cover
Contact Name
Irfan Noor
Contact Email
albanjari@uin-antasari.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
irfannoor@uin-antasari.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman
ISSN : 14129507     EISSN : 25276778     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
AL-BANJARI merupakan Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman yang diterbitkan oleh Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin sebagai media penuangan dan pengkajian karya ilmiah dalam bidang studi Islam. Jurnal ini terbit secara berkala dua kali dalam setahun (Januari dan Juli)
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 2 (2012)" : 18 Documents clear
ULAMA BANJAR KHARISMATIK MASA KINI DI KALIMANTAN SELATAN: Studi Terhadap Figur Guru Bachiet, Guru Danau, dan Guru Zuhdi Mujiburrahman, Mujiburrahman; Abidin, Muhammad Zainal
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 11, No 2 (2012)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.85 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v11i2.421

Abstract

Artikel ini meneliti tiga figur ulama kharismatik masa kini yang ada di Kalimantan Selatan. Figur yang diangkat dalam tulisan ini, yaitu K. H. Muhammad Bachieth (Guru Bachieth); K. H. Asmuni (Guru Danau) dan K. H. Ahmad Zuhdiannor (Guru Zuhdi). Ketiga ulama Banjar yang dibahas menunjukkan ciri-ciri seorang tokoh kharismatik berdasarkan teori kharisma dalam sosiologi. Mereka adalah tokoh-tokoh yang memiliki keistimewaan, dan tampil di saat krisis, baik krisis sosial yang tengah terjadi, ataupun krisis kepemimpinan ulama. Masing-masing tokoh memiliki pesona, yang mampu memukau ribuan khalayak yang setia mendengarkan ceramah-ceramahnya. Ia seolah memiliki kekuatan magnetik, yang menyerap orang-orang di sekelilingnya untuk medekat. Meskipun sama-sama memiliki kharisma, masing-masing tokoh memiliki keunikannya sendiri-sendiri. Latarbelakang sejarah intelektual mereka memang tidak sama, meskipun secara garis besar masih berada dalam jalur keulamaan tradisional. Mereka juga menjadi tokoh di wilayah yang berbeda, dengan jemaah yang berbeda pula
KESULTANAN BANJAR DAN KEPENTINGAN DAKWAH ISLAM Buseri, Kamrani
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 11, No 2 (2012)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.824 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v11i2.457

Abstract

Kajian ini membahas tentang penyebaran Islam sejak kerajaan Banjar pada abad ke- 16. Perkembangan Islam di Banjarmasin didukung oleh kerajaan Banjar, yang menganut agama Islam dan memberikan pengaruh kepada masyarakatnya untuk menganut agama Islam. Sultan Suriansyah sebagai Sultan Banjar yang pertama mengupayakan penyebaran Islam dengan pengkaderan ulama, yaitu dengan mengirim Syekh Arsyad Al-Banjary, yang kemudian dikenal sebagai ulama Banjar yang tersohor, bahkan di luar Nusantara. Dengan buku-buku beliau yang ada, ajaran beliau sampai sekarang masih berkembang, ajaran yang dinamis, yang memberikan adaptasi budaya Islam yang sesuai dengan kekhasan corak daerah Banjar yang sangat kaya dan bervariasi.
ISLAM DAN REPRESENTASI IDENTITAS BANJAR PASCA ORDE BARU DI KALIMANTAN SELATAN Noor, Irfan
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 11, No 2 (2012)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.345 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v11i2.423

Abstract

Gerakan formalisasi syari’at Islam yang marak di Indonesia pasca Orde Baru telah berhasil mengambil manfaat dari berkembangnya wacana peneguhan identiti lokal di era Otonomi Daerah. Salah satu dari keberhasilan gerakan ini adalah terbitnya berbagai Perda bernuansa syariat Islam di berbagai daerah di Indonesia. Salah satu daerah yang menunjukan kecenderungan seperti itu adalah Kalimantan Selatan. Di daerah ini, titik tolak berkembangnya wacana peneguhan identitas lokal adalah dampak negatif budaya global yang bersinergi dengan totalitarianisme konstruk negara bangsa. Oleh karena itu, ketika karakter khas yang dikembangkan oleh gerakan Islamisme adalah suatu ideologi perlawanan (counter-ideology) terhadap berbagai faham modenisme dan sekularisme, maka gerakan ini mampu berkelindan dengan wacana peneguhan identitas lokal yang juga mengembangkan suatu upaya perlawanan terhadap konstruk negara-bangsa yang cenderung bersifat totalitarianisme ala Orde Baru. Kajian ini memberikan kerangka kerja alternatif dalam memahami identitas etnik Banjar dan politik identitasnya dari beberapa kajian sebelumnya yang cenderung menekankan unsur-unsur primordialisme. Kajian ini diharapkan dapat memberikan suatu pemahaman tambahan tentang politik identitas Islam di Indonesia pasca Orde Baru.
SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM DI BANJARMASIN DAN PERAN KESULTANAN BANJAR (ABAD XV-XIX) Noor, Yusliani
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 11, No 2 (2012)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.221 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v11i2.458

