cover
Contact Name
Irfan Noor
Contact Email
albanjari@uin-antasari.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
irfannoor@uin-antasari.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman
ISSN : 14129507     EISSN : 25276778     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
AL-BANJARI merupakan Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman yang diterbitkan oleh Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin sebagai media penuangan dan pengkajian karya ilmiah dalam bidang studi Islam. Jurnal ini terbit secara berkala dua kali dalam setahun (Januari dan Juli)
Arjuna Subject : -
Articles 604 Documents
PRAKTEK JUAL SANDA DALAM MASYARAKAT PETANI DI HULU SUNGAI TENGAH Hafizah, Yulia
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 11, No 1 (2012)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.157 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v11i1.418

Abstract

Tulisan ini melakukan kajian terhadap praktek jual sanda dalam masyarak Banjar di Hulu Sungai. Praktek ini marak dilakukan sebagai bagian dari mekanisme masyarakat petani, khususnya yang berdomisili di Hulu Sungai Tengah dalam mengatasi persoalan ekonomi yang mereka hadapi. Temuan peneliti menjelaskan bahwa, meski terdapat persoalan hukum, baik dilihat dari kacamata hukum positif dan hukum Islam, praktek jual sanda tetap menjadi pilihan masyarakat. Adanya ketidakmampuan bank dan koperasi dalam menjangkau kebutuhan masyarakat menjadi salah satu penyebab dari tetap langgengnya praktek ini. Pertimbangan agama, tidaklah berlaku dalam masyarakat adat, yang walaupun semua pihak yang bertransaksi memiliki pengetahuan yang cukup dalam agama Islam. Mengutip teori rasionalitas praktisnya Max Weber yang memandang bahwa segala aktivitas manusia yang ada di dunia ini selalu dikaitkan dengan pragmatis dan egoitis, maka praktek ini dapat dipahami, yaitu kedua pihak menginginkan kemudahan dan kepraktisan. Kemudian adanya pihak yang berkuasa (superior) menindak pihak yang lemah.
PENGARUH ISLAM DAN KEBUDAYAAN MELAYU TERHADAP KESENIAN MADIHIN MASYARAKAT BANJAR Akmal, Atqo
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.758 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v17i1.2044

Abstract

Banjaresse Culture is a transformation and transculturation of the pre-Islamic religious beliefs with post-Islamization. The contact between the two cultures resulted in a new Banjar entity that strongly influenced by the values of Islam and Malay culture. In art, madihin emerges as the result of assimilation between Malay-Muslim and Banjar art cultures. Madihin has similarities to the oral literature of Malay, pantun and verse, but it is delivered in Banjaresse language, with rhymes that are not necessarily follow certain pattern (eg: must be a-a-a-a or a-b-a-b), no limitation for number of stanza, and not play a particular drama. The emergence of madihin is a transformation of qasida form which present to mark the presence of Islam in the archiplego. The use of tarbang as a musical instrument in madihin, similar to qasida with its rebana-drums. However, madihin is different from the qasida arts whose lyrics are the verses of the song. Madihin is likely an oral literature that has no pattern of regular rhyme and lyric, and not too concerned with the suitability of the lyrics, verse with the rhythm, as an important conformity in the music of qasida.Budaya masyarakat Banjar merupakan transformasi dan transkulturasi religiusitas kepercayaan pra-Islam dengan paska islamisasi. Pertemuan keduanya menghasilkan suatu entitas Banjar baru yang dipengaruhi kuat oleh nilai dan ajaran Islam serta kebudayaan melayu. Dalam bidang kesenian, sastra lisan madihin muncul sebagai hasil dari asimilasi antara kebudayaan Melayu-Islam dan Banjar. Madihin memiliki kesamaan dengan sastra lisan melayu sejenis pantun dan syair, namun disampaikan dalam bahasa Banjar, dengan rima yang tidak mesti teratur (misalnya harus: a-a-a-a atau a-b-a-b), jumlah bait yang tidak baku, dan tidak melakonkan suatu drama tertentu. Kemunculan madihin merupakan transformasi bentuk qasida yang hadir ke nusantara saat berkembangnya Islam. Penggunaan tarbang sebagai instrumen musik pengiring dalam pertunjukkan madihin, mirip dengan kesenian qasida dengan gendang rebana-nya. Namun madihin berbeda dengan kesenian qasida yang liriknya merupakan bait-bait lagu, madihin merupakan penyampaian sastra lisan sejenis pantun dan syair yang dilagukan, serta tidak terlalu mementingkan kesesuaian bait lirik dengan irama, satu kesesuaian yang penting dalam musik qasida.
PERANAN ULAMA BANJAR ABAD KE-20 DALAM TRADISI PENULISAN HADIS ARBA’ĪN DI BANJAR DAN MALAYSIA Said Iderus, Muhammad Hasan
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 15, No 2 (2016)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1032.205 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v15i2.848

