cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional MIPA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 108 Documents
Search results for , issue "2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014" : 108 Documents clear
SUMBER-SUMBER MASUKAN DISSOLVED ORGANIC MATTER (DOM) DI TELUK MEKSIKO I G N A Suryaputra
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sumber-sumber masukan dissolved organic matter (DOM) di daerah West Pass, Teluk Meksiko. Sampel air diambil dari beberapa kedalaman pada lima lokasi berbeda, tegak lurus dari garis pantai. Konsentrasi dissolved organic carbon (DOC) dan total dissolved nitrogen (TDN) diukur dengan menggunakan DOC Analyzer yang dilengkapi dengan detektor nitrogen. Hasil analisis menunjukkan adanya dominasi masukan DOM dari Sungai Apalachicola. Namun, autochthonous DOM juga ditunjukkan dari hasil tersebut. Sedangkan data klorofil-a menunjukkan bahwa ada proses selain fotosintesis yang juga menghasilkan DOC di lokasi tersebut.Kata-kata kunci: dissolved organic matter, dissolved organic carbon, total dissolved nitrogen, masukan.Abstract: The objective of this research was to study the sources of dissolved organic matter (DOM) at West Pass, Gulf of Mexico. Water samples were collected from several depths on 5 different locations perpendicular to coastline. Dissolved organic carbon (DOC) concentration and total dissolved nitrogen (TDN) concentration were measured using DOC Analyzer equipped with nitrogen detector. Result shows that DOM on West Pass is dominated by freshwater input from Apalachicola River. However, autochthonous DOM is also reflected from the result. Meanwhile, chlorophyll-a data shows that there are other processes than photosynthesis produce DOC on that location.Keywords: dissolved organic matter, dissolved organic carbon, total dissolved nitrogen, input
PENGEMBANGAN AGROWISATA DESA BLIMBINGSARI DI KABUPATEN JEMBRANA - BALI I Made Murna
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Agribisnis di Bali merupakan sektor andalan dalam menghadapi otonomi daerah saat ini. Disamping sebagai pendukung dalam meningkatkan devisa, menciptakan lapangan kerja serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dengan memanfaatkan kekayaan alam yang beraneka ragam. Untuk meningkatkan sektor andalan ini maka perlu dikembangkan agrowisata yang menggabungkan antara agribisnis dengan pariwisata.Penelitian dilakukan di Desa Blimbingsari, pengambilan sampel dengan purposive sampling (dengan pertimbangan tertentu). Responden dalam penelitian ini adalah stakeholder, seperti aparat Kepala Dinas Pariwisata, Kepala Desa Blimbingsari, Kelihan Banjar , tokoh masyarakat, yang mengetahui dengan baik tentang proses pengembangan program agrowisata Desa Blimbingsari. Jumlah responden 10 orang untuk faktor internal dan 10 orang untuk faktor eksternal. Data dianalisis dengan menggunakan matriks IFAS dan EFAS, serta matrik SWOT.Hasil penelitian yang termasuk kekuatan diantaranya; ada kesadaran masyarakat mempunyai potensi dalam agrowisata, lingkungan sejuk indah dan hijau. Faktor kelemahan diantaranya kemampuan skill SDM masih rendah. Faktor peluang diantaranya adanya dukungan Pemda Jembrana dalam mengembangkan agrowisata. Faktor ancaman diantaranya situasi politik negara yang kurang kondusif.Rumusan alternatif yang dilakukan setelah dianalisis dengan matrik SWOT yaitu menggunakan strategi SO (strength opportunity) adalah menggunakan seluruh kekuatan untuk memanfaatkan peluang yang ada. Dapat juga disebutkan bahwa strategi yang dilakukan kedepan adalah strategi agresif.Rumusan kebijakan yang dilakukan diantaranya meningkatkan potensi masyarakat dengan program pengembangan potensi masyarakat dengan indikator keberhasilan yaitu teridentifikasinya potensi masyarakat dalam pengembangan agrowisata. Memanfaatkan dukungan Pemerintah Kabupaten Jembrana; memantapkan kesadaran masyarakat melalui peningkatan ketrampilan masyarakat sehingga mampu diwujudkan agrowisata yang berbasis masyarakat desa.Dapat disarankan untuk pengembangan Desa Blimbingsari tingkatkan hubungan kerjasama dengan stakeholder, perguruan tinggi, sektor swasta dalam hal peningkatan SDM. Misalnya dengan melakukan pelatihan ketrampilan memasak, menata kamar, pemandu wisata. Disamping menambah sarana prasarana penunjang pariwisata seperti penyiapan rumah-rumah penduduk untuk menginap atau membangun fasilitas restaurant.Kata-kata kunci : strategi, agrowisata, internal, eksternal, kebijakan
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PADA TEMPE KACANG HIJAU HASIL PROSES FERMENTASI MENGGUNAKAN INOKULUM TRADISIONAL Siti Maryam
