cover
Contact Name
M. Yaser Arafat
Contact Email
jurnalsosiologiagama@uin-suka.ac.id
Phone
+6281370980853
Journal Mail Official
jurnalsosiologiagama@uin-suka.ac.id
Editorial Address
1st Floor, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran IslamJalan Marsda Adisucipto Yogyakarta, 55281Telpon/Fax: +62274 512156/+62274512156 E-mail: jurnalsosiologiagama@gmail.com; jurnalsosiologiagama@uin-suka.ac.id
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sosiologi Agama
ISSN : 19784457     EISSN : 2548477X     DOI : https://doi.org/10.14421/jsa.
Jurnal Sosiologi Agama mengundang para ilmuwan, peneliti, dan siswa untuk berkontribusi dalam penelitian dan penelitian mereka yang terkait dengan bidang sosiologi agama, masyarakat beragama, masyarakat multikultural, perubahan sosial masyarakat beragama, dan relasi sosial antar agama yang mencakup penyelidikan tekstual dan lapangan dengan perspektif sosiologi dan sosiologi agama.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 2 (2017)" : 8 Documents clear
KEDUDUKAN YESUS DALAM AJARAN KRISTEN SAKSI YEHUWA Roni Ismail
Jurnal Sosiologi Agama Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.848 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2017.112-08

Abstract

Abstrak:Ajaran Kristen mainstream mengimani dogma Tritunggal, di mana Allah, Yesus Kristus, dan Roh Kudus adalah sama-sama Allah. Ketiga pribadi itu adalah pribadi Allah, dan ketiga pribadi tersebut adalah Allah. Terdapat aliran Kristen yang bernama Saksi-Saksi Yehuwa yang menolak dogma Tritunggal, yang berarti menolak ketuhanan Yesus. Menurut Saksi-Saksi Yehuwa, Tuhan itu Satu bernama Yehuwa. Hanya Yehuwa Yang Maha Kuasa dan Pencipta. Konsekwensinya, Yesus bukanlah Tuhan karena ia diciptakan atau makhluk. Yesus adalah seorang messiah. Ia pada awalnya adalah makhluk roh (malaikat) dan ciptaan Yehuwa pertama yang hidup sangat lama di surga. Yesus kemudian diutus Yehuwa dan menjadi manusia di dunia, untuk melaksanakan misi-penebusan dosa asal manusia, karenanya ia adalah tebusan. Dalam matinya sebagai tebusan, Yesus mati bukan di salib. Akan tetapi, ia dibunuh pada tiang kayu. Tiga hari setelah mati, Yesus dibangkitkan kembali ke surga dan menjadi Raja dari Kerajaan Allah yang sudah memerintah kembali pada tahun 1914, setelah terhentu selama tujuh masa. Kata Kunci: Saksi-Saksi Yehuwa, Tritunggal, Yesus.
MENENGOK KEMBALI PERAN AGAMA DI RUANG PUBLIK M. Amin Abdullah
Jurnal Sosiologi Agama Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.552 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2017.112-02

Abstract

In recent years, especially over the past decade, there has been increasing intolerance of certain religions and ethnic minorities in various parts of Indonesia, whether in the form of physical assault by a particular group or omission by the authorities. Such situation is increasing when entering the campaign period before the elections simultaneously and Presidential Election. In this condition the role of FKUB as one of the tolerant agents in the national political arena becomes important. Some things to be considered include the basic question of the State (four pillars), religious views, religious literacy and education in public spaces and media.Keywords: toleransi, pandangan keagamaan, media, ruang publik
STRATIFIKASI SOSIAL DALAM PERKAWINAN MASYARAKAT ISLAM SASAK (Studi Pada Perkawinan Masyarakat Desa Sengkerang, Lombok Tengah) Siti Aminah
Jurnal Sosiologi Agama Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.45 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2017.%x

