cover
Contact Name
I Made Oka Riawan
Contact Email
made.oka@undiksha.ac.id
Phone
+62362-23884
Journal Mail Official
jurdikbiologiundiksha@gmail.com
Editorial Address
Jalan Udayana, Kampus Tengah Undiksha, FMIPA. Singaraja-Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Biologi Undiksha
Jurnal Pendidikan Biologi adalah adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan Ganesha. Jurnal ini bertujuan untuk mewadahi artikel-artikel hasil penelitian dan hasil pengabdian masyarakat dibidang pendidikan dan pembelajaran. Pada akhirnya Jurnal ini dapat memberikan deskripsi tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pendidikan bagi masyarakat akademik.
Articles 78 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2016)" : 78 Documents clear
Pengaruh Ekstrak Kulit Buah Naga (Hylocereus polyrhizus) Terhadap Pertumbuhan Pembuluh Darah Pada Membran Korio Alantois (MKA) Embrio Ayam Kampung (Gallus gallus) ., Km Satriaperbawa Irawan; ., Drs.I Ketut Artawan,M.Si; ., Gede Ari Yudasmara, S.Si., M.Si.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan 1). Mengetahui ada tidaknya pengaruh pemberian ekstrak kulit buah Naga (Hylocereus polyrhizus) terhadap pertumbuhan pembuluh darah pada Membran Korio Alantois (MKA) embrio ayam Kampung (Gallus gallus); 2) Mengetahui bagaimana pengaruh pemberian ekstrak kulit buah Naga (Hylocereus polyrhizus) terhadap pertumbuhan pembuluh darah pada Membran Korio Alantois (MKA) embrio ayam Kampung (Gallus gallus). Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen (Eksperimental research). Model rancangan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah Post Test Only Kontrol Group Design. Penelitian ini menggunakan metoda CAM (Chorio Allantois Membrane). Populasi penelitian ini adalah semua telur ayam yang terdapat di peternakan ayam di Mengwi. Dari populasi yang diasumsikan sama diambil 20 butir telur ayam kampung sebagai sampel penelitian. Pengumpulan data pada penelitian ini adalah delapan hari. Hasil penelitian menunjukkan 1) ada pengaruh pemberian ekstrak kulit buah Naga (Hylocereus polyrhizus) terhadap pertumbuhan pembuluh darah baru pada membran korio allantois embrio ayam kampung (Gallus gallus); 2) pada kelompok kontrol memiliki jumlah pembuluh darah total 1164 percabangan dan pertumbuhan pembuluh darah tidak terpengaruh oleh adanya paperdisk yang diimplantasi pada membran korio allantois sedangkan pada kelompok eksperimen memiliki jumlah pembuluh darah total 372 percabangan dan pertumbuhan pembuluh darah terganggu oleh paperdisk yang diimplantasi. Hal tersebut dapat dilihat dari zona hambatan yang dihasilkan pada membran korio allantois embrio ayam kampung.Kata Kunci : ekstrak kulit buah Naga (Hylocereus polyrhizus), membran korio alantois, embrio ayam kampong (Gallus gallus). This research aimed at 1) knowing whether there is any effect of giving the extract of dragon fruit (Hylocereus polyrhizus) rind toward the growth of blood vessel in Chorio Allantois Membrane (CAM) of chick embryo (Gallus gallus); 2) Knowing how the effect of giving the extract of dragon fruit (Hylocereus polyrhizus) rind toward the growth of blood vessel in Chorio Allantois Membrane (CAM) of chick embryo (Gallus gallus). The type of this research was experimental research. The research design used was Post Test Only Kontrol Group Design. This research used the method of CAM (Chorio Allantois Membrane). The population of this research was all chick eggs in chicken farm in Mengwi. From the population that was assumed to be equal, there were 20 eggs of chick taken as the sample of this research. The data collection of this research were collected by eight days. The results of the research showed that 1) there is the effect of giving the extract of dragon fruit (Hylocereus polyrhizus) rind toward the growth of blood vessel in Chorio Allantois Membrane (CAM) of chick embryo (Gallus gallus); 2) In control group had a total number of blood vessal of 1164 branches and the growth of blood vessel was not affected by the existence of paperdisk that was implanted in Chorio Allantois Membrane. Meanwhile, in experimental group had a total number of blood vessel of 372 branches and the growth of blood vessel was disturbed by implanted paperdisk. Those things can be seen from inhibition zone that was resulted in Chorio Allantois Membrane of chick embryo.keyword : Extract of Dragon Fruit (Hylocereus polyrhizus) rind, Chorio Allantois Membrane, Chick Embryo (Gallus gallus)
