cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Universitas Malahayati Bandar Lampung, Indonesia Jl Pramuka No. 27 Kemiling Bandar Lampung, Indonesia
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : 10.33024/hjk
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Articles 21 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 4 (2019)" : 21 Documents clear
Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian susu formula pada bayi usia 0-6 bulan Rika Yulendasari; Muhammad Firdaus
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 13, No 4 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.043 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v13i3.1891

Abstract

Maternal factors relating to milk formula feeding on infants aged 0-6 months in Lampung-IndonesiaBackground: Many parents assume that breastmilk only would not be sufficient to fulfil baby’s nutrition need, so that baby need to feed with complementary feeding. The administration of complementary feeding like formula milk has been a common practice for some parents with reasons including less breastmilk production, maternal busy activities, less maternal knowledge concerning breastmilk feeding, saving time, being attracted by offered formula milk. Most parents administer formula milk with amount almost similar to breastmilk to fulfil the baby’s need.  Purpose: Knowing factors of formula feeding for infants 0-6 months.Methods: This was a quantitative analytic research by using cross sectional approach. Population was 220 babies of 0-6 months old in Waykandis public health centre working area from January to April 2019. 142 respondent samples were taken by using proportional random sampling.Results: The statistic test result showed that there were correlations of maternal occupation (p-value 0.016; OR 2.485), maternal education (p-value 0.004; OR 2.886), maternal knowledge (p-value 0.000; OR 0.089) to formula milk administration.Conclusion: There were factors of formula feeding for infants 0-6 months. The researcher expects the public health centre to create a schedule list for complementary feeding besides breast milk administration according to the children fewer than five needs, and to be always active in providing health education especially concerning the importance of formula milk knowledge.Keywords: Maternal; Formula Feeding; Infants 0-6 MonthsPendahuluan : Banyak orang tua menganggap bahwa kebutuhan nutrisi bayi tidak cukup hanya dengan ASI, sehingga bayi perlu dibantu dengan memberikan makanan pendamping ASI. Pemberian makanan pendamping ASI berupa susu formula sudah menjadi hal yang biasa, dengan berbagai alasan yang diberikan seperti ASI yang keluar sedikit, kesibukan ibu, kurangnya pengetahuan ibu tentang pemberian ASI, hemat waktu, tergiur dengan kandungan susu formula yang ditawarkan. Kebanyakan orang tua menilai pemberian susu formula hampir setara dengan ASI dan dapat mencukupi kebutuhan gizi bayinya. Tujuan  : Diketahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian susu formula pada bayi usia 0-6 bulan.Metode : Jenis penelitian kuantitatif. Rancangan menggunakan analitik, dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian seluruh bayi usia 0-6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Waykandis dari bulan Januari sampai dengan bulan April 2019 yaitu sebanyak 220 orang. Sampel berjumlah 142 responden dengan teknik Proportional Random Sampling.Hasil : Berdasarkan hasil uji statistik, terdapat hubungan antara faktor pekerjaan dengan pemberian susu formula (p-value 0,016) nilai OR 2,485, terdapat hubungan antara faktor pendidikan dengan pemberian susu formula (p-value 0,004) nilai OR 2,886, terdapat hubungan antara faktor pengetahuan dengan pemberian susu formula (p-value 0,000) nilai OR 0,089.Simpulan : Ada hubungan antara faktor pekerjaan, pendidikan dan pengetahuan terhadap pemberian susu formula pada bayi 0-6 bulan. Diharapkan tenaga kesehatan dapat membuat daftar menu pemberian MP-ASI sesuai dengan kebutuhan balita, selalu aktif memberikan penyuluhan kesehatan pentingnya pengetahuan tentang susu formula. 
Peningkatan harga diri melalui intervensi Cognitive behavioral therapy pada remaja korban bullying Niken Yuniar Sari; Sri Maryuni
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 13, No 4 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (22.458 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v13i4.1561