Abstract

Social stratification and caste, in Sengkerang Village of Central Lombok, woman who has a high social class and caste gets high dowry from the bridegroom. This research is qualitative research with the descriptive-analytic approach. Technique of collecting data is used by the various methods—observation, interview and documentation method. Primary data resource is earned from the result of interview and observation to the village chief of Balin Gagak in Sengkerang, religious leaders and public figure, while the secondary data resource is earned form the literatures. Analyzing data is done by three steps; reduction of data, displaying data and verification of data. This research uses capitalist theory and social-functional stratification. The result of this research shows a marriage in Sasak Islamic community has three various marriages—homogami, hipogami, and hipergami and social stratification in the marriage of Sasak Islamic community appears because of being a higher and lower social stratification, which is determined by education, power, caste, affluence, respectability, and other causes. The caste is a main factor giving most influence to determine a social stratification of Sasak Islamic Community. So the higher her aristocracy is, the higher her title or her dowry is. Aristocrats are called mamiq by their children and jajarkarang is called amaq by their children. And the children of aristocrat earn a title; lalu, raden, or denda and the children of jajarkarang do not earn a title.
BUDAYA DAN SOLIDARITAS SOSIAL DALAM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI KECAMATAN KABANJAHE KABUPATEN TANAH KARO Muhammad Abduh Lubis
Jurnal Sosiologi Agama Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.259 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2017.112-06

Abstract

ABSTRAKDalam penelitian ini Penulis melihat bagaimana solidaritas masyarakat karo di Kabanjahe yang berimplikasi pada terciptanya kehidupan yang harmoni di tengah perbedaan umat beragama. Solidaritas masyarakat Karo terbentuk atas adat istiadat yang kuat yang diwariskan dan terus berlangsung sepanjang sejarah masyarakat Karo hingga kini. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan melakukan observasi langsung ke lokasi penelitian kemudian mewawancarai beberapa tokoh agama dan tokoh adat dengan pendekatan sosial yang dikemukan Emile Durkheim berkenaan solidaritas sosial. Peneliti mencatat setidaknya terdapat dua hal yang paling penting dalam adat istiadat masyarakat Karo yaitu sistem kekerabatan yang dikenal dengan Daliken Si Telu, yang berarti tiga tungku batu, atau dapat dipahami juga sebagai tata susunan kekeluargaan yang terdiri dari : Sembuyak/Senina/Sukut, Kalibumbu dan Anak Beru. Dalam penyusunan tata susunan kekeluargaan tersebut maka setiap masyarakat Karo mengenal lima marga induk atau merga si lima yang masing-masing induk memiliki cabang-cabangnya. Merga si lima merupakan tiang atau pendukung utama dari tata susunan kekeluargaan masyarakat karo, lima marga induk itu ialah : Perangin-angin, Ginting, Tarigan, Karo-karo, dan Sembiring. Daliken si telu mengambil peranan yang sangat penting bagi masyarakat Karo di Kabanjahe terutama pada upacara-upacara adat seperti, perkawinan, kematian sampai pada permasalahan yang terjadi dalam ruang lingkup sosial. Hal inilah yang menyebabkan Masyarakat Karo terhindar dari konflik agama, karena antara satu individu dan kelompok jika ditelusuri lebih dalam maka merupakan bagian dari keluarga. Keywords : Karo, Daliken Si Telu, merga si lima 
GAGASAN NASIONALISME INDONESIA SEBAGAI NEGARA DAN BANGSA DAN RELEVANSI DENGAN KONSTITUSI INDONESIA masroer masroer
Jurnal Sosiologi Agama Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.542 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2017.112-05