STUDI KOMPARASI KEANEKARAGAMAN DAN KEMELIMPAHAN ECHINODERMATA PADA EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI KAWASAN PANTAI KEDUNGU DAN PANTAI MERTASARI ., Ni Putu Lilik Widiari; ., Dr. Ida Bagus Jelantik Swasta,M.Si; ., Ida Ayu Putu Suryanti,S.Si.,M.Si
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian mengenai komparasi keanekaragaman dan kemelimpahan echinodermata pada ekosistem terumbu karang di pantai Kedungu dan pantai Mertasari bertujuan untuk (1) mengetahui perbandingan keanekaragaman echinodermata pada ekosistem terumbu karang di kawasan Pantai Kedungu, Kediri,Tabanan dan di kawasan Pantai Mertasari, Sanur, Denpasar. (2) mengetahui perbandingan kemelimpahan echinodermata pada ekosistem terumbu karang di kawasan Pantai Kedungu, Kediri, Tabanan dan di kawasan Pantai Mertasari, Sanur, Denpasar. (3) mengetahui ada atau tidaknya perbedaan yang signifikan dalam hal keanekaragaman dan kemelimpahan echinodermata pada ekosistem terumbu karang di kedua kawasan pantai tersebut. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif eksploratoris. Rancangan penelitian ini adalah penelitian survei lapangan (field study) dan penelitian laboratorium Titik pengambilan sampel menggunakan metode transek. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Indeks diversitas (H’) spesies echinodermata di kawasan pantai Kedungu, Kediri, Tabanan tergolong sedang yaitu sebesar 1,038, kekayaan spesies (R) sebesar 1,4980, kemerataan spesies (E) sebesar 0,499 dan indeks dominasi (C) sebesar 0,5457 sedangkan indeks diversitas (H’) spesies echinodermata di kawasan pantai Mertasari, Sanur, Denpasar tergolong sedang yaitu sebesar 1,252, kekayaan spesies (R) sebesar 1,3854, kemerataan spesies (E) sebesar 0,643 dan indeks dominasi (C) sebesar 0,4293. (2) nilai kemelimpahan relatif (KR%) tertinggi di pantai Kedungu yaitu 72,8971% dari spesies Echinus sp. sedangkan pantai Mertasari sebesar 63,1578% dari spesies Echinus sp. (3) Terdapat perbedaan yang signifikan dalam hal keanekaragaman dan kemelimpahan echinodermata antara pantai Kedungu, Kediri, Tabanan dan pantai Mertasari, Sanur, Denpasar Kata Kunci : keanekaragaman, kemelimpahan, echinodermata, pantai Kedungu, pantai Mertasari This study comparative research on the diversity and abundance of echinoderm at the coral reef ecosystem in the Kedungu beach and Mertasari beach aims at (1) comparing the diversity of echinoderms in the coral reef ecosystem in the area Kedungu Beach, Kediri, Tabanan and area of Mertasari Beach, Sanur, Denpasar. (2) comparing the abundance of echinoderm coral reef ecosystems in Kedungu Beach, Kediri, Tabanan and Mertasari Beach, Sanur, Denpasar. (3) determining whether there are significant differences in terms of diversity and abundance of echinoderms on coral reef ecosystems at both the beach area. This research is categorized as a descriptive study of exploratory. The design of this study is a field study and laboratory research. Sample of this study was taken by using transek. The results of this study showed that (1) Diversity index (H ') echinoderm in Kedungu, Kediri, Tabanan classified as average amount of 1.038, species wealth (R) was 1.4980, species evenness (E) of 0.499 and the dominance index (C) was at 0,5457 while the diversity index (H ') of Mertasari beach, Sanur, Denpasar was classified as average amount at 1.252, species wealth (R) was 1.3854, species evenness (E) was 0.643 and the dominance index (C) was 0,4293. (3) the highest values of relative abundance (KR%) was Kedungu beach which the amount was 72.8971% it was kind of the Echinus sp. while Mertasari beach which the amount was 63.1578% it was kind of the Echinus sp. (4) there is a significant differences in terms of diversity and abundance of echinoderms between the Kedungu beach, Kediri, Tabanan and Mertasari beach, Sanur, Denpasar keyword : diversity, abundance, echinoderms, Kedungu beach, Mertasasri beach
