cover
Contact Name
I Made Oka Riawan
Contact Email
made.oka@undiksha.ac.id
Phone
+62362-23884
Journal Mail Official
jurdikbiologiundiksha@gmail.com
Editorial Address
Jalan Udayana, Kampus Tengah Undiksha, FMIPA. Singaraja-Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Biologi Undiksha
Jurnal Pendidikan Biologi adalah adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan Ganesha. Jurnal ini bertujuan untuk mewadahi artikel-artikel hasil penelitian dan hasil pengabdian masyarakat dibidang pendidikan dan pembelajaran. Pada akhirnya Jurnal ini dapat memberikan deskripsi tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pendidikan bagi masyarakat akademik.
Articles 82 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 2 (2017)" : 82 Documents clear
ANALISIS KONSENTRASI EKSTRAK DAUN SEREH (Cymbopogon citratus) SEBAGAI PENGAWET ALAMI TAHU TERHADAP KADAR SERUM GLUTAMATE PYRUVATE TRANSAMINASE TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) Dewa Ayu Putu Inten Utari Dewi .; Dr. Ni Luh Putu Manik Widiyanti, S.Si., .; Prof. Dr. Ni Putu Ristiati, M.Pd. .
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol. 4 No. 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v4i2.14367

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis kadar Serum Glutamate Pyruvate Transaminase (SGPT) Rattus norvegicus galur Wistar jantan setelah diberikan tahu yang direndam menggunakan akuades, formalin dan ekstrak daun sereh dengan variasi konsentrasi 20%, 40%, dan 60% (2) mengetahui konsentrasi ekstrak daun sereh (Cymbopogon citratus) sebagai pengawet alami tahu yang menghasilkan kadar Serum Glutamate Pyruvate Transaminase (SGPT) terendah pada Rattus norvegicus galur Wistar jantan. Jenis penelitian ini adalah true experimental dengan desain the randomized posttest only control group design. Sampel yang digunakan adalah Rattus norvegicus galur Wistar jantan berjumlah 40 ekor yang dipilih dengan teknik simple random sampling. Pada penelitian ini terdapat kelompok kontrol positif (formalin), kelompok kontrol negatif (akuades), kelompok perlakuan ekstrak daun sereh 20%, 40% dan 60%. Pemberian pakan berupa pellet tahu dilakukan selama sebulan dengan dosis sebanyak 10% dari berat tubuh Rattus norvegicus dan pemberian air ad libitum. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) tidak terdapat perbedaan kadar SGPT Rattus norvegicus galur Wistar jantan setelah diberikan tahu yang direndam menggunakan akuades, formalin dan ekstrak daun sereh dengan variasi konsentrasi 20%, 40%, dan 60% (2) konsentrasi ekstrak daun sereh (Cymbopogon citratus) sebagai pengawet alami tahu yang menghasilkan kadar Serum Glutamate Pyruvate Transaminase (SGPT) terendah pada Rattus norvegicus galur Wistar jantan yaitu pada konsentrasi 40% dengan rerata kadar SGPT 12,928U/L. Kata Kunci : Ekstrak, daun sereh, tahu, serum glutamate pyruvate transaminase The purpose of this research were (1) analyzed levels of Serum Glutamate Pyruvate Transaminase (SGPT) Rattus norvegicus Wistar strain with male sex after given tofu was soaked using aquadest, formalin and lemongrass (Cymbopogon citratus) leaf extract with variation of concentration of 20%, 40%, and 60%. (2) to know the concentration of lemongrass leaf extract as a natural tofu preservative that produces lowest levels of Serum Glutamate Pyruvate Transaminase (SGPT) in Rattus norvegicus Wistar strain. The type of this research was true experimental with the design of the randomized posttest only control group design. The samples in this research were 40 Rattus norvegicus Wistar strain that selected by simple random sampling technique. In this research there were positive control group (formalin), negative control group (aquadest), treatment group of lemongrass leaf extract of 20%, 40% and 60%. The feeding of tofu pellet form done for a month with a dose of 10% of body weight Rattus norvegicus and provision of water ad libitum. The results of research had been done showed that. (1) there was no difference of SGPT Rattus norvegicus strain of Wistar strain after tofu was soaked using aquades, formalin and lemongrass leaf extract with concentration variation of 20%, 40%, and 60%. (2) concentration lemongrass leaf extract as a natural preservative of tofu resulting in the lowest serum Glutamate Pyruvate Transaminase (SGPT) level in Rattus norvegicus Wistar strain with male sex that was at concentration 40% with mean of SGPT level 12,928U / L keyword : Extract, Lemongrass leaf, tofu, serum glutamate pyruvate transaminase.