Abstract

AbstrakNasionalisme sebagai paham “negara bangsa” tumbuh seiring dengan berakhirnya zaman kolonialisme dan imperialisme bangsa-bangsa Barat di Dunia Ketiga. Gagasan tentang nasionalisme yang mengilhami munculnya negara-negara baru di seluruh dunia pada abad ke-20 M. Namun di Indoensia, nasionalisme sebagai gagagasan negara bangasa mampu berdialog dengan agama, sebgaimana yang ditegaskan oleh Bung Karno yang mampu membangkitkan kesadaran nasionalisme masyarakat Indoensia mnjelang kemerdekaan. Kesadaran nasionalisme ini tidak lahir serta merta, melainkan bersaman dengan gagasan ideologis yang masuk di tengah perubahan sosial awal abad ke-20 M, seperti Islam yang pernah menjadi alat ideologi yang direpresentasikan dengan lahirnya NU dan Muhammadiyah bersamaan dengan masuknya gelombang pembaharuan agama dari Timur Tengah. Gerakan-gerakan keagamaan ini hendak menumbuhkan Islam sebagai kekuatan nasional yang dapat melawan kolonialisme dan imperialisme. Nasionalisme yang lahir dari agama ini ditangkap ide dan gerakannya oleh Bung Karno sebagai “isme” baru dengan menyebutnya “Islamisme”. Islamisme adalah istilah yang dipakai Bung Karno sendiri untuk menyebut gerakan keagamaan yang melawan kolonialisme di awal pergerakan kebangsaan Indonesia. Namun gagasan-gagasan ideologis kaum muslimin yang bersifat khusus ini tidak berdiri sendiri, di sisi lain lahir gagasan ideologi sosialis sebagai alat yang mengobarkan semangat masyarakat kecil dalam melawan kolonialisme dan imperialisme. Dan terakhir adalah nasionalisme kaum priyayi yang melandasi bangkitnya sentimen etnik. Bung Karno berhasil mengawinkan ketiga ideologi perlawanan yang semula berjalan sendiri-sendiri ini untuk bersatu menjadi spirit kebangsaan. Spirit kebangsaan itu melahirkan konsep negara nasionalistik yang berciri pada ideologi Pancasila, konstitusi UUD 1945, integralisme negara (NKRI), dan sistem demokrasi dalam kepemimpinan, hingga sekarang.Kata kunci; nasionalisme, agama, Bung Karno, Pancasila
MASYARAKAT MUSLIM DI KOREA SELATAN: Studi Tentang Korea Muslim Federation (KMF) Tahun 1967-2015 M Siti Umayyatun
Jurnal Sosiologi Agama Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (793.124 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2017.112-01

Abstract

Artikel ini menjelaskan dinamika masyarakat Muslim di Korea Selatan yang pertumbuhannya dimobilisasi oleh organisasi Korea Muslim Federation (KMF). Statusnya KMF diakui oleh pemerintah Korea bahkan diberi surat izin mendirikan bangunan. Masyarakat Muslim yang diorganisir KMF awalnya benar-benar bagian integral dari bangsa Korea yang menjadi Muallaf bukan karena kedatangan imigran Muslim dari negara-negara Islam. Sejak tahun 1970-an pemerintah Korea membantu KMF dalam perkembangan Islam, memperlakukan masyarakat Muslim atas dasar sama dengan kelompok agama lainnya, tidak mendiskriminasi bahkan membuka pintu lebar-lebar dakwah KMF dengan memberikan sebidang tanah untuk pembangunan masjid dan universitas Islam. Meski Islam agama baru dan minoritas di Korea namun memiliki posisi terhormat dan stategis.Dalam berdakwah organisasi KMF punya misi “berusaha mengubah citra Islam dari kekerasan untuk damai”. Mereka memiliki struktur kepengurusan, diantara Advisory Committee, Korea Muslim Association, Korea Institute of Islamic Culture, Princes Sultan Islamic School, Halal Committe, Haji Committe dan Syariah Committe. Dakwahnya dilakukan dengan cara modern, intens dan damai lewat pendidikan, media massa, internet, budaya, penerjemahan dan publikasi buku-buku Islam ke dalam bahasa Korea. Hasilnya dapat membenai kesalahpahaman informasi Islam, membuat warga non-Muslim Korea akrab dengan budaya Islam, menghilangkan stereotip bahkan membuat populasi Muslim Korea meningkat. Kehadiran minoritas Muslim bisa diterima karena bermanfaat bagi ekonomi perminyakan, perdagangan bahkan bisnis halal dan ekonomi syariah warga non-Muslim Korea. Para diplomat Muslim anggota KMF memiliki hubungan baik dengan pemerintah Korea karena dapat membantu proses diplomasi dengan negara-negara Muslim penghasil minyak dan gas. Kata Kunci : Masyarakat Muslim, Korea Selatan, Korea Muslim Federation (KMF).
KEARIFAN LINGKUNGAN BERBASIS AGAMA (Studi Etnoekologi Komunitas Nelayan Di Pesisir Banyutowo Dukuhseti Pati) Thiyas Tono Taufiq
Jurnal Sosiologi Agama Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.201 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2017.112-07

