cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional MIPA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 140 Documents
Search results for , issue "2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015" : 140 Documents clear
INTEGRASI PENDIDIKAN KARAKTER KE DALAM KURIKULUM ILMU ALAMIAH DASAR I Wayan Suja
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi nilai-nilai karakter yang relevan diintegrasikan ke dalam Kurikulum Ilmu Alamiah Dasar (IAD). Pengambilan data dilakukan dengan pemberian angket kepada dosen pengampu matakuliah IAD di Undiksha pada tahun 2014 dan studi literatur. Jumlah dosen yang dilibatkan sebagai sampel sebanyak 18 orang dari 25 dosen pengampu mata kuliah IAD. Pengambilan sampel dilakukan secara disproportionate stratified random sampling berdasarkan lama waktunya mengampu matakuliah IAD. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan ada lima nilai karakter yang layak dan mendesak disampaikan kepada mahasiswa, yaitu: jujur, peduli terhadap lingkungan, disiplin, tanggung jawab, dan kerja keras. Dari studi literatur didapatkan informasi tentang perlunya mengajarkan berperilaku sopan dan santun kepada peserta didik.Kata-kata kunci: pendidikan karakter, Ilmu Alamiah Dasar.ABSTRACTThis research aims to identified values relevant character is integrated into the curriculum of Basic Natural Sciences (BNS). Data were collected by administering a questionnaire to the lecturer of the course BNS in Undiksha in 2014 and literature studies. The number of lecturers involved as a sample were 18 of the 25 lecturers BNS subjects. Sampling was done by disproportionate stratified random sampling based on the length of time support the course BNS. The data were analyzed descriptively. The results showed there are five character values that deserve and urge delivered to the students, namely: honesty, caring for the environment, discipline, responsibility, and hard work. Information obtained from literature studies about the need to teach behave in a polite and courteous to the learners.Key words: character education, Natural Science Basic
SIKLUS BELAJAR 7E BERORIENTASI BUDAYA LOKAL DAN KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA SMA I Nyoman Suardana
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perbedaan keterampilan proses sains antara siswa yang dibelajarkan dengan model siklus belajar 7E berorientasi budaya lokal dan siswa yang dibelajarkan dengan model discovery learning pada Mata Pelajaran Kimia. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan rancangan posttest only control group design. Populasi penelitian adalah siswa SMAN 3 Singaraja kelas XI Semester Genap tahun ajaran 2014/2015, sedangkan sampelnya adalah siswa kelas XI MIA 3 (23 siswa) sebagai kelompok eksperimen yang dibelajarkan dengan model siklus belajar 7E berorientasi budaya lokal dan siswa kelas XI MIA 4 (20 siswa) sebagai kelompok kontrol yang dibelajarkan dengan model discopery learning. Data keterampilan proses sains siswa dikumpulkan dengan tes keterampilan proses sains. Data dianalisis secara deskriptif dan independent samples t-test pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor rerata keterampian proses sains siswa yang dibelajarkan dengan model siklus belajar 7E berorientasi budaya lokal adalah 60,9 dengan skor tertinggi dan terendah secara berturut-turut adalah 73,3 dan 26,7. Skor rerata keterampian proses sains siswa dibelajarkan dengan model discopery learning adalah 40,2 dengan skor tertinggi dan terendah secara berturut-turur 56,7 dan 26,7. Terdapat perbedaan keterampilan proses sains secara signifikan antara siswa yang dibelajarkan dengan model siklus belajar 7E berorientasi budaya lokal dan siswa yang dibelajarkan dengan model discovery learning. Keterampilan proses sains siswa yang dibelajarkan dengan model siklus belajar 7E berorientasi budaya lokal lebih baik daripada siswa yang dibelajarkan dengan model discopery learning.Kata-kata kunci: siklus belajar 7E, budaya lokal, keterampilan proses sainsAbstrakThis research aimed to describe the differences of science process skills between students learned through 7E learning cycle model with local culture oriented and students learned through discovery learning model in chemistry subject. This research was experiment reseach with posttest only control group design. Population of this research was XI grade students of SMAN 3 Singaraja on Even Semester in Acamemic Year 2014/2015, but its sample was MIA-3 XI grade students (23 students) as experiment group learned through 7E learning cycle model with local culture oriented and MIA-4 XI grade students (20 students) as control group learned through discovery learning model. Data of science process skills were collected by science process skills test. Data were analyzed descriptively and by using independent samples t-test with 5% significance level. The results show that average score science process skills of students who learned through 7E learning cycle model with local culture oriented is 60,9 with highest and lowes scores are 73.3 and 26.7 respectively. Average score science process skills of students who learned through discovery learning model is 40.2 with highest and lowes scores are 56.7 and 26.7 respectively. There are differences of science process skills significantly between students learned through 7E learning cycle model with local culture oriented and students learned through discovery learning model. Science process skills of students who learned through 7E learning cycle model with local culture oriented is better than students learned through discovery learning model.Keywords: 7E learning cycle, local culture, science process skills
MENYIAPKAN LULUSAN FMIPA YANG MENGUASAI KETERAMPILAN ABAD XXI I Wayan Redhana
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abad XXI merupakan abad pengetahuan yang mendorong perkembangan teknologi. Perkembangan ini menyebabkan perubahan yang sangat cepat dalam segala aspek kehidupan dan dunia kerja serta menimbulkan ketidakpastian di masa depan yang harus diantisipasi dengan baik. Oleh karena itu, peserta didik harus dibekali dengan sejumlah keterampilan agar mampu menghadapi perubahan dan berbagai jenis tantangan di abad ini. Keterampilan yang diperlukan adalah keterampilan abad XXI yang meliputi keterampilan belajar dan inovasi, keterampilan informasi, media, dan teknologi, serta keterampilan hidup dan karir. Keterampilan belajar dan inovasi meliputi berpikir kritis dan pemecahan masalah, komunikasi dan kolaborasi, serta kreativitas dan inovasi. Keterampilan informasi, media, dan teknologi meliputi literasi informasi, literasi media, serta literasi teknologi, informasi, dan komunikasi. Sementara itu, keterampilan hidup dan karir meliputi fleksibilitas dan adaptibilitas, inisiatif dan pengarahan diri, keterampilan sosial dan lintas budaya, produktivitas dan akuntabilitas, serta kepemimpinan dan tanggung jawab. Untuk menguasai keterampilan-keterampilan tersebut, inovasi pembelajaran perlu dilakukan. Sejumlah pembelajaran mampu mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut. Beberapa di antaranya adalah pembelajaran berbasis permainan, pembelajaran berbasis projek, pembelajaran berbasis masalah, dan pembelajaran berbasis argumen. Model-model pembelajaran ini dapat diterapkan di FMIPA, khusus FMIPA Undiksha, untuk menyiapkan lulusan yang mampu berkompetisi di abad XXI.Kata-kata kunci: keterampilan abad XXI, berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, kreativitas
OPTIMALISASI PERAN PENDIDIKAN MATEMATIKA SEBAGAI PENDIDIKAN NILAI-NILAI I Nengah Suparta
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Oleh sebagian besar siswa, pendidikan matematika selama ini masih terkesan pendidikan yang kurang aplikatif. Kesan ini menjadikan pendidikan matematika di sekolah merupakan salah satu yang kurang diminati oleh siswa pada umumnya. Namun, ketika dicermati lebih jauh, pendidikan matematika mengandung makna yang sangat berarti bagi kehidupan manusia. Hal ini bukan karena fungsinya sebagai pelayan ilmu-ilmu lain, tetapi karena sesungguhnya pendidikan matematika itu dapat ditujukan bagi pembentukan nilai-nilai pada siswa. Menyodorkan permasalahan-permasalahan matematika yang berkaitan dengan lingkungan, penghematan, energi, atau pelayanan misalnya, dapat menjadikan pendidikan matematika sebagai wahana pendidikan nilai pada siswa. Hal ini juga secara langsung dapat menumbuhkembangkan minat dan memotivasi siswa untuk belajar matematika. Lebih jauh, esensi matematika itu sendiri bahkan juga merupakan objek didik yang sangat mendukung pembentukan nilai-nilai pada siswa. Sebagai contoh, matematika adalah ilmu yang konsisten yang berkembang secara deduktif. Konsistensi adalah sifat manusia yang patut ditumbuhkembangkan. Pada tulisan ini didiskusikan hal-hal yang dapat dilakukan dalam pembelajaran untuk mengoptimalkan peran pendidikan matematika bagi pendidikan nilai-nilai.Kata-kata kunci: Pendidikan matematika, pendidikan nilai.