Abstract

Banjar is famous for its great scholars and have an important role in the Islamic world. In this study, Banjarese scholars had passions and purposes to enhance, strengthen and develop the tradition of writingHadith. The books of hadith they wrote is not only applicable in Islamic boarding school but also for public usage in this country as well as other countries.Banjarese scholars who was related to hadith ArbaCin the 20th century were Kasyful Muhammad Anwar, Anang Syacrani Arif, Muhammad Syukeri Unus, and Ahmad Fahmi Zamzam. This study attempts to explain the background of those scholars and  their roles in the scientific tradition of Hadith in Banjar as an effort to introduce the  Islamic scholars in Nusantara to Islamic world. This research is based on analysis of historical and biographical data obtained from the collection of documentsand processed descriptively. The study found that the role of Banjarese scholars in the 20th century gave a new nuance to the study of hadith in Banjar and Malaysia.
ETIKA MENURUT DAVID HUME Rusydi, Muhammad
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 7, No 2 (2008)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5511.005 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v7i2.959

Abstract

Tulisan ini mcnguraikan lilsafat moral atau etika menurut David Hume. Hume terkenal sebagai seorang empirisisme. Paham inilah yang membentuk epistemologinya, sehingga lahirlah anggapan bahwa ilmu tersebut hersilat relatif, subyektif bukan obyektif. Hume juga menolak ide kausalitas dan substansi, scbab keduanya tidak bisa dibuktikan secara cmpirik, scpcrti tidak terlihatnya daya kausal dan substansi itu sendiri. Iipisternologi ini rncndasari pemahaman etika Hume bahwa etika adatah masalah pcrasaan. Pcrasaart ini muncul dari kesan yang dihasilkan oleh fakta empirik, sehingga Humc beranggapan bahwa hukum moral adalah tidak ada. Dengan kata lain, etika adalah masalah pcrasaan setuju dan tidak setu.lu atau scnang dan tidak scnang. Jika setuju dan senang maka itu baik dan begitu juga scbaliknya. Nantun untuk meqiaga agar tidak ada kesewenang-wenangan etis maka Hume beranggapan bahwa manusia memiliki sikap saling simpati yang dibangun diatas empat keutamaan. Agar ini semua bisa berjalan dengan lancar lalu diciptakanlah norma-norma tertentu dan dalam penerapan norlna ini dilaksanakanlah pembiasan-pembiasaan. I,embiasaan yang mcniadi kebiasaal inilah yang menjadi seakan-akan tcrasa sepcrti hukum moral.
TRADISI BASUNAT URANG BANJAR : MEMBACA MAKNA ANTROPOLOGIS DAN FILOSOFIS Rusydi, Muhammad
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 12, No 1 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.016 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v12i1.456

Abstract

Khitan is called circumcision in english. It is the surgical removal of the foreskin from the penis. In Banjarese society, circumcisions celebration is called basunat. Basunat as rite of passage is one of important stages for Banjareses life. Socially, the tradition maintains the collectiveness and integration of Banjarese society. According to anthropology view, basunat may be understood as a liminal condition. Liminal is a condition of betwixt and between. In this condition, subject of rite experiences a formed stage. Furthermore, according to philosophy view, the tradition reflects the exsistence of human being and its relation with other existences.
BAY’ AL-ʻĪNAH: CONCEPT AND IMPLEMENTATION ACCORDING TO MAZHAB CONTEMPORARY SCHOLARS Maulidizen, Ahmad
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 18, No 1 (2019)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (980.465 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v18i1.2537

Abstract

Bay?u al-?inah merupakan akad jual beli yang menjadi perdebatan para ulama klasik dan kontemporer dari segi hukum dan pelaksanaannya. Hal tersebut mengharuskan adanya artikel yang menjelaskan konsep bay?u al-?inah untuk menentukan hukumnya. Dalam artikel ini penulis menjelaskan konsep, hukum dan aplikasi bay?u al-?inah menurut mazhab dan ulama kontemporer dengan menyatakan alasan-alasan mereka untuk memilih pendapat yang kuat. Para fuqaha sepakat mengharamkan bay?u al-??nah jika ada syarat ma?q?d ?alayh harus dijual kembali kepada penjual asalnya. Begitu juga jika terdapat petunjuk adanya ??lah melakukan rib? maka hukumnya juga adalah batal. Apa yang menjadi perdebatan fuqaha adalah apabila tidak ada syarat demikian dan tidak adanya pentujuk ??lah melakukan rib?. Dalam masalah ini penulis berpandangan bahwa akad bay?u al-?inah adalah haram jika niat melakukan rib? tidak dinyatakan dalam berkontrak. Namun, status akad tersebut adalah sah atau tidak batal selama tidak ada syarat mab?? harus dijual kembali kepada penjual asalnya dan tidak adanya di antara kedua belah pihak yang berakad untuk melakukan rib?. Ini karena dengan adanya niat, walaupun di luar akad maka niat melakukan rib? telah dinyatakan dan dapat membatalkan akad. Bay?u al-?inah is a buying and selling contract that became the debate of classical and contemporary scholars in terms of law and its implementation. Therefore, it is necessary to have an article describing the concept of bay?u al-?inah to determine the law of the bay?u al-?inah. In this paper, the author will explain the concepts, laws and applications of bay?u al-?inah according to contemporary schools and scholars by stating their reasons for choosing strong opinions. The fuqaha agree to forbid the bay?u al-?inah if there is a condition that ma?qud ?alayh must be resold to the seller of origin. Likewise, if there is a hint of the existence of ??lah do the usury then the law also is void. What is fuqaha debate is that if there is no such requirement and no referent. In this case, the author holds that the bay?u al-?inah contract is haram if the intention of doing usury is not stated in contract. However, the status of the contract is valid or not void as long as there is no requirement of mab?? to be resold to the original seller and the absence between the two parties who intend to do usury. This is because with the intention, although outside the contract, then the intention of usury has been declared and it can cancel the contract.
USTADZ SELEBRITI ABDULLAH GYMNASTIAR (PERSPEKTIF HIPERSEMIOTIKA YASRAF AMIR PILIANG) Maskur, Maskur
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 13, No 1 (2014)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1094.22 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v13i1.389