Abstract

Cognitive behavioral therapy for bully‐victims  among adolescents in Islamic school, IndonesiaBackground: Bullying is aggressive behavior, illegal, negative both physically and psychologically that is social environment and it was now are more prevalent in the education world. Sign of symptoms that by the bullying of them in the form of low self-esteem. On the sacrificial offering, health effort has never been bullying at the school health psychology as psychotherapy.Purpose: Effectiveness of cognitive behavior therapy to bully‐victims in adolescents.Methods: The method of this study used case studies, with the amount of 21 respondents.Results: The results of this study showed that teenagers bullying victims to the girl who the majority of the age of 14 years old, there was increased in self-esteem especially on aspects of cognitive and behavior after giving nursing intervention and cognitive behavior therapy.Conclusion: The handling of this is cognitive behavior therapy that can be used as one of the preventive efforts of teenagers the bullying of low self-esteem.Keywords: Cognitive Behavioral Therapy; Bully‐Victims;  Adolescents; Islamic SchoolPendahuluan: Bullying merupakan suatu perilaku agresif, ilegal, negatif baik secara fisik maupun psikis yang ada dilingkungan sosial dan saat ini lebih banyak terjadi di dunia pendidikan. Tanda gejala yang muncul akibat bullying diantaranya berupa harga diri rendah. Upaya kesehatan pada korban bullying disekolah belum bersifat kesehatan psikologi seperti psikoterapi.Tujuan: Hasil penanganan kasus ini bertujuan untuk menganalisis perubahan tanda gejala harga diri remaja santri korban bullying setelah diberikan intervensi Cognitive Behaviour Therapy menggunakan penerapan teori stres adaptasi Stuart.Metode: Penanganan kasus ini menggunakan metode case study, dengan jumlah responden 21 orang.Hasil: Hasil penanganan kasus menunjukan bahwa remaja santri korban bullying dengan jenis kelamin perempuan yang sebagian besar berusia 14 tahun, terjadi peningkatan harga diri terutama pada aspek kognitif dan perilaku setelah diberikan tindakan keperawatan ners dan ners spesialis berupa Cognitive Behavior Therapy. Simpulan: Penanganan kasus ini berupa Cognitive Behavior Therapy dapat digunakan sebagai salah satu upaya preventif remaja santri remaja korban bullying terjadinya harga diri rendah.
Kualitas pelayanan kesehatan rawat jalan dengan tingkat kepatuhan minum obat penderita tuberkulosis paru Ahmad Gunawan; Muhammad Arifki Zainaro
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 13, No 4 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.083 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v13i4.1658

Abstract

Adherence to anti-tuberculosis treatment and  quality of outpatient health servicesBackground: The were 23 lung tuberculosis patients registered at Sragi Health Center. Actually, the Case Detection Rate of Tuberculosis in Lampung Selatan Regency was 60%, below the 70% national target. How ever, specifically in some health centers in the regency, there were some health centers which Case Detection Rate (CDR) is higher than national achievement like Bakauheni Health Center (116%) while the lowest CDR found at Bumidaya Health Center. In this study, Sragi Health Center obtained 41% placing the fourth lowest achievement. On the following year, 2017, Sragi Health Center’s lung tuberculosis patients increased into 38 resulting the second lowest CDR achieve in Lampung Selatan regency.Purpose: To identify the correlation between empathy of health practitioner and the adherence to anti-tuberculosis treatment.Methods: A quantitative study with cross sectional research approach, by total sampling and population was 49 patients with lung tuberculosis. Study was done on 23 March to 25 July 2019 at Sragi Health Center (Puskesmas). The variables are quality of outpatient health services in domain an empathy and the adherence to anti-tuberculosis treatment.Result: Finding that there were of 29 patients (59,2%) acknowledging the health practitioners having good empathy while the other twenty (40,8%) stating the health practitioners exhibiting poor empathy. There was a correlation between empathy of health practitioners and the adherence of taking medicine on lung tuberculosis patients (p value = 0,009 and OR 6,545).Conclusion: There was a correlation between empathy of health practitioners and the adherence to anti-tuberculosis treatment. The health practitioners especially the nurses should show their empathy to the patients in order to build trust to healthcare.Keywords: Adherence; Anti-Tuberculosis Treatment; Quality; Outpatient Health Services; Empathy Pendahuluan: Puskesmas Sragi sebanyak 23 penderita. CDR (Case Detection Rate) Kabupaten Lampung Selatan tahun 2016 sebesar 60% masih dibawah target nasional sebesar 70%, tetapi bila ditilik terdapat beberapa Puskesmas yang mempunyai capaian nilai CDR diatas nasional seperti Puskesmas RI Bakauheni (116%), sedangkan Puskesmas dengan CDR terendah adalah RI Bumidaya (30%) dan Puskesmas Sragi sebesar 41% merupakan urutan yang ke empat terendah. Tahun 2017 Puskesmas Sragi kembali mengalami peningkatan penderita TB paru menjadi sebanyak 38 orang dengan CDR urutan kedua terendah di Kabupaten Lampung Selatan. Tujuan: Diketahui empati petugas kesehatan dengan kepatuhan minum obat penderita tuberculosis paru. Metode: Penelitian kuantitatif, jenis penelitian crossectional. Populasi penelitian seluruh penderita TB paru, jumlah sampel 49 orang, pengambilan sampel secara total sampling dilakukan di UPT Puskesmas Rawat Inap Sragi Kabupaten Lampung Selatan, tanggal 23 Maret – 25 Juli 2019. Variabel penelitian empatidan kepatuhan minum obat penderita tuberculosis paru. Analisis data secara univariat dan bivariat (chi square).Hasil: Diketahui sebanyak 29 (59,2%) memiliki empati baik dan sebanyak 20 (40,8%) memiliki rasa empati yang buruk. Ada hubungan antara empati petugas kesehatan terhadap kepatuhan minum obat tuberculosis paru(p-value=0,009 dan OR 6,545).Simpulan: Ada hubungan antara empati petugas kesehatan terhadap kepatuhan minum obat tuberculosis paru. Saran: Perawat dan petugas kesehatan supaya bersikap empati agar pasien lebih nyaman dan merasa dilindungi dan dibantu sehingga dapat menciptakan kondisi yang terapeutik. Pasien akan selalu kontrol dan patuh dalam minum obat tuberculosis paru hingga dosisnya sesuai anjuran yang ditetapkan.
Penerapan Introduction, Situation, Background, Assessment and Recommendation (ISBAR) untuk komunikasi efektif antara perawat dan dokter di Rumah Sakit Umum Daerah Cibabat Kota Cimahi Asep Badrujamaludin; Tria Firza Kumala
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 13, No 4 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.15 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v13i4.1587