OPTIMALISASI MODEL NHT UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA Ni Wayan Parwati
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah yang akan dikaji dalam Penelitian tindakan ini adalah apakah dengan optimalisasi model pembelajaran NHT dapat meningkatkan Hasil belajar IPA siswa kelas VIII.12 semester 1 tahun pelajaran 2015/2016? Metode penelitian menggunakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian siswa kelas VIII.12 pada semester 1 tahun pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 33 orang.Data awal Hasil belajar IPA pada pra siklus diperoleh dengan rata-rata 62,66 menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPA masih sangat rendah mengingat kriteria ketuntasan belajar siswa untuk mata pelajaran ini adalah 70. Hasil ini mengalami peningkatan pada siklus I menjadi 66,56 dan pada siklus II 75,00. Dengan telah tercapainya rata-rata Hasil belajar IPA 75,00 berarti sudah diatas taraf keberhasilan yang ditetapkan yaitu 70, sehingga tindakan dianggap berhasil. Dari segi ketuntasan, diperoleh peningkatan yaitu pra siklus 19%, siklus I 34%, dan siklus II 94%. Dengan tercapainya prosentase ketuntasan pada siklus II 94%, telah melampaui taraf keberhasilan yang ditetapkan yaitu 85%, sehingga tindakan dianggap berhasil. Hal ini disebabkan karena penerapan model NHT dapat membuat siswa bersemangat dan aktif dalam proses pembelajaran sehingga Hasil belajarnya meningkat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa optimalisasi model pembelajaran NHT dapat meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa kelas VIII.12 semeter 2 SMPN 2 Amlapura tahun pelajaran 2015/2016.Kata Kunci : Hasil Belajar, model NHT
APLIKASI PEMODELAN FUZZY PADA INDIKATOR MAKROEKONOMI PROVINSI BALI I Komang Gde Sukarsa; I Putu Eka N. Kencana
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagian besar data indikator makroekonomi merupakan data deret waktu yang umumnya diprediksi menggunakan model runtun waktu yang dikelompokkan ke dalam kelas pemodelan stokastik atau menggunakan model-model pemulus. Penelitian ini ditujukan untuk melihat kemampuan pemodelan fuzzy yang tergolong ke dalam soft modeling pada kasus data makroekonomi Provinsi Bali pada periode tahun 1990 2013. Indikator makroekonomi yang diprediksi adalah Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB), Konsumsi, Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTDB), dan Ekspor Neto Provinsi Bali pada periode tersebut. Kelas pemodelan fuzzy yang digunakan adalah model Fuzzy Time Series (FTS) orde satu dengan fungsi keanggotaan yang dipilih adalah fungsi keanggotaan segitiga fuzzy (fuzzy triangular number). Hasil penelitian menunjukkan model FTS memberikan tingkat keakurasian prediksi yang tinggi, terlihat dari nilai Average Forecasting Error Rate (AFER) yang rendah. Nilai-nilai AFER untuk prediksi out-of-sample dari indikator PDRB, Konsumsi, dan PMTDB masing-masing sebesar 0,20 persen; 2,15 persen; dan 1,08 persen. Komparasi model FTS dalam memprediksi PDRB dengan formula makroekonomi untuk menghitung PDRB menunjukkan model FTS mengungguli formula makroekonomi dengan nilai AFER model FTS sebesar 0,20 persen sedangkan formula makroekonomi memberikan nilai AFER sebesar 4,00 persen.Kata kunci: AFER, fuzzy modelling, fuzzy time series, model makroekonomiAbstractMost of macroeconomic indicators are time series data. In general, time series data were predicted by using time series models which are classified into stochastic model or by applying exponential model. This research aimed to elaborate the performance of fuzzy modeling which is grouped into soft modeling in predicting the macroeconomic indicators for period 1990 2013 of Bali Province. The predicted indicators were Gross Domestic Product (GDP), Consumption, Gross Domestic Investment (GDI) and Net Export of Bali Province for that period. We applied first order Fuzzy Time Series (FTS) with membership function had been chosen is Fuzzy Triangular Number (FTN). The result showed FTS model gave high prediction rate, observed from its Average Forecasting Error Rate (AFER). The values for GDP, Consumption, and GDI were 0.20 percent, 2.15 percent, and 1.08 percent, respectively. In addition, for out-of-sample forecast of GDP, FTS outperformed classical macroeconomic formula for counting it with AFER as much as 0.20 percent while the formula had 4.00 percent.Keywords: AFER, fuzzy modelling, Fuzzy Time Series, macroeconomic model