MEKANISME ANGKAT DAN ANGKUT YANG TIDAK FISIOLOGIS MENINGKATKAN KELELAHAN DAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL NELAYAN PENGANGKUT IKAN DI DESA PENGAMBENGAN JEMBRANA Pipit Rubi Agustia Sari .; Prof. Dr. I Made Sutajaya,M.Kes. .; Ni Putu Sri Ratna Dewi, S.Pd., M.Pd. .
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol. 4 No. 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v4i2.14380

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) mekanisme angkat dan angkut yang tidak fisiologis dapat meningkatkan kelelahan nelayan pengangkut ikan; dan (2) mekanisme angkat dan angkut yang tidak fisiologis dapat meningkatkan keluhan muskuloskeletal nelayan pengangkut ikan. Jenis Penelitian ini adalah penelitian eksperimental lapangan (field experimental) dengan rancangan randomized pre and post test group design. Lokasi penelitian ini di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pengambengan yang terletak di Desa Pengambengan, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana-Bali. Pengambilan sampel dilakukan secara random sebanyak 24 nelayan pengangkut ikan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji t paired dengan taraf signifikansi 5 %. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan bermakna pada kelelahan nelayan pengangkut ikan sebesar 44,10 % (p < 0,05) dan keluhan muskuloskeletalnya sebesar 84,38 % (p < 0,05) antara sebelum dan sesudah bekerja. Disimpulkan bahwa mekanisme angkat dan angkut yang tidak fisiologis dapat meningkatkan kelelahan dan keluhan muskuloskeletal nelayan pengangkut ikan. Disarankan agar para nelayan pengangkut ikan selalu memperhatikan kesehatan dan keselamatan kerja, mengangkat dan mengangkut dengan cara dan posisi yang fisiologis, mengatur waktu kerja dan waktu istirahat. Kata Kunci : angkat angkut, kelelahan, keluhan muskuloskeletal. This study aims to determine: (1) lifting and transport mechanisms that are not physiological can increase fish fatigue fisherman; and (2) non physiological lifting and transport mechanisms can increase musculoskeletal complaints of fish-carrying fishers. This type of research is experimental field research (experimental field) with randomized pre and post test group design. The location of this research is at Pengambengan Fishery Fishery Port located in Pengambengan Village, Kecamatan Country, Jembrana-Bali District. Sampling was done randomly as many as 24 fishermen transporting fish. Data analysis was done by using paired t test with 5% significance level. The results of this study indicate that there is a difference between before working with fish fisherman after work, on fatigue equal to 44,10% (p
VARIASI KONSENTRASI EKSTRAK KUNYIT (Curcuma domestika) DAN LENGKUAS (Alpinia galanga) MENGAKIBATKAN PERBEDAAN ORGANOLEPTIK TAHU Ni Kadek Kandi Pina Sari .; Prof. Dr. I Made Sutajaya,M.Kes. .; Dr. Desak Made Citrawathi,M.Kes .