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tempe kacang hijau (Vigna radiata L) merupakan salah satu makanan tradisional indonesia dan juga pangan fungsional, yaitu suatu pangan yang apabila dimakan akan berdampak positif pada kesehatan yang disebabkan adanya komponen antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan pada tempe kacang hijua (Vigna radiata L) yang difermentasi menggunakan inokulum tradisional dengan lama waktu fermentasi selama empat puluh delapan jam. Analisis aktifitas antioksidan pada tempe kacang hijau diketahui dengan menggunakan uji DPPH. Data dianalisis dengan jalan mencari rata rata dari aktivitas antioksidan yang berasal dari lima kali pengulangan pembuatan tempe kacang hijau dengan menggunakan inokulum tradisional. Hasil penelitian mengatakan bahwa aktivitas antioksidan pada tempe kacang hijau sebesar 210,7372 mg/L. Disarankan untuk uji organoleptik pada tempe kacang hijau yang difermentasi dengan inokulum tradisional.Kata-kata kunci : tempe kacang hijau, inokulum tradisional, aktivitas antioksidanAbstract: Mung bean tempeh (Vigna radiata L) is one of Indonesian traditional food and functional food, a food that if eaten will have an impact on health due to the presence of antioxidant components. This study aims to determine the antioxidant activity in mung bean (Vigna radiata L) were fermented using traditional inoculum with longer fermentation time for forty-eight hours. Analysis of antioxidant activity in mung bean identified by using DPPH test. Data were analyzed by looking for an average of antioxidant activity derived from five repetitions mung bean tempeh using traditional inoculum. Research suggests that the antioxidant activity on green bean tempeh is 210.7372 mg/L. It is recommended for organoleptic test on mung bean tempeh is fermented with inoculum tradisionalKeywords : mung bean tempeh, inoculum traditional, actyvity antioxidant
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN DAN JENIS PENILAIAN FORMATIF TERHADAP HASIL BELAJAR IPA SISWA SMPN DI SINGARAJA Ni Ketut Rapi
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh model pembelajaran dan jenis penilaian formatif terhadap hasil belajar IPA, setelah mengontrol pengetahuan awal. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen semu, dengan desain faktorial 2 x 2. Jumlah sampel sebanyak 136 orang siswa. Data dianalisis dengan menggunakan analisis kovarian (ANAKOVA). Hasil penelitian setelah mengontrol pengetahuan awal menunjukkan: (1) untuk siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri memiliki hasil belajar IPA lebih tinggi daripada siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional, (2) untuk siswa yang diberi penilaian berbasis kelas memiliki hasil belajar IPA lebih tinggi daripada yang mengikuti pembelajaran dengan penilaian konvensional, (3) terdapat pengaruh interaksi antara model pembelajaran dan jenis penilaian formatif terhadap hasil belajar IPA, (4) untuk siswa yang diberi penilaian berbasis kelas, siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri mempunyai hasil belajar IPA lebih tinggi daripada yang mengikuti model pembelajaran konvensional, (5) untuk siswa yang diberi penilaian konvensional, siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri mempunyai hasil belajar IPA lebih rendah daripada yang mengikuti model pembelajaran konvensional, (6) untuk siswa yang mengikuti model pembelajarn inkuiri, siswa yang diberi penilaian berbasis kelas mempunyai hasil belajar IPA lebih tinggi daripada yang diberi penilaian konvensional, dan (7) untuk siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional, siswa yang diberi penilaian berbasis kelas mempunyai hasil belajar IPA lebih rendah daripada yang diberi penilaian konvensional.Kata kunci: model pembelajaran, jenis penilaian formatif, pengetahuan awal, hasil belajar IPAAbstract: This study aims in to find out the effect of learning model and the type of formative assessment toward the natural science achievement after controlling the prior knowledge. This study used a quasi-experimental method with 2 x 2 factorial design. Sample was 136 students. The data was calculated using analysis of covariance (ANCOVA). The results of the study after controlling the prior knowledge showed: (1) the students who followed the inquiry learning model has a higher the natural science achievement than the students who followed the conventional learning models, (2) the students who followed the learning process with classroom-based assessment has higher the natural science achievement than those who followed the learning of conventional assessment, (3) there is an interaction effectovarian between learning model and formative assessment toward the students' the natural science achievement, (4) for students who are given classroom-based assessment, the students who followed the inquiry