Abstract

Islamisasi Banjarmasin menghasilkan identitas baru pada etnis Dayak Islam sebagai Melayu sekaligus menjadi Banjar,[1] dan demikian pula etnis lainnya seperti; Jawa, Melayu, Bugis-Makassar serta Wajo, khususnya mereka yang berafiliasi, bercampur dan berada dalam suzerinitas Kesultanan Banjar. Suku-suku bangsa ini menghasilkan generasi campuran (mixing generation) karena perkawinan, yang juga menjadi Banjar. Berbagai etnis ini disatukan oleh transformasi dan transkulturasi religiusitas secara genius dari kepercayaan dan budaya Kaharingan-Balian, Hindu-Budha kepada agama Islam dan menjadi berbudaya Islam. Mereka memiliki bahasa Melayu Banjar sebagai Lingua-Franca, sekaligus sebagai bahasa pemersatu.[1]Kenyataan ini ditandai dengan alur cerita dan kemiripan Naskah-Naskah Hikayat yang dianggap bercorak Melayu, sehingga Hikayat Banjar dan Tutur Candi, memiliki genre yang senada dengan Hikayat Hang Tuah, Hikayat Raja Pasai, Sulalat al-Salatin (Sejarah Melayu), Hikayat Aceh, Cerita Asal Bangsa Jin dan Segala Dewa-Dewa, Salasilah Kutai, yang semuanya menampilkan aspek bahasa Melayu; bahasa sastra, politik dan hukum serta bahasa komunikasi. Lihat Henri Chambert-Loir, 2011, Sultan, Pahlawan dan Hakim, KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) bekerjasama dengan Ecole francaise dExtreme-Orient Masyarakat Pernaskahan Nusantara Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat-UIN Jakarta: Jakarta, hlm. 7. Hasil Penelitian antropologis Y. C. Thambun Anyang, menunjukkan bahwa komunitas Dayak Taman di Kalimantan Barat ketika telah Islam menyebut dirinya turun Melayu atau menjadi Melayu. Lihat Y. C. Thambun Anyang, 1998, Kebudayaan dan Perubahan Daya Taman Kalimantan Dalam Arus Modernisasi, Studi Etnografis Organisasi sosial dan Kekerabatan dengan Pendekatan Antropologi Hukum, Jakarta: Grasendo, hlm. 103. Bandingkan dengan proses diakronis sejak abad ke-15 dalam perspektif Dayak Islam di Banjarmasin yang menjadi Melayu dan juga menyebut dirinya Banjar, sering disebut pula Melayu Banjar.
NUR MUHAMMAD DALAM PEMIKIRAN SUFISTIK DATU ABULUNG DI KALIMANTAN SELATAN Kolis, Nur
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 11, No 2 (2012)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (623.871 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v11i2.425

Abstract

Nūr Muhammad adalah satu terma yang penting dalam bidang tasawuf. Tulisan ini adalah hasil penelitian tentang Nūr Muhammad dalam tasawuf perspektif Syeikh Abdul Hamid Abulung, seorang ulama sufi yang hidup di tanah Banjar Kalimantan Selatan pada abad ke-18 Masehi, bertujuan untuk menjelaskan pemahaman Nūr Muhammad dalam ilmu tasawuf Syeikh Abdul Hamid Abulung meliputi konsep, metode, dan pengalaman kerohanian. Kajian ini melibatkan penelitian perpustakaan dan lapangan. Penelitian menemukan bahwa paham Nūr Muhammad dalam perspektif Syeikh Abdul Hamid Abulung bukan sekadar teori kosmologi saja, tetapi sebuah konsep tentang Tuhan dan hubungannya dengan alam ciptaan-Nya yang apabila dipahami dan diamalkan dengan baik dapat menghantarkan seorang untuk menghampiri Tuhannya. Dalam konsep Nur Muhammad dalam tasawuf Syeikh Abdul Hamid Abulung terdapat sebuah metode yang dikenal sebagai mushāhadah. Mushāhadah diamalkan melalui salat dā‟im dan zikr. Konsep Nūr Muhammad yang diamalkan dengan metode mushāhadah, memungkinkan pengamalnya mendapat pengalaman kerohanian yang tinggi, yaitu kesadaran akan Wujud ke-Maha Esa-an Allah yang tiada wujud selain-Nya. Kesadaran salik yang demikian membolehkannya memasuki alam fanā, baqā, ittihād, dan hulūl. Konsep Nūr Muhammad dalam perspektif Syeikh Abdul Hamid Abulung mengandung teori, metode dan juga pengalaman kerohanian yang luar biasa.
PERANAN KYAI HAJI IBRAHIM DALAM DAKWAH DAN PENDIDIKAN Hartati, Zainap
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 11, No 2 (2012)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.493 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v11i2.427