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol. 4 No. 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v4i2.14383

Abstract

Tujuan dari penelitian untuk mengetahui: (1) variasi konsentrasi ekstrak kunyit dan lengkuas mengakibatkan perbedaan kualitas makanan tahu secara organoleptik tahu dilihat dari kesukaan konsumen terhadap bau, rasa, warna dan teksturnya, dan (2) perubahan organoleptik makanan tahu dilihat dari kesukaan konsumen terhadap bau, rasa, warna, dan tekstur tahu setelah direndam dengan ekstrak kunyit dan tahu yang direndam dengan lengkuas pada konsentrasi yang berbeda. Jenis penelitian sesungguhan ini didesain dengan Randomized Posttest Only Control Group Design. Sampel yang digunakan adalah tahu yang direndam dalam ekstrak kunyit dan lengkuas pada konsentrasi 20%, 40%, dan 60% selama 24 jam. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) variasi konsentrasi ekstrak kunyit dan lengkuas mengakibatkan perbedaan organoleptik makanan tahu dilihat dari kesukaan konsumen terhadap bau, rasa, dan warna tahu pada ekstrak kunyit (p < 0,05) serta bau dan rasa pada ekstrak lengkuas (p < 0,05), (2) organoleptic makanan tahu mengalami perubahan pada indikator bau, rasa, dan warna pada ekstrak kunyit dan pada ekstrak lengkuas hanya bau dan rasa yang berubah, dan (3) makanan tahu yang lebih disukai oleh konsumen adalah tahu yang direndam dengan ekstrak kunyit, karena dalam katagori bau nilai kesukaan konsumen lebih tinggi 26,13% pada ekstrak 40% dan 19,74% pada ekstrak 60% dibandingkan dengan ekstrak lengkuas pada konsentrasi yang sama.Kata Kunci : Uji Organoleptik, Ekstrak kunyit, Ekstrak lengkuas, Tahu The purpose of this research are: (1) know variation of concentration of turmeric extract and galangal result of organoleptic difference of know seen from consumer's preference to odor, taste, color and texture, and (2) know organoleptic change know seen from consumer's preference to odor, taste, color, and texture tofu after soaking with turmeric extract and galangal at different concentrations. The samples used were tofu soaked in turmeric extract and tofu soaked in galangal at concentrations of 20%, 40%, and 60% for 24 hours. The results of organoleptic test were analyzed by using Kruskal-Wallis statistic test and further test with Mann-Whitney at a significant level 5%. The results of this study showed that: (1) tofu soaked with turmeric extract and galangal was still favored, (2) there was a change of the tofu quality after soaking with turmeric extract and galangal in terms of smell, taste, color and texture, (3) tofu that is soaked with turmeric extract turned out to be more favored by consumers. The conclusions of this study were: (1) variation of concentration of turmeric extract and galangal resulted in organoleptic differences knowing from consumer preferences to tofu odor, taste, and color on turmeric extract (p
Perkembangan Fisiognomi dan Fenologi Spesies Tumbuhan Langka pada Fase Penyemaian sampai Tahapan Bibit Siap Tanam di Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Unda Anyar Provinsi Bali Kadek Suyobi .; Prof. Dr. Nyoman Wijana,M.Si .; I Made Pasek Anton Santiasa, S.Pd.,M.Sc. .
