cover
Contact Name
M. Yaser Arafat
Contact Email
jurnalsosiologiagama@uin-suka.ac.id
Phone
+6281370980853
Journal Mail Official
jurnalsosiologiagama@uin-suka.ac.id
Editorial Address
1st Floor, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran IslamJalan Marsda Adisucipto Yogyakarta, 55281Telpon/Fax: +62274 512156/+62274512156 E-mail: jurnalsosiologiagama@gmail.com; jurnalsosiologiagama@uin-suka.ac.id
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sosiologi Agama
ISSN : 19784457     EISSN : 2548477X     DOI : https://doi.org/10.14421/jsa.
Jurnal Sosiologi Agama mengundang para ilmuwan, peneliti, dan siswa untuk berkontribusi dalam penelitian dan penelitian mereka yang terkait dengan bidang sosiologi agama, masyarakat beragama, masyarakat multikultural, perubahan sosial masyarakat beragama, dan relasi sosial antar agama yang mencakup penyelidikan tekstual dan lapangan dengan perspektif sosiologi dan sosiologi agama.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 1 (2021)" : 8 Documents clear
MENEMUKAN ALTERNATIF MODEL DIALOG ANTARUMAT BERAGAMA (BELAJAR DARI FORUM SOBAT) Nani Minarni
Jurnal Sosiologi Agama Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsa.2021.151-06

Abstract

Stagnasi dalam dialog antaragama menjadi kegelisahan akademis, oleh karena dialog yang dilakukan oleh beberapa institusi agama hingga pemerintah melalui FKUB dianggap tidak dapat menjalankan visi dan misinya sebagai gerakan dialog. Alasan gagalnya dialog adalah tidak adanya fondasi yang kuat dalam proses dialog itu sendiri, baik secara sosio-antropologis maupun kultural-teologis, demikian juga menyangkut materi dialog dan pendekatan yang digunakan. SOBAT dapat menjadi salah satu alternatif. Hasil penelitian terhadap SOBAT dapat menjadi contoh karena terus berkelanjutan dan mampu membangun iklim damai dalam konteks lokal. SOBAT merupakan forum dialog yang diprakarsai oleh Sinode Geeaja Kristen Jawa, Pesantren Edi Mancoro dan LSM PERCIK di Salatiga. Forum tersebut sudah berjalan lebih dari 10 tahun. Teori gerakan sosial Sidney Terrow digunakan untuk menjelaskan tentang SOBAT. Terrow melihat kombinasi gerakan sosial (social movement) dengan faktor kesempatan politik (contentious politic) sebagai peluang besar pembawa perubahan yang diharapkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor kesempatan politik cukup kuat melatarbelakangi lahirnya SOBAT. Sedangkan proses framing melalui nilai-nilai agama, mobilisasi dan penyebaran, menjadi penentu keberlanjutan gerakan sehingga menghasilkan model dialog yang khas SOBAT.Stagnation in interfaith dialogue is an academic concern. The reason for the failure of dialogue included FKUB that initiated by government is the absence of a strong foundation in the dialogue process itself, both socio-anthropological and cultural-theological, dialogue topic and the approach used. What dialogue alternative models are suitable for grassroots communities in Indonesia? SOBAT can be an alternative, because it is sustainable and so able to build a climate of peace in a local context. SOBAT is a dialogue forum initiated by the Synod of the Javanese Christian Churches, Pesantren Edi Mancoro, and PERCIK that stays in Salatiga that has been working for more than 10 years. Sidney Terrow's social movement theory is used to explain SOBAT. Terrow’s thought about the combination of a social movement with the factor of political opportunity (contentious politics) as a great opportunity will bring the expected change. The results of research showed that the political opportunity factor was quite strong behind the birth of SOBAT, while the framing process through religious values, mobilization, and dissemination, became the determinants of the sustainability of the movement to produce a dialogue model.
KONSTRUKSI GATED COMMUNITY Perubahan dan Tantangan Masyarakat Perumahan (Studi di Perumahan BSB, Mijen Kota Semarang) Endang Supriadi
Jurnal Sosiologi Agama Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsa.2021.151-07

