical Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Hepatitis B was a disease caused by hepatitis B virus infection and caused liver inflammation, and it can also resulted in chronic hepatitis, cirrhosis, and hepatocellular carcinoma. The resulted of Riskesdas in 2013 showed that hepatitis prevalence in Indonesia in 2013 by 1,2% increased twice compared to Riskesdas in 2007, which amount to 0,6%. The most common type of hepatitis that infected the population of Indonesia is hepatitis B by 21,8%. According to research conducted by Ogundele et al. (2017), the precautioned of any disease was proportional to knowledge, behavior, and practiced, hence oversight that resulted in the transmission of disease can be reduced by having good knowledge. Pharmaceutical Technical Personnel was one part of the health labor that had a role in pharmaceutical services. The purpose of this study was to established the level of knowledge of Pharmaceutical Technical Personnel about hepatitis B in Sragen Regency. This researched was classified of non-experimental researched by divided questionnaires and then analyzed descriptively about each respondent's characteristics and analyzed for the predictor factors. A total of Pharmaceutical Technical Workers is 123, there are 103 people (83.74%) who had a good knowledge categorized, and as many as 20 people (16.26%) had a poor knowledge categorized about hepatitis B, and the respondent's labor was the most significant predictorns.Keywords : Knowledge, Hepatitis B, Pharmaceutical Technical Personnel, Predictor Factors  Abstrak: Hepatitis B adalah penyakit yang disebabkan karena infeksi virus hepatitis B dan menyebabkan inflamasi pada hati, dapat juga berakibat hepatitis kronis, sirosis, dan karsinoma hepatoselular. Hasil Riskesdas tahun 2013 menunjukkan bahwa prevalensi hepatitis di Indonesia tahun 2013 sebesar 1,2% meningkat dua kali dibandingkan Riskesdas tahun 2007 yang sebesar 0,6%. Jenis hepatitis yang banyak menginfeksi penduduk Indonesia adalah hepatitis B sebesar 21,8%. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ogundele, dkk (2017), pencegahan penyakit apapun adalah sebanding dengan pengetahuan, sikap, dan praktik dan karenanya kelalaian yang mengakibatkan tertularnya penyakit dapat berkurang dengan pengetahuan yang baik. Tenaga Teknis Kefarmasian merupakan salah satu bagian dari tenaga kesehatan yang mempunyai peran dalam pelayanan kefarmasian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan Tenaga Teknis Kefarmasian tentang hepatitis B di kabupaten Sragen. Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik tipe cohort, dengan menyebar kuesioner kemudian dianalisis secara deskriptif mengenai masing-masing karakteristik responden dan di analisa untuk faktor prediktornya. Sejumlah 123 Tenaga Teknis Kefarmasian, terdapat 103 orang (83,74%) yang memiliki kategori pengetahuan baik dan sebanyak 20 orang (16,26%) memiliki kategori pengetahuan kurang baik tentang hepatitis B, dan tempat bekerja responden merupakan faktor prediktor yang paling signifikan.Kata kunci : Pengetahuan, Hepatitis B, Tenaga Teknis Kefarmasian, Faktor Prediktor
Daya Anthelmintik Ekstrak Etanol Daun Andong (Cordyline Fruticosa) Terhadap Cacing Gelang Ayam (Ascardia Galli) Secara In Vitro Chabibah, Umu; Hastuti - Poltekkes Bhakti Mulia, Siwi