KONTRIBUSI KECERDASAN SPASIAL DAN KEMANDIRIAN BELAJAR TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA SISWA SMA NEGERI DI KECAMATAN BULELENG I G A Mahayukti; D. A. Wibowo; I W Sadra
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi kecerdasan spasial dan kemandirian belajar terhadap pemahaman konsep matematika siswa. Populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri di Kecamatan Buleleng sebanyak 1372 orang. Sampel ditentukan dengan teknik simple random sampling, dan didapatkan ukuran sampel 300 orang. Data dikumpulkan dengan tes kecerdasan spasial, angket kemandirian belajar, dan tes pemahaman konsep pada materi program linear, kemudian dianalisis menggunakan analisis regresi linear sederhana dan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukan bahwa kecerdasan spasial siswa tergolong cukup baik dengan rata-rata skor 67,2. Kemandirian belajar siswa tergolong baik dengan rata- rata skor 73,9. Pemahaman konsep matematika siswa pada materi program linear tergolong cukup dengan rata-rata skor 62,0. Selanjutnya, (1) kontribusi kecerdasan spasial terhadap pemahaman konsep matematika siswa pada materi program linear sebesar 36,6%. (2) kontribusi kemandirian belajar siswa terhadap pemahaman konsep matematika siswa pada materi program linear sebesar 11,6%. (3) kecerdasan spasial dan kemandirian belajar siswa secara simultan berkontribusi terhadap pemahaman konsep matematika siswa untuk materi program linear sebesar 42,8%.Kata-kata kunci : kecerdasan spasial, kemandirian belajar, pemahaman konsep, program linearAbstractThe main purpose of this research was to know the contribution of spatial intelligence and self-directed learning toward understanding of mathematic concepts. The population of this research was eleven grade of senior high school students in Buleleng sub-district as many as 1372 students. Simple random sampling technique was used to determine the sample of this research, which altogheter 300 students. Data was collected by spatial intelligence test, self-directed learningquestionnaire, and understanding of mathematic concepts in a linear program material test. Data was analyzed by simple linear regression analysis and multiple linear regression analysis. The result indicate that the students spatial intelligence was classified enough level with an average score of 67,2. The students self-directed learning was classified good level with an average score of 73,9. The students understanding of mathematic concepts in a linear program material was classified enough level with an average score of 62,0. Then (1) the contribution spatial intelligence of toward understanding of mathematic concepts in a linear program material is 36,6%. (2) the contribution of self-directed learning toward understanding of mathematic concepts in a linear program material11,6%. (3) spatial intelligence and self- directed learningcontributing simultaneously and significantly toward understanding of mathematic concepts in a linear program material by 42,8%.Keywords: spatial intelligence, self-directed learning, understanding of concepts, linear program
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK BAGI SISWA SMP KELAS VII DENGAN SETING MODEL KOOPERATIF MURDER Made Juniantari; Sariyasa Sariyasa; I W Sadra
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan memperoleh perangkat pembelajaran matematika realistik bagi siswa SMP kelas VII dengan seting model kooperatif MURDER yang valid, praktis, dan efektif. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan berupa buku siswa, buku petunjuk guru, dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan mengikuti prosedur pengembangan produk dari Plomp yang meliputi lima tahap yaitu: (1) investigasi awal; (2) desain; (3) realisasi/konstruksi; (4) tes, evaluasi, dan revisi; dan (5) implementasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran yang dikembangkan sudah termasuk perangkat pembelajaran yang baik karena telah memiliki nilai validitas, kepraktisan, dan keefektifan yang tinggi. Hal ini terlihat dari pendapat validator, respons guru, respons siswa, dan hasil uji coba lapangan. Hasil uji coba perangkat pembelajaran yang dikembangkan dalam penelitian ini menunjukkan aktivitas siswa yang tinggi sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar pembelajaran matematika di SMP kelas VII menggunakan perangkat pembelajaran matematika realistik dengan seting model kooperatif MURDER. Selain itu, perangkat pembelajaran yang telah berhasil dikembangkan dalam penelitian ini dapat dijadikan sebagai pedoman bagi guru untuk mengembangkan perangkat pembelajaran sesuai dengan karakteristik pembelajaran yang diterapkannya baik dari segi prosedur pengembangan maupun proses untuk melihat kualitas perangkat pembelajaran.Kata kunci: Perangkat pembelajaran, pendekatan matematika realistik, model kooperatif MURDER.ABSTRACTThis study aims at developing the realistic mathematics instructional materials for the seventh grade student which valid, practical, and effective base on model of cooperative MURDER. In this study handbooks, instructional guide, and lesson plans were developed. development procedure was applied to conduct the study which consist of five stages, namely: (1) preliminary investigation, (2) design, (3) realization/construction, (4) test, evaluation, and revision, and (5) implementation. The result of this study shows that the instructional materials which had been developed, has high validity, practicality, and effectiveness. It can be seen from the result of the validation review, teacher and responses, and the result of the try out. The try out result shows that students were highly involved in teaching and learning activities that affect their high achievement in mathematics. Considering the good result of the try out, it is suggested that the realistic mathematics instructional base on model of cooperative MURDER should be implemented in teaching mathematics in the seventh grade of junior high school. Moreover, instructional materials that have been successfully developed in this study, can be used as a guidelines for teacher to develop instructional mathematics suitable with the characteristic of the instructional both in term of developing procedures and process to see the quality of the instructional materials.Key words: instructional materials, realistic mathematics education, model of cooperative MURDER
IMPLEMENTASI PANDANGAN KI HAJAR DEWANTARA PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA I.G.A Kartika Natalia
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suwardi Suryaningrat atau yang lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara adalah salah seorang tokoh pendidikan nasional. Beliau mendirikan Perguruan Taman Siswa, untuk mendidik rakyat kecil supaya bisa mandiri. Beliau bercita-cita agar bangsa Indonesia pada masa mendatang memiliki kepribadian nasional dan sanggup membangun masyarakat baru yang bermanfaat bagi kehidupan dan penghidupan bangsa Indonesia. Cara mengajar beliau yang terkenal yaitu menerapkan metodeAmong berarti membimbing anak dengan penuh kecintaan dan lebih mendahulukan kepentingan anak. Dengan demikian anak dapat berkembang menurut kodratnya. Adapun hubungan murid dan pamong seperti keluarga. Cara mengajar dan mendidik dengan menggunakan dengan semboyan Tut Wuri Handayani mengandung arti mendorong anak didik untuk membiasakan diri mencari dan belajar sendiri. Mengemong (anak) berarti membimbing, memberi kebebasan anak bergerak menurut kemauannya. Guru atau pamong mengikuti dari belakang dan memberi pengaruh, bertugas mengamati dengan segala perhatian, pertolongan diberikan apabila dipandang perlu.Dengan menerapkan ajaran Ki Hajar Dewantara dalam pembelajaran matematika, diharapkan pembelajaran matematika akan lebih menarik dan tidak lepas dari budaya Indonesia. Guru bisa menanamkan budaya asli Indonesia, membentuk anak didik menjadi manusia tangguh dalam menyelesaikan masalah, taat asas, mandiri dan bisa menghargai orang lain.Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang mempunyai andil yang besar dalam mempersiapan anak didik. Salah satu tujuan diberikannya mata pelajaran matematika seperti yang tercantum pada kurikulum adalah siswa dapat memiliki kemampuan berpikir logis, analitis, kritis, konsisten, teliti, bertanggung jawab, responsif, dan tidak mudah menyerah dalam memecahkan masalah.Kata kunci: Pandangan Ki Hajar Dewantara, Pembelajaran matematika