Abstract

ISBAR and effective communication between nurses and doctors Background: The communication errors the main cause of events reported to the United States Joint Commission between 1995 to 2006 of 25000-30000 preventable incidents that cause permanent disability. 11% of these adverse events are due to 6% different communication problems and also because inadequate level of skills. In Indonesia,  data on unexpected-events (UEs)) let alone the event of near‐miss events (NMEs) is still scarce, but on the other hand there is an increase in accusations of "mal practice", which is not necessarily in accordance with the final proof, Patient safety targets, the main element of care services to patients is effective communication. At Cibabat hospital uses SBAR communication between nurses and doctors, but there is still an element lacking in the nurse's self-introduction component when calling doctorsPurpose: This study aims to determine the description and effectiveness of ISBAR communication as effective communication between nurses and doctorsMethods: The sample of 79 nurses by survey and another nurses of 45  by observation, it done in  ICU and inpatient ward. Surveys Questioners filled up direct by respondents and observation sheets filled up by supervisors through look directly at the  moment a communication. The data collected is analyzed by frequency distribution from the results of surveys and all data analized by a statistical test to find the effectiveness of communication with the Wilcoxon TestResults: The survey found that has improved of 80% to 93.3% (ICU) and of 78.1% to 87.5% (Inpatient ward) of the communication component Introduction; by mention the name. Observation results introduction; mention the name of ISBAR communication there was a significant improve from 57.1% to 100% (ICU) and from 20.8% to 79.2% (inpatient ward). Wilcoxon test results were found from observations in  ICU  with a value of 0.003 (p <0.05) and in the inpatient ward with a value of 0.00 (p <0.05) for the introduction aspect. Therefore,  this study found that ISBAR communication more effective than SBAR  in terms of mentioning the names in the aspects of IntroductionConclusion: That ISBAR Communication is more effective than SBAR communication in terms of the component of name's Introduction  aspect. As a result, ISBAR communication can be implemented as a standard of communication for Cibabat General Hospital and other hospitals.Keywords: ISBAR; Communication; Effective; Nurses and Doctors; HospitalPendahuluan: Kesalahan dalam komunikasi adalah penyebab utama peristiwa yang dilaporkan ke Komisi Bersama Amerika Serikat antara 1995 dan 2006 yaitu dari 25000-30000 kejadian buruk yang dapat dicegah menyebabkan cacat permanen 11% kejadian buruk ini adalah karena masalah komunikasi yang berbeda 6% dan juga karena tidak memadai tingkat ketrampilannya. Di Indonesia data tentang kejadian tidak diharapkan (KTD) apalagi kejadian nyaris cedera (KNC) masih langka, namun di lain pihak terjadi peningkatan tuduhan “mal praktek”, yang belum tentu sesuai dengan pembuktian akhir. Sasaran keselamatan pasien, unsur yang utama dari layanan asuhan ke pasien adalah komunikasi efektif.RSUD Cibabat menggunakan komunikasi SBAR dalam komunikasi dengan dokter, tapi masih ada unsur kurang dalam komponen mengenalakan diri perawat saat menelpon dokterTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan keefectivan komunikasi ISBAR sebagai komunikasi efektif antara perawat dan dokterMetode: Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 79 perawat untuk survey ruang ICU dan rawat inap dan 45 perawat untuk observasi di ruang ICU dan rawat inap. Questioner di berikan kepada responden survey dan lembar observasi di berikan kepada tim Supervisor rumah sakit dengan melihat langsung komunikasi yang dilakukan. Data yang terkumpul di analisa dengan disribusi frequency dari hasil survey dan observasi dan kemudian data observasi di lakukan uji statsistik untuk melihat keefectivan dengan Uji WilcoxonHasil: Hasil penelitian didapatkan untuk Survey ditemukan bahwa peningkatan dari dari 80% menjadi 93,3%. (ICU) dan 78,1 % menjadi 87,5% (Rawat inap) dari komponen komunikasi Introduction; menyebutkan nama. Hasil observasi Introduction; menyebutkan nama dari komunikasi ISBAR terjadi peningkatan significan dari 57,1 % menjadi 100% (ICU) dan dari 20,8% menjadi 79,2 % (Rawat inap). Uji hasil test wilcoxon ditemukan dari hasil observasi di ruang ICU dengan nilai 0,003 (p< 0.05) dan di ruang rawat inap dengan nilai 0,00 (p< 0,05) untuk aspek introduction. Sehingga dari penelitian ini disimpulkan bahwa Komunikasi ISBAR lebih efective untuk diterapkan dari pada komunikasi SBAR dalam hal komponen Meneyebutkan nama di aspek IntroductionSimpulan: penelitian ini menyimpulkan bahwa Komunikasi ISBAR lebih efective untuk diterapkan dari pada komunikasi SBAR dalam hal komponen menyebutkan nama di aspek Introduction. Sehingga komunikasi ISBAR bisa jadikan standard komunikasi untuk RSUD Cibabat Khususnya dan Rumah sakit lain pada umumnya. 
Stigma dan diskriminasi serta strategi koping pada orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) di kota Medan, Sumatera Utara Eva Kartika Hasibuan; Novita Aryani; Galvani Volta Simanjuntak
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 13, No 4 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v13i4.1824