IJMS - Indonesian Journal on Medical Science Vol 7, No 2 (2020): IJMS 2020
Publisher : IJMS - Indonesian Journal on Medical Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Andong leaves (Cordyline fruticose) contain phenol compounds, flavonoids, saponins, tannins, sesquiterpenes, and triterpenoids. The content of these compounds is thought to kill worms. The number of chicken roundworms used was 8 worms per treatment group. In this study there were 1 negative control (0.1 ml DMSO + NaCl 0.9% solvent), 1 positive control (5 ml pyrantel pamoate + 0.1 ml DMSO + 0.9% Nacl solvent), and 10 series of dose dilution, 1 gram of ethanol extract of andong leaves + 0.1 ml DMSO and diluted with 0.9% NaCl, counted the number of chicken worms that died during 24 hours of treatment then calculated the percentage of death by probit analysis using SPSS 16.0 for windows to determine the LC50 value of andong leaf extract. This research uses maceration method with the weight of 24.83 gram thick extract and the obtained obtained is 12.415% w / w. The results of the control (+) worm death time for each group (8 tails) were 8 hours, for control (-) worm death time in each group (8 tails) which was 18 hours, the results of the dose dilution series showed that for a concentration of 100 mg / ml (initial dose) causes the highest percentage of worm deaths, for a concentration of 0.1953125 mg / ml causes the lowest percentage of worm deaths. It can be concluded that the higher concentration of extract can cause high number of deaths in worms. The results of this study were analyzed using SPSS 16.0 for windows showing the LC50 was 19,248 mg / ml.Keywords: Cordyline fruticosa, anthelmintic power test, in vitro method, Ascardia galli. Abstrak: Daun andong (Cordyline fruticosa) mengandung senyawa Fenol, Flavonoid, Saponin, Tanin, Seskuiterpen, dan Triterpenoid. Dari kandungan senyawa tersebut diduga dapat membunuh cacing. Jumlah cacing gelang ayam yang digunakan adalah 8 ekor cacing tiap kelompok perlakuan. Pada penelitian ini terdapat 1 kontrol negatif (0,1 ml pelarut DMSO + NaCl 0,9%), 1 kontrol positif (5ml pirantel pamoat + 0,1 ml pelarut DMSO + 0,9% Nacl), dan 10 seri pengenceran dosis, 1 gram ekstrak etanol daun andong+ 0,1 ml DMSO dan dilakukan pengenceran dengan NaCl 0,9%, menghitung jumlah cacing ayam yang mati selama 24 jam perlakuan kemudian dihitung persentase kematiannya dengan analisis probit menggunakan SPSS 16.0 for windows untuk menentukan nilai LC50 ekstrak daun andong. Penelitian ini menggunakan metode maserasi dengan berat ekstrak kental 24,83 gram dan randemen yang didapat yaitu 12,415 % b/b. Hasil penelitian dari kontrol (+) waktu kematian cacing setiap kelompok (8 ekor) yaitu 8 jam, untuk kontrol (-) waktu kematian cacing pada setiap kelompok (8 ekor) yaitu 18 jam, Hasil dari seri pengenceran dosis menunjukan bahwa untuk konsentrasi 100mg/ml (dosis awal) menyebabkan prosentasi kematian tertinggi pada cacing, untuk konsentrasi 0,1953125 mg/ml menyebabkan prosentase kematian cacing dengan angka terendah. Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak dapat menyebabkan kematian dengan jumlah tinggi pada cacing. Hasil penelitian ini dianalisis menggunakan SPSS 16.0 for windows  menunjukan LC50  adalah 19,248 mg/mlKata kunci : Cordyline fruticosa, uji daya anthelmintik, metode in vitro, Ascardia galli.