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF GROUP INVESTIGATION TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP DAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS XI IA SMA NEGERI 4 SINGARAJA Putu Prima Juniartina
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis : (1) perbedaan pemahaman konsep dan keterampilan berpikir kritis antara siswa yang mengikuti model pembelajaran group investigation dan konvensional, (2) perbedaan pemahaman konsep antara siswa yang mengikuti model pembelajaran group investigation dan konvensional dan (3) perbedaan keterampilan berpikir kritis antara siswa yang mengikuti model pembelajaran group investigation dan konvensional.Penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (quasi experiment) dengan rancangan non-equivalent postest only control group design. Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas XI IA SMA Negeri 4 Singaraja tahun pelajaran 2011/2012. Pengambilan kelas penelitian berdasarkan teknik simple random sampling Data dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif dan MANOVA. Sebagai tindak lanjut dari MANOVA, digunakan Least Significant Difference (LSD) untuk menguji komparasi pasangan skor rata-rata tiap kelompok perlakuan.Hasil penelitian menunjukkan terdapat: (1) perbedaan pemahaman konsep dan keterampilan berpikir kritis antara kelompok model group investigasi dengan model konvensional (F = 32,56; p<0,05), (2) perbedaan yang signifikan pemahaman konsep antara kelompok model group investigasi dan kelompok model pembelajaran konvensional (F = 43,019; p<0,05, (3) perbedaan yang signifikan keterampilan berpikir kritis antara kelompok model group investigasi dan kelompok model pembelajaran konvensional (F = 37,14; p<0,05). Berdasarkan uji LSD diperoleh PK dan KBK yang dicapai oleh siswa yang belajar dengan menggunakan model pembelajaram kooperatif tipe group investigasi lebih baik dibandingkan dengan siswa yang belajar dengan menggunakan pembelajaran konvensional.Kata kunci: group investigation, pemahaman konsep, dan berpikir kritis.AbstractThis research is aimed to analyze (1) ) the difference of critical thinking skills and physics understanding between students who studied through group investigation model and their counterparts who studied through direct instruction learning model, (2) conceptual understanding skills between students who studied through group investigation model and their counterparts who studied through direct instruction learning model, and (3) critical thinking skills between students who studied through group investigation model and their counterparts who studied through direct instruction learning modelThis study was an experimental study using the posttest-only control group design. The subjects were all students in grade XI IA SMA Negeri 4 Singaraja academic year 2011/2012. The selection of the class for this study was based on simple random sampling technique. The data were analyzed by descriptive statistics and MANOVA. Following MANOVA, Least Significant Difference used (LSD) to test the comparative pair average scores of each treatment group.The result found that (1) there is significant influence learning model of concept comprehension variables and critical thinking together (F = 32,56; p<0,05), (2) there are significant differences between groups PK model of group investigations and direct instruction learning model (F = 43.019, p <0.05). (3) there are significant differences between groups KBK model of group investigations and direct instruction learning model (F = 37,14; p<0,05). Based on the LSD test and KBK obtained PK is achieved by students who learned using a Learning cooperative model of type GI better than students who learn using conventional teaching.Key words: group investigation, concept comprehension, and critical thinking ability

Page 10 of 14 | Total Record : 140