Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Tenaga Teknis Kefarmasian Tentang Hepatitis B Di Kabupaten Sragen Anggraini, Truly Dian; Susilowati, Susilowati; Melati-Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional, Risna Intan
IJMS - Indonesian Journal on Medical Science Vol 8, No 1 (2021): IJMS 2021
Publisher : IJMS - Indonesian Journal on Medical Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Hepatitis B was a disease caused by hepatitis B virus infection and caused liver inflammation, and it can also resulted in chronic hepatitis, cirrhosis, and hepatocellular carcinoma. The resulted of Riskesdas in 2013 showed that hepatitis prevalence in Indonesia in 2013 by 1,2% increased twice compared to Riskesdas in 2007, which amount to 0,6%. The most common type of hepatitis that infected the population of Indonesia is hepatitis B by 21,8%. According to research conducted by Ogundele et al. (2017), the precautioned of any disease was proportional to knowledge, behavior, and practiced, hence oversight that resulted in the transmission of disease can be reduced by having good knowledge. Pharmaceutical Technical Personnel was one part of the health labor that had a role in pharmaceutical services. The purpose of this study was to established the level of knowledge of Pharmaceutical Technical Personnel about hepatitis B in Sragen Regency. This researched was classified of non-experimental researched by divided questionnaires and then analyzed descriptively about each respondent's characteristics and analyzed for the predictor factors. A total of Pharmaceutical Technical Workers is 123, there are 103 people (83.74%) who had a good knowledge categorized, and as many as 20 people (16.26%) had a poor knowledge categorized about hepatitis B, and the respondent's labor was the most significant predictorns.Keywords : Knowledge, Hepatitis B, Pharmaceutical Technical Personnel, Predictor Factors  Abstrak: Hepatitis B adalah penyakit yang disebabkan karena infeksi virus hepatitis B dan menyebabkan inflamasi pada hati, dapat juga berakibat hepatitis kronis, sirosis, dan karsinoma hepatoselular. Hasil Riskesdas tahun 2013 menunjukkan bahwa prevalensi hepatitis di Indonesia tahun 2013 sebesar 1,2% meningkat dua kali dibandingkan Riskesdas tahun 2007 yang sebesar 0,6%. Jenis hepatitis yang banyak menginfeksi penduduk Indonesia adalah hepatitis B sebesar 21,8%. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ogundele, dkk (2017), pencegahan penyakit apapun adalah sebanding dengan pengetahuan, sikap, dan praktik dan karenanya kelalaian yang mengakibatkan tertularnya penyakit dapat berkurang dengan pengetahuan yang baik. Tenaga Teknis Kefarmasian merupakan salah satu bagian dari tenaga kesehatan yang mempunyai peran dalam pelayanan kefarmasian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan Tenaga Teknis Kefarmasian tentang hepatitis B di kabupaten Sragen. Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik tipe cohort, dengan menyebar kuesioner kemudian dianalisis secara deskriptif mengenai masing-masing karakteristik responden dan di analisa untuk faktor prediktornya. Sejumlah 123 Tenaga Teknis Kefarmasian, terdapat 103 orang (83,74%) yang memiliki kategori pengetahuan baik dan sebanyak 20 orang (16,26%) memiliki kategori pengetahuan kurang baik tentang hepatitis B, dan tempat bekerja responden merupakan faktor prediktor yang paling signifikan.Kata kunci : Pengetahuan, Hepatitis B, Tenaga Teknis Kefarmasian, Faktor Prediktor