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol. 4 No. 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v4i2.14384

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui fisiognomi dan fenologi spesies tumbuhan langka dari fase penyemaian sampai tahapan bibit siap tanam dan (2) cara pembibitan untuk menumbuhkan tumbuhan langka. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif. Populasi pada penelitian ini adalah spesies tumbuhan langka yang di kawasan hutan Penglipuran dan spesies tumbuhan langka di Balai Pengelolaan Derah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Unda Anyar Provinsi Bali. Sampel penelitian ini adalah 2 spesies profagul tumbuhan langka di kawasan Penglipuran dan 3 spesies profagul tumbuhan langka di Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Unda Anyar Provinsi Bali. Pengumpulan data dengan metode observasi, wawancara dan kajian pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Fisiognomi spesies tumbuhan memiliki keragaman bentuk yang khas bagi setiap spesies tumbuhan, tinggi tumbuhan dan diameter batang yang paling cepat tinggi dan lebar batang yang paling besar yaitu cempaka dan tinggi tumbuhan yang lambat tumbuh dan diameter batang yang kecil yaitu kayu putih. Jumlah daun yang paling banyak kayu putih. Fenologi pada tumbuhan majegau dan kayu putih memerlukan waktu lama untuk tumbuh yaitu 21 hari lama waktu perkecambahan biji dan 30 hari lama waktu tumbuhnya daun pertama. Faktor klimatik dan edafik berpengaruh terhadap fisiognomi dan fenologi suatu spesies. (2) Cara pembibitan untuk menumbuhkan tumbuhan langka, di bedengan menggunakan media pasir sedangkan di polybag tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 6:1. Penyiraman mahoni tidak terlalu basah karena biji mahoni berbentuk pipih dengan ujung agak tebal dan pengambilan bibit di bedengan dengan cara memasukkan tangan ke dalam lubang akar kemudian secara perlahan bibit diangkat agar akar tidak putus karena biji dari mahoni lunak menyatu dengan akar, sedangkan untuk tumbuhan cempaka, majegau, tabebuya dan kayu putih dicabut secara hati-hati. Kata Kunci : Fisiognomi, Fenologi, Tumbuhan Langka, Penyemaian, Cara Pembibitan The purposes of this research were: (1) to know the physiognomy and phenology of rare plant species from the seeding phase until the seedling stage is ready to plant and (2) the nursery way to grow rare plants. The population in this study is a rare plant species in the area of Penglipuran forest and endangered plant species at center of management of river areas of rivers and forests unda anyar province bali. The samples of this research were 2 specieses of rare plant propagul in Penglipuran area and 3 specieses of rare plant profagul at center of management of river areas of rivers and forests unda anyar province bali. Data collection by observation method, interview and literature review. The results of the research shows that: (1) Physiognomy of plant species has a distinct variety of shapes that are unique to each plant species, plant height and diameter of the fastest stem high and the width of the stem is the largest cempaka while the slow growing plant and the small diameter of the stems eucalyptus. The highest number of leaves is eucalyptus. The Phenology of majegau and eucalpyptus plants takes a long time to grow, 21 days of seed germination time and 30 days of leaf growing time. Climatic and edaphic factors effect the physiognomy and phenology of a species. (2) Breeding method to grow rare plants, in bed using sand medium while in polybag soil and manure with ratio 6: 1. In cempaka plants and majegau seeds soaked before sowing. Mahogany watering is not too wet because the mahogany seed is flat with a slightly thick tip and seedling in the bed by putting the hand into the root hole then slowly removed to the root of the roots do not break because the seeds of soft mahogany blend with the roots, while for cempaka plants, majegau, tabebuya and eucalyptus are carefully removed.keyword : Physiognomy, Phenology, Rare Plant, Seeding, How to Breeding
STUDI TENTANG CORAK HABITAT DAN KOMPONEN PENDUKUNGNYA TERHADAP POPULASI RUSA TIMOR (Cervus timorensis, DE BLAINVILLE 1822) DI TELUK BRUMBUN TAMAN NASIONAL BALI BARAT Made Ari Sanjaya .; Prof. Dr. Ida Bagus Jelantik Swasta,M.Si .; Prof. Dr. Putu Budi Adnyana, M.Si. .