learning model has higher the natural science achievement than those who followed the conventional learning model, (5) for the students who are given conventional assessment, students who followed the inquiry learning model has lower the natural science achievement than those who followed the conventional learning model, (6) for students who followed the inquiry learning model, the students who are given classroom-based assessment has higher the natural science achievement than those who are given conventional assessment, and (7) for students who followed conventional learning model, students who are given classroom-based assessment has lower the natural science achievement than those who are given the conventional assessment.Keywords: learning model, type of formative assessment, prior knowledge, natural science achievement
PENGARUH BEBERAPA MODEL PEMBELAJARAN TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP IPA MAHASISWA PGSD I Made Citra Wibawa
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan pemahaman konsep IPA antara kelompok mahasiswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran berbasis masalah, model siklus belajar 7E dan model pembelajaran konvensional. Penelitian ini merupakan kuasi eksperimen dengan rancangan the posttest only control group design. Populasi penelitian adalah seluruh mahasiwa semester III Jurusan PGSD TA 2013/2014. Instrumen pokok penelitian yaitu tes pemahaman konsep IPA. Data yang diperoleh dianalisis dalam dua tahap, yaitu analisis deskriptif dan analisis statistik infrensial. Untuk menguji hipotesis digunakan analisis ANAVA satu jalur. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan hasil sebagai berikut. (1) Terdapat perbedaan pemahaman konsep IPA antara kelompok mahasiswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran berbasis masalah (mean= 86,90) dan kelompok mahasiswa yang dibelajarkan dengan model siklus belajar 7E (mean= 78,11), (LSD= 8,79 dan p<0,05). (2) Terdapat perbedaan pemahaman konsep IPA antara kelompok mahasiswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran berbasis masalah (mean= 86,90) dan kelompok mahasiswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional (mean= 72,55), (LSD= 14,35 dan p<0,05). (3) Terdapat perbedaan pemahaman konsep IPA antara kelompok mahasiswa yang dibelajarkan dengan model siklus belajar 7E (mean= 78, 11) dan kelompok mahasiswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional (mean= 72,55), (LSD= 5,56 dan p<0,05). Jadi, model pembelajaran berbasis masalah dapat direkomendasikan sebagai salah satu model untuk meningkatkan pemahaman konsep IPA.Kata-kata kunci: PBL, siklus belajar 7E, pemahaman konsep IPAAbstract: The aim of this study was to analyze differences between conceptual understanding between students who studied through problem-based learning model, 7E learning cycle model and direct instruction model. This study was a quasi-experimental, with the posttest only control group design. Population of this study is students of semester III jurusan PGSD TA 2013/2014. Main instrument is student conceptual understanding test. Data were analyzed in two step, they were descriptive analysis and statistical analysis infrensial. To examine the hypothesis, multivariate variants analysis with ANOVA one way was used. The result of study was stated below.First, there were significantly differences in student conceptual understanding between students who studied through problem-based learning model (mean = 86.90) and students who studied through learning cycle model (mean = 78.11), (LSD = 8.79 and p <0.05). Second, There were 7E differences in conceptual understanding between students who studied through problem-based learning model (mean = 86.90) and students who studied through direct instruction model (mean = 72.55), (LSD = 14.35 and p <0.05). Third, There were differences in conceptual understanding between students who studied through 7E learning cycle model (mean = 78, 11) and students who studied through direct instruction models (mean = 72.55), (LSD = 5.56 and p <0.05). Based on the result of study, it can be recommended that problem-based learning model can be applied as an alternative learning model in order to improve the students conceptual understanding.Keywords: PBL, learning cycle, students conceptual understanding
EFEKTIVITAS B2LS DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA I Made Ardana