Pemantauan Status Gizi pada Anak dengan HIV AIDS Cahyanto, Erindra Budi; Mulyani, Sri; Sukamto, Ika Sumiyarsi; Nugraheni, Angesti; Musfiroh-Universitas Sebelas Maret Surakarta, Mujahidatul
IJMS - Indonesian Journal on Medical Science Vol 8, No 1 (2021): IJMS 2021
Publisher : IJMS - Indonesian Journal on Medical Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The number of people with HIV-AIDS (Human Immunodeficiency Virus-Acquired Immunodefficiency Syndrome) continues to increase every year in line with the increase in sexual behavior outside of marriage. People with HIV / AIDS also transmit the virus to their children. One of the problems in children with HIV / AIDS is malnutrition. The research objective was to determine the development of the nutritional status of children with HIV / AIDS. The subjects were all HIV / AIDS children in Yayasan Lentera Surakarta. Time series research design, measuring the variable nutritional status at several times using the parameters of body weight for age. Data collection was carried out in July-September 2019. Bath scale measuring instrument. The number of subjects was nineteen people with the incidental sampling technique. Inclusion criteria included: people with HIV / AIDS, living in a shelter, allowed by a caregiver, aged 0-12 years, not being treated in a hospital during the study. Exclusion criteria: death, not following complete weight monitoring. During the study, no subjects withdrew or were excluded from the study. The results showed that eight children had normal nutritional status and eleven children were not normal. Different test with chi square test obtained p = 0.78. There was no difference in nutritional status between the first and second measurements. Managers need to make other efforts so that the nutritional status of children in holding centers can improve.Key words: monitoring, nutritional status, children, HIV AIDS Abstrak: Jumlah penderita HIV-AIDS (Human Immunodeficiency Virus-Aquired Immunodefficiency Syndrome) terus meningkat setiap tahunnya sejalan dengan terjadinya peningkatan perilaku seks di luar nikah. Orang dengan HIV/AIDS juga menularkan virus kepada anaknya. Salah satu masalah pada anak dengan HIV/ AIDS ini adalah status gizi kurang. Tujuan penelitian mengetahui perkembangan status gizi anak dengan HIV/AIDS. Subjek adalah seluruh anak HIV/AIDS di Yayasan Lentera Surakarta. Desain penelitian time series, mengukur  variabel status gizi di beberapa waktu dengan menggunakan parameter berat badan menurut umur. Pengambilan data dilakukan pada Juli-September 2019. Alat ukur timbangan bath scale. Jumlah subjek sembilan belas orang dengan teknik incidental sampling. Kriteria inklusi meliputi : penderita HIV/AIDS, tinggal di tempat penampungan, diijinkan oleh pengasuh, usia 0-12 tahun, tidak sedang mendapat perawatan di rumah sakit selama penelitian. Kriteria eksklusi  : meninggal, tidak mengikuti pemantauan berat badan secara lengkap. Selama penelitian tidak ada subjek yang mengundurkan diri maupun dikeluarkan dari penelitian. Hasil penelitian didapatkan delapan anak mempunyai status gizi normal dan sebelas anak tidak normal. Uji beda dengan uji chi square didapatkan p = 0,78. Tidak ada perbedaan status gizi antara pengukuran pertama dan ke dua. Pengelola perlu melakukan upaya lain agar status gizi anak dalam penampungan dapat meningkat.Kata kunci : Pemantauaan, status gizi, anak, HIV AIDS
Hubungan Antara Status Gizi Dengan Kejadian Anemia Pada Remaja Putri Janah, Miptakul; Ningsih-Politeknik Kesehatan Bhakti Mulia, Surati
IJMS - Indonesian Journal on Medical Science Vol 8, No 1 (2021): IJMS 2021