ANALISIS KUALITAS LINGKUNGAN HIDUP DITINJAU DARI ASPEK (ABC) ENVIRONTMENT DI KAWASAN WISATA PANTAI KUTA ., Ni Pt Novi Wulandari; ., Prof. Dr.Ida Bagus Putu Arnyana, M.Si; ., Prof. Dr. Nyoman Wijana,M.Si
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui untuk mengetahui: (1) Kualitas lingkungan hidup ditinjau dari aspek Abiotic, Biotic, Culture (ABC) di kawasan wisata pantai Kuta; dan (2) Sumber dampak terhadap perubahan kualitas lingkungan hidup ditinjau dari aspek Abiotic, Biotic, Culture (ABC) di kawasan wisata pantai Kuta. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian ekploratif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh komponen lingkungan hidup yang meliputi komponen Abiotic (A) yang meliputi air laut, udara, dan tanah, Biotic (B) yang meliputi spesies tumbuhan yang ada di pantai Kuta, dan Culture (C) yang diperoleh dari wawancara dengan masyarakat setempat yang ada pada kawasan wisata pantai Kuta. Sampel untuk parameter vegetasi, stratifikasi, dan edafik adalah area yang tercakup dalam kuadrat. Sampel parameter kulaitas air laut diambil dibagin tepi (A), tengan (B), dan dalam (C). Sampel parameter culture diambil dari 30 orang masyarakat dengan wawancara dan pengisian kuesioner. Metode pengambilan data menggunakan metode kuadrat dengan teknik sistematik sampling. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan (1) Kualitas lingkungan hidup ditinjau dari aspek Abiotic, Biotic, Culture (ABC) di kawasan wisata pantai Kuta masuk kualitas buruk; dan (2) Sumber dampak terhadap perubahan kualitas lingkungan hidup ditinjau dari aspek Abiotic, Biotic, Culture (ABC) di kawasan wisata pantai Kuta adalah polutan dari kegiatan masyarakat sekitar, para wisatawan, serta polutan yang berasal dari daerah lain akibat terbawa arus laut.Kata Kunci : abiotic, biotic, culture, kualitas lingkungan This study aims to determine: (1) The quality of the environment in terms of aspects abiotic, Biotic, Culture (ABC) in the tourist area of Kuta beach; and (2) Source impacts on environmental quality changes in terms of aspects abiotic, Biotic, Culture (ABC) in the tourist area of Kuta beach. Type of research is explorative research. The population in this study are all components of the environment, which includes abiotic (A) which includes sea, air, and land, Biotic (B) which includes plant species that exist on Kuta beach, and Culture (C) obtained from interviews with of local communities in tourist areas of Kuta beach. Samples for vegetation parameters, stratification, and edafik is the area covered by the squares. Kulaitas parameter samples of seawater taken dibagin edge (A), Middle (B), and in (C). Samples were taken from the culture parameter 30 communities with interviews and questionnaires. The data collection method using squares method with systematic sampling technique. The data were analyzed descriptively. The results showed (1) The quality of the environment in terms of aspects abiotic, Biotic, Culture (ABC) in the tourist area of Kuta beach sign of poor quality; and (2) Source impacts on environmental quality changes in terms of aspects abiotic, Biotic, Culture (ABC) in the tourist area of Kuta beach is a pollutant of the activities surrounding communities, tourists, as well as the pollutants that come from other areas due to drifting through the oceans.keyword : abiotic, biotic, culture, environmental quality
VARIASI INTENSITAS CAHAYA MENGAKIBATKAN PERBEDAAN KECEPATAN REGENERASI SIRIP KAUDAL IKAN CUPANG (Betta splendens) DIPELIHARA DI RUMAH KOS ., Bimbi Inggayuing Gumilang; ., Drs.I Ketut Artawan,M.Si; ., Dr. Ni Luh Putu Manik Widiyanti,S.Si,M