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektivan model pembelajaran berorientasi teori Bruner, budaya lokal, dan Scaffolding (model B2LS) dalam pembelajaran matematika. Penelitian dilakukan pada Sekolah Dasar (SD) di Singaraja. Data penelitian berupa aktivitas belajar, prestasi belajar, dan tanggapan siswa terhadap penerapan model masing-masing dikumpulkan melalui oservasi, tes, dan kuesioner. Data yang telah terkumpul dianalisis secara deskriptif.Temuan penelitian menunjukkan bahwa: aktivitas belajar siswa sangat tinggi, prestasi belajar siswa baik, dan tanggapan siswa positif terhadap pembelajaran dengan model B2LS. Dengan kata lain model B2LS sangat efektif diterapkan dalam pembelajaran matematika.Kata-kata Kunci: bruner, budaya lokal, scaffolding, dan prestasi belajarAbstract: This study aimed to find out the effectiveness of learning models concentrate burner theory, local culture, and scaffolding (B2LS models) in the learning of mathematics. The Study was conducted at the elementary school in Singaraja, the data of the study were in the form of learning activities, academic achievement and student responses to the application of the model, respectively were collected through observation, tests and questionnaires. The data that have been collected were analyzed descriptively.Findings of the study showed that: students' learning activities were very high; student achievement was good, and positive student responses towards learning with B2Ls model. In other words B2LS model was very effective to be applied in the learning of mathematics.Keyword: bruner, local culture, and learning outcome
PETA MASALAH IPTEK KERAJINAN KAYU BALI DAN PELUANG APLIKASI KAYU SINTETIK BERTEKNOLOGI NANOKOMPOSIT SILIKA-KARBON I Wayan Karyasa; I Wayan Muderawan; I Made Gunamantha
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kerajinan kayu Bali saat ini mengalami kemerosotan yang tajam disebabkan oleh banyak faktor seperti yang sering terungkap di berbagai media massa, namun pemetaan masalah IPTEK pendukung kerajinan kayu jarang diungkap secara ilmiah dan komprehensif. Tulisan ini melaporkan hasil focus group discussion dengan analisis masalah-akar masalah (root cause analysis) terhadap peta masalah IPTEK kerajinan Bali dan peluang aplikasi kayu sintetik berteknologi nanokomposit silika-karbon. Masalah IPTEK kerajinan kayu Bali berpangkal dari keterbatasan bahan baku, teknologi produksi, teknologi pendukung pengembangan desain produk, teknologi pewarnaan, dan teknologi pengemasan sertak IPTEK terkait manajemen usaha yang semuanya berujung pada tingginya biaya produksi. Aplikasi kayu sintetik yang dibuat dari biomassa tropis kaya silikon yang diperkuat dengan nanokomposit silika­karbon memiliki prospek sebagai bahan baku pengganti bahan baku utama kayu tropis dan dapat menurunkan biaya produksi karena dapat dicetak sesuai desain yang diinginkan dengan waktu pengerjaan yang lebih cepat dan limbah yang minimal.Kata-kata kunci: kerajinan, kayu sintetik, nanokomposit
PENDAMPING PENYUSUN ASESMEN FISIKA BERBASIS OSN BAGI GURU SMP NEGERI DI KOTA TABANAN A.A.Istri Agung Rai Sudiatmika
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan utama kegiatan P2M ini, mendiskripsikan 1) kemampuan guru pendamping pembina olimpiade OSN Fisika di SMP di kota Tabanan dalam menyusun dan mengembangkan asesmen fisika berbasis olimpiade, dan 2) respon para peserta pelatihan terhadap pelaksanaan pendampingan penyusunan dan pengembangan asesmen fisika berbasis OSN, 3) keberhasilan pelaksanaan pendampingan penyusunan asesmen fisika berbasis OSN. Untuk mencapai tujuan di atas, telah dilakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk pendampingan yang diselenggarakan pada tanggal 27 Oktober 2012 bertempat di SMP N 2 Tabanan. Kegiatan ini diikuti oleh 15 orang guru (sains-fisika) SMP N Kota Tabanan. Data dikumpulkan teknik observasi, teknik pencatatan dokumen dan teknik angket dan wawancara, kemudian dianalisis secara deskriptif. Dari hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa 1) Guru pendamping pembina OSN fisika di SMP N di kota Tabanan memiliki kemampuan yang baik dalam menyusun dan mengembangkan asesmen fisika berbasis olimpiade; 2) peserta pelatihan menunjukkan respon positif terhadap pelaksanaan kegiatan penyusunan dan pengembangan asesmen fisika berbasis OSN; 3) Pelaksanaan pendampingan penyusunan dan pengembangan asesmen fisika berbasis OSN berhasil. Beberapa hal positif yang diperoleh setelah kegiatan pendampingan ini adalah 1) para guru pendamping pembina olimpiade fisika memperoleh pendalaman materi-materi fisika dalam tataran OSN, 2) para guru peserta pelatihan mengetahui teknik penyusunan dan pengembangan asesmen fisika berbasis OSN yang secara langsung dapat diterapkannya dalam membina kegiatan olimpiade, dan 3) tersedianya asesmen fisika SMP berbasis OSN yang akan digunakan oleh para guru pembina dan para siswa sebagai salah satu acuan sumber belajar dalam persiapan menghadapi OSN.Kata-kata kunci : asesmen, fisika, pendampingan, OSN

Page 11 of 11 | Total Record : 108