Aktivitas Antioksidan Fraksi Daun Pegagan (Centella asiatica (L) Urb.) dengan Metode FRAP Puspita, Aristika Linda; Susilowati - Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional, Susilowati
IJMS - Indonesian Journal on Medical Science Vol 8, No 2 (2021): IJMS 2021
Publisher : IJMS - Indonesian Journal on Medical Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract : Centella asiatica or known as Pegagan is an Indonesian plant and it’s contain some secondary metabolite compounds including flavonoids, polyphenols, saponins, triterpenoids and steroids. These compounds are natural antioxidants that are useful for health. The purpose of this study was to determine the antioxidant power of the fraction from pegagan leaf extract. The study began with the extraction of pegagan leaves using 70% ethanol. Furthermore, the ethanol extract was extracted with n-hexane, ethyl acetate, and water sequentially to produce three fractions. Each fraction was tested for their antioxidant power using FRAP method. The antioxidant power was seen from the FRAP value expressed in mg ascorbic acid equivalent/gram sample (mgAAE/g sample). The antioxidant power of each fraction showed that the n-hexane fraction was 0.06210mgAAE/g, the ethyl acetate fraction was 0.09349mgAAE/g, and the water fraction was 0.08742mgAAE/g. The ethyl acetate fraction showed the highest antioxidant power although from the one way ANOVA test did not show a significant difference than n-hexane and water fractions.Key words: Centella asiatica, ethyl acetat fraction, antioxidant, FRAP testAbstrak : Pegagan (Centella asiatica (L) Urb) merupakan tanaman Indonesia yang mengandung flavonoid, polifenol, saponin, triterpenoid dan steroid. Senyawa-senyawa tersebut merupakan antioksidan alami yang berguna bagi kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi antioksidan pada fraksi ekstrak daun pegagan. Penelitian diawali dengan ekstraksi daun pegagan menggunakan etanol 70%. Selanjutnya fraksinasi ekstrak dikerjakan secara bertingkat dengan pelarut n-heksan, etil asetat, dan air. Ketiga fraksi yang diperoleh selanjutnya diuji aktivitas antioksidanya dengan metode FRAP. Kekuatan antioksidan dilihat dari nilai FRAP yang dinyatakan dalam mg ascorbic acid equivalent / gram sampel (mgAAE/g sampel). Kekuatan antioksidan pada masing-masing fraksi menunjukkan fraksi n-heksana sebesar 0,06210mgAAE/g, fraksi etil asetat sebesar 0,09349mgAAE/g, dan fraksi air sebesar 0,08742mgAAE/g. Fraksi etil asetat merupakan fraksi yang memiliki kekuatan antioksidan tertinggi meskipun pada uji one way ANOVA tidak menunjukkan perbedaan kekuatan yang bermakna dibandingkan fraksi n-heksana dan air.Kata kunci: Pegagan, fraksi etil asetat, antioksidan, uji FRAP
PEMANFAATAN HANDSANITIZER DAN BIOFILTER BIJI KELOR SERTA SPONS OYONG SEBAGAI SOLUSI PREVENTIF PENCEMARAN AIR DAN PENINGKATAN PRILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DI KISMOSARI DESA GADINGAN KECAMATAN MOJOLABAN KABUPATEN SUKOHARJO Indah Tri Susilowati; Susilowati Susilowati
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 24, No 3 (2018): JULI - SEPTEMBER
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jpkm.v24i3.11590