Abstract

People living with HIV/AIDS (PLWHA), battling stigma, discrimination and coping strategies  in  Medan, IndonesiaBackground: People living with HIV/AIDS have a multiple problem, PLWHA has a decreased physical abilities effect immunodeficiency, but also having a psychological and social problems also increase their burden. The health provider should be a place for PLWHA to get the right information about HIV/AIDS, but they follow to stigmatize and discriminate against them.Purpose: To describe coping PLWHA face up to stigma and discrimination in health provider.Methods: A qualitative with a descriptive phenomenological approach with population of this research was people living with HIV/AIDS (PLWHA) in Medan, Indonesia. The number of samples was of 10 respondent  by purposive sampling technique. The criteria of the sample were PLWHA get treatment for ≥ 6 months and able to communication in Indonesia is well. Data collected with in-depth interviews and analysis by  Nvivo version 12.0 trial.Result: Finding that four themes, the first; get stigmatize and discriminate from health workers, second; have a psychological impact, third; continue treatment to the health provider and fourth; Hoping in health services well.Conclusion: People living with HIV/AIDS (PLWHA) in Medan Indonesia still having a positive coping to face stigma and discrimination in health provider and they keep continue to get treatment in health provider.. Keyword: People Living With HIV/AIDS (PLWHA); Battling; Stigma; Discrimination; Coping StrategiesPendahuluan: Pelayanan kesehatan yang seharusnya menjadi tempat orang dengan HIV/AIDS mendapatkan pengobatan dan informasi yang benar mengenai penyakitnya, justru ikut menstigma dan mendiskriminasikan mereka.Tujuan: Untuk menggambarkan stigma, koping dan harapan ODHA di pelayanan kesehatan.Metode: Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi deskriptif dengan populasinya  orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kota Medan. Jumlah partisipan sebanyak 10 orang yang diambil dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam dan data dianalisis dengan menggunakan software N.Vivo versi 12 trial.Hasil: Di dapatkan  empat  tema yaitu 1) Pernah mendapatkan stigma dan diskriminasi dari petugas kesehatan, 2) Pernah mengalalami dampak secara psikologis, 3) Tetap melanjutkan pengobatan ke pelayanan kesehatan, 4) Harapan pada layanan kesehatan.Simpulan: Orang dengan HIV/AIDS ODHA di kota Medan masih memiliki koping yang positif  dalam menghadapi stigma dan diskriminasi sehingga ODHA tetap melanjutkan pengobatan di pelayanan kesehatan. 
HUBUNGAN PENGETAHUAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN BEROBAT PENDERITA PENYAKIT KUSTA DI RSUD Dr. A. DADI TJOKRODIPO BANDAR LAMPUNG TAHUN 2016 Sunarsih, Sunarsih; Sari, Tuti Puspita
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 13, No 4 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v13i4.1365