Abstract

Kondisi ekologis pesisir Banyutowo saat ini mengkhawatirkan. Krisis yang dialami di antaranya berupa pencemaran limbah rumah tangga, penumpukan sampah, dan sedimentasi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kearifan lingkungan pada komunitas nelayan dan masyarakat di pesisir Banyutowo dalam menumbuhkan tanggung jawab terhadap lingkungan. Desa banyutowo merupakan salah satu desa di Dukuhseti Pati Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang berorientasi pada hasil observasi, dokumentasi, dan interview mendalam dengan para informan di Banyutowo. Data kemudian diklasifikasikan dan dianalisis menggunakan pendekatan etnoekologi, yang bertujuan untuk mengkaji pengetahuan lokal mengenai interaksi masyarakat lokal dengan lingkungannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kearifan lingkungan pada komunitas nelayan dan masyarakat pesisir Banyutowo terbentuk dengan adanya solidaritas sosial, ritual sedekah laut, dan tradisi lokal lainnya. Tradisi tersebut diyakini sebagai tradisi lokal yang tidak bisa dihilangkan. Adapun makna sedekah laut bagi orang-orang pesisir Banyutowo tidak hanya ritual kebudayaan saja, tetapi sebagai sarana untuk memperoleh keselamatan dan menjaga keseimbangan alam. Selain itu,  nilai-nilai yang terkandung dalam ritual sedekah laut, meliputi  nilai-nilai agama, sosial kemasyarakatan, ekonomi, dan pendidikan.Key Words: Kearifan lingkungan, Komunitas Nelayan, Etnoekologi, Pesisir Banyutowo
URBAN DESA PROSES TRANSISI DESA MENJADI KOTA (Studi Kasus Di Desa Panggungharjo Sewon Bantul Yogyakarta) fitri ana tsany
Jurnal Sosiologi Agama Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.609 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2017.112-03

Abstract

Penelitian ini  dilakukan di wilayah Yogyakarta khususnya di Desa Panggungharjo Sewon Bantul Yogyakarta. Penulis mengambil lokasi tersebut dikarenakan daerah ini merupakan desa transisi dimana dahulunya merupakan daerah pertanian lahan produktif kini beralih fungsi menjadi perumahan-perumahan elite yang dihuni oleh orang kota dan merupakan bangunan yang berdiri diatas lahan pertanian. fokus yang penulis teliti adalah tentang (1) bagimana tren alih fungsi lahan pertanian menjadi nonpertanian ini dalam kurun waktu 1990-2015 di Desa Panggungharjo Sewon Bantul Yogyakarta? (2) Bagaimana perubahan yang terjadi dengan para petani yang dahulunya bekerja di sektor pertanian? apakah para petani tersebut juga ikut beralih pekerjaan menjadi buruh di kota atau justru bertahan menjadi seorang petani untuk tetap mengeksiskan pertanian di Desa Panggungharjo Sewon Bantul Yogyakarta tersebut?Metodologi yang penulis gunakan adalah kualitatif dengan studi lapangan (field research). Penelitian dilakukan di Desa Panggungharjo Kecamatan Sewon Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasil yang diharapkan dalam penelitian ini adalah munculnya pengetahuan tentang tren alih fungsi lahan pertanian menjadi nonpertanian, adanya perubahan sosial ekonomi yang terjadi di kalangan petani dan diharapkan munculnya lapangan pekerjaan baru serta adanya pemanfaatan lahan pertanian yang bermanfaat untuk semua kalangan khususnya yang berada di Desa panggungharjo Sewon bantul Yogyakarta.Kata Kunci : Alih fungsi lahan, Petani dan Urban Desa

Page 1 of 1 | Total Record : 8