Abstract

Abstrak Kismosari adalah salah satu wilayah yang merupakan bagian administratif dari Desa Gadingan Kecamatan Mojolaban, Kab Sukoharjo. Rendahnya kualitas air yang ditandai dengan tingginya kesadahan air serta diikuti dengan rendahnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) berakibat munculnya kerentanan masyarakat terhadap dampak kesehatan dan ekonomi. Progrtam ini dilakukan sebagai upaya preventif melalui pemanfaatan bahan herbal berkhasiat yang merupakan potensi wilayah yang menjadi produk berbasis herbal. Pengabdian masyarakat dengan mitra paguyuban bapak-bapak Kismosari dan perkumpulan ibu-ibu PKK Mekarsari diawali dengan melakukan edukasi PHBS dan pemanfaatan herbal berkhasiat, dilanjutkan dengan pelatihan herbal berkhasiat. Potensi herbal berkhasiat di wilayah tersebut diaplikasikan dengan pembuatan produk yaitu biofilter dan hansanitizer dalam bentuk spray. Produk dilakukan oleh warga kedua mitra dengan pendampingan dari mahasiswa dan stakeholder. Pengembangan produk melihat hasil dari evaluasi mitra pada pelaksanaan herbal berkhasiat. Evaluasi pengembanga produk diperoleh hasil 10,53 % untuk pengembangan biofilter pipa yang dipasang pada air keluar dari pompa air, 15,79 % untuk pengembangan biofilter pipa yang dipasang pada kran air, dan 73,68 % untuk produk spray. Pengembanga produk spray dilakukan oleh ibu-ibu PKK Mekarsari.Kata Kunci: PHBS, Biofilter, Hansanitizer, KismosariAbstractKismosari is an area that is an administrative part og Gadingan Village, Mojolaban, Sukoharjo district. The low quality of water that is characterized by high water hardness and followed by low hygiene and healtly living behavior (PHBS) result in the emergence of community vulnerability to health and economic impacts. This program is conducted as a preventive effort through the utilization of nutritious herbs that are potential of the region to be herbal based products. Community service with the community partners of Kismosari fathers and the Mekarsari PKK women's association begins by education PHBS and utilization of nutritious herbs, continued with a nutritious herbal training. Potential herbs of that region are applied with the manufacture of products, that is biofilter and hananitizer in the form of spray. The productin is carried out by the villangers of two partners with accompaniment by the implementing team involving students and stakeholders. Product development sees the results of partners evaluation on the implementation of nutritious herbs. Evaluation of product development obtained results of 10.53% for the development of pipe biofilter which was installed in the water out of the water pump, 15.79% for the development of pipe biofilter installed on the water tap, and 73.68% for spray products. Spray product development was carried out by the PKK Mekarsari mothers.Keywords: PHBS, Biofilter, Hansanitizer, Kismosari
INISIASI PENGELOLAAN TANAMAN KUMIS KUCING SEBAGAI ALTERNATIF ANTIHIPERTENSI (INTUISI) DI DESA ANGGRASMANIS KECAMATAN JENAWI KABUPATEN KARANGANYAR Eka Wisnu Kusuma; Devina Ingrid Anggraini; Susilowati Susilowati
ABDIMAS UNWAHAS Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/abd.v3i2.2496

Abstract

Angka kejadian hipertensi menempati peringkat tertinggi selama tahun 2016 dan kurun waktu 10 tahun terakhir. Hipertensi merupakan faktor resiko utama kasus kardiovaskular. Tujuan dari kegiatan Inisiasi pengelolaan tanaman kumis kucing sebagai alternatif antihipertensi ini adalah untuk memberikan pelatihan dan pengetahuan kepada warga masyarakat tentang pengelolaan tanaman obat tradisional sebagai alternatif antihipertensi. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Anggrasmanis, Kecamatan jenawi, Karanganyar. Rangkaian kegiatan meliputi pengisian pre-test, penyuluhan mengenai penatalaksanaan hipertensi, workshop pembuatan Teh Misella, pelatihan mengenai proses produksi dan keberlangsungan pengelolaan tanaman kumis kucing serta pengisian post-test dan kuisioner. Evaluasi telah dilakukan sesudah kegiatan pengabdian. Kata kunci: Antihipertensi, Jenawi, Kumis Kucing, Missella 
Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Tenaga Teknis Kefarmasian Tentang Hepatitis B Di Kabupaten Sragen Truly Dian Anggraini; Susilowati Susilowati; Risna Intan Melati-Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional
Indonesian Journal on Medical Science Vol 8 No 1 (2021): IJMS 2021
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Bhakti Mulial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.083 KB)