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol. 4 No. 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v4i2.14399

Abstract

Rusa timor (Cervus timorensis) merupakan salah satu jenis satwa yang memiliki penyebaran yang cukup luas di Indonesia, namun secara umum populasinya diindikasi terus mengalami penurunan dari waktu ke waktu akibat kerusakan habitat dan tekanan perburuan, serta ada juga indikasi yang menunjukkan mulai terjadi pergeseran pola penyebarannya di kawasan-kawasan hutan termasuk di Taman Nasional Bali Barat. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif eksploratif dengan melakukan survei lapangan (field study). Hasil penelitian menunjukkan corak habitat pada Ekosistem Hutan Savanna di Teluk Brumbum Taman Nasional Bali Barat mencapai rentangan suhu ± 30oC sampai ± 33oC dan rentangan kelembaban ± 49,75% sampai ± 73% serta rentangan intensitas cahaya ± 462,5 lux sampai ± 600 lux. Adapun ketinggian tempat di Teluk Brumbun Taman Nasional Bali Barat mencapai ± 90 Mdpl. Topografi habitat rusa timor merupakan daerah dataran rendah dengan tipe habitat semi terbuka. Sedangkan komponen pendukung habitat terhadap populasi rusa timor di Teluk Brumbun Taman Nasional Bali Barat cukup baik dapat dilihat dari indikator-indikator sebagai berikut; a). luas habitat; b) pakan dan minum; c) tempat berlindung masih tersedia akan tetapi terdapat ancaman yang mempengaruhi keberadaan rusa di habitatnya yaitu anjing liar yang memburu satwa-satwa liar di TNBB khususnya rusa timor (Cervus timorensis).Kata Kunci : rusa timor (Cervus timorensis), TNBB, corak habitat, komponen pendukung. Deer timor (Cervus timorensis) is one of the most widely distributed species in Indonesia, but the population is generally indicated to continue to decline over time due to habitat destruction and hunting pressure, and there are also indications that there is a shift in the pattern of spreading in forest areas including in West Bali National Park. The type of this research is descriptive explorative research by conducting field survey. The result showed that habitat pattern at Savanna Forest Ecosystem at Brumbum Bay of West Bali National Park reached a temperature range of ± 30oC to ± 33oC and moisture range ± 49,75% to ± 73% and light intensity range ± 462,5 lux up to ± 600 lux. The height of the place in Brumbun Bay West Bali National Park reached ± 90 Mdpl. Topography of deer timor habitat is lowland area with semi open type habitat. While the habitat support component of the deer timor population in Brumbun Bay National Park of West Bali is quite good can be seen from the indicators as follows; a). habitat area; b) feed and drink; c) shelter is still available but there are threats that affect the presence of deer in their habitat of wild dogs hunting wildlife in the park, especially deer timor (Cervus timorensis).keyword : deer timor (Cervus timorensis), TNBB, habitat pattern, support components.
ANALISIS VEGETASI DAN PENYUSUNAN KAMUS FLORISTIK SEPANJANG LINTASAN SINGARAJA-PENULISAN NI LUH SRI ARI SUKERTININGSIH .; Dr.I Gusti Agung Nyoman Setiawan, M.Si. .; Dr. Ni Luh Putu Manik Widiyanti, S.Si., .
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol. 4 No. 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v4i2.14400

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) komposisi floristik yang terdistribusi di sepanjang lintasan Singaraja-Penulisan; (2) indeks keanekaragaman tumbuhan yang ada di sepanjang lintasan Singaraja-Penulisan; dan (3) model kamus floristik yang tersusun dari hasil kajian. Jenis penelitian ini termasuk penelitian eksploratif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode line transect. Pengambilan sampel spesies tumbuhan dilakukan secara sistematik sampling. Teknik analisis data untuk menghitung keanekaragaman tumbuhan dengan menghitung nilai penting. Pembuatan kamus floristik menggunakan model ADDIE (Analysis, Development, Design, Implementation, Evaluation). Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) Komposisi floristik di sepanjang lintasan Singaraja-Penulisan terdiri dari 69 spesies tumbuhan yang termasuk ke dalam 39 familia. (2) Indeks keanekaragaman spesies tumbuhan secara keseluruhan memiliki rata-rata sebesar 2,83, termasuk ketegori sedang. (3) Model kamus yang dikembangkan pada penelitian ini adalah kamus floristik yang berisikan nama ilmiah, gambar, nama lokal, klasifikasi, dan deskripsi dari setiap spesies tumbuhan.Kata Kunci : komposisi floristik, keanekaragaman, kamus floristik This research purposes to know: (1) distributed floristic composition along the traffic line Singaraja-Penulisan; (2) out the indices of plant diversity that exist along the traffic line Singaraja-Penulisan; and (3) model of the floristic dictionary composed of the results of the study. This type of research belongs to explorative research. The method used in this research is line transect method. Sampling of plant species was conducted in a systematic sampling. Data analysis technique for calculating plant diversity. Creation of a floristic dictionary use the ADDIE model (Analysis, Development, Design, Implementation, Evaluation). The results of this study show: (1) The floristic composition along the Singaraja-Penulisan is 69 plant species originating from 39 family. (2) The overall species diversity index of 2.83, the value indicates that the index of diversity includes the moderate category. (3) The dictionary model developed in the study is a floristic dictionary containing scientific names, photo, local names, classifications, and descriptions of plant species.keyword : floristic composition, diversity, floristic dictionary
Distribusi dan Diversitas Spesies Tumbuhan Simbol Tubuh (Tri Angga) Masyarakat Bali Aga Pada Tri Mandala di Desa Tigawasa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng Ni Kadek Mira Sapitri .; Prof. Dr. Nyoman Wijana,M.Si .; Prof. Dr.Ida Bagus Putu Arnyana, M.Si .