Abstract

Islam masuk di Kalimantan Tengah dengan jalan damai, melalui perkawinan dan dengan jalur perdagangan melalui sungai. Masuknya Islam ke daerah ini tidak terlepas dari peran para ulama maupun da’i yang berasal dari Kalimantan Selatan. Salah satu ulama/da’i yang berperan terhadap penyebaran dan perkembangan Islam adalah KH. Ibrahim bin Muhammad Nuh. Beliau dikenal dalam aktivitas dakwah dan peran pendidikan sebagai guru, dan upaya beliau untuk mendirikan pesantren di Palangkaraya. Di antara materi pelajaran yang diajarkan sebagaiman beliau tulis dalam “Hidayatul Insan Fita’limiddin Tauhid”, yang berisikan tentang pelajaran sifat dua puluh, yang masih berupa tulisan tangan beliau dengam huruf Arab Melayu.
ULAMA BANJAR KHARISMATIK MASA KINI DI KALIMANTAN SELATAN: STUDI TERHADAP FIGUR GURU BACHIET, GURU DANAU, DAN GURU ZUHDI Mujiburrahman, Mujiburrahman; Abidin, Muhammad Zainal
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 11, No 2 (2012)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.85 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v11i2.421

Abstract

Artikel ini meneliti tiga figur ulama kharismatik masa kini yang ada di Kalimantan Selatan. Figur yang diangkat dalam tulisan ini, yaitu K. H. Muhammad Bachieth (Guru Bachieth); K. H. Asmuni (Guru Danau) dan K. H. Ahmad Zuhdiannor (Guru Zuhdi). Ketiga ulama Banjar yang dibahas menunjukkan ciri-ciri seorang tokoh kharismatik berdasarkan teori kharisma dalam sosiologi. Mereka adalah tokoh-tokoh yang memiliki keistimewaan, dan tampil di saat krisis, baik krisis sosial yang tengah terjadi, ataupun krisis kepemimpinan ulama. Masing-masing tokoh memiliki pesona, yang mampu memukau ribuan khalayak yang setia mendengarkan ceramah-ceramahnya. Ia seolah memiliki kekuatan magnetik, yang menyerap orang-orang di sekelilingnya untuk medekat. Meskipun sama-sama memiliki kharisma, masing-masing tokoh memiliki keunikannya sendiri-sendiri. Latarbelakang sejarah intelektual mereka memang tidak sama, meskipun secara garis besar masih berada dalam jalur keulamaan tradisional. Mereka juga menjadi tokoh di wilayah yang berbeda, dengan jemaah yang berbeda pula
KESULTANAN BANJAR DAN KEPENTINGAN DAKWAH ISLAM Buseri, Kamrani
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 11, No 2 (2012)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.824 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v11i2.457

Abstract

Kajian ini membahas tentang penyebaran Islam sejak kerajaan Banjar pada abad ke- 16. Perkembangan Islam di Banjarmasin didukung oleh kerajaan Banjar, yang menganut agama Islam dan memberikan pengaruh kepada masyarakatnya untuk menganut agama Islam. Sultan Suriansyah sebagai Sultan Banjar yang pertama mengupayakan penyebaran Islam dengan pengkaderan ulama, yaitu dengan mengirim Syekh Arsyad Al-Banjary, yang kemudian dikenal sebagai ulama Banjar yang tersohor, bahkan di luar Nusantara. Dengan buku-buku beliau yang ada, ajaran beliau sampai sekarang masih berkembang, ajaran yang dinamis, yang memberikan adaptasi budaya Islam yang sesuai dengan kekhasan corak daerah Banjar yang sangat kaya dan bervariasi.
ISLAM DAN REPRESENTASI IDENTITAS BANJAR PASCA ORDE BARU DI KALIMANTAN SELATAN Noor, Irfan
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 11, No 2 (2012)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.345 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v11i2.423