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ikan cupang (Betta splendens) merupakan ikan yang memiliki tingkah laku unik yaitu bertarung. Perilakunya ini menyebabkan sirip indahnya terutama sirip bagian kaudalnya rentan megalami kerusakan.Sirip ikan mewakili vertebrata yang unik dengan kemampuan spektakuler untuk regenerasi berbagai organ setelah cedera traumatis. Salah satu faktor yang mempengaruhi regenerasi adalah intensitas cahaya. Dengan memberikan perlakuan lampu led merk “Opple” pada empat taraf yang berbeda yaitu intensitas cahaya 0 Lux (tanpa lampu), 3 watt (65 Lux), 6 Watt (90 Lux), dan 8 Watt (117 Lux) dapat diketahui adanya perbedaan kecepatan pertumbuhan dilihat dari panjang akhir sirip kaudal setelah 28 hari diamputasi dan perbedaan struktur anatominya. Jenis penelitian yaitu RAL. Sampel yang digunakan sebanyak 24 ikan cupang. Data menunjukkan rata-rata panjang siripakhir kaudal setelah 28 hari secara berurutan yaitu 1,10 cm, 1,16 cm, 1,28 cm, 1,35 cm pada intensitas cahaya 0 Lux, 65 Lux, 90 Lux, dan 117 Lux. Berdasarkan hasil uji ANAVA One Way menunjukkan bahwa nilai p sebesar 0,0001 sehingga nilai p < 0,05 yang berarti bahwa H1 yang menyatakan Terdapat perbedaan regenerasi pada sirip kaudal ikan cupang (Betta splendens) pada intensitas cahaya yang berbeda dilihat dari panjang akhir sirip kaudal selama 28 hari pengamatan diterima. Struktur anatomi sirip kaudal mengalami perbedaan setelah 28 hari diamputasi terutama pada bentuk akhir dan pigmentasinya. Berdasarkan penelitian ini, disimpulkan bahwaada perbedaan intensitas cahaya terhadap kecepatan regenerasi sirip kaudal ikan cupang (Betta splendens) dilihat dari panjang akhir sirip kaudal setelah 28 hari diamputasi, regenerasi paling cepat pada perlakuan 90 Lux, dan ada perbedaan struktur anatomi sirip kaudal ikan cupang (Betta splendens).Kata Kunci : kecepatan regenerasi, struktur anatomi, ikan cupang, intensitas cahaya BBetta fish (Bettasplendens) is a fish that has a unique behavior called fight. This behavior causes the beautiful fin particularly damage especially the caudal fin. Fin of fish represent unique vertebrate with a spectacular ability to regenerate different organs after traumatic injury. One of the factors that affect the regeneration is the intensity of light. By providing treatment led lights brand "Opple" at four different levels, namely the light intensity 0 Lux (without lights), 3 watt (65 Lux), 6 Watt (90 Lux), and 8 Watt (117 Lux) can know the difference in speed growth seen from the long end of the caudal fin after 28 days amputated and anatomic structure differences. This type of research is true experiment with RAL research design. The samples used were 24 betta fish. Data shows the average length of caudal fin end after 28 consecutive days ie 1.10 cm, 1.16 cm, 1.28 cm, 1.35 cm at 0 Lux light intensity, 65 Lux 90 Lux and 117 Lux. Based on the results of One Way ANOVA showed that the p value of 0.0001 so that the value of p
PEMBERIAN MONOSODIUM GLUTAMAT (MSG) PADA MEDIA TANAM UNTUK MENINGKATKAN KECEPATAN PERTUMBUHAN BUNGA DAN PRODUKSI BUNGA GEMITIR (Tagetes erecta) ., Desi Asrini Jumia Miarti; ., Prof. Dr. I Made Sutajaya,M.Kes.; ., Ida Ayu Putu Suryanti,S.Si.,M.Si
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Monosodium glutamat (MSG) digunakan sebagai ZPT alternatif untuk meningkatkan pertumbuhan bunga dan produksi bunga gemitir. Penelitian ini bertujuan mengetahui pemberian Monosodium glutamat (MSG) pada media tanam untuk meningkatkan kecepatan pertumbuhan bunga dan produksi gemitir (Tagetes erecta L.). Pengambilan sampel menggunakan teknik random sederhana, dengan sampel 36 bibit gemitir (Tagetes erecta L.). Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian faktorial 4x3 dengan tiga kali ulangan. Variabel pertama adalah konsentrasi K0 (0%), K1 (5%), K2 (10%), dan K3 (15%). Variabel kedua adalah jenis MSG J0 (Tanpa MSG), J1 (Ajinomoto), dan J2 (SaSa). Analisis pada penelitian ini menggunakan ANOVA dua arah dan dilanjutkan dengan uji lanjut (Post Hoc Test) dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman pada konsentrasi MSG 10% dan jenis MSG Ajinomoto meningkatkan kecepatan pertumbuhan bunga dan menghasilkan produksi bunga yang paling tinggi dilihat dari berat basah bunga. Dapat disimpulkan terdapat perbedaan yang nyata antara perlakuan variasi konsentrasi dan jenis MSG untuk untuk kecepatan pertumbuhan bunga sebesar 26% dan variasi konsentrasi dan jenis MSG meningkatkan berat basah bunga sebesar 2,73%. Kata Kunci : Monosodium glutamat (MSG), konsentrasi, Jenis MSG, Gemitir (Tagetes erecta), ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) Monosodium glutamate (MSG) is used as an alternative PGR to promote the growth of flowers and flower production of gemitir. This study aims to determine the provision of Monosodium glutamate (MSG) to the growing media to increase the growth rate and flowers production of gemitir flowers (Tagetes erecta L.). Sampling using simple random technique, with 36 sample of gemitir (Tagetes erecta L.) seeds. This study, using research design RAK factorial 4x3 with three replications. First variable is the concentration K0 (0%), K1 (5%), K2 (10%), and K3 (15%). Second variable is the type of MSG J0 (Without MSG), J1 (Ajinomoto) and J2 (SaSa). Analysis the data using two-way ANOVA and continued with futher test (Post Hoc Test) by Least Significant Difference (LSD) at the 5% significance level. The results showed that the plant at a concentration 10% of MSG and kinde of MSG type Ajinomoto increases the speed of the growth flowers and production of flower production from the wet weight of flowers. It can be concluded there is a significant difference between the treatment of variations in the concentration and type of MSG's to speed the growth rate of 26% and variations in the concentration and type of MSG increase the wet weight of interest of 2.73%.keyword : concentration, Marigold (Tagetes erecta L.), Monosodium glutamate (MSG), PGR (Plant Growth Regulator), type of MSG
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING DAN MODEL PEMBELAJARAN LANGSUNG TERHADAP HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 6 SINGARAJA ., Ni Kadek Nanti; ., Prof. Dr.Ida Bagus Putu Arnyana, M.Si; ., Dra.Desak Made Citrawathi,M.Kes
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar IPA antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing dan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran langsung kelas VII di SMP Negeri 6 Singaraja. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (quasi exsperiment) dengan rancangan penelitian Non-Equivalent Pre-test Post-test Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini yaitu siswa kelas VII SMP Negeri 6 Singaraja yang terdistribusi kedalam 10 kelas. Tes hasil belajar IPA digunakan untuk mengumpulkan data hasil belajar siswa. Data dianalisis dengan analisis deskriptif dan uji t-test. Hasil analisis menunjukkan perbedaan hasil belajar IPA yang signifikan antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing dan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran langsung (t = 3,787, p = 0,000). Kualifikasi nilai rata-rata hasil belajar IPA yang diperoleh siswa dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing sebesar 82,26 lebih baik dibandingkan dengan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran langsung sebesar 76,48. Kata Kunci : Hasil Belajar, Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing, Model Pembelajaran Langsung This study aims to determine differences in learning outcomes among students that learned IPA with guided inquiry learning model and students that learned by direct learning model in class VII SMPN 6 Singaraja. This study is a quasi-experimental research (quasi exsperiment) with the study design Non-Equivalent Pre-test Post-test Control Group Design. The population in this research were students of class VII SMPN 6 Singaraja distributed into 10 classes. Science