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol. 4 No. 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v4i2.14401

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) Spesies tumbuhan simbol tubuh (Tri Angga) apa sajakah yang ada di ruang Tri Mandala pada masyarakat Bali Aga di Desa Tigawasa (2) indeks keanekaragaman spesies tumbuhan simbol tubuh (Tri Angga) yang ada di ruang Tri Mandala pada masyarakat Bali Aga di Desa Tigawasa (3) pola distribusi spesies tumbuhan simbol tubuh (Tri Angga) yang ada di ruang Tri Mandala pada masyarakat Bali Aga di Desa Tigawasa. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksploratif. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh tumbuhan simbol tubuh yang terdapat di Desa Tigawasa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Parameter yang diukur dalam penelitian ini adalah parameter ekosistem dan parameter sosiosistem. Paramater ekosistem ini yang meliputi makhluk hidup dalam ekosistem yaitu khususnya tumbuhan simbol tubuh. Parameter Sosiosistem yang meliputi budaya Bali Aga Desa Tigawasa dalam pelestarian tumbuhan simbol tubuh. Culture dalam penelitian ini meliputi parameter; (1) human nature orientation, (2) man nature orientation, (3) time orientation, (4) activity orientation dan (5) relational orientation. Teknik pengambilan sampel dilakukan metode kuadrat dengan sistematik sampling sedangkan culture dilakukan dengan pemberian kuesioner dan wawancara. Data dianalisis secara statistik ekologi dan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan (1) Spesies tumbuhan simbol tubuh yang ditemukan pada Tri Mandala Desa Tigawasa yang meliputi Uttama Mandala yaitu 4 spesies (8,89%); pada Madya Mandala yaitu 17 spesies (37,78%); pada Nista Mandala yaitu 5 spesies (11,11%). Tumbuhan simbol tubuh yang terdapat di Desa Tigawasa yaitu 18 spesies (40%), (2) indeks keanekaragaman spesies tumbuhan simbol tubuh di Desa Tigawasa yaitu mencapai 0,886 sedangkan kemelimpahannya 0,114 sehingga dapat dikategorikan kedalam keanekaragaman tinggi, (3) Pola distribusi spesies tumbuhan simbol tubuh dari 18 spesies yang ditemukan untuk pola distribusi tipe teratur yaitu sebanyak 7 spesies (38,39%), tipe acak yaitu 2 spesies (11,11%), tipe mengelompok yaitu 9 spesies (50%). Kata Kunci : Tumbuhan Simbol Tubuh (Tri Angga), Tri Mandala, Desa Tigawasa, Bali Aga. The purpose of this research is to know (1) Species of body symbols (Tri Angga) what are in Tri Mandala room at Bali Aga community in Tigawasa Village (2) index of plant species diversity of body symbol (Tri Angga) Mandala in Bali Aga community in Tigawasa village (3) distribution pattern of plant species of body symbol (Tri Angga) in Tri Mandala room on Bali Aga community in Tigawasa Village. The type of research conducted is explorative research. The population in this research is all the whole plant body symbols that exist in Tigawasa Village, Banjar District, Buleleng Regency. Parameters measured in this study are ecosystem parameters and sociosystem parameters. These ecosystem parameters include living creatures in