Abstract

Gerakan formalisasi syari?at Islam yang marak di Indonesia pasca Orde Baru telah berhasil mengambil manfaat dari berkembangnya wacana peneguhan identiti lokal di era Otonomi Daerah. Salah satu dari keberhasilan gerakan ini adalah terbitnya berbagai Perda bernuansa syari'at Islam di berbagai daerah di Indonesia. Salah satu daerah yang menunjukan kecenderungan seperti itu adalah Kalimantan Selatan. Di daerah ini, titik tolak berkembangnya wacana peneguhan identitas lokal adalah dampak negatif budaya global yang bersinergi dengan totalitarianisme konstruk negara bangsa. Oleh karena itu, ketika karakter khas yang dikembangkan oleh gerakan Islamisme adalah suatu ideologi perlawanan (counter-ideology) terhadap berbagai faham modenisme dan sekularisme, maka gerakan ini mampu berkelindan dengan wacana peneguhan identitas lokal yang juga mengembangkan suatu upaya perlawanan terhadap konstruk negara-bangsa yang cenderung bersifat totalitarianisme ala Orde Baru. Kajian ini memberikan kerangka kerja alternatif dalam memahami identitas etnik Banjar dan politik identitasnya dari beberapa kajian sebelumnya yang cenderung menekankan unsur-unsur primordialisme. Kajian ini diharapkan dapat memberikan suatu pemahaman tambahan tentang politik identitas Islam di Indonesia pasca Orde Baru.
SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM DI BANJARMASIN DAN PERAN KESULTANAN BANJAR (ABAD XV-XIX) Noor, Yusliani
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 11, No 2 (2012)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.221 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v11i2.458

Abstract

Islamisasi Banjarmasin menghasilkan identitas baru pada etnis Dayak Islam sebagai Melayu sekaligus menjadi Banjar,[1] dan demikian pula etnis lainnya seperti; Jawa, Melayu, Bugis-Makassar serta Wajo, khususnya mereka yang berafiliasi, bercampur dan berada dalam suzerinitas Kesultanan Banjar. Suku-suku bangsa ini menghasilkan generasi campuran (mixing generation) karena perkawinan, yang juga menjadi Banjar. Berbagai etnis ini disatukan oleh transformasi dan transkulturasi religiusitas secara genius dari kepercayaan dan budaya Kaharingan-Balian, Hindu-Budha kepada agama Islam dan menjadi berbudaya Islam. Mereka memiliki bahasa Melayu Banjar sebagai Lingua-Franca, sekaligus sebagai bahasa pemersatu.[1]Kenyataan ini ditandai dengan alur cerita dan kemiripan Naskah-Naskah Hikayat yang dianggap bercorak Melayu, sehingga Hikayat Banjar dan Tutur Candi, memiliki genre yang senada dengan Hikayat Hang Tuah, Hikayat Raja Pasai, Sulalat al-Salatin (Sejarah Melayu), Hikayat Aceh, Cerita Asal Bangsa Jin dan Segala Dewa-Dewa, Salasilah Kutai, yang semuanya menampilkan aspek bahasa Melayu; bahasa sastra, politik dan hukum serta bahasa komunikasi. Lihat Henri Chambert-Loir, 2011, Sultan, Pahlawan dan Hakim, KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) bekerjasama dengan Ecole francaise dExtreme-Orient Masyarakat Pernaskahan Nusantara Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat-UIN Jakarta: Jakarta, hlm. 7. Hasil Penelitian antropologis Y. C. Thambun Anyang, menunjukkan bahwa komunitas Dayak Taman di Kalimantan Barat ketika telah Islam menyebut dirinya turun Melayu atau menjadi Melayu. Lihat Y. C. Thambun Anyang, 1998, Kebudayaan dan Perubahan Daya Taman Kalimantan Dalam Arus Modernisasi, Studi Etnografis Organisasi sosial dan Kekerabatan dengan Pendekatan Antropologi Hukum, Jakarta: Grasendo, hlm. 103. Bandingkan dengan proses diakronis sejak abad ke-15 dalam perspektif Dayak Islam di Banjarmasin yang menjadi Melayu dan juga menyebut dirinya Banjar, sering disebut pula Melayu Banjar.

Page 1 of 2 | Total Record : 18