Abstract

Labor pain and anxiety levels in the mothers inpartu active phase of the first stage at Metro medical center, Lampung-IndonesiaBackground: Anxious feeling whom mother felt at give birth process would influence toward painful sensation in giving a birth. The presurvey result that done at Metro medical center, finding of 7 mother who give birth, most of them (71,4 %) had  anxious level  that was medium, and there were of 4 mother (57, 2%) had a light pain, and of 3 was a medium pain.Purpose: Knowing  the correlation of labor pain and anxiety levels in the mothers inpartu active phase of the first stage at medical center, Metro Lampung-IndonesiaMethods: A quantitative with cross sectional and the sample of 31 inpartu active phase by using accidental sampling method. Instrument for painful intensity used Baurbanis painful scale and for anxious level’s by using State-trait anxiety inventory (STAI) Form Y-1. This research had done  on March-July 2018 and data analyses used person product moment test.Result: Finding that the average of anxious level inpartu mother was of 51.35 and the average of pain score was of 4,68.Conclusion: There was correlation between of labor pain and anxiety levels in the mothers inpartu active phase of the first stage at medical center, Metro Lampung-Indonesia. Medical care provider to be give more information regarding  the birth physiology in order to mother could prevent anxious feeling during giving birth process.Keywords:  Labor Pain; Anxiety Levels; Mothers InpartuPendahuluan: Rasa cemas yang dialami ibu pada proses persalinan akan berpengaruh terhadap nyeri pada persalinan. Hasil prasurvey yang dilakukan di BPS P Kota Metro menunjukkan bahwa dari 7 ibu bersalin, sebagain besar (71,4%) memiliki tingkat kecemasan sedang dan sebanyak 4 ibu bersalin (57,2%) memiliki intensitas ringan, 3 ibu (42,8%) memiliki intensitas nyeri sedang.Tujuan: Diketahuinya hubungan tingkat kecemasan terhadap nyeri pada ibu inpartu kala I fase aktif di BPS P Kota Metro.Metode: Penelitian kuantitatif, dengan desain penelitian cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah ibu bersalin di BPS P pada bulan juni 2018 sebanyak 35 orang. Sampel berjumlah 31. Pengambilan sampel dengan metode accidental sampling. Pengumpulan data intensitas nyeri menggunakan skala nyeri Bourbanis, sedangkan pengumpulan data tingkat kecemasan ibu bersalin dilakukan menggunakan State-trait anxiety inventory (STAI) Form Y-1. Penelitian telah dilaksanakan pada tahun 2018. Analisa data menggunakan uji person product moment. Hasil: Diperoleh rata-rata tingkat kecemasan ibu inpartu adalah 51,35 dan rata-rata skor nyeri yang dirasakan adalah 4,68.Simpulan: Adanya hubungan antara tingkat kecemasan dengan nyeri ibu inpartu kala I fase aktif. Bagi ibu yang akan menjalani proses persalinan hendaknya menggali informasi tentang fisiologis persalinan agar ibu bersalin mampu mencegah terjadinya kecemasan selama proses persalinan. 
Guided imagery terhadap tingkat fatigue pada pasien dengan gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis Andoko Andoko; Ermawati Ermawati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 13, No 4 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.761 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v13i4.1661

Abstract

The effects of guided imagery on fatigue in patients with chronic kidney disease undergoing hemodialysisBackground: Kidney and urinary tract diseases contribute 850,000 mortality rates placing them as the disease burden in the world. One of the general nursing problems suffered from chronic kidney disease patients who undergo hemodialysis is fatigue. The intervention that can be given to overcome the fatigue on the clients is a relaxation therapy strategy. A well-recommended therapy to relieve the fatigue is known as guided imagery.Purpose: Knowing the effect of guided imagery on fatigue in patients with chronic kidney disease undergoing hemodialysis.Methods: A quantitative with a quasi experiment technique and nonequivalent control group design. The population of this study included 67 patients registered with chronic kidney disease undergoing hemodialysis at the hospital. The purposive sampling technique took 32 people. The samples were distributed into two groups; 16 people in each group. The analysis was a thorough T-Test.Result: Finding that the mean of the fatigue levels of experiment and control groups were different. The mean score before the intervention was 0.352, while the score after the intervention was 2.000 (p-value 0.025).Conclusion: There was the effect of guided imagery on fatigue in patients with chronic kidney disease undergoing hemodialysis. Chronic kidney disease patients who undergo hemodialysis should independently and regularly do relaxation therapy because this therapy is easy to apply and proven effective to reduce fatigue.Keywords: Guided Imagery; Fatigue; Chronic Kidney Disease; HemodialysisPendahuluan: Penyakit ginjal dan saluran perkemihan berkontribusi menjadi beban penyakit di dunia dengan sekitar 850.000 kematian setiap tahun. Masalah keperawatan yang banyak dihadapi pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa umumnya adalah fatigue (kelemahan). Intervensi keperawatan untuk membantu klien dalam mengatasi masalah kelemahan diantaranya melalui strategi pemberian terapi relaksasi. Salah terapi relaksasi yang dipercaya dapat membantu mengatasi fatigue adalah guided imagery.Tujuan: Diketahuinya pengaruh guided imagery terhadap tingkat fatigue pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis.Metode: Penelitian kuantitatif, desain quasi eksperiment dengan rancangan nonequivalent control group design. Populasi pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa yang berjumlah 67 orang, besar sampel yang diambil sebanyak 32 orang yang terbagi dalam 2 kelompok, masing-masing kelompok sebanyak 16 orang, teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Analisis menggunakan uji t-test.Hasil: Didapatkan selisih rata-rata tingkat fatigue antara kelompok intervensi dengan kelompok kontrol sebelum perlakuan adalah 0,352 dan setelah perlakuan 2,000 (p-value 0,025).Simpulan: Ada pengaruh guided imagery terhadap tingkat fatigue pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Bagi pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa hendaknya dapat mempergunakan terapi relaksasi secara mandiri dan teratur karena selain mudah dilakukan, terapi ini telah terbukti efektif dalam menurunkan tingkat kelelahan.
Meningkatkan motivasi dan efikasi diri penderita diabetes tipe 2 dalam pencegahan kaki diabetik menggunakan dukungan kelompok Suyanto Suyanto; Dwi Sulistyowati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 13, No 4 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v13i4.2250