Publisher : IJMS - Indonesian Journal on Medical Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: A girl had a higher risk to get anemia because they consumed food that have a lower iron, usually girl wanted to look slim so that they limited to eaten food and girl had menstruation every month. If the habit of their eaten wrong will give rise to a problem like have a skinny body and indication of anemia. This research had a goal for find out the relation between nutritional status with indication of anemia on the girl. This research uses observational analityc methods with have approach on cross sectional of the seventy nine respondents. The process of taking the respondents was held by purposive sampling methods and data collection that use a scale, microtoise and digital hemometer. Research results of seventy nine respondents showed that most of them had an abnormal nutritional status which is they had a skin body 31(39,2%) and fat 11(14,0%). And almost half of all respondents got a indication of anemia. Data analysis results with chi square test (x²) showed that there was a relation between nutritional status with indication of anemia with p value= 0,000 (<0,05), r hitung(34,700) > r tabel(5,991). Girl who had a skin body tend havean indication of anemia and girl who had a normal nutritional status and who had a fat body tend haven't an indication of anemia.Keywords : nutritional status, anemia, adolescent girls Abstrak : Remaja putri mempunyai resiko lebih tinggi mengalami anemia karena mereka mengkonsumsi makanan yang zat besinya sedikit, serta remaja putri mengalami menstruasi setiap bulan. Jika kebiasaan makannya sering keliru akan menimbulkan masalah yaitu status gizi yang kurus dan mengalami anemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan kejadian anemia pada remaja putri ]. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional terhadap 79 responden. Pengambilan responden dilakukan dengan metode purposive sampling dan pengumpulan data menggunakan timbangan, microtoise dan hemometer digital. Hasil penelitian dari 79 responden menunjukkan sebagian besar memiliki status gizi abnormal yaitu kurus 31(39,2%) dan gemuk 11(14,0%). Dan hampir setengah dari jumlah responden mengalami anemia (43,0%). Hasil analisa data dengan uji chi square ( 2)menunjukkan ada hubungan antara status gizi dengan kejadian anemia dengan pvalue = 0,000 (<0,05), rhitung (34,700) > rtabel (5,991). Remaja putri yang mempunyai status gizi kurus cenderung mengalami anemia dan remaja putri dengan status gizi normal dan gemuk cenderung tidak mengalami anemia.Kata kunci : status gizi, anemia, remaja putri
Upaya Menurunkan Tingkat Kecemasan Melalui Aromaterapi Orange Pada Asuhan Keperawatan Pre Operasi Apendiktomi Lusyana, Vera; Sarifah, Siti; Wardani - Prodi DIII Keperawatan ITS PKU Muhammadiyah Surakarta, Ika Kusuma
IJMS - Indonesian Journal on Medical Science Vol 7, No 2 (2020): IJMS 2020
Publisher : IJMS - Indonesian Journal on Medical Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: In 2013 the number of people with appendicitis in Indonesia reached 591.819 people and increased in 2014 by 596.132 people. Management of appendicitis is an appendectomy (surgical therapy).  Anxiety in patients must be overcome because it can cause physiological changes that will hinder the handling of surgery. One of the best anxiety can be reduced by aromatherapy orange relaxation techniques. Objective : Identify the benefits of orange aromatherapy in reducing anxiety in patients pre appendectomy. The paper uses case study design. Located in RSUD Pandan Arang Boyolali, from January 20 to February 29, 2019. Methods of data collection using the method of observation, measurement, and documentation methods. Case study instrument uses format of medical surgical nursing care, nursing kit, Zung Self-Rating Anxiety Scale (SAS/SARS), orange aromatherapy relaxation technique SOP. Obtained a decrease in the scale of anxiety after being given orange aromatherapy. The first patient’s scale of anxiety from 51 to 42, experienced a 9 point decrease. The second patient’s scale of anxiety from 48 to 43, experienced a 5 digit decline. Patients from the three anxiety scale from 45 to 41, experienced a decrease in 4 numbers. From the research conducted, the results of aromatherapy orange relaxation techniques can reduce the level of anxiety in patients pre