achievement test used to collect the data of student learning outcomes. Data were analyzed with descriptive analysis and t-test. The analysis shows that there are IPA significantly differences in learning outcomes between students that learned with guided inquiry learning model and students that learned by direct learning model (t = 3,787, p = 0.000). Qualifications average value obtained IPA learning outcomes of students with guided inquiry learning model of 82,26 better than the students that learned with direct instructional model at 76,48.keyword : Guided Inquiry Learning Model, Learning Outcomes, Learning Direct Model
ANALISIS STRUKTUR KOMUNITAS GULMA PADI SECARA SPASIAL DAN TEMPORAL DI SUBAK KECAMATAN BULELENG, KABUPATEN BULELENG ., Ni Luh Novi Yuni Ari; ., Prof. Dr. Nyoman Wijana,M.Si; ., Dr. I Wayan Sukra Warpala,S.Pd,M.Sc
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Komposisi floristik; (2) Indeks similaritas dan desimilaritas keanekaragaman; dan (3) Perubahan biomassa gulma padi secara spasial dan temporal di Subak Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng. Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif dan eksploratif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua spesies tumbuhan gulma yang hidup pada sawah yang ditanami padi yang berada pada Desa Penarukan, Jineng Dalem dan Alasangker. Sampel dalam penelitian ini adalah semua spesies tumbuhan gulma yang tercakup oleh kuadrat dengan ukuran 1 x 1 meter sebanyak 25 kuadrat yang diambil di Subak Delod Sema, Subak Tingkih Keleb dan Subak Simpang dari minggu 1 hingga minggu 3 setelah bibit padi ditanam. Metode yang digunakan dalam pengambilan data penelitian ini adalah metode kuadrat. Data komposisi floristik dan perubahan biomassa gulma dianalisis secara deskriptif; Indeks keanekaragaman dianalisis dengan indeks Shannon-Wiener, indeks similaritas dan desimilaritas dianalisis menggunakan indeks Sorensen. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) Terdapat 27 spesies gulma yang tergolong ke dalam 13 familia yang tersebar secara spasial dan temporal. (2) Secara spasial indeks similaritas keanekaragaman spesies gulma < 75% dan menunjukkan indeks desimilaritas yang tinggi. Indeks similaritas secara temporal antara minggu 1 dengan 2 dan minggu 1 dengan 3 sebesar < 25% dan indeks similaritas antara minggu 2 dengan 3 > 25%. Indeks desimilaritas gulma secara temporal > 63%. (3) Ada perubahan biomassa gulma secara spasial dan temporal.Kata Kunci : Gulma Padi, Struktur Komunitas Spasial, Struktur Komunitas Temporal This study aimed to determine the (1) floristic composition; (2) Index of similarity and diversity of dissimilarities; and (3) Biomass change paddy weed spatially and temporally in Subak at sub district Buleleng, district Buleleng. This type of research was descriptive research and exploratory. The population in this study were all species of plants as weeds growing in paddy fields cultivated with rice which is at Penarukan, Jineng Dalem and Alasangker village. The sample in this research were all weeds species covered by the square with a size of 1 x 1 meter by 25 squares drawn in Subak Delod Sema, Subak Tingkih Keleb and Subak Simpang from 1st week to 3rd weeks after the paddy seeds were planted. Least squares method was used in this research to collect the data. The Data floristic composition and changes in weed biomass were analyzed descriptively; Diversity index was analyzed with Shannon-Wiener index, an index of similarity and dissimilarities analyzed using Sorensen index. The results showed (1) There are 27 weed species belonging to the 13 family scattered spatially and temporally. (2) In the spatial diversity of weed species similarity index 63%. (3) There was a change in weed biomass spatially and temporally.keyword : Paddy Weeds, Spatial Community Structure, Temporal Community Structure
PEMETAAN SEBARAN SPESIES TUMBUHAN LANGKA PADA HUTAN WISATA ALAS KEDATON ., Novi Awaliyah; ., Prof. Dr. Nyoman Wijana,M.Si; ., Dr. Ni Luh Putu Manik Widiyanti,S.Si,M