Abstract

Improving motivation and self-efication of type 2 diabetics in prevention of diabetic foot ulcers and infections using group supportBackground: Management of DM (Diabetics) patients according to expectations requires a variety of support, one of them is group support such as the Persadia Club as an organization that helps people with diabetes to manage disease conditions become more controlled. Through group support, motivation and self-efficacy which are important factors in diabetes care behavior will increase. Thus the main action in the prevention of diabetic foot in the form of routine foot care will be carried out by the person with diabetes optimally.Purpose: To determine the effect of group support on motivation and self-efficacy of type 2 diabetics in prevention of diabetic foot ulcers and infectionsMethods: The study design was a quasi-experimental one pre group test one group method to see if there were differences in motivation and self-efficacy in diabetic foot care before and after group support. The study was conducted in May to August 2019 at the Surakarta City Persada Club as a population and a sample of 135 respondentResults: Research shows that there are differences in the self-efficacy of people with diabetes before and after getting group support with p value = 0,000. Thus the hypothesis that the influence of group support on self-efficacy is accepted. Furthermore, the results obtained that there are differences in motivation to take preventive measures for diabetes feet between before and after group support is given with a p value = 0,000. This means that the hypothesis that there is an influence of group support on motivation for diabetic foot prevention.Conclusion: As a suggestion, it is expected that people with diabetes through the Persadia club will always be supported so that their motivation and efficacy is high so that the diabetic foot care measures will be optimally carried out. Keywords: Motivation; Self-Efication; Type 2 Diabetics; Prevention; Diabetic Foot Ulcers and Infections; Group SupportPendahuluan: Pengelolaan pasien DM (Diabetisi) yang sesuai harapan memerlukan berbagai dukungan salah satu diantaranya yaitu dukungan kelompok seperti Club persadia sebagai organisasi yang membantu para diabetisi untuk mengelola kondisi penyakit  menjadi lebih terkontrol. Melalui dukungan kelompok  maka motivasi dan efikasi diri yang merupakan faktor penting dalam perilaku perawatan diabetes akan meningkat. Dengan demikian tindakan utama dalam  pencegahan kaki diabetik berupa tindakan perawatan kaki secara rutin akan dilakukan para diabetisi dengan optimal.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh dukungan kelompok terhadap motivasi dan efikasi diri  penderita diabetes tipe 2 dalam pencegahan kaki diabetikMetode : Rancangan penelitian berupa kuasi eksperimen dengan metode pre post test one group untuk melihat apakah terdapat perbedaan  motivasi dan  efikasi diri dalam tindakan perawatan kaki diabetik sebelum dan sesudah mendapat dukungan kelompok.  Penelitian dilakukan pada bulan Mei hingga Agustus 2019 pada Club Persadia Kota Surakarta  sebagai populasi dan diambil sampel sebanyak 135 respondenHasil: Penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan efikasi diri para diabetisi sebelum dan sesudah mendapt dukungan kelompok dengan p value = 0,000,  Dengan demikian hipotesis terdapat pengaruh dukungan kelompok terhadap efikasi diri diterima. Selanjutnya diperoleh hasil bahwa terdapat perbedaan motivasi melakukan tindakan perawatan pencegahan kaki diabetes antara sebelum dan sesudah diberikan dukungan kelompok dengan nilai p value= 0,000.  Hal ini berarti hipotesis terdapat pengaruh dukungan kelompok terhadap motivasi tindakan perawatan pencegahan kaki diabetis.Simpulan: Sebagai saran diharapkan para diabetisi melalui club Persadia selalu diberi dukungan agar motivasi dan efikasi dirinya tinggi sehingga tindakan perawatan kaki diabetik akan optimal dilakukan
Perilaku ibu rumah tangga yang mempunyai balita dan sanitasi dasar rumah dengan kejadian diare pada balita Retno Arienta Sari; Dyah Wulan Sumekar Rengganis Wardani; Ratna Dewi Puspita Sari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 13, No 4 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.138 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v13i4.2301