Abstract

Abstract: Hepatitis B was a disease caused by hepatitis B virus infection and caused liver inflammation, and it can also resulted in chronic hepatitis, cirrhosis, and hepatocellular carcinoma. The resulted of Riskesdas in 2013 showed that hepatitis prevalence in Indonesia in 2013 by 1,2% increased twice compared to Riskesdas in 2007, which amount to 0,6%. The most common type of hepatitis that infected the population of Indonesia is hepatitis B by 21,8%. According to research conducted by Ogundele et al. (2017), the precautioned of any disease was proportional to knowledge, behavior, and practiced, hence oversight that resulted in the transmission of disease can be reduced by having good knowledge. Pharmaceutical Technical Personnel was one part of the health labor that had a role in pharmaceutical services. The purpose of this study was to established the level of knowledge of Pharmaceutical Technical Personnel about hepatitis B in Sragen Regency. This researched was classified of non-experimental researched by divided questionnaires and then analyzed descriptively about each respondent's characteristics and analyzed for the predictor factors. A total of Pharmaceutical Technical Workers is 123, there are 103 people (83.74%) who had a good knowledge categorized, and as many as 20 people (16.26%) had a poor knowledge categorized about hepatitis B, and the respondent's labor was the most significant predictorns.Keywords : Knowledge, Hepatitis B, Pharmaceutical Technical Personnel, Predictor Factors  Abstrak: Hepatitis B adalah penyakit yang disebabkan karena infeksi virus hepatitis B dan menyebabkan inflamasi pada hati, dapat juga berakibat hepatitis kronis, sirosis, dan karsinoma hepatoselular. Hasil Riskesdas tahun 2013 menunjukkan bahwa prevalensi hepatitis di Indonesia tahun 2013 sebesar 1,2% meningkat dua kali dibandingkan Riskesdas tahun 2007 yang sebesar 0,6%. Jenis hepatitis yang banyak menginfeksi penduduk Indonesia adalah hepatitis B sebesar 21,8%. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ogundele, dkk (2017), pencegahan penyakit apapun adalah sebanding dengan pengetahuan, sikap, dan praktik dan karenanya kelalaian yang mengakibatkan tertularnya penyakit dapat berkurang dengan pengetahuan yang baik. Tenaga Teknis Kefarmasian merupakan salah satu bagian dari tenaga kesehatan yang mempunyai peran dalam pelayanan kefarmasian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan Tenaga Teknis Kefarmasian tentang hepatitis B di kabupaten Sragen. Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik tipe cohort, dengan menyebar kuesioner kemudian dianalisis secara deskriptif mengenai masing-masing karakteristik responden dan di analisa untuk faktor prediktornya. Sejumlah 123 Tenaga Teknis Kefarmasian, terdapat 103 orang (83,74%) yang memiliki kategori pengetahuan baik dan sebanyak 20 orang (16,26%) memiliki kategori pengetahuan kurang baik tentang hepatitis B, dan tempat bekerja responden merupakan faktor prediktor yang paling signifikan.Kata kunci : Pengetahuan, Hepatitis B, Tenaga Teknis Kefarmasian, Faktor Prediktor
Aktivitas Antioksidan Fraksi Daun Pegagan (Centella asiatica (L) Urb.) dengan Metode FRAP Aristika Linda Puspita; Susilowati Susilowati - Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional
Indonesian Journal on Medical Science Vol 8 No 2 (2021): IJMS 2021
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Bhakti Mulial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (599.393 KB)