ecosystems, especially the symbols of the body. This Sosiosistem parameter which encompasses the culture of Bali Aga Tigawasa Village in preserving the body symbol of body. Culture in this study includes parameters Culture dalam penelitian ini meliputi parameter; (1) human nature orientation, (2) man nature orientation, (3) time orientation, (4) activity orientation dan (5) relational orientation. The sampling technique was conducted by quadratic method with systematic sampling while culture was done by giving questionnaire and interview. Data were analyzed in ecological and descriptive statistics. The results showed (1) Species of plant body symbols found in Tri Mandala Tigawasa Village which includes Uttama Mandala which is 4 species (8,89%); in Madya Mandala is 17 species (37,78%); on Nista Mandala which is 5 species (11,11%). With such a symbol of body plants in the village of Tigawasa is 18 species (40%), 2) the index of plant species diversity in Tigawasa village is 0.886 whereas the abundance is 0.114 so it can be categorized into high diversity, (3) Distribution pattern of plant species of body symbol of 18 species found for regular type distribution pattern that is 7 species (38,39%), random type 2 species (11,11%), clustered type is 9 species (50%).keyword : Symbol Body Plants (Tri Angga), Tri Mandala, Tigawasa Village, Bali Aga.
VARIASI PENGGUNAAN TEPUNG DAUN SERAI (Cymbopogon citratus (DC.) Stapf) TERHADAP MORTALITAS IMAGO KUMBANG TEPUNG (Tribolium castaneum Herbst.) NI KOMANG SURYANI .; Drs. Sanusi Mulyadiharja, M.Pd. .; Dr. I Wayan Sukra Warpala,S.Pd., M.Sc. .
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol. 4 No. 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v4i2.14402

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) perbedaan mortalitas imago kumbang tepung (Tribolium castaneum Herbst.) akibat pemberian variasi berat tepung daun serai (Cymbopogon citratus (DC.) Stapf), dan (2) berat tepung daun serai (Cymbopogon citratus (DC.) Stapf) yang paling berpengaruh terhadap mortalitas imago kumbang tepung (Tribolium castaneum Herbst.). Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen sungguhan (true experiment) dengan desain penelitian randomized posttest only control group design. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 240 imago kumbang tepung. Perbedaan berat tepung daun serai yang digunakan dalam penelitian ini adalah 3 gram, 6 gram, 9 gram, dan 0 gram (kontrol). Data yang diperoleh dianalisis dengan uji Anova One Way pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian ini adalah: (1) ada perbedaan mortalitas imago kumbang tepung (Tribolium castaneum Herbst.) akibat pemberian variasi berat tepung daun serai (Cymbopogon citratus (DC.) Stapf), berdasarkan hasil uji hipotesis menunjukkan angka signifikansi 0,000
KORELASI HIGIENE PEDAGANG DENGAN KEBERADAAN BAKTERI COLIFORM FECAL PADA MINUMAN ES TEH YANG DIJUAL DI SEKITAR KAMPUS UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA ANA MAULANA .; Prof. Dr. Ni Putu Ristiati, M.Pd. .; Ida Ayu Putu Suryanti, S.Si., M.Si. .