Abstract

Mothers' personal and domestic hygiene and diarrhoea incidence in toddlers in Bandar Lampung, IndonesiaBackground: Diarrhea is still the second highest cause of child mortality in the world after pneumonia. Diarrhea is related to various factors. Maternal behavior and environmental sanitation are factors that are highly associated with the occurrence of diarrhea in infants.Purpose: To determine of the relationship between mother behavior and sanitation with the incident of diarrhea on toddlers in Kangkung Village Bumi Waras District Bandar Lampung City.Methods: This study was an observational analytic study with cross sectional approach, conducted in Kangkung Village, Bumi Waras District, Bandar Lampung City in October and November 2019. The sample were all toddlers  and their mothers and taken with proportional random sampling technique. The research data were collected using the observation checklist method and questionnaire filling, then the data were analyzed using the chi square test.Results: Finding the proportion of diarrhea incidence was of 29.4% and without-diarrhea was of 70.6%. The results showed that the mother's hand washing behavior (p = 0.035), boiling drinking water (p = 0.036) and the availability of clean water (p = 0.049) were related to the incidence of diarrhea in toddlers. While the availability of feces disposal (p = 0.078), availability of waste disposal (p = 0.068) and waste water disposal facilities (p = 1,000) are not related to diarrhea.Conclusion: Obtaining several factors that are closely related to the incidence of diarrhea, with the behavior of the mother such as handwashing habits, provision of drinking water, and the availability of clean water that meets the requirements. While other factors such as the disposal of feces, garbage disposal, and waste water disposal, there have no relationship with the incidence of diarrhea among toddlers.Suggestion: The need for activities that involve the community from the family level, neighborhood groups to local government supported by the health department, health centers, schools with the aim of changing the behavior of community .Keywords: Mothers' Personal; Domestic Hygiene; Diarrhoea Incidence; ToddlersPendahuluan: Diare masih menjadi penyebab kematian balita tertinggi kedua di seluruh dunia setelah pneumonia. Penyakit diare berkaitan dengan berbagai faktor. Perilaku ibu dan sanitasi lingkungan menjadi faktor yang sangat terkait dengan kejadia diare pada balita.Tujuan: Mengetahui hubungan antara perilaku ibu dan sanitasi dengan kejadian diare pada balita di Kelurahan Kangkung, Kecamatan Bumi Waras, Kota Bandar Lampung.Metode: Penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional, dilakukan di Kelurahan Kangkung, Kecamatan Bumi Waras, Kota Bandar Lampung pada bulan Oktober dan November 2019. Sampelnya seluruh balita dan ibunya, diambil dengan Teknik proportional random sampling. Data penelitian dikumpulkan dengan metode checklist observasi dan pengisian lembar angket, kemudian dilakukan analisis data menggunakan uji chi kuadrat.Hasil: Didapatkan proporsi kejadian diare sebanyak 29,4% dan yang tidak diare 70,6%. Adapun hubungan faktor-faktor terkaitnya didapatkan; perilaku cuci tangan ibu (p = 0,035), memasak air minum (p= 0,036) dan ketersediaan air bersih (p= 0,049) berhubungan dengan kejadian diare pada balita. Sedangkan ketersediaan pembuangan tinja (p= 0,078), ketersediaan pembuangan sampah (p= 0,068) dan sarana pembuangan air limbah (p= 1,000) tidak berhubungan dengan diare.Simpulan: Didapatkan beberapa faktor yang berhubungan erat antara kejadian diare pada balita, dengan perilaku ibunya seperti kebiasaan cuci tangan, penyediaan air minum, dan ketersediaan air bersih yang memenuhi syarat. Sedangkan faktor lainnya seperti pembuangan tinja, pembuangan sampah, dan pembuangan air limbah, tidak didapatkan hubungan dengan kejadian diare pada balita.SARAN: Perlunya kegiatan yang melibatkan masyarakat dari tingkat keluarga, rukun tetangga sampai pemerintahan desa yang didukung oleh dinas kesehatan, puskesmas, sekolah dengan tujuan merubah perilaku PHBS masyarakat.
Konsumsi makanan kariogenik dan kebiasaan menggosok gigi dengan kejadian karies gigi pada anak Riska Wandini; Yuniati Yuniati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 13, No 4 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.875 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v13i4.2091