Abstract

Abstract : Centella asiatica or known as Pegagan is an Indonesian plant and it’s contain some secondary metabolite compounds including flavonoids, polyphenols, saponins, triterpenoids and steroids. These compounds are natural antioxidants that are useful for health. The purpose of this study was to determine the antioxidant power of the fraction from pegagan leaf extract. The study began with the extraction of pegagan leaves using 70% ethanol. Furthermore, the ethanol extract was extracted with n-hexane, ethyl acetate, and water sequentially to produce three fractions. Each fraction was tested for their antioxidant power using FRAP method. The antioxidant power was seen from the FRAP value expressed in mg ascorbic acid equivalent/gram sample (mgAAE/g sample). The antioxidant power of each fraction showed that the n-hexane fraction was 0.06210mgAAE/g, the ethyl acetate fraction was 0.09349mgAAE/g, and the water fraction was 0.08742mgAAE/g. The ethyl acetate fraction showed the highest antioxidant power although from the one way ANOVA test did not show a significant difference than n-hexane and water fractions.Key words: Centella asiatica, ethyl acetat fraction, antioxidant, FRAP testAbstrak : Pegagan (Centella asiatica (L) Urb) merupakan tanaman Indonesia yang mengandung flavonoid, polifenol, saponin, triterpenoid dan steroid. Senyawa-senyawa tersebut merupakan antioksidan alami yang berguna bagi kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi antioksidan pada fraksi ekstrak daun pegagan. Penelitian diawali dengan ekstraksi daun pegagan menggunakan etanol 70%. Selanjutnya fraksinasi ekstrak dikerjakan secara bertingkat dengan pelarut n-heksan, etil asetat, dan air. Ketiga fraksi yang diperoleh selanjutnya diuji aktivitas antioksidanya dengan metode FRAP. Kekuatan antioksidan dilihat dari nilai FRAP yang dinyatakan dalam mg ascorbic acid equivalent / gram sampel (mgAAE/g sampel). Kekuatan antioksidan pada masing-masing fraksi menunjukkan fraksi n-heksana sebesar 0,06210mgAAE/g, fraksi etil asetat sebesar 0,09349mgAAE/g, dan fraksi air sebesar 0,08742mgAAE/g. Fraksi etil asetat merupakan fraksi yang memiliki kekuatan antioksidan tertinggi meskipun pada uji one way ANOVA tidak menunjukkan perbedaan kekuatan yang bermakna dibandingkan fraksi n-heksana dan air.Kata kunci: Pegagan, fraksi etil asetat, antioksidan, uji FRAP
Boiling Time-Dependent Studies on the Total Flavonoids Content and Antioxidant Activities in Dendrophtoe Petandra (L.) Miq. Susilowati Susilowati; Alip Desi
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 4 No 4 (2022): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.246 KB) | DOI: 10.37287/ijghr.v4i4.1291

Abstract

Boiling time effect on total flavonoid content and antioxidant activity of Dendrophthoe petandra leaves were studied. D. petandra is a parasite plant that is widely used on Indonesian people for traditional medicine with boiling techniques. The dried leaves were boiled in water for 5, 10 and 15 minutes, and quantitative analysis was performed from each boiled water. Total flavonoid levels were analyzed using UV/Visible Spectrophotometry as quercetin equivalent (QE) and antioxidant activity using FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Power) as ascorbic acid equivalent (AAE). The total flavonoid levels and antioxidant activity showed a considerable change. The boiled water of D. petandra leaves for 10 minutes showed the highest level of total flavonoid content (9.0098 ± 0.0340 ppm QE) and antioxidant activity (30.6792 ± 0,0270 ppm AAE), whereas the content of total flavonoids were 7.2350 ± 0.0299 ppm QE and antioxidant activity were 23.9533 ± 0,0486 ppm AAE showed the lowest results boiling for 15-minute. Total flavonoid and antioxidant activity of boiling time for 5 minutes increases to 10 minutes and then decreased at 15-minute. Therefore, it is improper to boil the D. petandra leaves more than 10 minutes.
Perbandingan Kadar Flavonoid Total Seduhan Daun Benalu Cengkeh (Dendrophthoe Petandra L.) pada Bahan Segar dan Kering Susilowati Susilowati; Iin Nurlinda Sari
Jurnal Farmasi (Journal of Pharmacy) Vol 9, No 2 (2020): Oktober
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37013/jf.v9i2.108