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk peta sebaran spesies tumbuhan langka pada Hutan Wisata Alas Kedaton, Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan. Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksploratif. Populasi penelitian ini adalah semua spesies tumbuhan langka di Hutan Alas Kedaton. Sampel penelitian ini adalah semua spesies tumbuhan langka pada kuadrat ukuran 20 x 20 meter sebanyak 100. Teknik pemetaan menggunakan pengukuran sederhana menurut Soenaryanto (1976). Teknik pengambilan sampel tumbuhan dilakukan secara sistematik sampling mengacu pada Mueller-Dombois (1974); Barbour et al., (1987); Wijana (2014). Data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian pada kawasan hutan yang dibagi menjadi 4 wilayah berdasarkan kondisi lingkungan dan jumlah dominan spesies tumbuhan didapatkan 32 spesies tumbuhan langka dari 17 familia diantaranya yaitu Verbenaceae, Malpighiales, Meliaceae, Moraceae, Anacardiaceae, Apocynaceae, Lauraceae, Annonaceae, Combretaceae, Lythraceae, Myristicaceae, Phyllanthaceae, Rubiaceae, Myrtaceae, Caesalpinioidea, Elaeocarpaceae, dan Clusiaceae. Kata Kunci : Hutan Wisata Alas Kedaton, Peta sebaran, dan Tumbuhan langka The purpose research were to know mapping distribution of rare plant species on the Alas Kedaton Forest, Kukuh Village, Marga District, Tabanan. This research is explorative. The research population was all species of rare plants in the Alas Kedaton Forest. Samples were all rare plant species that covered by the square size of 20 x 20 m of 100. Mapping techniques use a simple measurement according Soenaryanto (1976). The sampling technique are plants is being systematically refers to Mueller-Dombois (1974); Barbour et al., (1987); Wijana (2014). Data were analyzed descriptively. Results of research on forest area is divided into four areas based on environmental conditions and the number of dominant plant species found 32 species of rare plants from 17 familia consist of Verbenaceae, Malpighiales, Meliaceae, Moraceae, Anacardiaceae, Apocynaceae, Lauraceae, Annonaceae, Combretaceae, Lythraceae, Myristicaceae, Phyllanthaceae, Rubiaceae, Myrtaceae, Caesalpinioidea, Elaeocarpaceae, and Clusiaceae.keyword : Alas Kedaton Forest, Mapping distribution, and Rare plants
ANALISIS KUALITAS LINGKUNGAN HIDUP VEGETASI TERESTRIAL DITINJAU DARI ASPEK ABIOTIC DAN BIOTIC ENVIRONMENT DI KAWASAN WISATA DANAU BERATAN ., Ni Putu Siswandari; ., Prof. Dr.Ida Bagus Putu Arnyana, M.Si; ., Prof. Dr. Nyoman Wijana,M.Si
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) kualitas lingkungan hidup vegetasi terestrial ditinjau dari aspek Abiotic dan Biotic Environtment di kawasan wisata Danau Beratan, (2) sumber dampak terhadap perubahan kualitas lingkungan di kawasan tersebut. Penelitian ini dilakukan pada kawasan wisata hutan. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksploratif. Populasi dalam penelitian ini adalah komponen lingkungan hidup yang meliputi komponen abiotic dan biotic. Komponen Abiotic pada terdiri atas tekstur tanah dan kemiringan lahan, sedangkan komponen biotic meliputi crown cover, densitas, dan stratifikasi. Sampel penelitian ini adalah aspek biotic,dan biotic pada kawasan wisata hutan yang tercakup dalam kuadrat. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara sistematik sampling. Data dianalisis secara statistik ekologi dan deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) Kualitas lingkungan hidup ditinjau dari Aspek Abiotic dan Biotic Environtment di kawasan wisata Hutan Danau Beratan secara umum tergolong dalam kualitas buruk dengan skor 72, dan (2) sumber dampak pencemaran di kawasan hutan disebabkan oleh faktor intervensi manusia dan faktor alami.Kata Kunci : Abiotic dan biotic Environtment, Kualitas Lingkungan Hidup The aims of this research are to know (1) the quality of the environment in terms of aspects of terrestrial vegetation abiotic and Biotic Environtment in the tourist