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol. 4 No. 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v4i2.14449

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi higiene pedagang dengan keberadaan bakteri Coliform fecal pada minuman es teh. Jenis penelitian ini adalah explanatory research dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pedagang es teh yang ada di sekitar Kampus Tengah dan Kampus Bawah Universitas Pendidikan Ganesha yang berjumlah 22. Sampel penelitian yang digunakan berjumlah 17 pedagang sebagai responden dalam penyebaran kuisioner dengan teknik pengambilan data Non-Probability Sampling, secara Purposive Sampling. Analisis data dengan menggunakan uji Chi-Square dengan taraf siginifikansi 5% dan diikuti dengan uji koefisien korelasi, jika tidak memenuhi syarat pada uji chi square maka menggunakan uji alternatif yaitu uji Fisher’s. Hasil penelitian ini adalah ada korelasi antara higiene pedagang dengan keberadaan bakteri Coliform fecal pada minuman es teh dengan keakuratan korelasi kuat (p = 0,006 dan Contingency Coeficient = 0,601).Kata Kunci : higiene, sanitasi, bakteri Coliform fecal The purpose of this research were to know correlation traders hygiene with presence of Coliform fecal bacteria on iced tea drink. The type of this research is explanatory research with cross sectional approach. The population in this research is all the tea ice traders around the Central Campus and the Lower Campus of Ganesha University Education which amounted to 22. The sample of the research used were 17 traders as respondents in the distribution of questionnaires with the technique of data retrieval of Non-Probability Sampling, Purposive Sampling. Data analysis using Chi-Square test with 5% significance level and followed by correlation coefficient test, if not qualified in chi square test then use alternative test that is Fisher's test. The result of this research there is correlation between trader hygiene with presence of Coliform fecal bacteria on ice tea drink with strong correlation accuracy (p = 0.006 and Contingency Coeficient = 0.601). keyword : Hygiene, Sanitation, Coliform fecal Bacteria
PEMBERIAN VARIASI SUSPENSI KONIDIOSPORA CENDAWAN ENTOMOPATOGENIK Beauveria bassiana TERHADAP MORTALITAS KUTU PUTIH (Rastrococcus spinosus) Pada Tanaman Cabai Kathur (Capsicum frutescens) KADEK KUSUMA DEWI .; Dr. Desak Made Citrawathi,M.Kes .; Drs. Sanusi Mulyadiharja, M.Pd. .
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol. 4 No. 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v4i2.14470

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Perbedaan mortalitas kutu putih (Rastrococcus spinosus) akibat pemberian suspensi konidiospora cendawan Beauveria bassiana dengan konsentrasi yang berbeda (2) Konsentrasi suspensi konidiospora Beauveria bassiana yang dapat membunuh 50% (LC50) kutu putih (Rastrococcus spinosus) pada tanaman cabai. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen sungguhan dengan rancangan randomized post test only control group design. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 240 nimfa instar III kutu putih. Pemberian suspensi konidiospora yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 5 seri tingkat pengenceran, dan kontrol. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji Anova One Way pada taraf signifikansi 5% dan analisis probit. Hasil penelitian ini adalah: (1) Ada perbedaan mortalitas kutu putih (Rastrococcus spinosus) akibat pemberian suspensi konidiospora cendawan entomopatogenik Beauveria bassiana pada tingkat pengenceran yang berbeda, yaitu pada 10-1. (2) Estimasi pengenceran 28,8 x 10-1 suspensi konidiospora dapat membunuh 50% (LC50) nimfa instar III kutu putih pada tanaman cabai dengan taraf kepercayaan 95%. Kata Kunci : Cendawan entomopatogenik, konidiospora, mortalitas, Beauveria bassiana, Rastrococcus spinosus, tanaman cabai The aims of this research were to determine: (1) Differences mortality of mealybugs (Rastrococcus spinosus) due to administration suspension of conidiospores Beauveria bassiana with different concentrations (2) Concentrations of conidiospores Beauveria bassiana suspention that could kill 50% (LC50) mealybugs (Rastrococcus spinosus) in chili plant. The type of research was a true experimental research with a randomized design post-test only control group design. The samples in this research were 240 third-instar nymphs of Rastrococcus spinosus. This research using 5 series of conidiospora suspension dilutions and controls sprayed directly on the instar nymphs. The data obtained were analyzed by One Way Anova test at 5% significance level and probit analysis. The results of this research were (1) There was a difference mortality of mealybugs (Rastrococcus spinosus) due to administration suspension of conidiospores Beauveria bassiana at different dilution levels at 10-1. (2) Estimated dilution of 28,8 x10-1 suspension conidiospora could kill 50% (LC50) third instar nymphs mealybug in chili plant with 95% confidence level.keyword : Entomopathogenic fungi, conidiospores, mortality, Beauveria bassiana, Rastrococcus spinosus, chili plant