appendectomy. Orange aromatherapy can be used as an alternative in reducing the anxiety level of patients in preoperative appendectomy.Key words : Appendectomy, Anxiety, Orange Aromatherapy Abstrak: Tahun 2013 jumlah penderita apendisitis di Indonesia mencapai 591.819 orang dan meningkat pada tahun 2014 sebesar 596.132 orang. Penatalaksanaan dari apendisitis adalah apendiktomi (terapi bedah). Pasien yang akan mengalami pembedahan umumnya disertai ansietas. Kecemasan pada pasien harus diatasi karena dapat menimbulkan perubahan-perubahan fisiologis yang akan menghambat dilakukannya tindakan operasi. Kecemasan dapat berkurang salah satunya dengan teknik relaksasi aromaterapi orange. Tujuan : Mengidentifikasi manfaat aromaterapi orange dalam menurunkan kecemasan pada pasien pre operasi apendiktomi. Penelitian diskriptif ini menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan. Tempat studi kasus di RSUD Pandan Arang Boyolali, pada 20 Januari sampai dengan 29 Februari 2019. Metode pengumpulan data menggunakan metode observasi, pengukuran, dan dokumentasi. Instrumen studi kasus ini menggunakan format asuhan keperawatan medikal bedah, nursing kit, lembar pengukuran Zung Self-Rating Anxiety Scale (SAS/SARS), SOP teknik relaksasi aromaterapi orange. Hasil : Didapatkan hasil adanya penurunan skala kecemasan setelah diberikan aromaterapi orange. Pasien pertama skala kecemasan dari 51 menjadi 42, mengalami penurunan 9 angka. Pasien kedua skala kecemasan dari 48 menjadi 43, mengalami penurunan 5 angka. Pasien ketiga skala kecemasan dari 45 menjadi 41, mengalami penurunan 4 angka Dari penelitian yang dilakukan didapatkan hasil teknik relaksasi aromaterapi orange dapat menurunkan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi apendiktomi. Aromaterapi orange bermanfaat dalam menurunkan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi apendiktomi. Kata kunci: appendiktomi, aromaterapi orange, kecemasan
Konseling Parenting Sebagai Upaya Menurunkan Kejadian Gangguan Psikologis Post Partum Ningsih - Poltekkes Bhakti Mulia, Surati
IJMS - Indonesian Journal on Medical Science Vol 7, No 2 (2020): IJMS 2020
Publisher : IJMS - Indonesian Journal on Medical Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract : Primipara have tendency experience of the post partum psychology problems, because limitted knowledge abaut  parenting. 50% of post partum have tendency to be post [artum blues and still be uncared by midwife. This study aimed to know the difference of Postpartum psychological disorders in intervention and control group.This was a randomized controlled trial with posttest-only control group design conducted at BPM Sri Rahayu Singkil Boyolali. A sample of postpartum mothers with gestational age ≥ 37 weeks was selected for this study by simple random sampling. The data on postpartum psychologi-cal disorder was measured by Edinburgh Postnatal Depression Scale and tested by in-dependent t-test. Result : Postpartum psychological disorders was lower in intervention group than control group and it was statistically significant (p = 0,01). Conclusion: Counseling of parenting is effective to reduce post partum psychological disorderKeywords :counseling, parenting, post partum psychological disorder Abstrak : Primipara mempuyai kesenderungan mengalami gangguan psikologis post partumdikarenakan kurangnya pengetahuan ibu dalam menghadapi peran barunya sebagai orang tua. 50% ibu post partum mempunyai kecenderungan mengalami post partum blues dan hal ini masih terabaikan oleh tenaga kesehatan khususnya bidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kejadian ganguan psikologis post partum pada kelompok perlakuan (dengan konseling parenting) dan kelompok kontrol. Penelitian ini menggunakan post tes-only control group design. Subyek penelitian adalah primigravida dengan umur kehmilan ≥ 37 minggu di BPM Sri Rahayu Singkil Boyolali dengan menggunakan simple random sampling. Instrumen yang digunakan adalah lembar EPDS (Edinburgh Postnatal Depression Scale) dan analisis data menggunakan independent sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian ganguan psikologis post partum pada kelompok perlakuan lebih rendah daripada kelompok kontrol. Analisis menggunakan independent sampe t-test didapatkan nilai p = 0,01. Kesimpulan : konseling parenting efektif menurunkan kejadian ganguan psikologis post partum. Kata kunci : Konseling, Parenting, Gangguan Psikologis Post Partum