Abstract

Caries prevalence and risk factors among children aged 4 to 6 years old in Bandar Lampung-IndonesiaBackground: Dental caries are still a matter of oral health in large industrialized countries , which affects 60-90% of the school children and most adults.Dental caries can be experienced by everyone and can arise on one or more dental surfaces.For example, from email to dentin or to Pulpa. Caries are due to various reasons, including are carbohydrates, microorganisms and saliva, tooth shape surfaces. Based on data by interviewed at the time were conducted on 20 Students at kindergarten Kuntum Mekar and Setia  Bandar Lampung obtained of 14 (70%) They have a cariogenic food intake during the day and had the poorest teeth brushing habits, characterized by dental caries of 7 (30%).Purpose: Knowing caries prevalence and risk factors among children aged 4 to 6 years old in Bandar Lampung-IndonesiaMethods: A quantitative research type (analytic), with cross sectional approach and population was all children at Kuntum Mekar and Setia kindergarten in Bandar Lampung. By formula Slovin got sample number of 80 students. Data analysis Used the chi-square statistical test.Result: Finding the frequency of consumption of high cariogenic foods As many as of 72 respondents (86%), had a poorest tooth brushing habits,  of 60 respondents (75%), and had a dental caries as many as of 63 respondents (83.8%), with the p-value = 0.022 and 0.002; OR: 5,357 and OR: 7,333.Conclusion: There is a correlation the factors cariogenic food intake during the day and had the poorest tooth brushing habits with dental caries occurance.Suggestions: To be pay attention for parent and teachers to remember that children reduce the consumption of cariogenic food and improving in brushing teeth habitKeywords: Cariogenic food intake; Brushing teeth habit; Dental caries.Pendahuluan: Karies gigi masih menjadi masalah kesehatan mulut di negara-negara industri besar, yang mempengaruhi 60-90% dari anak-anak sekolah dan sebagian besar orang dewasa. Karies gigi dapat dialami oleh semua orang dan dapat timbul di satu permukaan gigi atau lebih. Misalnya dari email ke dentin ataupun ke pulpa. Karies dikarenakan berbagai sebab, diantaranya adalah karbohidrat, mikroorganisme dan air ludah, permukaan bentuk gigi.Berdasarkan hasil prasurvei yang dilakukan pada siswa yang juga diwawancarai pada saat itu dilakukan pada 20 siswa di TK Kuntum Mekar dan TK Setia Bandar Lampung didapatkan data 14 siswa (70%) diantaranya mengkonsumsi makanan kariogenik dan memiliki kebiasaan menggosok gigi yang kurang baik ditandai dengan karies gigi dan 7 siswa (30%) diantaranya mengatakan jarang mengkonsumsi makanan kariogenik dan memiliki kebiasaan menggosok gigi cukup baik atau minimal dua kali sehari saat pagi sesudah makan dan malam sebelum tidur.Tujuan: Diketahui hubungan antara konsumsi makanan kariogenik dan kebiasaan menggosok gigi umur 4-6 tahun dengan kejadian karies gigi pada anak-anak di Bandar Lampung Indonesia.Metode: Penelitian kuantitatif (analitik), dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah anak-anak TK Kuntum Mekar dan TK Setia di Bandar Lampung, dengan jumlah sampel 80 murid.Pengambilan sampel menggunakan rumus Slovin.Analisis data menggunakan uji statistik chi-square.Hasil: Menunjukkan distribusi frekuensi konsumsi makanan kariogenik yang sering sebanyak 72 responden (86%), kebiasaan menggosok gigi yang buruk sebanyak 60 responden (75%). Karies gigi pada anak-anak dengan karies sebanyak 63 responden (83,8%). Ada hubungan antara konsumsi makanan kariogenik dengan kejadian karies gigi pada anak dengan nilai p-value = 0,022 (p-value<0,05), serta diperoleh nilai OR : 5.357. Ada hubungan anatara menggosok gigi dengan kejadian karies gigi pada anak dengan nilai p-value = 0,002 (p-value<0,05), serta diperoleh nilai OR : 7.333.Simpulan: Ada hubungan antara konsumsi makanan kariogenik dan kebiasaan menggosok gigi dengan kejadian karies gigi pada anak TK Kuntum Mekar dan TK Setia di Bandar Lampung Tahun 2019. Saran dalam penelitian ini diharapkan anak-anak mengurangi konsumsi makanan kariogenik dan mengetahui kebiasaan menggosok gigi yang benar.

Page 2 of 3 | Total Record : 21