Abstract

Perkembangan perumahan yang berkonsep gated community di Kota Semarang sangat pesat, sejalan dengan giatnya usaha pengembang untuk terus membangun permukiman. Pinggir kota yang semula tidak memiliki daya jual berubah menjadi pinggiran kota/suburban yang ditata sesuai dengan kebutuhan konsumen. Tulisan ini mengkaji perkembangan sosial gated community di Kota Semarang yakni perumahan BSB City. Penelitian dititikberatkan pada usaha menjawab bagaimana pandangan masyarakat gated community terhadap perkembangan perumahan di Kota Semarang dan dinamika sosial masyarakat penghuni gated community orientasinya pada perubahan dan tantangan yang muncul. Dengan menggunakan metode kualitatif, data-data yang dihasilkan dianalisis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian yang diajukan. Hasil penelitian menunjukkan fenomena perumahan yang berkonsep gated community kehadirannya sejalan dengan keinginan masyarakat saat ini. Perumahan gated community tidak hanya merefleksikan bangunan mewah, nyaman dan aman, tetapi juga kehadirannya membentuk dan merefleksikan komunitas eksklusif, segregasi sosial, dan sebagai dampak itu sendiri yang terjadi dalam ruang gated community. Tulisan ini menyarankan perlunya pendampingan dari pihak-pihak terkait (stakeholders) dalam proses pembangunan permukiman di pinggir kota/suburban sehingga menghindari kerusakan lingkungan baik secara fisik maupun non fisik.The development of housing with the concept of gated community in Semarang City is very rapid, in line with the active efforts of developers to continue to build settlements. The outskirts of the city that previously had no selling power turned into suburbs / suburbs that were arranged according to consumer needs. This paper examines the development of the social gated community in Semarang City, namely BSB City housing. The research is focused on answering how the gated community views the development of housing in the city of Semarang and the social dynamics of the residents of the gated community, their orientation to the changes and challenges that arise. By using qualitative methods, the resulting data were analyzed to answer the research questions posed. The result of the research shows that the existence of the housing phenomenon with the concept of gated community is in line with the wishes of today's society. Gated community housing does not only reflect luxury, comfortable and safe buildings, but also its presence forms and reflects an exclusive community, social segregation, and as an impact itself that occurs in the gated community space. This paper suggests the need for assistance from related parties (stakeholders) in the process of building settlements in the suburbs / suburbs so as to avoid environmental damage both physically and non-physically.
ANALYSING NIGERIA-BOKO HARAM CONFLICT THROUGH THE PRISM OF MARX’S THEORY OF ECONOMIC DETERMINISM Moses Joseph Yakubu; Adewunmi James Falode
Jurnal Sosiologi Agama Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsa.2021.151-02

Abstract

Karya ini menganalisis konflik antara Nigeria dan Boko Haram dari perspektif teori Determinisme Ekonomi Karl Marx. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berdasarkan data kepustakaan, penulis mencoba mencari ide yang dapat digunakan sebagai analisis resolusi konflik. Dia berpendapat bahwa faktor utama yang bertanggung jawab atas sifat konflik yang tidak dapat diselesaikan adalah manfaat material yang diperoleh elit politik dari perluasannya. Para penulis menggunakan teori Determinisme Ekonomi untuk menunjukkan secara rinci bagaimana oligarki yang berkuasa di Nigeria telah memperingatkan setiap upaya untuk menyelesaikan konflik. Karya tersebut menunjukkan contoh spesifik antara 2009 dan 2019 di mana oligarki yang berkuasa di Nigeria bertindak aktif untuk setiap upaya yang dilakukan untuk menyelesaikan konflik antara Nigeria dan Boko Haram karena keinginan mereka untuk tidak terbatas pada keuangan. Ini termasuk, namun tidak terbatas pada, skandal kontrak Shaldag 2010, skandal Dasukigate 2013, dan skandal pengadaan senjata 2014. Sebagai kesimpulan, tahun ini berpendapat bahwa Nigeria harus memasukkan ide dan konsep seperti transparansi, kontrol dan pemantauan, dan inklusivitas masyarakat ke dalam proses konfliknya. jika Anda berharap untuk mengalahkan kelompok Boko HaramThis work analyzes the conflict between Nigeria and Boko Haram from the perspective of Karl Marx's theory of Economic Determinism. By using a qualitative approach based on literature data, the author tries to find an idea that can be used as a conflict resolution analysis. He argues that the main factor responsible for the unresolvable nature of the conflict is the material benefits that political elites derive from its extension. The authors use the theory of Economic Determinism to show in detail how the ruling oligarchy in Nigeria has thwarted any attempt to resolve the conflict. The work shows a specific example between 2009 and 2019 where the ruling oligarchy in Nigeria acted actively for any efforts made to resolve the conflict between Nigeria and Boko Haram because their desire to have was not limited to finances. These include, but are not limited to, the 2010 Shaldag contract scandal, the 2013 Dasukigate scandal and the 2014 arms procurement scandal. In conclusion, the year argues that Nigeria should incorporate ideas and concepts such as transparency, control and monitoring, and community inclusiveness into its conflict process. if you hope to defeat the Boko Haram group.
MENUJU SOSIOLOGI BERAGAMA: Paradigma Keilmuan dan Tantangan Kontemporer Kajian Sosiologi Agama di Indonesia Moh Soehadha
Jurnal Sosiologi Agama Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsa.2021.151-01