area of Beratan Lake, (2) the source of the impact of changing environmental quality in the region. This research was conducted in the tourist area of the forest. This type of research is exploratory research. The population in this research is a component of the environment that includes abiotic and biotic components. Abiotic components area consists of soil texture and slope of the land, while the biotic components include crown cover, density, and stratification. Samples were aspects of biotic and biotic in the tourist area of forest covered by the squares.The sampling technique is done in a systematic sampling. Data were analyzed statistically and descriptive ecology. The results showed (1) The quality of the environment in terms of aspects of abiotic and Biotic Environtment in the tourism area of Forest Beratan Lake generally classified as poor quality with a score of 72, and (2) the source of the impact of pollution on forest area was caused by the human intervention and factors naturally.keyword : Keywords: Abiotic and Biotic Environment, Environmental Quality
KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN ANGGREK EPIFIT DI KAWASAN TAMAN WISATA ALAM (TWA) SANGEH BALI DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN MORFOLOGI TUMBUHAN ., Ni Kadek Delis Tina; ., Prof. Dr.Ida Bagus Putu Arnyana, M.Si; ., Prof. Dr. Putu Budi Adnyana, M.Si
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan: 1) untuk mengetahui keanekaragaman tumbuhan anggrek epifit di kawasan hutan Taman Wisata Alam (TWA) Sangeh Bali, 2) untuk mengetahui kelayakan pemanfaatan herbarium tumbuhan anggrek epifit di kawasan hutan Taman Wisata Alam (TWA) Sangeh Bali sebagai media pembelajaran morfologi tumbuhan. Jenis penelitian ini adalah eksploratif. Populasi penelitian ini adalah seluruh tumbuhan anggrek yang tumbuh sebagai epifit pada habitus pohon di hutan Sangeh. Sampel dari penelitian ini yakni, spesies tumbuhan anggrek epifit yang hidup di hutan Taman Wisata Alam (TWA) Sangeh yang meliputi 15 titik sampel yang jaraknya terdekat dengan line transect. Data tingkat kelayakan herbarium sebagai media pembelajaran, diperoleh melalui metode kuisioner dan observasi oleh mahasiswa semester II t.a 2015/2016. Hasil yang diperoleh adalah: 1) Ditemukan 4 jenis anggrek epifit yaitu Dendrobium crumenatum Sw., Bulbophyllum odoratum (Blume) Lindl., Bryobium hyacinthoides (Blume) Y.P.Ng & P.J.Cribb., dan Vanda tricolor Lindl., nilai indeks keanekaragaman tergolong tinggi yakni sebesar 0,6613, 2) Dari 4 herbarium terdapat 2 herbarium yang dinyatakan sangat layak dan 2 herbarium yang dinyatakan layak sebagai media pembelajaran.Kata Kunci : Anggrek, Keanekaragaman, Media Pembelajaran, Taman Wisata Alam (TWA) Sangeh Hence, this research aims: 1) to know the epiphytic orchids diversity in the forest of the Natural Park (TWA) Sangeh Bali, 2) to determine the worthiness of the use of herbarium plant epiphytic orchids in the Natural Park (TWA) Sangeh Bali as a morphology plant learning media. The research type in this study is exploratif. The population of the study is the whole orchids which grow as epiphytes on habitus trees in the Sangeh forest . Samples of the study was taken from the epiphytic orchid species that live in the forest Natural Park (TWA) Sangeh which include 15 sample points which were located closest to the line transect. Data of the worthiness of the herbarium as a learning media was obtained through questionnaire and observation by the second semester students t.a 2015/2016. The results obtained are: 1) Found 4 types of epiphytic orchids, i.e., Dendrobium crumenatum Sw., Bulbophyllum odoratum (Blume) Lindl., Bryobium hyacinthoides (Blume) Y.P.Ng & P.J.Cribb., and Vanda tricolor Lindl., The value of the diversity index is high amounting to 0.6613, 2) From 4 herbarium, there are two determined to be very worthy and two herbarium determined to be worthy as a learning media.keyword : Orchid, Diversity, Learning Media, Natural Park (TWA) Sangeh