Ekstraksi dan Penetapan Nilai SPF Ekstrak Etanol Beras Hitam (Oryza sativa L indica) Secara In Vitro dengan Metode Spektrofotometri Rejeki, Sri; Sukmajati, Firda; Ningsih-Politeknik Kesehatan Bhakti Mulia, Surati
IJMS - Indonesian Journal on Medical Science Vol 8, No 1 (2021): IJMS 2021
Publisher : IJMS - Indonesian Journal on Medical Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Black rice (Oryza sativa L. indica) contains flavonoid compounds which have antioxidant activity that can be used as sunscreen. Antioxidants can overcome the effects of major damage to human skin caused by free radicals which are a major factor in the aging process and skin tissue damage.This study purpose to extraction and determine the SPF value produced by black rice extract. This research was done by extracting black rice with a remaceration method using 96% ethanol,  and the SPF value of the extract was tested using UV-VIS spectrophotometry.The results of organoleptic extrac was viscous extract form,  purplish black color, the disthinctive smell of rice flour and bitter taste. The results of value determination of black rice extract at a concentration of 500 ppm, 600 ppm, 700 ppm, 800 ppm and 900 ppm were 8.02 ± 0.015 respectively; 10.22 ± 0.024; 13.43 ± 0.01; 17.57 ± 0.01; 20.50 ± 0.015. Based on the Food and Drug Administration (FDA) the SPF value is included in the moderate protection category because it has an SPF value between 12-30. Black rice extract has potential as a sunblock.Keyword : black rice, ethanol extract of black rice, Sunblock, SPF Abstrak. Beras hitam (Oryza sativa L. indica) mengandung senyawa flavonoid yang memiliki aktivitas sebagai  antioksidan yang dapat digunakan sebagai tabir surya. Antioksidan dapat mengatasi efek-efek kerusakan utama pada kulit manusia yag diakibatkan oleh radikal bebas yang merupakan faktor utama pada proses penuaan dan kerusakann jaringan kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengekatraksi dan mengetahui nilai SPF yang dihasilkan ekstrak etanol beras hitam. Ekstraksi beras hitam dilakukan dengan remaserasi menggunakan pelarut etanol 96%, ekstrak dievaluasi secara organoleptis, dihitung rendemen dan diuji nilai SPF menggunakan Spektrofotometri UV-VIS. Hasil evaluasi ekstrak beras hitam bentuk ekstrak kental, warna hitam keunguan, bau khas tepung beras dan rasa pahit dengan rendemen 0,84%b/b.. Hasil pengujian nilai SPF ekstrak beras hitam pada konsentrasi 500 ppm, 600 ppm, 700 ppm, 800 ppm dan 900 ppm masing-masing sebesar 8,02 ± 0,02; 10,22 ± 0,02; 13,43 ± 0,01; 17,57 ± 0,01; 20,50 ± 0,02.Ekstrak beras hitam berpotensi sebagai tabir surya.Kata kunci : Beras hitam, Ekstrak etanol beras hitam,Tabir surya, SPF.
Pengetahuan Dan Sikap Berhubungan Dengan Perilaku Pencegahan Covid-19 Pada Keluarga Usia Lanjut Di Wilayah Kecamatan Sukoharjo Yuliyanti-Politeknik Kesehatan Bhakti Mulia, Tutik
IJMS - Indonesian Journal on Medical Science Vol 8, No 1 (2021): IJMS 2021
Publisher : IJMS - Indonesian Journal on Medical Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The widespread spread of Covid-19 in families requires prevention efforts. Good knowledge and attitudes about preventing the transmission of Covid-19 will be able to show health care behavior in order to maintain health status, especially the elderly who are at risk of comorbidities. The purpose of this study was to analyze the relationship between knowledge and attitudes with Covid-19 prevention behavior in elderly families in the Sukoharjo district. This type of descriptive correlative research uses a cross sectional research