Abstract

Artikel ini membahas paradigma, perkembangan, serta tantangan kajian sosiologi agama di Indonesia. Kajian Sosiologi Agama di Indonesia yang telah tumbuh di lingkungan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTKIN) di Indonesia, secara epistemologis adalah pengembangan dari Studi Agama-agama (religious studies). Dalam perkembangannya kini, sosiologi agama telah mengukuhkan visi keterbukaan dan keluasan pandangan (openness and broad-mindedness vision) untuk menyapa disiplin ilmu lain dalam mengembangkan studi Islam dan studi agama-agama. Perkembangan itu telah menghasilkan ragam kajian sosiologi agama menjadi tiga karakter menurut paradigma keilmuannya, yaitu; sosiologi agama sebagai bagian dari sosiologi, sosiologi agama sebagai bagian dari studi agama-agama, dan sosiologi agama sebagai bagian dari studi islam. Kini pada peradaban paskaindustrial, kajian sosiologi agama menghadapi tantangan untuk mengeksplorasi berbagai tema sosial keagamaan di Indonesia, diantaranya adalah Globalisasi, Virtual Community, Moderasi Beragama, dan sosiologi keseharian.This article discusses the paradigms, developments and challenges of the sociology of religion in Indonesia. The Study of the Sociology of Religion in Indonesia which has grow up within the State Islamic University (PTKIN in Indonesia, epistemologically is the development of the religious studies. Now the sociology of religion has established a vision of openness and broad-mindedness vision to interact with other disciplines in developing Islamic studies and the study of religions.The dynamics have produced various sociology of religion into three characters according to theirparadigms, namely; the sociology of religion as part of sociology, the sociology of religion as part of the religious studies, and the sociology of religion as part of Islamic studies. Now in the postindustrial era, the sociology of religion faces challenges to explore various socio-religious themes in Indonesia, including globalization, virtual communities, religious moderation, and everyday sociology.
AGAMA DALAM PROSES KEBANGKITAN ADAT DI INDONESIA: Studi Masyarakat Rencong Telang Kerinci Jambi Mahli Zainuddin; Ahmad Norma Permata
Jurnal Sosiologi Agama Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsa.2021.151-03

Abstract

After the fall of the New Order, Indonesia witnessed a political revival of traditions. Four factors have been identified as that lead to the revival: first, orchestrated campaigns by local and international NGOs to protect traditional communities’ access to lands and natural resources; second, as efforts by local elites to fill the power vacuum after the centralist new order government ended; third, struggles by local groups that suffered marginalization during the previous regime to reclaim their rights; finally, efforts by local groups to adopt alternative social norms in organizing their communities.  However, a more detailed description on how these revivals carried out is difficult to find. This article put forward such a description, in the case of the Rencong Telang community in Kerinci, Jambi. After almost two decades of decline, the authority of Adat can finally be restored after the corrupt elites have been replaced. Interestingly, it was personal religiosity that served as the criterion to replace them, while leadership accountability always failed to do so. This finding will also enrich the discussion on the relationship between adat and religion beyond conflict and harmony.Pasca runtuhnya Orde Baru, peran adat mengalami kebangkitan politik di berbagai daerah. Paling tidak ada empat faktor yang dianggap mempengaruhi kebangkitan tersebut: pertama, kampanye LSM internasional yang mendorong hak-hak masyarakat adat; kedua, sebagai upaya mengisi kekosongan otoritas lokal pasca runtuhnya rezim Orde Baru; ketiga, sebagai upaya kelompok minoritas yang merasa tertindas selama Orde Baru; dan terakhir, adat sebagai alternatif membangkitkan idealisme tatanan sosial--namun tidak banyak penjelasan bagaimana proses kebangkitan tersebut terjadi. Kebangkitan otoritas adat di kalangan masyarakat Rencong Telang, Kerinci, Jambi menjadi kasus yang menarik. Setelah hampir dua dekade mengalami kemerosotan--seiring dengan kemerosotan ekonomi yang diiringi perubahan politik akibat desentralisasi--Adat kehilangan otoritasnya karena tokoh adat terjebak pragmatisme politik dan instrumentalisasi adat untuk pragmatisme politik berujung pada saling pecat. Berbagai upaya konsolidasi dilakukan, dan baru berhasil setelah dilakukan penegakan sanksi adat secara tegas. Menariknya, yang menjadi kriteria penegakan sanksi adalah ketaatan beragama. Sehingga agama menjadi kriteria kredibilitas lembaga Adat. Ini sekaligus menjadi tambahan pengayaan bagi kajian relasi adat dan agama yang selama lebih banyak memperdebatkan konflik dan harmoni.
BERTAHAN DALAM PERUBAHAN: Modifikasi dan Afiliasi Politik Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Aceh Sehat Ihsan Shadiqin
Jurnal Sosiologi Agama Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsa.2021.151-04