Abstract

The development of popular culture, particularly,in the development of information technology such as as television, mobile phones, and the Internet,  have an impact on the creation of a new reality called hyper-reality. Media,in this case,is able to reconstruct a new reality through the sophisticated technology. The construction of this medium also penetratesthe religious area. This can be seen in the figure of Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Through the medium of information, Aa Gym is not only seen as a religious teacher who offers a depth of spirituality but also as a celebrity through the image formed. This paper aims to identify and describe the phenomenon of celebrity cleric/ ustadzAbdullah Gymnastiar in popular culture, using hyper-semioticsapproachof Yasraf Amir Piliang. This paper attempts to explain the new realityof diversity of Abdullah Gymnastiar. Through the hyper-semioticsapproach, religious hyper-reality form can be described scientifically.
UNDANG-UNDANG SULTAN ADAM 1835 DALAM PERSPEKTIF SEJARAH HUKUM Abdurrahman, Abdurrahman
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 10, No 2 (2011)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.614 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v10i2.1042

Abstract

Undang-undang Sultan Adam sebagai perangkat hukum peninggalan masa lalu kurang mendapatkan perhatian baik dari kalangan para ahli hukum maupun dari sejarawan, bahkan sampai sekarang ini teks peraturan itu belum pernah ditulis dalam bahasa Indonesia karena sampai saat ini dokumen itu masih tertulis dalam bahasa Melayu/Banjar disertai terjemahannya dalam bahasa Belanda. Karena itu wajar apabila dokumen hukum itu tidak tersebar secara meluas dikalangan para ilmuan. Di sampimg itu dokumen hukum itu juga penting sebagai informasi bagi generasi mendatang tentang keberhasilan yang pernah dicapai oleh nenek moyang mereka dimasa lampau dalam menetapkan hukum di dalam masyarakatnya.
MEMBANGUN KARAKTER PENDIDIKAN PERSPEKTIF PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN DALAM BUDAYA MASYARAKAT BANJAR Buseri, Kamrani
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 11, No 1 (2012)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.756 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v11i1.413

Abstract

Tulisan ini bermaksud melakukan eksplorasi terhadap upaya membangun karakter pendidikan perspektif pendidik dan tenaga kependidikan dalam budaya masyarakat Banjar. Para ulama, tuan guru, guru, ustaz dan lainnya berperan dalam mengembangkan pola pendidikan sepanjang sejarah masyarakat Banjar. Bangunan karakteristik pendidikan yang terus menerus selalu ada sepanjang sejarah ialah pendidikan keislaman, mengingat Islam merupakan identitas masyarakat Banjar. Penyesuaian dengan tuntutan keadaan selalu menjadi kebijakan pendidikan masyarakat Banjar. Hal tersebut diperkuat oleh banyaknya ulama yang berlatar belakang pendidikan luar negeri yang sangat mempengaruhi modernitas pendidikan di masyarakat Banjar. Sesuai sejarah perkembangan awal masyarakat Banjar, ulama sebagai pendidik sekaligus sebagai juru dakwah merupakan kompetensi ganda bagi pendidik yang seharusnya menjadi karakter pendidik hingga saat ini. Lembaga pendidikan selain misi mendidik juga misi dakwah. Pada situasi tertentu pendidik juga dibenarkan terjun ke dunia politik dengan tujuan utama memperkuat pendidikan masyarakat dan bangsa
TRADISI MENGHIDUPKAN MALAM NISHFU SYA’BAN PADA KALANGAN MAHASISWA DI KABUPATEN JEMBER (STUDI KRITIK SANAD, MATAN DAN LIVING SUNNAH) Nurdin, Arbain
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (674.512 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v16i2.1470

Abstract

Hadits is the second source of law after the Qur'an, many values or teachings express or implied in the hadits. Among them are the hadith about nishfu Sya?ban narrated by Ibnu Majah. In this paper discussed three aspects namely the power of hadits sanad, the meaning of hadits and actualization of the hadits in the midst of society (Living sunnah). Based on the results of the research, it is found that this hadits is weak because there are among the narrators who are considered to have hadits critics as counterfeiters of hadits. While matan hadits implicitly does not conflict with syari?ah of Islam. And the practices that exist in this hadits still live in the midst of society (students) to this day.