design. The sampling technique used was purposive sampling and a sample of 37 elderly families who have a risk of comorbidities. The data analysis technique used was the Kendall'Tau correlation test. Results: There is a significant relationship between knowledge and Covid-19 prevention behavior in elderly families with a correlation coefficient of 0.384 p value: 0.003. There is a significant relationship between attitudes and Covid-19 prevention behavior in elderly families with a correlation coefficient of 0.5999 nial p: 0.000. Conclusion: Good knowledge and attitudes have a relationship with Covid-19 prevention behavior in elderly families..Keywords: covid-19, knowledge, attitude, behavior, family. Abstrak: Meluasnya penyebaran Covid-19 pada keluarga memerlukan upaya pencegahan. Pengetahuan dan sikap yang baik tentang pencegahan penularan Covid-19 akan dapat menunjukkkan perilaku pemeliharaan kesehatan guna mempertahankan status kesehatan terutama usia lanjut yang memiliki resiko penyakit penyerta. Tujuan penelitian ini menganalisis hubungan pengetahuan dan sikap dengan perilaku pencegahan Covid-19 pada keluarga lanjut usia di wilayah Kecamatan Sukoharjo. Jenis penelitian deskriptif korelatif menggunakan  rancangan penelitian cross sectional. Teknik sampling yang digunakan puposive sampling dan sampel 37 keluarga dengan usia lanjut  yang memiliki resiko penyakit penyerta. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji korelasi Kendall’Tau. Hasil : Ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan perilaku pencegahan Covid-19 pada keluarga usia lanjut dengan koeefisien korelasi sebesar 0,384 nilai p: 0,003. Ada hubungan yang signifikan antara sikap dengan perilaku pencegahan Covid-19 pada keluarga usia lanjut dengan koefisiensi korelasi sebesar 0,5999 nial p: 0,000.Simpulan : Pengetahuan dan sikap yang baik memiliki hubungan dengan perilaku pencegahan Covid-19 pada keluarga yang mempunyai usia lanjut.Kata Kunci : covid-19, pengetahuan, sikap, perilaku, keluarga
Hubungan Ketepatan Terminologi Medis Terhadap Keakuratan Kode Diagnosis Pasien Rujukan Berdasarkan ICD-10 Di Puskesmas Baki Sukoharjo Triwulan IV Tahun 2019 Pratama - Poltekkes Bhakti Mulia, Bangkit Ary
IJMS - Indonesian Journal on Medical Science Vol 7, No 2 (2020): IJMS 2020
Publisher : IJMS - Indonesian Journal on Medical Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The use of medical terminology is also one of the important things in supporting codingfication because it is a means of communication between medical professions, in writing a diagnosis must be in accordance with the correct terminology that is based on ICD-10. The purpose of this study was to determine the relationship between the accuracy of medical terminology and the accuracy of diagnosis codes for referral patients based on ICD-10 in Puskesmas Baki Sukoharjo in the fourth quarter of 2019. This type of research was analytic with a sample of 94 and a population of 1615 forms. The research instrument used observation guidelines, interviews and ICD-10 books. The results showed from a sample of 94 diagnoses and their codes, there were 27 (29%) precise terminology and 67 (71%) incorrect terminology, and an accurate outpatient diagnosis code of 24 (26%) and an inaccurate outpatient diagnosis code of 70 (74%) code. From the Chi-Square Test statistic, the p-value was 0.022. The conclusion of this study is that there is a relationship between the accuracy of medical terminology with the accuracy of the diagnosis code for referral patients based on ICD-10 in Puskesmas Baki Sukoharjo in the fourth quarter of 2019.Keyword: accuracy, medical terminology, accuracy, diagnosis code, ICD-10 Abstrak: Penggunaan terminologi medis juga menjadi salah satu hal penting dalam menunjang kodefikasi karena merupakan sarana komunikasi antar profesi medis, dalam penulisan diagnosis harus sesuai terminologi yang benar yaitu berdasarkan ICD-10. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan ketepatan terminologi medis terhadap keakuratan kode diagnosis pasien rujukan berdasarkan ICD-10 di Puskesmas Baki Sukoharjo triwulan IV tahun 2019. Jenis penelitian adalah analitik dengan sampel sebanyak 94 dan populasi yaitu 1615 formulir. Instrumen penelitian dengan menggunakan pedoman observasi,wawancara dan buku ICD-10. Hasil penelitian menunjukkan dari sampel sebanyak 94 diagnosis serta kodenya, terdapat 27 (29%) terminologi tepat dan 67 (71%) terminologi tidak tepat, serta kode diagnosis rawat jalan akurat sebanyak 24 (26%) dan kode diagnosis rawat jalan tidak akurat sebanyak 70 (74%)  kode. Dari hasil uji statistik Chi-Square Test, diperoleh nilai p-value sebesar 0,022. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara ketepatan terminologi medis dengan keakuratan kode diagnosis pasien rujukan berdasarkan ICD-10 di Puskesmas Baki Sukoharjo triwulan IV tahun 2019.Kata kunci:  ketepatan, terminologi medis, keakuratan, kode diagnosis, ICD-10
Pemeriksaan Angka Kuman, Kapang/Khamir Dan Identifikasi Bakteri Patogen Pada Jamu Beras Kencur di Pasar Tradisional Kota Surakarta Monita, Krisanti; Sari, Ajeng Novita; Nurhayati - Politeknik Santo Paulus Surakarta, Nurhayati
IJMS - Indonesian Journal on Medical Science Vol 8, No 2 (2021): IJMS 2021
Publisher : IJMS - Indonesian Journal on Medical Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Beras-Kencur Herb is a traditional drink that was made by non-standard ingredient and through simple processing. These are believed could be a contributing factor of bacterial and fungal contamination. The National Supervisory Agency of Drug and Food of the Republic of Indonesia (BPOM RI) regulation number 12 year 2014 regarding quality requirement for traditional medicine stated that traditional medicine has to be free from E.coli, Salmonella sp., Shigella sp. and the Total Yeast and Mold Count (TYMC) <103 coloni/g. This study aimed to investigate the contamination of coliform bacteria and yeast/mold on Beras-Kencur Herb that was sold in the traditional market in Surakarta City. This study was a descriptive comparison with 14 Beras-Kencur Herb samples. This study found that Beras-Kencur Herb contained 100% of coliform bacteria, 50% of E.coli, 28.6% of Salmonella sp., 85.7% of Shigella sp. with the lowest TYMC was 0 coloni/ml and the highest was 7,5 x 101 coloni/ml. Meanwhile, the funguses were found are Aspergillus sp., Penicillium sp., Mucor sp. and Candida sp. As conclusion, the samples of Beras-Kencur Herb that were sold in the traditional market in Surakarta City have been contaminated by Coliform bacteria, yet the TYMC ratio was met the requirement set by BPOM RI.Keywords: Herb, Coliform, Yeast Mold NumberAbstrak: Jamu gendong beras kencur merupakan minuman tradisional yang dibuat menggunakan pengolahan sederhana dan bahan yang belum terstandart. Hal tersebut dapat menjadi faktor adanya kontaminasi bakteri dan jamur. Peraturan Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2014 tentang Persyaratan Mutu Obat Tradisional tidak mengandung bakteri E.coli, Salmonella sp., Shigella sp. dan batas AKK <103 koloni/g. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adanya kontaminasi bakteri Coliform dan Kapang/Khamir pada jamu gendong beras kencur yang dijual di pasar tradisional Kota Surakarta. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan deskriptif komparatif dengan jumlah 14 sampel jamu gendong beras kencur. Hasil pemeriksaan bakteri Coliform pada jamu gendong beras kencur 100% mengandung bakteri Coliform, terdapat kontaminasi bakteri E.coli (50%), Salmonella sp. (28,6%), Shigella sp. (85,7%) dengan nilai AKK terendah 0 koloni/ml dan tertinggi 7,5 x 101 koloni/ml. Sedangkan jamur yang ditemukan adalah Aspergillus sp., Penicillium sp., Mucor sp. dan Candida sp. Sehingga sampel jamu gendong beras kencur yang dijual di pasar tradisional Kota Surakarta tercemar bakteri Coliform dan memiliki nilai AKK yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh BPOM.Kata kunci : Jamu, Coliform, Angka Kapang Khamir (AKK)