Abstract

Sebuah organisasi sosial-keagamaan secara alamiah memiliki naluri untuk bertahan dalam perubahan sosial yang ada di sekitarnya, termasuk gerakan tarekat. Perubahan ini dilakukan untuk mengumpulkan lebih banyak jamaah dan mempertahankan eksistensi gerakan di tengah lingkungannya. Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Aceh merupakan tarekat yang masih baru dibandingkan tarekat lain yang sudah ada di sana sebelumnya. Perubahan politik yang dinamis di Aceh juga mempengaruhi perubahan dalam bidang keagamaan. Artikel ini akan mencoba menjelaskan proses perubahan yang terjadi dalam gerakan tarekat Naqsyabandiyah di Aceh, bentuk perubahannya, dan relasi perubahan tersebut dengan kekuasaan. Dari pengamatan dan wawancara yang penulis lakukan dengan kelompok pelaku tarekat tampak bahwa perubahan dalam tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah yang ada di Aceh terkait erat dengan peran yang dimainkan oleh aktor-aktor tarekat sebagai agensinya. Perubahan itu juga berbeda antara apa yang dilakukan oleh satu tokoh dengan tokoh lainnya. Penulis berpendapat bahwa perubahan dalam tarekat di Aceh mengarah kepada upaya membangun eksistensi diri di tengah perubahan sosial politik yang ada di sana. Para aktor menyesuaikan praktik tarekat untuk masyarakat urban sehingga mendapat lebih banyak pengikut bahkan terkadang dengan menyamarkan nama tarekat di belakangnya.A socio-religious organization naturally has the instinct to survive in the social changes that surround it, including the tarekat movement. This change was made to gather more worshipers and maintain the existence of the movement in its environment. The Naqsyabandiyah Khalidiyah sufi order in Aceh is a relatively new compared to other tarekat that have existed there before. This article will try to explain the process of change that occurred in the Naqsybanadiyah tarekat movement in Aceh, the form of change, and the relationship between these changes and power. From the observations and several interviews that the author conducted with groups of tarekat actors, it appears that changes in the Naqsyabandiyah Khalidiyah tarekat in Aceh are closely related to the role played by actors as their agencies. The changes also differ between what one character does to another. The author argues that changes in tarekat in Aceh lead to efforts to build self-existence in the socio-political changes that are there. Actors adapt tarekat practices to urban communities so as to gain more followers, sometimes even by disguising the tarekat name behind them
STRUKTURASI IDENTITAS UMAT BERAGAMA DALAM PERSPEKTIF ANTHONY GIDDENS Muhammad Rodinal Khair Khasri
Jurnal Sosiologi Agama Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsa.2021.151-08