Abstract

Benalu Cengkeh (Dendrophthoe petandra L.) adalah tanaman yang hidup menempel pada tanaman cengkeh. Tanaman ini sering dianggap hama oleh masyarakat, padahal tanaman benalu ini dapat dimanfaatkan sebagai tanaman obat karena memiliki kandungan fitokimia meliputi flavonoid, terpenoid, tannin, alkaloid dan saponin. Flavonoid merupakan senyawa penanda yang bertanggung jawab terhadap potensi antioksidan dan antikanker daun benalu cengkeh. Dalam penggunaan tanaman obat, masyarakat biasanya menggunakan teknik penyarian sederhana dengan seduhan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan kadar flavonoid total pada seduhan daun benalu cengkeh segar dan kering sehingga dapat memberikan informasi kepada masyarakat akan preparasi bahan yang tepat sebelum digunakan. Identifikasi awal flavonoid menggunakan uji alkali dengan pereaksi NaOH, uji asam dengan H2SO4 dan uji wilstatter. Penentuan kadar flavonoid total dilakukan secara spektrofotometri UV-Vis menggunakan pereaksi AlCl3 dan dinyatakan terhadap kuersetin (Quercetin Equivalent). Hasil penelitian menunjukkan daun benalu cengkeh mengandung flavonoid dengan kadar flavonoid total seduhan daun segar sebesar 8,1977 ppm QE dan seduhan daun kering sebesar 5,4407 ppm QE. Analisa perbandingan kadar dengan One Way Anova menunjukkan flavonoid total seduhan daun benalu cengkeh segar lebih besar secara signifikan dibandingkan daun kering.
Boiling Time-Dependent Studies on the Total Flavonoids Content and Antioxidant Activities in Dendrophtoe Petandra (L.) Miq. Susilowati Susilowati; Alip Desi
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 4 No 4 (2022): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.246 KB) | DOI: 10.37287/ijghr.v4i4.1291

Abstract

Boiling time effect on total flavonoid content and antioxidant activity of Dendrophthoe petandra leaves were studied. D. petandra is a parasite plant that is widely used on Indonesian people for traditional medicine with boiling techniques. The dried leaves were boiled in water for 5, 10 and 15 minutes, and quantitative analysis was performed from each boiled water. Total flavonoid levels were analyzed using UV/Visible Spectrophotometry as quercetin equivalent (QE) and antioxidant activity using FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Power) as ascorbic acid equivalent (AAE). The total flavonoid levels and antioxidant activity showed a considerable change. The boiled water of D. petandra leaves for 10 minutes showed the highest level of total flavonoid content (9.0098 ± 0.0340 ppm QE) and antioxidant activity (30.6792 ± 0,0270 ppm AAE), whereas the content of total flavonoids were 7.2350 ± 0.0299 ppm QE and antioxidant activity were 23.9533 ± 0,0486 ppm AAE showed the lowest results boiling for 15-minute. Total flavonoid and antioxidant activity of boiling time for 5 minutes increases to 10 minutes and then decreased at 15-minute. Therefore, it is improper to boil the D. petandra leaves more than 10 minutes.
Analisis Natrium Diklofenak pada Jamu Sakit Pinggang yang Beredar di Pracimantoro secara Kromatografi Lapis Tipis dan Spektofotometri UV-VIS Bagas Putro Mbila Pambajeng; Susilowati Susilowati
Jurnal Farmasetis Vol 12 No 2 (2023): Jurnal Farmasetis: Mei 2023
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32583/far.v12i2.1149

Abstract

Sampai saat ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia masih menemukan terdapatnya Bahan Kimia Obat (BKO) dalam Jamu yang beredar. Natrium Diklofenak merupakan salah satu BKO yang sering ditemukan berada dalam jamu pegal linu. Adanya penambahan BKO dalam jamu diketahui memiliki resiko menimbulkan gangguan ginjal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan dan kadar natrium diklofenak dalam jamu sakit pinggang yang beredar di Pracimantoro, Wonogiri, Jawa Tengah. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Analisis kualitatif dilakukan dengan uji Kromatografi Lapis Tipis (KLT), sedangkan penetapan kadar Natrium Diklofenak dilakukan dengan spektrofotometri UV-Visibel.  Terdapat 10 sampel yang diperoleh dimana 5 diantaranya memiliki Nomor Ijin Edar (NIE), sedangkan 5 sampel lainnya tidak berNIE. Hasil analisis menunjukan 2 diantara 10 sampel jamu pegal linu positif mengandung natrium diklofenak pada hRf 79 dengan kadar 2,444 mg/ g  dan hRf 79  dengan kadar sebesar 5,612 mg/ g. 2 sampel jamu yang diketahui mengandung BKO merupakan jamu yang tidak memiliki NIE.