Abstract

Artikel ini mengkaji identitas umat beragam sebagai suatu konsep umum dalam diskursus sosiologi agama. Pengkajian tersebut dilakukan dengan menggunakan pendekatan teori strukturasi Anthony Giddens. Adapun elemen utama dalam teori tersebut adalah struktur penandaan (signifikasi), struktur dominasi, dan struktur legitimasi. Ketiga elemen tersebut digunakan untuk memahami proses konstruksi identitas umat beragama, mulai dari pelibatan wacana, istilah, dan konfigurasi bahasa sebagai langkah mengartikulasikan pemahaman tentang realitas sosial. Pemahaman itu kemudian merigidkan simbol-simbol keagamaan yang menjadi penanda identitas kolektif. Tahapan berikutnya yaitu tahap pembakuan identitas kolektif sebagai identitas umat beragama yang dilegitimasi oleh kuasa-kuasa yang melekat pada pelaku (agency) sehingga menjadikan identitas umat beragama menjadi baku. Ketiga struktur itu saling terhubung dalam dualitas yang meneguhkan bahwa struktur bersifat mengakomodir (enabling) bukan pengekangan (constraining), di mana menjadikan tindakan sosial menjadi mungkin.This article examines the identity of various people as a general concept in the discourse of the sociology of religion. The assessment was carried out using the Anthony Giddens structuration approach. The main elements in this theory are the structure of signification, the structure of domination, and the structure of legitimacy. These three elements are used to understand the process of constructing the identity of religious communities, starting from the involvement of discourse, terms, and language as a step to articulate an understanding of social reality. That understanding then trifles the religious symbols that become collective identities. The next stage is the stage of standardizing collective identity as the identity of religious communities which is legitimized by the power attached to the actor (agency) so that the identity of the religious community becomes standardized. The three structures are interconnected in a duality that affirms that the structure is accommodating (enabling) not constraining, where social action becomes possible.
TRADISI PERLAWANAN KULTURAL MASYARAKAT SAMIN Nazar Nurdin; Ubbadul Adzkiya'
Jurnal Sosiologi Agama Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsa.2021.151-05

Abstract

Artikel ini berusaha memotret strategi resistensi masyarakat Samin Kudus terhadap dominasi mayoritas dan penguasa. Komunitas Samin hidup dalam kondisi yang terpinggirkan. Di satu sisi, mereka membayar pajak pada negara. Pada sisi lain, keberadaan mereka masih terstigma sebagai kelompok yang terus melakukan perlawanan. Stigma perlawanan misalnya keengganan mengikuti program kawin massal. Penelitian ini menggunakan pola deskriptif-kualitatif. Data bersumber lapangan dan pustaka. Setelah data terkumpul, dilakukan analisis data, kemudian dianalisis secara deskriptif.   Hasil penelitian menunjukkan, perlawanan yang dilakukan masyarakat Samin Kudus didorong karena stigma negatif sebagai kelompok yang menolak program pembangunan negara. Samin Kudus berusaha melawan stigma dan dominasi mayoritas dengan strategi resistensi tertutup sebagaimana teori James Scott. Samin Kudus melakukan resistensi tertutup bukan untuk mengubah sistem yang dominan, melainkan untuk bertahan hidup dalam sistem. Dalam perkembangannya, strategi resistensi tertutup menjadi terbuka. Strategi tertutup ke terbuka dimulai dari kemampuan mereka merespon perubahan, dengan memulai dari belajar menulis, memahami persoalan administrasi kependudukan, hingga membangun gerakan dengan berlandaskan badan hukum. Setelah strategi ini digunakan, Samin Kudus diakui oleh mayoritas dan penguasa serta diberikan fasilitas untuk mengelola komunitasnya sendiri. This article attempted to portray the resistance strategy of Samin Kudus society to the domination of the majority and rulers. The Samin community lived in marginalized conditions. They pay taxes to the state, but on the other hand, their existence is still stigmatized as a group that continues to fight, like reluctance to participate in mass marriage programs. This study used a descriptive-qualitative pattern. Data sourced from the field and library. After the data was collected, data analysis was carried out, then analyzed descriptively. The results showed that the resistance carried out by the people of Samin Kudus was encouraged because of the negative stigma as a group rejecting development programs. Samin Kudus tried to fight the stigma and domination of the majority with a closed resistance strategy as in James Scott's theory. Samin Kudus did a closed resistance not to change the dominant system, but to survive in the system. In its development, the closed resistance strategy becomes open. The closed-to-open strategy starts from their ability to respond to change, by starting from learning to write, understanding population administration issues, building a movement based on legal entities. After this strategy was used, Samin Kudus was recognized by the majority and authorities and given the facility to manage its own community.

Page 1 of 1 | Total Record : 8